Gara-gara melihat talk show pagi hari di TV-One mengenai penentangan film “Hantu Puncak Datang Bulan” oleh FPI, saya jadi ingin memostingkan postingan ini. Postingan ini, hanya “pelampiasan” keheranan saya pada dua buah peristiwa yang terjadi seabad lalu yang mungkin paling “aneh” yang pernah saya temui, (yang sampai hari ini belum bisa saya jawab secara logika). Ya, iyalah, peristiwanya seabad yang lalu yaitu di tahun 1990an yang masih berada di abad ke-20, ya kan?? Jadi dua buah peristiwa tersebut sudah seabad yang lalu!
Bagi mereka yang doyan film horor, mungkin siap-siap kecewa, karena di dalam postingan ini tidak ada kuntilanak (kata orang Malaysia: pontianak! Bener nggak??), suster ngesot, dokter ngesot, satpam ngesot, tukang parkir ngesot, dosen ngesot, blogger ngesot atau ngesot-ngesot yang dilakukan profesi lainnya!
Jadi maaf kalau kurang seram (bagi penggemar film horor), tetapi memang begitulah adanya.
Oke, kejadian pertama terjadi sekitar tahun 1997 atau 1998. Waktu itu saya masih di Jakarta. Suatu pagi saya menelpon ponsel teman saya. Teman saya itu tinggal di apartemen sewa (bahasa kerennya) atau kos-kosan (bahasa merakyatnya). Teman saya itu, sebut aja namanya Arif dan tentu saja laki-laki. Namun ketika saya meneleponnya pagi itu ternyata yang menerima adalah seorang wanita (minimal kedengarannya seperti suara seorang wanita di telepon). Karena yang menerima seorang wanita tentu saja saya sedikit heran, karena setahu saya ia waktu itu belum menikah.
“Halo…” kata suara di sana, suara seorang wanita.
“Halo… Eh….. ini hp-nya Arif kan?” tanyaku heran.
“Iya mas…. hp-nya mas Arif, ketinggalan. Mas Arifnya udah berangkat kerja tuh…” jawabnya.
“Ooo… ya udah… bilang aja ada telepon dari temannya, nomer hp dan nama saya tersimpan di situ kan?” balasku.
“Oo… iya…. nanti saya sampaikan” Katanya.
Kira-kira begitulah percakapannya. Aku hanya berfikir mungkin itu adiknya atau saudaranya atau mungkin ceweknya kali. Yang jelas (sayangnya) aku malas bertanya “siapa ini ya??” karena bukan urusannya. Sore harinya…. hp-ku berdering, dan ternyata dari si Arif.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam….” jawabku.
“Sorry, yar, tadi hp gue ketinggalan, habis buru2, baru lihat ada missed call dari lu….” katanya.
“Missed call? Lha… tadi pagi yang nerima cewek lu kok! Gilee lu ya…. nakal ya…. udah melihara cewek di kamar!” kataku setengah menggoda.
“Eh… sembarangan lu…. kurang asem…. di kamar gue tadi pagi nggak ada siapa-siapa lagi” protesnya.
“Ah… masa?? Sama temen sendiri kok malu2 ngakuin sih!” kataku masih berusaha menggoda.
“Eh… beneran…. ya udah deh kalo lu nggak percaya… egepe!” katanya dia cuwek.
Begitulah kira2 percakapannya. Pembicaraan lantas beralih ke masalah inti.
Tapi, cerita belum selesai. Lusanya, hari Sabtu, saya main ke kos-kosan teman saya tersebut. Di situ teman saya memperlihatkan log di hp-nya. Ternyata ada panggilan dari nomor hp saya di hari dan jam di mana saya melakukan panggilan. Tetapi panggilan saya memang masuk dalam folder “MISSED CALLS” dan bukan pada folder “RECEIVED CALLS”. Jadi menurut hp teman saya tersebut, memang panggilan saya tersebut tidak pernah ada yang ngangkat!
