Yari NK

Arsip untuk Agustus, 2007

Menghitung Investasi, yuk! (bag. I)

In Manajemen/Bisnis on Kamis, 30 Agustus 2007 at 12:01 pm

Tadinya judul di atas mau saya namakan “Menghitung Bunga, yuk!”. Namun karena kedengarannya seperti terlalu “materialistik” maka judulnya saya ganti menjadi “Menghitung Investasi, yuk!”, namun yang dihitung tetap bunga-bunga juga. Jadi, harap maklum ya! :D

Ok, bagi mereka yang membaca tulisan ini tentu paling sedikit pernah menyimpan uangnya di bank, baik berupa tabungan, deposito dan lain sebagainya. Bank yang “menyimpan” duit atau “investasi” anda ini diwajibkan oleh hukum untuk menyertakan bunga bagi investasi yang anda “simpan” di bank tersebut. Pendapat atau definisi orang tentang bunga agak berbeda-beda walaupun pada dasarnya, ya, berputar-putar di situ juga definisinya. Ada yang melihat bunga sebagai biaya sewa oleh bank untuk “pemakaian” uang anda selama di bank tersebut. Ada juga yang melihat bunga adalah “ganti rugi” sebagai akibat berkurangnya daya beli uang tersebut di masa mendatang pada saat anda mengambil uang tersebut. Karena kita mengetahui bahwa Rp. 100.000,- yang ada punya hari ini belum tentu dapat membeli sebuah barang yang sama di kemudian hari, karena adanya kecenderungan penurunan nilai mata uang akibat inflasi. Mangkannya itu daripada di simpan di bawah bantal atau dibalik BH atau kutang (ibu-ibu jaman baheula biasanya menyimpan duit mereka di kutang, ntah sekarang ya!), tak ada salahnya kalau uang tersebut diinvestasikan atau minimal di simpan di bank.

MACAM-MACAM BUNGA

Terdapat 3 macam bunga yang saya ketahui yaitu Bunga Sederhana (Simple Interest), Bunga diskon (Discount Interest), dan juga Bunga Majemuk (Compound Interest), namun yang akan saya paparkan di sini hanya dua saja yaitu yang Simple Interest dan yang Compound Interest dengan pendalaman atau fokus pada Compound Interest karena bunga majemuk ini yang paling sering dijumpai terutama kalau kita menitipkan duit kita di bank. Ok kita langsung mulai aja, yuk!

Bunga Sederhana (Simple Interest)

Bunga sederhana ini adalah bunga dengan kalkulasi satu kali saja. Bunga ini biasanya di bayar diakhir periode perjanjian atau kontrak. Bunga yang dibayarpun juga sesuai dengan tingkat bunga yang sesuai dengan perjanjian atau kontrak. Perhitungan bunga ini sangat sederhana, anak SD kelas 6 pun mungkin juga bisa menghitungnya. Rumus yang dipakai adalah:

I\:=\:P\times\:r\times\:t

di mana I adalah jumlah bunga yang dibayarkan, P adalah pokok simpanan kita, r adalah tingkat bunga menurut kontrak/perjanjian, sedangkan t adalah lamanya waktu simpanan kita.

Kebanyakan investasi pada saat ini tidak lagi menggunakan sistem penghitungan bunga sederhana seperti ini. Hanya beberapa tipe obligasi saja yang masih menggunakan penghitungan bunga seperti ini.

Contoh dari bunga seperti ini adalah misalnya sebuah obligasi dengan bunga 12\frac{1}{2} % yang mempunyai harga face value $1000 dan bunga dibayarkan setiap tahun atau sebesar $125 per tahun. Setelah lima tahun total bunga yang dibayarkan adalah:

I = 1000 X 0,125 X 5 = $625

Mudah sekali bukan?

Bunga Majemuk (Compound Interest)

Bunga majemuk ini adalah bunga yang didapatkan dari sebuah investasi yang dibayarkan pada interval waktu yang seragam. Semua bunga yang dibayarkan adalah dihitung berdasarkan pokok simpanan ditambah dengan akumulasi bunga yang didapat sebelumnya.

Contoh misalnya sebuah simpanan $100 yang mendapat bunga 10% per tahun yang dibayarkan per tahun. Tabel berikut ini menunjukkan bagaimana simpanan kita berbunga berdasarkan perhitungan bunga majemuk ini

Tahun ke: Saldo Awal: Bunga yang Didapat: Saldo Akhir:
1 100 100 X 0,1 = 10 110
2 110 110 X 0,1 = 11 121
3 121 121 X 0,1 = 12,1 133,1
4 133,1 133,1 X 0,1 = 13,31 146,41
5 146,41 146,41 X 0,1 = 14,64 161.05

Kalau menggunakan bunga sederhana maka bunga akan didapat sebesar I = 100 X 0,1 X 5 = $50. Sedangkan jikalau menggunakan bunga majemuk didapatkan bunga sebesar $61,05 atau lebih besar $11.05 daripada menggunakan bunga sederhana. Saldo akhir dengan bunga majemuk di atas dapat dihitung dengan rumus:

A\:=\:P\:\times\:(\:1\:+\:r)^{n} , Jadi kasus di atas dapat dihitung langsung dengan cara A\:=\:100\:\times\:(\:1\:+\:0,1)^{5} atau A = $161.05.

Rumus di atas adalah untuk bunga majemuk yang dibayarkan setahun sekali oleh bank. Namun ada kalanya pula bank membayar 6 bulan sekali (semiannually), 3 bulan sekali (trimonthly) bahkan sebulan sekali (monthly), nah untuk yang tidak dibayarkan secara tahunan sebenarnya rumusnya sama saja, hanya dimodifikasi sedikit menjadi:

A\:=\:P\times\:(1\:+\:\frac{r}{m})^{m\times\:t}

Di mana A adalah saldo akhir investasi, P adalah pokok simpanan, \frac{r}{m} adalah tingkat bunga setiap kali pembayaran atau r adalah tingkat bunga pokok per tahun dan m adalah jumlah berapa kali pembayaran/pemajemukan (compounding) serta t adalah jumlah tahun pinjaman atau tahun pemajemukan.

Misalnya contoh $750 diinvestasikan pada bunga 8% per tahun selama 5 tahun dengan bunga dibayarkan perbulan. Jadi tinggal kita masukkan saja ke dalam rumus di atas:

A\:=\:750\times\:(\:1\:+\:\frac{0,08}{12})^{12\times\:5} = $1117,38

Tidak sulit bukan? Pada dasarnya, secara teoritis (catat: secara teoritis bukan secara praktis!) bank dapat membayarkan bunga per minggu, per hari, per jam, per menit, per detik, per sepuluh detik, atau bahkan terus menerus secara kontinu, namun sebelumnya coba kita bandingkan dulu hasil di atas jika bank membayarkan bunga secara tahunan!

A\:=\:750\times(1\:+\:0,08)^{5} = $1101,99

Nah, sekarang bagaimana kalau bunga dibayarkan harian? Hasilnya akan sebagai berikut:

A\:=\:750\times(1\:+\:\frac{0,08}{365})^{365\times\:5} = $1118,82

Di sini kita melihat bahwa jikalau bunga dibayarkan tahunan maka total saldo investasi akhir adalah $1101,99 sedangkan jikalau bunga dibayar bulanan, saldo akhir adalah $1117,38 dan kalau bunga dibayar harian, saldo akhirnya $1118,82, di sini kita melihat bahwa semakin sering bunga dibayarkan, kita melihat bahwa saldo akhir semakin besar atau semakin ‘menguntungkan’, tapi di sini kita juga melihat bahwa semakin sering bunga dibayarkan perbedaan marginnya semakin tipis. Perbedaan antara per hari dan per bulan jauh lebih sedikit dibandingkan antara per bulan dan per tahun. Ini menandakan bahwa andaikan bank membayarkan bunganya terus menerus secara kontinu (misalkan bunga dibayarkan lebih cepat daripada setiap detakan jantung! :D ) bukan berarti bank akan mengeluarkan duit yang tak terhingga banyaknya yang akan membuat bank terssebut bangkrut, bukan begitu! Karena semakin sering bank membayarkan bunga (berdasarkan bunga majemuk) semakin dekat ia pada suatu limit jumlah tertentu. Kenapa demikian? Karena andaikan misalnya andaikan bank menetapkan tarif bunga 100% per tahun selama setahun maka andaikan bank membayarkan bunga begitu cepatnya hingga frekuensi pembayarannya mendekati “tak terhingga” maka faktor (1\:+\:\frac{r}{m})^{m\times\:t} pada rumus penghitungan bunga majemuk di atas akan berubah menjadi (1\:+\frac{1}{m})^{m} , dan tentu saja kita mengetahui bahwa:

\lim_{m\rightarrow\sim}\:(1\:+\frac{1}{m})^{m}

inilah yang didefinisikan dalam matematika sebagai konstanta ‘e‘ atau sama dengan 2,7182. Jadi walaupun sesering apapun bunga yang dibayarkan (bahkan terus menerus secara kontinu) tidak akan menghasilkan angka yang tak terhingga. Dengan kata lain, andaikan bank memberikan tarif bunga 100% per tahun untuk 1 tahunpun dan andaikan bunga dibayar terus meneruspun maka saldo akhir investasi kita tidak akan melebihi 2,7182 kali dari investasi awal kita!

