Spektrum Pemikiranku

Senin, 6 Juli 2009

Selamat Mencontreng…..

Diarsipkan di bawah: Iseng, Manusia, Pemilu, Perilaku, Serba Serbi — by Yari NK @ 11:39 am

Tidak terasa…… dua hari lagi kita tiba pada hari di mana para tim sukses masing-masing capres/cawapres hatinya merasa deg-degan, yaitu hari di mana kita mencontreng untuk memilih pemimpin negeri ini selama lima tahun mendatang. Bagi mereka yang berniat untuk ambil bagian dalam peristiwa yang merupakan bahagian dari pesta demokrasi ini sudahkah mengecek nama anda terdaftar dalam DPT? Alhamdulillah, saya pribadi tidak perlu mengecek lagi apakah saya sudah terdaftar atau belum di DPT karena dua minggu yang lalu, saya sudah menerima surat tanda terdaftar sebagai pemilih pilpres lusa. Mudah-mudahan bagi anda yang juga ingin berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini juga sudah menerima surat serupa.

Nah, kalau sudah, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah anda sudah menentukan pilihan anda?? Mungkin anda sudah punya kandidat terkuat untuk dipilih walaupun masih sedikit ragu-ragu atau mungkin sebagian dari anda sudah punya pilihan yang mantap tapi masih malu-malu mengutarakannya karena khawatir pilihannya bisa jadi dinilai “keliru” oleh orang lain yang memilih kandidat yang berbeda. Sebenarnya sih, anda tidak perlu berlama-lama dalam memilih kandidat capres dan cawapres anda. Masa sih, memilih satu dari tiga saja membutuhkan waktu yang cukup lama? Sebenarnya tidak ada pilihan yang “salah”. Semua orang punya alasan masing-masing untuk memilih kandidatnya masing-masing dengan pertimbangan APAPUN.  Masing-masing kandidat toh juga pasti punya kelebihan dalam kelemahan masing-masing. Nah, semuanya tinggal berpulang kepada kita masing-masing apakah kita sudah mempertimbangkannya secara obyektif atau hanya sekedar subyektif atau campuran dari kedua unsur?? Ya…. tentu saja, sekali lagi, itu adalah hak anda karena dalam pilpres ataupun pemilu memang diasumsikan tidak ada pilihan yang “salah”.

Saya sendiri juga sudah punya pilihan sejak sebulan lalu. Bagi saya, pilihan saya tersebut tidak tabu untuk diketahui banyak fihak dan tentu akan saya beri tahu pilihan saya di artikel ini juga!! Namun sebelum itu, perlu saya beritahu bahwa pilihan saya bukan semata-mata berdasarkan program-program yang ditawarkan capres dan cawapres lewat kampanye-kampanye dan debat-debat yang telah dilakukan semasa kampanye tetapi saya lebih mengutamakan prinsip keseimbangan! Entah kenapa….. dari dulu saya suka dengan prinsip keseimbangan. Dalam pertandingan sepakbola dan tennispun misalnya saya cenderung membela tim atau pemain yang underdog. Sebenarnya terus terang selama kampanye berlangsung, menurut saya pribadi,  saya paling sreg dengan pasangan capres dan cawapres nomor \frac{\sqrt{32}+\sqrt{48}}{\sqrt{8}+\sqrt{12}} namun karena saya suka dengan prinsip keseimbangan, maka kemungkinan besar tanggal 8 lusa, saya akan memilih pasangan capres dan cawapres nomor:

3 - ( \frac{1}{\sqrt{3}} + \frac{1}{3 + \sqrt{3}} + \frac{1}{\sqrt{3} - 3} )

Walaaah….. kenapa nih, mau memberitahu pilihan capres dan cawapres aja pakai hitungan matematika?? Karena ini masih masa tenang dan biar nggak disebut kampanye terselubung, maka dengan menyesal terpaksa anda harus mengambil kalkulator untuk mengetahui pasangan pilihan capres dan cawapres yang saya pilih! Huehehehehe…….. Percaya deh, hitungannya tidak terlalu sulit kok… :D

Jumat, 3 Juli 2009

Cuaca di Wimbledonpun Seperti Ngeledek…

Diarsipkan di bawah: Olahraga, Pengetahuan, Serba Serbi — by Yari NK @ 11:08 am
Centre-Court Wimbledon yang menggunakan atap penutup

Centre-Court Wimbledon yang menggunakan atap penutup

Sudah seminggu ini saya “dilenakan” oleh tayangan langsung kejuaraan tennis Wimbledon yang berlangsung di London SW19, Inggris. Walau tahun ini Wimbledon tanpa kehadiran petenis nomor 1 dunia, Rafael Nadal yang kurang fit untuk ikut kejuaraan akbar ini, namun ternyata kejuaraan ini tetap terasa gregetnya. Turnamen Wimbledon tahun 2009 ini terasa sedikit spesial karena untuk pertama kalinya turnamen ini menggunakan lapangan utama (centre-court) yang dapat ditutup di atas lapangannya dengan retractable roof sehingga jikalau hujan tidak akan mengganggu jalannya pertandingan di lapangan utama yang dijadikan pertandingan-pertandingan pemain-pemain unggulan teratas.