Kejadian kedua. Lebih kuno lagi. Tahun 1991. Ketika masa-masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) di UNPAD. Ketika masa-masa KKN, tiap beberapa hari saya menelepon teman saya di Bandung untuk menanyakan perkembangan nilai yang keluar (maklumlah KKN waktu itu dilaksanakan di kala liburan, selama dua bulan, sesaat setelah ujian akhir semester). Waktu itu, maklumlah belum ada henpon, jadi untuk mengetahui kabar di kota harus lewat wartel yang jaraknya lumayan jauh dari desa tempat saya KKN. Waktu itu, saya mendapatkan info kalau ada nilai saya yang keluar “T”, kayaknya ada satu tugas yang belum saya kumpulkan. Untuk itu bagi yang mendapatkan ‘T’ harap bertemu dosen yang bersangkutan setelah maghrib minggu depan di kampus FE Jalan Dipati Ukur. Kebetulan dosen yang bersangkutan juga mengajar program ekstension malam hari.
Nah, di hari yang dijanjikan tersebut, saya berangkat ke Bandung pukul 1.30 siang. Maklumlah dari desa (nama desanya lupa lagi tetapi letaknya diperbatasan Kab. Cianjur dan Kab. Bogor). Maklumlah perjalanan dari desa menuju kota Cianjurnya sendiri, yang jalannya aduhai itu, memakan waktu sekitar 2 jam sendiri. Itupun dari desanya kalau mau cepat menuju tempat yang ada angkotnya harus menggunakan ojek, lalu dengan angkot menuju ke kota Cianjur, dari Cianjur ke Bandung naik bis. Mana hari itu hujan pula. Tapi hujan panas tak dihiraukan. Biarin deh pokoknya sebelum jam 7 malam, harus udah ada di kampus di Jl. Dipati Ukur.
Untung saja saya bisa sampai di Dipati Ukur sekitar setengah 7 malam. Sebelum menghadap dosen, rencananya saya mau ganti baju dulu (baju salinan untung dibawa dari tempat KKN), soalnya itu baju udah dua hari nggak ganti, maklum waktu KKN malas mandi dan malas ganti baju, soalnya mandinya di kali dan malas cuci baju, walhasil kalau baju nggak kotor-kotor sekali, biasanya dipakai sampai dua atau tiga hari tanpa diganti!
Karena mau menghadap dosen, tentu saja harus ganti baju dulu dong, karena selain harus mengkamuflase bau badan dengan eau de toilette pour homme, saya juga cuma pakai polo shirt dan celana pendek. Lalu saya masuk ke dalam toilet pria yang ada di lantai bawah FE. Karena waktu itu sudah menjelang isya, keadaan agak sepi. Di toilet pria tersebut ada beberapa urinoir, sebuah wastafel untuk cuci tangan dan sebuah bilik tempat buang air besar. Nah, di toilet pria tersebut pintunya bunyinya selalu berderit kalau ada yang membuka pintu, sepelan apapun pintu itu dibuka. Mungkin harus diminyakin kali. Nah, saya masuk ke bilik tempat buang air besar tersebut untuk ganti baju dan menyemperot badan dengan eau de toilette. Beberapa saat kemudian, saya mendengar dari dalam bilik, pintu toilet pria berderit berarti ada yang masuk. Dan tak lama kemudian saya mendengar keran di wastafel dibuka dan terdengar suara air mengalir. Sepertinya ia sedang cuci tangan. Lantas sesudah itu, sepi! Namun kok, suara pintu toilet tidak berderit lagi berarti dia belum keluar. Ah, mungkin satpam, dia mungkin mau memakai bilik untuk buang air besar ini. Lantas cepat-cepat saya mengganti baju dan celana. Ketika aku mau keluar dari bilik tempat buang air besar itu, tadinya aku mengharapkan bertemu seseorang yang tengah menunggu aku keluar, tidak tahunya: kosong! Alias nggak ada orang!!! Lah, ke mana itu orang??? Padahal satu-satunya akses masuk dan keluar hanya lewat pintu yang berderit itu!!
Dari dua kejadian di atas tersebut, saya tidak menyimpulkan bahwa itu adalah hantu. Sebagai orang yang terbiasa berfikir logis tentu saja saya berpendapat bahwa pasti ada penjelasan yang logis di balik kejadian tersebut hanya saja sampai hari ini saya belum bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Dalam kejadian pertama, saya hanya berkesimpulan mungkin saja teman saya berbohong lantas hp teman saya itu lagi error sehingga call saya dimasukkan ke dalam “missed calls”. Namun begitu tetap saja kok kesimpulannya agak maksa begitu. Sedangkan kejadian kedua, mungkin saja ada orang mau masuk toilet pria tapi tidak jadi. Sedangkan suara air dari keran yang mengalir tersebut kebetulan airnya lagi mengalir dan keran tidak ditutup dengan benar. Maklumlah keran di wastafel air tersebut terkadang besar dan terkadang kecil airnya, bahkan lebih sering airnya kecil mengalirnya. Pada saat itu kerannya tidak ditutup dengan benar sehingga pada waktu airnya kecil, tidak ada air yang mengalir keluar sementara pas alirannya besar untuk beberapa saat, air tersebut mengalir keluar. Namun kok kesimpulannya agak maksa juga ya??
