Perhatian:
Penyebutan produk dalam artikel ini bukan sebagai iklan terselubung ataupun untuk menjatuhkan suatu fihak, tetapi ini adalah hal murni pengalaman pribadi!! Mudah2an ada manfaat yang dapat diambil dari pengalaman saya ini. Terima kasih.
Postingan kali ini adalah mengenai pengalaman saya dalam berhubungan dengan fihak Customer Service Epson di Bandung. Ceritanya berawal ketika saya ingin membeli sebuah printer yang murah meriah untuk keperluan pribadi saya di kantor saya. Dari sekian printer saya memilih Epson Stylus C90 (yang nggak diinfus tentunya!), karena memang dari dulu saya sudah percaya dengan produk ini bahkan printer pribadi di kantor saya sebelumnya adalah Epson Stylus Color 300 yang sudah tua namun sudah terbukti produk tersebut kuat bekerja keras sampai saat dipensiunkan.
Pendek kata, aku lantas membeli sebuah Epson Stylus C90 baru di salah satu toko di pusat penjualan komputer di Kandaga, Jl. Ahmad Yani, Bandung pada tanggal 15 Januari 2008. Nah, ternyata setelah diinstal segala rupa si printer tidak mau jalan sama sekali, di layar nampak sebuah keterangan grafis yang mengindikasikan bahwa tinta warna kuning tidak bekerja atau rusak. Karena printer ini printer baru, maka aku putuskan untuk aku bawa kembali ke toko (yang sebenarnya sudah menjadi toko langgananku dan juga langganan beberapa kawan2ku) di mana aku membeli printer tersebut. Dan juga karena kesibukanku aku baru bisa kembali ke toko tersebut hari Sabtu 19 Januari 2008. Setelah ditest di tokonya ternyata memang benar kerusakan ada pada printer dan bukan aku yang nggak bisa menginstalnya maka diputuskan printer harus direparasi di pusat reparasi resmi Epson di Bandung. Printer akhirnya dimasukkan ke pusat reparasi resmi Epson atas nama toko tempat saya membeli dan bukan atas nama saya, untuk itu saya sedikit mendesak si pemilik toko (yang sudah saya kenal baik sebenarnya) agar sedikit mendesak bengkel resmi Epson tersebut untuk agak cepat mereparasinya karena selain saya sangat butuh printer itu untuk keperluan pekerjaan, printer itu juga masih baru dan belum pernah saya pakai sama sekali.
Tanggal 4 Februari 2008, saya kembali ke toko di Kandaga tersebut dan menanyakan “nasib” printer saya. Ternyata fihak toko mengatakan belum selesai dan sudah mendesak bengkel Epson namun jawaban yang didapat dari bengkel Epson selalu klise: “Minggu ini atau Minggu Depan”. Pihak toko menyarankan aku agar ikut mendesak bengkel Epson tersebut dan menyodorkan nama orang dan nomor telepon orang Epson yang bisa dihubungi yang bernama “R” (mirip nama rekan seperjuangannya Batman, tokoh DC Comics ). Langsung saja kutelepon “R”, dan dengan nada
sedikit galak tegas, aku menanyakan nasib printerku, dijawab bahwa printerku belum selesai direparasi dan dijanjikan minggu depan akan selesai, namun karena mendengar suaraku yang agak galak tegas dan kecewa, si “R” bersedia meminjamkan aku printer Epson Stylus C45, biarpun model yang agak kuno tetapi biarlah untuk sementara waktu ini, tidak ada rotan akarpun jadi, begitu pikirku. Namun aku tetap mendesak walaupun aku sudah dipinjami Epson C45, tapi kalau bisa printerku cepat selesai direparasi dan aku memegang kata2 si “R” bahwa Minggu depan printerku sudah selesai direparasi. Pihak toko sendiri mengatakan bahwa biarlah ia yang mengurusnya jikalau sudah selesai dan jikalau selesai akan langsung dikirim/diantar ke alamat kantor saya.
