Yari NK

Arsip untuk Agustus, 2008

Putih Mancung vs Hitam Pesek

In Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi on Sabtu, 30 Agustus 2008 at 5:00 am

Postingan ini terinspirasi dari dua buah artikel di sini dan di sini serta sebuah acara infotainment yang tidak sengaja saya tonton seputar kelahiran cucu RI-1 kita. Kenapa infotainment jadi ada hubungannya sama artikel ini? Waktu itu saya tidak sengaja sembari makan siang di kantor melihat acara infotainment seputar kelahiran cucu RI-1 (presiden) kita. Di situ, salah seorang keluarga dari Anissa Pohan (lupa lagi siapa namanya) yang mengatakan bahwa bayi yang lahir berkulit putih dan berhidung mancung! Mendengar itu saya jadi tertawa sendiri. Apa sebab? Ada dua hal yang menyebabkan saya tertawa. Pertama, setelah saya lihat gambar si bayi di Internet dan media2 lainnya ternyata tidak begitu putih dan mancung. Ehm…. putih mungkin benar, karena si bayi mungkin belum terkena efek sinar UV. Tapi mancung?? Kayaknya untuk jadi mancung, itu gen bayi yang berasal dari ayah ibunya harus digerus dulu terus diganti gen yang berasal dari Cindy Crawford dan Brad Pitt! Tentu saya bukan mentertawakan si bayi yang tidak berdosa itu melainkan saya mentertawakan komen-komen dangkal dan onnozel seputar kelahiran si bayi seperti contoh yang dilontarkan di salah satu acara infotainment tersebut. Kedua, yang bikin saya tertawa adalah dangkalnya persepsi orang bahwa putih mancung selalu lebih baik dibandingkan dengan hitam pesek. Namun betulkah putih mancung selalu lebih baik dibandingkan hitam pesek?? (Ini masalah fisik loh, jadi jangan bawa-bawa tingkah laku yang baik atau beramal sholeh dan sebagainya.) Kita lihat iklan-iklan pemutih kulit bertebaran di televisi, menawarkan kulit yang lebih putih terutama untuk wanita. Bukan hanya itu, dalam fotografi digitalpun sering terjadi manipulasi, kulit yang aslinya gelap dibuat putih semulus-mulusnya dengan menggunakan Photoshop! Hal ini bukan saja untuk foto perempuan tetapi juga untuk foto laki-laki.

Di dalam film “Hotel Rwanda” dan juga “Sometimes in April” di mana diceritakan mengenai genosida yang dilakukan oleh suku Hutu terhadap suku Tutsi, di mana kebencian suku Hutu yang mayoritas terhadap suku Tutsi yang minoritas sampai pada titik klimaksnya. Akar kebencian ini bermula pada zaman kolonial Belgia di Rwanda zaman dulu, di mana Belgia berusaha “memecah belah” suku-suku di Rwanda. Suku Tutsi diposisikan sebagai suku yang lebih “beradab”, berkulit lebih terang, berhidung lebih mancung, dan berbadan lebih tinggi dibandingkan dengan suku Hutu. Sehingga suku Tutsi agak dimanjakan pemerintah kolonial Belgia dan diberi lebih banyak jabatan atau kedudukan. Padahal jikalau kita melihat secara fisik, pada kenyataannya kita tidak bisa membedakan mana yang suku Hutu dan mana yang suku Tutsi. Ini hanya akal-akalan penjajah Belgia saja untuk mengadu domba dan menyebarkan kebencian di antara suku Tutsi dan suku Hutu. Di sini sekali lagi digambarkan bahwa yang berkulit putih dan berhidung mancung “lebih bagus” dibandingkan yang berkulit gelap dan berhidung pesek!

Menurut saya, penilaian yang sangat tinggi terhadap orang yang berkulit putih dan berhidung mancung adalah termasuk “cuci otak” massal yang paling berhasil ditanamkan di antara orang-orang kulit berwarna termasuk terhadap bangsa kita ini. Bulé-bulé dianggap mempunyai fisik yang lebih bagus dibandingkan yang negro-negro sehingga tidak jarang banyak pula orang-orang berkulit warna yang ingin berkulit putih (terutama wanita kali…) seperti orang bulé !! Atau minimal menikah dengan orang bulé agar bisa memperbaiki keturunannya, supaya anaknya nggak pesek dan “dakian” lagi seperti dirinya, begitu kata banyak orang, walaupun tentu saja tidak semua orang yang menikah dengan bule mengharapkan untuk “memperbaiki keturunan”.

Tapi….. tunggu dulu !! Mungkin citra “putih dan mancung” lebih unggul daripada citra “hitam dan pesek” karena lebih pada kenyataan bahwa peradaban si kulit putih lebih berkembang dan lebih maju dibandingkan dengan peradaban si kulit hitam. Apa betul begitu? Bagaimana seandaikan terbalik….. peradaban si kulit hitam (misalkan) lebih maju dibandingkan dengan peradaban si kulit putih, apakah kita akan masih menganggap “putih dan mancung” lebih baik dari “hitam dan pesek”?? Ya sudah deh…. dari artikel saya yang kurang bermutu kali ini, silahkan anda berpendapat masing-masing! O iya, sebagai penutup artikel kali ini, saya akan bertanya, manakah sekarang yang lebih bagus “putih dan pesek” atau “hitam dan mancung”? Misalnya… albino … kan dia putih tapi pesek… atau misalnya Orang India “keling” biar hitam tapi kan ada juga hidungnya yang mancung… atau Michael Jackson yang berkulit hitam tapi mancung karena hidungnya dipermak habis-habisan kayak celana jeans Levi’s! Jadi sekarang antara putih dan mancung jadinya mana yang lebih menarik anda?? Huehehehe….

