Asal-Muasal Kehidupan

Eksperimen Asam Amino Milton-UreyDahulu kala para ahli berpendapat bahwa Fisika dan Biologi adalah dua dunia atau dua ilmu yang terpisah. Walaupun mereka juga yakin bahwa ada interseksi antar keduanya, namun dahulu merekapun yakin bahwa yang memisahkan kedua ilmu tersebut adalah adanya “life force” pada bidang Biologi yang tidak terlihat dan yang tidak bisa dipelajari. Kini para ilmuwan mulai yakin bahwa tidak ada yang namanya “life force“, dan andaikan terdapat “life force” semuanya itu bisa dipelajari. Untuk itu kini para ahli berpendapat bahwa di antara dunia Fisika dan dunia Biologi sebenarnya dihubungkan oleh sebuah garis perkembangan yang sangat panjang dan tidak terputus. Hal itu dapat terlihat dari senyawa kimia yang sederhana kemudian beranjak menuju Virus yang sering dianggap sebagai “hidup” namun ternyata si virus ini hanya merupakan sekumpulan senyawa2 biokimia yang sangat kompleks, kemudian berlanjut lagi kepada hewan atau tumbuhan bersel satu dan selanjutnya beranjak kepada tumbuhan dan hewan yang kompleks termasuk manusia. Para ahli percaya jikalau terdapat kondisi fisik dan kimia yang memungkinkan pada waktu yang sangat lama, maka tidak ada alasan untuk tidak mempercayai kenyataan bahwa makhluk2 hidup dapat terjadi dari materi2 non-hidup (inorganik), seperti yang telah terjadi di planet kita ini. *)

Nah, di dalam makhluk hidup terdapat banyak sekali senyawa2 organik yang kompleks namun ada empat kelas utama yang mewakili senyawa2 tersebut yaitu Karbohidrat, lipida, protein dan asam nukleat. Untuk itu pada postingan kali ini, saya akan membahas masalah “asal-muasal kehidupan”. Sedangkan gambar di atas adalah gambar eksperimen dari Harold-Urey di tahun 1952 yang mensimulasikan terbentuknya asam amino.  Kita ketahui bahwa asam amino ini adalah komponen daripada protein dan protein ini adalah komponen yang sangat penting di dalam tubuh kita. Gambar daripada percobaan Miller-Urey di atas diambil dari Wikipedia. Nah, sekarang mari kita bahas bagaimana “asal muasal kehidupan” tersebut.

Suatu ketika pada awal masa Bumi terbentuk, permukaan Bumi lebih panas dari sekarang ini. Atmosfir kala itu mengandung senyawa2 yang berunsurkan hidrogen, oksigen, karbon dan nitrogen. Senyawa2 tersebut kemungkinan besarnya adalah hidrogen sianida (HCN), air, metana, amonia, dan karbon dioksida. Namun lama kelamaan suhu permukaan bumi menurun dan hujan yang sangat lebat mulai turun terus menerus. Hujan yang turun membawa serta gas2 dari atmosfir di dalamnya sehingga lautan2 zaman itu kaya akan gas2 dari atmosfir yang larut di dalamnya. Pencuacaan dan erosi juga mulai terjadi dan lautan2 tersebut mulai mendapatkan kandungan garam dan mineral yang juga dibantu oleh aktivitas vulkanis yang terjadi di dasar lautan. Seperti kita ketahui reaksi2 kimia menjadi sangat memungkinkan dalam lingkungan cairan (liquid) dan air adalah pelarut yang sangat baik. Pada awal2nya proses2 ini berlangsung sangat cepat dan ditambah lagi oleh energi yang berasal dari sinar matahari dan petir2 yang pada saat itu sangat hebat sambar menyambar dan sangat sering terjadi, maka memungkinkan untuk terbentuknya kehidupan2 yang paling primitif (yang berasal dari senyawa2 yang berada di laut tersebut) di dalam laut dan mungkin inilah bentuk2 kehidupan pertama di planet ini.

