Berhubung karena kesibukanku di Bulan Agustus ini, mungkin saya akan lebih jarang online untuk nge-blog, tapi bukannya aku hilang sama sekali dari peredaran, tetapi hanya frekuensi online-nya saja yang terpaksa harus saya kurangi. Ok deh, begitu aja, ini adalah pengumuman yang sama sekali tidak penting!
Hanya sebagai pemberitahuan saja, kalau dalam bulan ini mungkin aku agak jarang posting dan juga meninggalkan komentar-komentar di blog lain.
Arsip untuk Juli, 2007
Terpaksa Kegiatan Blog Sedikit Diperlonggar :(
In Uncategorized on Selasa, 31 Juli 2007 at 11:51 am3.5G, Cable Internet atau ADSL?? Bingung!
In Serba Serbi on Senin, 30 Juli 2007 at 5:46 pmAkhir-akhir ini aku selalu ‘diganggu’ oleh (lagi-lagi!) salesgirl dari salah satu operator TV kabel di kota Bandung yaitu Megavision. Sebenarnya aku sudah berlangganan TV kabel pesaing Megavision di kota ini yaitu Fasindo. Dari segi channel-channel televisi yang ditawarkan sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh. Di Megavision menangnya ada HBO Signature sedangkan di Fasindo ada Hallmark Channel. Ada yang berpendapat HBO Signature lebih bagus daripada Hallmark Channel, tapi bagi saya nggak jadi masalah, toh HBO Signature sebenarnya juga banyak pengulangan dari channel HBO-nya sendiri. Jadi aku fikir ya sudahlah biarkan saja. Tapi yang bikin aku tertarik adalah penawaran Cable Internet dari Megavision yang provider-nya katanya diselenggarakan oleh IM2 dari Indosat yang katanya speednya bisa melebihi Speedy yaitu 512kbps dan biaya langganannyapun relatif murah yaitu Rp. 350.000,- / bulan dan unlimited! Berbeda dengan Speedy yang tarifnya memang lebih murah yaitu Rp.200.000,-/bulan ditambah PPn 10% namun dijatah cuma 1 GB quota-nya. Sebenarnya di jaringan TV kabel Fasindo yang aku langganan ini juga udah ada Cable Internet-nya juga yang difasilitasi oleh Melsa Cable Net. Tapi biaya perbulannya mahal banget Rp. 700.000,-/bulan meskipun unlimited. Buat orang-orang seperti saya mungkin kantong bisa jebol!
Ada lagi sebenarnya alternatif yaitu lewat jaringan selular 3.5G-nya Indosat yang katanya kecepatannya bisa diatas 2 Mbps. Meskipun aku sudah punya Motorola V3xx yang mendukung 3.5G, tapi noraknya, menurut para salesman Indosat, lebih bagus pakai modem 3.5G daripada pakai HP 3.5G untuk koneksi internetnya. Nggak tahu deh aku dibohongi apa nggak, namanya juga salesman paling-paling dia mengejar target penjualan modem 3.5G-nya! Kelemahan 3.5G ini sebenarnya adalah saya menyangsikan kekuatan signal-nya apalagi kalau sinyalnya harus menembus bangunan. Soalnya di daerah saya aja sinyal 3G-nya kalau sudah masuk rumah, sinyalnya nggak konsisten, alias nyala-mati terus! Gimana mau menikmati koneksi internet yang stabil?? Kelemahan lainnya juga paket 3.5G ini memakai quota 1 GB, bukannya unlimited!
Bagaimana kalau ADSL? Kalau ADSL (kalau di Bandung masih dimonopoli Telkom Speedy) sebenarnya saya juga udah langganan Speedy, cuma akhir-akhir ini kok jatuhnya selalu di atas 1 GB (gara2 nge-blog terus kali ya!), yang seharusnya bayarnya Rp. 200.000,-/bulan, akhir-akhir ini membengkak di atas Rp. 500.000,-. Lama-lama bisa bangkrut gue. Maklum nggak mampu. Nah, daripada kantong jebol, aku mulai melirik cable Internet Megavision yang unlimited dan cuma Rp. 350.000,-. Tapi soal speed saya masih sangsi walaupun dikatakan bisa 512 kbps, soalnya di Jakarta saja, teman saya langganan Cable Internet pakai jaringan Kabelvision dan Internet Provider-nya Centrin, kecepatannya bolot banget, tidak sampai 128 kbps setelah diukur pakai online modem speedtest.
Sebenarnya aku juga punya pengalaman pahit dengan Speedy, mangkannya aku juga kalau ada alternatif lain yg lebih baik, aku sebenarnya mau cerai dari Speedy. Dulu waktu saya mulai berlangganan Speedy, sinyalnya, yang juga ditunjukkan oleh lampu di modem ADSL-nya, selalu nyala-mati, nggak konsisten, udah berkali-kali di telepon baru solusinya ketemu kira-kira 3 minggu kemudian! Udah begitu customer service Telkom Speedy kadang-kadang asbun alias asal bunyi, yang kadang-kadang malah bikin kesal!
Ya, sebenarnya memang saya sekarang mulai melirik Cable Internet dari IM2 itu yang ditawarkan Megavision, tapi susahnya berarti aku juga harus ganti TV Cable operator-nya juga dong! Wah, rese juga sepertinya. Berarti aku harus ganti TV Cable operator yg udah aku langgani hampir 4 tahun ini. Ah! Nggak tahu deh! Bingung juga jadinya!
Palindrom!
In Serba Serbi on Sabtu, 28 Juli 2007 at 4:38 amTentu anda pernah mendengar kata-kata seperti makam, katak, kodok, ini, ada, dan masih banyak lagi. Di Amerika Serikat ada bintang televisi (yang kurang terkenal di Indonesia) bernama Robert Trebor. Lantas bagi mereka yang di tahun 1970an sudah lahir tentu anda pernah mendengar grup vokal yang sangat terkenal dari Swedia: ABBA. Lantas apa hubungannya mereka itu dengan kata-kata bahasa Indonesia di atas? Hubungannya adalah keseluruhan nama-nama dan kata-kata tersebut adalah sebuah palindrom. Apa itu palindrom? Palindrom adalah kata atau kalimat yang dibaca dari depan atau dari belakang sama! Contoh kata di atas adalah katak. Katak kalau dibaca dari depan atau dari belakang akan tetap terbaca katak! Namun palindrom bukan hanya diterapkan pada sebuah kata saja ia juga dapat diterapkan pada sebuah frasa (phrase, atau kalimat tak lengkap) ataupun pada sebuah kalimat lengkap, tanpa memperdulikan spasinya. Contohnya seperti di atas: Robert Trebor. Jika anda membacanya dari depan atau dari belakang, akan tetap terbaca sebagai Robert Trebor!
Palindrom sendiri berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari Palin (terbalik) dan Dromos (pacuan kuda). Dan palindrom sendiri sudah berusia kira-kira 2000 tahun, menurut Wikipedia Indonesia yang dikutip dari Mother Tongue: English & How It Got That Way.
Palindrom sebenarnya bukan hanya ditujukan pada kata-kata atau kalimat-kalimat saja namun bisa juga ditujukan untuk angka-angka. Kita yang lahir sebelum tahun 1991 dan masih hidup sampai tahun 2002 sangat ‘beruntung’ mengalami dua kali tahun palindrom yaitu tahun 1991 dan tahun 2002. Karena tahun berikutnya yang merupakan tahun palindrom adalah tahun 2112!, 110 tahun setelah tahun 2002. Sedangkan sebelum tahun 1991, tahun palindrom sebelumnya adalah tahun 1881!, 110 tahun sebelum tahun 1991. Rupa-rupanya tahun palindrom ini hanya datang 110 tahun sekali kecuali di penghujung millennium di mana ia datang hanya 11 tahun setelah tahun terakhir palindrom di millennium tersebut.
Kita kembali ke kata dan kalimat palindrom. Untuk kalimat-kalimat palindrom, sayang dalam bahasa Indonesia, contoh-contoh dan dokumentasi-dokumentasi palindrom masih sangat kurang. Memang untuk menciptakan kalimat-kalimat palindrom membutuhkan kreativitas yang luar biasa. Namun beberapa dapat saya temukan, seperti yang saya temukan di Wikipedia Indonesia ini:
“Aku suka rajawali bapak, apabila wajar, aku suka” (oleh: Benjamin Godspeed Zimmer)
“Kasur ini rusak”
“Kasur Nababan rusak”
Coba baca kalimat-kalimat tersebut dari depan atau dari belakang, akan terbaca sama! Nah, sekarang apakah anda dapat menciptakan sebuah kalimat Palindrom? Saya yakin, pasti sangat susah sekali. Palindrom berbahasa Indonesia yang di atas saja (yang paling atas) diciptakan oleh seorang bule.
Namun dalam bahasa-bahasa asing (terutama bahasa-bahasa barat), palindrom yang berupa kalimat-kalimat sudah banyak terdokumentasi. Inilah beberapa di antaranya yang saya kutip dari berbagai situs:
Ah! Satan sees Natasha! (Ah, setan melihat Natasha!)
Damn! I, Agassi, miss again! Mad! (Sial! Saya, Agassi (=Andre Agassi, mantan pemain tennis AS), gagal lagi! Marah deh!)
I prefer Pi (Saya lebih suka huruf (Yunani) Pi (π))
Rise to vote, sir! (Berdiri untuk memberikan suara, tuan!)
Name now one man! (Sebut sekarang satu orang!)
Never a foot too far, even. (Bahkan jangan pernah melangkah satu kaki kejauhan)
Nina Ricci ran in (Nina Ricci bergegas masuk)
Was it a car or a cat I saw? (Mobil atau kucing yang tadi saya lihat?)
We’ll let mom tell Lew (Kami akan membiarkan ibu memberitahu Lew)
Do geese see God? (Apakah angsa-angsa melihat Tuhan?)
Murder for a jar of red rum (membunuh demi setoples anggur merah)
Was it Eliot’s toilet I saw? (apakah itu toiletnya si Eliot yang tadi aku lihat?)
Lisa Bonet ate no basil (dulu Lisa Bonet (bintang TV dalam serial Cosby Show) tidak makan basil (rempah2 semacam oregano))
Dennis sinned (Dennis telah berbuat dosa)
atau coba palindrom dalam bahasa Perancis di bawah ini:
À l’étape, épate-la ! (Ke panggung, sungguh mengejutkan!)
La mère Gide digère mal. (Ibu Gide, susah mencerna)
Ce repère, Perec! (Tanda ini, Perec!=(nama orang))
Esope reste ici et se repose (Si Esope beristirahat dan berbaring di sini)
Elu par cette crapule (Dimangsa oleh penjahat ini)
Atau ada juga yang berbahasa Belanda berikut ini:
“Mooie zeden in Ede” zei oom. (Dosa-dosa yang indah di Ede, kata paman)
Ok, sekarang kalau mau tahu kalimat palindrom terpanjang di dunia, silahkan klik di sini.
