Yari NK

Arsip untuk Juli, 2008

Indonesia Membawa Pulang Dua Medali Emas Olimpiade Fisika

In Serba Serbi, Uncategorized on Kamis, 31 Juli 2008 at 5:00 am

Di tengah-tengah segala pemberitaan miring mengenai pendidikan di Indonesia dan juga di tengah pemberitaan hal-hal yang negatif lainnya mengenai Indonesia, ternyata negara ini masih bisa menorehkan prestasinya. Ya, ditengah-tengah permasalahan dan benang kusutnya sistem pendidikan di negeri ini ternyata tim olimpiade Fisika kita berhasil menyabet 2 medali emas dari the 39th International Physics Olympiad yang dilangsungkan di Vietnam baru-baru ini. Walaupun kali ini Indonesia tidak menyabet gelar the absolute winner seperti di olimpiade Fisika di Singapura lalu, dan juga perolehan medali emas turun dari 4 di Singapura menjadi 2 di Vietnam, namun tentu hasil ini tetap sangat menggembirakan dan membanggakan di tengah miskinnya prestasi bangsa ini di kancah internasional. Salah satu Fisikawan muda kita tersebut bahkan menduduki peringkat 4 dari seluruh peserta internasional yang mengikuti olimpiade tersebut sebuah peringkat yang tinggi tentu saja. China memboyong tempat pertama, kedua dan ketiga terbaik. Hasil lengkapnya dapat dilihat di sini.

Yang mengejutkan adalah peringkat-peringkat atas olimpiade Fisika (sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena yang lalu-lalu fenomena ini juga telah terlihat) didominasi oleh peserta-peserta dari Asia. Peserta-peserta bulé yang sering dimitoskan lebih cerdas dari peserta-peserta dari Asia ternyata banyak yang keok. Peserta dari negara bulé yang paling tinggi adalah peserta dari Canada yang notabene pesertanya juga imporan dari Asia. Peserta bulé asli **halaah rasis** dengan prestasi tertinggi malah datang dari negara Eropa Timur yang kecil yaitu Moldova. Negeri jiran kita Malaysia yang dipercaya sistem pendidikannya lebih baik dari kita hanya menggondol sekeping medali perak sebagai prestasi terbaiknya. Sementara negeri jiran kita lainnya yang juga dipercaya lebih superior dari kita di mana kita banyak mempercayai mahasiswa-mahasiswa kita untuk bersekolah di sana yaitu Australia nasibnya sama dengan Malaysia hanya mendapatkan sekeping medali perak untuk prestasi tertingginya. Perlu pula diketahui selain kita mendapatkan dua emas, Indonesia masih mendapatkan 2 medali perak lagi. Uni Kerajaan (Inggris) malah lebih parah lagi, mereka paling tinggi hanya mendapatkan medali perunggu. Sedangkan Belanda, negeri penjajah kita selama 350 tahun, lebih kasihan lagi, hanya kebagian gelar honourable mention saja. Huehehe…… O iya, dalam daftar pemenang dicantumkan juga jenis kelamin para peserta. Di situ terlihat laki-laki sangat mendominasi perolehan medali dibandingkan wanita. Apakah itu berarti laki-laki secara rata-rata masih lebih cerdas dari wanita?? walahualam deh…. *halaaah seksisme** :mrgreen: Dari daftar pemenang juga dapat dilihat bahwa (lagi-lagi) peserta-peserta dari Afrika dan Timur Tengah lagi-lagi tidak bisa berbuat banyak. Apakah berarti negara-negara Afrika dan Timur Tengah terbelakang dalam sains dan teknologi? Walahualam….. bisa iya bisa juga tidak.

Ya udah deh, mudah-mudahan mereka yang pernah berjaya mengharumkan nama Indonesia pada Olimpiade Fisika dapat bekerja sesuai bidangnya. Janganlah nanti mereka terpaksa bekerja sebagai manajer pemasaran (atau pengusaha) atau pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bukan karena menjadi manajer pemasaran (atau pekerjaan-pekerjaan lainnya) derajadnya lebih rendah, bukan itu, namun alangkah sayangnya jika mereka bekerja bukan pada bidang yang dapat mereka lakukan secara maksimal. Potensi-potensi hebat mereka bisa hilang. Ada dua kemungkinan jika mereka tidak menemukan pekerjaan yang cocok dengan keinginannya yaitu banting setir mencari pekerjaan lain yang kurang sesuai dengan potensi maksimalnya atau ia akan lari ke luar negeri, menjadi ilmuwan atau insinyur andal di negeri orang. Tentu ini merupakan kehilangan atau kerugian yang sangat bagi Sumberdaya Manusia di Indonesia ini…… Bukan begitu?

Pendidikan Membuahkan “Diskriminasi”??

In Kehidupan, Serba Serbi, Uncategorized on Senin, 28 Juli 2008 at 5:00 am

Sebenarnya fikiran seperti ini sudah ada sejak dulu dalam fikiran saya, tapi entah kenapa, baru terfikirkan sekarang oleh saya untuk membuat artikel dengan tema seperti di atas. Kita semua mengetahui bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dan tidak dapat diabaikan lagi terutama di zaman globalisasi yang kompetitif ini. Tanpa pendidikan yang baik tentu saja suatu kelompok masyarakat atau suatu bangsa tidak akan mampu bersaing secara sempurna dengan bangsa lain yang lebih ‘terdidik’. Namun terlepas dari peran pendidikan di sebuah masyarakat, saya sejak dulu senantiasa berfikir…. Apa tujuan hakiki dari pendidikan tersebut?? Apakah untuk meningkatkan kualitas manusia baik skill ataupun moralnya, atau pendidikan hanya menghasilkan masyarakat yang terkotak-kotak??

Jikalau anda seorang karyawan atau minimal pernah menjadi karyawan tentu anda pernah merasakan atau minimal melihat kenyataan bahwa ada banyak posisi2 tertentu di dalam perusahaan yang tidak bisa dijangkau oleh pelamar2 dengan tingkat pendidikan yang “kurang tinggi”. Ini terkadang timbul pertanyaan, apakah posisi tersebut benar2 tidak bisa dikerjakan oleh seseorang yang dengan tingkat pendidikan yang kurang tinggi?? Jikalau bidang engineering (bukan bidang montir teknis loh!) mungkin sedikit masuk akal jikalau paling sedikit pendidikannya adalah S1 (kecuali mungkin teknik komputer karena  yang saya lihat ‘ahli2′ komputer keluaran kursus seringkali nggak ada bedanya dengan sarjana komputer yang lulusan S1:mrgreen: ), namun bagaimana di bidang2 lainnya??

Saya pernah bertanya kepada teman saya yang waktu itu bekerja di sebuah bank pemerintah di Jember. Saya iseng2 bertanya kepada dia yang lulusan S1 itu: “Kerjaan kamu di bank itu, sebenarnya yang mana sih yang benar2 nggak bisa dikerjakan oleh seorang lulusan SMA??” Hingga kini teman saya tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan saya tersebut. Terlepas dari bisa tidaknya ia menjawab, saya yakin banyak sebenarnya posisi2 yang ditujukan untuk lulusan S1 sebenarnya bisa dikerjakan oleh lulusan D3 bahkan SMA. Toh pada saat kita masuk kerja, kita sama2 belajar lagi. Yang lulusan D3 atau SMA, jikalau diberi kesempatan yang sama mungkin dapat melakukan pekerjaannya sama baiknya dengan yang lulusan S1.

Memang saya mengetahui bahwa ijazah adalah filter awal yang paling mudah walau belum tentu akurat dalam menyaring calon karyawan. Namun tidak bisakah dikembangkan filter2 awal yang lebih obyektif dan lebih akurat sehingga ijazah bukan hanya satu2nya filter awal yang menentukan layak tidaknya seseorang untuk bekerja pada posisi tertentu?? Walahualam deh….. itu kerjaannya orang2 SDM hehehe….. Dan saya juga sering mendengar bahwa mereka yang lulusan S1 seringkali tidak menginginkan lowongan baru dan kesempatan karir mereka dibedakan dengan yang lulusan S2, namun ironisnya mereka (yang lulusan S1) menutup diri dengan mereka yang lulusan SMA atau D3! Sebuah ketidakkonsistenan! Kenapa begitu?? Ya…. mudah saja….. mungkin mereka yang lulusan S1 masih mendominasi jajaran manajerial di perusahaan tersebut sehingga policy penerimaan karyawan proses rencana karir mereka sangat S1-sentris!

Penutupan kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung dalam mendapatkan pendidikan lanjutan itulah yang mungkin menyebabkan “diskriminasi” di dalam masyarakat. Tentu saja masih ada jalan lain bagi mereka yang berpendidikan kurang tinggi untuk menggapai posisi yang tinggi dalam status sosial seperti menjadi pengusaha ataupun artis terkenal misalnya. Namun toh kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak saudara2 kita yang tidak berkesempatan untuk berpendidikan tinggi hilang kesempatannya untuk menggapai karir yang lebih tinggi walaupun mungkin ia sanggup mengerjakannya dengan baik bahkan mungkin lebih baik dari mereka2 yang lulusan S1.