Seperti yang dikatakan pada awal artikel ini, ada empat kelas utama senyawa pembentuk makhluk hidup dan di dalam keempat unsur tersebut ada lima senyawa subunsur di dalamnya yang membentuk signifikansi biologis yaitu: gula (jangan bayangkan gula yang berada di dapur !!), gliserol, asam lemak, asam amino dan basa nitrogen. Sedangkan kelima subunsur tersebut terdiri dari (yang kebanyakan adalah) atom2 : hidrogen, karbon, nitrogen dan oksigen (sama seperti kandungan2 pada atmosfir kala itu seperti yang telah disebutkan di atas). Para ahli percaya serangkaian reaksi2 yang panjang dan bertingkat2 serta kompleks telah menyebabkan unsur2 hidrogen, karbon, nitrogen dan oksigen (dan juga unsur2 lain yang jumlahnya tidak dominan) telah membentuk senyawa biokimia yang sangat penting bagi kehidupan2 di bumi ini. Beberapa hipotesis mengenai hal ini telah dapat diverifikasi di laboratorium walaupun tidak semuanya. Salah satunya adalah eksperimen tentang pembentukan asam amino (komponen dari protein) yang dilakukan oleh Miller-Urey tahun 1952 tersebut. Di dalam percobaan ini, campuran uap air, hidrogen, metana dan amonia yang dibantu oleh loncatan2 (sparks) listrik yang dihasilkan melalui sumber tinggi tegangan listrik dapat menghasilkan asam amino. Selain percobaan Miller-Urey ini, percobaan2 lainnya telah terbukti sukses untuk percobaan pembentukan asam lemak, bagian2 struktural dari klorofil dan lain-lain. Namun, walaupun begitu memang masih banyak pula eksperimen2 yang belum berhasil atau  belum memuaskan.

Walaupun dalam percobaan seperti Miller-Urey telah dapat dihasilkan asam amino dari berbagai macam unsur, namun tentu dalam kenyataannya pembentukannya di Bumi ini tidak seperti seorang tukang roti yang dengan sengaja mencampurkan bahan2 yang diperlukan untuk membuat sebuah roti atau kue. Bukan seperti itu. Molekul2 tersebut saling bertumbuk dan bereaksi satu sama lainnya dengan sangat kebetulan membentuk molekul2 yang lebih kompleks. Selain itu juga waktu dan tempat kejadian juga mempengaruhi berhasil tidaknya reaksi molekul2 tersebut. Pendek kata, untuk kasus Bumi ini diperlukan waktu sekitar 1 milyar sampai 1½ milyar tahun dari sejak pembentukan Bumi hingga terbentuknya organisme bersel satu yang paling primitif. Tahap2an dalam pembentukan makhluk hidup seperti ini dipandang oleh para ahli biologi sebagai hal yang masuk akal apalagi mengingat rentang waktu yang sangat panjang sejak awal proses hingga terbentuknya makhluk2 hidup seperti sekarang ini……..

_________________________________

*) = Bagi kaum agamis murni banyak yang menolak hipotesis dan teori seperti ini. Banyak kaum agamis murni yang berpendapat bahwa makhluk hidup diciptakan “dalam sekejap”. Terserah dengan anda mau memilih yang mana. Kalau saya pribadi, antara agama dan sains tidak selalu harus bertentangan, walaupun masih banyak hal yang perlu dijelaskan antar keduanya. Alasan  agama dan sains yang tidak selalu bertentangan (menurut pandangan saya pribadi)  tidak akan saya tulis di sini sebab alasannya agak panjang dan ini bukanlah artikel yang tepat untuk memaparkan hal tersebut. Yang jelas, menurut saya daripada kita terus-menerus mempertentangan ilmu dan agama secara filosofis  yang membuat kita tidak akan maju-maju, mari kita mempelajari ayat2 Allah. Ayat2 Allah itu bukan hanya yang tertulis dalam Al-Qurân saja namun juga ayat2 yang bertebaran di alam semesta ini yang wajib kita pelajari sebagai sains…..