O iya ada juga nih yang harus ditanyakan….. bagaimana antara “gembrot” dan “langsing”?? Apakah gembrot selamanya juga lebih “jelek”?? :mrgreen:

Ötzi, Si Manusia Es……

In Pengetahuan, Serba Serbi, Uncategorized on Rabu, 27 Agustus 2008 at 5:00 am

Ötzi, adalah sebuah mumi (mummy) tertua yang pernah ditemukan di Eropa. Mumi yang berumur lebih dari 5 milenium ini diketemukan secara tidak sengaja oleh dua orang pendaki gunung, sepasang suami istri dari Nürnberg, Jerman bernama Helmut dan Erika Simon pada tanggal 19 September 1991. Mumi ini diketemukan membeku di glasier di dekat perbatasan Austria-Italia. Walaupun lokasi penemuannya berada di daerah Italia, namun pada awalnya fihak otoritas Italia sedikit ogah berurusan dengan penemuan jasad tersebut, yang disangkanya mungkin hanya tulang belulang manusia “modern” yang mengalami kecelakaan atau kemungkinan adalah jasad serdadu sisa-sisa perang Napoleon pada dua abad lalu. Fihak Italia kemudian membiarkan fihak Austria untuk berurusan dengan segala hal tetek bengek penemuan jasad tersebut. Pihak Austria memang pada akhirnya berhasil mengevakuasi jasad tersebut ke kota Innsbruck, Austria di mana pertama kali jasad tersebut diidentifikasi.

Bersama jasad itu sebenarnya juga ditemui beberapa peralatan dan pakaian milik mumi tersebut seperti, sisa2 pakaian, sepatu, kapak, pisau dan sarungnya dan lain-lainnya. Dari pengidentifikasian dan dari peralatan-peralatan yang ditemukan bersama si mumi, dapat dipastikan bahwa si mumi berasal dari zaman tembaga atau sekitar 5300 tahun yang lalu. Semula diduga bahwa si Ötzi ini tewas karena tertimbun longsoran salju atau terkena badai salju. Namun belakangan ini muncul dugaan baru bahwa si Ötzi ini kemungkinan tewas karena upacara ritual korban manusia yang sering terjadi pada zaman itu.

Ketika diketahui bahwa Ötzi adalah sebuah mumi yang berharga karena termasuk mumi tertua yang pernah diketemukan di Eropa, maka fihak Italia berusaha mengklaim kembali dari fihak Austria atas “kepemilikan” mumi tersebut. Walaupun fihak Austria kemudian memang mengembalikan mumi tersebut kepada fihak Italia, namun “masalah” hukum mengenai siapa yang menemukan mumi tersebut masih menjadi masalah. Erika Simon, si istri penemu mumi tersebut (sang suami Helmut Simon telah meninggal dunia di tahun 2006 lalu) tengah berhadapan dengan seorang wanita Slovenia, Magdalena Mohar Jarc, dan juga seorang wanita asal Swiss, Sandra Nemeth, yang mengaku telah menemukan Ötzi sebelum pasangan Simon tersebut menemukannya. Kasus tersebut hingga kini masih menggantung di pengadilan Bolzano di Italia.

___________________________________

Bagaimana para ahli menentukan umur Ötzi?? Untuk menentukan temuan arkeologis terutama yang berasal dari materi biologis, para ahli menggunakan metode radiocarbon dating. Radiocarbon dating ini menggunakan rasio antara unsur karbon-14 dengan karbon-12 yang berada pada temuan arkeologis tersebut. Karbon-14 mempunyai waktu paruh sekitar 5730 tahun. Paruh waktu adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah unsur radioaktif untuk meluruh hingga jumlah setengahnya dari jumlah semula. Jadi misalkan jikalau terdapat 10 mg karbon-14 pada awalnya, maka dalam 5730 tahun karbon-14 yang tersisa adalah 5 mg. Dan dalam (2 x 5730 tahun) 11.460 tahun yang tersisa hanya tinggal 2,5 mg dan seterusnya.

Pada masa hidupnya, semua makhluk hidup selalu mempertahankan rasio antara karbon-14 dan karbon-12 sehingga walaupun karbon-14 meluruh pada saat kita masih hidup, namun rasio antara karbon-14 dan karbon-12 relatif stabil pada saat kita hidup. Karbon-14 kebanyakan didapat dari makanan (terutama yang dari tumbuh2an) yang kita makan. Nah, setelah makhluk hidup itu mati maka kita tidak mendapat asupan karbon-14 lagi, sehingga setiap kali karbon-14 di dalam tubuh kita (makhluk hidup) meluruh, kesetimbangan rasio tidak bisa dipertahankan lagi.

Nah, setelah dianalisa ternyata di dalam diri Ötzi, rasio antara karbon-14 dan karbon-12 hanya 53% dari rasio antara karbon-14 dan karbon-12 yang seharusnya. Setelah diketahui rasio yang sesungguhnya, tahap pertama adalah menghitung konstanta peluruhan (k). Konstanta peluruhan ini sama untuk setiap unsur radioaktif yang sama, namun berbeda untuk unsur radioaktif yang lain. Konstanta peluruhan karbon-14 dihitung dengan rumus:

0,5C = Cek(5730) —> Dalam waktu 5730 tahun, C akan meluruh setengahnya menjadi 0,5 C.