Kita toh selama ini juga sering menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri, bahwa mereka2 yang berpendidikan lebih tinggi secara formal belum tentu cara berfikirnya dan hasil kerjanya lebih baik daripada mereka2 yang berpendidikan lebih rendah. Bahkan saya juga sering melihat mereka2 yang lulusan luar negeri juga pulang hanya dengan selembar ijazah dan juga mungkin Bahasa Inggris yang lebih baik sedikit. Mungkin mereka di luar negerinya cuma dapat universitas2 yang kelas kambing! :mrgreen: Walahualam deh! :D Yang penting menurut saya, jangan hanya membanggakan ijazah dan juga jangan membanggakan ijazah luar negeri dari universitas kelas kambing, tapi banggalah dengan kemampuan riil anda dan jangan cepat puas! Boleh setuju dan boleh tidak setuju! :D

Orangutan Prima Donna Primo Animale Satwa Kita…

In Pengetahuan, Serba Serbi, Uncategorized on Jumat, 25 Juli 2008 at 5:00 am
Julia Roberts & Orangutan

Julia Roberts & Orangutan

Kusasi Raja Orangutan

Kusasi Raja Orangutan di Camp Leakey

Dr. Biruté Galdikas

Anda tentu pernah melihat orangutan baik di kebun binatang atau minimal di televisi. Atau anda pernah melihatnya langsung di hutan? Kalau belum pernah melihat orangutan, foto2 di artikel ini adalah foto2 orangutan. Maklum saja, banyak orang yang belum bisa membedakan mana orangutan, mana simpanse, mana gorilla bahkan mana siamang. Mungkin tahunya monyet atau kera saja.

Orangutan adalah kera berbulu kemerah2an atau jingga. Orangutan adalah satu2nya kera besar yang habitat aslinya berada di luar Afrika. Ketiga kera besar lainnya yaitu Simpanse, Gorilla dan Bonobo habitat aslinya berada di benua Afrika. Ratusan ribu tahun yang lalu, orangutan hidup tersebar mulai dari daratan China selatan hingga pulau Jawa. Namun kini, orangutan hanya tinggal terdapat di Sumatra dan Kalimantan saja. Kira-kira 90% orangutan hidup di Indonesia sedangkan Malaysia hanya kebagian 10% saja. Spesies yang hidup di Sumatra berbeda dengan yang hidup di Kalimantan. Orangutan yang berada di Sumatra badannya sedikit lebih kecil dari orangutan Kalimantan, wajahnya lebih sedikit lonjong dan hidupnya lebih sosial dibandingkan orangutan Kalimantan yang hidupnya lebih soliter.

Orangutan adalah termasuk binatang yang cerdas. Banyak ahli mengatakan bahwa kecerdasan orangutan dewasa kira2 sama dengan kecerdasan anak manusia berusia 5 tahun. Dan baru dekade belakangan ini disadari bahwa ternyata orangutan lebih cerdas daripada simpanse yang sejak lama dipercaya bahwa simpanse adalah spesies tercerdas nomor dua di bumi setelah manusia. Di salah satu acara di Animal Planet difilmkan bagaimana orangutan bisa membuka pintu yang hanya bisa terbuka dengan alat bantu stik kayu yang ada di dekat pintu tersebut. Juga digambarkan seekor orangutan betina (namanya Princess kalau tidak salah) yang bisa naik perahu dengan terlebih dulu melepaskan tali dari tambatannya, lalu ia menaiki perahu tersebut dan mendayung dengan tangannya. Yang paling fenomenal mungkin adalah seekor orangutan bernama Ken Allen penghuni kebun binatang San Diego. Orangutan ini terkenal lihai dalam melarikan diri dari kandangnya di kebun binatang dan ia melakukannya berkali-kali. Pengelola kebun binatang sudah beberapa kali merombak kurungan Ken Allen agar ia tidak bisa melarikan diri, namun orangutan cerdas ini berkali2 tetap dapat meloloskan diri.

Walaupun begitu kecerdasan orangutan tentu bukan tandingan kecerdasan manusia. Walaupun secara fisik juga seekor orangutan jauh lebih kuat dibandingkan manusia, namun orangutan tetap tak berdaya manakala habitat aslinya di hutan terdesak oleh peradaban manusia. Hutan-hutan yang menjadi tempat tinggal orangutan sedikit demi sedikit dibabat habis. Jikalau pembalakan hutan tidak dihentikan maka mungkin dalam 20 tahun mendatang orangutan akan punah dari Sumatra dan Kalimantan.

Derita orangutan ini juga pernah dialami Kusasi, yang kini menjadi “raja” orangutan di sekitar Camp Leakey. Sebuah kamp rehabilitasi orangutan yang didirikan oleh Dr. Biruté Galdikas, seorang Kanada yang lahir di Jerman dan berdarah Lithuania. Kusasi, orangutan jantan yang berukuran besar ini berkali2 menghiasi layar kaca di channel Animal Planet. Orangutan ini termasuk orangutan yang “beruntung” karena pernah dipeluk oleh bintang film Hollywood terkenal Julia Roberts dalam sebuah film dokumentar “In the wild with Julia Roberts”. Namun masa kecil Kusasi tidak “sebahagia” pelukannya dengan Julia Roberts. Sewaktu masih bayi induk Kusasi dibunuh oleh manusia dan Kusasi kecil dibawa ke kota untuk dijual. Namun beruntung, polisi menyelamatkannya dan Kusasi dikirim ke kamp rehabilitasi orangutan Camp Leakey.

Kita berharap di masa mendatang orangutan dapat hidup dengan tenang di habitat aslinya tanpa terganggu. Bagaimanapun juga orangutan adalah satwa yang secara tidak langsung telah membuat nama Indonesia terkenal, karena negara kita menjadi tempat habitat salah satu spesies kera besar yang cerdas yang DNA-nya sekitar 95% sama dengan DNA kita. Walaupun Indonesia memiliki banyak satwa yang unik (yang tentu saja semuanya harus dilindungi), namun tak diragukan lagi bahwa orangutanlah prima donna primo animale satwa kita. Dan tentu saja kita semua wajib menjaga satwa kita sebagai bagian dari kekayaan alam kita sebagaimana kita menjaga kekayaan alam kita lainnya………

_____________________

Catatan:

Spesies orangutan Kalimantan disebut Pongo pygmæus sedangkan spesies orangutan Sumatra disebut Pongo abelii.

Ketika Satu Hari Adalah 30 Jam…..

In Pengetahuan, Serba Serbi on Selasa, 22 Juli 2008 at 5:00 am

Satu hari aku bangun pagi, waktu menunjukkan pukul 5.00 pagi. Hari ini seperti biasa aku harus masuk kerja. Sesaat setelah shalat shubuh yang terkadang masih suka bolong-bolong, aku segera mandi dan berpakaian, selesai mandi dan berpakaian kira2 Jam 6 kurang 5 menit atau pukul 5.67, saya menyantap sarapan pagi sambil membaca koran pagi (kebiasaan yang baik nggak ya? :mrgreen: ) namun telinga saya tetap terfokus kepada berita televisi dan sesekali mata saya juga melirik ke arah televisi jikalau ada berita2 yang menarik dari televisi.

Yang paling kutunggu2 saat ini adalah berita tentang persiapan olimpiade di Beijing. Aku tidak sabar menanti dimulainya event olahraga terbesar tahun ini. Setelah Euro 3730, boleh dikata tidak ada lagi event2 olahraga internasional yang menyita perhatianku hingga olimpiade Beijing mendatang. Aku terus menerus menghitung mundur hingga hari-H pembukaan olimpiade tersebut. Aku melihat tanggal di koran, ah ternyata hari ini baru tanggal 25 Juli 3730, sementara olimpiade Beijing dibuka tanggal 6 Agustus 3730. Wah masih 20 hari lagi fikirku. Yah, 20 hari terasa lama bagiku, aku harus menunggu 20 hari kali 30 jam atau sama dengan 600 jam lagi hingga pembukaan olimpiade.

Tiba-tiba aku sadar bahwa kini waktu telah menunjukkan pukul 10.36 pagi, waktu berjalan sangat cepat, padahal setengah jam lagi atau tepatnya pukul 11.00 aku harus tiba di kantor karena jam kantor dimulai pukul 11.00. Bergegas aku segera menuju mobilku, eh salah deh, demi penghematan dan demi penghijauan dan karena kere (miskin) aku bergegas menuju angkot yang akan membawaku ke kantor. Wah, ya ampun tiba dikantor pukul 10.67, tepat lima menit sebelum jam kerja kantor dimulai pukul 11 tepat. Aku memasukkan kartu absen, eh salah deh itu sih udah kuno, yang benar aku memindai jempol tanganku di atas mesin pemindai jempol absen modern sebagai tanda clock-in. Puih….. ternyata aku nggak jadi terlambat masuk kantor.