About these ads

34 responses to “Asal-Muasal Kehidupan

  1. Sangat complex, hal itu terjadi secara alamiah. Kalau melihat secara makro bahwa planet2 merupakan pecahan bintang maka demikian pula dengan bumi, maka proses alam semsta tersebut pasti terjadi dalam jangka waktu mungkin ratusan milyar tahun *halah sok tahu*. Kemudian jika dirunut dari jaman manusia purba hingga pada detik ini, maka masa peradaban manusia mungkin hanya sebesar 0,00001 dari umur peradaban alam semesta ini. Ini mungkin hikmah yg diambil. Namun ironisnya (disesuaikan dg catatan kaki di atas), kadang manusia merasa paling benar dan memiliki seluruh alam semesta ini. Mmmmm.

  2. Hmm… buat footnote-nya, saya setuju sekali dengan pendapat, Om. Al-Qur’an itu justru sejalan dengan sains. Hal-hal yang dituliskan di dalamnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, hanya karena logika dan nalar manusia terbatas, maka kita belum bisa menemukan titik temunya.

  3. selalu saja postinganmu berbobot Pak
    saya salut :)

  4. saya baru akhir2 ini menyadari bhw ternyata ilmu biologi itu sangat kompleks bahkan lebih komplek drpd ilmu fisika yg penuh rumus itu. lebih bnyk misteri dlm biologi yg belum tersingkap.

  5. masih abu-abu, yang dijelaskan di sini apakah asal muasal seluruh kehidupan termasuk asal muasal manusia ?

  6. Tulisan yang sangat berbobot……
    Saya sangat setuju sekali dengan catatan kakinya, (eh…salah ya…???)
    Bahwa ayat-ayat alquran tidak bertentangan dengan sains dan teknologi, ayat-ayat Allah tergelar di semesta jagat raya yang manusia disuruh untuk membacanya (ayat kauniyah). Jadi kita harus memadukan keduanya bukan mempertentakannya……

  7. Bener Pak, di Al-Qur’an itu emang gudangnya sains….

  8. Saking kompleksnya ilmu biologi… saya menyerah sejak SMP, dan sejak itu nilai saya sedikit di bawah rata-rata kelas :D

    Well intermezo… gak penting ya :) Yang penting, saya setuju sekali dengan footnote artikel ini. Jika pendekatannya adalah “sekejap” …mmmm kaum agamis pls mari kita berpikir sekejap itu jika dikalkulasikan secara matematis dan fisika berapa lama kah itu?
    Sedangkan katanya kita ini hidup selama waktu antara dhuhur dan ashar di dunia sana.. cuma seperti pengembara yang singgah minum…
    nah clue-clue seperti inilah yang mestinya bisa diselidiki untuk memperkirakan relativitas antara “langit” dan bumi …

  9. selalu saja ada pencerahan dari pemikiran mas Yari NK… :D

  10. menurut hemat saya, penafsiran dan analisis kelimuan tak harus dipertentangkan, bung yari, karena keduanya menggunakan pendekatan yang berbeda. science lebih banyak *sok tahu* menggunakan logika dan penalaran berdasarkan metode ilmiah, sedangkan agama menggunakan pendekatan dogmatis, tanpa harus melalui proses logika. Meski demikian, sebenarnya ajaran agama apa pun juga banyak mengungkap tentang masalah kehidupan yang juga bisa dianalisis berdasarkan pendekatan logika. Al-Quran sendiri, menurut para ulama, juga mengandung banyak ayat yang mengungkap ttg ilmu pengetahuan, bahkan dari situlah sumber berkembangnya ilmu pengetahuan yang terus berkembang hingga saat ini.

  11. Hmm…. Benar-benar postingan yang bermanfaat, penuh dengan wawasan… :)

    Salut deh pak :)

    Tapi,beneran, saya baru tau kalau kaum agamis murni itu memiliki pendapat kalau kita semua dihasilkan secara “sekejap”, apa itu benar? Bukannya(kalau ga salah nih,hehe..) di Al-Quran sendiri dijelaskan asal-muasal kehidupan terjadi?

  12. jadi seperti yang di filemnya Dr. Frankenstein itu beneran bisa terjadi ya OM? wah kalo sudah bicara tentang batas antara agama dan sains, sy kira itu akan menjadi sbuah perdebatan yang sangat panjang dan tidak ada titik temunya.. jika masing2 tidak mau ada yang mengalah..