Yesterday morning, on jogging around the neighbourhood, I came across this mock distance (and direction) signs showing the mileage kilometrage needed to reach Timbuktu and New York. Do not get fooled! It is not a signpost, it is situated on the 24/7 minimart called A***mart on Jalan Supratman near the Islamic Centre in Bandung. Since it is not a signpost and it appears on an offbeat place like this, it is always interesting for me to check whether these distance signs showing the right direction and the right kilometrage. It doesn’t matter what are they intended for, but to me if they show the kilometrage correctly it will add to the functionality of the signs.
Okay, before we go on, for those who can’t make head nor tail of their geography lessons, don’t be sorry! You are not the first person nor the last one who can’t. I’m gonna let you know that this Timbuktu is a town in Mali, Africa. (Oh, please, don’t give me that nitwitted look, I don’t have to show you where on the earth is New York, do I?
) I have no idea how this Malian town makes a name for itself, at least people know it by name, considering that this town is not even the capital city of the country. But if you are interested in the lowdown on the Malian town you can consult Wiki for sure. On the other hand, I am only interested in the validity of the information contained in the signs. If you have a world atlas software it is a snap to find out the distance between two points and voila the figures would be in your hand instantly. So that is the way I took to tell whether those figures on the signs are worthy of being distance-sign-reliable or not. And the result is……… disappointing!
If you make a beeline for Timbuktu from Bandung, according to my software, it is only as far as 9,405 kilometres (though it is not necessarily the exact figures). It is not 49,990 kilometres as shown in the sign. For the New York sign, it is also disappointing because New York is only 13,850 kilometres near from the Parijs van Java (the rather disapproved moniker of Bandung since I know Bandung has more and thus it is more enchanting than Paris! Hahaha… just kidding!). Meanwhile the kilometrage shown in the sign is 38,620! How can they come up with those ’silly’ figures?? And for the directions pointed by the arrows, on the Timbuktu sign it is (partly) correct, it is shown to the west. But it is not the case for the New York sign. The arrow should point to the east (though I know New York is not precisely eastwards from Bandung) not to the north like the one displayed by the sign!
However….. I then realised that maybe these signs are just faux ones. But what do they do there? Are they intended to attract more customers? But who’s gonna be attracted by the signs?? Ah… well…. to be honest, I am! But I am attracted to come to the place not as a customer but as an irritating Mr. Know-All who causes a downright pain in the arse who unnecessarily corrects trivial darn things like this one!
The fortnight’s fun of Australian Open is over. No ‘new’ champions of Australian Open in the singles emerged. Top seeds, the American Serena Williams and the Swiss Roger Federer took home the most coveted titles. In the men singles’ final, Federer dominated his opponent the Scotsman Andy Murray, and the Swiss did sail through the final match with the trophy. But in the ladies singles’ final, the story is a little bit different.
Justine Henin, the Belgian, who in 2008 decided to retire from the tennis court and eventually decided to return to the women’s tennis tour in 2009, did not let Serena sweep through the match. Every point gained by each player was grabbed hammer and tongs. Henin, despite her petite frame in comparison with her opponent who has an amazonian chassis, surprisingly has almost all of her strokes and shots packed with energy. I even wonder how come a relatively small lady like Henin got her enormous energy like that? Her motion is also agile like a gazelle to cover the court and to return every knockdown shot of her brawny American opponent. Unfortunately Henin’s errors were still produced fast and furious that gave Serena cheap points although I know that Serena also played awesome and she also made unfavourable errors. Though I rooted for the Belgian, I have to admit, it is the better who must have the trophy. And the match eventually belonged to the American.
However, I know that it is not easy for Henin to return to the court with her maximum capacity after quitting the tour for 18 months. It appeared that she would need to crank herself up before she reaches the peak again like she did before she quit. But her appearance and her performance, although she succumbed to Serena, in the Australian Open final delivered a wake-up call to the top players like the Williams sisters and the East European league that in the foreseeable future she would become a full-blown competitor again to those top players. “Allez” Justine, like the French word she frequently shouts after winning a stiff point!