Setelah aku masuk ke dalam ruanganku. Aku menyalakan komputer, selain mencek e-mail dan berusaha membalas mana yang penting, akupun juga sempat membuka blogku dan berusaha sebisa mungkin untuk menjawab komen2 yang masuk ke dalam blogku sambil blogwalking juga ke beberapa blog sebisa mungkin. Pendek kata ke-12 jariku dengan lincah menari2 di atas keyboard untuk menjalankan tugasnya. Ketika ke-12 jariku sudah lelah menari2 lalu aku sibuk dengan kegiatan rutinku di kantor seperti biasanya.

Beberapa menit sebelum pukul 14.00 terdengar azan zuhur, dan tepat pada tengah hari atau pukul 14.00 adalah dimulainya lunch break. Seperti pada umumnya kantor2 yang lain, lunch break diadakan sekitar tengah hari, dan waktu yang diberikan untuk lunch break adalah 1 jam atau sama dengan 74 menit. Waktu selama satu jam tersebut biasanya digunakan untuk makan siang dan shalat dzuhur bagi mereka yang ingin melaksanakannya. Satu jam kemudian kemudian, pukul 15.00, lunch break selesai dan kami kembali meneruskan rutinitas kantor hingga pulang sore hari pukul 21.00.

Sebenarnya di kantor tadi, aku memperhatikan temanku si Sandy bertingkah agak lain dari biasanya. Entah kenapa, hari ini ia agak cemberut, biasanya teman saya itu lincahnya bukan main. Tapi entah kenapa hari ini dia terlihat lesu dan matanya memerah sedikit tidak normal. “Ah, paling2 masalah hutang lagi! Biasa deh!” fikirku berkesimpulan sefihak.

“Ngurusin atau mikirin hutang sampai nggak bisa tidur hingga lesu dan matanya memerah” begitu kesimpulanku sedikit memvonis.

“Ah, bukan urusanku! Salah-salah nanti kalau saya ikut campur masalah jadi memburuk!” fikirku kemudian.

Namun hari itu aku putuskan untuk pulang bersama si Sandy. Kebetulan arah pulangnya juga sama. Dan kebetulan ketika aku hendak pulang, aku bertemu dengannya di WC pria. “San, yuk pulang bareng yuk! Udah sore nih pukul 21, sebentar lagi maghrib! Eh, kamu kenapa sih?? Hari ini kamu aneh banget??” Akhirnya aku memberanikan diri bertanya.

“Semalam aku menemukan benda ini!” katanya sambil menunjukkan sebuah benda berbentuk silinder tembus pandang dan berpendar itu.

“Aduh… seperti di film sains fiksi aja!! Apaan tuh??” tanyaku keheranan.

“Memang seperti di film sains fiksi. Kemarin malam aku buka tabung silindernya, aku masukkan tanganku dan aku merasakan sesuatu yang panas dan menggigit, sejak itu aku jadi merasa aneh……!! Dan lebih aneh lagi………..” katanya.

“Lebih aneh apanya??” tanyaku. Namun belum selesai saya bicara, dan juga dia belum selesai menjelaskan, tiba2 temanku si Sandy itu kulitnya menjadi sangat hitam, dan aneh, tiba2 tangannya memanjang! Tidak cukup hanya itu, dari balik bajunya seperti ada yang juga hendak tumbuh memanjang. Oh…. ternyata itu tangan2nya juga! Ternyata ia tumbuh dua tangan baru sehingga kini tangannya menjadi 4 ! Tidak cukup pula ternyata ada lagi dua tangannya yang baru sehingga tangannya kini menjadi 6! Dan kini pinggangnya juga muncul 2 tangannya lagi, hingga kini tangannya menjadi 10! Aku ketakutan setengah hidup, aku ingin lari namun ternyata temanku Sandy yang telah berubah menjadi monster itu berhasil mengangkapku! Dan seterusnya adalah…… aku bangun dari tidurku !! Wah…. lega rasanya aku hanya mimpi ! Ya…. aku baru saja mimpi berada di dunia OKTAL !! Wakakakakak…… :lol:

___________________________________________________

Dalam matematika, sistem bilangan OKTAL adalah sistem bilangan yang hanya menggunakan angka 0 hingga 7. Di dunia kita ini, kita hidup di dunia DESIMAL di mana sistem bilangan desimal menggunakan angka 0 hingga 9. Dalam bilangan desimal kalau kita menghitung 1 sampai 20 maka hitungan kita akan begini: {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20}. Sedangkan dalam bilangan oktal menghitung dari 1 sampai 20 hitungan kita akan seperti ini: {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 20}. Kita melihat bahwa dalam sistem bilangan oktal setelah 7 adalah 10, itu karena angka 8 dan 9 tidak ada dalam sistem bilangan oktal. Jadi sebenarnya angka 10 dalam bilangan oktal adalah sama dengan angka 8 dalam angka desimal (sistem yang kita pakai sehari2). Atau dengan kata lain 10( 8 ) = 8. Begitu juga angka 11 dalam sistem bilangan oktal = 9 dalam sistem bilangan normal (desimal) atau 11( 8 ) = 9. Index ( 8 ) menunjukkan bahwa bilangan tersebut adalah bilangan dalam sistem (basis) oktal.

Bagaimana cara mengkonversikan dari angka oktal ke dalam angka desimal?

Contoh dari cerita di atas = 25 Juli 3730 dalam dunia oktal berarti tanggal berapa dalam dunia normal kita?

25{ 8 } = 2 X 81 + 5 X 80 = 16 + 5= 21.

3730{ 8 } = 3 X 83 + 7 X 82 + 3 X 81 + 0 X 80 = 1536 + 448 + 24 + 0 = 2008.

Jadi tanggal 25 Juli 3730 pada dunia oktal sama dengan tanggal 21 Juli 2008 di dunia kita…..

Sekarang kebalikannya, bagaimana mengkonversikan dari desimal ke oktal ? Mudah juga…….

Contoh 1: 60 menit di dunia normal kita sama dengan berapa menit di dunia oktal??

60 = 7 X 8 + 4, jadi 60 menit dunia normal = 74 menit di dunia oktal. (perhatikan angka yang merah). Caranya adalah 60 dibagi 8 hasilnya adalah 7 dengan sisa 4 atau dengan kata lain 60 = 7 X 8 + 4.

Contoh 2 : 1 tahun sama dengan 365 hari. Satu tahun di dunia oktal sama dengan berapa hari?

365 = 45 X 8 + 5

45 = 5 X 8 + 5

Jadi 365 hari di dunia normal sama dengan 555 hari di dunia oktal (lihat angka yang merah). Dibacanya dari kiri bawah ke kanan atas. Angka yang biru harus “dipecah” lagi atau lebih tepatnya harus dibagi dengan 8 lagi hingga angka yang biru lebih kecil daripada 8. Kenapa harus dibagi 8? Karena kita berbicara tentang OKTAL yang sistem bilangannya ada 8 yaitu dari 0 hingga 7.

Contoh 3: 6925 pada sistem angka desimal sama dengan berapa dalam sistem bilangan oktal?

6925 = 865 X 8 + 5

865108 X 8 + 1

108 = 13 X 8 + 4

13 = 1 X 8 + 5

Jadi 6925 dalam sistem bilangan desimal sama dengan 15415 dalam sistem bilangan oktal.

Selain sistem bilangan oktal terdapat pula beberapa sistem bilangan yang juga agak umum tidak lazim seperti sistem bilangan (basis) biner yang angkanya hanya terdiri dari 0 dan 1. Dan ada juga sistem bilangan heksadesimal yang bilangannya terdiri dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F. Jadi kalau menghitung 1 sampai 20 menggunakan sistem bilangan heksadesimal jadinya adalah: {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 1A, 1B, 1C, 1D, 1E, 1F, 20}. Tidak terlalu sulit juga untuk membayangkannya bukan?? :)

Dunia Nyata dan Dunia Maya Patut Dipertentangkan?

In Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi, Uncategorized on Sabtu, 19 Juli 2008 at 5:00 am

Kira-kira setahun yang lalu, ketika saya masih lebih suka chatting daripada nge-blog, ada seorang rekan chatter, wanita, masih kuliah, lewat blognya mengatakan bahwa ia akan berhenti dari dunia “maya”. Alasan ia akan berhenti dari dunia “maya” adalah karena waktunya habis di dunia “maya” sehingga ia tidak “sempat” lagi memperhatikan teman2nya di kampus ataupun keluarganya di rumah. Alasan kedua adalah ia pernah “tertipu”. Ia menceritakan bahwa di YM, ia pernah “bertemu” atau lebih tepatnya chatting dengan seseorang yang katanya sangat membutuhkan uang dan ingin meminjam uang. Orangnya terlihat (padahal belum pernah dilihat dengan mata kepalanya sendiri) baik ketika chatting sehingga rekan chatting saya itu meminjamkan uang. Namun setelah uang dikirim (skenario selanjutnya mudah ditebak!), teman chattingnya tersebut langsung menghilang, boro2 sempat bilang terima kasih. Karena kejadian2 tersebut, rekan chatting saya itu memutuskan untuk berhenti dari dunia “maya” untuk kembali ke dunia nyata!

Terus terang, saya adalah orang yang SANGAT TIDAK PERNAH MEMPERTENTANGKAN antara dunia nyata dan dunia maya. Kegiatan saya di dunia maya sampai saat ini, alhamdulillah, tidak sampai menganggu kegiatan2 di dunia nyata, termasuk bersosialisasi dan lain sebagainya. Saya tidak pernah ambil pusing dengan perkataan2 yang intinya mempermasalahkan kehidupan di ‘dunia maya’ yang dapat menjadi “ancaman” aktivitas2 sosial di dunia nyata walaupun andaikan perkataan tersebut keluar dari mulut seorang psikolog bulé terkenal sekalipun! Justru saya menanggap bahwa dunia “maya” adalah bagian yang tak terpisahkan, apalagi di abad informasi seperti saat ini, dengan dunia nyata. Kegiatan2 di dunia maya bagi saya adalah sangat riil. Sahabat-sahabat dan orang2 yang berhubungan dengan saya, baik lewat e-mail, chat maupun blog juga adalah orang2 yang nyata. Mereka2 benar-benar nyata, senyata teman2 atau kolega2 saya di kantor ataupun senyata tetangga2 saya, hanya saja kita dipisahkan oleh ratusan atau ribuan kilometer kabel serat optik. Itu saja perbedaanya! Lantas bagaimana dengan penipuan seperti yang rekan saya alami seperti di atas tersebut? Kalau yang namanya penipuan tentu bukan hanya bisa terjadi di dunia maya saja, penipuan2 malah mungkin masih lebih marak di dunia nyata daripada di dunia maya. Yang perlu dipersalahkan dalam kasus ini tentu saja kecerobohannya bukan “dunia maya”nya.

Menurut saya, yang salah dari rekan chatting wanita saya tersebut adalah ketidakmampuannya untuk mengelola waktunya sehingga aktivitas2 lainnya di dunia nyata sampai terganggu. Jadi yang salah tentu saja bukan chatting atau nge-blognya. Andaikata ia bisa mengelola waktunya dengan baik mungkin aktivitas2 sosialnya tidak akan terganggu. Apapun itu andaikan dilakukan terlalu intensif semuanya menjadi tidak baik. Belajarpun jikalau terlalu berlebih juga tidak baik minimal untuk kesehatannya sendiri. Harus ada keseimbangan antara belajar dan istirahat.  Bahkan terlalu banyak beribadah sampai melupakan memberi nafkah untuk anak istri tentu juga bukan sebuah pilihan yang bijaksana. Jadi bukan hanya berinternet saja yang kalau berlebihan tidak baik, hampir semua kegiatan kalau berlebihan juga tidak baik.

Lantas bagaimana jikalau ada pendapat bahwa jikalau hobby kita hanya berinternet saja hidup menjadi monoton, tidak bervariasi ataupun tidak berwarna?? Menurut saya, ya itu terserah anda. Menurut pendapat saya pribadi, apakah hidup kita bervariasi atau tidak yang penting kita bisa menikmatinya dan mengambil manfaatnya. Percuma saja andaikan anda memaksakan hidup anda untuk bervariasi namun anda tidak bisa menikmatinya atau bahkan anda tidak bisa mengambil manfaatnya, mendingan hidup anda sedikit monoton tapi anda menikmatinya. Memang betul, dari sudut yang lebih absolut, kebervariasian aktivitas kita memang dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan serta manfaat yang lebih, namun tentu itu jikalau anda dapat menikmatinya dan dapat mengambil manfaat daripadanya. Aktivitas2 apa yang cocok untuk anda, tentu anda sendiri yang tahu…..

Internet atau dunia maya sebenarnya telah memberikan kesempatan bagi kita untuk bersosialisasi bagi orang2 yang supersibuk atau kegemarannya mungkin hanya mengutak-ngatik komputer. Orang yang supersibuk, yang hampir2 “tidak sempat” untuk bersosialisasi, pada malam hari ketika ia sampai di rumah menjelang istirahat malam, ia menyalakan komputernya dan ia dapat merasakan “sentuhan” sosialisasi lewat blognya atau lewat chatting. Begitu juga yang “gila” komputer, dulu sebelum ada Internet, hobby mengotak-ngatik komputer benar2 merupakan hobby yang soliter, namun dengan keberadaan internet kini mereka yang hobby mengutak-ngatik komputer bisa juga merasakan sedikit sosialisasi lewat Internet. Yang penting bagi kita adalah, bagaimana kita memanfaatkan teknologi ini untuk tujuan yang sepositif mungkin………

Bagi saya pribadi, meninggalkan Internet, apalagi di era kompetitif sekarang ini, adalah pilihan yang keliru. Di kala jutaan orang saudara2 kita yang masih jauh tersentuh teknologi informasi, kita yang sudah mendapatkannya malah menyia-nyiakannya. Kita tidak perlu mempertentangkan antara Dunia Nyata dan Dunia Maya selama kita dapat mengelola waktu kita dengan baik. Yang penting prinsip saya adalah “Ada Internet ataupun Tidak Ada Internet, hidup pasti akan jalan terus……” Jika di sekitar kita tidak ada akses Internet, ya jalani hidup apa adanya. Kalau ada, ya silahkan juga memanfaatkannya, dan jalani juga hidup anda apa adanya pula……. :)

Ketika Bahasa Indonesia Mengkhawatirkan Invasi Bahasa Asing…

In Pengetahuan, Serba Serbi, Uncategorized on Rabu, 16 Juli 2008 at 5:00 am

 Beberapa bulan yang lalu, secara tidak sengaja saya menyaksikan acara “Spelling Bee Contest” di ESPN. Tumben-tumbenan memang ESPN menyiarkan acara yang mendidik seperti itu. Kontes tersebut adalah lomba mengeja kata-kata dalam Bahasa Inggris oleh anak-anak remaja ABG. Kata-kata yang dipilihpun sulitnya minta ampun. Jangankan saya, wong native speakers atau bulé dewasa kebanyakan saja belum tentu bisa. Yang mengejutkan saya adalah kata-kata yang diperlombakan, yang notabene sangat sulit itu, hampir semuanya kata serapan yang berasal dari bahasa asing non-Inggris, seperti: schuhplättler (tarian rakyat Austria & Bavaria), rognon (ginjal yang dijadikan makanan), yokinabe (sop Jepang), prosopopœia (personifikasi), taleggio (keju Italia), dan sebagainya yang bahkan dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary-pun belum tentu ada, apalagi di dalam kamus ‘anak-anak’ macam kamus Inggris-Indonesianya John M. Echols dan Hassan Shadily yang banyak dijual di toko-toko buku. Karena penasaran, ingin tahu seberapa jauhnya Bahasa Inggris menyerap bahasa asing, saya beli kamus “Oxford Dictionary of Foreign Words and Phrases” dari Amazon[dot]com. Buku tersebut baru tiba beberapa hari yang lalu dengan selamat di Bandung. Ketika buku tersebut saya buka dan baca rasa penasaran saya terobati saya sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa alangkah terbukanya Bahasa Inggris terhadap bahasa-bahasa asing yang ada di dunia ini.

Saya jadi ingat para pakar bahasa kita yang seperti kebakaran jenggot dengan serbuan kata-kata dalam bahasa asing. Mereka selalu menyerukan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Walaupun tentu saja himbauan pakar bahasa kita tersebut ada benarnya, namun saya hingga kini tetap tidak bisa mengetahui secara pasti bagaimanakah berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Yang saya tahu adalah penggunaan dan penulisan kata-kata harus sesuai dengan EYD, hanya itu. Selebihnya masih samar. Saya juga tidak tahu, apakah penggunaan kata-kata asing yang belum ada padanan kata resminya atau padanan kata resminya masih samar-samar termasuk menyalahi kaidah-kaidah berbahasa Indonesia yang benar?