0,5 = ek(5730) —> C dapat dicoret dari ruas kiri dan ruas kanan

ln 0,5 = ln e5730k

ln 0,5 = 5730k ln e —–> Ingat: ln e2 = 2 ln e.

ln 0,5 = 5730k ——> Ingat : ln e = 1.

k = \frac{\ln{0,5}}{5730} \approx \frac{-0,6931}{5730} \approx -0,00012

Konstanta peluruhannya (k) kini sudah ketemu yaitu -0,00012. Sekarang kita masukkan lagi ke rumus awal, hanya saja kini 0,5C diganti dengan 0,53C dan yang dicari kini adalah ‘t’ atau usia si Ötzi.

0,53C = Ce-0,00012t

0,53 = e-0,00012t

ln 0,53 = ln e-0,00012t

ln 0,53 = -0,00012t ln e

ln 0,53 = -0,00012t

t = \frac{\ln{0,53}}{-0,00012} \approx \frac{-0,6349}{-0,00012} = 5291

Jadi usia si Ötzi adalah 5291 tahun atau lebih dari 5 milenium.

Catatan:

Metoda penentuan usia lewat rasio unsur karbon-14 hanya akurat untuk obyek arkeologis yang berusia kurang dari 50.000 tahun. Jika rasio karbon-14 terhadap karbon-12 hanya tinggal 0,25% dari yang seharusnya maka penentuan usia memakai metode ini menjadi kurang tepat. Untuk penentuan temuan arkeologis yang berasal dari materi biologis yang lebih tua, digunakan metode kalium-argon (Potassium-Argon Dating). Metode ini juga digunakan dalam menentukan umur-umur bebatuan geologis. Kalium-40 ini mempunyai paruh waktu yang dahsyat lamanya yaitu 1,3 milyar tahun atau 1.300.000.000 tahun !!

Olimpiade: Citius, Altius, Fortius. Adakah Limitnya?

In Serba Serbi on Minggu, 24 Agustus 2008 at 5:00 am

Olimpiade Beijing hari ini akan berakhir. Kontingen China, seperti yang telah saya ramalkan sebelumnya, menjadi juara umum dalam olimpiade kali ini. Rekor-rekor dunia dan olimpiade banyak dipecahkan. Nah, dari sinilah ide tersebut muncul sebagai bahan dalam artikel saya kali ini. Kita mengetahui bahwa setiap kali olimpiade dilaksanakan, rekor dunia selalu ramai dipecahkan, hal ini sesuai dengan motto olimpiade itu sendiri yaitu: Citius, Altius dan Fortius atau Lebih Cepat, Lebih Tinggi dan Lebih Kuat. Pertanyaannya adalah: Apakah rekor-rekor dunia ini akan terus terpecahkan?? Apakah Memang manusia menjadi semakin cepat, kuat dan tinggi setiap zaman?? Kalau begitu mungkinkah di masa mendatang seorang atlit dapat menyelesaikan lari 100 meter dalam waktu 1 detik?? Sebagai perbandingan rekor dunia lari 100 meter yang baru dipecahkan di Beijing lalu oleh pelari Usain Bolt asal Jamaika mencatat waktu 9,69 detik. Atau…. apakah memang ada limit dalam setiap usaha manusia?? Kalau ada…. kira-kira mengetahuinya bagaimana ya??

Sebuah pertanyaan besar yang mungkin belum akan terjawab dalam waktu dekat ini. Saya jadi ingat sebuah rumus berikut ini: (1+\frac{1}{x})^{x} yang tidak lain adalah rumus perhitungan bunga majemuk dalam perbankan dengan tarif bunga 100% dan dengan asumsi bunga terus-menerus dibayar lebih cepat dari detakan jantung! Lebih lengkapnya dapat dilihat di sini. Dalam artikel saya tersebut dijelaskan bahwa andaikan bank memberikan bunga 100% per tahun sekalipun dan bunga dibayarkan bulanan, harian, jaman, menitan, detikan atau bahkan lebih cepat dari detikanpun maka bank ‘tidak akan bangkrut’ secara matematis karena saldo akhir simpanan kita di bank tidak akan melebihi 2,7182 kali saldo awal kita. Angka 2,7182… tersebut merupakan limit atau batas yang tidak mungkin bisa ditebus dengan nilai x berapapun besarnya*).  Nah, begitu pula dengan pemecahan rekor dunia di olimpiade ini, adakah limit yang tidak bisa “ditembus” para atlit betapapun kuat dan cepatnya seorang atlit??

Sekarang lihatlah data berikut ini. Tahun 2008 rekor dunia (untuk 100 meter putra misalnya) adalah 9,69 detik yang baru saja dipecahkan di Beijing. Sedangkan di tahun 1998 rekor dunia waktu itu adalah 9,84 detik. Maka dalam 10 tahun terakhir ini, rata-rata kecepatan pemecahan rekor dunia adalah \frac{9,84-9,69}{10} sama dengan 0,015 detik per tahun (mohon koreksi jika saya salah hitung) sedangkan untuk kurun waktu 10 tahun sebelumnya yaitu tahun 1988-1998, kecepatan pemecahan rekornya adalah (rekor dunia 100 meter putra tahun 1988 waktu itu adalah 9,92 detik): \frac{9,92-9,84}{10} atau sama dengan 0,008 detik per tahun!! Artinya secara kasar justru pemecahan rekor dalam 10 tahun terakhir lebih cepat dari pemecahan rekor 10 tahun sebelumnya, hal ini justru “terbalik” dengan kaidah fungsi limit dalam matematika di mana semakin nilai ‘x’ bertambah besar maka pertambahan nilai fungsi tersebut semakin kecil!