Seperti kita ketahui, cuaca di London pada saat Wimbledon sering tidak menentu. Hujan yang deras tiba-tiba, dapat mengganggu jalannya pertandingan. Bahkan terkadang hujan dapat turun hampir seharian yang tentu saja membuat stasiun-stasiun TV yang menyiarkannya langsung dan juga penontonnya menjadi menggerutu seharian. Pertandingan-pertandingan yang disiarkan langsung oleh televisi biasanya pertandingan yang berada di lapangan utama dan di lapangan nomor satu di mana pemain-pemain unggulan teratas biasanya bertanding. Nah, dengan adanya retractable roof yang dapat menutup dan terbuka secara otomatis di lapangan utama, maka pertandingan tennis yang disiarkan televisi di lapangan utama dapat terus berlangsung walaupun hujan dengan derasnya.

Panitia Wimbledon mengeluarkan uang tak kurang dari £ 80 juta untuk pemasangan retractable roof ini, dan perancangan serta pembangunannya sudah dimulai tahun 2006 lalu. Ketika retractable roof ini siap digunakan untuk pertandingan Wimbledon tahun ini dan penonton tenis di lapangan utama ingin merasakan bagaimana menonton di bawah retractable roof ini, apa yang terjadi?? Ternyata cuaca di London SW19 ini relatif sangat bagus!! Dan hujan tidak turun selama seminggu pertama pertandingan hingga hari Senin tanggal 29 Juni lalu ketika pertandingan tunggal putri antara Amélie Mauresmo (Perancis) melawan Dinara Safina (Rusia). Rupanya memang cuaca di Wimbledon seolah-olah meledek panitia turnamen Wimbledon ini yang sudah mengeluarkan duit jutaan pound dan ternyata hujan tahun ini tidak turun sederas tahun-tahun sebelumnya!

Namun, masalah belum sepenuhnya tuntas ketika retractable roof ini beraksi melindungi lapangan utama Wimbledon ketika hujan deras walaupun tidak mengganggu jalannya pertandingan. Petenis tuan rumah, Andy Murray, misalnya dan lawannya petenis Swiss, Stanislas Wawrinka, merasakan efek rumah kaca di dalam lapangan tertutup itu. Maklumlah ketika lapangan ini ditutup, udara di dalamnya akan menjadi panas akibat dari lampu berkekuatan tinggi yang membantu menerangi lapangan, panas tubuh dari ribuan penonton di dalam lapangan serta dari sinar matahari yang menembus atap stadion yang tembus cahaya itu. Walaupun di lapangan utama Wimbledon telah dilengkapi sistem pengatur udara yang sangat canggih namun nampaknya efek rumah kaca masih dirasakan oleh para pemain dan mungkin juga para penontonnya di lapangan utama.

Nah, anda ingin merasakan secara langsung efek rumah kaca?? Gampang!! Jika anda punya mobil (atau boleh pinjam mobil orang lain), parkirlah mobil anda di tempat yang terbuka di siang hari bolong di panas matahari yang terik. Tutuplah rapat-rapat jendela mobil anda. Tinggalkanlah mobil anda selama satu hingga dua jam. Ketika anda kembali, anda akan merasakan temperatur di dalam mobil anda yang “aduhai” panasnya bahkan terasa lebih panas dibandingkan temperatur udara di luar mobil anda. Apa yang terjadi? Itu karena sinar matahari yang mempunyai panjang gelombang  lebih pendek (dari panjang gelombang sinar infra merah) dapat dengan mudah menembus kaca mobil anda. Lantas panas dari sinar matahari tersebut dipantulkan oleh interior mobil anda dalam bentuk gelombang sinar infra merah. Gelombang sinar infra merah yang terbentuk di dalam mobil ini tidak bisa menembus kaca mobil yang berakibat gelombang sinar infra merah ini terakumulasi di dalam mobil sehingga temperatur di dalam mobil anda menjadi sangat tinggi.

Begitu pula di dalam lapangan Wimbledon ini, terjadi juga efek rumah kaca ini, hanya saja sumber panasnya berasal dari panas tubuh ribuan manusia di dalamnya, lampu-lampu penerang berkekuatan tinggi dan juga sedikit sinar matahari yang tembus. Bahkan sistem pengatur udara yang canggih di lapangan utama Wimbledon ini belum bisa sepenuhnya mengusir efek rumah kaca ini setidak-tidaknya begitulah seperti yang dirasakan Andy Murray dan Stanislas Wawrinka. Ya sudahlah, tidak ada buatan manusia yang sempurna, yang penting pertandingan berjalan mulus. Syukur-syukur kalau cuaca di Wimbledon “ngeledek” terus sehingga retractable roof tidak perlu terlalu sering dipakai…… :D

Catatan:

Suhu tubuh manusia yang sekitar 37°C (98,6°F) itu memancarkan panas juga yang berupa gelombang sinar infra merah. Tentu saja sinar infra merah ini tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, namun dapat “dilihat” melalui thermoscan seperti yang anda lihat di berita-berita televisi di mana alat tersebut dipasang di bandara-bandara untuk mendeteksi suhu tubuh para penumpang pesawat terbang komersial terutama dari luar negeri untuk mencegah penyebaran flu babi akhir-akhir ini. Namun, warna panas yang ada di layar thermoscan itu bukanlah warna asli sinar infra merah, melainkan adalah warna rekaan komputer belaka untuk membedakan panas.