Tak terbayangkan berapa lamanya dan alangkah keatifnya orang yg membuat palindrom terpanjang tersebut!.
No Title
In Uncategorized on Kamis, 26 Juli 2007 at 1:23 pmFOR A LONG TIME I HAVE BEEN REALIZED THAT I WOULD NOT BE A GOOD FAMILY MAN
FOR A LONG TIME I HAVE BEEN REALIZED THAT I WOULD NOT BE A GOOD FATHER OF MY CHILDREN
THEN IN THE EMPTINESS OF MY HEART….
IN MY ENCLOSED SPACE….
AND IN THE VASTNESS OF THIS CYBERSPACE……
MY HEART IS WIDELY OPEN!
Hasil Terjemahan Komputer vs Hasil Terjemahan Manusia
In Serba Serbi on Kamis, 26 Juli 2007 at 8:00 amAnda tentu pernah mendengar translator software atau perangkat lunak penterjemah bukan? Kalau tidak pernah, anda dapat dengan mudah mendapatkan bajakannya di toko-toko software komputer ataupun mungkin di dekat-dekat kampus anda (bagi mereka yang masih kuliah: di Indonesia, catat: di Indonesia!) ada yang menjual CD bajakan di pinggir-pinggir jalan, nah pasti ada deh satu atau dua perangkat lunak penterjemah yang dijual. Namun kalau anda serius ingin menterjemahkan suatu dokumen dari satu bahasa ke satu bahasa lainnya, jangan keburu senang dulu dengan hasil terjemahan perangkat lunak ini. Coba ambil contoh di bawah ini, sebuah cuplikan paragraf dari salah satu website berbahasa Spanyol (udah lupa nama site-nya):
‘Tenía doce años, y por primera vez comprendí que me quedaría allí para siempre. Mi madre murió cuatro años atrás y Mauricia – la vieja aya que me cuidaba – estaba impedida por una enfermedad. Mí abuela se hacía cargo definitivamente de mí, estaba visto.”
Kenapa saya ambil bahasa Spanyol? Pertama: Karena yang ada di ide saya kebetulan yang terlintas waktu itu adalah bahasa Spanyol. Kedua: Saya nggak punya perangkat lunak penterjemah Inggris-Indonesia atau sebaliknya karena (bukannya sombong) hehehe… memang saya tidak pernah butuh perangkat lunak penterjemah Inggris-Indonesia, jadi saya tidak bisa membandingkan antara hasil terjemahan manusia dan hasil terjemahan komputer. Ketiga: ada satu hal khusus yang akan saya jelaskan kemudian.
Nah, sekarang coba anda lihat hasil terjemahan komputer di bawah ini:
He/she was twelve years old, and for the first time I understood that I would stay there forever. My mother died behind four years and Mauricia – the old governess that I took care – I/you/he/she was impeded by an illness. Me grandmother charge was taken definitively of me, it was seen.
Saya menggunakan L&H Power Translator bajakan dan bagaimana hasil terjemahannya di atas? Lumayan mengerti atau lumayan membingungkan? Nah, kalau belum puas ini ada lagi hasil terjemahan lewat perangkat lunak penterjemah online di sini. Ini juga untuk membuktikan apakah hanya perangkat lunak penterjemah yang aku beli saja yang payah, atau memang secara umum perangkat lunak penterjemahnya yang payah. Nah, ini dia hasil penterjemahan otomatis online-nya:
It was twelve years old, and I included/understood for the first time that I would have left there for always. My mother died four years back and Mauricia – old aya that took care of to me – was prevented by a disease. Me grandmother was definitively made position of me, was seen.
Bagaimana?? lebih parah lagi ya? (Yang nggak mengerti bahasa Inggris sebaiknya tidak usah membaca postingan ini hehehe…) Berarti kecacadan bukan hanya milik perangkat lunak penterjemah saya aja kan? Nah, untung ada teman chatting saya señor Juan Pablo Jiménez, orang Meksiko yang sudah lama tinggal di Irvine, California, AS. Dengan bantuannya saya bisa mendapatkan terjemahannya yang enak seperti ini:
I was twelve years old, and for the first time I realized that I would be staying there forever. My mother had died four years earlier and Mauricia, the old nanny who had looked after me, was now an invalid. My grandmother was going to take charge of me forever, that was clear.
Bagaimana? Jauh bukan hasil terjemahan señor Jiménez ini dengan dua terjemahan hasil komputer di atas? Tentu saja! Itu karena komputer seringkali mengalami kesulitan jika harus menterjemahkan sebuah frasa (phrase), yaitu gabungan dari beberapa kata yang membentuk sebuah arti tersendiri dan tidak bisa diterjemahkan kata per kata. Nah, si komputer ini seringkali gagal dalam menganalisa kasus seperti ini yang pada akhirnya (dengan dicampur logika algoritma tata bahasa yang ia miliki) komputer akan menterjemahkan kata demi kata. Dan dalam kasus di atas kita melihat komputer menterjemahkan sebagai: “He/she was twelve years old, ” karena dalam kasus seperti dalam Bahasa Spanyol ini (juga di dalam bahasa Portugis, Italia dan beberapa bahasa lainnya), subyek dalam sebuah kalimat jarang disebut. Sebagai gantinya pelaku subyek diganti dengan konjugasi kata kerja. Contoh:
hablar = to speak
Yo hablo = I speak
Tú hablas = You speak
él habla = he speaks,
ella habla = she speaks, dsb.
Dalam bahasa Spanyol subyek Yo (I), Tú (You), El (He), Ella (She), dsb jarang dipergunakan sehingga menjadi
hablo = I speak
hablas = You speak
habla = he/she speaks
Kasus seperti ini juga yang menyebabkan komputer menjadi sedikit bingung. Sangking bingungnya hasil terjemahan software yang di atas diterjemahkan sebagai he/she. Sedangkan terjemahan online, mencari amannya dengan menggantinya dengan (impersonal) ‘it‘. Luar biasa! Itulah yang saya maksud sebagai hal khusus dalam point ketiga seperti yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya.
Kelemahan lain dari perangkat lunak penterjemah ini adalah jikalau dihadapkan pada kasus homograph yaitu satu kata yang mempunyai arti banyak. Contoh misalnya kata dalam bahasa Inggris: band. Nah band ini bisa berarti strip, ikat pinggang ataupun grup musik band. Ini juga cukup menyulitkan bagi sebuah perangkat lunak penterjemah dalam menentukan pilihan kata yang tepat. Nah kini tentu sekarang anda mengetahui kelemahan-kelemahan dari perangkat lunak penterjemah, jadi kalau anda menterjemahkan sebuah dokumen atau apapun dengan menggunakan perangkat lunak penterjemah, jangan keburu pamer dulu! Karena pasti hasilnya jadi ‘lucu bin ajaib’! Rupa-rupanya algoritma penterjemahan suatu bahasa ternyata lebih sulit dari rumus-rumus matematika untuk sebuah komputer, ya?. Namun mudah-mudahan kita berharap dengan AI yang semakin canggih, kita berharap bahwa perangkat lunak penterjemah menjadi semakin baik!
‘Paijo’ di negeri gingseng
In Kehidupan, Manusia on Selasa, 24 Juli 2007 at 8:34 amIni adalah cerita sesungguhnya yang saya lihat dari Arirang TV, stasiun televisi dari Republik Korea yang berbahasa Inggris, yang saya lihat dari jaringan TV kabel beberapa bulan silam. Di situ diceritakan seorang pria asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sebut saja ‘Paijo’ (karena saya sudah lupa siapa nama persisnya, lagipula saya melihatnya agak terlambat, tidak dari mula) yang bekerja sebagai pekerja/buruh di satu pabrik otomotif di Republik Korea. Di kampungnya, sebelum Paijo bekerja di Korea, Paijo bekerja sebagai petani dan guru ngaji. Pendapatannya dari bertani dan mengajar mengaji sangat minim, sehingga dirasakannya sangat sulit bagi Paijo untuk menghidupi istri dan seorang anaknya dengan layak. Namun Paijo tidak patah semangat, ia mencari seribu cara untuk memperbaiki nasib keluarganya, untuk menghidupi keluarganya dengan layak, dan yang paling penting adalah untuk sekolah anaknya kelak, agar ia nanti tidak senasib dengan dirinya.
Karena kegigihan dan keinginannya yang kuat untuk memperbaiki nasib dan mungkin juga sedikit keberuntungan, lewat informasi temannya yang sudah lebih dulu bekerja di Korea bahwa perusahaan di tempatnya bekerja memerlukan sejumlah buruh baru, Paijo akhirnya berangkat dan bekerja di Korea. Namun itu semuanya dilakukan bukan tanpa pengorbanan. Paijo harus rela meninggalkan istri dan anaknya dan selama bekerja di Korea, Paijo hanya diizinkan pulang kampung menjenguk keluarganya selama seminggu. Alternatif lain adalah tentu memborong keluarga ke Korea, namun tentu saja itu merupakan sesuatu hal yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang sekelas Paijo karena menyewa apartemenpun di Korea bukan hal yang murah bagi orang-orang sekelas Paijo.
Cerita di Arirang TV bergulir pada saat-saat bahagia Paijo ketika ia mendapatkan cuti seminggu, waktu saat ia bersenang-senang dan bersantai bersama anak dan istrinya. Setelah bekerja beberapa lama di Korea, kini Paijo bisa mendirikan rumah sendiri yang layak untuk keluarga dan anaknya. Perabotan modern mulai dari TV 29″, DVD Player, Kulkas dua pintu, kompor gas, microwave dan juga sepeda motor untuk istri tercinta melengkapi isi rumahnya yang ia bangun dari hasil kerja kerasnya di Korea. Di kampungnya ia banyak bercerita mengenai Korea kepada teman-temannya. Di sana ia menceritakan mengenai keramahan orang-orang Korea, dan juga keramahan orang-orang yang bekerja di pabriknya baik itu yang sesama buruh orang Indonesia, ataupun para supervisor-nya yang berkebangsaan Korea. Mereka semuanya sudah dianggap sebagai ‘keluarga’ besar mereka di Korea. Iapun mengatakan bahwa kendala bahasa sebaiknya jangan membuat kita takut, terutama takut dalam berkomunikasi. Ketika berangkatpun Paijo sangat minim berbahasa Inggris, namun toh keinginannya yang kuat untuk berkomunikasi (supervisor Korea-nya juga sebenarnya tidak pandai berbahasa Inggris juga) berhasil mengalahkan rintangan keterbatasan pengetahuan grammar dan vocabulary words dalam diri Paijo. Paijo juga mengatakan tanpa malu-malu bahwa kini Korea adalah tanah impiannya, tanah impian yang tidak pernah ia dapat di tanah kelahirannya sendiri.
