Arsip Harian: Rabu, 16 Juli 2008

Ketika Bahasa Indonesia Mengkhawatirkan Invasi Bahasa Asing…

 Beberapa bulan yang lalu, secara tidak sengaja saya menyaksikan acara “Spelling Bee Contest” di ESPN. Tumben-tumbenan memang ESPN menyiarkan acara yang mendidik seperti itu. Kontes tersebut adalah lomba mengeja kata-kata dalam Bahasa Inggris oleh anak-anak remaja ABG. Kata-kata yang dipilihpun sulitnya minta ampun. Jangankan saya, wong native speakers atau bulé dewasa kebanyakan saja belum tentu bisa. Yang mengejutkan saya adalah kata-kata yang diperlombakan, yang notabene sangat sulit itu, hampir semuanya kata serapan yang berasal dari bahasa asing non-Inggris, seperti: schuhplättler (tarian rakyat Austria & Bavaria), rognon (ginjal yang dijadikan makanan), yokinabe (sop Jepang), prosopopœia (personifikasi), taleggio (keju Italia), dan sebagainya yang bahkan dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary-pun belum tentu ada, apalagi di dalam kamus ‘anak-anak’ macam kamus Inggris-Indonesianya John M. Echols dan Hassan Shadily yang banyak dijual di toko-toko buku. Karena penasaran, ingin tahu seberapa jauhnya Bahasa Inggris menyerap bahasa asing, saya beli kamus “Oxford Dictionary of Foreign Words and Phrases” dari Amazon[dot]com. Buku tersebut baru tiba beberapa hari yang lalu dengan selamat di Bandung. Ketika buku tersebut saya buka dan baca rasa penasaran saya terobati saya sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa alangkah terbukanya Bahasa Inggris terhadap bahasa-bahasa asing yang ada di dunia ini.

Saya jadi ingat para pakar bahasa kita yang seperti kebakaran jenggot dengan serbuan kata-kata dalam bahasa asing. Mereka selalu menyerukan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Walaupun tentu saja himbauan pakar bahasa kita tersebut ada benarnya, namun saya hingga kini tetap tidak bisa mengetahui secara pasti bagaimanakah berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Yang saya tahu adalah penggunaan dan penulisan kata-kata harus sesuai dengan EYD, hanya itu. Selebihnya masih samar. Saya juga tidak tahu, apakah penggunaan kata-kata asing yang belum ada padanan kata resminya atau padanan kata resminya masih samar-samar termasuk menyalahi kaidah-kaidah berbahasa Indonesia yang benar?

Sebagai contoh, misalnya, dulu di toko buku Gramedia saya pernah iseng-iseng dan tak sengaja membuka buku terjemahan dari Schaum’s Outline Series yang judulnya: Biologi. (Terjemahan buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbitan buku di Jakarta yang cukup terkenal yang suka menerbitkan buku-buku terjemahan untuk pendidikan). Mengenai terjemahannya yang kurang enak dibaca itu sudah biasa. Namun yang membuat saya “sedih” adalah ternyata bahasa nasional kita ini benar-benar tidak siap menerima perkembangan-perkembangan istilah di dunia sains dan teknologi. Bayangkan saja, untuk istilah yang sudah lama saja seperti “Animal Kingdom” di buku terjemahan tesebut diterjemahkan sebagai “Kingdom Animalia” !! Seolah-olah tidak ada lagi istilah yang lebih “Indonesia” lagi. Tapi apa memang terjemahan resmi dari “Animal Kingdom” itu adalah “Kingdom Animalia”? Dalam Bahasa Perancis misalnya, walaupun “Kingdom” dalam Bahasa Perancis adalah “Le Royaume” namun terjemahan resmi Bahasa Perancis untuk “Animal Kingdom” adalah “Le Règne Animal“, jadinya sudah ada istilah bakunya.

Nah, kini pertanyaannya adalah jikalau Bahasa Indonesia tidak siap dengan perkembangan kebudayaan terutama di bidang sains dan teknologi (juga di bidang-bidang lainnya tentu saja) kenapa justru pakar bahasa menjadi ketar-ketir dan alergi dengan serbuan bahasa asing?? Pilihannya ya cuma dua yaitu biarkan bahasa asing menginvasi bahasa Indonesia kita tercinta ini atau kembangkan dan populerkan istilah-istilah baku bagi istilah-istilah asing yang masih sulit dicari padanan istilahnya dalam Bahasa Indonesia.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita musti takut dengan serbuan bahasa asing?? Jikalau pakar bahasa kita selalu menganggap bahasa asing selalu merusak bahasa kita, maka jikalau saya melihat buku “Oxford Dictionary of Foreign Words and Phrases” ini, Bahasa Inggris justru melihat kata-kata bahasa asing tersebut justru memperkaya vocabulary dalam Bahasa Inggris. Pada awalnya di abad-abad lampau, bahasa yang menjadi favorit untuk diserap ke dalam Bahasa Inggris adalah Bahasa Perancis, Bahasa Latin, Bahasa Yunani, Bahasa Jerman dan Bahasa Spanyol. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kata-kata dalam Bahasa Arab, Bahasa China, Bahasa Jepang, bahkan Bahasa Melayu dan Indonesiapun tidak malu-malu diserap oleh Bahasa Inggris. Dan “hebatnya” kata-kata yang diserap tersebut tidak perlu diubah satu hurufpun untuk sesuai dengan pengucapan lidah orang-orang Inggris. Walaupun harus diakui bahwa sistem fonetik Bahasa Inggris termasuk yang paling “terbelakang” di dunia sehingga memungkinkan penyerapan suatu bahasa asing tanpa merubah huruf satupun. (Contoh dari keterbelakangan fonetik Bahasa Inggris ini misalnya adalah huruf “u”. Sebuah bahasa yang baik, sebisa mungkin satu huruf melambangkan satu bunyi saja. Tidak seperti Bahasa Inggris, di mana huruf ‘u’ dalam kata ‘cut’ berbunyi ‘a’ yaitu ‘kat’, sedangkan huruf ‘u’ dalam kata ‘put’ berbunyi ‘u’ yaitu ‘put’).