Selasa, 30 Juni 2009

Debat Matematikapun Bisa Sekocak Debat Politik…

Diarsipkan di bawah: Iseng, Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi — by Yari NK @ 9:50 am

Walaupun saya akui, sampai debat sesi ketiga lalu, debat capres dan cawapres masih kurang menggigit (walaupun yang terakhir sudah lumayan), namun debat tim suksesnya yang kebanyakan terdiri dari para politisi masih sangat menghibur, minimal buat saya. Argumen-argumen para politisi tersebut yang seringkali bias dan tidak obyektif (tergantung pada fihak mana ia berada) merupakan bahan hiburan tersendiri untuk “ditertawakan” ramai-ramai.

Namun tahukah anda, tarnyata debat politik bukan satu-satunya topik yang dapat membuat sebuah perdebatan menjadi kocak. Ternyata debat matematikapun bisa membuat perdebatan menjadi kocak setidaknya seperti yang anda dapat lihat di sini. Topiknyapun sebenarnya cukup sederhana yaitu apakah benar \frac{0}{0}=1? Saya tidak akan membahas apakah \frac{0}{0}=1 atau tak terdefinisi karena anda bisa mendapatkan jawabannya yang bertebaran di jagad maya ini, lagipula saya juga bukan ahli matematika dan juga saya tidak bisa matematika. Tetapi saya akan mengomentari sedikit jalannya perdebatan tersebut.

Jikalau anda melihat sendiri perdebatan pada artikel tersebut jangan anda cari mana yang benar dan mana yang salah, karena jika anda pernah belajar matematika dasar anda dengan mudah dapat menentukan mana yang benar dan mana yang salah bahkan sebelum anda membaca perdebatan tersebut atau membaca komentar-komentar di artikel tersebut. Namun perhatikanlah bagaimana salah satu fihak pendebat yang terdesak menjawab pertanyaan dengan jawaban lain yang berbeda atau dengan fakta dan data-data lain yang tidak relevan dengan topik yang diperdebatkan. Nah, anda jangan terpengaruh dengan topik yang saya tulis ini, berusahalah netral namun tetaplah obyektif, nilailah sendiri mana menurut anda pendebat yang baik maupun mana pendebat yang ‘asal jawab’. Fihak yang ‘asal jawab’ sepertinya beranggapan bahwa dengan menjawab ia akan merasa tidak kalah walaupun jawabannya tidak relevan dan tetap akan mengangkat gengsinya walaupun mungkin justru orang lain menganggap sebaliknya……..

Saya jadi ingat ada anak kecil ditanya:

“Nak, tahu nggak ibukota negara Malaysia itu apa??”

Lalu si anak dengan pede-nya berkata:

“Ibukota Indonesia itu Jakarta pak!!!”

Benar sih, tapi katanya si Jaka Sembung itu nggak nyambung!! :lol:

Sabtu, 27 Juni 2009

Yang Cowok Jantan Lebih Indah Dari Yang Cewek Betina

Diarsipkan di bawah: Iseng, Pengetahuan, Serba Serbi — by Yari NK @ 10:07 am
Burung Merak. Yang jantan (di belakang) mempunyai bulu yang lebih indah dari yang betina (di depan).

Burung Merak. Yang jantan (di belakang) mempunyai bulu yang lebih indah dari yang betina (di depan).

Tahukah anda di dalam biologi dikenal yang dinamakan dimorfisme (dimorphism) atau lebih spesifiknya lagi adalah dimorfisme seksual (sexual dimorphism)? Dimorfimse ini adalah perbedaan sistematis yang ada di antara kedua jenis kelamin dalam spesies yang sama. Dimorfisme ini mencakup segala perbedaan baik perbedaan secara fisik yang jelas terlihat ataupun perbedaan-perbedaan yang agak sulit atau bahkan sulit dilihat mata. Bahkan bisa jadi dimorfisme ini mnecakup perbedaan tingkat molekular antara kedua jenis kelamin pada spesies yang sama.

Common Pheasant (Phasianus colchicus). Spesies burung, di mana yang jantan (kanan) bulunya berwarna-warni indah, sementara yang betina bulunya monoton.

Common Pheasant (Phasianus colchicus). Spesies burung, di mana yang jantan (kanan) bulunya berwarna-warni indah, sementara yang betina bulunya monoton.