Nah, dua minggu sudah berlalu, dan tidak ada kabar, maka tanggal 18 Februari 2008 aku kembali ke toko tersebut dan ternyata printer saya belum selesai direparasi!! Janji tinggal janji, yang merupakan janji2 kosong, karena kesal aku telepon kembali “R” kali ini dengan suara yang benar-benar galak tegas aku menanyakan kemajuan reparasi printerku, ternyata benar, printerku memang belum selesai direparasi. Karena kesal, aku mempertanyakan kredibilitas teknisi2 di Epson, dan jawaban yang aku dapat sungguh simpang siur, si “R” mengatakan bahwa masih harus menunggu suku cadang, tapi menit berikutnya dia mengatakan bahwa printer saya masih difikirkan tindakan apa yang harus diambil untuk memperbaikinya. Oooo.. aku fikir jadi selama ini baru dalam difikirkan tindakannya saja toh, belum dikerjakan sama sekali!!! Apapun alasannya, apalagi ditambah informasi yang simpang siur seperti itu, menjadikan aku lebih galak tegas lagi, sambil ngatain ”menyindir” kualitas kerja mereka2 yang terlibat di bengkel Epson dengan kata2 yang agak kasar seperti bego, tolol dan semua kata sinonim dari “tolol” yang ada di buku tesaurus Bahasa Indonesia serta mengancam akan ditulis di koran bila printerku tidak kunjung selesai diperbaiki, aku mengatakan bahwa aku mau printerku paling lambat akhir minggu ini untuk selesai direparasi. Dengan nada yang agak grogi dan ketakutan si “R” berjanji bahwa minggu ini printer selesai diperbaiki.
Hasilnya?? Cukup mengejutkan!! Hanya dalam waktu 2 hari saja, printerku selesai diperbaiki!! Toko tempatku membeli printer tersebut mengatakan bahwa printer sudah selesai diperbaiki dan siap diantar ke kantorku. Aku hanya menggeleng2kan kepala, kenapa setelah dibentak2 dan “diancam” baru semuanya bisa beres dengan cepat. Kalau mau toh semuanya bisa dikerjakan dengan cepat. Yang paling tidak saya suka adalah mereka menjanjikan selesai “minggu ini” atau “minggu depan” namun janji itu tidak dipenuhi. Ya kalau tidak bisa, jangan mengatakan “minggu ini” atau “minggu depan”, kan bisa mengatakan kira2 bulan depan baru selesai, atau dua bulan lagi, dsb, namun jangan janji2 yang tidak bisa ditepati. Saya mengerti bahwa mungkin ada beberapa suku cadang yang harus diimpor dari luar negeri karena mungkin belum bisa diproduksi di sini. Walaupun begitu bukan berarti mereka tidak bisa memperkirakan berapa waktu kerja yang dibutuhkan untuk sebuah reparasi kan?? Toh, semuanya bisa cepat kalau diusahakan serius. Yah, mudah2an ini bukan gambaran khas after-sales service di negeri ini.








Wah pertamax niiiy
Komentar oleh mathematicse — Jumat, 29 Februari 2008 @ 6:02 pm |
Kalau gitu, bila ada kerusakan apa-apa lagi, langsung dengan nada tegas saja
dan ancaman dengan cara ditulis di koran misalnya…Pak… Kan kenyataannya bisa dua hari beres…Komentar oleh mathematicse — Jumat, 29 Februari 2008 @ 6:04 pm |
gila parah banget.. iya memang terkadang konsumen memang perlu bersikap tegas atas ketidakberesan dan ketidakpuasan dari pelayanan kepada konsumen..
boleh juga dikirim ke YLKI
Komentar oleh ridu — Jumat, 29 Februari 2008 @ 6:13 pm |
Syukurlah sekarang sudah beres
Kalau kata teman saya yang jagoan black belt six sigma, pusat reparasi Epson ini perlu di CIM (continuos improvement management) supaya gak perlu terjadi ada kejadian seperti ini.
Bikin CPD… capek deh…
Komentar oleh Agoy — Jumat, 29 Februari 2008 @ 7:52 pm |
wah, dalam soal gertak-menggertak, bung yari agaknya memang jagonya, hehehehe
kan bagian security? *halah* kenapa samapek sekarang banyak toko yang ndak peduli sama pelanggan, yak? kenapa mesti bersitegang dulu? btw, sejak migrasi ke ubuntu, banyak driver yang ndak bisa kuinstal nih, bung. mesti ngosek2 dan merengek2 sama om google. eh seharian nyari ndak ketemu juga, termasuk driver printernya, hiks. *komennya ndak nyambung, halah*
Komentar oleh Sawali Tuhusetya — Jumat, 29 Februari 2008 @ 8:13 pm |
Menurutku toko di Kandaga yang konyol. Kalo belum 1 minggu, itu barang bisa dikembalikan dan langsung ditukar dengan barang baru. Urusan reparasi itu bukan urusan anda, melainkan toko komputer itu. Jika lebih dari 1 minggu itu baru urusan anda.