Ok, segini dulu bagian pertama, saya sudah lelah mengetiknya semalaman. Apalagi bikin rumus2 pakai \LaTeX nya banyak yang salah-salah sehingga harus terus menerus dikoreksi yang sangat melelahkan. Ok deh, di bagian kedua nanti saya akan membicarakan tentang Bunga Nominal dan Bunga Efektif, lalu juga tentang Waktu Pegandaan (Doubling and Multiplying Time) dan juga “Hukum 70″ atau The Law of 70. Apapula tuh? Yah, pokoknya tunggu saja! :D

Komunitas Virtual Scrabble (II)

In Serba Serbi on Minggu, 26 Agustus 2007 at 2:34 pm

Sebelumnya saya akan mengekspos masalah kamus dalam Scrabble yang menjadi perpecahan antara kubu Amerika Serikat dan Inggris. Hingga tahun 1997, saya tidak mengetahui bahwa Inggris juga mengeluarkan kamus tersendiri yang menjadi standardnya di luar kamus The Official Scrabble Player Dictionary (OSPD)yang dikeluarkan oleh Merriam-Webster’s di Amerika Serikat. Kamus Inggris ini mula-mula adalah The Chambers Dictionary. Saya membelinya yang versi lama yaitu versi tahun 2002 lewat amazon UK. Begitu pula dengan OSPD Amerika Serikat telah mencapai edisi ke-4 yang terbit tahun 2005 lalu yang direvisi tahun 2006, yang juga saya beli lewat amazon.com, sedangkan untuk kamus Scrabble versi Perancis yang terbaru kini sudah menjelma menjadi L’officiel de dictionnaire du jeu Scrabble, yang susunan dan layout-nya sudah sangat bagus, beda dari pendahulunya. Kamus ini juga bisa dibeli di Amazon France.

Perbedaan kamus inilah yang menyebabkan perpecahan di antara kubu AS dan Inggris, hal tersebut juga terasa di channel scrabble #ScrabbleOn dan #scrabblebuds (di server Undernet). Akhirnya fihak yang menginginkan permainan dilakukan dengan referensi kamus dari Inggris mendirikan channel tersendiri dengan nama #ScrabbleOSW (sekarang sudah bubar juga!). Waktu itu saya yang kebetulan hanya mempunyai kamus terbitan AS pada awalnya memang ikut channel AS, namun seperti biasa, karena saya selalu ingin mencoba sesuatu yang baru dan ingin tantangan baru diam2 aku juga mencoba permainan Scrabble yang menggunakan kamus Inggris. Ternyata enak juga, dan lebih tertantang karena ada beberapa kata aneh yang belum pernah saya dengar seperti: Zuzim, Captayn, Boomslang, Dak, Dari, Mzungu, Mzee dan kata-kata aneh bin ajaib ‘Inggris’ lainnya yang baru saya dengar. Karena saya tertarik dan ingin mempelajari kata-kata Inggris yang aneh bin ajaib itu akhirnya saya membeli kamus Chambers Dictionary lewat Amazon UK seharga £25 di tahun 2002. Ada fenomena menarik yang saya perhatikan di dalam kamus-kamus Scrabble ini pada khususnya dan juga bahasa Inggris pada umumnya. Di kamus2 tersebut (terutama di kamus Chambers) dikatakan bahwa bahasa slang dimasukkan ke dalam kamus dan menjadi bagian  dari bahasa Inggris. Di sini saya menyimpulkan bahwa dalam bahasa Inggris, bahasa slang dianggap sebagai kata-kata yang memperkaya bahasa Inggris, bukan merusaknya. Berbeda sekali dengan bahasa Indonesia, yang sangat anti dengan bahasa slang dan prokem yang dianggap merusak bahasa Indonesia. Sayapun juga mempunyai kamus Merriam-Webster’s Colleiate dictionary yang banyak digunakan sebagai acuan perkembangan bahasa Inggris di Amerika Serikat, di situ juga banyak sekali kata-kata slang dimasukkan dan dianggap sebagai bagian dari bahasa Inggris yang kaya akan kata-kata. Begitupula dengan bahasa Perancis, selain punya kamus L’officiel du jeu Scrabble saya juga punya kamus Le Grand Larousse terbitan tahun 1997, yang juga memuat banyak kata2 slang Perancis seperti copain, smok, pédé, dsb. Mereka juga menganggap bahasa slang justru memperkaya bahasa Perancis bukan merusaknya.

Ok, sekarang saya akan menceritakan tentang teman2 yang saya temui di Internet. Pertama2 saya akan menceritakan Tina Andrews. Tina, wanita asal Chicago, Illinois ini adalah pemrakarsa komunitas Scrabble online dan mendirikan channel bernama #scrabbleon dan #scrabblebuds pada server Undernet (yang kini telah bubar, mungkin juga sudah pindah ke server atau menjelma menjadi channel lain, tidak tahulah!). Tina ini pada saat saya pertama kali bergabung di #scrabbleon sudah dalam keadaan sakit terinfeksi HIV AIDS. Kegemarannya bergonta ganti pasang seks membuatnya ia terkena penyakit ini, dan ia mengatakannya dengan gamblang dan terus terang. Baru kenal dengan seorang laki-laki pagi harinya, jikalau “cocok” sudah berada di tempat tidur bersama malam harinya. Namun di luar kegemarannya berseks ria, Tina adalah pribadi yang menyenangkan dan periang, ia tidak pernah menunjukkan diskriminasi dalam bentuk apapun terhadap siapapun, apapun kebangsaan, agama, ras atau latar belakang sosialnya. Semuanya ia terima dengan tangan terbuka untuk bergabung dengan komunitas Scrabble-nya. (Dari Indonesia waktu itu hanya 2 orang, namun hanya saya yang sangat aktif, walau waktu itu saya masih menemui kendala dalam kecepatan dan kelancaran koneksi karena masih memakai koneksi dialup). Saya menjadi “akrab” dengan Tina, lewat chatting dan bermain Scrabble kira2 6 bulan setelah saya pertama kali bergabung. Chatting dengan Tina sangat menyenangkan, ada saja topik yang dibicarakan walaupun banyak misspelling yang dia buat karena sangking cepatnya dia mengetik. Kamipun juga akhirnya saling berkirim e-mail dan berkirim foto, bahkan beberapa kali Tina menelepon saya, sayang waktu itu SMS belum bisa dilakukan lintas internasional, kalau ada mungkin komunikasi bisa menjadi lebih murah dan cepat. Tina juga pernah mengatakan bahwa ia ingin menemui saya secara pribadi di Singapura. Pertama-tama saya ragu, tapi akhirnya entah kenapa (mungkin karena ia mengidap HIV), fihak Singapura tidak memberikan visa kepadanya. Tina harus menyerah kepada penyakit AIDS-nya di awal tahun 2001.

Teman saya yang lain adalah “labyrinth”, saya lupa siapa nama sebenarnya, tapi nama screen-nya di mirc adalah labyrinth. Wanita berusia 26 tahun asal Minneapolis, Minnesota ini hanya sempat akrab dengan saya beberapa bulan saja, sebelum hilang secara ‘misterius’ dari mIRC, entah kenapa. Wanita yang menurut pengakuannya sendiri sering menenggak bir hingga mabuk ini, memang lagi frustasi waktu itu karena baru diputus pacarnya.