Dimorfisme yang paling kita kenal adalah dimorfisme pada burung merak (peafowl). Di mana kita semua sudah mengetahui bahwa burung merak jantan (peacock) mempunyai bulu ekor yang sangat indah sementara burung merak yang betina (peahen) bulu ekornya sama sekali tidak menarik. Entah kenapa, dalam dimorfisme fisik kebanyakan yang jantan lebih indah daripada yang betina. Hal tersebut bukan hanya terjadi pada burung merak saja. Pada spesies burung lainnya, Phasianus colchius, yang jantan jauh lebih indah berwarna dibandingkan yang betina seperti yang dapat anda lihat pada gambar di atas. Begitu juga dalam banyak spesies lain yang contohnya dapat dilihat pada gambar-gambar di artikel ini.

Bebek mallard. Yang jantan (depan) mempunyai bulu kepala dan paruh yang berwarna indah dibandingkan dengan yang betina (belakang).

Bebek mallard. Yang jantan (depan) mempunyai bulu kepala dan paruh yang berwarna indah dibandingkan dengan yang betina (belakang).

Namun begitu, dalam beberapa spesies terjadi dimorfisme yang “menungguli” si betina dari yang jantan terutama dari sisi ukurannya, di mana yang betina ukurannya jauh lebih besar dibandingkan yang jantan. Sebuah spesies laba-laba, Argiope appensa, misalnya, yang perempuan berukuran tiga setengah kali lebih besar dari yang jantan. Sementara sebuah spesies ikan yang aneh, Triplewart seadevil (Cryptopsaras couseii), ukuran yang jantan hanya sepersepuluh dari ukuran yang betina panjang badannya.

Orgyia recens. Sejenis spesies kupu-kupu. Di mana yang jantan (atas) mempunyai sayap, sementara yang betina (bawah) tidak mempunyai sayap!

Orgyia recens. Sejenis spesies kupu-kupu. Di mana yang jantan (atas) mempunyai sayap, sementara yang betina (bawah) tidak mempunyai sayap!

Walau dalam dimorfisme seksual di dunia biologi biasanya yang jantan jauh lebih indah dibandingkan yang betina namun bukan berarti keindahan tersebut merupakan keuntungan mutlak bagi si jantan. Keindahan warna-warni si jantan yang menyolok terkadang justru merugikan si jantan manakala ia dikejar-kejar binatang atau spesies pemangsa (predator). Warna-warni yang mencolok dari bulu si jantan justru menyusahkannya untuk berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya. Sementara yang betina dengan (relatif) lebih mudah dapat berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya sehingga kemungkinan untuk tidak terdeteksi oleh spesies pemangsa jauh lebih besar.

Nah, bagaimana sekarang dengan manusia (Homo sapiens)? Tentu saja dalam manusia juga terjadi dimorfisme. Namun secara alami dimorfisme itu tidak terlalu kentara secara fisik. Salah satunya yang agak kentara adalah biasanya perempuan atau wanita lebih lebar pada panggul sementara laki-laki atau pria biasanya mempunyai dada yang lebih lapang. Atau bulu rambut pada sekujur tubuh pria (termasuk kumis dan jenggot) juga biasanya lebih lebat dibandingkan wanita. Untung saja dimorfisme pada manusia tidak ada yang membuat tubuh pria menjadi jauh lebih indah dibandingkan tubuh wanita seperti pada burung merak  misalnya. Kalau ada, wah, bisa-bisa kaum wanita lebih cemburu lagi pada keunggulan-keunggulan yang dipunyai kaum pria! Wakakakakak…. **ditimpukin kaum hawa sedunia** :lol:

Selasa, 23 Juni 2009

Debat Capres (Cawapres) Lawan Wimbledon…

Diarsipkan di bawah: Iseng, Kehidupan, Manusia, Olahraga, Pemilu, Serba Serbi — by Yari NK @ 5:00 am

debateLah…. apa hubungannya Debat Capres dan Wimbledon? Hubungannya….. memang tidak ada! Namun bagi saya, keduanya sedikit “bersinggungan” karena dalam seminggu dua minggu ke depan ini jadwal debat capres (dan cawapres) akan bertubrukan dengan jadwal siaran langsung kejuaraan tennis yang bisa dikatakan terakbar di dunia yaitu Wimbledon yang mulai disiarkan langsung kemarin sore, Senin 22 Juni 2009. Walau kedua event ini termasuk event yang saya tunggu-tunggu penayangannya lewat televisi tapi kedua-duanya sudah menuai kekecewaan buat saya. Kenapa??