It was Sunday morning about seven o’clock. It looked like I was the first who got up that early in the house. It is not because I am an early riser on Sundays, it is because I was eagerly waiting for the ‘live’ tennis action from Melbourne Park. So, to accompany the amusement of watching tennis matches from the Grand Slam of Asia-Pacific, I fixed myself a breakfast of two Cheddar spread sandwiches and a tumblerful of steaming aspartame-sweetened tea. Afterwards, as I planted my buns on the couch trying to sit nicely before my recently bought jumbo LCD-TV (as the old and the smaller LCD-TV had to serve in my bedroom to replace the even older 21-inch-CRT-TV which was on the fritz and beyond repair at a reasonable cost) I suddenly heard my fax machine receiving a transmission. Heck I don’t even remember when the last time I received a fax transmission. Duplicates of documents and any printed matters directed to me are now usually sent through e-mails by scanning them. However although fax transmissions have become less and less frequent day after day in my house, I still connect the fax machine to the line, in case in a rare occasion one needs to send me a fax and he or she happens to be Internet-illiterate.
These fax and faxing things have got something to do with this article, and it has got nothing to do with tennis. A few days ago on the Pikiran Rakyat daily my sight stumbled across an advert of Telkom (Indonesia) informing that the subscribers can change the plan in paying their landline phone bills. It is an interesting offer. Usually we are charged with the fixed subscription plus the flexible call charges (and of course plus a flexible VAT). But on the advert, it said we can change the plan of payments that will do away with the fixed subscription (bebas abonemen). I don’t know the lowdown on this advert but if you are interested, the information on it is only a few clicks away through the search engines. This advert however had interested me in a way that it conjured up a conclusion that Telkom is trying to implement an innovation, to some extent, to their product which is the landline phone. I am not surprised with the innovational efforts implemented by Telkom to boost their income from the landline service since this kinda communication begins to be forsaken by the users. Of course, we all know what caused it. It is mobile phone services that deprive the landline service of its users!
I still remember very well, about 15 years ago, when I needed a new landline connection for a fax-dedicated one. I contacted them but the best thing they could do was to tell me to wait until they released new lines to the market. Yes, fifteen years ago (in Indonesia) to add a secondary line in your home was an uphill effort, they would reject you with smooth but prolix excuses, the most common one was that they did not have new lines to offer! So I waited and waited until kingdom come there’s nothing else I could do. Unfortunately, fax was still an uncontested device for remote-duplicating document. E-mails, on the other hand were still alien to most Indonesians. MMS (Multi-Media Messaging)?? Don’t ever think about it. Even inter-networking text messaging was still disabled at that time! So, the most convenient way to remote-copy the documents was through a fax machine. That explains why fifteen years ago I still needed Telkom.
But today, it is a totally different story. E-mails are very common. Uploading a scanned document is also a snap. Moreover, Internet connection is no longer dependent upon low-speed dial-up connection. Cellular, Cable-TV and many other networks offer high-speed Internet connections to compete with Telkom’s ADSL connection. And today, despite still subscribing to Telkom’s services I firmly feel that I no longer need Telkom’s services for the telecommunication purposes. But as usual, when the monopoly-nurtured big company like Telkom began to lose their market share in the stiff competition, then they just realised that innovation and the customer’s satisfaction were the ones worth implementing! That’s really pathetic! When they feel that they are no longer necessarily the numero uno in the league, they begin to appreciate the people that have contribution to their pots of money. But again, of course, as a cliché “better late than never” always prevails when you want to make an excuse for doing correctly so late, a newly invented adage “better early than late” must be more notified in today’s modern market-oriented stiff competition…..
Minggu yang lalu iseng-iseng saya membersihkan lemari-lemari buku saya yang sudah lumayan banyak isinya. Maklumlah sepertinya lemari-lemari tersebut sudah mulai berdebu karena sudah agak lama tidak dibersihkan terutama di rak-rak yang teratas. Rak-rak yang teratas biasanya adalah buku-buku yang sudah tidak begitu sering dibaca lagi. Ketika iseng-iseng membersihkan rak yang paling atas, tidak sengaja saya menemukan Philips World Atlas terbitan Inggris. Setelah saya lihat-lihat, wow, ternyata atlas tersebut keluaran tahun 1997. Sudah cukup lama itu atlas! Entah kenapa, setelah melihat atlas itu timbul keinginan saya untuk membeli sebuah atlas dunia terbitan terbaru padahal sebenarnya kalau mau melihat-lihat atlas aja, sekarang atlas digital online juga banyak ditambah lagi software-software atlas bajakan juga banyak dijual di pinggir-pinggir jalan. Tapi entah kenapa melihat atlas dunia yang saya beli lebih dari satu dasawarsa lalu itu membuat saya ingin untuk membeli atlas dunia berbentuk tradisional (baca: buku) edisi terbaru.