Teman saya yang berikut ini adalah yang paling cantik jelita. Seorang guru SD Bahasa Inggris yang santun dan sopan bernama Laura Ong. Di mIRC waktu itu ia menggunakan nama screen lauraO7. Ibu guru yang tinggal di Penang, Malaysia ini berdarah campuran dari ibu seorang Inggris dan ayah seorang Cina Malaysia. Ibu guru ini walaupun waktu itu sudah berusia 38 tahun (waktu itu saya masih 29 tahun), namun masih terlihat sangat cantik. Sayang ibu guru ini mempunyai kelainan jantung, kelainan jantung macam apa dia tidak pernah mengatakannya lebih jauh, dan walaupun ia berstatus kawin namun ia tidak bisa mempunyai anak (entah apa ini ada hubungannya dengan kelainan jantungnya saya tidak berani bertanya). Kelainan jantung inilah yang merenggut nyawa ibu guru yang santun ini di bulan Mei 2000 untuk selama-lamanya. Saya masih menyimpan foto2nya hingga sekarang, foto yang paling indah adalah foto dirinya ketika bermain layangan tradisional Malaysia di hujan2an bersama anak2 kampong di sekitar tempat tinggalnya. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang basah kuyup karena hujan, serta sudut pengambilan gambar yang artistik oleh temannya membuat foto itu adalah salah satu foto terindah yang pernah saya lihat. Ibu guru ini memang sangat dekat dengan anak2 di kampungnya tidak peduli apakah ia anak Melayu, Cina atau India atau lainnya, mungkin karena ia tak punya anak, ia sangat sayang kepada anak2 di sekitar tempat ia tinggal. Namun yang agak menggelikan adalah ketika ia pertama kali melihat foto saya, karena ia tidak pernah menyangka sebelumnya kalau saya ternyata seorang bumiputera. Lantas saya bertanya, apakah anda keberatan berteman dengan saya kalau saya seorang bumiputera? Sambil memberi icon tertawa di screen ia berkata “No…No… No… Not that… I’m just surprised that you are cuter than what I had imagined“. Ya udah deh, thank you lah buat pujiannya walaupun itu mungkin cuma buat basa-basi hehehe…..

Berikutnya dari wanita cantik asal Malaysia, teman saya berikut ini adalah seorang pria ganteng asal Istanbul Turki yang terus terang mengaku seorang gay. Di mIRC dulu ia memakai nama “bolester72″, sebut aja di sini memakai inisial namanya: AT. Mantan dosen bahasa Inggris yang kini berubah profesi menjadi pengusaha cybercafé ini sampai kini masih aktif berhubungan dengan saya lewat Yahoo! Messenger dan masih sering bermain Literatti di Yahoo! Games dengan saya, permainan yang mirip Scrabble. AT ini, pernah ke Jakarta tahun 2006 lalu, dan bertemu dengan saya vis-á-vis. Mula-mula saya sempat ragu untuk bertemu dengannya, namun setelah ketemu, ternyata ia adalah seorang pribadi yang sopan dan menyenangkan, walaupun terlihat ia sangat senang bertemu dengan saya, namun pembicaraan sama sekali jauh dari pembicaraan seks, apalagi sampai tangan gerayangan sana sini! Akhirnya waktu itu yang rencananya pertemuan yang rencananya cuma berlangsung 2 jam di O la la café Blok M, akhirnya berlanjut dengan berkeliling2 kota Jakarta yang berlangsung 10 jam! Dia juga mengatakan ingin lagi ke Jakarta tahun depan. Ya udah deh, bey (=sir, bahasa Turki), nggak apa2 deh, asal saya jangan diapa2in aja ya!

Sebenarnya saya masih punya cukup banyak teman2 ‘virtual’ Scrabble yang lain, seperti ‘annn’, wanita Melayu asal Singapura yang usianya sudah 50 tahunan, yang mula2nya tidak suka Scrabble, karena banyak chatting sama saya, akhirnya dia juga suka Scrabble walaupun dia kalahan terus. Juga ‘Mistylynne’, wanita asal Irlandia yang usianya juga sudah lewat 50 tahun ini, kini menetap di Adelaide, Australia yang sangat pemalu untuk menunjukkan foto gambarnya. Kedua wanita ‘menopause’ ini masih aktif bermain Literatti dan chatting via Yahoo! Messenger dengan saya hingga kini. Kedua wanita ini termasuk lawan-lawan ‘anak bawang’ yang mudah dikalahkan dalam permainan Scrabble atau Litterati hehehehe….! Selain itu ada juga ‘Marlor’, pria Selandia Baru yang tinggal di Queensland yang lebih mirip pemain gulat Smackdown daripada pemain Scrabble ini, sayang terlihat tidak pernah aktif lagi dan tidak pernah berhubungan lagi dengan saya.

Yah, begitulah sekedar sedikit pengalaman saya tentang bagaimana saya diperkenalkan kepada dunia chatting oleh permainan Scrabble, dan juga orang-orang yang saya kenal lewat permainan ini, yang bahkan beberapa di antarnya masih aktif berhubungan dengan saya.

—————–

Tahukah anda?:

Kata-kata yang sangat umum kita jumpai seperti:

Zakat, Azan, Ihram, Hadith, Wayang, Halal, Talaq, Guru, Imam, Masjid, Sambal, Jihad, bahkan Bismillah, dan lain sebagainya…. adalah kata-kata yang sudah sah menjadi Bahasa Inggris dan boleh dimainkan dalam Scrabble berbahasa Inggris.

Catatan:

Amerika Serikat baru mengakui kata ‘Zakat’ dan ‘Talaq’ menjadi bahasa Inggris pada tahun 2005, saat diterbitkannya “The Official Scrabble Players’ Dictionary” edisi 4 (OSPD4).

Komunitas Virtual Scrabble® (I)

In Serba Serbi on Jumat, 24 Agustus 2007 at 9:47 pm

a scrabble setScrabble dictionary (USA)Scrabble dictionary (UK)

Dictionnaire de Scrabble (France)

Keterangan Gambar (searah jarum jam dari atas):

Seperangkat Permainan Scrabble®, Kamus Scrabble® versi Amerika Serikat, Kamus Scrabble® versi Inggris, dan Kamus Scrabble Perancis.

Ini adalah pengalaman ‘virtual’ atau ’semi-virtual’ lainnya selama saya mengenal internet. Ya, permainan Scrabble®, Saya mengenal permainan ini kira-kira tahun 1978, waktu saya kelas 4 SD. Saat itu saya pertama kali dibelikan oleh ayah saya seperangkat permainan Travel Scrabble®, asli buatan Inggris, buatan J.W. Spears & Sons. Ltd. Perangkat itu walaupun kini telah berusia hampir 30 tahun, masih saya simpan dengan baik! Dan keadaannyapun masih cukup baik. Hanya saja beberapa tile, kakinya sudah ada yang patah karena terbuat dari plastik, dan tidak bisa menempel sempurna di papan permainan. Namun secara umum keadaan perangkat permainan itu masih dalam kondisi bagus. Pada awalnya saya yang waktu itu lebih suka catur dari Scrabble®, (sekarang catur juga masih suka sih!), tidak menyangka bahwa permainan inilah yang pada akhirnya kelak memperkenalkan saya pada dunia chatting di Internet! Dari chatting di Internet ini saya mengetahui bahwa di Amerika Serikat dan di negar-negara Commonwealth, Scrabble sudah mempunyai kompetisi yang mantap di tingkat nasional masing-masing dan dapat dikatakan sudah berkembang menjadi perminan semi profesional. Bahkan sudah ada kejuaraan dunia Scrabble yang diadakan setiap dua tahun sekali! Untuk tahun ini kejuaraan dunia Scrabble akan diadakan di Mumbai, India.