Debat capres pertama yang saya ikuti minggu lalu di televisi ternyata telah mengecewakan saya. Kenapa?? Anda tentu sudah tahu kenapa sebabnya. Ya… karena acara yang judulnya “Debat Capres” menjadi lebih mirip jika judulnya diganti menjadi “Sinergi (antar) Capres”. Para peserta debat lebih banyak ho’oh dan seiya-sekata dengan lawan debatnya dibandingkan mendebat pernyataan, opini, visi dan misi lawan-lawan debatnya. Jadi dalam debat capres yang pertama, esensi debat yang seharusnya ditampilkan dalam acara itu gagal ditampilkan sehingga masyarakat jadi susah membedakan perbedaan visi dan misi para capres. Lah, kalau sudah seiya sekata ngapain juga diadakan acara debat?? Lantas, kalau semua capres (dan cawapres) sudah seiya sekata dan cuma saling mengekor ya buat apa masyarakat harus memilih dengan cerdas, lah wong para capresnya juga bisanya cuma “ho’oh” saja dalam berdebat……

Menurut pendapat saya pribadi (tentu bisa saja salah walaupun bisa juga benar sekali :P ) memang para peserta debat punya “beban mental” tersendiri. Selain sepertinya para capres ingin tampil santun, sepertinya para capres ini juga takut “salah berargumentasi” dalam perdebatan tersebut. Dan juga sepertinya, masih menurut saya, ehm, sepertinya capres yang nomor satu dan yang nomor tiga sedikit ogah untuk berkonfrontasi satu sama lain. Karena….. mereka saling membutuhkan suara pendukung yang rontok pada pilpres putaran pertama untuk menghadapi pilpres putaran kedua. Ya, nggak lucu dong, nanti saling mendukung sekarang mengkritik dan berdebat sengit. Untuk itu sepertinya capres yang nomor satu dan nomor tiga hanya “bernafsu” untuk berkonfrontasi dengan capres yang nomor dua. Namun sepertinya juga kurang elok jika dalam perdebatan yang seharusnya segitiga itu menjadi perdebatan “garis lurus” karena titik yang ketiga dalam segitiga tersebut sudah bergabung (berhimpitan) dengan titik pertama untuk sama-sama menghantam titik yang kedua.

Nah, masih menurut saya lagi, seharusnya agar perdebatan lebih hidup format acaranya memang harus diubah. Penyampaian visi dan misi masing-masing para capres (dan cawapres) pada masing-masing topik sebaiknya ditiadakan, atau kalaupun ada paling lama hanya lima menit saja, jangan sepuluh menit, terlalu lama. Toh, kemungkinan besar nanti yang didengar juga cuma lagi-lagi hal-hal yang berbau normatif yang terkesan basi. Untuk itu, waktu yang berharga tersebut bisa langsung digunakan untuk sesi perdebatan. Agar para capres (dan cawapres) lebih terangsang untuk berdebat, maka sesi yang perlu ditambahkan mungkin adalah “sesi pertanyaan antarcapres (dan cawapres)”. Dalam sesi ini seorang capres (dan cawapres) bebas bertanya atau mempertanyakan kepada capres (dan cawapres) lainnya, yang mana saja, tentang visi, misi serta program-program para capres (dan cawapres) yang ditanya tersebut yang sesuai dengan topik yang diperdebatkan tentu saja. Atau boleh jadi ditambahkan juga “sesi mengkritik antar capres (dan cawapres)” di mana para capres (dan cawapres) “wajib” untuk mengkritik visi dan misi serta program-program capres dan cawapres lainnya. Kritikan boleh menyangkut performansi capres dan cawapres masa lalu (ketika menjabat sebagai presiden dan wapres) ASAL sesuai dengan topik yang diperdebatkan. Nah, di sinilah peran moderator sesungguhnya untuk meluruskan kembali perdebatan jika perdebatan telah keluar dari topik atau menjurus kepada hal-hal yang berbau pribadi atau subyektif. Dengan moderator yang cakap diharapkan perdebatan akan berlangsung terarah namun mendalam serta tetap obyektif.

Tennis-02-juneTentu itu hanya usul saja dari saya. Namun kita lihat saja, apakah debat capres (dan cawapres) seri selanjutnya akan semakin seru?? Mudah-mudahan semakin seru (namun tidak ngawur) agar kita bisa melihat capres dan cawapres kita yang bermutu dalam berargumentasi dan perdebatan, serta untuk masyarakat mengetahui mana capres yang paling cocok untuk mereka. Namun kalau acara perdebatan capres (dan cawapres) masih nggak seru juga, tidak apa-apa bagi saya, saya akan beralih channel untuk melihat siaran langsung pertandingan tennis Wimbledon dari Inggris.