Mendengar kisah Paijo di atas, saya menjadi malu. Tanah air kita yang katanya subur dan kaya akan sumber daya alam, ternyata tidak bisa mensejahterakan banyak rakyatnya. Bahkan ribuan orang seperti Paijo ini, harus memenuhi impiannya di negeri yang sangat miskin sumber daya alamnya, namun penduduknya sangat makmur akibat ‘kaya’-nya sumberdaya manusianya. Bahkan negeri kecil yang miskin sumberdaya alam ini bukan hanya berhasil mensejahterakan rakyatnya ia juga berhasil mensejaterakan ratusan ribu rakyat dari negeri lain yang lebih besar dan kaya dengan sumber daya alam seperti Paijo ini. Sungguh sebuah ironi!
Latihan LaTeX
In Uncategorized on Senin, 23 Juli 2007 at 7:17 pmPertama kali aku melihat ‘LaTeX’ di weblog-nya mathematicse. Lalu kini muncul juga di weblog-nya deking. Nah posting kali ini saya dedikasikan untuk latihan LaTeX membuat ekspresi matematika habis-habisan. Jadi maklum saja kalau posting kali ini nggak karuan (aduh bahasa Indonesianya!), dan tak bermakna. Namun mudah2an saya mendapatkan sesuatu yg baru dari LaTeX ini:
Ah, udah ah segini dulu! Ternyata lumayan susah juga ya buat otak yang udah karatan seperti saya!
Terima kasih deh buat mathematicse dan deking yg secara tidak langsung telah mengajarkan saya . Sudah mulai lancar nih
nya!
Tinggi Badan Orang Amerika ‘Menyusut’
In Manusia on Minggu, 22 Juli 2007 at 9:50 am
Orang (pria) Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 hingga tahun 1980an dikenal sebagai bangsa (terutama prianya) dengan tinggi badan rata-rata tertinggi di dunia. Namun dalam satu sampai dua dekade belakangan ini, AS harus merelakan gelarnya kepada negara-negara di Eropa, dan kini Belanda yang mempunyai predikat bangsa yang ‘tertinggi’ di dunia. Seperti tabel di atas yang diadaptasi dari majalah TIME, tinggi pria-pria di negeri kincir angin itu rata-rata adalah 182,5 cm.
Ketersusulan AS oleh rekan-rekannya terutama dari negara2 Eropa Barat bagian utara diprediksi akibat semakin membaiknya kemakmuran di negara-negara tersebut terutama setelah perang dunia II, yang mengakibatkan perbaikan nutrisi, dan juga perbaikan perawatan pra-kelahiran (prenatal care) yang diduga juga kuat berpengaruh pada tinggi badan si calon manusia itu kelak. Sementara ‘menyusut’nya tinggi badan orang AS di duga akibat terlalu banyaknya orang Amerika mengkonsumsi makanan ’sampah’ (junk food), selain itu membanjirnya imigran-imigran dari negara-negara lain yang mempunyai tinggi badan yang rendah yang juga membawa pola makan yang buruk dari negara asalnya juga diduga sebagai ‘menyusut’nya tinggi badan pria-pria di Amerika.
Studi mengenai pertumbuhan tinggi badan manusia sebenarnya adalah suatu yang aksiologis. Beragam faktor lingkungan dan genetis sangat mempengeruhi tinggi badan suatu bangsa. Kemakmuran dan standard kesehatan tentu merupakan sesuatu yang sangat mempengaruhi tinggi badan suatu bangsa, namun hingga saat ini para ilmuwan belum bisa mengungkapkan ‘rumus’ yang jelas dan baku untuk masalah tinggi badan ini.
Namun sayang juga, untuk posting ini saya tidak menemukan data rata-rata pria Indonesia untuk melengkapi tabel di atas, dan saya juga tidak bisa menemukan data-data mengenai rata-rata tinggi badan kaum hawa di berbagai negara.
(Diadaptasi dari majalah TIME dan dari sumber-sumber lain)
Hore! Australia kalah! Sukurin!!
In Uncategorized on Sabtu, 21 Juli 2007 at 9:56 pm
4
5 (lewat adu penalti)
(Flags courtesy of 3DFlags.com)
Senang sekali rasanya mendengar Australia tersisih dari Piala Asia. Entah kenapa saya bersikap rasis seperti ini yang seharusnya tidak boleh saya tunjukkan, tapi memang sejak pertama saya tidak suka dengan (kesebelasan) Australia, yg merasa superior bukan hanya karena banyaknya pemain2nya yg main di liga Eropa tapi mereka juga memandang sebelah mata kesebelasan-kesebelasan dari Asia. Namun setelah melihat hasil pertandingan Australia di Bangkok, yaitu hanya bermain imbang 1-1 melawan Oman dan dikalahkan Iraq 1-3, saya menjadi yakin bahwa (kesebelasan) Australia bukan apa2 alias tidak terlalu istimewa dibandingkan kesebelasan2 Asia lainnya. Ini terbukti karena Australia akhirnya tersisih walau lewat adu penalti. Kalah ya tetap saja kalah!
so long, mate!
Salesman gigih tapi geblek!
In Manajemen/Bisnis, Perilaku on Jumat, 20 Juli 2007 at 3:37 amTentu saja posting ini bukan untuk menghina para salesman/salesgirl yg sudah bekerja keras membanting tulang untuk mendapatkan customer/client. Karena memang pekerjaan salesmanship tentu merupakan pekerjaan yg mulia dan sebagai ujung tombak dalam memasarkan produk. Tapi kita juga tidak menutup mata bahwa seringkali kita menemukan salesman yang menyebalkan! Tentu sebagian dari anda pernah mengalami apa yg saya alami berikut ini. Kita sedang enak jalan-jalan dekat mal atau plaza tiba-tiba didekati oleh salesman, yang pura-puranya ingin menawarkan gratis barang dagangannya karena lagi masa promosi. Ada juga variasi yang basa-basi harus menjawab pertanyaan kuis. Kalau bisa dijawab akan ‘diberi hadiah’ barang dagangannya. Kebetulan saya waktu itu ‘ditawari’ jam tangan digital (palsu) merk Ferari, yang katanya nanti kalau dijual di toko2 harganya bisa mencapai Rp 2 juta,- padahal saya tahu jam digital murahan seperti itu harganya nggak sampai Rp 50.000,-. Karena waktu itu barang dagangan yg ditawarkan adalah jam tangan maka saya waktu itu juga dikasih pertanyaan kuis mengenai jam tangan. Pertanyaannya adalah: Negara mana yang pertama kali menciptakan jam tangan?? Karena waktu itu aku lagi malas (karena udah tahu dia maksudnya apa) dan aku juga nggak tahu negara mana yg pertama kali menciptakan jam tangan, aku jawab aja asal2an: Mesir Kuno! Eh, nggak tahunya jawabanku dibenerin! Sambil menjabat tangan saya, si salesman bilang: “Selamat anda telah memenangkan kuis, untuk itu anda akan mendapatkan gratis jam tangan ini!” Gratis? Eits! Nanti dulu! Ujung-ujungnya pasti disuruh bayar “biaya administrasi” atau “biaya pajak”, atau apapunlah yg sebenarnya seharga jam tangan itu! Tak usah yaw! Emangnya gue goblok, gampang ditipu?
Ada lagi, mbak-mbak cantik ‘penjual’ minuman kebugaran dengan semangat 45-nya menjelaskan panjang lebar mengenai khasiat minuman tersebut, pada waktu ia sampai menerangkan isi minuman tersebut dikatakannya bahwa minuman tersebut lengkap vitaminnya mulai dari vitamin A hingga vitamin F! (saya baru dengar seumur2 yg namanya vitamin F!), setelah saya cek komposisinya ternyata yg ada hanya vitamin B1, B2, B6 dan vitamin C. Setelah saya tunjukkan kesalahannya si mbak itu hanya cengar-cengir kuda sambil dengan polosnya berkata “O iya, maaf pak, habisnya saya nggak ngerti bahasa Inggris, sih!” (informasi komposisi di kemasannya ditulis dalam bahasa Inggris).
Ada lagi juga mas-mas penjual modem Telkom Speedy (walaupun akhirnya koneksiku yg sekarang ini pakai Telkom Speedy), yg bersemangat menjelaskan kepada saya apa itu ADSL dan Telkom Speedy. Di akhir2 penjelasannya si mas2 itu dengan membual (dan sedikit meremehkan saya) mengatakan bahwa Telkom Speedy ini adalah kualitas dunia dan terus mengatakan bahwa saya pasti belum pernah surfing di Internet secepat ini! Karena sedikit kesal langsung aja saya buka kartu! Kata saya, “Mas, di Singapura, SingNet udah pakai ADSL2 yang kecepatannya bisa 10Mbps” Melihat saya nggak mudah ‘dibohongi’ lantas si mas2 itu berkata: “Wah pak, jangan dibandingin sama Singapur dong, ya jelas kalah kita!” Lha! tadinya dia bilang Speedy ini kualitas dunia, kalau nggak mau dibandingkan dengan Singapura, lantas kualitas dunianya, dunia yg sebelah mana???
Yah begitulah sebagian kisah-kisah ‘menarik’ saya dengan para salesman/salesgirl. Saya puji semangatnya yg menggebu2 untuk menggaet pelanggan, tapi mudah2an gebleknya jangan menggebu2 juga ya! Salah-salah nanti malah disangkanya menipu lagi yg pada akhirnya akan merusak sendiri citra dari profesi salesman/salesgirl!
Adios Indonesia!
In Olahraga on Rabu, 18 Juli 2007 at 8:38 pm
1
0
(Flags courtesy of 3DFlags.com)
Selesai sudah perjuangan tim Indonesia di piala Asia. Gol tunggal dari Kim Jong Woo menit ke-33 mengakhiri perjuangan kesebelasan nasional Indonesia untuk terus berlaga di piala Asia. Harus banggakah kita atas prestasi nasional kesebelasan kita? Yah, itu terserah selera anda mau bangga atau tidak. Mungkin besok ada banyak posting yg mengulas pertandingan ini, ada yang mencaci dan mungkin ada yg menyanjung2 dengan dalih kalah terhormat, bahkan mungkin besok ada yg masih menyinggung masalah kepemimpinan wasit, dsb! Ya, itu terserah masing-masing! Bagaimana sikap saya sendiri? Saya memilih untuk tidak mencaci ataupun memuji. Kenapa saya tidak mau mencaci? Pertama karena tidak ada gunanya mencaci toh tidak akan merubah hasil pertandingan. Kedua, saya sendiri belum tentu bisa bermain bola di lapangan sebagus mereka. Bicara sih gampang, tapi melakukannya susah! Lantas kenapa saya juga tidak mau memuji? Pertama apa yang dibanggakan dengan menang sekali dan kalah dua kali hingga tak bisa masuk 8 besar?? Kedua kita main di kandang sendiri. Meskipun kata banyak orang kalah terhormat karena hanya kalah tipis (menangnyapun hanya tipis), menurut saya itu kurang cukup. Jikalau kita kalah tipis di kandang lawan atau di tempat netral baru saya bisa mengatakan bahwa kita kalah terhormat. Tapi ini di kandang sendiri! Minimal kita harus bisa menahan seri, itu baru ‘terhormat!’.