Permainan Scrabble inipun mempunyai kamus tersendiri. Ini disebabkan karena banyak versi kamus yang beredar, yang di setiap kamus mempunyai standard yang berbeda-beda, maka dibuatlah kamus resmi permainan Scrabble yang menjadi acuan para pemain Scrabble. Versi pertama kamus Scrabble ini terbit tahun 1978 dengan nama The Official Scrabble® Player Dictionary di Amerika Serikat. Namun saya baru mempunyainya di tahun 1981. Tahun 1986, ketika saya mengunjungi Perancis bersama ayah saya (dan seluruh keluarga), saya berkenalan dengan Scrabble khusus bahasa Perancis, yang sedikit berbeda dengan perangkat Scrabble yang berbahasa Inggris. Jikalau dalam Scrabble Inggris, jumlah huruf adalah 100, sedangkan dalam Scrabble Perancis jumlah huruf adalah 102. Bukan itu saja, distribusi huruf dan nilai hurufpun berbeda. Misalnya jika dalam Scrabble Inggris jumlah huruf ‘E’ adalah 12, dalam Scrabble Perancis 15, atau huruf ‘W’ yang dalam Scrabble Inggris berjumlah 2 buah sedangkan di Scrabble Perancis hanya 1. Begitupula dalam Nilai dalam suatu huruf juga berbeda. Misalnya dalam Scrabble Inggris, nilai huruf ‘Q’ adalah 10, sedangkan di Scrabble Perancis hanya 8. Dalam kesempatan itu saya juga membeli kamus Dictionnaire Scrabble de Poche du jeux lettres, sebuah kamus Scrabble Perancis. Kamus Scrabble ini sebenarnya susunannya cukup membingungkan karena penyusunannya bukan berdasarkan alfabet murni tapi juga berdasarkan panjang pendeknya kata.

Perkenalan saya dengan dunia chatting dimulai tahun 1997, waktu itu saya tengah mencari-cari permainan Scrabble elektronik dengan menggunakan komputer. Sebenarnya saya sudah punya software bajakannya namun sungguh tak memuaskan saya, karena jikalau pakai level yang paling tinggi, itu komputer mikirnya lama sekali. Akhirnya setelah mencari2 ke sana ke mari di dunia maya, akhirnya saya menemukan freeware bernama Networdz yang 100% mirip dengan Scrabble di situs milik wanita bernama Tina Andrews seorang wanita asal Chicago, Amerika Serikat yang telah meninggal dunia tahun 2001 lalu akibat AIDS. Dari homepage Tina ini pula aku mengenal chat client yang bernama mIRC tempat di mana kami para penggemar permainan Scrabble berkumpul di channel #scrabbleOn dan #scrabblebuds (yang sekarang sudah lama bubar!). Di sinilah saya mulai berkenalan dengan dunia chatting.

Ok. Cerita ini masing bersambung. Saya sudah lelah mengetiknya hari ini. Pada bagian II nanti saya akan menceritakan bagaimana “pertempuran” antara kubu Amerika Serikat dan Inggris memperebutkan pengikutnya di Internet. Dan juga saya akan menceritakan orang2 yang saya kenal baik (di antaranya sampai sekarang) lewat permainan Scrabble online ini, termasuk Tina Andrews yang saya kenal baik bukan hanya lewat chat tapi juga lewat pembicaraan telepon beberapa kali.

Sorry belum ada postingan!

In Serba Serbi on Selasa, 21 Agustus 2007 at 12:44 pm

Untuk para pembaca yang budiman! ehm…ehm…. sorry ya…. belum ada postingan…soalnya tanganku ini masih belum sembuh benar dari terkilir sehabis lomba panjat pinang di kantorku dalam rangka 17 Agustusan, hari Minggu lalu. Jadi saya lagi agak malas mengetik terlalu lama.

Ceritanya saya mengikuti pertandingan 17 Agustusan, yang diadakan lusanya hari Minggu tanggal 19 Agustus (karena tanggal 17nya beberapa di antara kita masih capek sepulang dari Bangkok, malam sebelumnya) yang disponsori bersama oleh kantorku dan juga beberapa kantor yang dekat-dekat situ (Sebenarnya bukan disponsori oleh kantor sih, wong duitnya juga dari kita-kita juga! Nggak ada dana khusus buat 17 Agustusan resminya kalau dari kantor, mah!). Permainannyapun bermacam2 ada yang tradisional macam lomba balap karung, tarik tambang sampai lomba2 unik macam lomba makan krupuk tapi di ketinggian 3 meter, hingga menangkap belut, dsb. Tadinya aku cuma didaftarkan untuk main Voli sama main Futsal aja, tapi berhubung karena pada lomba panjat pinang pesertanya agak kurang, maklum peserta panjat pinang kali ini sangat ‘istimewa’ karena yang ikut harus bapak-bapak eksekutif yang manja-manja yang sudah lama tidak pernah diterpa secara fisik yang usianya di antara 30-40 tahun. Untuk itu panjang pinang dibuat agak pendek. Namun biar seru peserta diwajibkan memakai sarung! Tadinya aku malas, setelah teman2ku membujukku habis2an, akhirnya aku mau! Dengan syarat aku nggak jadi main Voli, karena aku hanya ingin ikut 2 pertandingan saja. Ya udah, setelah pertandingan Futsal (untung timku kalah 2-4, jadinya hanya main sekali aja! hehehe…!), Siang harinya pukul 14.00, dimulai deh tuh panjat pinang “yang unik” tersebut! Namun beberapa menit sebelum dimulai, ada ibu-ibu yang nyeletuk, bilangnya supaya bapak2nya jangan pakai celana panjang dibalik sarungnya, biar seru katanya! Alamak! Dasar ibu-ibu, bangsa kayak beginian idenya kreatif sekali! Spontan saja aku yang waktu itu kebetulan lagi, maaf, go commando, langsung protes. Kalau kayak begini, aku nggak mau ikut, tentu saja aku nggak mau kasih tahu alasanku yang sebenarnya kalau aku lagi go commando. Kalau sarungku merosot nanti, apa kata dunia?? Nanti reputasiku di kantor sebagai orang yang berwibawa bisa luntur! Ada juga salah seorang peserta, rekan kerjaku juga, yang keberatan. Akhirnya pada saat mereka berembuk mengenai peraturan, aku diam-diam menyelinap ke luar, untung ada toko kelontong yang buka, aku beli aja GT-Man boxer, hehehe…. cukup deh untuk menyelamatkan ‘kehormatanku’ apabila sarungku merosot nanti dalam pertandingan!

Akhirnya setelah berembuk, keputusan telah diambil: bahwa pertandingan panjat pinang untuk bapak2 tetap dilanjutkan dengan memakai sarung tanpa memaki celana luar di balik sarung! Yo wis lah, aku udah siap kok, udah pakai GT-Man Boxer ini di dalam pikirku! Pendek kata  pas saat panjat pinangnya, jangan tanya deh, sarung-sarung udah pada piknik ke sana ke mari! Dan sialnya juga tanganku terkilir, gara-gara temanku yang beratnya hampir 80 kilo (persisnya berapa entah!) berusaha naik melalui tubuhku yang akhirnya membuat tanganku terkilir. Ya udah deh! Tapi syukur alhamdulillah nggak ada yg patah! Cuma ya ini, hari ini masih terasa meskipun sudah agak berkurang nyerinya. Tapi kalau tangan tegang sedikit masih terasa nyerinya. Mangkannya aku hari ini cuma bisa mengirimkan postingan yang konyol, nggak bermutu seperti ini! Sorry ya! :D

Menjadi “lebih muda” dengan Dilatasi Waktu dari Einstein

In Pengetahuan on Jumat, 17 Agustus 2007 at 2:24 pm

Sewaktu saya kecil dahulu tahun 1970an, saya sering berkhayal seperti apa hidup di tahun 2000 kelak. Maklum namanya anak kecil yang suka nonton TV, dan sangat suka film-film science fiction semacam Lost in Space ataupun Star Trek, saya membayangkan hidup tahun 2000 sudah penuh dengan kemajuan-kemajuan yang seperti saya lihat di televisi, misalnya robot-robot yang berkeliaran di sana-sini membantu pekerjaan manusia, dan juga perjalanan-perjalanan antarplanet bahkan antargalaksi yang sudah menjadi kebiasaan pada saat tahun 2000 kelak.

Meskipun kini saya dan kita semua tahu bahwa tahun 2000 ternyata perubahan kehidupan tidak sedramatis seperti yang saya bayangkan sewaktu saya masih kecil, namun khayalan saya tentang nikmatnya perjalanan ruang angkasa tidak pernah sepi dari fikiran saya. Saya kini mengetahui bahwa perjalanan angkasa luar ke galaksi-galaksi yang jauh dan bertemu dengan makhluk-makhluk asing yang cerdas masih jauh api dari panggang, bukan hanya dihambat oleh jauhnya jarak-jarak antargalaksi, namun juga saya kini mengetahui bahwa menurut teori relativitas Einstein, tidak ada satu bendapun yang dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya yaitu secepat 3\:X\:{10}^{8} meter/detik, atau sekitar 1.080.000.000 km/jam. Mungkin banyak juga makhluk-makhluk cerdas di luar angkasa sana yang sama frustasinya dengan kita karena tidak dapat menjelajahi alam semesta melebihi kecepatan cahaya. Ini masalahnya bukan hanya keterbatasan teknologi, tapi juga hukum alam yang sangat sulit dibengkokkan oleh teknologi semaju apapun!