Nah, seperti yang saya utarakan sebelumnya, ternyata Wimbledon tahun ini juga cukup mengecewakan bagi saya. Kenapa?? Karena petenis Spanyol Rafael Nadal tidak ikut tahun ini karena kondisinya tidak fit 100% untuk ikut Wimbledon. Sehingga nampaknya petenis Swiss Roger Federer peluangnya sangat besar untuk menjuarai Wimbledon. Bukannya saya tidak suka dengan Federer jika ia menjadi juara namun karena Federer sebelumnya sudah menjuarai Wimbledon 5 kali berturut-turut dari tahun 2003 hingga 2007, sementara Rafael Nadal baru sekali. Satu-satunya yang bisa menggagalkan Roger Federer adalah petenis tuan rumah Andy Murray yang berada di peringkat ketiga dunia. Mudah-mudahan pertemuan Roger Federer dan Andy Murray dapat terjadi di Final dan dapat menjadi pertandingan yang lebih seru dibandingkan partai final tahun lalu antara Roger Federer dan Rafael Nadal (yang dimenangkan oleh Rafael Nadal). Tapi untungnya, di bagian tunggal putri, kekuatan masih cukup merata di mana dua petenis kulit hitam bersaudara asal Amerika Serikat Venus dan Serena Williams akan dicoba “dikeroyok”  oleh petenis-petenis Rusia dan Eropa timur yang kebanyakan cantik-cantik tersebut seperti Maria Sharapova, Svetlana Kuznetsova, Dinara Safina, Ana Ivanovic dan Jelena Jankovic. Ok deh, kita lihat saja siapa yang juara nanti.

Nah, untuk itu nanti jika acara debat capres dan cawapres mengecewakan, saya bisa beralih channel menonton siaran langsung tennis Wimbledon di StarSports. Tinggal pilih mana yang lebih menarik. Kalau kedua-duanya sama-sama menarik ya harus pasang dua buah TV atau saya harus bolak-balik antara ruang tamu dan kamar tidur. Huehehehe…….

Jumat, 19 Juni 2009

Satu Mol Gula dan Satu Mol Sendok Makan Gula

Diarsipkan di bawah: Pengetahuan, Serba Serbi — by Yari NK @ 6:56 am

avogadro_numberSebagian dari anda mungkin pernah membeli sepasang sepatu (2 buah), selusin telur (biasanya yang di dalam wadah kotak plastik transparan) yang isinya 12 buah, satu krat Coca-Cola yang isinya 24 botol atau jika anda membeli 6 krat Coca-Cola yang sama dengan 144 botol berarti anda membeli 1 gros botol Coca-Cola, dan juga 1 rim kertas yang isinya 500 lembar. Ya, kata-kata seperti pasang, lusin, gros ataupun rim merupakan kata bantu bilangan (eh, benar ya istilahnya?? :D ) yang menunjukkan jumlah tertentu. Tetapi tahukah anda ada satu kata bantu bilangan lagi yang jarang sekali kita pakai sehari-hari yaitu: satu mol.

Kenapa satu mol jarang kita pakai pada percakapan sehari-hari?? Karena satu mol adalah sebuah kuantitas yang sangat besar yaitu 6,02 x 1023 atau 602.000.000.000.000.000.000.000. Ya, kata bantu bilangan ini memang hanya dipakai oleh para ahli (kimia dan fisika) untuk menghitung jumlah molekul atau atom yang ada pada suatu substansi. Walaupun kata bantu bilangan mol ini bisa kita terapkan pada kehidupan kita sehari-hari namun karena kita jarang berurusan dengan kuantitas yang sebesar ini maka tentu saja bagi kebanyakan kita kata bantu bilangan ini terasa asing.

Dari mana datangnya angka sebesar itu? Angka ini bermula dari sebuah hipotesis yang dikemukakan oleh seorang ilmuwan Italia bernama Amadeo Avogadro. Dalam hipotesisnya Avogadro mengatakan bahwa volume yang sama dari setiap gas (apapun ’spesies’ gasnya) pada temperatur dan tekanan yang sama maka jumlah molekul gas tersebut akan sama! Untuk itulah angka 6,02 x 1023 ini sering disebut sebagai ‘bilangan Avogadro’ untuk menghormati ilmuwan Italia tersebut. Namun ingat, bahwa 6,02 x 1023 ini adalah satu mol bukan satu Avogadro. Namun, Avogadro sendiri waktu itu tidak tahu berapa jumlah molekul yang ada pada volume tertentu tersebut. Tahun 1860, seorang ilmuwan Italia lainnya Stanislao Cannizzaro menghidupkan kembali hipotesis Avogadro yang mulai terlupakan ini pada sebuah konferensi ilmiah dan baru pada tahun 1865 ilmuwan Austria bernama Johann Josef Loschmidt mengadakan penelitian dan pengukuran serius berdasarkan hipotesis Avogadro ini. Hasil pengukuran Loschmidt waktu itu adalah sebesar 4 x 1022. Memang meleset dari perhitungan modern yang menghasilkan angka 6,02 x 1023. Namun tentu saja hasil tersebut tidak buruk untuk usaha yang pertama kali dan mengingat keterbatasan teknologi saat itu. Untuk itu di negara-negara yang berbahasa Jerman, seperti Jerman dan Austria bilangan Avogadro seringkali disebut sebagai bilangan Loschmidt sebagai penghargaan terhadap ilmuwan Austria tersebut atas usahanya memenghitung dan mencari bilangan Avogadro tersebut secara riil untuk pertama kalinya.