Untuk itu hari Sabtu kemarin, mumpung anak saya yang kecil merengek-rengek minta dibelikan komik Jepang lagi, ya akhirnya kami mengunjungi Gramedia Merdeka (lagi!). Untung saja, di sana dijual berbagai macam atlas impor dengan berbagai jangkauan harga. Saya lihat kebanyakan adalah atlas dunia dari Philips (Inggris) juga versi terbaru. Namun setelah saya lihat-lihat pilihan saya jatuh pada Gramercy Family World Atlas terbitan Random House Value Publishing. Harganya juga tidak terlalu mahal untuk ukuran atlas impor (Rp. 195.000,-) dibandingkan atlas-atlas impor lainnya yang sekelas yang harganya lebih dari Rp. 300.000,-. Setelah membayar atlas tersebut di kasir, saya langsung menuju lantai atas tempat komik-komik Jepang berada. Sementara saya menunggu anak saya memilih komik, saya iseng-iseng melihat atlas-atlas buatan lokal yang kebetulan berada di lantai yang sama. Ada beberapa macam atlas lokal dari berbagai penerbit yang ada. Harganyapun bermacam-macam, dari yang termurah cuma Rp. 13.000,- hingga yang termahal Rp. 150.000,-. Namun setelah saya lihat-lihat isinya alangkah kecewanya saya, karena kebanyakan isinya banyak yang sudah kadaluwarsa atau tidak akurat lagi terutama untuk atlas dunianya, padahal hampir semua atlas-atlas tersebut dicetak tahun 2007 ke atas! Setelah diteliti lebih lanjut ternyata dari sekian atlas lokal tersebut, yang isinya akurat hanyalah dua buah. Yang satu, yang harganya paling mahal Rp. 150.000,- yang satunya lagi yang terbitan Erlangga. Itupun yang atlas Erlangga tersebut merupakan atlas terjemahan dari atlas impor! Sisanya, sepertinya atlas “asal-asalan” aja. Beberapa kelemahan atlas-atlas tersebut yang umum dijumpai adalah berupa:
- Banyak dari atas tersebut masih mencantumkan negara Yugoslavia yang lama. Padahal Yugoslavia sudah lama pecah. Yugoslavia terakhir berdiri tahun 2006, yang pada waktu itu tinggal menyisakan Serbia dan Montenegro saja. Pada saat Serbia dan Montenegro berpisah tahun 2006, tamat pula “riwayat” Yugoslavia.
- Beberapa atlas juga masih menyatukan Republik Ceska dan Slowakia menjadi Cekoslowakia. Padahal Republik Ceska dan Slowakia sudah memisahkan diri sejak 1 Januari 1993!! Wow… ketinggalan banget tuh atlas yang masih mencatumkan Cekoslowakia!
- Pada beberapa atlas banyak juga yang menampilkan berbagai macam bendera-bendera dunia. Namun bendera-bendera tersebut banyak yang kadaluwarsa! Bayangkan saja bendera Hongkong masih yang ada bendera “The Union Flag”-nya Inggris, sedangkan bendera Zaire yang lama juga masih ada, padahal Zaire sekarang sudah menjadi Republik Demokrasi Kongo dengan bendera yang berbeda. Belum lagi bendera Afghanistan, dan bendera-bendera negara-negara pecahan Uni Soviet yang masih banyak kadaluwarsa! *sigh*
- Peta-peta yang menunjukkan pembagian waktu dunia juga kebanyakan banyak yang kadaluwarsa. Banyak dari peta-peta tersebut masih menunjukkan bahwa seluruh wilayah di Kalimantan masuk ke dalam GMT+8. Padahal setahu saya Hanya Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan saja yang GMT+8 (atau WITA), sisanya adalah GMT+7 (atau WIB). Sedangkan Timor Leste masih dimasukkan ke dalam GMT+8 (WITA), padahal sejak 17 September 2000 (setelah lepas dari RI) Timor Leste sudah dimasukkan ke dalam GMT+9 (atau setara WIT).