Teori relativitas Einstein, menguak sedikit harapan di antara keputusasaan manusia dalam menempuh perjalanan luar angkasa yang jauh dan memakan waktu lama. Andaikan kita menempuh perjalanan waktu ke sebuah bintang yang letaknya 100 tahun cahaya, maka jikalau tidak ada benda yang dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya, menurut teori Fisika klasik, maka minimal waktu yang dibutuhkan untuk mencapai bintang tersebut adalah 100 tahun lebih sedikit. Namun dengan diformulasikannya teori relativitas Einstein yang berkenaan dengan dilatasi waktu, maka perjalanan yang memakan waktu 100 tahun tersebut dapat ‘dipersingkat’ (awas dalam tanda kutip!) menjadi puluhan tahun,  belasan, atau  bahkan satuan tahun!

Teori relativitas khusus Einstein sebenarnya ada empat: yaitu yang mencakup: Pemendekan Panjang (Length Contraction), Pemelaran Waktu/Dilatasi Waktu (Time Dilation), Penambahan Massa (Mass Increase), dan juga hubungan antara energi dan massa yang terkenal dengan rumusnya: e=m{c}^{2}. Namun yang paling mempesonakan saya adalah masalah Dilatasi Waktu/ Pemelaran Waktu (Time Dilation) saja, yang akan saya tulis dalam postingan ini.

Nah, karena saya bukan ahli Fisika, saya mengharapkan jikalau ada kesalahan dalam tulisan saya ini atau kalau ada yang perlu ditambahkan, terutama mereka yang ahli fisika, tentu saya sangat berterimakasih atas kontribusinya. Hasil tulisan saya ini adalah penyederhanaan dari berbagai situs yang saya baca tentang Dilatasi Waktu/Time Dilation.

Hubungan antara waktu (baik waktu pengamatan pada saat diam ataupun waktu pada saat bergerak), kecepatan cahaya dan juga kecepatan benda bergerak adalah sebagai berikut:

{t}_{1}=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{v}^{2}}{{c}^{2}}}}

dimana {t}_{1} waktu pada benda diam, sedangkan t_o adalah waktu pada benda bergerak, v adalah kecepatan benda bergerak, sedangkan c adalah kecepatan cahaya yaitu: 3\:X\:{10}^{8}\:\frac{m}{s} atau 1.080.000.000 \frac{km}{jam}. Sekarang kita ambil contoh misalkan kita bergerak dengan mobil kita terus menerus selama 100 tahun (misalkan! :D ) dengan kecepatan 100 km/jam. Mula-mula kita konversikan dulu kecepatan 100 km/jam menjadi 27.8 meter/detik. Bagi mereka yang belum bi(a)sa mengkonversikan dari satuan km/jam menjad meter/detik, caranya adalah sebagai berikut:

100 \frac{km}{jam}\:=\:100 \frac{km}{jam}\:X\:\frac{1000\:m}{1\:km}\:X\:\frac{1\:jam}{3600\:detik}\:=\:27.8\frac{m}{detik}

Lalu sesudah itu kita masukkan kecepatan tersebut ke dalam rumus dilatasi waktu seperti di atas:

{t}_{1}=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{v}^{2}}{{c}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{27.8}^{2}}{({3\:X\:{10}^{8})}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{772,84}{9\:X\:{10}^{16}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{1}

{t}_{o}\:=\:100

Dengan memakai kalkulator kita tentu dengan mudah dapat menghitungnya. Kita dapat melihat di sini bahwa kalau kita bergerak ‘hanya’ dengan kecepatan 100 km/jam dalam waktu 100 tahun, maka waktu pada benda diam dan waktu pada benda bergerak perbedaan sangat sangat sangat kecil sekali, sehingga bisa diabaikan. Alias 100 tahun pada benda diam sama dengan 100 tahun pada benda yang bergerak secepat 100 km/jam. Nah, sekarang coba kalau kita naik pesawat ruang angkasa dengan kecepatan 0,7 kali kecepatan cahaya (0,7c) atau 0,7 X 1.080.000.000 km/jam = 756.000.000 km/jam. Kita masukkan ke dalam rumus, maka: 

{t}_{1}=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{v}^{2}}{{c}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{(0,7c)}^{2}}{{c}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{0,49c}^{2}}{{c}^{2}}}}

100=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\:0,49}}

100=\frac{{t}_{o}}{0,714}

{t}_{o}=71.4

Maka terlihat bahwa 100 tahun waktu di Bumi sama dengan 71.4 tahun waktu di pesawat luar angkasa yang melakukan perjalanan selama 100 tahun di Bumi. Sekarang kita coba masukkan kecepatan 0,8c, 0,9c, 0,95c, 0,99c, 0,999c ke dalam rumus di atas dan hasilnya:

0,8c ——-> t_o = 60 tahun

0,9c ——-> t_o = 43,6 tahun

0,95c ——> t_o = 31.2 tahun

0,99c ——> t_o = 14,1 tahun

0,999c —–> t_o = 4,48 tahun

Di atas kita melihat bahwa 100 tahun di Bumi sama dengan 4,48 tahun (kira2 4 setengah tahun lah!) waktu di pesawat angkasa yang bergerak dengan kecepatan 0,999c selama 100 tahun Bumi. Ini adalah setitik harapan bagi kita yang ingin menjelajahi bintang-bintang di galaksi lain yang jauhnya. Namun tentu saja ini bukan perkara yang mudah, selain kendala teknologi juga untuk menerbangkan pesawat luar angkasa yang besar dengan kecepatan 0,999c tentu memerlukan energi yang sangat sangat sangat besar, seluruh cadangan energi organik yang ada di Bumi sekarang belum tentu bisa menerbangkan pesawat luar angkasa ini sampai ke ujung galaksi, apalagi sampai ke galaksi lain! Untuk itu perjalanan angkasa seperti ini nampaknya belum akan terwujud dalam waktu dekat ini.

Nah apakah anda tertarik untuk mengarungi luar angkasa dengan kecepatan 0,999c seperti ini agar ‘lebih awet muda’? ‘Awet muda’ di sini dalam tanda kutip karena memang andaikan kita mengarungi angkasa selama 4,5 tahun dengan pesawat angkasa tersebut (yang sama dengan 100 tahun di Bumi) kita memang hanya merasakan 4,5 tahun seperti 4,5 tahun hidup normal di Bumi, bukan merasakan 100 tahun di Bumi dengan badan tetap muda yang hanya bertambah 4,5 tahun! Bukan! Sekarang, andaikan kita kembali dari perjalanan ruang angkasa kita (yang kita rasakan hanya 4,5 tahun) kembali ke Bumi, ternyata Bumi telah berubah selama 100 tahun secara teknologi dan sosio-kultural. Kita merasa sangat terasing di Bumi kita, kita melihat peralatan canggih dan teknologi yang belum kita kenal pada saat kita berangkat dari Bumi. Peradaban dan sosio-kultural juga mungkin sudah berubah banyak selama 100 tahun belakangan di Bumi. Dan yang paling membuat kita sedih adalah orang-orang yang kita kenal dan kita cintai mungkin sudah lama meninggalkan kita………

Skala Richter

In Pengetahuan on Rabu, 15 Agustus 2007 at 6:56 am

Pada dini hari, sekitar tengah malam, Kamis (9/8) kita semua telah mengetahui adanya gempa bumi di Laut Jawa sebagai epicentre-nya, Menurut salah satu surat kabar yang saya baca, gempa yang katanya berkekuatan sekitar 7 skala richter ini ternyata cukup terasa di bagian Indonesia lainnya, tidak hanya di Jawa bagian barat.