Satu mol ini tentu saja tidak hanya berlaku bagi gas namun juga bagi benda padat dan benda cair. Yang penting pada saat para ahli mengatakan 1 mol dari sebuah substansi atau zat maka dalam zat tersebut terdapat 6,02 x 1023 molekul dari zat tersebut. Jadi jika para ahli mengatakan “satu mol gula” berarti pada gula tersebut terdapat 6,02 x 1023 molekul gula. Jikalau kita konversikan ke dalam gram maka tinggal kita kalikan saja satu mol dengan berat atom satu molekul gula. Gula (sukrosa) mempunyai rumus kimia C12H22O11. Berat atom C = 12, berat atom H = 1, berat atom O = 16. Jadi berat satu mol gula adalah 1 x (12×12 + 22×1 + 11×16) = 342 gram (kurang dari setengah kilo). Jadi jika anda mau beli gula di pasar sebanyak satu mol berarti anda ingin membeli gula sebanyak 6,02 x 1023 molekul gula atau 342 gram gula. Tapi jangan pernah anda mengatakan bahwa anda mau membeli satu mol sendok makan gula!! Karena itu berarti anda mau membeli gula sebanyak 6,02 x 1023 sendok makan. Jika satu sendok gula (pasir) adalah sekitar 13,2 gram (sudah saya timbang semalam sebelumnya :mrgreen: ) maka jika anda ingin membeli satu mol sendok makan gula berarti anda ingin membeli 7,9 x 1021 atau 7.900.000.000.000.000.000.000 kilogram gula!! Sebagai perbandingan massa (bobot) bulan adalah 7,4 x 1022 kg. Berarti dengan satu mol sendok makan gula anda bisa membuat planet mini sendiri di luar angkasa, planet gula! :mrgreen:

Nah, sebagai bagian akhir dari artikel ini, anda bisa ‘merealisasikan’ sendiri dan merasakan sendiri banyaknya satu mol ini. Selamat mencoba: :mrgreen:

  • Jika anda mempunyai kertas sebanyak satu mol lembar berarti anda bisa mempunyai tumpukan kertas dari bumi hingga ke matahari !! Anda bukan hanya akan mempunyai satu tumpukan saja tetapi anda bisa mempunyai lebih dari sejuta tumpukan kertas dari bumi ke matahari !!
  • Jikalau anda mengoleksi bola tennis sebanyak satu mol, maka bola tennis tersebut akan menutupi seluruh permukaan bumi dengan tumpukan bola tennis tersebut mencapai beratus-ratus kilometer !!
  • Jika anda mempunyai butiran pasir sebanyak satu mol, maka butiran2 pasir tersebut dapat menutupi seluruh Jawa Barat dengan setinggi kira-kira BNI Tower yang ada di Jakarta!!
  • Jikalau anda mempunyai uang sebanyak satu mol rupiah dan dibagikan kepada 6 milyar penduduk di muka bumi ini maka uang tersebut cukup untuk kita semua untuk dibelanjakan satu juta rupiah setiap menit selama 24 jam sehari sepanjang kita hidup dan kita masih punya sisa lebih dari setengahnya ketika kita meninggalkan dunia yang fana ini.

Senin, 15 Juni 2009

Halaaah Tiga Topik Mini Lagi…..

Diarsipkan di bawah: Iseng, Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi — by Yari NK @ 11:02 am

Biasa, karena lagi sedikit malas membuat artikel yang agak-agak berat, terpaksa deh dengan sangat menyesal, kali ini lagi-lagi saya akan membuat artikel dengan tiga topik mini lagi yang tidak bermutu independen satu sama lain. Huehehehe…..

Halaaah MADE IN USA lagi…….

Sprayer yang saya beli, ada bendera USA-nya di bawah!!

Sprayer yang saya beli, ada bendera USA-nya di bawah!!

Ini cerita sewaktu saya hendak membeli digital lightmeter, yaitu alat pengukur kekuatan intensitas cahaya yang sering dipakai para penggemar fotografi profesional untuk mengukur intensitas cahaya agar kualitas fotonya optimal. Tetapi saya membeli lightmeter ini bukan untuk keperluan fotografi tentu saja karena saya orang yang tidak begitu menyenangi fotografi. Nah, untuk itu saya pergi ke Ace Hardware guna membeli lightmeter tersebut. Tadinya memang mau membeli lightmeter-nya saja, tetapi entah kenapa ternyata yang suka belanja itu bukan ibu-ibu aja ya, bapak-bapak seperti saya juga ternyata suka belanja juga. Akhirnya beberapa item saya beli juga termasuk sebuah botol sprayer seperti pada gambar. Kebetulan saya juga sedang membutuhkan sebuah botol sprayer untuk sedikit bersih-bersih di ruangan kantor saya. Tanpa lihat harganya lagi  langsung saya sambar sprayer-nya apalagi modelnya unik karena ada lubang pengisi airnya di samping botol.

