Gegap gempita pesta sepakbola “terakbar” kedua setelah Piala Dunia, yaitu Euro ( 2008 ) ini hampir mencapai puncaknya. Pada saat artikel ini ditulis, Jerman dan Turki sudah lolos ke semifinal. Berarti sisa pertandingan Euro tahun ini tinggal 5 pertandingan lagi. Karena sudah mencapai babak2 akhir dari Euro 2008 ini, maka sisa2 pertandingan yang sangat menentukan ini buat saya adalah “wajib tonton”. Jikalau pada babak penyisihan banyak yang saya lewatkan karena mengantuk, namun mulai babak perempat final yang menggunakan sistem gugur saya bertekad untuk tidak melewatkan siaran langsungnya. Hehehe…….
Namun ketika pesta Euro 2008 akan memasuki babak2 akhir, ada satu peristiwa olahraga juga yang tiap tahun tidak pernah saya lewatkan, yaitu turnamen tennis Wimbledon di Inggris. Ya, sejak tahun 1990an pada saat StarSports mulai menyiarkan langsung pertandingan Wimbledon ini, saya hampir tidak pernah melewatkannya setiap pertandingan yang disiarkan langsung di televisi mulai dari babak awal hingga babak final. Turnamen tennis yang sering dikatakan sebagai terakbar di dunia ini, pada tahun ini dimulai hari Senin besok. Dan mulai hari Senin besok, mungkin tontonan saya di rumah menjadi bertambah dengan dimulainya Wimbledon ini. Huehehehe……. Untuk itu, untuk postingan kali ini, saya akan mengangkat masalah yang ringan2 saya seputar Wimbledon (dan tennis) ini.
Turnamen tennis Wimbledon ini tergolong turnamen tenis yang “unik”. Walaupun sering dikatakan sebagai turnamen tennis terbesar terjagad namun nilai2 ketradisionalannya sangat terjaga. Tidak seperti di turnamen2 tennis lainnya yang bebas menggunakan pakaian tennis yang trendy berwarna-warni, di Wimbledon ini para pemain tennis diwajibkan memakai baju tennis berwarna putih atau dominan berwarna putih. Wimbledon juga satu2nya turnamen sekelas Grand Slam yang masih setia menggunakan lapangan rumput sejak mulai dipertandingkan tahun 1877. Ketiga turnamen Grand Slam tennis lainnya yaitu: Roland Garros (Perancis) kini memakai tanah liat. US Open (Amerika Serikat terbuka) menggunakan lapangan sintetis DecoTurf, sedangkan Australia Terbuka juga menggunakan lapangan sintetis berjenis Plexicushion. Ketradisionalan Wimbledon bukan itu saja, lapangan ini juga tidak memiliki penerangan dari lampu buatan sehingga pertandingan Wimbledon tidak bisa dilanjutkan setelah pukul 9 sore ketika matahari terbenam (Di Inggris, pada musim panas matahari terbenam sekitar pukul 9 sore/malam). Ketradisionalan itu bertambah dengan papan skor elektronik tradisional teknologi tahun 1970an. Jikalau di banyak lapangan tennis kualitas internasional lainnya papan skor sudah menggunakan video layar lebar, maka papan skor elektronik di Wimbledon ini sudah usang teknologinya. Walaupun pada tahun 2006 sudah dipasang video layar lebar, namun untuk papan scoring tetap menggunakan papan skor elektronik yang jadul tersebut!
Sebenarnya saya mulai menyukai pertandingan tennis (termasuk Wimbledon tentu saja) pada waktu saya mulai main tennis di tahun 1980an walaupun hanya sekedar untuk hobby saja (Sekarang sudah hampir 10 tahun saya hampir2 tidak pernah mengayunkan raket tennis lagi). Di awal tahun 1980an, tennis dunia masih dikuasai oleh segelintir negara saja yaitu AS, Australia, Cekoslowakia dan Swedia. Tunggal putri di awal tahun 1980an masih dikuasai oleh dua petenis AS yaitu Chris Evert dan Martina Navrátilová. Martina Navrátilová membelot dari negaranya Cekoslowakia dan resmi menjadi warga negara AS di tahun 1981. Sedangkan di tunggal putra, tennis masih dikuasai oleh dua petenis AS John McEnroe, Björn Borg dari Swedia dan juga Ivan Lendl petenis Cekoslowakia yang juga akhirnya membelot ke AS.