Tentu saja olahraga memang bukan matematika. Andaikan pemecahan rekor dunia di setiap cabang olahraga dapat dibuat fungsi persamaan matematikanya tentu limit atau batas dari catatan pemecahan rekor dunia ini dapat dihitung. Namun andaikan jikalau memang usaha manusia ada batasnya atau tepatnya ada angka limitnya, dan rekor dunia ternyata pada suatu saat tidak terpecahkan lagi atau tepatnya tidak terdeteksi lagi, apa yang harus dilakukan??

Dalam sebuah fungsi limit, jikalau kita memasukkan nilai ‘x’ yang sangat besar, betapapun besarnya, sebenarnya tidak pernah mencapai batas limit tersebut melainkan hanya menghasilkan perbedaan hasil yang semakin kecil dan semakin mendekati angka limit. Nah, begitupula kelak dalam pemecahan rekor dunia, semakin besar usaha para atlit kelak, maka yang dihasilkan mungkin pemecahan rekor dunia dengan perbedaan yang semakin sedikit dan semakin sedikit saja. Pada saat ini, kita menggunakan stopwatch yang berpresisi \frac{1}{100} detik, mungkin dengan menggunakan stopwatch berpresisi seperseratus detik ini suatu saat rekor dunia tidak terdeteksi lagi, untuk itu kita hanya perlu membuat stopwatch yang berpresisi \frac{1}{1000} (seperseribu) detik, dan kalau pada saatnya nanti stopwatch yang berpresisi seperseribu detik ini juga gagal mendeteksi rekor dunia baru, maka kita buat lagi stopwatch yang berpresisi sepersepuluhribu, seperseratus, sepersejuta detik bahkan dengan presisi yang lebih lagi guna mendeteksi pemecahan rekor dunia baru! Gampang kan?? Gitu aja repot! Huehehehe…. :mrgreen:

___________________________________________

Untuk mempermudah gambaran, dengan contoh rumus di atas: f(x)= (1+\frac{1}{x})^{x} kita masukkan nilai x yang semakin besar (Anda bisa menghitungnya sendiri dengan menggunakan kalkulator anda):

x f(x)
9 2,581
99 2,705
999 2,717
9.999 2,718
99.999 2,718

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jika nilai x bertambah besar, maka pertambahan nilai f(x) semakin kecil. Untuk x=9.999 maka f(x) sebenarnya adalah 2,718146….. sedangkan untuk x=99.999 maka f(x) adalah 2,718268…. Nah, pada tabel di atas yang hanya mempunyai presisi \frac{1}{1.000} atau 4 angka signifikan maka perbedaan tersebut gagal terdeteksi karena sangking kecilnya, pada saat kita menggunakan presisi minimal \frac{1}{10.000} (5 angka signifikan) baru perbedaan tersebut dapat terlihat……

Terlalu Bergantung Pada Kekayaan Alam?

In Manusia, Perilaku, Serba Serbi on Kamis, 21 Agustus 2008 at 5:00 am

Dua hari yang lalu, secara tidak sengaja saya membaca sebuah artikel di blog yang sudah jarang saya kunjungi akhir-akhir ini. Cuplikan dari artikel itu adalah sebagai berikut:

Bagaimana dengan negara-negara seperti Malaysia, Singapura dan Hong Kong – yang nota benenya merdeka setelah negara ini – bisa lebih makmur?

Pasti jawabannya mudah ditebak. Karena negara-negara tersebut penduduknya tidak sebanyak Indonesia. Karena negara-negara tersebut tidak seluas Indonesia. Karena negara-negara tersebut dijajah oleh Inggris. So what gitu loh. Apakah kita lupa, kalo negara-negara itu tidak memiliki kekayaan alam sebanyak di Indonesia.

Membaca bagian tersebut, saya agak sedikit tertawa kurang sependapat dengan bacaan di artikel tersebut (sumber artikel sengaja tidak dibuat link-nya agar menjaga nama baik sang blogger keharmonisan bilateral :mrgreen: ). Dalam artikel tersebut sepertinya tersirat bahwa dengan kekayaan alam semata kita bisa menjadi serta merta makmur dan mungkin juga maju.

Walaupun kemungkinan tersebut tetap saja ada (walaupun kecil) namun menurut saya justru itu kesalahan dasar perekonomian kita, terlalu bertumpu kepada kekayaan alam kita yang berlimpah. Hal ini lebih diperparah lagi dengan “buaian” dari semasa kita sekolah di SD bahwa negara kita adalah negara yang kaya dan subur, dan kekayaan buminya melimpah…. sehingga menarik bangsa-bangsa asing untuk merebut tanah air kita ini… dan sebagainya…. dan sebagainya. Jadinya malah saya bertanya balik, so what gitu loh?? Apa memang kekayaan alam yang melimpah bisa otomatis membuat kita menjadi bangsa yang makmur dan maju ?? (Ingat: makmur dan maju adalah dua terminologi yang berbeda).