Saya, yang pada waktu itu masih dikantor, karena kesibukan yang meningkat, dan harus berada di kantor selama 48 jam, pada saat gempa terjadi kebetulan sedang tertidur di sofa di tempat ruangan aku bekerja karena keletihan. Ketika gempa mulai terasa, aku terbangun dari tidurku walaupun dalam keadaan mengantuk. Kulihat jam dindingku ternyata waktu menunjukkan pukul 00.04, kulihat pula lampu gantung yang ada di ruang kerjaku bergoyang. Karena aku masih dalam keadaan setengah mengantuk yang terfikir pertama kali dibenakku adalah hal-hal yang bodoh seperti “ini goyang karena angin atau hantu ya??”, begitu pertama kali fikiran yang terlintas dalam benakku. Tapi sesaat kemudian akupun melihat air teh yang bekas aku minum di gelas, permukaannya juga ikut bergoyang, dan aku juga melihat laptop-ku yang masih menyala dengan charger-nya karena sebelum aku tertidur aku sempat mengirim e-mail untuk seorang rekan blogger tersayang, bergetar dan beradu dengan meja kecil yang permukaannya tidak rata di mana ia diletakkan dan membuat bunyi yang meskipun tidak begitu gaduh tapi cukup membikin telingaku risih.

Sesaat kemudian ada satpam yang masuk ke ruang kerjaku untuk mengajakku keluar dari bangunan kantor, lalu sesaat kemudian pula datang rekan sekantorku yang warga negara Malaysia keturunan India, yang mengajakku untuk keluar ruangan pula. Karena melihat aku masih mengantuk si Malaysia-India ini langsung menarik tanganku sambil berkata:

“Move your arse, dear! Don’t think! Just race to the exit! Ok?” “Ayo cepat bangun! Nggak usah mikir! Lari aja ke pintu keluar! Ok?” begitu katanya. Aku yang waktu itu belum pakai sepatu langsung berlari ke luar gedung dan kulihat sudah banyak orang berkumpul sambil ribut membicarakan gempa. Tapi alhamdulillah tak lama setelah aku keluar, gempapun berhenti dan tidak ada kerusakan di gedung sama sekali.

Namun dalam postingan kali ini saya tidak ingin menceritakan tentang gempa tersebut kepada anda melainkan saya akan membahas sedikit tentang skala Richter terutama dalam membandingkan kekuatan antar dua buah gempa dalam skala Richter. Sebenarnya artikel ini pernah saya tulis dalam bahasa Inggris di sini namun tidak ada salahnya saya tuliskan lagi dalam bahasa Indonesia dengan latar belakang yang berbeda.

Skala Richter pertama kali dikembangkan oleh ahli seismografi asal Institut Teknologi California bernama Charles Richter yang dibantu koleganya Beno Guttenberg di tahun 1935. Skala Richter ini didasarkan pada pengukuran-pengukuran yang dilakukan oleh alat yang bernama seismograf yang paling idealnya (menurut salah seorang ahli geologi Jepang yang saya lihat di sebuah acara di stasiun TV NHK World lewat jaringan TV kabel) diletakkan sekitar 100 km atau 62 mil dari pusat gempa (epicentre). Skala Richter ini merupakan skala logaritmik, bukan skala aritmatik. Jadi misalnya ada dua buah gempa, yang satu berkekuatan 2 skala Richter, yang satu lagi berkekuatan 4 skala Richter, bagi mereka yang belum tahu mungkin akan mengira bahwa gempa yang berkekuatan 4 skala Richter ini berkekuatan 2 kali dari gempa yang berkekuatan 2 pada skala Richter. Perkiraan itu salah, pada kenyataannya gempa yang berkekuatan 4 pada skala Richter tersebut berkekuatan 100 kali dari gempa yang berkekuatan 2 pada skala Richter. Lha, dari mana angka 100 itu? Mudah saja, untuk mengerti skala logaritma tidak memerlukan keahlian matematika khusus, cukup hanya bekal ilmu matematika setingkat SMP saja. Sayapun bukan ahli matematika dan dapat mengerti dengan cukup baik skala Richter ini, anda tentu juga akan mudah untuk mengerti skala Richter ini.

Misalkan: gempa X berkekuatan 4 skala Richter, dan gempa Y berkekuatan 2 pada skala Richter, maka:

log X = 4, maka X = {10}^{4} = 10.000.

log Y = 2, maka Y = {10}^{2} = 100

maka kekuatan gempa X adalah \frac{{10}^{4}}{{10}^{2}} atau \frac{10.000}{100} = 100 kali kekuatan gempa Y.

Nah, sekarang coba kita bandingkan kekuatan gempa di perairan Sumatra 2004 yang mengakibatkan tsunami besar di berbagai negara Asia yang berkekuatan 9,2 skala Richter (menurut yang tercatat di salah satu stasiun gempa di AS) dengan gempa bumi San Francisco di Amerika Serikat tahun 1989 yang berkekuatan 7,1 pada skala Richter. Misalkan gempa di Sumatra kita singkat jadi Sm, dan gempa di San Francisco kita singkat jadi Sf.

Log Sm = 9,2, maka Sm = {10}^{9,2} = 1,58\:\times\:{10}^{9}

Log Sf = 7,1 maka Sf = {10}^{7,1} = 1,26\:\times\:{10}^{7}

Jadi kekuatan gempa Sm adalah \frac{1,58\:\times\:{10}^{9}}{1,26\:\times\:{10}^{7}} = 125,4 kali kekuatan gempa Sf.

Mudah bukan?

Strine!

In Serba Serbi on Sabtu, 11 Agustus 2007 at 6:50 am

Australia's coat of arms

Bagi mereka yang sudah jadi ABG di tahun 1980an tentu tahu grup musik pop tahun 1980an asal Australia, Men at Work. Lagunya yang terkenal adalah Down Under. Liriknya adalah sebagai berikut:

Travelling in a fried-out combie, on a hippie trail head full of zombie, I met a strange lady, she made me nervous, she took me in and gave me breakfast. And she said..

Do you come from the land down under? Where beer does flow and men chunder…. dst..

Kalau anda terakhir bingung dengan kata terakhir “chunder” di atas dan mencoba di berbagai macam kamus mulai dari kamus anak-anak standar Inggris-Indonesia karangan John M. Echols dan Hassan Shadily keluaran Gramedia yang terkenal dari tahun 1970an itu, hingga kamus canggih macam Oxford Advanced Learner’s Dictionary hingga Webster’s New Collegiate Dictionary, dan anda tetap tidak menemukan kata tersebut, jangan khawatir, anda tidak sendiri. Sayapun yang pada tahun 1980an menyenangi lagu tersebut, berusaha mencari tahu arti kata tersebut, sebelum mengetahui bahwa kata tersebut adalah sebuah kata Strine. Strine?? Apa itu? Strine adalah Australian English atau bahasa Inggris Australia yang tentu saja khas Australia. Untuk itu tentu saja akan susah mencari kata tersebut, dan juga kata-kata Strine lainnya di kamus standard.

Dan berikut ini akan saya berikan beberapa kata dari Strine, yang maaf tidak saya susun secara alfabetis karena saya tulis menurut apa yang kebetulan saya ingat di kepala saya saja. Jadi maaf kalau tidak tersusun secara alfabetis. Terima kasih banyak untuk stasiun televisi Australia Network yang telah banyak membantu saya dalam mengerti Strine.

Chunder = muntah

bikies = pengendara sepeda motor

shitbox = mobil bobrok yang sering mogok2an

nulla-nulla = tongkat kayu yang sering dipakai kaum Aborigine Australia

joey = anak kangguru atau kangguru kecil Wallaby

sheila = perempuan/cewek

banana bender = penduduk Queensland (salah satu negara bagian di Australia Timur)

jumbuck = domba

amber fluid = bir

schooner = gelas bir yang berukuran 425 ml (di New South Wales) atau kalau di South Australia, gelas bir yang berukuran 285 ml.

wobbly boot = mabuk

on the piss = sedang minum alkohol

sanger = sandwich

drongo = orang bodoh

galah = orang goblok yang suka ngomong atau berisik

journo = jurnalis/wartawan

Taswegian = penduduk Tasmania

garbo = petugas pemungut sampah

milko = tukang penjual susu

sandgroper = penduduk Western Australia (provinsi Australia Barat)

cobber = teman/sahabat

shotline = jalan setapak yang terdapat di banyak semak-semak yang biasanya dibuat seadanya

willy-willy = angin puting beliung

clobber = baju

bathers = pakaian renang (di Victoria)

cozzie = pakaian renang (di New South Wales)

never-never = daerah yang sangat terpencil

arvo = siang hari

flat out = sibuk sekali

knackered = lelah sekali

too right! = tentu saja!

dinkum/fair dinkum = jujur atau asli

good on ya! = bagus! bagus!

shonky = nggak bisa diharapkan

no-hoper = keadaan yang hopeless atau tidak ada harapan

Nah, untuk sementara hanya segitu saja yang ingat! :D

“Go Digital !”