Ya sudah, nasi sudah menjadi bubur! Paling-paling kita hanya bisa mengatakan next time better! Sesuatu yang sudah sering kita katakan sejak puluhan tahun yg lalu tanpa tahu kapan kita akan menjadi benar-benar better barang sekalipun!
Akhirnya aku putuskan……..
In Kehidupan on Rabu, 18 Juli 2007 at 7:46 amSebenarnya masalah ini sudah mulai aku rasakan 3 tahun yang lalu, aku mulai merasakan kalau aku mulai sulit membaca dari jarak jauh terutama tulisan-tulisan yang sangat kecil. Mula-mulanya aku cuekin aja, karena memang toh tidak terlalu mengganggu aktivitas dan kehidupan saya sehari-hari. Namun beberapa bulan belakangan ini aku mulai merasakan kalau membaca surat kabar atau majalah atau tabloid, whatever, selalu agak silau. Teman-teman sepekerjaanku di kantor bilang mungkin aku butuh kaca mata! Butuh kaca mata?? Wah, itu sebenarnya adalah termasuk hal yang sangat aku hindari!! Namun akupun juga sadar bahwa aku sudah ‘nggak muda’ lagi. Usiaku 2 tahun lagi sudah mencapai kepala 4. Apalagi akhir2 ini aku juga sering di depan komputer untuk blogging, mungkin hal itu juga sangat berpengaruh dalam menurunkan daya pengelihatanku.
Temanku yg bekerja di optik mengatakan sebaiknya mataku diperiksa dan kalau perlu mulailah memakai kacamata! Sebabnya kalau tidak dari sekarang, mungkin nanti akan bertambah parah, begitu ‘ancam’nya. Kalau misalnya tak suka pakai kacamata, ya, ada soft/contact lens, tapi ya resikonya itu harus rajin-rajin membersihkan contact lens-nya! Jangan sampai contact lens-nya nanti menjadi sarang bakteri dan kuman-kuman lain yg bisa menginfeksi mata kita! Kalau sepuluh tahun yg lalu, mungkin aku akan menolak kalau disuruh pakai kacamata, selain karena sedikit banyak akan mengganggu pekerjaan, juga dulu saya mempunyai persepsi (yg salah, tentu saja!) bahwa jikalau kita memakai kacamata akan menjadi tampak tua dan culun! (Padahal barangkali tanpa kacamatapun tampangku udah culun! Hehehehe!). Namun kini akhirnya saya sadar bahwa kesehatan mata adalah nomer satu, dan tentu saja harus menjadi prioritas utama.
Nah, untuk itu kuputuskan Sabtu lalu untuk memeriksakan mataku di dokter mata. Ternyata setelah diperiksa-periksa nggak tahunya udah lumayan juga mataku udah hampir minus 2. Agak kaget juga aku. Ya udah, akhirnya aku putuskan untuk memilih frame kacamata dan aku juga membeli contact lens sekalian. Ternyata frame-frame kacamata sekarang lumayan bagus, meskipun aku lebih suka model-model yang agak konservatif dengan frame yang tipis. Setelah aku menjatuhkan pilihanku pada satu frame yang harganya nggak terlalu mahal (kalau yang mahal nggak mampu beli), aku coba dan melihat di kaca, lumayan juga tampangku jadi lebih berwibawa jadinya (daripada nggak ada yg muji mendingan muji sendiri deh hehehe…). Yang agak rese pas waktu mau coba contact lens-nya, pertama-tama rasa-rasanya takut kecolok ini mata! Namun akhirnya setelah latihan 2 hari udah lumayan bisa memakainya. Ya akhirnya aku putuskan kalau lagi kerja atau beraktivitas saya memakai contact lens sedangkan kalau lagi di rumah atau santai saya menggunakan kaca mata, meskipun belum biasa memakai kacamata, rasanya kok seperti ada yang mengganjal di hidung begitu dan juga melihatnya agak-agak pusing sedikit jadinya masih sering dilepas-lepas itu kacamata. Tapi itu wajar kalau baru pertama-tama pakai kacamata pasti agak pusing dan agak nggak enak di hidung, begitu kata dokter matanya. Ya udah deh, nggak apa-apa, mudah2an cepat terbiasa ya!
Otak kiri vs Otak kanan
In Serba Serbi on Minggu, 15 Juli 2007 at 8:59 pm
Mari kita bermain-main sedikit! Anda lihat diagram di atas? Cobalah anda menyebutkan warna dari kata-kata dalam diagram tersebut dengan suara agak lantang dan secepat mungkin! Ingat sebutkan warnanya bukan sebutkan katanya! Bagaimana? Tidak segampang itu kan?
Contoh di atas adalah contoh klasik dari konflik antara otak kiri dan otak kanan anda! Otak kanan kita berusaha untuk menyebutkan warna dari kata-kata yg ada tersebut namun otak kiri kita ‘memaksa’ kita untuk membaca kata-kata tersebut.
Namun bagi mereka yang buta huruf, tentu mereka akan lebih mudah untuk bermain dengan diagram di atas, karena otak kiri mereka ‘tidak bisa memaksa’ kita untuk membaca kata-kata dalam diagram tersebut. Nah, sekarang coba ganti kata-kata pada diagram tersebut dengan kata-kata warna bahasa asing yg sama sekali asing bagi kita, taruhlah misalnya dengan bahasa Arab, Bahasa Rusia ataupun bahasa Swedia. Tentu dalam kasus ini permainan di atas juga akan mempermudah kita karena otak kiri kita ‘tidak bisa memaksakan’ kita untuk membaca kata-kata tersebut karena kita tidak memahaminya.
Ok! Selamat mencoba!
Promosi dan Diskriminasi Homoseksualitas (?)
In Manusia, Perilaku on Minggu, 15 Juli 2007 at 11:56 amYang baca judul di atas ini, ini bukan promosi dan diskriminasi di perusahaan ataupun masalah politik. Tapi ini tentang……. homoseksualitas! Lho? ada apa emangnya? begini….
Kemarin pagi saya mencoba untuk blogwalking di blog-blog internasional mencoba untuk ‘meninggalkan jejak’ berupa komen2 di beberapa blog guna mulai ‘mempromosikan’ blog saya yg berbahasa Inggris. Nah kebetulan saya mendarat di sebuah blog yang sepertinya tengah mempromosikan homoseksualitas di tengah2 masyarakat Eropa. Sepertinya penulis blog itu orang Belanda deh. Meskipun saya tidak meninggalkan komen di blog itu tapi ada beberapa hal yang menarik di sana (dan saya baru tahu) mengenai beberapa negara Eropa yang sudah mengizinkan pernikahan sesama jenis (secara hukum) di antaranya Belanda, Belgia dan Spanyol. Di situ juga dikatakan bahwa banyak gereja2 di Eropa yang ‘tunduk’ dengan peraturan pemerintah yaitu dengan bersedianya mereka menikahkan pasangan2 sesama jenis untuk melakukan pernikahan. Rupanya memang sudah banyak masyarakat Eropa yang menganggap homoseksualitas sebagai hal yang biasa dan bukan merupakan penyimpangan (mungkin ada juga masyarakat Indonesia yang berpendapat seperti itu juga).
Nah, karena ini blog saya, maka izinkanlah saya mengutarakan pendapat saya tentang homoseksualitas terutama masalah bagaimana sebaiknya perlakuan kita terhadap mereka. Hmmm pendapat ini mungkin ‘tidak ilmiah’ atau mungkin terkesan ‘kurang religius’ tapi ya tak mengapa semua bebas berpendapat, karena ini memang merupakan pendapat dari hati nurani dan rasionalitas saya. Jadi maafkanlah atas keterbatasan2 saya sebagai manusia.
Seperti kita ketahui bersama bahwa menurut agama (dalam konteks ini Islam, seperti agama yg saya anut) homoseksualitas merupakan dosa besar. Itu tentu saya setujui 100%, karena itu merupakan kata-kata Allah swt. Saya tidak akan membantah hal itu tentu saja, karena walaupun saya bukan pemeluk Islam yang terlalu taat namun soal kepercayaan saya terhadap adanya Allah swt adalah 100%. Tapi menurut saya tentu itu adalah urusan mereka dengan sang Khalik. Hanya sang Khaliklah yang berhak memvonis mereka bukan kita. Menurut saya, memang mempromosikan homoseksualitas sebagai sesuatu yang normal memang merupakan sesuatu yg sangat absurd, namun sayapun tak setuju kalau kita ikut2an memvonis mereka dengan mendiskriminasikan atau mengucilkan mereka dalam pekerjaan, karir dan juga kehidupan sosial sehari2. Urusan dosa itu mah urusan mereka dengan Sang Pencipta, toh kalau mau dibilang dosa besar, menurut agama (yg saya anut: Islam), orang yang kafir adalah orang2 yg berdosa paling besar, tapi apakah kita juga berniat untuk mendiskriminasikan mereka juga? Nggak kan? Lantas, apakah kita jijik dengan mereka yang tingkahnya ‘aduhai’ itu? Nah, itulah! Saya juga menyerukan kepada kaum homoseks untuk lebih mengontrol diri! Hormatilah kaum heteroseks, jangan asal mengumbar nafsu saja, karena memang kita harus saling menghormati satu sama lain. Menurut saya, seharusnya selain kita menghilangkan diskriminasi berdasarkan suku, ras, bangsa dan agama, diskriminasi terhadap orientasi seksual dan juga cacad tubuh harus pula dihilangkan terutama (yang paling utama) dari mindset kita. Nilailah mereka seobyektif mungkin. Jikalau mereka cacad tubuh, nilailah kemampuan mereka sesuai dengan kapasitas mereka. Begitupula dengan kaum homoseks nilailah mereka bukan hanya dari sudut orientasi seks mereka. Homoseksualitas menurut saya memang sebagai (maaf bagi kaum homo) keabnormalan atau ‘kekurangan’ namun seharusnya itu bukan jadi masalah kalau mereka bisa mengendalikan diri mereka sendiri sehingga kita tidak perlu ‘mengucilkan’nya dan merasa jijik. Toh bicara masalah keabnormalan apalagi kekurangan, kita semua adalah makhluk yang tidak sempurna dengan kekurangan dan kelebihan masing2. Hanya Allah swt lah yang maha sempurna.