Sepegetahuan saya, sangat jarang sekali terjadi sebuah negara menjadi makmur (apalagi maju) hanya karena sumberdaya alamnya. Kasus anomali mungkin terjadi di Timur Tengah di mana rakyatnya makmur akibat petrodollar, petroeuro, ataupun petro-petro lainnya yang mengalir ke negeri-negeri tersebut. Wait a minute….. makmur?? Mungkin ya! Maju?? belum tentu !! Andaikan makmur, untuk berapa lama bisa bertahan?? Tidak ada seorangpun mungkin yang tahu…… yang jelas negara-negara kaya minyak tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai negara maju. Indikator-indikator non-ekonomi dan juga prestasi-prestasi non-ekonomi lainnya lebih mirip negara-negara miskin berkembang dibandingkan dengan negara-negara maju. Salah satu indikator yang sangat memprihatinkan adalah tingginya tingkat buta huruf di negara-negara Timur Tengah tersebut seperti yang pernah saya tuliskan di sini.

Kalau kita perhatikan lebih cermat pula, negara-negara yang dilimpahkan kekayaan alam berupa minyak mentah di Timur Tengah ini sangat bergantung kepada negara-negara maju atau negara-negara industri barat. Perhatikan saja negara-negara Timur Tengah yang makmur seperti: Saudi Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan lain sebagainya adalah mereka yang bersahabat dengan negara-negara barat. Negara-negara yang kurang bersahabat dengan negara-negara barat seperti: Irak (masa pemerintahan Saddam Hussein), Suriah, Libya dan lain sebagainya kehidupan rakyatnya “tidak seberuntung” mereka di negara2 tetangga mereka yang bersahabat dengan negara-negara barat, dengan sedikit catatan, kehidupan atau kemakmuran di Libya meningkat sejak barat dan PBB mencabut embargo kepada Libya di bulan September 2003 lalu.

Ketergantungan negara-negara Timur Tengah kaya minyak tersebut dengan negara-negara maju bukan hanya dalam bidang eksplorasi minyak dan perdagangan minyak saja, namun terus berlanjut hingga pembangunan kota-kota megah mereka. Tanpa bantuan teknologi dan kepakaran dari negara-negara maju tidak mungkin Dubai (contohnya) dapat menjadi sementereng dan semegah sekarang. Tanpa campur tangan kontraktor-kontraktor dan ahli-ahli dari negara maju rasanya mustahil orang-orang UEA bisa membangun sendiri The World, Dubai Palm Island, ‘Burj al-Arab ataupun ‘Burj Dubai yang megah itu. Pendek kata dengan hanya modal kekayaan alam saja, kita akan tetap saja sangat bergantung dari negara-negara lain…..

Jadi mulai sekarang, sebaiknya kita jangan hanya membanggakan “kekayaan alam” saja, dan tidak mengorientasikan perekonomian kita pada eksploitasi kekayaan alam kita. Mari kita mulai membangun sumberdaya manusia kita besar-besaran dan tidak perlahan-lahan lagi alias alon-alon asal kelakon. Makin alon akan makin tertinggal kita oleh bangsa lain. Perekonomian yang berdasarkan sumberdaya manusia alias sains dan teknologi terbukti di manapun lebih ampuh dalam memakmurkan apalagi memajukan sebuah bangsa dibandingkan sebuah bangsa yang perekonomiannya bergantung pada kekayaan alam. Hal ini mungkin disebabkan karena perekonomian yang berorientasi pada sumberdaya manusia mampu memproduksi produk-produk yang bernilai tambah tinggi atau mungkin malah eksklusif yang tentu dapat mendongkrak pendapatan suatu negara. Perekonomian yang berbasis kemajuan sains dan teknologi dan SDM juga dipercaya (dan memang) mampu menyerap tenaga kerja yang jauh lebih besar dibandingkan perekonomian sumberdaya alam. Hal ini juga didukung fakta bahwa negara-negara yang maju lebih tidak bergantung pada negara-negara lain sehingga memperbesar peluang terbukanya lapangan-lapangan kerja untuk tenaga-tenaga kerja dalam negeri dan masih banyak lagi keuntungan-keuntungan negara-negara yang perekonomiannya bergantung pada sumberdaya manusia.

Contoh nyata kesuksesan perekonomian yang miskin sumberdaya alam tapi kaya kualitas sumberdaya manusia adalah: Korea (Selatan). Pada saat negara kita sudah merdeka 10 tahun, orang-orang Korea baru saja mulai bangkit dari puing-puing kehancuran perang Korea yang dahsyat itu. Namun kini setelah 40 tahun?? Mereka sudah mendapatkan “segalanya” atau mereka sudah melangkah jauh dan berprestasi jauh di atas kita. Apakah kita memang lebih bodoh dari bangsa Korea?? Kita tidak mampu membangun SDM kita sebaik Korea?? Atau…. kita hanya bangga dengan kekayaan alam kita dan jumlah penduduk kita yang ratusan juta tapi kebanyakan tidak bermutu itu? Walahualam……. Yang jelas jikalau saya menemukan artikel seperti cuplikan di atas, hati saya sangat miris, sepertinya memang masih banyak di luar sana yang berfikiran sangat marginal: “yang penting gua udah dapet kerjaan….. dan dapet kedudukan di kantor….. masalah prestasi dan lainnya….. emang gua pikirin…..!! Toh… Indonesia kaya sumberdaya alam ini…. nggak akan habis tujuh turunan!”

Embeeeeer…….!!” :mrgreen:

_________________________________

Catatan klise:

- Artikel di atas bukan berarti kita tidak mensyukuri kekayaan alam kita yang berlimpah……..

Syukur Tidak Perlu Upacara Lagi…..

