Arsip Harian: Minggu, 13 Juli 2008

Olimpiade Beijing 2008: Akankah Indonesia Pulang Membawa Emas?

Euro 2008 sudah usai akhir bulan lalu namun untuk tahun ini masih ada satu peristiwa olahraga akbar lagi di bulan Agustus (bulan depan) nanti yaitu: Olimpiade Beijing. Jikalau pada olimpiade lalu tahun 2004 yang dilangsungkan di Athina, Yunani, saya bersyukur karena hampir seluruh tayangan live olimpiade dapat dinikmati bagi mereka yang berlangganan Kabelvision (sekarang FastMedia), dan kebetulan pada bulan2 olimpiade pada waktu itu saya berada di Jakarta, sekarang entahlah apa saya bisa menikmati tayangan2 olahraga kelas dunia olimpiade tersebut di layar kaca. Saya belum mengetahui stasiun TV (atau operator TV berbayar) mana di Indonesia yang mendapatkan hak siar olimpiade tahun ini.

Olimpiade tahun ini adalah olimpiade ke-29 sejak olimpiade modern pertama kali dilangsungkan di Athina, Yunani atas prakarsa seorang bangsawan Perancis bernama Pierre Frédy atau yang lebih dikenal dengan (lengkap dengan gelarnya) Baron Pierre de Coubertin. Banyak gelombang pasang surut menerjang di hampir setiap penyelenggaraan olimpiade modern, yang paling sering adalah tentu masalah politik. Di olimpiade XI yang diselenggarakan di Berlin, Jerman, olimpiade digunakan sebagai media untuk mempropagandakan ideologi Nazi oleh Adolf Hitler dan keunggulan ras Arya atas ras2 lainnya. Di Olimpiade XXII yang diselenggarakan di Moskwa, Uni Soviet tahun 1980, Amerika Serikat memimpin boikot olimpiade yang kemudian diikuti oleh 64 negara lainnya termasuk Indonesia sebagai protes atas invasi Uni Soviet ke Afghanistan. Tidak senang dengan tindakan Amerika Serikat yang “memimpin” boikot olimpiade di Moskwa, Uni Soviet kemudian membalas memboikot olimpiade di Los Angeles 4 tahun kemudian, tindakan Uni Soviet ini kemudian diikuti hampir seluruh negara2 komunis dan negara2 yang sangat dekat dengan Uni Soviet, total negara yang memboikot adalah 14. Dalam olimpiade Los Angeles ini, dua negara Islam yaitu Iran dan Libya juga ikut memboikot, namun pemboikotan dua negara Islam ini mempunyai alasan politik tersendiri dan di luar komando boikot oleh Uni Soviet.

Dalam olah raganya sendiri, masalah amatir dan profesional juga menjadi batu ganjalan dalam olimpiade. Semula olimpiade diperuntukan hanya untuk atlit2 amatir yaitu atlit2 yang tidak mencari nafkah dengan olahraga. Karena benturan2 antara amatir dan profesional inilah maka cabang olahraga tennis sempat didepak dari olimpiade mulai tahun 1928 sebelum akhirnya tennis diterima kembali menjadi cabang olimpiade secara resmi saat olimpiade Seoul 1988. Namun seiring dengan bergulirnya zaman, batasan2 antara amatir dan profesional menjadi semakin kabur. Guru2 olahraga yang ikut olimpiade pernah dituding sebagai profesional karena mencari nafkah dengan olahraga walaupun nafkah yang didapatkannya bukan dari bertanding melainkan dari mengajar. Karena batasan2 antara amatir dan profesional yang semakin kabur inilah maka kini aturan keamatiran bagi atlit olimpiade mulai diperlonggar. Lagipula banyak kalangan berpendapat bahwa lebih banyak atlit2 kelas satu dunia yang berstatus profesional dan olimpiade menjadi “mubazir” jikalau hanya diikuti oleh atlit2 kelas dua dunia yang berstatus amatir. Jadinya kini pemain tennis profesional boleh mengikuti olimpiade, juga pebasket2 NBA yang kaya raya karena main basket tersebut juga boleh bertanding di olimpiade. Sementara dalam sepakbola, atlit2 profesional silahkan bertanding, namun dalam sepakbola, jumlah pemain setiap tim yang berusia di atas 23 tahun dibatasi hingga hanya menjadi tiga orang saja untuk setiap tim.