Namun peta kekuatan tennis mulai merata ketika dua petenis Jerman Barat, masing2 satu di putera dan puteri, yaitu Boris Becker dan Steffi Graf memenangkan gelar Wimbledon mereka yang pertama. Boris Becker menggondol gelar Wimbledon pertamanya di tahun 1985 sedangkan Steffi Graf di tahun 1988. Sejak itu kekuatan tennis dunia mulai merata atau boleh dikatakan dengan kata lain prestasi tennis Amerika Serikat dan Australia kini sudah menurun. Dari 10 teratas petenis putera dunia kini hanya dua yang berasal dari AS yaitu Andy Roddick dan James Blake. Sedangkan di bagian puteri juga hanya menyisakan dua petenis AS saja di 10 besar yaitu si kakak beradik Venus dan Serena Williams. Sayang, walaupun peta kekuatan tennis dunia kini jauh lebih merata namun tetap saja petenis2 dari Asia sulit menembus 10 besar dunia, apalagi Indonesia. Hanya saja ada sedikit catatan di bagian puteri bahwa petenis2 Eropa Timur yang cantik2 itu kini merajai petenisan dunia apalagi sejak dua petenis Belgia Justine Henin dan Kim Clijsters mengundurkan diri dari dunia tennis.
Nah, kini siapa yang berhasil membawa pulang hadiah US$ 1.470.000 sebagai juara tunggal putera dan tunggal puteri Wimbledon? Walaupun saya ingin Rafael Nadal (Spanyol) di bagian putera atau Daniela Hantuchová dari Slowakia yang menang, tapi kok rasa2nya bakal Roger Federer (Swiss) lagi yang jadi juara di bagian putera, atau salah satu petenis Rusia di bagian puteri. Tapi, ah siapa tahu ada kejutan?? Yang penting saya nikmati saja deh siaran langsungnya. Kalau di Wimbledon sana orang2 menikmati Wimbledon dengan strawberry dan cream, maka saya di sini cukup menikmati Wimbledon dengan kacang kulit dan kopi Capuccino instan saja. Huehehehe……
UPDATE:
Kemarin (23/6) saya lihat di televisi bahwa Papan scoring jadul di Centre Court Wimbledon mulai tahun ini sudah diganti dengan papan scoring video layar lebar yang modern.








untuk euro 2008, saya layak bersedih, bung yari, haks. belanda yang saya jagokan masuk final dan jadi juara, mengulang sukses masanya ruud gulid dan marco van basten, ternyata keok. tim oranye tak berkutik saat menghadapi tim rusia 1-3. belanda yang terkenal dengan total football-nya ternyata tak berdaya menghadapi permainan supersemangat yang ditampilkan rusia. rusia memang layak utk menang. selamat deh, hehehe
ttg wimbledon, saya terus terang saja jarang mengikuti perkembangannya, bung. jika event itu nanti digelar, mohon kepada bung yari untuk memostingnya sekaligus memberikan prediksi pada setiap pertandingan yang akan berlangsung. sungguh, bung yari. *maksa*
Komentar oleh Sawali Tuhusetya — Minggu, 22 Juni 2008 @ 5:54 am |
Alasannya apa ya sampai tetep dipertahankan kejadulannya begitu?
Russia menang, ole!
Komentar oleh Ali Akbar — Minggu, 22 Juni 2008 @ 6:26 am |
federer atau djokovic deh, nadal kan sukanya tanah liat, sedangkan wimbledon ijo2 gitu
Komentar oleh yudi — Minggu, 22 Juni 2008 @ 6:26 am |
Wah jagoan saya belanda keok dari rusia 3-1 euy. ternyata hasil hebat ga di babak penyisihan ga menjamin ya? kalo wimbledon saya ga tau banyak tapi kalo putra yg menang hampir pasti deh roger federer.
Komentar oleh AgusBin — Minggu, 22 Juni 2008 @ 9:44 am |
Salam kenal. Date Kimiko dari Jepang pernah masuk 10 besar dunia lho, Pak.