Komentar oleh juliach — Jumat, 29 Februari 2008 @ 11:32 pm |
[...] http://spektrumku.wordpress.com/2008/02/29/dibentak-dulu-baru-beres/#comment-2653*halah* kenapa samapek sekarang banyak toko yang ndak peduli sama pelanggan, yak? kenapa mesti bersitegang dulu? btw, sejak migrasi ke ubuntu, banyak driver yang ndak bisa kuinstal nih, bung. mesti ngosek2 dan merengek2 sama om google. … [...]
Ping balik oleh Bung Drivers roundup » Blog Archive » Fast Friday links — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 4:30 am |
Fenomena manipulasi seperti itu tidak jarang terjadi di kalangan bisnis indonesia……….dengan kata lain sangat mengabaikan kepentingan konsumen dan pelanggan…….terlalu berorientasi pada derajat percepatan penjualan dengan iming-iming harga miriing dan perolehan profit…….padahal kesadaran konsumen-pelanggan tentang mutu telah meningkat….dan untuk membangun loyalitas konsumen-pelanggan utamanya tidak dengan cara seperti itu…….tetapi dengan berbasis pada mutu barang atau jasa dan pelayanan prima……
Komentar oleh sjafri mangkuprawira — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 7:46 am |
Kemaren saya, seorang ‘pejabat’ kampus, ke warung komputer. Dia heran, dua printer baru dari universitas pada hari ketiga kehabisan tinta, dan diinjek (tinta palsu?) langsung koit. Ceritanya mau diperbaiki sekalian beli tinta standar.
Kata yang punya tokok beli baru saja. Kenapa? Harga printer baru sejenis 650. Tinta warna Rp250, tinta BW Rp175. Kalau diperbaiki ongkosnya Rp.75.000. Total tinta tambah ongkos Rp500.000. Alias harga printernya hanya 150.000. Yang mahal tintanya. Nah Lho?
Komentar oleh Ersis W. Abbas — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 8:35 am |
Wah, pengalaman yang tidak mengenakkan.
Total sudah berapa minggu diservis?
Komentar oleh Emanuel Setio Dewo — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 8:56 am |
emang perlu diterapi dulu baru ngeh kali pak
Komentar oleh dobelden — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 9:25 am |
ada yang gak pake dibentak. dibawain clurit, ditaroh di depannya. dijamin 5 menit beres!
Komentar oleh det — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 10:37 am |
Jadi ingat TV-ku yang lama Kang. Kudu digebrak dulu baru nongol gambarnya hehehe…
Buruknya penghormatan atas hak-hak konsumen, itu biang kerok pelayanan yang buruk di segala bidang. Orang kita mau nganterin duit ke PLN aja harus baris, dan kagak dikasih air minum, tegaaa….
Komentar oleh tobadreams — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 11:15 am |
Nanti kalo saya menghadapi masalah serupa saya panggil mas yari deh hehehe maklum saya orgnya ga bisa marah sih.
Komentar oleh AgusBin — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 11:40 am |
Ngakak baca komentarnya deteksi .. bawa clurit aja pasti beres … hahahah
Saya juga nanti minta tolong dengan kang Yari aaahh soal Flash yang bikin kecewa .. ngikutin saran Agus
.. mau kan Kang??
Komentar oleh erander — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 3:09 pm |
wah di Padang tempat biasa saya refill dan disana kalo service ginian mah gratis… maklum orang keturunan yang punya
Komentar oleh quelopi — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 8:01 pm |
@mathematicse
Kalau begitu, bagaimana kalau sekalian proaktif saja?? Sebelum printer rusak, service centre-nya udah dibentak duluan, jadi nanti kalau printernya rusak bisa cepat dua hari beres! Wakakakak…
@ridu
Iya nih…. tapi selama masih bisa ditanggulangi sendiri sepertinya nggak perlu dibawa ke YLKI.
