Arsip Harian: Senin, 28 Juli 2008

Pendidikan Membuahkan “Diskriminasi”??

Sebenarnya fikiran seperti ini sudah ada sejak dulu dalam fikiran saya, tapi entah kenapa, baru terfikirkan sekarang oleh saya untuk membuat artikel dengan tema seperti di atas. Kita semua mengetahui bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dan tidak dapat diabaikan lagi terutama di zaman globalisasi yang kompetitif ini. Tanpa pendidikan yang baik tentu saja suatu kelompok masyarakat atau suatu bangsa tidak akan mampu bersaing secara sempurna dengan bangsa lain yang lebih ‘terdidik’. Namun terlepas dari peran pendidikan di sebuah masyarakat, saya sejak dulu senantiasa berfikir…. Apa tujuan hakiki dari pendidikan tersebut?? Apakah untuk meningkatkan kualitas manusia baik skill ataupun moralnya, atau pendidikan hanya menghasilkan masyarakat yang terkotak-kotak??

Jikalau anda seorang karyawan atau minimal pernah menjadi karyawan tentu anda pernah merasakan atau minimal melihat kenyataan bahwa ada banyak posisi2 tertentu di dalam perusahaan yang tidak bisa dijangkau oleh pelamar2 dengan tingkat pendidikan yang “kurang tinggi”. Ini terkadang timbul pertanyaan, apakah posisi tersebut benar2 tidak bisa dikerjakan oleh seseorang yang dengan tingkat pendidikan yang kurang tinggi?? Jikalau bidang engineering (bukan bidang montir teknis loh!) mungkin sedikit masuk akal jikalau paling sedikit pendidikannya adalah S1 (kecuali mungkin teknik komputer karena  yang saya lihat ‘ahli2′ komputer keluaran kursus seringkali nggak ada bedanya dengan sarjana komputer yang lulusan S1:mrgreen: ), namun bagaimana di bidang2 lainnya??

Saya pernah bertanya kepada teman saya yang waktu itu bekerja di sebuah bank pemerintah di Jember. Saya iseng2 bertanya kepada dia yang lulusan S1 itu: “Kerjaan kamu di bank itu, sebenarnya yang mana sih yang benar2 nggak bisa dikerjakan oleh seorang lulusan SMA??” Hingga kini teman saya tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan saya tersebut. Terlepas dari bisa tidaknya ia menjawab, saya yakin banyak sebenarnya posisi2 yang ditujukan untuk lulusan S1 sebenarnya bisa dikerjakan oleh lulusan D3 bahkan SMA. Toh pada saat kita masuk kerja, kita sama2 belajar lagi. Yang lulusan D3 atau SMA, jikalau diberi kesempatan yang sama mungkin dapat melakukan pekerjaannya sama baiknya dengan yang lulusan S1.

Memang saya mengetahui bahwa ijazah adalah filter awal yang paling mudah walau belum tentu akurat dalam menyaring calon karyawan. Namun tidak bisakah dikembangkan filter2 awal yang lebih obyektif dan lebih akurat sehingga ijazah bukan hanya satu2nya filter awal yang menentukan layak tidaknya seseorang untuk bekerja pada posisi tertentu?? Walahualam deh….. itu kerjaannya orang2 SDM hehehe….. Dan saya juga sering mendengar bahwa mereka yang lulusan S1 seringkali tidak menginginkan lowongan baru dan kesempatan karir mereka dibedakan dengan yang lulusan S2, namun ironisnya mereka (yang lulusan S1) menutup diri dengan mereka yang lulusan SMA atau D3! Sebuah ketidakkonsistenan! Kenapa begitu?? Ya…. mudah saja….. mungkin mereka yang lulusan S1 masih mendominasi jajaran manajerial di perusahaan tersebut sehingga policy penerimaan karyawan proses rencana karir mereka sangat S1-sentris!

Penutupan kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung dalam mendapatkan pendidikan lanjutan itulah yang mungkin menyebabkan “diskriminasi” di dalam masyarakat. Tentu saja masih ada jalan lain bagi mereka yang berpendidikan kurang tinggi untuk menggapai posisi yang tinggi dalam status sosial seperti menjadi pengusaha ataupun artis terkenal misalnya. Namun toh kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak saudara2 kita yang tidak berkesempatan untuk berpendidikan tinggi hilang kesempatannya untuk menggapai karir yang lebih tinggi walaupun mungkin ia sanggup mengerjakannya dengan baik bahkan mungkin lebih baik dari mereka2 yang lulusan S1.

Kita toh selama ini juga sering menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri, bahwa mereka2 yang berpendidikan lebih tinggi secara formal belum tentu cara berfikirnya dan hasil kerjanya lebih baik daripada mereka2 yang berpendidikan lebih rendah. Bahkan saya juga sering melihat mereka2 yang lulusan luar negeri juga pulang hanya dengan selembar ijazah dan juga mungkin Bahasa Inggris yang lebih baik sedikit. Mungkin mereka di luar negerinya cuma dapat universitas2 yang kelas kambing! :mrgreen: Walahualam deh! :D Yang penting menurut saya, jangan hanya membanggakan ijazah dan juga jangan membanggakan ijazah luar negeri dari universitas kelas kambing, tapi banggalah dengan kemampuan riil anda dan jangan cepat puas! Boleh setuju dan boleh tidak setuju! :D