Sebagai contoh, misalnya, dulu di toko buku Gramedia saya pernah iseng-iseng dan tak sengaja membuka buku terjemahan dari Schaum’s Outline Series yang judulnya: Biologi. (Terjemahan buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbitan buku di Jakarta yang cukup terkenal yang suka menerbitkan buku-buku terjemahan untuk pendidikan). Mengenai terjemahannya yang kurang enak dibaca itu sudah biasa. Namun yang membuat saya “sedih” adalah ternyata bahasa nasional kita ini benar-benar tidak siap menerima perkembangan-perkembangan istilah di dunia sains dan teknologi. Bayangkan saja, untuk istilah yang sudah lama saja seperti “Animal Kingdom” di buku terjemahan tesebut diterjemahkan sebagai “Kingdom Animalia” !! Seolah-olah tidak ada lagi istilah yang lebih “Indonesia” lagi. Tapi apa memang terjemahan resmi dari “Animal Kingdom” itu adalah “Kingdom Animalia”? Dalam Bahasa Perancis misalnya, walaupun “Kingdom” dalam Bahasa Perancis adalah “Le Royaume” namun terjemahan resmi Bahasa Perancis untuk “Animal Kingdom” adalah “Le Règne Animal“, jadinya sudah ada istilah bakunya.

Nah, kini pertanyaannya adalah jikalau Bahasa Indonesia tidak siap dengan perkembangan kebudayaan terutama di bidang sains dan teknologi (juga di bidang-bidang lainnya tentu saja) kenapa justru pakar bahasa menjadi ketar-ketir dan alergi dengan serbuan bahasa asing?? Pilihannya ya cuma dua yaitu biarkan bahasa asing menginvasi bahasa Indonesia kita tercinta ini atau kembangkan dan populerkan istilah-istilah baku bagi istilah-istilah asing yang masih sulit dicari padanan istilahnya dalam Bahasa Indonesia.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita musti takut dengan serbuan bahasa asing?? Jikalau pakar bahasa kita selalu menganggap bahasa asing selalu merusak bahasa kita, maka jikalau saya melihat buku “Oxford Dictionary of Foreign Words and Phrases” ini, Bahasa Inggris justru melihat kata-kata bahasa asing tersebut justru memperkaya vocabulary dalam Bahasa Inggris. Pada awalnya di abad-abad lampau, bahasa yang menjadi favorit untuk diserap ke dalam Bahasa Inggris adalah Bahasa Perancis, Bahasa Latin, Bahasa Yunani, Bahasa Jerman dan Bahasa Spanyol. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kata-kata dalam Bahasa Arab, Bahasa China, Bahasa Jepang, bahkan Bahasa Melayu dan Indonesiapun tidak malu-malu diserap oleh Bahasa Inggris. Dan “hebatnya” kata-kata yang diserap tersebut tidak perlu diubah satu hurufpun untuk sesuai dengan pengucapan lidah orang-orang Inggris. Walaupun harus diakui bahwa sistem fonetik Bahasa Inggris termasuk yang paling “terbelakang” di dunia sehingga memungkinkan penyerapan suatu bahasa asing tanpa merubah huruf satupun. (Contoh dari keterbelakangan fonetik Bahasa Inggris ini misalnya adalah huruf “u”. Sebuah bahasa yang baik, sebisa mungkin satu huruf melambangkan satu bunyi saja. Tidak seperti Bahasa Inggris, di mana huruf ‘u’ dalam kata ‘cut’ berbunyi ‘a’ yaitu ‘kat’, sedangkan huruf ‘u’ dalam kata ‘put’ berbunyi ‘u’ yaitu ‘put’).

Nah…. sekarang terserah anda, apakah kedatangan atau serbuan bahasa asing akan dianggap sebagai “ancaman” kepada bahasa kita atau malah akan memperkaya?? Untuk penutup postingan ini, di bawah berikut ini saya lampirkan beberapa kata-kata dari ribuan kata-kata yang sudah dirangkul menjadi bagian dari Bahasa Inggris menurut buku “Oxford Dictionary of Foreign Words and Phrases” yang saya beli itu…… Beberapa kata di antaranya mungkin sudah sering anda dengar sehari-hari:

aa (Hawaii): lava kering yang sudah mengeras dan kasar

agar-agar (Melayu): Agar-agar

azan (Arab) : azan panggilan shalat

bismillah (Arab) : Penyebutan nama Allah (basmallah)

blitzkrieg (Jerman): Penyerangan secara cepat yang bertujuan membuahkan kemenangan dalam waktu singkat.

café au lait (Perancis): Kopi Susu

c’est la vie (Perancis): Itulah hidup!

dharma (sansekerta): Dalam agama Budha berarti kebenaran atau hukum universal. Dalam agama Hindu berarti adat sosial atau kasta, perbuatan yang benar, dan sebagainya.

doppelgänger (Jerman): Kesamaan jalan hidup seseorang dengan orang lain

eau-de-Cologne (Perancis) : Parfum dengan wangi2an yang ringan

eid (Arab) : singkatan untuk eid-ul-fitr (idul fitri) atau eid-ul-adha (idul adha)

fajita (Spanyol Meksiko): Makanan Texas-Meksiko

faux pas (Perancis): sebuah perbuatan yang bertentangan dengan aturan sosial.

fu yung (China) : Makanan China mirip sekali dengan fu yung hai.

gagaku (Jepang): Musik tradisional Jepang

ganja (Hindi) : ganja

gendarme (Perancis): Polisi Perancis

guru (Sansekerta) : guru spiritual

haiku (Jepang) : puisi tradisional Jepang yang biasanya terdiri dari 17 suku kata.

haji (Arab) : haji

ikat (Melayu/Indonesia): kain ikat

ikebana (Jepang) : seni merangkai bunga dari Jepang

jicama (Spanyol) : bangkuang

karaoke (Jepang) : karaoke

liebling (Jerman) : panggilan sayang

lingua franca (Latin) : Bahasa umum yang dipakai antar dua bangsa atau lebih

lustrum (Latin) : periode 5 tahunan

maja (Spanyol) : perempuan yang berbaju menyolok warnanya. Jadi ingat dulu ada sabun merknya sabun “Maja”.

mambo (Spanyol): musik dan tari dari Amerika Selatan

nouveau riche (Perancis) : orang kaya baru

oom (Afrikaan) : Paman. Bahasa Inggris Afrika Selatan yang diambil dari Bahasa Belanda, oom, yang artinya paman.

origami (Jepang): Seni melipat kertas dari Jepang.

per capita (Latin): per orang.

prima donna (Italia): Orang yang menonjol pada satu bidang atau aktivitas.

qiblah (Arab): kiblat

raja yoga (Sansekerta) : Bentuk dari sebuah yoga yang bertujuan untuk mengendalikan fikiran dan emosi.

rya (Swedia) : Jenis karpet dari Skandinavia.

sambal (Indonesia) : sambal á la Indonesia.

sukiyaki (Jepang) : makanan Jepang

tamasha (Persia) : jalan2 untuk bersenang2

tiramisu (Italia): sebuah makanan penutup dari Italia

Übermensch (Jerman) : Superman atau manusia super (dalam konotasi sebenarnya)

umrah (Arab) : Perjalanan haji kecil

vendetta (Italia): pertikaian beradarah di mana keluarga si terbunuh mengadakan balas dendam terhadap keluarga si pembunuh atau pertiakaian berdarah pada umumnya.

ve-tsin (China) : MSG (bangsanya Ajinomoto atau Miwon)

wasabi (Jepang): sayuran akar berwarna hijau dari Jepang yang terasa sangat pedas

wayang (Indonesia/Jawa): wayang

yokozuna (Jepang): juara sumo

yukata (Jepang): kimono yang beratnya ringan

zabaglione (Italia) : makanan penutup dari Italia

Zeitgeist (Jerman) : trend pemikiran atau perasaan pada sebuah periode terutama dalam bidang seni, sastra, filosofi dan sebagainya.

zwieback (Jerman): biskuit dari Jerman.

Olimpiade Beijing 2008: Akankah Indonesia Pulang Membawa Emas?

In Serba Serbi, Uncategorized on Minggu, 13 Juli 2008 at 5:00 am

Euro 2008 sudah usai akhir bulan lalu namun untuk tahun ini masih ada satu peristiwa olahraga akbar lagi di bulan Agustus (bulan depan) nanti yaitu: Olimpiade Beijing. Jikalau pada olimpiade lalu tahun 2004 yang dilangsungkan di Athina, Yunani, saya bersyukur karena hampir seluruh tayangan live olimpiade dapat dinikmati bagi mereka yang berlangganan Kabelvision (sekarang FastMedia), dan kebetulan pada bulan2 olimpiade pada waktu itu saya berada di Jakarta, sekarang entahlah apa saya bisa menikmati tayangan2 olahraga kelas dunia olimpiade tersebut di layar kaca. Saya belum mengetahui stasiun TV (atau operator TV berbayar) mana di Indonesia yang mendapatkan hak siar olimpiade tahun ini.