Komentar oleh tunjung — Minggu, 22 Juni 2008 @ 12:42 pm |
Salam
aduh saya senang jagoan saya Rusia menang, dah feelin sie *cieee*
dah lama ga ngikutin wimbledon terakhir yang dikenal era Steffi Graff, Andre Agasii, Martina navratilova, Boris becker, paling suka yang cantik Anna Kornikouva wah lupa -lupa *btw ejaannya benr ga ya* namanya ribet2
Komentar oleh nenyok — Minggu, 22 Juni 2008 @ 12:47 pm |
wah sama dengan pak sawalai belanda sudah tumbang lebih dulu..
tapi g masalah pak… memang tim terbaiklah yang akan jadi juara
bisa jadi turki, germab yang jelas bukan indonesia
wimbledon sayang skali g suka tenis pak…
Komentar oleh azaxs — Minggu, 22 Juni 2008 @ 12:48 pm |
aku malah lebih memilih Pilkada2 tuh Pak tuk jadi fokus tontonan
Komentar oleh achoey sang khilaf — Minggu, 22 Juni 2008 @ 1:10 pm |
Sampai sekarang saya masih penasaran sama petenis putri kenapa yang merajai tuh Eropa Timur, mun mungkin karena sudah membudaya, pernah baca bahwa seorang ibu memasukkan anaknya ke sekolah tenisi plus pelatih pribadi dengan biaya rupiah 200 jt, sampai menjual rumah agar anaknya menjadi petenis top, suatu semangat yang harus diteladani bung.
Komentar oleh Laporan — Minggu, 22 Juni 2008 @ 1:15 pm |
Setidaknya Yayuk Basuki pernah merasakan perempat final Wimbledon dan masuk 20 besar dunia
Komentar oleh Nayantaka — Minggu, 22 Juni 2008 @ 2:09 pm |
Ga jadi Bugil deh.
Komentar oleh ubadbmarko — Minggu, 22 Juni 2008 @ 2:18 pm |
lebih seru euro kaya nya….
Komentar oleh zoel chaniago — Minggu, 22 Juni 2008 @ 3:20 pm |
Memang, pertunjukkan olahraga dapat menjadi penghibur dan pengalih perhatian dari tugas harian yang terkadang membosankan.
Komentar oleh Rafki RS — Minggu, 22 Juni 2008 @ 9:55 pm |
@Sawali Tuhusetya
Ya nggak apa2 kok pak Sawali…. memang nggak semua orang senang tennis kok. Hehehe… Kalau postingan Wimbledon…. kayaknya nanti saja kalau sudah selesai Wimbledon-nya, itu juga nggak janji, sebab bisa saja saya ingin menulis yang lain, maklum blog ini kan blog gado2 banget… huehehehe….
@Ali Akbar
Orang Inggris memang senang dengan tradisi, lihat aja sampai2 mereka menolak melepaskan mata uang poundsterling mereka untuk bergabung dengan Euro.
@yudi
Tapi… Nadal suka mengejutkan loh…. walaupun kata orang dia “cuma” rajanya lapangan tanah liat. Baru-baru ini dia menjuarai kejuaraan tennis Stella Artois di lapangan rumput, turnamen pemanasan menjelang Wimbledon. Yah, mudah2an Nadal minimal bisa ke Final deh….
@AgusBin
Hehehe… jagoan saya yang satu Spanyol masih bertahan. Barusan menang adu penalti lawan Italia.
@tunjung
Salam kenal juga. Memang Kimiko Date pernah masuk 10 besar. Tapi cuma sebentar dan baru itu saja petenis Asia yang masuk 10 besar. Mangkannya saya bilang sulit bukan mustahil hehehe….
@nenyok
Yaaa… ejaannya anggap aja benar deh… Huehehehe… Memang Anna Kournikova memang cantik kalau nggak salah sempat jadi model juga, sayang prestasi tennisnya cepat tenggelam secepat prestasinya meroket pada awalnya….
@azaxs
Wah… jangan bandingkan dengan Indonesia dong…. Indonesia, piala
TigerASEAN aja belum tentu juara…@achoey sang khilaf
Hehehe… ya sah2 aja sih… Pilkada jadi tontonan… asal jangan dibuat ajang judi aja…. Udah dosa…. taruhannya nggak elit pula, Pilkada gitu loh….
yang politisnya cuma jago janji doang!@Laporan
Betul…. selama 10 tahun terakhir… petenis2 Eropa Timur terutama Rusia jadi berkembang pesat terutama puteri2nya. Yang saya heran justru kenapa cuma puterinya ya? Sedang puteranya ya… ada juga yang jago2 cuma tidak begitu semerajalela puteri2nya….