!@?*^#$%@*%$!!! <—- bukan virus, bukan lagi kumat, tapi lagi sebel!
In Serba Serbi on Minggu, 15 Juli 2007 at 6:10 am
2
1
(Flags courtesy of 3DFlags.com)
Menyebalkan sekali! Sudah draw 1-1 selama 90 menit pertandingan, tiba-tiba kebobolan pada saat injury time*! Sungguh menyakitkan! Yang lebih menyakitkan lagi adalah kita bermain di kandang kita sendiri! Namun meskipun saya lagi sebel, saya berusaha obyektif deh, tidak akan menyalahkan siapa2. Saya bukan pengamat sepakbola lagipula toh pertandingan sudah berakhir dan apapun yang kita komentari tidak akan merubah hasil pertandingan!
Hanya saja begitu banyak reaksi yang diberikan atas kekalahan ini, baik dari orang rumah maupun dari teman2 saya online (sewaktu saya nonton bola saya sembari online). Ada yang menyalahkan wasit, ada yang menyalahkan pemain, ada yang menyalahkan si Ivan Kolev, wah berbagai macam reaksi yang bikin malah kepala saya tambah pening. Ada juga yang menghibur diri dengan berkata “Mendingan deh daripada Malaysia udah kebobolan 10x gawangnya”. Komentator Star Sports juga ‘menyayangkan’ kesebelasan Indonesia yang tidak cepat2 menggantikan pemainnya pada saat pemain2 Indonesia mulai kehilangan stamina di paruh akhir babak ke-2. Mereka berkomentar “It is the time for Ivan Kolev to introduce some fresh legs into the squad!” Begitu kira2 katanya.
Ya udah deh, buat tim Indonesia mudah-mudahan bisa menang deh lawan Republik Korea di pertandingan terakhir (Harus menang kalau mau aman ke babak ke-2, tak ada pilihan lain!). Kita harus optimis (sayapun harus optimis) bahwa kita mampu! (Perasaan dari dulu juga gitu deh walaupun kalah terus!) Tidak usah banyak omong, yang penting bekerja, bekerja dan bekerja! Ok! Bravo timnas Indonesia!
*injury time atau kalau diterjemahkan secara harfiah adalah ‘waktu cedera’ adalah waktu yang biasanya ditambahkan sedikit setelah akhir babak I dan babak II. Kenapa disebut injury time atau waktu cedera? Karena waktu tersebut ditambahkan untuk mengganti waktu yang terbuang di waktu normal 2 x 45 menit untuk merawat pemain-pemain yang cedera.
Cerita Misteri: Cincin Kawin
In cerita horor on Jumat, 13 Juli 2007 at 10:11 am
Tahun 1944, Lorraine Johnson adalah seorang ibu rumah tangga muda yang baru menikah yang hidup di kota kecil Driftwood di Pennsylvania, Amerika Serikat. Suaminya, Charles Johnson adalah seorang pilot pesawat pembom dari Angkatan Udara Amerika Serikat yang tengah bertugas di Eropa dalam usaha pasukan Sekutu merebut kembali negara-negara di Eropa yang tengah diduduki Nazi Jerman pada saat itu. Mereka belum dikaruniai seorang anak. Namun Lorraine sangat akrab dengan lingkungan sekitarnya termasuk semua tetangga-tetangganya. Lorraine sangat mengenal mereka satu persatu. Di lingkungan Lorraine tinggal, terdapat sebuah gereja di mana Lorraine sangat aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja tersebut terutama setelah sang suami berangkat ke Eropa untuk berperang. Di gereja itulah biasanya juga orang mendengar mengenai berita-berita perang di garis depan, selain itu gereja itu juga sebagai tempat bersosialisasi para jemaahnya, karena itulah Lorraine sangat mengenal jemaah-jemaah gereja tersebut yang kebanyakan tentu adalah tetangga-tetangganya dan juga pendeta Paul Reeves, pendeta di gereja itu.
Suatu malam, atau tepatnya pagi dini hari, sekitar pukul 2, Lorraine terbangun dari tidurnya, ia mendengar lonceng gereja dibunyikan. Ia sedikit terkejut karena itu bertanda bahwa jemaah diajak berkumpul di gereja tersebut. Iapun sangat was-was karena tidak biasanya pendeta Reeves mengumpulkan jemaahnya di pagi buta seperti ini. Mungkin ada berita sangat penting yang harus disampaikan sehingga harus mengumpulkan jemaah sepagi ini, begitu fikir Lorraine dengan hati cemas. Lalu dengan berpakaian secukupnya Lorraine segera bergegas menuju gereja itu. Setelah sampai di gereja itu, Lorraine melihat gereja telah dipenuhi oleh jemaah, namun ia sangat heran karena tidak ada satupun jemaah yang ia kenal dan pula pendeta yang berbicara di atas mimbar juga bukan pendeta Paul Reeves yang ia kenal. Namun Lorraine berusaha untuk tetap tenang dan tidak banyak bertanya lalu ia mulai mendengar pendeta ‘asing’ tersebut berbicara di atas mimbar. Namun tiba-tiba pendeta tersebut berkata “Mari kita kumpulkan dana, untuk gereja kita dan juga bagi mereka-mereka yang tengah berperang demi keadilan di seberang lautan sana!” begitu himbau sang pendeta. Lalu seseorang dengan nampan kecil mulai mendatangi satu-persatu jemaah untuk dimintai sumbangannya didampingi oleh sang pendeta. Ketika sampai pada giliran Lorraine, ia baru sadar bahwa ia tak membawa uang sesenpun.
“Maaf pak pendeta tapi saya benar-benar lupa membawa uang” begitu ucap Lorraine.
“Tapi, anda sebaiknya menyumbang karena ini penting buat keadilan dan memenangkan perang” begitu ujar sang pendeta membalas ucapan Lorraine.
“Kalau begitu pak pendeta, izinkanlah saya pulang dulu sebentar untuk mengambil uang” begitu pinta Lorraine selanjutnya.
“Tak perlu, nyonya! Anda mempunyai cincin kawin di jari manis anda! Relakanlah itu! Tuhan akan memberkatimu Nyonya!” Begitu pinta sang pendeta.
“Tapi pak pendeta! Ini cincin kawin saya dan suami saya! Saya mohon, izinkanlah saya pulang untuk mengambil uang” begitu pinta Lorraine sekali lagi.
“Tak perlu! Ayo relakan!” Begitu pinta sang pendeta sekali lagi dengan sangat memaksa. Dan tiba-tiba seluruh jemaah yang ada di gereja itu serentak mengatakan “Relakan! Relakan! Relakan!” dalam bentuk sebuah koor. Karena malu, takut dan bingung dengan berat hati Lorraine mencabut cincin kawinnya dari jari manisnya untuk diserahkan kepada orang yang membawa nampan tersebut. “Terima kasih!” begitu kata sang pendeta dengan nada datar. Karena sedih Lorraine segera menutup muka dengan kedua tangannya. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya sambil berkata:
“Lorraine!” begitu sapanya dengan ramah. Suara itu sangat ia kenal.
“Pendeta Reeves!” Lorraine membalas sapaan itu dengan hati lega.
“Sedang apa kamu di sini pagi-pagi begini Lorraine?” begitu tanya pendeta Reeves keheranan.
“Saya sedang menghadiri pertemuan di gereja ini, bukankah begitu?” jawab Lorraine.
“Pertemuan apa?????” tanya pendeta Reeves penuh keheranan.
Lorraine tiba-tiba tersadar bahwa ruangan gereja tempat ia berada ternyata kosong dan gelap.
“Sudahlah Lorraine! Ayo pulang! Mungkin anda terlalu lelah dan tertidur di gereja dan bermimpi. Atau bisa jadi anda berjalan sambil tidur!” begitu balas pendeta Reeves sambil tersenyum dan setengah bercanda.
“Tapi pendeta Reeves, pertemuan tadi sangat nyata!” dan tiba-tiba Lorraine tersadar bahwa cincin kawinnya telah hilang dari jari manisnya.
“Pendeta Reeves, tadi saya menyerahkan cincin saya sebagai sumbangan dan kini cincin kawin saya benar-benar hilang, bagaimana ini bisa terjadi? Pertemuan tadi jelas-jelas nyata” sanggah Lorraine.
“Sudahlah Lorraine! Mungkin anda melepas cincin kawin anda dan anda lupa meletakannya di suatu tempat di rumah. Sudahlah, mari saya antar pulang! Kalau kamu mau bicara kita lanjutkan esok hari” begitu kata pendeta Reeves dengan ramah. Karena merasa agak malu dan tidak ingin mengganggu pendeta Reeves lagi, maka Lorraine segera memenuhi permintaan pendeta Reeves untuk pulang ke rumah.
Pukul 7 pagi, ketika Lorraine hendak membuat sarapan untuk dirinya, tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Lorraine segera bergegas membukakan pintu. Ternyata dua orang dari Angkatan Udara membawa sebuah surat.
“Maaf nyonya! Kami harus mengantarkan berita duka ini!” Begitu kata salah satu di antaranya sambil membuka topi militernya sebagai tanda penghormatan. Mendengar hal itu tiba-tiba Lorraine menjadi sangat lemas, namun ia masih berusaha untuk membaca surat resmi dari Angkatan Udara tersebut. Di situ dijelaskan bahwa Charles Johnson, suami Lorraine tewas seketika karena pesawat bombernya ditembak hancur di udara oleh meriam anti serangan udara Jerman di atas daerah Fougères di Perancis. Pesawat tersebut tepat tertembak pada saat Lorraine melepaskan cincin kawinnya pada saat di gereja malam itu.
(Diadaptasi dari : The Greatest Mystery Stories)
Oh! Gelora Bung Karno!
In Serba Serbi on Kamis, 12 Juli 2007 at 7:49 am
vs 

Kemarin malam saya sempat melihat pertandingan Arab Saudi vs Republik Korea di Global TV dan Star Sports. Tetapi saya kali ini bukannya ingin mengulas pertandingan tersebut, karena selain saya bukan komentator sepakbola, pertandingan tersebut kemarin berjalan sedikit monoton (menurut saya), mungkin banyaknya bintang-bintang yang absen dari kedua kesebelasan membuat kualitas pertandingan sedikit menurun. Namun, saya akan membahas tentang’kejadian’ di stadion Bung Karno kemarin, stadion yang seharusnya menjadi kebanggaan kita!