- Batas-batas antarnegara, terutama negara-negara yang agak kecil, sangat kasar dan terkadang sangat tidak akurat! Berbeda sekali dengan atlas-atlas yang impor di mana batas-batas antarnegara sekecil apapun terlihat sangat jelas dan akurat.
Yang paling konyol ada satu buah atlas yang mengatakan bahwa ibukota provinsi Bangka Belitung adalah Sungailiat padahal setahu saya ibu kota provinsi Bangka Belitung itu adalah Pangkal Pinang. Entah deh, kalau sekarang sudah dipindah ke Sungailiat (Atau mungkin dulu ibukota provinsi Babel itu memang Sungailihat ya??). Pokoknya pendek kata, saya sungguh prihatin sekali melihat kualitas-kualitas kebanyakan atlas-atlas buatan dalam negeri. Tentu saja, saya sadar bahwa atlas-atlas tersebut harganya relatif murah dan ‘hanya’ ditujukan untuk keperluan pendidikan, namun saya rasa itu bukan alasan untuk tidak memperbaiki atlas-atlas buatan lokal tersebut.
Saya sendiri heran, kenapa atlas-atlas “menyedihkan” tersebut bisa lolos ke percetakan, apakah mereka tidak pernah menyeleksi atau memeriksa isinya?? Padahal sekarang zamannya Internet dan data digital, semua bisa dengan mudah dicocokkan keakuratannya dan kekiniannya. Apakah mereka tidak pernah melakukan itu?? Apa Internetnya hanya buat Facebookan aja??
O iya ada satu lagi kelucuan dari salah satu atlas tersebut. Di salah satu atlas ada yang mencantumkan “The New 7 Wonders Of The World” atau “Tujuh Keajaiban Dunia Yang Baru”. Data tersebut dikatakannya diambil dari Internet. Padahal “The New 7 Wonders of The World” tersebut tidak pernah diakui oleh UNESCO!! Ada-ada aja! Keakuratan atau kekinian yang seharusnya masuk malah diabaikan, eh, kekinian yang seharusnya tidak perlu masuk malah diikutsertakan…..
Barangkali sebelum tahun baru lalu anda masih ingat gonjang-ganjing peluncuran buku “Membongkar Gurita Cikeas” karangan George Junus Aditjondro yang tak lama kemudian disusul dengan jawaban “tak resmi” buku tersebut yang juga diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul “Hanya Fitnah Dan Cari Sensasi: George Revisi Buku” karangan seorang mantan wartawan tempo bernama Setiyardi. Namun begitu, artikel ini tidak membahas tentang isi substansial kedua buku tersebut karena sayapun belum membaca langsung kedua buku tersebut namun dalam artikel ini saya akan berpendapat secara pribadi tentang ‘fenomena’ yang mirip dengan kasus kedua buku di atas di mana “bau kentut dicoba dihilangkan juga dengan bau kentut yang lain!”.
Dalam sebuah acara di TV-One, pengarang buku “Hanya Fitnah dan Cari Sensasi…..” mengatakan bahwa buku yang dikarang George mempunyai kelemahan dari sisi metodologi penulisan dan konten serta hanya menggunakan data sekunder tanpa melakukan konfirmasi. Memang banyak kalangan mengatakan bahwa buku karangan George tersebut adalah sampah. Namun dalam acara tersebut saya juga menangkap bahwa ternyata buku “Hanya Fitnah dan Cari Sensasi….” juga hanya memberikan pandangan pribadi yang subyektif dari sang pengarang. Okelah…. saya tidak akan menilai mana dari kedua buku yang lebih baik, agar adil ANGGAPLAH kedua buku tersebut adalah berkualitas sampah atau berkualitas kentut yang sangat bau. Lantas apa masalahnya??