Olimpiade tahun ini adalah olimpiade ke-29 sejak olimpiade modern pertama kali dilangsungkan di Athina, Yunani atas prakarsa seorang bangsawan Perancis bernama Pierre Frédy atau yang lebih dikenal dengan (lengkap dengan gelarnya) Baron Pierre de Coubertin. Banyak gelombang pasang surut menerjang di hampir setiap penyelenggaraan olimpiade modern, yang paling sering adalah tentu masalah politik. Di olimpiade XI yang diselenggarakan di Berlin, Jerman, olimpiade digunakan sebagai media untuk mempropagandakan ideologi Nazi oleh Adolf Hitler dan keunggulan ras Arya atas ras2 lainnya. Di Olimpiade XXII yang diselenggarakan di Moskwa, Uni Soviet tahun 1980, Amerika Serikat memimpin boikot olimpiade yang kemudian diikuti oleh 64 negara lainnya termasuk Indonesia sebagai protes atas invasi Uni Soviet ke Afghanistan. Tidak senang dengan tindakan Amerika Serikat yang “memimpin” boikot olimpiade di Moskwa, Uni Soviet kemudian membalas memboikot olimpiade di Los Angeles 4 tahun kemudian, tindakan Uni Soviet ini kemudian diikuti hampir seluruh negara2 komunis dan negara2 yang sangat dekat dengan Uni Soviet, total negara yang memboikot adalah 14. Dalam olimpiade Los Angeles ini, dua negara Islam yaitu Iran dan Libya juga ikut memboikot, namun pemboikotan dua negara Islam ini mempunyai alasan politik tersendiri dan di luar komando boikot oleh Uni Soviet.

Dalam olah raganya sendiri, masalah amatir dan profesional juga menjadi batu ganjalan dalam olimpiade. Semula olimpiade diperuntukan hanya untuk atlit2 amatir yaitu atlit2 yang tidak mencari nafkah dengan olahraga. Karena benturan2 antara amatir dan profesional inilah maka cabang olahraga tennis sempat didepak dari olimpiade mulai tahun 1928 sebelum akhirnya tennis diterima kembali menjadi cabang olimpiade secara resmi saat olimpiade Seoul 1988. Namun seiring dengan bergulirnya zaman, batasan2 antara amatir dan profesional menjadi semakin kabur. Guru2 olahraga yang ikut olimpiade pernah dituding sebagai profesional karena mencari nafkah dengan olahraga walaupun nafkah yang didapatkannya bukan dari bertanding melainkan dari mengajar. Karena batasan2 antara amatir dan profesional yang semakin kabur inilah maka kini aturan keamatiran bagi atlit olimpiade mulai diperlonggar. Lagipula banyak kalangan berpendapat bahwa lebih banyak atlit2 kelas satu dunia yang berstatus profesional dan olimpiade menjadi “mubazir” jikalau hanya diikuti oleh atlit2 kelas dua dunia yang berstatus amatir. Jadinya kini pemain tennis profesional boleh mengikuti olimpiade, juga pebasket2 NBA yang kaya raya karena main basket tersebut juga boleh bertanding di olimpiade. Sementara dalam sepakbola, atlit2 profesional silahkan bertanding, namun dalam sepakbola, jumlah pemain setiap tim yang berusia di atas 23 tahun dibatasi hingga hanya menjadi tiga orang saja untuk setiap tim.

Nah, menjelang olimpiade Beijing saat ini  antara lain adalah “Siapakah yang akan menjadi juara umum Olimpiade??” Setelah Perang Dunia II, mulai tahun 1948 ketika Olimpiade dilangsungkan di London, Inggris, Amerika Serikat selalu menjadi juara umum Olimpiade. Namun pada tahun mulai tahun 1972 ketika olimpiade diadakan di München, Jerman hingga Olimpiade tahun 1988, Uni Soviet yang menjadi juara umum Olimpiade kecuali pada Olimpiade tahun 1984 di Los Angeles ketika Uni Soviet memboikot olimpiade tersebut. Dan yang lebih mengejutkan, negara “kecil” bernama Republik Demokrasi Jerman atau lebih dikenal dengan nama Jerman Timur, sejak tahun 1972 hingga tahun 1988 (kecuali tahun 1984 juga di mana Jerman Timur juga memboikot olimpiade), selalu menduduki posisi kedua mengalahkan negara superpower dalam olahraga: Amerika Serikat !! Namun, setelah Uni Soviet bubar, sudah bisa diduga bahwa prestasi Rusia dan pecahan2 Uni Soviet lainnya secara individual tidak mampu untuk menyaingi Amerika Serikat. Namun yang lebih mengejutkan adalah ketika Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, orang mengira bahwa Jerman akan menjadi negara superpower dalam olimpiade, mengingat Jerman Timur selalu menjadi runner-up dalam setiap olimpiade antara tahun 1972-1988. Namun kenyataannya prestasi Jerman bersatu malah “hancur lebur” di olimpiade! Tidak heran, pepatah: “Bersatu kita runtuh, bercerai kita utuh” sangat cocok untuk prestasi olahraga Jerman di olimpiade.

Kini sejak olimpiade tahun 1996 (sejak Uni Soviet bubar), Amerika Serikat selalu menjadi juara olimpiade. Namun diam2 kini muncul superpower olahraga baru: China! Di olimpiade Athina 2004, China menduduki urutan ke-2 di bawah Amerika Serikat dengan beda hanya 4 medali emas saja. Mengingat China di olimpiade tahun ini menjadi tuan rumah, saya yakin China akan menjadi juara umum olimpiade kali ini.

Nah, bagaimana dengan Indonesia?? Apakah Indonesia akan membawa pulang medali emas?? Indonesia patut bersyukur karena sejak bulutangkis dipertandingkan di olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol, Indonesia mempunyai harapan untuk membawa pulang medali emas olimpiade. Karena tanpa bulu tangkis mungkin boleh dikatakan Indonesia tidak mungkin membawa pulang medali emas olimpiade (bukannya pesimis tapi kenyataan! :mrgreen: ). Namun masalahnya, olimpiade kali ini dilangsungkan di negara “musuh bebuyutan” bulutangkis Indonesia yaitu: China! Jadi apakah kali ini Indonesia masih akan berhasil pulang membawa medali emas (bukan perak atau perunggu loh!!) olimpiade?? Meskipun kita harus optimis dan tidak boleh patah arang, namun melihat hasil piala Thomas dan Uber yang lalu yang notabene dilangsungkan di negara kita namun boleh dikatakan kita “gagal”, saya meramalkan bahwa Indonesia akan gagal membawa pulang medali emas olimpiade. Mudah2an ramalan saya keliru, ya?? Nah, bagaimana dengan pendapat anda?? :D

Fans dari Hungaria???

In Manusia, Perilaku, Serba Serbi, Uncategorized on Kamis, 10 Juli 2008 at 5:00 am

Gambar:

Letak negara Hungaria (berwarna merah) yang persis terletak di sebelah timur Austria dan di sebelah barat Rumania dan Ukraina.

Kejadian ini baru saya sadari hari Sabtu pagi (5 Juli 2008). Ketika seperti biasa pada pagi hari saya hendak menyalakan komputer dan ingin menjawab komen2 yang masuk di blog saya. Pertama kali saya tidak menyadari apa yang telah “terjadi” pada blog saya. Namun ketika login, baru saya melihat sedikit keanehan yang terjadi pada blog saya, ketika itu grafik pengunjung di blog saya melonjak hingga 611 pada hari Jumat, padahal normalnya blog saya tiap hari hanya dikunjungi sekitar 300an pengunjung saja. “Keanehan” tersebut sedikit terjawab ketika saya melihat widget Globetrackr dan Geovisite yang saya pasang di side-bar blog saya. Alangkah terkejutnya saya melihat banyaknya pengunjung dari Hungaria yang berkunjung ke blog saya!

Ya… saya sangat terkejut karena mereka tidak hanya datang dari Budapest (ibu kota Hungaria) tetapi juga dari kota2 lain macam: Szeged, Debrecen, Miskolc dan lain-lain. Kedatangan mereka terasa tidak normal karena jumlahnya begitu banyak. Dari statistik Geovisite yang saya dapatkan, inilah untuk pertama kalinya jumlah pengunjung blog saya dari Indonesia sebagai tuan rumah dikalahkan oleh jumlah pengunjung dari negara lain, sebuah negara kecil di Eropa Timur yang penduduknya cuma 10 juta yaitu: Hungaria. Sayang waktu itu saya tidak berfikir untuk menskrinsut statistik Geovisite tersebut.

Namun kalau anda bisa melihat ranking negara2 pengunjung blog saya di widget Geovisite yang saya pasang di sidebar blog saya ini, Hungaria kini berada di peringkat ke-5 setelah Indonesia, Norwegia, Malaysia, dan Amerika Serikat. Pada malam pertama, ketika saya menyalakan komputer saya pada Sabtu pagi, posisi Hungaria berada di posisi ke-6 di bawah Belanda. Namun sore harinya Belanda sudah tersusul dan hingga kini Hungaria masih di posisi ke-5. Padahal sehari sebelumnya, Hungaria masih jauh di luar 10 besar pengunjung blog saya. Belum pernah terjadi, dalam sejarah blog saya, pengunjung dari sebuah negara (apalagi dari sebuah negara kecil) yang dalam satu hari berhasil menyodok masuk ke dalam 5 besar!