In Perilaku on Jumat, 10 Agustus 2007 at 9:08 pm

binary code 

Posting ini ada hubungannya dengan kegemaran saya mengkoleksi berbagai macam peralatan digital yang bervariasi mulai dari arloji hingga PDA. Semuanya berawal dari tahun 1977, waktu itu saya masih kelas 3 SD. Waktu itu untuk pertama kalinya saya dibelikan jam digital bermerk Texas Instruments yang dibeli ayah saya sewaktu beliau pulang dari Los Angeles, California. Waktu itu jam digital masih sangat langka dan teknologinyapun masih menggunakan teknologi ‘zaman batu’. Teknologi yang dipakai mungkin jauh lebih primitif dibandingkan jam digital zaman sekarang yang harganya cuma Rp. 10.000,-. Saya masih ingat ‘norak’nya jam tersebut, kalau mau melihat waktu, jam tersebut harus dipencet dulu salah satu tombolnya sehingga angka digital yang menunjukkan waktu akan terlihat. Sebab kalau display-nya menyala terus, akan segera menyedot banyak energi dari baterai tersebut yang mungkin baterai tersebut akan kering dalam waktu beberapa menit jika display-nya jalan terus. Maklum teknologi yang dipakai masih teknologi LED, yang sangat boros energi. Tanpa dinyalakan teruspun, baterai jam tangan tersebut hanya bertahan kurang dari 2 bulan. Dan berhubung pada zaman itu di Indonesia masih susah mencari baterai kancing untuk jam tangan seperti itu, maka jam tangan itu akhirnya berakhir di gudang rumah alias nggak bisa dipakai lagi.

Tonggak sejarah berikutnya (ta’ela!)  dalam perjalanan “Go Digital!” ku adalah di tahun 1981, di mana waktu itu untuk pertama kalinya aku dibelikan kalkulator. Walaupun yang dibeli adalah kalkulator tukang sayur (karena cuma bisa mengoperasikan 4 operasi dasar aritmatika ditambah ‘persen’ dan akar) namun kalkulator tersebut bisa berfungsi sebagai jam, alarm, stopwatch, dsb. Untuk zaman itu kalkulator tersebut sudah terbilang cukup canggih! (Kalau buat standard zaman sekarang mah, norak!).

Berikutnya adalah tahun 1983. Waktu itu untuk pertama kalinya aku dibelikan komputer. Ya, komputer yang dibelikan untuk saya waktu itu adalah Apple II, wah, jangan disamakan sama komputer-komputer zaman sekarang deh! Color Display-nya aja masih 4 warna dan masih menggunakan dua buah sistem operasi yaitu: DOS generasi pertama dan CPM (singkatan dari apa CPM udah lupa saya!). Perangkat lunak yang populer waktu itu adalah WordStar (program Word Processor mirip MS-Word cuma jauh lebih primitif! Dan jangan mengharapkan teknologi WYSIWYG pada waktu itu!), terus PrintShop (untuk bikin kartu undangan, kalender, kop surat, dsb.), dan juga dBase II (alamak!).  Tapi karena program-programnya membosankan, akhirnya aku lebih banyak bermain game yang memang jauh lebih menarik. Akhirnya itu komputer jadinya lebih mirip game watch Nintendo atau video game Atari yang waktu itu sangat populer. Namun komputer tersebut bernasib tragis! Karena aku sering main game dan bukannya malah pintar mengoperasikan komputer, ayahku jadi kesal! Itu komputer akhirnya diambil dan dibuang oleh ayahku! (Yeee… salahnya sendiri…. siapa yang ngebeliin….!! Weeeekz :P ). Namun akhirnya setelah beberapa tahun ayahku ‘trauma’ membelikan aku komputer, pada akhirnya (setelah merengek2 seperti anak manja! ralat: emang anak manja! Maklum aku anak paling ganteng dibandingkan ketiga saudariku yang perempuan semua! Huehehehe….) dibelikan juga komputer IBM-PC XT, yang menjadi cikal bakal komputer-komputer berbasis Intel zaman sekarang. Namun sebenarnya kemampuan IBM-PC XT ini (yang cuma punya RAM 640 kb, tidak ada harddisk, dan jangan bermimpi multimedia!) nggak kalah ‘dodol’nya sama komputer Apple II-ku yang dulu, monitornya juga masih yang CGA atau 4 warna. Wah pokoknya dibandingkan PDA-ku sekarang aja, masih canggihan PDA-ku! Lantas komputerku silih berganti sesuai dengan “tuntutan zaman”!

Sampai akhirnya tahun 1993, di sini aku mulai mengenal modem. Waktu itu komputerku sudah multimedia dan komputer multimedia waktu itu memang mulai menjamur. Yang belum ada waktu itu hanyalah DVD-RW atau CD-RW. CD-ROM sayapun waktu itu baru yang 4X, segitu juga yang paling canggih di zamannya! Modem generasi pertama saya, yang saya beli waktu itu adalah modem dial-up dengan speed hanya 2400 bps! (Menyedihkan, bukan??) Waktu itu, Internet belum populer, yang populer waktu itu adalah BBS (Bulletin Board System) yang banyak bermunculan dengan sistem dial langsung. Jadi kalau mau ganti BBS, sebelnya, harus dial lagi dari awal, nggak bisa langsung seperti Internet zaman sekarang ini. BBS favoritku waktu itu adalah Departemen Perindustrian, dan juga BBS Multicom yang selalu lumayan ramai. Waktu itu ada juga BBS luar negeri yang rajin saya kunjungi, di antaranya salah satunya BBS salah satu radio di Amerika (saya lupa nama stasiun radionya). Namun resikonya ya itu dia, kalau mau dial BBS luar negeri yang terpaksa harus pakai SLI 001 (waktu itu yang ada cuma itu!). Pernah satu kali aku dial BBS di Amerika malam hari jam 11, terus akunya ketiduran, baru bangun lagi jam 5 pagi, aku baru sadar kalau modem jalan terus!!  Jadinya pulsa SLI jalan terus selama itu! Wah bapakku ngamuk2 nggak karuan! Tapi untung modem-ku nggak dicabut, entah lupa atau entah karena kasihan denganku. Ah, sebodo amir! Yang penting aku bisa terus menikmati BBS! Hehehehe…. :D O iya, modemku yang pertama ini, syukurlah anda-anda yang membaca posting ini mungkin tidak pernah mengalami menggunakan modem yang belum ada “automatic correction mode” nya, sehingga karakter-karakter sampah (rubbish characters) waktu itu bisa memenuhi layar komputer anda, tergantung bersihnya line telepon anda. Kalau udah ada karakter-karakter sampah, bikin frustasi deh, harus direload berkali-kali, bahkan kadang-kadang di-reload bukan semakin sedikit karakter sampahnya malah semakin banyak! Menyebalkan!

Sementara tonggak waktu sejarah “Go Digital”-ku berlanjut dengan perkenalanku dengan Internet di tahun 1994. Waktu itu di Jakarta Internet provider yang ada yang saya ketahui hanya PT Solusindo yang memegang lisensi Internet provider global dengan nama ibm.net (bukan ibm.com lho!). Selain di Jakarta saya juga sempat berlangganan Internet juga di Bandung pada tahun segitu. Provider yang ada pada waktu itu di Bandung hanyalah Melsa, yang waktu itu kalau nggak salah masih memakai domain giok.net. Noraknya waktu itu, Melsa hanya menyediakan 2 macam pelayanan internet saja yaitu hanya e-mail dan usenet. Browsing atau World Wide Web belum dimasukkan ke dalam servis Melsa waktu itu. Pengoperasiannya juga agak rumit karena sistemnya adalah UNIX-shelled pada sistem operasi DOS. Jadinya pengoperasiannya lewat command2 UNIX yang agak rese. Wah pokoknya syukur deh, bagi kalian yang tidak mengalami masa2 itu. Sedangkan servis dari IBM.NET (solusindo) sudah sedikit maju karena sudah bekerja di sistem operasi Windows (waktu itu masih Windows 3.1), dan sudah ada World Wide Web. Browser yang populer pada saat itu adalah Netscape (entah masih ada apa nggak ya, itu browser sekarang! Hehehe….). World Wide Web pada zaman itu masih sederhana, kebanyakan masih berupa teks. Boro-boro ada wordpress seperti sekarang, adanya dulu hanya teks dan gambar-gambar mati (animated GIF-pun belum ada waktu itu!). Pokoknya sepet mata kalau browsing pada waktu itu, mana kalau loading lamanya minta ampun padahal modem-nya waktu itu sudah termasuk canggih yaitu U.S. Robotics 14.4 kbps, tapi tetap saja lambat!

