Tomat: Buah atau Sayur?

TomatDari kecil kita sering mendengar pertanyaan, tomat itu buah atau sayuran sih? Atau mungkin kita sendiri sering bertanya mengenai hal itu dan belum mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan. Hal tersebut juga berlaku bagi paprika misalnya, banyak orang yang juga bertanya apakah paprika itu buah atau sayur?

Sebenarnya jawabannya mudah saja! Jikalau anda mengikuti ilmu botani maka secara anatomi  sudah jelas bahwa tomat (dan juga paprika misalnya) adalah buah! Namun begitu, jikalau anda melihatnya dari sisi kuliner maka bisa jadi tomat adalah sayur. Kenapa bisa begitu? Dalam kuliner sayur dan buah dibedakan. Sayur menunjukkan semua bagian dari tumbuh-tumbihan yang BIASANYA dimasak dan menjadi bagian dari sebuah masakan (atau sop) termasuk buah. Sedangkan buah adalah buah yang biasanya langsung dimakan mentah-mentah tanpa perlu dimasak atau diproses terlebih dahulu.

Jadi sebenarnya istilah sayur hanya ada pada bidang kuliner saja. Sedangkan dalam botani, bagian-bagian tumbuhan diklasifikasi seperti: buah, akar. batang, biji, daun, dan sebagainya. Sedangkan dalam kuliner cuma dibedakan atas sayur-sayuran dan buah-buahan. Nah, sekarang jelas bagi anda yang sering melihat dari sisi kuliner tentu akan bingung mengklasifikasikan tomat karena tomat selain dimasak juga sering dimakan begitu saja (apalagi tomat berbentuk bulat yang sangat nampak mirip dengan bentuk geometris buah walaupun sebenarnya banyak juga buah yang tidak berbentuk bulat) maka banyak yang bingung apakah tomat itu sayur atau buah. Tapi jikalau anda melihat dari ilmu botani sudah jelas bahwa tomat adalah 100% buah!  Tapi jangan salah, jikalau anda menganggap tomat adalah sayuran karena anda melihatnya dari sisi kuliner, ya tentu sah-sah saja. ;)

Parijs van Java dan Perasaan Inferior

Lambang kota ParisDi jejaring sosial Twitter, ada seorang rekan tweep yang suka “menyamakan” dirinya dengan seorang penyanyi cantik asal Colombia yang namanya meroket sewaktu piala dunia yang lalu. Sebenarnya sah-sah saja dan bebas-bebas saja dia menyamakan dirinya dengan siapapun juga termasuk dengan penyanyi tersebut. Namun begitu saya nasihatkan dia agar dia tidak perlu lagi menyamakan dirinya dengan penyanyi seksi Colombia tersebut  karena selain emang tidak mirip sama sekali, perbuatan tersebut hanya menunjukkan sifat inferiority complex , atau lebih tepatnya mungkin bibit-bibit IC yang ada pada dirinya. IC adalah perasaan inferior  akut yang ada pada seseorang ataupun kelompok orang (seperti suku bangsa, bangsa dsb.) baik secara sadar atau tidak. Tentu saja ia berdalih bahwa hal tersebut hanya sebagai lucu-lucuan saja. Namun begitu, tetap saja perbuatan tersebut sangat berbau IC karena memang perilaku yang berbau IC tidak berpengaruh apakah bertujuan lucu-lucuan atau serius. Salah satu ciri seseorang yang mempunyai sifat IC adalah senang disamakan atau menyamakan dirinya dengan orang atau fihak yang dianggap lebih superior (minimal dalam satu hal/aspek). Dalam kasus ini, yang (merasa) mempunyai wajah kalah cantik atau badan kalah seksi akan menyamakan dirinya dengan ia/mereka yang (dianggap) mempunyai wajah lebih cantik atau badan lebih seksi. Padahal andai dia konsisten dengan pernyataannya bahwa hal tersebut untuk lucu-lucuan, tentu secara logika ia akan memilih Omas atau Tessy Srimulat. Jadinya lebih lucu lagi kan? ;)

IC memang kebanyakan terjadi secara tidak sadar karena kita tidak akan pernah mengakui secara terus terang perasaan inferioritas kita. Sebenarnya perasaan inferior baik secara individu ataupun kolektif secara sadar atau tidak sadar ada pada diri kita semua.  Kita secara tidak langsung sering merasa inferior terhadap mereka yang lebih sukses, lebih pintar, lebih tinggi, lebih ganteng/cantik dan sebagainya. Perasaan inferior tersebut dapat terjadi pada level individu ataupun pada level kolektif sebagai sebuah bangsa. Namun jikalau perasaan inferior tersebut  menyebabkan pengasosiasian diri terhadap mereka yang dianggap superior maka gejala IC mulai tumbuh.