Nah, menjelang olimpiade Beijing saat ini  antara lain adalah “Siapakah yang akan menjadi juara umum Olimpiade??” Setelah Perang Dunia II, mulai tahun 1948 ketika Olimpiade dilangsungkan di London, Inggris, Amerika Serikat selalu menjadi juara umum Olimpiade. Namun pada tahun mulai tahun 1972 ketika olimpiade diadakan di München, Jerman hingga Olimpiade tahun 1988, Uni Soviet yang menjadi juara umum Olimpiade kecuali pada Olimpiade tahun 1984 di Los Angeles ketika Uni Soviet memboikot olimpiade tersebut. Dan yang lebih mengejutkan, negara “kecil” bernama Republik Demokrasi Jerman atau lebih dikenal dengan nama Jerman Timur, sejak tahun 1972 hingga tahun 1988 (kecuali tahun 1984 juga di mana Jerman Timur juga memboikot olimpiade), selalu menduduki posisi kedua mengalahkan negara superpower dalam olahraga: Amerika Serikat !! Namun, setelah Uni Soviet bubar, sudah bisa diduga bahwa prestasi Rusia dan pecahan2 Uni Soviet lainnya secara individual tidak mampu untuk menyaingi Amerika Serikat. Namun yang lebih mengejutkan adalah ketika Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, orang mengira bahwa Jerman akan menjadi negara superpower dalam olimpiade, mengingat Jerman Timur selalu menjadi runner-up dalam setiap olimpiade antara tahun 1972-1988. Namun kenyataannya prestasi Jerman bersatu malah “hancur lebur” di olimpiade! Tidak heran, pepatah: “Bersatu kita runtuh, bercerai kita utuh” sangat cocok untuk prestasi olahraga Jerman di olimpiade.

Kini sejak olimpiade tahun 1996 (sejak Uni Soviet bubar), Amerika Serikat selalu menjadi juara olimpiade. Namun diam2 kini muncul superpower olahraga baru: China! Di olimpiade Athina 2004, China menduduki urutan ke-2 di bawah Amerika Serikat dengan beda hanya 4 medali emas saja. Mengingat China di olimpiade tahun ini menjadi tuan rumah, saya yakin China akan menjadi juara umum olimpiade kali ini.

Nah, bagaimana dengan Indonesia?? Apakah Indonesia akan membawa pulang medali emas?? Indonesia patut bersyukur karena sejak bulutangkis dipertandingkan di olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol, Indonesia mempunyai harapan untuk membawa pulang medali emas olimpiade. Karena tanpa bulu tangkis mungkin boleh dikatakan Indonesia tidak mungkin membawa pulang medali emas olimpiade (bukannya pesimis tapi kenyataan! :mrgreen: ). Namun masalahnya, olimpiade kali ini dilangsungkan di negara “musuh bebuyutan” bulutangkis Indonesia yaitu: China! Jadi apakah kali ini Indonesia masih akan berhasil pulang membawa medali emas (bukan perak atau perunggu loh!!) olimpiade?? Meskipun kita harus optimis dan tidak boleh patah arang, namun melihat hasil piala Thomas dan Uber yang lalu yang notabene dilangsungkan di negara kita namun boleh dikatakan kita “gagal”, saya meramalkan bahwa Indonesia akan gagal membawa pulang medali emas olimpiade. Mudah2an ramalan saya keliru, ya?? Nah, bagaimana dengan pendapat anda?? :D