Btw, wah bisa jadi obyek penelitian tuh!
@Nayantaka
Betul…. Yayuk Basuki masuk The Club-8, klub yang hanya beranggotakan pemain2 tennis yang pernah masuk babak 8 besar (perempat final) Wimbledon. Dan Yayuk memang pernah masuk 20 besar dunia. Sayang ya, padahal Yayuk kalau mau dilatih di luar negeri mungkin prestasinya bisa lebih baik lagi……
@ubadmarko
Bugil = Bulé gila??
@zoel chaniago
Kalau yang lebih senang sepakbola ya seruan Euro 2008, tapi yang lebih senang tennis ya pasti lebih seru Wimbledon katanya. Tergantung…
@Rafki RS
Betul…. untuk mengalihkan perhatian dari tugas harian yang membosankan dan juga untuk mengalihkan perhatian dari masalah2 politik terutama politik dalam negeri yang memuakkan… hehehe….
Komentar oleh Yari NK — Senin, 23 Juni 2008 @ 5:53 am |
Teteup 100% support untuk Federer…. Mas Yari biasanya memihak yang lemah kan (Nadal)?
Komentar oleh Yoga — Senin, 23 Juni 2008 @ 8:03 am |
Tetep nonton Euro…hehehe Jerman ato Spanyol deh..
Komentar oleh nina — Senin, 23 Juni 2008 @ 11:51 am |
yang saya inget dari Tennis cuma Gabriella Sabatini
dari dulu belajar tenis betahun-tahun tetep aja gak bisa sampe sekarag,
jadinya temen2 yang ngajarin malah jadi bosen n kapok gak mau ngajarin lagi
Komentar oleh gunawanwe — Senin, 23 Juni 2008 @ 12:12 pm |
ga terlalu suka nonton uero dan wimbledon.
nonton badminton open cup aja deh hehehe Ayooo indonesia…..
Komentar oleh leah — Senin, 23 Juni 2008 @ 2:47 pm |
Kayaknya kamu penggila tenis yaa…. Eh katanya Indonesia pernah juara wimbledone junior siapa gitu pokoknya namanya “anjelina” kalo gak salah, aku lupa, gimana sekarang yaa kan sudah senior kalau gak salah, masak gak bisa bersaing
Komentar oleh Brunki — Senin, 23 Juni 2008 @ 7:31 pm |
@Yoga
Kalau saya sih juga merasa Federer yang akan menang soalnya dia rajanya lapangan rumput meskipun saya akan jauh lebih senang jika Nadal yang juara.
@nina
Saya Spanyol aja deh….
@gunawanwe
Iya mas…. Gabriela
SabatiyemSabatini memang cantik dan jago, nggak heran banyak orang yang masih ingat petenis puteri Argentina tahun 1990an ini….Ya nggak apa2 mas….. masing2 orang punya bakat dan keahliannya tersendiri kok….
@leah
Wah…. kalau begitu… sorak sorainya udah berlalu dong pada saat Thomas dan Uber Cup yang lalu… sayang Indonesia gagal ya….
@Brunki
Maksudnya Angelique Widjaja?? Memang sekarang sudah senior… tapi justru prestasinya tenggelam !! Ironis ya??
Sebagai perbandingan…. Maria Sharapova tidak pernah juara Wimbledon junior tapi begitu senior prestasinya langsung meroket setinggi langit. Menurut saya mendingan nggak berprestasi di junior namun meroket prestasinya di senior daripada berprestasi di junior tapi melempem di senior. Nggak ada orang yang mengingat prestasi junior apalagi cuma juara sekali !
Komentar oleh Yari NK — Selasa, 24 Juni 2008 @ 5:56 am |
loh…. masih berlangsung koq pak (CMIIW )
itu loh badminton open cup jarum super yang ditanyangin di trans7
Komentar oleh leah — Selasa, 24 Juni 2008 @ 7:41 am |
Sayang saya kurang suka dan kurang mengerti tenis…
Komentar oleh ardianto — Selasa, 24 Juni 2008 @ 8:42 am |
Ini perbandingan yang berani dan pasti dianggap aneh oleh kebanyakan blogger Indonesia. Tapi tidak di Eropa sana. Apa pun yang terjadi, mau Piala Dunia kek, daya pikat Wimbledon tidak berkurang sedikit pun.