In Kehidupan, Perilaku, Serba Serbi on Senin, 18 Agustus 2008 at 5:00 am

Ketika kebetulan tengah menonton acara-acara olimpiade yang disiarkan oleh televisi China CCTV 1, saya menyaksikan seremoni pengalungan medali kepada para pemenang di salah satu nomor renang. Perenang putri Italia, Federica Pellegrini, memenangi medali emas. Ketika diperdengarkan lagu kebangsaan Italia, Il canto degli Italiani atau yang lebih dikenal dengan Inno di Mameli, nampak Pellegrini dengan riang dan tertawa-tawa kecil ikut menyanyikan lagu kebangsaan tersebut sambil bertepuk-tepuk mengiringi irama lagu. Penonton di Beijingpun akhirnya juga ikut-ikutan bertepuk tangan mengiringi lagu kebangsaan Italia tersebut. Sikap Pellegrini dalam menghormati bendera dan lagu kebangsaan jauh dari kesan “angker” atau serius, berbeda dengan kita pada saat menyayikan lagu Indonesia Raya yang “wajib” serius itu.

Rafael Nadal, petenis top dunia asal Spanyol, ketika memenangi gelar tunggal putra di Wimbledon 2008, gelar yang telah lama dinanti-nantikannya, setelah mengalahkan Roger Federer di final, menerima bendera Spanyol dari salah satu penonton Spanyol yang hadir pada saat itu. Namun bendera Spanyol tersebut tidak dibentangkan dan dikibarkannya, hanya tergenggam kusut di tangannya sementara Nadal tetap mengacungkan kedua tangannya untuk merayakan kemenangannya. Entah karena sangking gembiranya sehingga ia lupa dengan bendera Spanyol yang digenggamnya atau karena ia merasa bahwa di Wimbledon ia bermain untuk dirinya sendiri, bukan untuk Spanyol, sehingga ia lupa tidak membentangkan dan mengibarkan bendera Spanyol tersebut. Padahal pada saat itu hadir anggota keluarga kerajaan Spanyol di Wimbledon. Kasus lain adalah, di Olimpiade Athina 2004, ketika salah satu atlit balap sepeda Perancis (saya lupa namanya) memenangi salah satu nomor balap sepeda off-road. Setelah menang, ia melambaikan bendera Perancis yang ia dapat dari penonton. Begitu ia melihat bendera Perancis yang berukuran lebih besar, ia menyampakkan ke tanah bendera Perancis yang digenggamnya dan menyambar bendera Perancis yang lebih besar tersebut dari penonton. Namun setelah lelah ia melakukan victory lap , bendera Perancis tersebut lagi-lagi ia campakkan ke tanah. Perlakuan atlit Perancis tersebut terhadap bendera nasionalnya, kalau di Indonesia bakalan dianggap tidak nasionalis ataupun tidak menghargai.

Di Indonesia, boleh saja orang berkata: “biarlah mereka seperti itu, kita tidak perlu seperti itu, dan tetap menghargai bendera dan lagu kebangsaan kita”. Namun, boleh juga kan sebagian orang lain (termasuk saya) berkata bahwa: “menghormati bendera dan lagu kebangsaan boleh-boleh saja, tetapi tidak usah terlalu over, sehingga bendera dan lagu nasional seperti setengah ‘dikeramatkan’”. Saya sendiri jadi ingat waktu SMA dulu, setiap Senin dijawibkan upacara bendera yang memakan waktu 1 jam pelajaran sekolah sendiri. Padahal hitung selama setahun, berapa jam pelajaran yang terbuang hanya untuk upacara bendera yang seharusnya dapat diisi dengan pelajaran lain yang lebih bermanfaat. Apakah upacara bendera dapat mempertebal rasa nasionalisme kita ?? Hanya anda sendiri yang dapat menjawabnya. Silahkan…. anda berpendapat…. ini kan negara bebas…….

Yang jelas… menurut saya….. menghormati negara kita, tidak hanya dengan cara-cara menghormati simbol-simbol negara kita dengan kaku saja. Banyak cara untuk menghormati negara kita dengan cara yang lebih efektif dan lebih nyata. Berprestasi setinggi mungkin termasuk para atlit-atlit (dan lain-lainnya) yang berprestasi dunia tentu merupakan cara menghormati negara dan bangsa dengan baik. Prestasi diukir dan dipersembahkan untuk negara dan bangsa. Sebuah persembahan yang tentu saja luar biasa besarnya. Bahkan seyogianya justru negara dan bangsa yang menghormati mereka karena mereka telah mengharumkan nama bangsanya. Apalah artinya sebuah negara tanpa rakyatnya. Apalagi rakyat yang kaya akan prestasi. Tanpa rakyat yang berprestasi yang mengharumkan bangsa bak eau de parfum, bangsa tersebut hanya berbau kecut atau berbau ketiak, sehingga bangsa-bangsa lain akan menutup hidung terhadap bangsa tersebut.

Tentu mengharumkan nama bangsa tidak harus lewat olimpiade atau forum-forum resmi lainnya. Sebuah bangsa yang maju dan makmur tentu itu berarti “seluruh” rakyatnya mampu memberi keharuman bagi nama negara dan bangsanya. Mari, kita harumkan nama bangsa kita dengan tindakan-tindakan nyata (agak klise tapi memang seharusnya begitu :mrgreen: ) dan mulai mengurangi sifat-sifat yang bersifat seremonial yang tidak perlu. Bukan berarti upacara bendera harus dihilangkan sama sekali, ya bukan begitu, namun janganlah hal-hal seperti upacara bendera menjadi barometer dalam pengukuran seseorang apakah ia nasionalis atau tidak…..