Begini….. anggap saja anda bersama teman anda berada di sebuah ruangan yang agak sempit. Tiba-tiba teman anda kentut dengan baunya. Anda keberatan dengan kentut teman anda yang baunya busuk itu, tapi anehnya anda ingin meredam bau kentut teman anda yang busuk itu dengan kentut anda sendiri yang tak kalah busuknya!! Secara psikologis bau kentut sendiri sebusuk apapun masih tercium lebih harum dibandingkan kentut orang lain yang baunya nggak begitu busuk
. Tentu tindakan tersebut jadi terasa aneh bukan?? Bukankah jauh lebih baik jika bau kentut teman anda tersebut diredam dengan Glade Air Freshener yang beraroma mawar atau lemon? Jadi begitu juga dengan kasus buku ini, jikalau anda berkeberatan dengan isi, metodologi dan sebagainya dari buku ini, apalagi jika anda ingin menjawabnya dalam sebuah buku juga tentu anda harus mampu menjawabnya dengan isi dan metodologi yang lebih baik. Jangan kentut dibalas juga dengan kentut, walhasil malah tambah bau dan kacau!
Jadi, apakah tidak boleh menjawab buku yang berkualitas sampah dengan buku yang berkualitas sampah juga?? Tentu saja boleh! Jika anda ingin membalas kentut teman anda dengan kentut anda sendiri yang sama baunya tentu sah-sah saja. Namun akan terasa aneh misalnya, jika anda protes karena kentut teman anda yang bau namun anda sendiri ternyata mengeluarkan kentut yang sama baunya!! Saya mengharapkan bahwa ANDAIKAN nanti ada jawaban resmi, tidak resmi ataupun setengah resmi dari fihak Cikeas yang merasa dirugikan yang akan dituangkan dalam sebuah buku, saya berharap buku tersebut akan beraroma lebih harum dibandingkan buku yang akan disanggahnya. Misalnya, jika fihak Cikeas ingin membantah tentang aliran dana Bank Century (walaupun katanya di bukunya si George itu aliran dana Bank Century justru malah sangat sedikit dibahas) maka fihak Cikeas harus bisa juga menunjukkan ke mana sebenarnya dana Bank Century itu mengalir dengan dukungan data primer dan bukan hanya berupa sangkalan-sangkalan sefihak yang berdasarkan data sekunder juga! Begitulah Contohnya!
Nah… Nanti dulu…. jangan-jangan artikel ini juga berbau kentut! Ya biarin….. andaikata ada yang menilai artikel ini berbau kentut ya silahkan saja
. Memang saya niatnya cuma mau kentut saja kok!
Ini untuk menunjukkan bahwa kentut itu mudah kok. Tapi setidak-tidaknya saya kentut di tempat netral yang jauh dari keributan “perang kentut”, jadi tidak menambah bau ruangan yang sudah bau tersebut! Jadi silahkan anda kentut, namun jangan cepat protes dengan kentut teman anda yang bau tersebut! “Duuuuuut…….” “ah, lega rasanya!!”
Who doesn’t recognise the panoramic picturesque view of Manhattan Skyline above? In the mid of the 20th century, New York City and some other North American cities were probably the only sites when one could set eyes on breathtaking view of skylines packed with highrise buidings. But as time dragged into the 21st century this phenomenon changed. North American cities were not the only homes of breathtaking skylines and the highest-rise buildings. Highest-rise buildings had even shifted eastwards to both the Far and the Near. With the economic boom in the Far East and the limited space of urban lands that made the price of lands soaring high, the most economic way to shelter people and their businesses was to build it up and up! These circumstances had raised ‘the highrise race’ in the Pacific Rim where people constructed skyscrapers like crazy!
Southeast Asian cities are of course no exception. In the capital cities of the ASEAN, this ‘race’ became more evident. Despite the facts that the slum areas still coexist side-by-side with the business districts where highrises are looming to the skies, breathtaking panoramic Manhattan-like skylines are now readily simulated by the Southeast Asian cities! To prove how close the Southeast Asian cities in paralleling Manhattan skyline these below are the pics of some capital cities of ASEAN. The pics are grabbed from various sources Netwide.
These below are some fascinating second-rate skylines from non-capital cities of ASEAN:
Well? What do you think? Do you think that these ASEAN cities are close enough to the well-known Manhattan Skyline in the density of the highrise buildings? It is up to you to judge, but these ASEAN cities are still growing and they still build things up and up to the skies! Let’s see what they will look like in, say, 10 years?? Okay, now, which of those skylines above is the best do you think? As an Indonesian, of course I would vote in favour of Jakarta, but as a neutral observer of course I would vote for…… Jakarta!! Hahahaha….. It seems that the adjective ‘neutral’ is not really working, isn’t it??

