Perasaan IC bukan hanya terjadi secara individu, secara kolektif dan secara tidak sadar, bibit-bibit IC telah tumbuh di antara kita. Contoh adalah dalam sebutan kota Bandung sebagai Parijs van Java. Oke bagi sebagian orang Bandung mungkin bangga karena kota mereka disamakan dengan sebuah kota di Eropa, sebuah kehormatan bagi mereka. Kalau sekedar bangga ya tidak mengapa. Namun jika sebutan “Parijs van Java” tersebut mulai menggema di mana-mana, bahkan ada nama stasiun TV dan mal yang memakai nama tersebut, sehingga mereka lebih bangga menyebut “Parijs van Java” daripada istilah “Bandung” atau “kota kembang” di situlah bibit-bibit IC sudah muncul. Secara tidak sadar justru kita lebih mengidolakan kota Paris daripada kota Bandung. Kita bangga (secara berlebihan) kota kita yang inferior disamakan dengan kota yang superior. Sementara sebaliknya, kota Paris, kota yang superior belum tentu senang kotanya disebut Bandung de l’Europe, bahkan mungkin orang Paris tidak suka kotanya disamakan dengan kota Bandung yang inferior. Jadi jikalau orang Paris tidak suka kotanya disamakan dengan kota Bandung kenapa juga kita orang Bandung harus bangga (apalagi berlebihan) menyamakan diri kita dengan kota Paris? Marilah kita bangga dengan identitas kita sendiri, Paris adalah Paris, Bandung adalah Bandung. Masing-masing punya identitas sendiri-sendiri yang patut dibanggakan.

Jadi, marilah, kita bangga menjadi diri kita sendiri. Kita tidak perlu mengasosiasikan diri kita terhadap orang lain yang tidak perlu dan tidak bermanfaat. Kalau memang perasaan inferior itu bermanfaat sehingga memajukan prestasi kita, mungkin itu malah bagus. Namun, jika hanya sekedar bangga-banggaan, lucu-lucuan dan seterusnya selain kurang bermanfaat LAMA-LAMA juga jadi tidak membanggakan dan tidak lucu lagi malah melahirkan kesan ia ingin seperti “idola”nya tapi (tentu saja) gagal total! ;)

A, B atau C?

Cukup menarik artikel yang dibuat di blog manusiasuper di sini. Sebenarnya ada dua  pertanyaan yang diajukan di artikel manusiasuper tersebut, namun saya tertarik terhadap salah satunya saja. Untuk singkatnya, mari saya intisarikan artikel tersebut di sini. Oke, misalnya anda disuruh memilih dari ketiga kandidat berikut ini (diusahakan jangan golput ;) )

Kandidat A:  Memiliki banyak teman politisi busuk, percaya pada ramalan bintang, punya dua istri gelap, perokok ganja dan minum 8 hingga 10 gelas martini per hari.

Kandidat B: Pernah dipecat dari kantornya dua kali, selalu tidur hingga siang hari, pengguna opium ketika menjadi mahasiswa dan minum setengah galon wiski setiap malam.

Kandidat C: Dinobatkan sebagai pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, sangat jarang minum minuman keras, dan tidak pernah melakukan pelecehan seksual apapun.

Ayo pilih sekarang! Nah….. anda sudah memilih?? Sekarang kita lihat siapa saja ternyata ketiga kandidat tersebut:

**

**

**

**

**

**

**

**

**

**

Dan ini dia ketiga kandidat tersebut:

Kandidat A: Franklin Delano Roosevelt
Kandidat B: Winston Churchill
Kandidat C: Adolf Hitler

Terkejut? Ya, sayapun juga terkejut. Tapi hanya untuk sementara. Ada dua hal kenapa keterkejutan saya hanya sebentar.  Pertama saya langsung menyadari bahwa pilihan di atas agak “mengarahkan” karena kandidat A dan B hanya dituliskan sifat yang buruk-buruk saja, sementara kandidat C hanya dituliskan sifat yang baik-baik saja.  Mungkin jikalau sifat-sifat kandidat A dan B diteruskan dan dimasukkan juga sifat-sifat baiknya sementara sifat-sifat kandidat C juga diteruskan dan dimasukkan juga sifat-sifat buruknya mungkin pilihan kita bisa berbeda. Kedua, tentu saja saya sadar bahwa seburuk-buruknya orang iapun pasti punya sifat-sifat positif juga, sebaliknya sebaik-baiknya orang iapun pasti punya sifat-sifat negatif juga jadi kasus di atas sebenarnya adalah hal yang umum.