Yah begitulah sekelumit perjalanan “Go Digital” ku mulai dari zaman kuda gigit bakwan hingga zaman robot gigit pizza zaman sekarang di mana sekarang saya bisa menikmati berbagai macam broadband mulai dari ADSL, cable, 3.5G hingga Wi-Fi. Tapi yang mengherankan kenapa saya yang termasuk generasi pertama yang memakai Internet, tapi baru sekitar dua bulan yang lalu saya mulai belajar blogging ya??? Huehehehe….!!

Ah! Enaknya bersantai di rumah!

In Uncategorized on Selasa, 7 Agustus 2007 at 11:13 am

Kami berlima (Saya, boss, dan tiga rekan saya yang lain), setelah berakhir minggu di Bangkok dengan segudang acara2 informal yang bodoh, seperti dinner, little parties,peninjauan lokasi tempat usaha, main golf, dan sederetan kegiatan informal lainnya bersama rekan2 bisnis si boss dan pihak berwenang dari locality  setempat, rasanya enak sekali bisa sedikit bersantai di rumah dan di kantor di tanah air. Tapi minggu depan saya harus balik lagi ke Bangkok! Dan di tanah air sederetan2 pekerjaan masih menanti saya baik di Bandung ataupun di Jakarta.

Yo wis, aku lagi malas posting nih :( Segini aja dulu postingannya. Lagi nggak mood.

Antara Munir, Napoleon dan Arsenik

In Kehidupan on Kamis, 2 Agustus 2007 at 9:58 am

Masih ingat Munir? Aktivis HAM kita yang katanya diracun Arsenik? Meskipun hingga kini kontroversi kematian Munir masih simpang siur, tapi ternyata Munir tidak sendirian dalam ‘mengkonsumsi’ racun hingga ia tewas. Kaisar Perancis yang terkenal yaitu Napoleon dicurigai mengalami nasib yang sama, meskipun cara masuknya zat arsen ke dalam tubuh sang kaisar berbeda dengan cara masuk zat tersebut ke tubuh Munir, aktivis HAM kita.

Setelah kekalahannya di Waterloo tahun 1815, Napoleon diasingkan di pulau St. Helena, sebuah pulau kecil di lautan Atlantik di mana ia menghabiskan sisa hidupnya. Di tahun 1960an, atau kira-kira 140 tahun setelah Napoleon wafat, sampel rambut sang kaisar dianalisa dan ternyata mengandung zat arsenik dalam konsentrasi yang tinggi, ini menandakan bahwa sang kaisar ‘telah diracun’. Mula-mula tersangka utamanya adalah gubernur St. Helena sendiri, karena sang gubernur sering kali terlihat tidak akur dengan sang kaisar. Sedangkan tersangka berikutnya adalah anggota keluarga kerajaan Perancis waktu itu yang sangat menentang kepulangan Napoleon ke Perancis.

Secara elemental sebenarnya arsenic tidak begitu berbahaya. Zat arsen yang berbahaya adalah dalam bentuk senyawa Arsen(III) oksida, As2O3, senyawa yang berwarna putih ini larut dalam air, dan tidak terasa di lidah (senyawa ini yang diduga dipakai untuk meracuni Munir). Sering senyawa ini disebut dengan ‘bubuk warisan’ karena seringkali digunakan oleh mereka yang ingin cepat-cepat mendapat warisan dari kakek mereka yang kaya, tentu saja dengan mencampurkan racun tersebut ke dalam minuman terutama ke dalam minuman anggur.

Tahun 1832, ahli kimia Inggris James Marsh menemukan prosedur untuk mendeteksi racun arsenik dalam tubuh. Prosedur ini dinamakan ‘uji Marsh’, dalam uji ini, hidrogen yang dibentuk dari reaksi antara seng (Zn) dan dan asam sulfur (H2S), dibiarkan berekasi dengan sampel dari jaringan orang yang diracun. Jika Arsen(III) oksida, As2O3, ternyata ada dalam jaringan orang tersebut maka akan terbentuk gas yang juga sangat beracun yaitu gas arsin (AsH3). Jikalau gas ini dipanaskan, ia akan membentuk zat elemental arsen yang dengan mudah dikenali karena warnanya yang metalik cerah. Namun sayang prosedur ini datangnya terlambat, jauh setelah sang kaisar wafat sehingga tidak mampu menyelamatkan jiwa sang kaisar! Malah ironisnya James Marsh sendiri tewas diracun dengan arsen oleh orang yang tidak senang dengannya!

Namun dugaan bahwa Napoleon diracun, sirna sedikit demi sedikit di awal tahun 1990an, ketika sampel dari wallpaper di ruang gambar Napoleon dianalisa. Ternyata pada wallpaper tersebut terdapat senyawa Tembaga Arsenit atau Tembaga Asam Arsenik, CuHAsO3, yang waktu itu (zaman Napoleon hidup) sangat umum digunakan dalam pembuatan wallpaper. Cuaca St. Helena yang lembab membuat jamur tumbuh subur di wallpaper tersebut. Karena jamur tersebut tidak nyaman di lingkungan yang ada Tembaga Arsenit, maka sang jamur mengkonversikan senyawa Tembaga Arsenit itu menjadi gas trimetil arsin, (CH3)3As, gas yang sangat beracun! Napoleon yang secara berkepanjangan terus menerus menghirup uap gas ini tentu membuat kesehatannya berangsur-angsur memburuk yang tentu saja membuat kadar arsenik dalam tubuhnya meninggi pada saat sampel jaringannya diperiksa 140 tahun kemudian, walaupun belum tentu zat arsenik lah yang menjadi penyebab utama kematian Napoleon. Yang jelas gas ini sangat memperburuk kesehatan Napoleon. Teori ini juga didukung dengan kenyataan bahwa banyak tamu-tamu yang teratur mengunjungi Napoleon di penjara St. Helena juga sering mengalami gangguan gastrointestinal (pencernaan) dan juga gangguan-gangguan lainnya yang khas ciri-ciri keracunan zat arsenik.

Kita mungkin tidak pernah benar-benar tahu apakah Napoleon meninggal dengan cara diracun dengan zat arsenik, baik sengaja atau tidak, yang jelas keracunan zat arsen ini memang memerlukan analisis kimia yang lebih lanjut. Bukan saja karena zat arsen bisa dibuat meracuni, namun zat ini bisa masuk ke dalam tubuh dalam waktu yang lama dalam bentuk gas atau uap tanpa kita sadari!

(Didadaptasi dari: Raymond Chang: Essential Chemistry ditambah dengan berbagai sumber di Internet)

Bangkok, aku datang! (sebal!)

In Uncategorized on Rabu, 1 Agustus 2007 at 11:37 am

Bulan ini mungkin menjadi salah satu bulan yang paling sibuk dalam sejarahku. Bulan ini, bersama bossku yang berwargakenegaraan Kanada akan dijadwalkan 5x pulang pergi Jakarta-Bangkok! Bossku ingin membuka bisnis baru di Bangkok dan untuk sementara aku ditransfer ke sana. Keberangkatan pertama dijadwalkan lusa tanggal 3 Agustus, pas di hari kelahiranku 38 tahun yang lalu. Padahal aku sudah jauh hari merencanakan ingin merayakannya dengan semua orang-orang yang dekat di hatiku. Yah, nggak apa-apalah, aku undur saja perayaannya bulan depan. Lagipula sebagai seorang ‘profesional’ yang digaji jauh di atas rata-rata rekan sejawatku , aku tidak boleh menunjukkan sifat yang cengeng dan tidak profesional, sesuai dengan motto ‘no pain, no gain’. :)