  13. @Laporan

    Betul sekali peradaban manusia bahkan dari sejak manusia terbentuk masih sangat muda dibandingkan dengan umur alam semesta ini. Namun walaupun begitu dalam “hanya” dalam kurun waktu 100 tahun belakangan ini, manusia sudah “banyak” merubah keadaan di Bumi ini. Kedepannya mungkin lebih hebat menarik lagi. Mudah2an dengan akal fikirannya manusia dapat membuat planet ini menjadi lebih baik lagi dan bukan malah merusaknya. Itu yang terpenting.

    @Ali Akbar

    Betul sekali…. karena nalar manusia terbatas kita harus terus dan terus belajar dan memperbaiki serta memperluas nalar kita. Dan kita tidak perlu membuang energi kita untuk berdebat berkepanjangan mengenai pertentangan antara agama dan sains. Kalau berdebat terus, kapan belajarnya?? Huehehehe……

    @achoey sang khilaf

    Terima kasih mas achoey….. :)

    @AgusBin

    Betul sekali Bin, ilmu biologi saat ini yang sudah diketemukan baru kulit luarnya saja. Mungkin nanti kalau sudah pada taraf biological engineering mungkin rumus2nya akan jauh lebih rumit dibandingkan Fisika….

    @Yoyo

    Yup…. termasuk manusia juga….. :)

    @amar

    Betul itu, kita tidak perlu mempertentangkannya. Yang penting ialah kita terus dan terus berusaha untuk belajar dan menemukan kebenaran di alam semesta ini…….

    @fisha17

    Yup…. untuk itu kita umat Muslim wajib menguasai sains…. :)

    @Yoga

    Kalau saya sih orangnya demokratis, jikalau mereka mau berpendapat “sekejap” seperti itu ya monggo mawon, hanya saja sebaiknya mereka tidak “meracuni” fikiran para calon saintis Islam, hingga para calon saintis Islam yang sebenarnya mungkin sangat cemerlang ini menjadi skeptis dalam sains atau ilmu pengetahuan. Itu yang “berbahaya”……….

    @qizinklaziva

    Hehehe… ah Pak Qizink ini kok memuji2 terus sih…. jadi malu saya…. :oops:

    @Sawali Tuhusetya

    Betul pak Sawali, sebenarnya memang yang “berbahaya” itu adalah penafsiran dogmatis yang akan mematikan ilmu pengetahuan, padahal (khususnya dalam Islam) kemajuan ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti jikalau terjadi benturan antara sains dan agama akibat keterbatasan logika manusia……. :)

    @Anggie

    Maksud saya sekejap di sini bukan sekejap literally, untuk itu kata sekejap ada dalam tanda kutip. Maksudnya sekejap ini adalah begini misalnya: dalam kitab suci, nabi Adam adalah orang pertama yang diciptakan dan pembuatannya dibuat secara “sekejap” dan tidak memerlukan waktu yang panjang seperti yang diungkapkan para ahli Biologi.

    Nah, hal2 seperti ini yang memang belum bisa dijelaskan secara ilmiah, ataupun belum ada titik temu antara sains dan agama dalam hal ini. Namun justru itulah manusia wajib terus dan terus mencari tahu kebenaran tersebut dengan belajar melalui sains. Maksudnya mencari tahu kebenaran di sini adalah lewat metode2 ilmiah bukan mencari kebenaran yang “sengaja dibenar2kan”. :)

    @fauzansigma

    Wah… kalau kayak Dr. Frankenstein itu sepertinya fiksi ilmiah. Hehehehe….

    Betul…. daripada kita capek berdebat yang tidak akan habisnya mendingan fokus kita arahkan pada penelitian2 ilmiah yang akan berguna bagi peradaban manusia itu sendiri….. :)

  14. Apa tak sebetulnya dalam perkembangannya, antara ilmu-ilmu itu saling terkait. Misalkan ilmu-ilmu dasar jika diperhatikan pasti ada bidang singgungannya….dari ilmu ini kemudian berkembang menjadi ilmu terapan.