@Agoy
Emang bikin capek deh….. belum lagi keselnya karena baru beli udah rusak…. aah boro2 mereka mengerti Management Continous Improvement wong memperkerikan berapa waktu kerja yang dibutuhkan aja nggak bisa!
@Sawali Tuhusetya
Wah… bukan ahli bentak-membentak
tapi ahli hardik-menghardiksebabnya karena kesal ya jadinya spontan keluar kata2 makian hehehehe….Btw, saya doakan dan saya turut cari informasinya deh mengenai ubuntunya dan juga driver2 printernya sekalian pelajaran juga buat saya nih!
@juliach
Yah… begitulah…. di Indonesia bukan seperti di Eropa, ada juga toko2 yang nggak mau rugi, nggak mau menukar dengan baru kalau udah rusak kurang dari seminggu, tapi bagi saya nggak ada masalah, andaikan harus diservis, printer saya bisa diservis secara cepat. Mengenai toko, ya toko komputer banyak kok, kalau saya nggak puas dengan toko ini, ya saya tinggal pindah ke toko lain. Mereka akan kehilangan pelanggan2nya. Tapi kalau authorised service centre hanya sedikit, dan kalau kerja mereka payah, ya harus dibentak2 begitu minimal…..
@sjafri mangkuprawira
Iya prof…. sekarang pelanggan sudah mulai teredukasi. Rupanya banyak juga di era globalisasi ini yang belum sadar juga akan pentingnya after-sales service ya prof?? Padahal after-sales service yang baik akan melanggengkan hubungan antara produsen dan konsumen, begitu kan prof??
@Ersis W. Abbas
Wah… enak banget yang menginfus, sudah menginfus, printer langsung koit, terus menyuruh beli baru…. wah itu namanya malpraktek, Pak Ersis terima begitu saja perlakuan mereka??
@Emanuel Setyo Dewo
Baru lima minggu sih, tetapi menurut saya segitu sudah lama, apalagi kalau mengingat bahwa itu printer baru, rasa2nya kesel banget…..
@dobelden
Yah…. mudah2an sekali terapi saja sudah manjur, nggak perlu berkali2….
@det
Wah… kalau saya sih nggak perlu celurit… kalau sayanya sendiri datang langsung ke sana, pasti orang2nya udah pada ketakutan semua dan 1 menit pada beres!! Kuno ah pake celurit dan nggak praktis! Wakakakak…
@AgusBin
Sampeyan sebenernya bakat marah lho Bin… cuma anehnya kalau sama saya saja sampeyan “nggak mau” marah.
@erander
Mau diajarin caranya marah mas?? Nanti saya ajarin deh!
@quelopi
Di sini juga gratis dalam masa garansi di pusat perbaikan resmi… tapi lamanya itu…. nggak nahanin…
Komentar oleh Yari NK — Minggu, 2 Maret 2008 @ 5:48 am |
Hmm.. konsumer care di indonesia memang payah sih..
Komentar oleh Sir Spitod — Minggu, 2 Maret 2008 @ 8:00 am |
kalo gitu kalo saya mau nyervis printer saya ngajak bapak ya? biar cepet jadinya, hehehe
Komentar oleh maxbreaker — Minggu, 2 Maret 2008 @ 1:06 pm |
Itulah Indonesia…
Indonesia tanah airku…
*Nyanyi*
Komentar oleh Dark Ardianto side — Minggu, 2 Maret 2008 @ 3:47 pm |
Ehmmmmmmm, he..he..he.. kasus yang sama mirip malah dengan kasus yang terjadi dengan saya beberapa hari yg lalu he..he..he..
Komentar oleh Landy — Minggu, 2 Maret 2008 @ 5:14 pm |
Kang Yari,
Kadang memang kita harus bertindak tegas, kalau baik saja tidak cukup…memang menyedihkan, tapi inilah wajah pelayanan dinegara kita, yang jargon pelayanan pelanggan belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik.