Nah…. sekarang terserah anda, apakah kedatangan atau serbuan bahasa asing akan dianggap sebagai “ancaman” kepada bahasa kita atau malah akan memperkaya?? Untuk penutup postingan ini, di bawah berikut ini saya lampirkan beberapa kata-kata dari ribuan kata-kata yang sudah dirangkul menjadi bagian dari Bahasa Inggris menurut buku “Oxford Dictionary of Foreign Words and Phrases” yang saya beli itu…… Beberapa kata di antaranya mungkin sudah sering anda dengar sehari-hari:

aa (Hawaii): lava kering yang sudah mengeras dan kasar

agar-agar (Melayu): Agar-agar

azan (Arab) : azan panggilan shalat

bismillah (Arab) : Penyebutan nama Allah (basmallah)

blitzkrieg (Jerman): Penyerangan secara cepat yang bertujuan membuahkan kemenangan dalam waktu singkat.

café au lait (Perancis): Kopi Susu

c’est la vie (Perancis): Itulah hidup!

dharma (sansekerta): Dalam agama Budha berarti kebenaran atau hukum universal. Dalam agama Hindu berarti adat sosial atau kasta, perbuatan yang benar, dan sebagainya.

doppelgänger (Jerman): Kesamaan jalan hidup seseorang dengan orang lain

eau-de-Cologne (Perancis) : Parfum dengan wangi2an yang ringan

eid (Arab) : singkatan untuk eid-ul-fitr (idul fitri) atau eid-ul-adha (idul adha)

fajita (Spanyol Meksiko): Makanan Texas-Meksiko

faux pas (Perancis): sebuah perbuatan yang bertentangan dengan aturan sosial.

fu yung (China) : Makanan China mirip sekali dengan fu yung hai.

gagaku (Jepang): Musik tradisional Jepang

ganja (Hindi) : ganja

gendarme (Perancis): Polisi Perancis

guru (Sansekerta) : guru spiritual

haiku (Jepang) : puisi tradisional Jepang yang biasanya terdiri dari 17 suku kata.

haji (Arab) : haji

ikat (Melayu/Indonesia): kain ikat

ikebana (Jepang) : seni merangkai bunga dari Jepang

jicama (Spanyol) : bangkuang

karaoke (Jepang) : karaoke

liebling (Jerman) : panggilan sayang

lingua franca (Latin) : Bahasa umum yang dipakai antar dua bangsa atau lebih

lustrum (Latin) : periode 5 tahunan

maja (Spanyol) : perempuan yang berbaju menyolok warnanya. Jadi ingat dulu ada sabun merknya sabun “Maja”.

mambo (Spanyol): musik dan tari dari Amerika Selatan

nouveau riche (Perancis) : orang kaya baru

oom (Afrikaan) : Paman. Bahasa Inggris Afrika Selatan yang diambil dari Bahasa Belanda, oom, yang artinya paman.

origami (Jepang): Seni melipat kertas dari Jepang.

per capita (Latin): per orang.

prima donna (Italia): Orang yang menonjol pada satu bidang atau aktivitas.

qiblah (Arab): kiblat

raja yoga (Sansekerta) : Bentuk dari sebuah yoga yang bertujuan untuk mengendalikan fikiran dan emosi.

rya (Swedia) : Jenis karpet dari Skandinavia.

sambal (Indonesia) : sambal á la Indonesia.

sukiyaki (Jepang) : makanan Jepang

tamasha (Persia) : jalan2 untuk bersenang2

tiramisu (Italia): sebuah makanan penutup dari Italia

Übermensch (Jerman) : Superman atau manusia super (dalam konotasi sebenarnya)

umrah (Arab) : Perjalanan haji kecil

vendetta (Italia): pertikaian beradarah di mana keluarga si terbunuh mengadakan balas dendam terhadap keluarga si pembunuh atau pertiakaian berdarah pada umumnya.

ve-tsin (China) : MSG (bangsanya Ajinomoto atau Miwon)

wasabi (Jepang): sayuran akar berwarna hijau dari Jepang yang terasa sangat pedas

wayang (Indonesia/Jawa): wayang

yokozuna (Jepang): juara sumo

yukata (Jepang): kimono yang beratnya ringan

zabaglione (Italia) : makanan penutup dari Italia

Zeitgeist (Jerman) : trend pemikiran atau perasaan pada sebuah periode terutama dalam bidang seni, sastra, filosofi dan sebagainya.

zwieback (Jerman): biskuit dari Jerman.