Mungkin anda juga sudah mengetahui bahwa kemarin di sekitar menit ke-85 pada pertandungan Korea vs Arab Saudi, lampu stadion tiba-tiba mati. Mungkin kejadian ini bukan kejadian yang pertama kali di dunia ini, walaupun mungkin kejadian ini hanya terjadi di negara-negara berkembang, itupun mungkin kejadiannya sangat jarang, apalagi di event-event internasional seperti piala Asia ini. Waduh! Rasanya hati ini malu sekali!! Lha kok bisa begitu?? Andaikan bisa begitu lha kok kejadiannya kenapa di Indonesia pula?? Andaikan kejadiannya di Indonesia lha kok kenapa terjadinya pas perhelatan akbar macam Piala Asia ini?? Sungguh kita harus malu dengan terjadinya peristiwa itu. Walaupun mungkin kejadiannya itu adalah peristiwa force majeure, alias di luar kendali siapapun. Di layar kaca Star Sports pada saat kejadian itu ditulis besar-besar “Play is suspended due to power failure“, untung komentator2nya sangat profesional dan sama sekali tidak berkeluh kesah tentang kejadian mati lampu kemarin!
Tapi yang membuat saya malu bukan hanya itu! Video layar lebar yang ada di stadion, ukurannya terlihat sangat kecil dibandingkan yang ada di stadion Bukit Jalil di KL ataupun di stadion Rajamanggala di Bangkok. Nggak proporsional sama luas stadionnya. Bukit Jalil dan Rajamanggala mempunyai stadion yang lebih kecil tapi punya video layar lebar yang jauh lebih besar! Sehingga informasi terlihat dengan jelas! Kenapa kita nggak mampu membeli video layar lebar yang lebih besar? Nggak mampu? Duitnya dipakai ke mana aja nih?? Bukan itu saja, kemarin salah satu video layar lebar di stadion Bung Karno kemarin terlihat mati! Soalnya menurut standard AFC atau FIFA, minimal video layar lebar di dalam stadion ada dua, yang satu untuk scoreboard display yang satu lagi untuk menayangkan live kejadian-kejadian yang terjadi di lapangan/stadion. Nah, kemarin video layar lebar yang seharusnya menyiarkan kejadian-kejadian live di lapangan ini yang mati, sehingga hanya yang scoreboard display aja yang menyala! Sungguh memalukan! Memang ini sepertinya hal-hal yang sepele. Namun hal-hal yang sepele inilah yang kadang-kadang menunjukkan kualitas panitianya dalam menyelenggarakan suatu event akbar! Mudah-mudahan semuanya tidak berulang kembali di pertandingan-pertandingan berikutnya!
Angka Romawi
In Serba Serbi on Selasa, 10 Juli 2007 at 9:31 amAngaka Romawi? Pasti sejak kita SD sudah pada semua mengenalnya. Boleh dibilang angka Romawi (Roman Numerals), yang berasal dari Kekaisaran Romawi ini adalah sistem bilangan nomer dua terpopuler setelah sistem bilangan desimal atau angka Arab (Arabic Numerals) yang kita kenal sehari-hari yaitu: 0, 1, 2 ,3, 4, dst. Lho? Kenapa disebut angka arab?? Bukannya angka Arab yang seperti ini?: (٠.١.٢.٣.٤.٥.٦.٧.٨.٩)? Iya betul sih, tapi yang dimaksud adalah sistem bilangannya yang mengacu pada sistem desimal, bukan cara penulisannya. Orang Inggris menyebutnya angka Arab (Arabic Numerals) karena sistem bilangan ini diperkenalkan pertama kali oleh Orang-orang Arab ke Eropa, meskipun sistem bilangan desimal ini berasal dari India.
Ok, sekarang kita kembali ke masalah huruf Romawi tadi, tentu kalau hanya I, II, IX, XII kita semua sudah fasih membacanya karena mungkin setiap hari kita melihatnya minimal di jam tangan kita. Tapi coba sekarang:
MMMDCLVIII
MMDCCXCIX
MMCXCIV
Bagi yang tidak biasa membacanya, pasti butuh perjuangan berat untuk mengetahui berapakah bilangan tersebut. Ok, sebagai bantuan akan saya kasih petunjuk:
- I = 1 (ini nenek-nenek juga tahu!)
- V = 5 (nenek-nenek masih banyak yg tahu!)
- X = 10 (nenek-nenek mungkin tahu!)
- L = 50 (nenek-nenek mulai banyak yg nggak tahu)
- C = 100 (udah ah nggak usah nyebut nenek2 lagi!)
- D = 500
- M = 1000
Nah, selain itu ada juga beberapa peraturan dalam membaca huruf Romawi:
- Kalau ada dua bilangan yang sama besar berurutan, maka bilangan-bilangan itu ditambahkan. Contoh: II = 2. XX = 20. CC = 200, dsb.
- Kalau ada bilangan yang lebih kecil di sebelah kanan suatu bilangan, maka bilangan-bilangan tersebut juga ditambahkan. Contoh: VII = 7. XV = 15. LX = 60, dsb.
- Kalau ada bilangan yang lebih kecil di sebelah kiri suatu bilangan, maka bilangan yang di kanan dikurangkan dari yang di kiri. Contoh: IX = 9. CM = 900. XL = 40, dsb.
- Angka Romawi ditulis dari bilangan yang besar ke bilangan yang kecil, jikalau ada bilangan yang besar setelah bilangan yang kecil, itu berarti bilangan yang kecil di sebelah kiri mengurangi bilangan yang besar di sebelah kanan. Contoh: XXIX = 29, LXIV = 64, dsb.
Nah, sekarang dengan bekal ketentuan-ketentuan di atas tentu sekarang anda bisa membaca berapa bilangan-bilangan yang saya berikan di atas! Atau anda mau mencoba kebalikannya? Misalnya bisakah anda menulis angka 3256 dalam angka Romawi? O iya ada satu ketentuan lagi dalam sistem bilangan Romawi: Bilangan Romawi tidak mengenal angka nol (0)! Ok? Silahkan mencoba!
Komentar-komentar kita di blog orang lain
In Perilaku on Senin, 9 Juli 2007 at 8:25 amPada saat saya ingin memulai menulis di blog, saya menyempatkan diri pergi ke toko buku Gramedia di Jl. Merdeka Bandung untuk membeli membaca buku mengenai seluk beluk blog. Mulai dari mengetahui situs-situs blog yang populer, cara meng-setup atau memulai sebuah blog hingga masalah-masalah non-teknis seperti bagaimana cara mempopulerkan blog kita dan etika blogging. Nah, menariknya di situ dikatakan salah satu cara untuk mempopulerkan blog kita selain dengan mendaftarkannya di mesin-mesin pencari (search engine) terkemuka ialah juga dengan sebanyak mungkin meninggalkan komentar-komentar bermutu di blog orang lain. Mula-mulanya saya agak bingung, kenapa harus begitu? Kalau mendaftarkan blog di mesin pencari lha iya lah jelas itu, tapi meninggalkan komentar di blog orang lain apa benar akan mempopulerkan blog kita?
Setelah kini 3 minggu saya berakrab-akrab ria dengan blog, saya sudah ada gambaran mengapa meninggalkan komentar di blog milik orang lain dapat menaikkan popularitas blog kita, walaupun sebenarnya masih ada keraguan sedikit dalam diri saya apakah orang-orang yang datang ke blog saya ini kebanyakan lewat search engine atau lewat link yang ada di komentar-komentar saya di blog orang lain itu?? Wallahualam! Walaupun pada akhirnya saya menuruti apa kata buku itu (karena kebetulan juga saya orangnya suka mengomentari apapun yang dibicarakan/ditulis orang), saya mempunyai persepsi sendiri mengenai komentar-komentar kita di blog orang lain tersebut. Apakah itu?
Setelah saya cukup banyak ‘meninggalkan jejak’ dengan mengomentari banyak tulisan orang di berbagai blog, saya mulai ‘tersadar’ bahwa komentar-komentar kita itu juga sebenarnya adalah blog-blog mini kita di blog milik orang lain. Lho kenapa begitu? Ya karena komentar-komentar kita itu juga hasil proses berfikir kita juga, hasil proses kita mencerna, menilai serta mengulas tulisan-tulisan milik orang lain! Untuk itu saya berpendapat bahwa memang seyogianyalah kita berkomentar sebagus, sejelas dan seobyektif mungkin, karena komentar kita itu juga ‘bagian’ dari output inteligensia, emosional dan spiritual kita, dan dibaca oleh ribuan orang di “dunia maya”. Apalagi kalau di komentar kita itu meninggalkan ‘jejak’ ke arah (adanya link ke) blog kita! Salah-salah komentar bisa berbabé deh, betul nggak?? Dan menurut saya, komentar yang bagus tidak harus melulu ilmiah dan serius, namun sesuai dengan isi dan atmosfir artikel serta mood si penulis artikel yang akan kita komentari.
‘Memasarkan’ Blog
In Manajemen/Bisnis, Perilaku on Jumat, 6 Juli 2007 at 8:47 pm
Sejak aku menulis blog hampir 3 minggu yang lalu, dimulai dengan diluncurkannya blogku yang berbahasa Inggris, dan disusul kemudian dengan yang bahasa Indonesia ini seminggu kemudian, saya sudah mendapatkan banyak pengetahuan dari blogging ini, baik pengetahuan masalah blogging itu sendiri ataupun ilmu-ilmu dan juga pengalaman-pengalaman yang dibagikan para rekan blogger kepada saya. Bukan itu saja, saya juga mendapatkan manfaat dengan mengasah kemampuan saya dalam berfikir serta menuangkan ide-ide berupa tulisan dalam 2 bahasa. Bukan itu saja saya juga mulai belajar secara teknis untuk mempercantik blog saya bukan hanya dengan tulisan, tapi juga dengan belajar sedikit-sedikit bahasa HTML dan CSS serta mendesain banner dalam bentuk animated GIF. Dan mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, Insya Allah, sudah akan ada animasi Flash bikinan saya sendiri dalam blog saya ini.
Namun masih ada yang kurang! Saya harus berhasil dalam ‘memasarkan’ blog ini, dalam arti kata harus banyak orang yang mengunjungi blog saya ini. Langkah ke sana sudah, yaitu dengan mendaftarkan blog-blog saya di search engine-search engine terkemuka. Dan saya juga sudah ‘meninggalkan jejak’ dengan berusaha untuk meninggalkan komentar yang bermutu (walaupun mungkin banyak juga yang tidak bermutu hehehe….) mulai dari masalah SDM, kedokteran, hukum bahkan astronomi, hingga masalah sehari-hari yang ringan. Walaupun alhamdulillah blog saya mulai banyak pengunjungnya (terutama blog yang berbahasa Indonesia), namun pengunjung belum ‘banyak’ seperti yang diharapkan. Walaupun sayapun sadar bahwa blog saya masih berumur belum genap 3 minggu (pada saat tulisan ini dibuat). Dalam rangka ‘memasarkan’ blog saya, hari ini saya resmi meluncurkan banner saya yg resmi untuk blog saya yang berbahasa Indonesia ini seperti di atas (banner untuk blog yang berbahasa Inggris akan menyusul kemudian).