  15. mengomentari komentar pak yari ke pak sawaili yang bagian terakhir ..

    sebenernya ilmu pengetahuan .. mau berkembang yah silahkan .. :)

    tetapi .. masalahnya adalah jika menerangkan maslah ilmu pengetahuan .. bertentangan dengan apa yang sudah ada dalilnya dan dijelaskan para ulama berdasarkan tafsir para sahabat maka hal ini tidak boleh .. :)

    misal ..

    penciptaan alam semesta ..

    manusia bisa saja berteori secara ilmiah dengan menyebutkan bahwa alam semesta dan bumi tercipta karena senyawa² kimia kemudian begini dan begitu ..

    padahal di ayat² Al Qur’an jelas bahwa pembentukan bumu ada prosesnya memang .. dan prosesnya kita tidak mengetahui dan tidak dijelaskan .. tetapi kita tidak boleh mutlak membenarkan teori yang diungkapkan oleh manusia tersebut tentang terbentuknya dari senyawa² kimia, karena
    1. Kita tidak mengetahui .. dan yang mengetahui hanya ALLAH ..
    2. Ilmu Manusia tidak bisa menyingkap yang ghaib yang belum pernah dijelaskan oleh ALLA dan RasulNYA ..
    3. Senyawa Kimia yang menciptakan siapa .. ALLAH juga kan .. ?? bagaimana anda menjelaskan tentang terbentuknya senyawa kimia tersebut ..??
    4. Cukuplah apabila akal kita sudah mentok .. dan tidak bisa menyingkap yang ghaib .. maka kita imani saja .. dan ini adalah keimanan apa yang dijelaskan dalam ayat² AL Qur’an .. serta menunjukkan kebenaran Al QUr’an, dan bukan merupakan DOGMA .. semata :)
    5. SIlahkan berteori .. tetapi .. tetap tolak ukurnya kebenaran adalah dikembalikan kepada AL QUr’an dan SUnnah sesuai pemahaman generasi terbaik yang memahamai ISLAM dengan benar ..
    6. Tidak boleh mutlak membenarkan teori yang diungkapkan manusia .. karena sesungguhnya apa yang didapat manusia dengan pemikirannya masih kalah luas dengan Ilmu yang dikuasai ALLAH, dan meski jika terdapat kebenaran .. ucapkanlah rasa syukur bahwa teori yang menemukan tentang kebenaran tersebut bukanlah teori yang ditemukan manusia .. tetapi hal tersebut adalah anugerah yang diberikan ALLAH untuk kita untuk mengembangkan kehidupan kita untuk menjadi lebih baik .. :)

    Demikian pendapat saya …

    ALLAHua’alam bishowab ..

  16. Oh iyah satu hal lagi .. bagaimana seorang manusia berteori .. ternyata hal itu dibantah habis oleh Al QUr’an ..

    seperti contoh teori terciptanya makhluk hidup oleh Darwin .. :)

    so lihatlah . manusia bisa berteori .. mungkin dengan bukti2x .. tetapi tetap .. kembalikan semuanya kepada Al Qur’an wa SUnnah dengan dalil dan pemahaman yang shahih …

    Kenapa saya ungkapkan seperti komentar sebelumnya ..

    karena .. banyak orang yang belajar ilmu pengetahuan .. dan akhirnya mereka sesat dari jalan ALLAH, seperti terlalu mendalami ilmu filsafat yang ujung²nya malah tidak mengakui Tuhan .. dan agama ISLAM beserta ayat² Al QUr’an ..

    atau malah saking pintarnya dan mendahulukan akal .. tanpa diiringi dengan pemahaman yang benar malah menjadi pemikiran kaum mu’tazilah .. naudzubillah .. :(

  17. Sekalian hattrick yah .. :D hehehe

    bila asal-muasal kehidupan .. adalah teori seperti di atas ..

    ALLAH kita yakini yang MAHA HIDUP .. seperti yang ada dalam Ayat Kursi ..

    apakah kita menghukumi teori ini dengan terbentuknya ALLAH juga ..?? nggak kan .. :) karena ALLAH yang maha Awal dan maha AKHIR ..

    dan jika kita memaksakan untuk melebihi hal itu .. maka .. seperti buku agus mustofa .. yang berjudul “Akherat Tidak Kekal” .. dan sudah dibantah dalam majalah Al QUr’an dengan ayat ² dan hadits² shahih jika belum baca saya punya pak :)

    jadi ingat bisikan syaithan .. yang menanyakan pada diri kita ..
    ” SIapa yang menciptakan bumi ini ..??” kita jawab “ALLAH”,
    Setan bertanya lagi “Siapa yang menciptakan dirimu ?” kita jawab “ALLAH”,
    kemudian setan bertanya lagi “Siapa yang menciptakan ALLAH ?” maka kita jawab “Amantu billah Wa Rasulullah” artinya Aku Beriman kepada ALLAH dan RasulNYA …

    Allohu’alam

  18. kok fisika sih Pak.
    Kalau lihat dari penjabaran di atas, tuh kayaknya lebih mirip proses kimia.
    bener ga ya?