Namun hal yang lebih penting dari adanya “kasus”  di atas adalah bisa membuat calon pemilih menjadi bingung karena dalam benaknya tertanam seolah-olah mereka yang mempunyai sifat-sifat baik ternyata bisa menjadi seorang “monster” dan sebaliknya. Sebenarnya kasus di atas memang bisa saja terjadi di dunia nyata ketika para pemilih dengan segala cara tidak bisa mengetahui sifat-sifat lengkap kandidat-kandidat yang akan dipilihnya atau pendek kata informasi mengenai kandidat-kandidat tersebut sangat terbatas. Kalau sudah begitu kini timbul dua pertanyaan, pertama, apakah jikalau kita memilih C (yang ternyata Adolf Hitler) berarti kita salah pilih? Tentu saja jawabannya ‘ya’. Tapi, pertanyaan kedua, apakah kita bersalah karena memilih C? Jawabannya ‘tidak’, karena kita sudah memilih dengan kriteria yang masuk akal berdasarkan informasi maksimal yang kita dapatkan. Memang betul, lain waktu jika ada kandidat-kandidat dengan sifat-sifat di atas bisa jadi kandidat C malah lebih buruk dari Adolf Hitler, namun jangan lupa bisa saja lain waktu ternyata kandidat A atau B yang memang jauh lebih buruk dari Adolf Hitler. Jadi jika ada pemilihan kandidat seperti di atas dan anda tidak mengetahui bahwa C adalah Adolf Hitler, dan anda hanya mempunyai informasi yang terbatas mengenai ketiga kandidat, maka jangan ragu-ragu untuk memilih salah satu kandidat yang menurut anda paling sreg, termasuk kandidat C ! ;)

Colour or Greyscale?


Look closely at the dot at the centre of the first (upper) picture for approx 60 seconds. Don’t shift your focus away from it. For the best result, use a PC or laptop screen and position your eyes about 1 foot (30cm) away from the screen. After 60 seconds, move your focus to the  dot at the centre of the second (lower) greyscale picture instantly. Again, don’t shift your focus away from the dot for a while. Wait a minute! A greyscale picture? Are you sure?

Twinkle Twinkle Little Star, UFO or God’s Vessel?

I was hovering across YouTube looking for something interesting when suddenly I stumbled upon this video. It’s a six minute video showing a celestial object being suspended in the sky. The place is somewhere in Stockholm, Sweden. The time is April 2010 (a year ago). The person who filmed this occasion claimed that it is a UFO or perhaps he preferred calling it a spaceship from another civilisation in the outer space. If you watch this video completely till the last second of it, yes you may notice that the object filmed is ‘breathing’ or pulsating and it may give you a stronger idea that it is an artificial object made by an advanced civilisation deep in the space. Well, I’m not a hypocrite, at first it gave me the same idea too.

But it is not my nature to take something for granted. And as I think over and over, I came to a simple but firm conclusion that it is nothing more than a star or a planet! (probably it is Venus) Then why is it throbbing?? I’m sure because the light passing through the earth’s atmosphere is refracted a few times by our atmosphere. That’s because our atmosphere contains several layers and each layer has a different density. This refraction in the atmosphere also gave the idea for a popular children song “Twinkle Twinkle Little Star” that we have been knowing it so awfully since heck-who-knows. The zoom effect plus the refraction that gives the object the throbbing effect.

So now after all logical explanation provided above, do you still insist that it is a spaceship from another planet? If you do, I understand that a lot of times our science fiction part is  more fun than our logic part. But remember, my science fiction part can also provide you with even something more fun. I would say that it is a god’s vessel! How’s that? Is it super silly? Do you think a spaceship from another planet sounds more scientific than that of a god’s vessel because the latter is a product (or a term) of science fiction in the old past even though that both are not yet scientifically proven? Oh dear, think again! ;)

Perempuan Itu Goblok!