Kunjungan dari tamu2 misterius Hungaria ini mulai mereda hari Selasa pagi, namun hingga kini saya masih menangkap adanya jejak2 kaki IP address dari Hungaria walaupun jumlahnya sudah jauh berkurang. Siapakah mereka ini?? Satu-satunya pengomentar dari Hungaria yang mampir di blog saya adalah yang berkomentar di sini. Apakah semua pengunjung2 Hungaria ini ada hubungannya dengan dia?? :)

Sebenarnya kedatangan mereka tidak mengganggu, mereka tidak meninggalkan komentar2 sampah baik di blog saya maupun yang terperangkap si Aki Ismet. Justru sebaliknya I feel happy with their presence since they boost my blog’s traffic! Huehehe……. Hanya saja saya penasaran apa sih tujuan mereka datang ke mari?? Apa mau ngehack?? Atau cuma iseng saja ingin menigbarkan bendera Hungaria di blog saya?? *halaah** Yang jelas kemungkinan mereka mengerti isi blog saya sangat kecil karena di blog ini saya menggunakan Bahasa Indonesia di hampir semua artikel saya!

Ini masalahnya berbeda dengan pengunjung2 dari Norwegia tepatnya dari Oslo seperti yang pernah saya tulis sebelumnya dalam sebuah artikel di sini di mana “orang2 Norwegia” tersebut ternyata dapat dari mana saja termasuk dari Indonesia. Karena mereka yang menggunakan Opera Mini, mereka akan meninggalkan “jejak” IP address Norwegia (dari Oslo)  walaupun mereka berada di Indonesia. Begitu pula, yang saya perhatikan ada juga beberapa pengunjung yang menggunakan IP address Uni Kerajaan (Inggris), Jerman, Kanada dan Amerika Serikat padahal mereka sebenarnya ada di Indonesia (hanya server-nya aja kaleeee yang berada di negara2 tersebut). Namun pengunjung2 dari Hungaria ini agak membingungkan saya, karena selain mereka nampak datang berbondong2, mereka nampaknya juga datang dari berbagai kota yang berjauhan satu sama lain.

Tapi yah, masa bodo amat deh, apapun motivasi mereka, apa mereka cuma iseng, ataukah tertarik dengan artikel2ku ini, ataukah mereka tertarik dengan fotoku yang ganteng itu **halaah**, yang jelas selama mereka tidak mengganggu tentu akan saya terima mereka dengan tangan terbuka malah saya akan bersyukur karena bagaimanapun mereka telah banyak menaikkan trefik blog ini. Bukankah begitu? :D

Post Script:

For those Hungarians (or whoever you are) who flooded my blog, I implore you to keep coming. Your visits boost the traffic of this site, and I do appreciate it. Besides I frankly love to see the Hungarian flag sits on the top of the list! ;) As long as you don’t bring any harms to this blog, you are very welcome!

Malas……. (Dan Silahkan Jika Mau berkomentar OOT)

In Manusia, Perilaku, Serba Serbi, Uncategorized on Senin, 7 Juli 2008 at 5:00 am

Ini tidak ada hubungannya dengan membahas tema  ”malas” baik dari sudut ilmiah, psikologi (psikologi itu tidak termasuk ilmiah ya?? :mrgreen: ), sosial, agama dan lain sebagainya. Namun perkataan malas yang anda lihat sebagai judul postingan ini adalah murni apa yang saya rasakan ketika saya hendak menuliskan sesuatu sebagai artikel hari ini….. karena hari ini seharusnya saya sudah “harus” menulis sesuatu lagi untuk blog saya ini, namun entah kenapa walaupun knowledge-base saya masih banyak yang belum saya tumpahkan ke dalam blog ini, masalah klasik dan manusiawi Yariwi kembali melandaku: Pikiran dan tanganku kembali sedang “musuhan” alias tidak mau bekerja sama……..

Namun, aku tidak sendirian, ternyata akangku yang satu ini juga lagi “mogok” dalam menulis juga walaupun dengan istilah yang lebih elegant yaitu: blank. Mungkin agak beda2 sedikit, kalau akangku itu mungkin memang belum menemukan ide untuk menulis kembali sedangkan aku sudah ada (bahkan masih banyak) ide namun jari2ku ogah mengetikkan apa yang ada di kepalaku. Namun hasilnya adalah sama: STAGNASI.

Tapi kok…… ini topik “Malas…..” ini akhirnya jadi sebuah postingan tersendiri?? Kok bisa……?? Yaa… ini berkat aku belajar banyak dari abah kita ini. Ya…. abah kita yang satu ini dengan semangat 45 ditambah semangat Sumpah Pemuda ditambah semangat kebangkitan Nasional dan ditambah semangat-semangat lainnya yang mungkin belum pernah kita temukan di planet Bumi ini selalu mengajarkan kita agar terus menulis…. walaupun kita lagi malas atau kita lagi kekurangan ide dan sebagainya yaitu dengan cara menulis sesuatu apa yang kita rasakan. Jadi abah kita ini secara tidak langsung pernah mengatakan bahwa menulis itu tidak perlu dari apa yang kita fikirkan tetapi bisa juga dari apa yang kita rasakan……

Sekarang….. aku praktekin deh teorinya….. ini dia nih perasaanku yang tengah malas, akhirnya bisa juga dijadikan artikel walaupun artikelnya agak maksa…. Ini menandakan bahwa jikalau otak dan tangan kita lagi tidak mau bekerjasama mungkin perasaan kita bisa diajak bekerjasama dengan tangan kita dan menghasilkan artikel yang minimal seperti ini….. (daripada tidak sama sekali, hayo???)

Siip deh, terims ya abah Ersis, ternyata teorinya mantabzzzz juga……!! :mrgreen:

Punya Domain Sendiri atau Tetap Gratisan di WP[dot]com ya?

In Serba Serbi, Uncategorized on Jumat, 4 Juli 2008 at 5:00 am

Setahun sudah (lebih sedikit) keberadaan saya di WordPress[dot]com ini. Lewat blog “Spektrum Pemikiranku” ini aku berusaha berbagi ilmu menuangkan semua apa yang ada di kepalaku ini (belum semuanya deh…. database dan knowledge-base di kepalaku masih banyak yang belum aku tumpahkan! :mrgreen: ). Melalui WordPress[dot]com yang memberikan servis gratis untuk ngeblog ini saya mendapatkan media untuk menuangkan segala tetek-bengek yang ada di kepalaku. Sebenarnya servis yang ditawarkan oleh WP[dot]com ini sangat memuaskan (ya iyalah… namanya juga gratis!) walaupun masih ada kekurangan sedikit di sana sini yang sebenarnya tidak begitu mengganggu kenyamananku dalam beraktivitas ngeblog. Namun sejak empat bulan terakhir ini saya mulai memikirkan untuk mempunyai domain sendiri setelah melihat banyak rekan2 blogger yang mempunyai domain sendiri. Domain yang saya inginkan adalah domain yang  berakhiran web[dot]id. Jadinya adalah: spektrumku[dot]web[dot]id, atau yarink[dot]web[dot]id. Tadinya saya mau memakai spektrumku[dot]eu, berhubung karena saya tidak tinggal di Uni Eropa tetapi di Indonesia, dengan berat hati maka saya tentu “harus” memilih yang [dot]web[dot]id. Huehehe……

Namun…keputusan belum final…. saya masih mempertimbangkan baik buruknya alternatif antara ngeblog gretongan gratisan di WP[dot]com ini dengan ngeblog di domain sendiri. Karena saya yakin setiap alternatif pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing2. Berikut ini adalah kekurangan dari masing2 alternatif. Saya tidak akan menuliskan kelebihan2nya karena kelebihan2nya adalah tentu saja kebalikan dari kelemahan2 alternatif lawannya.

KEKURANGAN-KEKURANGAN NGEBLOG GRATISAN DI WORDPRESS[DOT]COM:

  1. Theme terbatas dan CSS tidak dapat dikostumasi.
  2. Tidak bisa menerima Script, baik itu JavaScript ataupun VBScript dan juga tidak bisa menerima animasi Flash sehingga kurang bisa diisi aplikasi2 canggih.
  3. Kurang bergengsi **halaah**, yang ini bener nggak alasannya? :mrgreen: dan juga alamat blog kurang mnemonic alias agak sulit diingat (padahal nggak juga seh…..)
  4. Tidak dapat diisi AdSense (emang ini penting ya?? Kali aja…. :mrgreen: ) dan harus tunduk pada peraturan2 yang dibuat oleh WordPress[dot]com.