Omong-omong, masalah ‘memasarkan’ blog ini, mungkin juga sebagai ujian bagi saya, anggap saja saya sedang berbisnis online. Jadi ini bisa jadi merupakan tantangan sekaligus ujian pertama bagi saya untuk melakukan ‘marketing’ online, agar orang mau datang ke blog saya, dan tentu saja harus ada juga interaktif antara pembaca dan pembuat blog sebagai indikator kesuksesan sebuah blog. Untuk tahap pertama saya akan memasarkan blog saya yang bahasa Indonesia ini, mungkin sebulan lagi saya akan mulai juga memasarkan blog saya yang berbahasa Inggris dengan meninggalkan jejak di blog-blog internasional dengan cara berusaha memberikan komentar bermutu (tentu dalam bahasa Inggris). Anggap saja blog saya yang berbahasa Indonesia mempunyai ‘pasar’ utama lokal sedangkan yang berbahasa Inggris diarahkan mempunyai ‘pasar’ internasional walaupun tentu saja bisa dinikmati ‘pasar’ lokal. Ya, tinggal kita tunggu saja… apakah usaha saya ini akan berhasil atau tidak!
Bulan dan kalender Islam
In Astronomi on Kamis, 5 Juli 2007 at 8:38 amMei 2004, waktu itu hari masih pukul 3 pagi, tapi saya sudah bangun pagi untuk menyaksikan pertandingan tennis ATP Masters langsung dari Roma, Italia. Saya masih ingat waktu itu yang main adalah Andy Roddick (AS) melawan Tommy Haas (Jerman). Di setiap pertandingan tennis yang disiarkan lewat televisi, setiap 2 games maka pemain melalukan istirahat/break, nah pada saat break inilah biasanya stasiun TV menyiarkan siaran iklan (commercials). Namun di salah satu break pada pertandingan pagi itu bukanlah siaran iklan seperti biasa melainkan bidikan kamera yang di-zoom ke arah bulan yang tengah mengalami gerhana bulan total! Wow alangkah indahnya gerhana bulan total tersebut, tidak seperti halnya gerhana matahari total di mana piringan matahari tampak gelap oleh bayangan bulan (hanya corona-nya saja yang terlihat), pada saat gerhana bulan, bulan berwarna kemerahan akibat pantulan atmosfir bumi (earthshine), pada saat bulatan bumi menutupi bulan dari matahari.
Bulan, atau tepatnya peredaran bulan mengelilingi bumi, sejak lama sudah dikaitkan dengan kalender Islam, terutama untuk menandakan pergantian bulan. Karena seperti halnya kalender Yahudi, kalender Islam adalah qamariyah (lunar) yang berpatokan pada orbit bulan mengelilingi bumi. Hanya saja sedikit beda dalam penetapan awal bulan antara kalender Yahudi dengan kalender Islam. Kalender Yahudi sudah dimodifikasi agar awal bulan jatuh pada fase ‘bulan baru’ (new moon), fase di mana bulan sama sekali tidak terlihat dilangit! Ini dimaksudkan agar awal bulan dapat dikalkulasikan dengan tepat secara matematis. Sedangkan dalam kalender Islam, awal bulan harus ditandai dengan terjadinya hilal (bulan sabit) pertama. Ini yang menjadi sering kontradiksi dalam penentuan awal bulan Islam, sehingga awal bulan Islam di berbagai tempat di bumi ini menjadi tidak seragam.
Kenapa tidak seragam? karena masing-masing mempunyai kriteria tertentu dalam menentukan kapan terjadinya hilal untuk pertama kali. Ada yang menetapkan hilal harus terlihat secara fisik di langit, ada yang menetapkan jikalau bulan sudah terlihat berapa derajad di atas matahari pada saat terbenam, ada yang menentukan kalau piringan bulan sudah terlihat nol koma nol nol sekian persen (tentu saja menentukan kriteria yang satu ini harus menggunakan komputer!) maka dianggap hilal sudah terlihat, dll. Belum lagi kondisi fisik di Bumi jikalau kita ingin melihat hilal di langit! Biasanya hilal pertama terlihat dekat dengan horizon di sebelah barat, kalau di kota biasanya tertutup gedung-gedung tinggi, belum lagi jikalau cuaca mendung berawan menambah sulitnya menemukah hilal di langit. Belum lagi faktor sinar matahari yang terang ikut mempersulit penampakan hilal pertama di langit. Ingat untuk menentukan apakah keesokan harinya sudah bulan baru atau belum, maka hilal yang terjadi harus sebelum matahari terbenam, jikalau hilal terjadi pada sesudah matahari terbenam, maka bulan baru akan dimulai lusanya.
Yah, begitulah sekedar gambaran betapa ‘ribet’-nya menentukan awal bulan dalam kalender Islam. Namun ada satu hal yang tidak boleh dilanggar dalam penentuan lamanya satu bulan qomariyah, yaitu satu bulan qomariyah tidak boleh kurang dari 29 hari dan tidak boleh lebih dari 30 hari! Jadi satu bulan qomariyah harus antara 29 atau 30 hari!
Banner-banner pertamaku!
In Uncategorized on Selasa, 3 Juli 2007 at 11:24 pmInilah banner-banner pertamaku! Terlalu norak mungkin dan terlalu besar! Tapi tak mengapalah, tak begitu mengecewakan bagi pemula! Lagipula saya bukan seorang artis. Saya membuat banner ini karena lagi kesal, cuaca di London, Inggris sangat buruk sehingga mengganggu…….. PERTANDINGAN WIMBLEDON yang saya saksikan lewat televisi! Sudah empat kali terjadi penundaan karena cuaca buruk! Padahal pertandingan lagi seru-serunya! (Menyebalkan!) Ah! Tapi tak boleh menggerutu, hujan adalah rahmat Allah pula, di manapun turunnya di muka bumi ini!
O iya aku rencananya juga akan membuat blogku yang berbahasa Perancis di www.blog.fr. Tapi itu baru rencana lho, soalnya aku punya dua blog saja sudah agak menyita waktu untuk meng-update meskipun terasa enjoy juga. Eits, jangan salah lho, blogku yang bahasa Perancis ini bukan dibuat dengan software ‘Universal Translator’ yang hasil terjemahannya payah itu. Ini hasil jerih payahku sendiri belajar dan latihan bahasa Perancis selama bertahun-tahun, meskipun bahasa Perancisku masih jauh di bawah bahasa Inggrisku. O iya mengenai software-software penterjemah yang banyak yang beredar di pasaran, yang katanya canggih itu (Universal Translator termasuk yang katanya sangat canggih), ternyata hasil terjemahannya belum mampu menyaingi kemampuan hasil terjemahan manusia! Kelemahan utama software penterjemah yang saya tahu adalah mereka sering kali gagal membedakan mana yang ‘idiomatic phrases’ dan mana frasa (phrase) yang harus diterjemahkan kata per kata! Yah…. mudah-mudahan software penterjemah di masa depan bisa jauh lebih canggih lagi dengan algoritma-algoritma AI (Artificial Intelligence) yang menggunakan bahasa komputer generasi keempat! Kita tunggu saja!
New Coke vs Crystal Pepsi, dua-duanya kesalahan marketing!
In Makanan/Minuman, Manajemen/Bisnis on Senin, 2 Juli 2007 at 6:57 pm![]()
Sebelumnya dalam blog Prof. Tb. Sjafri Mangkuprawira, di salah satu komentar dalam artikelnya saya sudah menyinggung sedikit tentang persaingan sengit antara Pepsi Co. dan Coca Cola Co., khususnya sewaktu Pepsi Cola meluncurkan Crystal Pepsi sementara Coca Cola meluncurkan New Coke. Namun tahukah anda bahwa kedua produk ini di pasaran tidak begitu sukses, dan kegagalan kedua produk tersebut adalah sama-sama kesalahan Marketing Research? Mari kita tengok kegagalan apa yang dilakukan Marketing kedua perusahaan tersebut!
New Coke
Di tahun 1985, Coca Cola mulai kehilangan sedikit demi sedikit pangsa pasarnya kepada saingan terberatnya Pepsi Cola. Coca Cola rupanya sangat terpengaruh oleh sebuah acara televisi yang disponsori Pepsi mengenai uji-coba rasa cola yang paling digemari oleh masyarakat Amerika waktu itu. Di situ hasil uji-coba mengatakan bahwa masyarakat lebih menyukai rasa cola yang lebih manis. Dan memang pada saat itu rasa Pepsi Cola memang sedikit lebih manis dibandingan rasa Coke dari Coca Cola. Dan rupanya hasil dari acara uji-coba yang ditelevisikan itu bukan hanya omong kosong, tapi dari hari ke hari memang penjualan Pepsi Cola terus meningkat!
Untuk mengantisipasi keadaan ini, dan terpengaruh oleh uji-coba yang dilakukan oleh Pepsi Cola, Coca Cola mengadakan uji coba tersendiri (tidak ditelevisikan/dipublikasikan), dalam rangka memperkenalkan produk baru mereka New Coke. Di dalam uji coba tersebut masyarakat suruh memilih mana yang lebih mereka suka, antara New Coke dengan pendahulunya dan juga dengan Pepsi Cola. Dalam uji coba tersebut New Coke menempati urutan pertama disusul Pepsi Cola dan lalu Coke di tempat terakhir. Berdasarkan hasil uji coba itu, Coca Cola dengan yakinnya melemparkan produk barunya ‘New Coke’ ke pasaran Amerika dan mempensiunkan produk lama mereka ‘Coke’! Namun apa yang terjadi??
Penjualan melonjak hanya terjadi di bulan-bulan awal saja. Selanjutnya penjualan mulai seret. Coca Cola mulai menerima banyak telepon dan surat. Sebuah grup bernama ‘Old Cola Drinkers’ mulai melancarkan protes dan menuntut untuk dikembalikannya ‘Coke’ yang lama ke pasaran! Banyak analis bisnis dan media yang memperdebatkan masalah ini waktu itu, dan setelah dipensiunkan selama dua bulan, Coca-Cola kembali memproduksi ‘Coke’ yang lama di pasaran bersama-sama dengan ‘New Coke’. Dan penjualan total Coca-Cola mulai meningkat lagi. Lantas apanya yang salah dengan ‘New Coke’?