Eiiits… jikalau anda membaca judul di atas jangan emosi dulu, lanjutkan membaca artikel ini hingga selesai maka anda akan mengerti sepenuhnya mengapa saya menuliskan judul seperti di atas. Dan tentu saja tidak semua perempuan itu goblok, laki-lakipun banyak juga yang goblok (juga bencong tentu saja :D ). Untuk jelasnya mengapa saya memilih judul di atas mari kita lanjutkan pembahasan kita kali ini. :)

Ide tulisan ini berawal ketika secara tak sengaja saya mendengar percakapan dua orang ibu-ibu muda yang sama-sama tengah menunggu giliran (antrian) teller di Bank N*SP. Saya yang kebetulan duduk di depan kedua ibu-ibu tadi mendengar betul apa yang dipercakapkan keduanya. Mereka tengah berargumentasi kecil tentang poligami. Yang satu setuju dengan poligami, yang satunya lagi tidak. Dari kedua belah fihak banyak mengutarakan argumentasi-argumentasi menggelikan walaupun ada juga yang cukup “tepat sasaran”. Namun kali ini saya tidak akan membahas tentang apa yang diperdebatkan kedua ibu muda itu tetapi saya akan menulis tentang uneg-uneg saya mengenai polemik poligami ini.

Bagi saya poligami adalah hak dan tanggungjawab individu masing-masing. Saya yakin jika poligami dimulai dengan niat yang baik (tidak sekedar nafsu untuk mencari “daun muda”) insya Allah akan berjalan dengan baik pula pada akhirnya. Yang saya tidak mengerti adalah wanita Muslimah yang sudah berniat menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya namun tidak bisa menerima bahwa di dalam Islam laki-laki bisa beristri hingga empat. Seharusnya yang ia tidak setuju bukan poligaminya tetapi KETIDAKADILANNYA terhadap istri-istrinya setelah ia berpoligami karena yang jelas-jelas tidak diperbolehkan dalam Islam adalah ketika sang suami gagal berlaku adil terhadap istri-istrinya, betul begitu kan? (Maaf mohon koreksi kalau salah). Saya yakin bahwa laki-laki berpoligami yang tidak adil terhadap istri-istrinya maka ia akan berdosa dan akan mendapatkan ganjaran kelak di akhirat. Enak di dunia, tidak enak di akhirat. Semua akan mendapat ganjarannya kelak. Bahkan saya yakin juga, wanita yang sabar melihat suaminya berpoligami akan mendapatkan imbalan yang setimpal di akhirat kelak. Lantas kenapa wanita (Muslimah) musti khawatir? Cemburu? Atau sirik karena wanita tidak boleh poliandri? Atau khawatir sang suami bertindak nggak adil? Kalau suami berlaku tidak adil seharusnya yang lebih khawatir itu sang suami sendiri! Karena kelak ia harus mempertanggungjawabkan ketidakadilannya di depan Allah swt. Itu kalau anda percaya terhadap ajaran Islam. Kalau tidak? Ya… itu terserah anda. Tapi jangan terjadi hal menggelikan, anda menerima apa yang cocok dengan anda dan dengan cepat membuang apa yang tidak sesuai dengan anda tanpa berfikir panjang. Namun begitu, sekali lagi, jika andapun menginginkan sesuatu yang menggelikan tersebut, itu juga hak anda. ;)

O iya…. ada satu lagi yang cukup menggelikan. Kebanyakan, dari yang saya baca di blog-blog milik wanita Muslimah*) yang nggak setuju poligami, kebanyakan dari mereka baik langsung ataupun tidak langsung hampir selalu menyalahkan laki-laki dalam hal poligami. Menurut saya ini adalah sesuatu yang goblok konyol. Kenapa? Karena kalau mereka tidak setuju dengan poligami, mereka seharusnya juga menyalahkan kaum perempuan sendiri! Loh? Ya… tentu saja! Salahkan juga perempuan yang mau dipoligami! Tapi kan… perempuan adalah fihak yang terperdaya oleh muslihat laki-laki yang ingin berpoligami? Justru itu! Jadi perempuan jangan goblok! Jangan cepat terperdaya oleh muslihat laki-laki yang ingin berpoligami. Apalagi setelah tahu kalau si calon suami sudah punya istri ternyata masih mau juga diperistri. Jadi bagi wanita Muslimah yang tidak setuju dengan poligami, salahkan JUGA perempuan-perempuan ‘goblok’ yang mau dipoligami. Karena jika perempuan-perempuan itu tidak mau dipoligami, tidak akan ada poligami. Hey, it takes two to tango, doesn’t it?? Mengerti? ;)

NB:

*) Kenapa blog-blog wanita Muslimah? Karena kalau wanita bukan Muslimah mungkin poligami tidak ada dalam ajaran yang mereka percayai. End of story.