Ketika hendak membayar di kasa sedikit kaget juga saya karena harganya lumayan mahal Rp. 66.000,- padahal kalau di pasar-pasar paling-paling harganya sekitar Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,-. Ternyata, setelah diteliti lebih lanjut ternyata botol sprayer tersebut adalah Made in USA. Alamak!! Pantesan agak mahal! Lha…. ternyata Indonesia bukan hanya mengimpor peralatan alutista dari USA, hingga urusan botol sprayerpun ternyata masih juga ada yang impor dari USA! **geleng-geleng kepala**

Halaaah EQ lagi…

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang IQ, EQ dan juga SQ. Saya jadi ingat peristiwa yang saya alami yang sebenarnya kejadiannya sudah cukup lama. Waktu itu saya tengah mengantri di bank BUKOPIN di ITB. Waktu itu bank BUKOPIN-nya masih terletak di perpustakaan pusat ITB. Karena status bank BUKOPIN yang ada di ITB adalah hanya sebagai kantor kas pembantu, maka ruangannya hanya kecil saja dan tidak ada nomor antrian elektronik. Jadi terpaksa harus mengantri. Namun syukur waktu itu antrian depan saya hanya satu orang sehingga saya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengantri dan dapat segera ‘bertransaksi’ dengan si kasir. Nah, di sebelah saya ada bapak-bapak, usianya sekitar 50-60 tahunan. Tampangnya sih tidak terlalu ndeso lah. Rupanya si bapak-bapak tersebut tengah ‘bertransaksi’ juga dengan kasir yang ada di sebelah kasir yang tengah ‘bertransaksi’ dengan saya (kasirnya ada dua).

Namun, entah kenapa ketika disuruh mengisir formulir transaksi, si bapak-bapak tersebut nampak gelisah. Dia berkali-kali bertanya kepada sang kasir, namun tetap saja ia gelisah. Saya mulai menduga bahwa kemungkinan besar si bapak-bapak itu lupa membawa kacamata plusnya atau bisa jadi juga beliau buta huruf  !! Sepertinya setiap kali ia mau menulis pasti tidak jadi! Ternyata ada juga seorang satpam bank dari samping yang memperhatikan si bapak itu. Lantas si satpam mengatakan dengan ramah “Pak, mari saya bantu isi formulirnya.” Si bapak-bapak tersebut nampak senang, sambil dicongak oleh bapak-bapak tersebut si satpam membantu menuliskan informasi yang harus diisi oleh si bapak-bapak tersebut. Dugaan saya, bahwa si bapak tersebut buta huruf (walau saya tidak bisa yakin 100%) semakin besar ketika hendak menuliskan nomor rekening anaknya, si bapak-bapak tersebut menyerahkan secarik kertas kepada si satpam. Oh, rupanya si bapak tersebut hendak melakukan ‘cash transfer‘ ke nomor rekening anaknya.

Nah, menurut saya tindakan si satpam ini adalah tindakan yang ‘cerdas’ karena ia langsung menawarkan bantuan pengisian formulir dan tidak bertanya dahulu “ada apa ya pak?” karena kemungkinan jika si bapak tersebut benar buta huruf mungkin si bapak-bapak itu akan malu mengatakan bahwa dirinya buta huruf. Jadi dengan langsung menawarkan bantuan, semua orang menjadi bahagia. Si bapak-bapak tersebut menjadi bahagia dan tidak malu, dua orang yang sudah mengantri di belakang bapak-bapak tersebut tentu saja juga ikut berbahagia karena urusannya jadi lebih cepat, si satpam  mungkin juga bahagia karena bisa menolong si bapak-bapak tersebut. Sekarang pertanyaannya tindakan si satpam yang menurut saya sangat tepat itu berkaitan dengan IQ-nya atau EQ-nya ya??

Halaaah Kampanye Lagi……..

Kita semua megetahui bahwa pada saat ini tengah musim kampanye pilpres. Kini calon-calon pemimpin negara ini tengah ramai-ramai mencuri hati rakyat dengan turun ke pasar-pasar, sekolah-sekolah ataupun tempat-tempat lain yang identik dengan sentra-sentra rakyat kecil. Pendek kata inilah waktu pada saat pemimpin-pemimpin dekat dengan rakyatnya. Saya berfikir, apa nanti kalau mereka sudah terpilih jadi presiden, apa mereka tetap mau ‘menengok’ rakyatnya langsung seperti itu ya?? Tidak perlu setiap hari atau setiap minggu, cukup sebulan atau dua bulan sekali misalnya. Mungkin nggak ya??

Ah jangankan pemimpin, lha wong sekarang para wakil rakyat yang sudah terpilih saja mungkin sudah mulai melupakan rakyatnya. Tidak ada lagi sumbangan-sumbangan manis atau bagi-bagi duit dan sembako seperti pada saat kampanye dulu. Semua masa-masa manis untuk rakyat telah berlalu…… berlalu bak ditelan angin lalu…… **saya juga udah maklum sih, namanya juga politik** :mrgreen: Tapi omong2 mereka yang tidak terpilih sebagai wakil rakyat apa masih juga memperhatikan nasib rakyat?? Sami mawon….. :P

Halaman Berikutnya »

Didukung oleh WordPress.com