  19. duluan telor apa ayam hehe susah ni bayangin awal mula kehidupan :-D

  20. ah, tidak bertentangan kok Pak…
    memangnya unsur C, H, N, dan O yang membentuk asam amino datang darimana?
    Kalau dijawab ada sekumpulan proton, elektron, dan neutron yang tiba-tiba tersusun sedemikian rupa, tanya lagi
    Proton, elektron, sama neutronnya darimana?
    Terus, sampai ujungnya Yang Kuasa… :)

    [yudi]
    IMO sih telur…
    kayak manusia kan yang terbentuk tidak mungkin sel telurnya dulu kan?

  21. Mesti direnungkan membacanya nih. Soalnya berat sekali postingannnya. Bookmark dulu aja

  22. @edratna

    Betul sekali bu…. justru itu sekarang para ahli yakin bahwa antara ilmu2 Fisika dan Biologi itu dihubungkan dengan garis yang kontinu yang batas2nya tidak jelas….. karena memang sangat overlapping.

    @tintin

    Nah… logikanya justru harus dibalik….. kalau agama “tidak sama” dengan ilmu pengetahuan berarti pengetahuan manusia belum sempurna dan untuk itu manusia diwajibkan untuk terus dan terus belajar! Itu intinya!

    Beriman kepada Allah bukan berarti harus berhenti belajar ilmu2 Allah yang lain yang bertebaran di alam semesta ini termasuk Biologi. Justru kalau kita beriman kita harus terus-menerus mengeksplorasinya, dengan begitu kita tetap beriman tapi peradaban manusia juga berkembang. Pendapat ahli Biologi seperti ini belum final kok, tentu masih dapat berubah seiring dengan kemajuan ilmu genetika dan biologi molekular. Ngerti?? ;)

    @norie

    Kimia itu sebenarnya “bagian” dari Fisika atau tepatnya Kimia itu kini posisinya di tengah2 antara Fisika dan Biologi. ;)

    @yudi

    Hehehe…. itu seperti pertanyaan, malam atau siang dulu?? Nah… justru itu yud, hikmah dari pertanyaan sederhana itu adalah kita harus mencari tahu sebenarnya ayam dulu atau telur dulu semampu kita. Tentu dengan jawaban ilmiah bukan dengan jalan tebak2an. ;)

    @ardianto

    Betul ar…. tapi banyak kaum agamis murni yang tetap belum bisa menerima hal itu dan mengatakan bahwa penciptaan makhluk hidup tidak melalui proses sepanjang itu. Mungkin mereka belum memahami sepenuhnya…. :)

    @Rafki RS

    Hehehe…. Silahkan pak…. :)

  23. Wah baru pertama kali dateng kesini liyat postinganya langsung berat nih. Walau dulu sekolah jurusan IPA tapi harus dibaca berulang – ulang kali … hehehe

    salam kenal aja deh kalo gitu ;)

  24. “tapi banyak kaum agamis murni yang tetap belum bisa menerima hal itu dan mengatakan bahwa penciptaan makhluk hidup tidak melalui proses sepanjang itu.”

    ———————————————————–
    Itu pasti orang-orang yang hanya menafsirkan kejadian alam semesta ini dengan kata “Kun” yang sempit saja. Padahal dalam Al Qur’an sendiri kan sudah banyak yang mengatakan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda2 kebesaran bagi orang2 yang mau berpikir (Al Baqarah:164). Dan ini banyak ditafsirkan oleh para mufassirin sebagai motivasi untuk umat islam untuk menggali science dan mengambil pelajaran dari semua itu. gitu ya pak?