SEDANGKAN KEKURANGAN2 NGEBLOG PAKAI DOMAIN SENDIRI ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

  1. Tidak gratis ( ya.. iyalaaaah……! :mrgreen: )
  2. Yang murah pasti bandwidth-nya dan space-nya terbatas, sehingga sering timbul masalah kelebihan bandwidth yang sering saya jumpai di hampir setiap blog yang punya domain sendiri.
  3. Kalau terjadi apa2 dengan blog kita di luar masalah teknis yang kita ketahui maka kita akan repot sendiri.
  4. Seperti yang saya alami ketika mengakses blog2 yang punya domain sendiri, waktu loading-nya rata2 lebih lambat dari blog2 yang gretongan. Dari yang lebih lambatnya tidak begitu signifikan hingga yang lambatnya sampai2 tidak bisa diakses oleh beberapa jaringan Internet Provider.
  5. Nah, ini dia jikalau saya pakai domain sendiri belum tentu saya bisa bikin rumus2 matematika seperti ini: {X}_{1,2}=\frac{-b\pm\sqrt{{b}^{2}-4ac}}{2a} atau seperti ini: {t}_{1}=\frac{{t}_{o}}{\sqrt{1-\frac{{v}^{2}}{{c}^{2}}}} Mungkin saja membuat persamaan matematika seperti ini jikalau ngeblog pakai domain sendiri tetapi tentu sangat tidak praktis karena harus memakai \LaTeX editor dan hasilnya harus di-upload.

Nah, itulah menurut saya pribadi kelemahan2 masing2 dari alternatif antara ngeblog gratisan dengan ngeblog pakai domain sendiri. Adakah dari rekan2 sekalian yang mungkin bisa menambahkan apa kelebihan atau kelemahan masing2 alternatif seperti di atas?? :)

Deutschland über alles?? Das ist Unsinn, ja??

In Kehidupan, Pengetahuan, Serba Serbi, Uncategorized on Selasa, 1 Juli 2008 at 5:00 am

10

Hingar bingar piala Euro 2008 telah berakhir dan kita semua tahu bahwa Spanyol telah keluar sebagai juara Euro 2008 setelah di final mengalahkan Jerman dengan skor 1-0. Sejak awal saya memegang Perancis dan Spanyol sebagai juara Euro kali ini. Karena Perancis sudah kandas di babak kualifikasi maka “pegangan” saya tinggal kesebelasan Spanyol dan ternyata kesebelasan dari negara di tanjung Iberia itu berhasil membawa pulang gelar juara.  Ini sekaligus membuktikan bahwa kesebelasan Spanyol bukan lagi sebagai kesebelasan besar yang “tidak berprestasi”, namun dengan dua kali menjadi juara dan sekali menjadi finalis di tahun 1984, ini menandakan bahwa kesebelasan Spanyol masih lebih baik daripada kesebelasan Inggris yang saya benci itu yang masuk final Euro-pun belum pernah!

Namun artikel ini bukan untuk membahas atau mereviu pertandingan final hari Senin pagi WIB lalu, namun untuk membahas mengenai arti kemenangan kesebelasan Spanyol atas kesebelasan Jerman dalam arti yang lebih luas cakupannya bahkan di luar konteks sepakbolanya sendiri. Ya, setidaknya kita bisa memetik pelajaran yang cukup banyak dari kemenangan kesebelasan Spanyol atas kesebelasan Jerman. Pelajaran apa yang dapat diambil??

Kita dari dulu mempercayai bahwa negara Jerman adalah negara yang unggul di Eropa, sebuah “ras” atau bangsa kelas satu di Eropa. Terlebih2 sejak tahun 1960an kita telah banyak mengenal produk2 kelas 1 buatan Jerman. Dulu (tahun 1970an) kita mengenal produk2 elektronik keluaran Jerman seperti Grundig, Telefunken, Löwe-Opta dan lain-lain, yang kini entah bagaimana nasibnya. Selain itu mobil2 buatan Jerman seperti Mercedes-Benz dan BMW (Bayerische Motoren Werke) yang hingga saat inipun masih lalu lalang di jalan2 kita yang dipercaya sebagai produk buatan Jerman yang jempolan. Belum lagi2 instrumen2 optik dan instrumen2 presisi lainnya buatan Jerman yang semakin memperkuat image bahwa Jerman adalah negara Eropa kelas satu! Sedangkan Spanyol?? Paling2 produk yang kita kenal (yang mungkin juga masyarakat kita belum banyak kenal) adalah mobil SEAT yang notabene kini sahamnya sudah dibeli dan dikuasai oleh dua perusahaan otomotif Jerman juga yaitu Volkswagen dan Audi. Atau mungkin anda pernah mendengar Construcciones Aeronáuticas, S.A. atau disingkat CASA, sebuah perusahaan industri pesawat udara Spanyol yang produk2nya sering dijiplak diadaptasi oleh perusahaan aeronautika kita IPTN. Sudah! Paling2 cuma itu saja! Selebihnya orang banyak yang percaya bahwa Spanyol adalah bangsa Eropa “kelas dua” yang pamornya kalah segala2nya dari Jerman! Pendek kata, orang Jerman banyak dikenal sebagai bangsa yang ulet dan rajin sedangkan orang2 Spanyol banyak dianggap sebagai bangsa yang malas di Eropa.

Kalah segala2nya?? Nanti dulu! Kita tidak usah membicarakan masa lalu, 500 tahun yang lalu, ketika orang Spanyol sudah melalangbuana mencari “benua baru” hingga ke benua Amerika sedangkan negara Jerman masih “dijajah” dan bagian daripada Romanorum Imperator. Boleh jadi secara umum, pada saat ini, prestasi Jerman sebagai sebuah bangsa dan negara masih lebih unggul dibandingkan Spanyol. Namun bukan berarti, Spanyol harus kalah segala-galanya dari Jerman. Di bidang olahraga, selain di pentas Euro 2008 di mana prestasi sepakbola Spanyol berhasil melampaui prestasi Jerman, di bidang tennis misalnya, Jerman juga kini tertinggal jauh  oleh Spanyol. Spanyol kini punya segudang petenis tingkat dunia terutama di bagian putra seperti: Rafael Nadal, Juan-Carlos Ferrero, Tommy Robredo, Carlos Moyà, dan lain sebagainya. Dulu, Jerman yang punya petenis Boris Becker dan Steffi Graf kini tengah mengalami masa surut dan harus mengakui “keunggulan” Spanyol di bidang tennis saat ini. Di luar bidang olahraga, yang paling mengejutkan adalah peringkat Human Development Index (HDI) Spanyol di tahun 2007, di mana Spanyol berada di urutan 13, naik 6 tingkat dari tahun sebelumnya. Sedangkan Jerman, terseok2 di urutan ke-22 atau turun 1 tingkat dari tahun sebelumnya. Sebuah prestasi luar biasa bagi Spanyol, yang 30 tahun yang lalu mungkin HDI-nya masih jauh di bawah Jerman! Kita tidak mengetahui, mungkin masih banyak prestasi2 Spanyol lainnya yang melebihi Jerman.

Nah, sekarang bagaimana dengan Indonesia?? Apakah Indonesia yang boleh dikatakan sebagai bangsa Asia kelas 2 dapat mengalahkan bangsa2 Asia yang “kelas 1″ seperti Jepang dan Korea?? Apakah kita bisa mengalahkan mereka di bidang2 yang dapat sangat mengharumkan nama bangsa?? Apakah kita sanggup merebut piala Asia?? Apakah HDI kita sanggup mengungguli Jepang dan Korea?? Atau ada prestasi2 lain dari negara kita yang melebihi Jepang atau Korea yang sangat dikagumi dunia??

Seharusnya kemenangan Spanyol atas Jerman di pentas Euro kali ini dapat menjadi cambuk bagi kita, bahwa bangsa yang “kelas 2″ tidak selamanya harus kalah dari bangsa yang “kelas 1″. Semboyan “Deutschland über alles” (Jerman di atas segala2nya, sebuah motto yang diangkat dari stanza pertama dari lagu kebangsaan Jerman, yang populer di zaman Nazi-nya Adolf Hitler yang kini sudah dihapus) tentu hanya mitos belaka. Namun bagi kita, tidak penting bahwa “Deutschland über alles” itu hanyalah mitos atau bukan, yang penting bagi kita adalah mari kita tunjukkan bahwa kita dapat mengalahkan bangsa2 ‘kelas 1′ di Asia bahkan di dunia untuk menunjukkan bahwa kita bukanlah bangsa kelas dua. Kita harus bangga menjadi bangsa tempe karena tempepun bisa mengalahkan Sukiyaki, Bulgogi, Kimchi, bahkan Cordon Bleu dan Sauerkraut, apalagi cuma McD yang isinya hanya sampah (junk) itu! :mrgreen: Seharusnya begitu kan??