LSI vs. LPI : Pilih Mana?

Liga Primer Indonesia

Liga Super Indonesia

Sudah dua tahun terakhir ini, saya mulai bergairah mengikuti liga lokal, Liga Super Indonesia, yang banyak ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia walaupun tidak bisa saya ikuti terus setiap pertandingan yang ditayangkan di televisi.  Kegairahan saya menonton liga lokal di Indonesia mungkin disebabkan karena mutu permainan yang mengalami peningkatan walaupun tentu saja masih jauh di bawah kualitas liga-liga profesional di Eropa (bahkan di kawasan Asia lainnya) dan juga salah satu bentuk apresiasi saya pada produk dalam negeri. Nah, akhir-akhir ini muncul satu lagi yang mengklaim dirinya sebagai liga profesional di luar koridor PSSI yang secara implisit (bahkan mungkin eksplisit) berani menyatakan bahwa liga tersebut lebih profesional dalam pengelolaannya dan tentu saja dengan kata lain menyatakan bahwa kualitas permainannya juga lebih baik. Pertanyaannya, benarkah LPI ini lebih baik dari ‘saingannya’ LSI?

Bagi saya yang bukan pakar sepakbola tapi sangat menikmati pertandingan-pertandingan sepakbola, tidak penting liga mana yang lebih bagus, apalagi memikirkan intrik-intrik politik di balik kedua belah fihak yang bertentangan. Bagi saya, selama keduanya terpacu untuk menyelenggarakan liga yang profesional dan enak ditonton, kenapa saya harus antipati terhadap salah satunya?? Biarlah mereka yang lebih suka intrik-intrik politik di balik keduanya daripada pertandingan sepakbolanya sendiri ikut beradu siasat bagaimana mendiskreditkan liga lawannya sementara kita yang hanya menikmati pertandingan sepakbolanya patut bersyukur karena kini kita tidak hanya disuguhkan satu liga saja melainkan dua liga! Yang suka sepakbola sekaligus intrik politiknya bagaimana? Ha! Mungkin lebih asyik lagi, karena selain bisa menikmati pertandingan sepakbolanya mereka juga bisa menikmati ‘gontok-gontokan’ di antara keduanya.  Namun begitu kalau bisa, yang netral dan obyektif ya, jangan membabibuta berfihak pada salah satu fihak. Ingat, selalu ada kebenaran dan kesalahan dari kedua belah fihak. ;)

Sebagai penikmat sepakbola yang bukan pakar sepakbola, saya hanya berharap bahwa PSSI tidak terlalu mudah kebakaran jenggot, takut liganya nanti kalah pamor dengan saingannya sehingga ‘menyalahgunakan’ wewenangnya yang berakibat pada dilanggarnya hak-hak azasi banyak orang untuk berolahraga sepakbola dan menikmati pertandingan sepakbola. Sebaliknya LPI mudah-mudahan juga benar-benar tulus untuk mengembangkan profesionalitas Indonesia di tanah air dan bukan untuk kepentingan politik atau popularitas individu dan kelompok tertentu semata. Saya percaya, waktu akan menentukan siapa diantara keduanya yang lebih profesional kelak dan juga ‘seleksi alam’ cepat atau lambat akan menenggelamkan salah satu (atau bahkan mungkin keduanya) jika mereka tidak dapat beradaptasi dengan waktu dan lingkungannya. Yang jelas, mudah-mudahan persaingan di antara keduanya berlangsung secara sehat dan sportif. Prinsip ‘Fair Play’ bukan hanya terjadi di dalam lapangan saja, mari kita bawa ke luar lapangan hijau, dengan begitu kompetisi semakin enak ditonton dan semakin banyak orang yang menonton keduanya…. semoga… Insya Allah… :)