  25. Pernah beberapa tahun yg lalu dimuat di sebuah media massa cetak tulisan dari dua orang yg berbeda pandangan soal teori evolusi, saya kira masih relevan dengan bahasan tulisan ini. Yg satu sama sekali menolak teori ini dan yang satunya pada akhir tulisan berkata: “Kenapa kita tidak menghargai tuhan jika sesuatu diciptakanya melalui proses?”

    Cukup mengelitik… Saya setuju, agama dan sains tidak harus dipertentangkan. Pada suatu titik keduanya lebur dan manusia akan berkat:” ooooooooooo…. ternyata begitu” :) Mudah-mudahan

    Salam hangat

  26. wow… prety complex explanation for the simple thing… menunjukan bahwa yang kita ketahui masih setitik upil dari apa yang terjadi disekeliling kita… menarik!

  27. kerennn banget…. penjelsan nya detail bgt gitu looooo

  28. @leah

    Ok deh… salam kenal juga ya kalau begitu. :)

    @mezzalena

    Betul sekali mbak. Kaum “agamis” yang seperti itu nampaknya mereka belum bisa menghargai sains dan mereka selalu curiga bahwa sains itu “ciptaan” orang Barat/kafir untuk merusak aqidah. Padahal rusak tidaknya aqidah lebih banyak bukan karena sains…

    @coretanpinggir

    Saya yakin pada suatu saat nanti pasti terlihat titik temu antar keduanya. Namun yang penting kini kita belajar dan belajar terus dan jangan cepat puas. Teori asal muasal kehidupan seperti inipun masih banyak kelemahannya dan harus terus diperbaiki, Jadi intinya adalah: terus menerus belajar untuk memperbaiki teori2 yang telah ada!

    Salam. :)

    @Denny Eko Prasetyo

    Betul sekali… ilmu yang masih dikuasai manusia masih seupil dan yang belum diketahui mungkin lebih besar dari sebuah gunung untuk itu kita jangan cepat2 merasa puas… bukan begitu? :)

    @zoel

    Huehehe… terims… padahal itu nulisnya udah diusahakan pakai bahasa yang sederhana. :mrgreen:

  29. Salam
    Jadi teringat teori Biogenesis dan Aboigenesis, saya rasa ilmu yang sahih apalagi menyangkut hukum alam yang baku ga akan pernah bertentangan dengan kalam illahi/ilmu agama, yakin seyakin2nya :D
    *bener ga ya*

    ____________________________

    Yari NK replies:

    Justru itu jikalau masih tidak ada titik temu… hal itu menandakan teori biologi tersebut masih jauh dari sempurna. Yang penting adalah kita harus terus belajar2 ilmu Allah termasuk Biologi ini. Karena bagaimanapun juga ilmu2 seperti Fisika, Kimia, Biologi dan Matematika adalah ilmu ciptaan Allah, sedangkan para ahli hanya menemukan saja dan menciptakan istilah2 dan rumus2nya saja. Namun ilmu2 tersebut tetap ciptaan Allah. Dan bangsa2 yang menguasai ilmu2 Allah tersebut terbukti tidak ada yang terbelakang. Coba saja, tunjukkan mana negara2 yang menguasai ilmu dan teknologi tapi terbelakang dan miskin? :)

  30. waktu pada sekejapnya tuhan sama waktu pada sekejapnya tuhan beda. :D

    ___________________________

    Yari NK replies:

    Maksudnya mungkin waktu sekejapnya Tuhan dengan waktu sekejapnya manusia kali?? Emang… beda banget! :D

  31. Sejak penemuan struktur double helix molekul DNA pada tahun 1953 oleh James Watson dan Francis Crick, BIOKIMIA telah menjadi JANTUNG Biologi modern. Membahas teori evolusi tanpa melihat mendalam dari sisi bidang biokimia hanya akan menjadi argumen yang kosong saja.

    Organisme memerlukan material genetik sebagai cetak biru pembangunan sel mahluk hidup. Kalau hanya ada asam amino, tanpa informasi genetik yang memadai. Ibarat bahan bangunan (semen, kerikil, pasir, air) yang akan terus terbengkalai sampai ada aristek yang membuat cetak biru bangunannya dan ada driving force yang bekerja menyusun material dasar tersebut menjadi bangunan yang diinginkan.