Komentar oleh edratna — Minggu, 2 Maret 2008 @ 6:47 pm |
aku agak ngakak membacanya. ups! maaf banget, Kang. aku membayangkan bagaimana tampang Kang Yari yang biasanya lembut mendadak menjadi galak dan ‘R’ wajahnya menciut karena ketakutan.
itulah kelemahan bisnis, ya. memberi janji waktu namun tidak ditepati. satu kepercayaan terhadap toko itu akan berkurang dengan sendirinya.
Komentar oleh hanna — Senin, 3 Maret 2008 @ 2:00 am |
@Sir Spitod
Memang terkadang kita harus tegas dengan layanan yang payah seperti ini!
@maxbreaker
Atau saya buka kursus membentak aja ya?? Hehehe…
@Dark Ardianto Side
**ambil gitar mengiringi nyanyian Ardianto**
@Landy
Wah….kasus apa lagi nih?? Printer juga ya??
@edratna
Yah itu dia bu, seperti kata prof. Sjafri di atas, produsen/penjual hanya mengejar percepatan penjualan, tetapi hubungan langgeng antara produsen/penjual dengan konsumen diabaikan…..
@hanna
Hehehehe….. padahal itu belum 100% galak lho!
Btw, selamat datang kembali ke dunia blogsfer ya mbak? Gimana nih kabarnya Singkawang?? Wah pasti senang ya merayakan imlek dan cap go meh di kampung halaman….
Komentar oleh Yari NK — Senin, 3 Maret 2008 @ 8:42 am |
Urusan garansi – repot, sering kali kita di tipu dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Setok Abis, Nunggu Sparepart dari luar, janji besuk dan besuk.. Benar juga harus pakai bentak baru selesai. Atau jika ada yang ingin membuka jasa Khusus melayani urusan garansi, pastilah laku keras..!
________________________________________
Yari NK replies:
Iya betul itu…. terkadang kita harus tegas dengan after-sales service yang payah seperti itu!
Komentar oleh rivafauziah — Senin, 3 Maret 2008 @ 12:46 pm |
Pengalaman yang menarik nih. Akan saya praktekkan kalau saya mengalami hal yang serupa. Hehehe…
______________________________________________________
Yari NK replies:
Huehehehe….. saya yakin kok bapak bisa lebih galak dari saya!
Komentar oleh Edi Psw — Senin, 3 Maret 2008 @ 5:21 pm |
Ya, makanya malas sekali kalau servis barang-barang yang harus nginep, tempat langganan saja bisa molor, apalagi yang bukan. Maklumlah, namanya juga budaya menyepelekan.
_______________________________________________________________
Yari NK replies:
Kapan ya bangsa kita menghilangkan budaya menyepelekan atau menggampangkan masalah orang lain??
Komentar oleh Singo — Senin, 3 Maret 2008 @ 8:04 pm |
wui….
mas yari memang mengerikan….
______________________________
Yari NK replies:
Sama suster ngedsod lebih mengerikan mana??
Komentar oleh conandole — Selasa, 4 Maret 2008 @ 11:37 am |
ita dulu pernah bawa printer ke toko komp karena macet gak bisa ngprint. dah 2 mingguan masih blm selesai diperbaiki, mereka bilang “barangnya blm dikirim dari Jakarta” karena kerusakan printer ita dibawa ke service center dikantor pusat sono. al hasil ita minta ganti printer baru *dgn bawa bodigat*
______________________________________________________
Yari NK replies:
Wah…. bukannya mbak Ita kalo marah udah bertampang lebih serem dari bodigatnya?? Wakakakak….
Komentar oleh eNPe — Rabu, 5 Maret 2008 @ 9:29 am |
Pengalaman neh, jd klo mo servis apa-apa mesti pasang tampang serem ya ….
______________________________________
Yari NK replies:
Nggak usah tampang serem sih… suara tegas dan “galak” juga sepertinya sudah cukup…. hehehehe….
Komentar oleh aisalwa — Jumat, 7 Maret 2008 @ 7:46 am |
jika pihak toko atau Epson telah semena-mena pada konsumen bisa di tuntut itu bawa aj pasal ni UU No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Psal hak-hak konsumen :
Pasal 25 ayat (1) Pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam batas waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas purna jual dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan. Ayat (2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan /atau gugatan konsumen apabila pelaku usaha tersebut : a. tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas perbaikan; b. tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan
Komentar oleh M suyatman — Rabu, 24 Desember 2008 @ 10:20 am |