Yang salah adalah riset marketingnya termasuk juga interpretasi dari hasil riset tersebut! Riset marketing yang dilakukan Coca Cola sangat terfokus kepada rasa saja, tidak melihat kenyataan bahwa konsumen juga melihat sesuatu yang lain selain daripada rasa! Yang paling luput dari hasil riset itu adalah fanatisme ‘penggila’ Coca Cola yang tidak mau rasa Coca Cola berubah! Para ‘penggila’ Coca Cola ini sangat loyal terhadap Coke karena berbagai alasan, ada yang karena rasanya, ada yg fanatik merknya, ada yang fanatik sejarahnya, ada yang fanatik karena Coca Cola adalah sponsor dari tim olahraga tertentu, dan masih banyak alasan fanatisme lainnya. Hal-hal seperti inilah yang luput dari uji coba yang dilakukan Coca-Cola. Coca-Cola tidak menyadari bahwa konsumen selalu penuh dengan kejutan dalam alasan kenapa mereka menyukai produk ‘Coke’ yang lama. Coca-Colapun dalam menginterpretasikan hasil uji coba juga tidak menyadari bahwa sampel dalam uji coba tersebut tidak sepenuhnya mewakili masyarakat Amerika dalam preferensi pemilihan cola. Untungnya New Coke terus diproduksi dengan berganti nama menjadi Coca Cola II dan kini menjelma menjadi Cherry Coke.
Crystal Pepsi
Pepsi Co., sebagai saingan Coca Cola Co., juga membuat blunder dalam menghasilkan Crystal Pepsi. Jikalau New Coke diluncurkan guna menghasilkan rasa cola yang lebih manis, maka Crystal Pepsi memiliki ide yang lain! Ide Crystal Pepsi adalah menciptakan cola dengan warna bening (tidak dengan warna gelap kehitaman seperti kebanyakan cola!) dengan rasa yang sebenarnya tidak terlalu beda dengan rasa Pepsi lama. Ide menciptakan cola yang berwarna bening didapat dari kenyataan persepsi masyarakat Amerika waktu itu, bahwa sesuatu yang bening lebih bersih dan lebih alami! Hal itu didukung kenyataan waktu itu bahwa sesuatu yang bening mulai dari shampoo, lotion dan juga sabun lebih laku terjual di pasaran!
Namun apa yang terjadi setelah di lempar di pasaran? Ternyata nasibnya sama dengan New Coke! Hanya berhasil di awal-awal bulan penjualan (mungkin disebabkan karena masyarakat penasaran ingin mencobanya), untuk kemudian penjualan menurun secara drastis! (Untung saja, Pepsi Co., waktu itu tidak menarik produk Pepsi lamanya dari pasaran!) Setelah diadakan riset mengapa Crystal Pepsi tidak laku di pasaran, mereka menemukan alasan bahwa mereka tidak suka dengan rasa Crystal Pepsi ini (padahal rasanya hampir sama!) namun anehnya ada juga yang menyatakan bahwa rasa Crystal Pepsi ini tidak berbeda dengan rasa Pepsi yang lama, sehingga mereka enggan beralih ke Crystal Pepsi dan tetap memilih Pepsi yang lama!
Nasib Crystal Pepsi ini lebih malang dari nasib New Coke, sebab Crystal Pepsi ini akhirnya dihentikan produksinya walaupun sempat dikeluarkan lagi dengan nama ‘Crystal by Pepsi’ dengan timbahkan rasa citrus di dalamnya. Namun Crystal by Pepsi ini juga tidak bertahan lama!
Itulah contoh dua perusahaan besar yang saling bersaing, yang dua-duanya melakukan blunder dalam marketing! Mereka adalah perusahaan-perusahaan yang sarat pengalaman dan sarat dengan SDM yang tentu saja yang berkualitas internasional. Namun seperti pepatah ‘Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga!’. Jikalau tupai yang pandai melompat bisa jatuh juga, bagaimana halnya dengan tupai yang tidak begitu pandai melompat??
Cerita Misteri: L’auberge du Voyageur (posting selingan)
In cerita horor on Minggu, 1 Juli 2007 at 6:15 pmJikalau pada blog saya yang bahasa Inggris, menampilkan postingan cerita humor sebagai selingan, maka di blog bahasa Indonesia ini saya mencoba untuk menghadirkan cerita misteri/horor sebagai selingan. Sebagai catatan: gambar di atas tidak ada hubungannya dengan cerita ini, hanya sebagai bumbu dari cerita berikut ini yang berjudul dalam bahasa Perancis yaitu L’auberge du Voyageur (Penginapan Pelancong).
Tahun 1979, empat orang Inggris yang tengah berlibur musim panas di Perancis, tengah melakukan perjalanan dari Paris ke Marseille, di Perancis selatan, dengan mengendarai mobil sendiri. Mereka adalah dua pasang pemuda pemudi yang tengah menikmati liburan musim panas mereka. Waktu menunjukkan pukul 22.00 dan matahari mulai terbenam dan haripun mulai gelap. Maklum pada saat musim panas di Perancis, waktu maghrib atau waktu matahari terbenam adalah sekitar pukul 21.00 – 22.00! Mereka berempat yang berada di pedesaan Perancis di luar kota Lyon, bersepakat untuk mencari tempat penginapan dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan keesokan paginya.
Di pedesaan itu suasana sangat sepi, hanya satu dua mobil saja berlalu setiap 10 – 15 menit. Setelah beberapa saat akhirnya mereka melihat sebuah penginapan yang agak jauh dari jalan raya yang dihubungkan dengan sebuah jalan kecil. Penginapan itu nampak sedikit gelap dengan hanya cahaya remang-remang keluar dari setiap jendelanya, nampaknya di penginapan itu sedang mati listrik. Namun karena waktu itu mereka sudah lelah, mereka memutuskan juga untuk menginap di penginapan itu.
Setelah mereka tiba di penginapan itu, mereka melihat bahwa terlihat banyak orang yang berada di penginapan itu, tapi anehnya mereka tidak melihat satu mobilpun yang parkir di penginapan itu. Tapi mereka tidak ambil pusing, dan segera bergegas ke resepsionis dan menanyakan apakah ada dua kamar kosong di situ. Sang resepsionis dengan senyum yang ramah mengatakan ada. Setelah selesai check-in mereka dengan di antar para bellboy segera menuju ke kamar mereka masing-masing di lantai 3, lantai paling atas. Setelah mereka memasuki kamar masing-masing, mereka mulai menemui kejanggalan, di dalamnya tidak ada lampu listrik sama sekali, dan juga peralatan-peralatan elektronik lainnya seperti pesawat televisi, pesawat telepon, bahkan jam dinding quartz pun tak ada! Yang ada hanyalah tempat tidur dan furnitur-furnitur model tua lainnya. Walaupun begitu semuanya tampak sangat terawat dan semuanya tampak bersih dan teratur.
Segera setelah mereka semua mandi, membersihkan badan, mereka semua bersepakat untuk makan malam di lantai dasar. Sesampainya di lantai dasar mereka semua di antar oleh seorang pelayan yang sangat ramah ke ruang makan yang lumayan besar dengan banyak meja. Tapi aneh, nampaknya hanya mereka berempat saja yang tengah makan, orang-orang lain hanya berlalu lalang saja. Lalu pada saat mereka makan, mereka juga membicarakan mengenai keanehan penginapan ini yang sepertinya lebih cocok menjadi museum daripada penginapan karena penuh dengan barang-barang antik yang terawat dan tidak ada barang-barang modern satupun! Setelah selesai makan, mereka iseng-iseng bertanya kepada resepsionis, apakah penginapan ini memang tak ada listrik dan tak ada benda-benda modern serta kenapa tak ada mobil yang parkir di penginapan ini? Sang resepsionis hanya tersenyum ramah dan mengatakan ‘kami memang seperti ini, kami berusaha untuk membawa suasana tamu ke masa lalu, inilah cara unik kami untuk memikat tamu atau klien kami’, katanya. Walaupun mereka berempat masih penasaran, namun mereka memutuskan untuk tidak ingin bertanya lagi, apalagi mereka sudah lelah karena waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Apalagi mereka pagi-pagi harus melanjutkan perjalanan untuk itu mereka memutuskan untuk langsung pergi tidur.
Keesokan paginya mereka melanjutkan perjalanan ke Marseille. Ketika hendak check-out dan menyelesaikan pembayaran mereka sangat terkejut karena mereka hanya dikenakan biaya 30 franc. “30 franc?? Untuk kami semua?? Termasuk makan malam dan sarapan??” Si resepsionis hanya mengangguk sambil tersenyum ramah. “Wah murah sekali!, kami akan ke sini lagi tahun depan!” begitu kata salah seorang dari mereka berempat. Setelah sempat berfoto-foto di depan penginapan itu, mereka semua bergegas berangkat ke Marseille, sambil melihat papan nama penginapan itu, sangat sederhana yaitu “L’auberge du Voyageur”! Di tengah jalan mereka bercakap-cakap bahwa mereka tahun depan akan menginap di penginapan itu lagi, karena murah dan pelayanannya sangat prima.
Sesampainya di Inggris, mereka mencuci foto-foto mereka, anehnya semua foto yang berada di penginapan itu terbakar semua, sedang foto-foto di tempat lainnya tercetak dengan baik! Namun mereka tidak ambil pusing, toh mereka berencana akan kembali lagi ke penginapan itu musim panas tahun depan.
Satu tahun sudah berlalu, kini mereka kembali lagi ke Perancis dan ingin sekali lagi menginap di ‘L’auberge du Voyageur’. Namun anehnya mereka mengalami kesulitan untuk menemukan kembali penginapan itu. Setelah mereka bolak balik berkali-kali sampai akhirnya mereka yakin bahwa mereka berada di tempat yang benar kini, mereka berinisiatif bertanya kepada orang-orang yang tinggal di sekitar jalan raya tersebut tentang keberadaan ‘L’auberge du Voyageur’. Namun tak ada satupun yang mengetahui kerberadaannya, sungguh aneh! Namun akhirnya mereka menemui seorang tua, mereka bersepakat untuk menanyai orang tua tersebut.
“Pak, bapak tahu keberadaan L’auberge du Voyageur?”. “Persisnya saya tidak tahu, tapi saya tahu L’auberge du Voyageur itu! Ada apa?” Begitu kata pak tua tersebut.
“Kami semua mau menginap lagi di situ!” begitu jawab salah satu dari mereka berempat.
“Menginap di situ lagi?” kata bapak tua itu keheranan.
“Iya, kenapa pak??” balas salah satu dari mereka lagi.
“Tapi nak, mustahil itu! L’auberge du Voyageur itu sudah terbakar habis hampir 200 tahun yang lalu, dan konon tak ada satupun yang selamat dari kebakaran itu!” kata pak tua itu.
(Diceritakan kembali oleh Yari NK dari ‘The Amazing Mystery Stories”)