    Sampai sekarang teori evolusi masih diperdebatkan para ahli biokimia. Kita tak bisa merefersterus ke percobaan klasik seperti Miller-Urey sebagai justifikasi kebenaran evolusi. Diperlukan riset2 lebih canggih untuk membuktikan teori evolusi. Secara komputasi saja, kita harus mengolah data milyaran data genom dari jutaan spesies di bumi. Kemudian berlanjut ke proteomik. Sampai ke sistem metabolisme mahluk hidup. Itu baru teoritisasi secara komputasi. Belum masuk ke ekesperimen.

    Revolusi Sains.

    ___________________________________________

    Yari NK replies:

    Betul sekali, dan Biologi Molekuler juga yang nampaknya akan membuka tabir rahasia terbentuknya kehidupan di masa lalu….. :)

  32. Membalas comment terakhir pak Yari .. :)

    Memang betul pak kita terus belajar … :) karena Ilmu itu berkembang dan berubah ..

    tetapi apabila sesuatu hal yang sudah pasti cukuplah itu diimani ..
    silahkan di teliti .. tetapi memutuskan atau memastikan asal muasal kehidupan dari ini dan itu … tanpa disertai keimanan .. akan tersesat seperti DARWIN .. ini yang dikawatirkan .. :)

    ______________________________________

    Yari NK replies:

    Sebenarnya tanpa belajarpun Darwin sebenarnya sudah “tersesat”. Yang membuat Darwin tersesat bukan belajarnya sendiri melainkan adalah karena:
    - Darwin memang sudah “tersesat”, jadi walau ia tidak belajar biologipun ia sudah “tersesat” (menurut kaca mata Islam)
    - Yang dipelajari Darwin memang belum tuntas, dan memang teori Darwin sampai sekarang masih banyak memerlukan penyempurnaan terutama dalam detailnya

    Jadi bukanlah “belajar”nya yang membuat Darwin tersesat, karena belajar itu pada hakikatnya adalah menemukan “kebenaran” termasuk kebenaran dari ayat2 Allah yang bertebaran di alam semesta ini. Jadi sangat tidak tepat kalau dikatakan “belajar” bertentangan dengan “keimanan”, yang membuatnya bertentangan adalah karena sifat dasar orangnya sendiri, bukan sifat belajarnya.

    Nah, jadi jangan takut kita belajar, walaupun hasil yang kita dapat adalah bertentangan dengan keimanan, jangan berhenti belajar, justru itu menandakan kita harus terus belajar…. sesuai dengan ayat Al-Quran pertama yang turun: “Iqra!”. Ok? :)

  33. Pro dan kontra itu biasa,menghargai perbedaan pendapat adalah ajaran orang yg agamis ya too…,mengenai masalah ini mmg sebagian org merasa berkecamuk dan dan bertentangan dgn ajaran dan kepercayaannya,hanya krn minoritas kita yang berlawanan hanya bs mencari jati dirinya,semua itu hak anda,agama manapun menerima perbedaan itu. sains selurus melangkah bersama nalar manusia,agamis searah dengan rasa & hati kita….dua duanya organ penting dalam tubuh kita,jadi jagalah kedua2nya,otak kita bs belajar dan berkembang jangan anda jadi munafik berkenalan dengan sains dan jangan anda jadi primitif karena keteguhan hati yang membuat kita berhenti mengembangkan diri…,ok saya di sini percaya dua duanya kita ikuti saja alur kehidupan ini…
    ada waktunya hidup akan datang pula masa ajal kita…so…nikmati masa hidupmu sebelum datang kematianmu….

    _______________________________

    Yari NK replies:

    Betul sekali….. yang jelas menurut saya, bagaimana dan apapun itu, kita harus terus mengeksplorasi alam semesta ini tanpa henti jikalau kita ingin mengembangkan peradaban umat manusia. Bagi yang mau ikut, silahkan, bagi yang tidak mau ikut, terserah, asal jangan ‘iri atau dengki’ jikalau melihat kemajuan kelompok yang lain yang terus mengembangkan dirinya……

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s