Nah, sekian saja tulisan saya menyambut 17 Agustus tahun ini. Tulisan ini saya buat tanggal 17 Agustus pukul 10 pagi, namun baru saya terbitkan hari ini (18 Agustus 2008). Saya hari ini mau bersantai di rumah, bebas dari upacara dan tetek bengek lainnya. Acara 17 Agustusan di kantor, adalah hari ini (18 Agustus). Tidak ada upacara2 bendera, yang ada hanya fun dan fun saja…. hehehe…… Ok deh….. saya mau nonton TV lagi, nonton acara olimpiade atau film2 di HBO, Cinemax, HBO Signature atau StarMovies. Ogah melihat upacara 17 Agustusan di Istana Negara yang disiarkan seluruh televisi nasional…..menjemukan…….

Hemat Listrik!

In Pengetahuan, Serba Serbi on Jumat, 15 Agustus 2008 at 5:00 am

Beberapa hari yang lalu, di tengah malam (kira-kira pukul 2.30), saya terbangun. Setelah ke kamar kecil, saya berusaha untuk tidur kembali tetapi mata tidak mau terpejam. Lalu iseng-iseng aku keluar kamar tidur dan berusaha untuk mengundang kantuk saya dengan menonton televisi (seringkali jikalau saya nonton televisi di sofa biasanya saya sering tertidur). Setelah televisi dinyalakan dan memilih2 saluran televisi baik yang dalam negeri maupun yang luar negeri, saya agak terkejut mendapatkan hampir semua televisi dalam negeri off-air semua kecuali Metro TV. Padahal hampir semua televisi Indonesia ini mengudara 24 jam kecuali televisi milik Trans Group. Ada apa gerangan?? Setelah kupikir-pikir ternyata aku merasa ketemu jawabannya! Ya, ini pasti berhubungan dengan anjuran pemerintah untuk menghemat energi!

Dalam artikel ini, saya akan menyuguhkan artikel yang masih ada hubungannya dengan kebijakan “hemat energi” ini. Tapi bukan masalah mismanagement pemerintah terhadap persediaan sumber energi kita. Bukan itu yang mau saya bahas. Kalau itu sih udah agak basi, sudah lelah dan bosan saya membahasnya, apalagi di tempat kerja saya. Namun akan saya bahas dari sudut yang mungkin agak berbeda dan sederhana saja… (lagi malas membahas yang berat-berat).

Di dalam rumah tangga kita, kita menjumpai banyak sekali peralatan-peralatan elektronik yang membutuhkan tenaga atau energi dari tenaga listrik PLN. Lihat saja mulai dari bola lampu dan lampu neon yang bertebaran di seluruh ruangan, pesawat televisi yang kini juga hampir bertebaran di seluruh kamar termasuk di kamar mandi, perangkat komputer, lemari es, DVD, AC, microwave oven dan lain sebagainya. Seluruh perangkat elektronik tersebut tentu mempunyai daya (Power) yaitu banyaknya energi yang digunakan per satuan waktu. Daya ini mempunyai banyak satuan, namun yang paling umum adalah: Watt. Misalnya adalah : sebuah bola lampu yang berdaya 60 watt, atau lemari es berdaya 150 watt, atau microwave oven yang berkekuatan 1200 watt. Semakin besar watt-nya tentu menandakan bahwa alat tersebut semakin besar konsumsi (energi) listriknya per satuan waktu. Nah, untuk satuan watt ini, 1 watt didefinisikan sebagai 1 joule/detik. Atau dengan kata lain 1 watt sama dengan konsumsi energi sebesar 1 joule selama 1 detik. Bagaimana kalau bola lampu 60 watt? Itu berarti bola lampu tersebut mengkonsumsi energi sebesar 60 joule untuk 1 detik.

Karena daya atau ‘watt’ ini berhubungan dengan energi, maka tentu bukan alat elektronik saja yang mempunyai daya atau ‘watt’ ini. Semua yang mengkonsumsi dan mengeluarkan energi termasuk makhluk hidup juga mempunyai daya atau ‘watt’ ini. Sekarang kalau ditanya, “berapa watt sih manusia itu?” Maka jawabannya adalah: Tentu saja manusia berbeda dengan peralatan elektronik. Manusia jauh lebih canggih, oleh karena itu ‘watt’ manusia sangat fleksibel dan berubah-ubah tergantung dari kegiatan fisik yang dilakukan, jenis kelamin dan berat badannya. Berikut ini adalah tabel “watt” manusia ketika melakukan sebuah aktivitas. Tabel tersebut untuk rata-rata pria dewasa seberat 70 kilogram.

Aktivitas Daya
Berlari 15 kilo per jam 1340 Watt
Main Ski 1050 Watt
Bersepeda 530 Watt
Jalan 5 kilo per jam 280 Watt
Tidur 77 Watt

Catatan: Untuk wanita dewasa konsumsi energinya lebih sedikit dari tabel di atas dan untuk pria dewasa dengan berat yang lebih konsumsinya lebih besar sedangkan yang beratnya lebih ringan konsumsi energinya lebih sedikit dari tabel di atas.

Dari tabel tersebut dapat kita ketahui alangkah “boros”-nya konsumsi energi manusia. Andaikan kita tidurpun kita masih mengkonsumsi energi yang sedikit lebih besar dari bola lampu 75 watt ketika dinyalakan! Ketika berjalan santai 5 kilo per jam, energi yang kita konsumsi kira-kira hampir setara dengan energi untuk sebuah kompor listrik mini berdaya 300 watt. Sementara kalau kita berlari, konsumsi energi yang diperlukan kira-kira setara dengan sebuah microwave oven yang bisa memanggang.