Bung Yari, barangkali turnamen Wimbledon adalah satu-satunya event olahraga di dunia yang mampu bertahan dengan segala keunikan dan tradisinya. Yang pasti, inilah satu-satunya turnamen olahraga profesional di muka bumi yang arenanya tidak “dikotori” oleh pernik-pernik sponsor.
Itulah salah satu kehebatan Wimbledon. Ketika semua kejuaraan olahraga didikte oleh sponsor, termasuk Piala Dunia sepakbola, Wimbledon malah sebaliknya selalu mampu mendikte sponsor.
Bayangkan saja, perusahaan-perusahaan raksasa berlomba mensponsori turnamen ini, padahal sekadar logonya pun tidak boleh dipajang di pinggir lapangan.Outlet buat sponsor adalah buku program turnamen, dan siaran langsung TV.
Oh ya, Wimbledon adalah event olahraga pertama di dunia yang disiarkan langsung oleh TV berwarna, yaitu oleh BBC tahun 1966.Sebelum itu semua siaran langsung olahraga masih hitam putih.
salam olahraga
Komentar oleh tobadreams — Selasa, 24 Juni 2008 @ 12:16 pm |
Lebih enak baca tulisan Euronya, di samping berita politik di indonesia.
Tentang wimbledon, jd inget dulu belajar tennis. Pertama belajar, cara memegang raket trus mengayunkannya. Komentar pertama dari yg ngajarin :
‘ini tennis bukan bulutangkis!’
Hehe. Abis badminton lebih populer sih di indonesia.
Komentar oleh Rulieta — Selasa, 24 Juni 2008 @ 6:32 pm |
selain Euro, kadang level piala asia atau tiger cup dimana negara indon kita tercinta berpartispasi juga selalu menarik… meski kadang pas nonton kita mencaci-maki pemain dari negeri kita sendiri (^_^)
Komentar oleh khofia — Selasa, 24 Juni 2008 @ 7:34 pm |
silaturrahmi, udah lama ga kesini…:)
saya lagi jarang nonton pak.
tapi semifinal dan final euro ini ditonton kayanya.
ama berita meninggalnya mahasiswa unas.
*kok jadi cerita diri
Komentar oleh arifrahmanlubis — Selasa, 24 Juni 2008 @ 9:50 pm |
@leah
Oh…. masih ya?? Sampai luput dari perhatian karena tenggelam oleh gegap gempitanya Euro. Huehehe…. iya deh nanti saya coba tonton.
@ardianto
Memang… nggak semua orang senang tennis kok.
@tobadreams
Memang betul…. Wimbledon termasuk yang “minim” pajangan sponsor, walaupun turnamen ini banyak ditonton oleh ratuan juta pasang mata. Namun juga yang menyebabkan turnamen ini menjadi “kontroversial” adalah sistem unggulan di Wimbledon ini seringkali tidak mengacu pada ranking ATP ataupun WTA.
@Rulieta
Memang sih… di Indonesia bulutangkis lebih populer. Tetapi bangsa ini seyogianya juga belajar tennis, seperti China. China sekarang sudah nggak puas hanya jago di bulutangkis dan tennis meja saja, mereka mati2an ingin menjadi jago juga dalam bidang tennis.
@khofia
Iya… apalagi kalo gawang kita kebobolan…. nggak puas deh kalo belum memaki2 pemain sendiri !!
@arifrahmanlubis
Ya nggak apa2…. masing2 punya tontonannya sendiri2 kok.
Komentar oleh Yari NK — Rabu, 25 Juni 2008 @ 5:41 am |
sekarang giliran Tamarine Tanasugarn yang masuk perempat final, sayang gagal masuk semifinal juga. Berarti petenis Asia Tenggara emang lebih cocok main di lapangan rumput ya? Padahal di sini hampir tidak ada lapangan rumput
____________________________________
Yari NK replies:
Iya…. petenis China, Zheng Jie, malah masuk Semi Final (walau bukan petenis Asia Tenggara). Dan hebatnya dia adalah petenis yang hanya diberi jatah “Wild Card” oleh panitia.
Komentar oleh Nayantaka — Rabu, 2 Juli 2008 @ 4:10 pm |