Namun syukurlah manusia tidak membutuhkan sumber energi dari PLN. Jikalau manusia (di Indonesia ini) membutuhkan sumber energi dari PLN maka mungkin PLN sudah bangkrut dari dulu-dulu atau negara ini yang bangkrut karena terus menerus mensubsidi energi atau bisa jadi rakyat kita sudah banyak yang tewas akibat kekurangan energi. Untung, suplai energi yang kita butuhkan untuk metabolisme tubuh kita tersebut berasal dari makanan yang enak-enak seperti: Big Mac, Hamburger, Nasi Goreng, Cap Cay, Gado-Gado, Opor Ayam, Kupat Tahu dan lain sebagainya. Jadinya tidak usah bergantung pada PLN. Walaupun mungkin secara tidak langsung juga tetap saja bergantung pada PLN minimal masuk sebagai unsur overhead cost.

Ok deh, segitu saja dulu artikel saya kali ini. Jadi kesimpulan saya, memang sebaiknya kita mencoba untuk menghemat listrik. Bukan untuk menuruti kata pemerintah tetapi lebih kepada untuk kepentingan kita semua. Nanti jika pemerintah PLN kita bangkrut, ya kita juga yang sulit. Sebab jikalau PLN bangkrut nanti dia pasti akan menjelma menjadi perusahaan penjual lilin alias Perusahaan Lilin Negara. Kalau sudah begitu, maka tibalah kita di zaman kegelapan lagi……. :mrgreen:

Moso Nabi Adam Seperti Monyet??

In Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi, Uncategorized on Selasa, 12 Agustus 2008 at 5:00 am

Postingan ini terinspirasi dari diskusi di sini. Saya jadi ingat belasan tahun yang lalu ketika saya dan teman-teman saya secara iseng2 berdiskusi tentang Teori Evolusi dari Charles Darwin. Nah, di tengah-tengah diskusi sudah pasti ada pendapat klise seperti ini: Jikalau kita menuruti Teori Evolusi maka tentu Nabi Adam seperti monyet dong tampangnya. Begitu sanggah temanku yang anti dengan Teori Evolusi. Waktu itu saya tidak berfikir lebih jauh, dan hanya melontarkan sanggahan klise bahwa mungkin Teori Evolusi belum sempurna dan memang masih harus disempurnakan lagi atau minimal harus bisa menjelaskan sesuatu lebih mendetail lagi.

Lantas menurut saya pribadi bagaimana rupa Nabi Adam? Karena dicari-cari dalam Al-Qurân tidak dijelaskan bagaimana rupa atau fisik Nabi Adam, maka saya berkesimpulan tidak penting Nabi Adam itu fisiknya atau rupanya lebih “jelek” dari monyet (gambar atas) ataupun lebih “ganteng” dari Antonio Banderas (gambar bawah). Karena Allah menciptakan dan memilih Nabi Adam sebagai nabi tentu bukan karena fisiknya. Bisa jadi seseorang yang mempunyai fisik seperti monyet lebih mulia dari orang yang ganteng atau orang yang cantik yang tengah membaca blog ini! Di mata Allah, saya percaya bahwa orang yang fisiknya seperti monyet namun berakhlak mulia tentu lebih mulia dibandingkan orang dengan fisik atau rupa yang ganteng tapi akhlaknya seperti monyet. Saya yakin ANDAIKAN Nabi Adam seperti monyet, beliau tetap individu yang istimewa yang dilebihkan kecerdasannya dan kemuliaan akhlaknya oleh Allah swt bahkan jikalau dibandingkan kita sekalipun. Kemuliaan bukan diukur dari penampilan fisik kan?? Kita, umat manusia, memang sering ‘terjebak’ oleh penampilan fisik.

Jadi, daripada kita sibuk mempertentangkan tampang Nabi Adam seperti apa, lebih baik kita sendiri jauhkan dari sifat-sifat yang mirip monyet. (Bukankah Islam adalah ajaran spiritual yang tidak mementingkan bentuk fisik??). Perbaikilah perilaku kita, karena jikalau perilaku kita buruk tentu kita lebih mirip monyet. Terus belajarlah kita selalu karena jikalau kita tidak mau belajar maka kita lebih mirip dengan monyet. Jangan pula memaksakan kehendak dengan kekerasan fisik, karena memaksakan kehendak dengan kekerasan fisik adalah juga sifat-sifat dari monyet. Tidak percaya? Silahkan nonton acara Monkey World di Animal Planet. Dan terakhir belajarlah logika dan matematika karena monyet tidak bisa berlogika dan tidak bisa matematika. Huahahaha….. Kalimat yang terakhir ini hanya becanda kok.

Nah….. jadi bagaimana dengan pendapat anda?? Sebagai seorang manusia yang berusaha untuk tidak mirip dengan monyet, saya tentu membebaskan anda untuk setuju atau tidak dengan pandangan saya ini. Yang jelas monyet itu juga ciptaan Allah dan tidak ada ciptaan Allah yang hina dan sia-sia.

______________________________________

Hati-Hati:

  • Seperti Monyet bukan berarti sama dengan monyet.
  • Anda merasa tidak seperti monyet? Silahkan saja….. yang jelas itu tidak bisa membantahkan fakta ilmiah bahwa DNA kita 95%-98% sama dengan DNA kera-kera besar seperti: simpanse, orangutan, gorila dan bonobo. Silahkan informasinya anda cari di Internet yang bertebaran di mana-mana. Jadi definisi seperti monyet itu bagaimana ya? :mrgreen:

Komputer Berbasis DNA, Komputer Masa Depan?

In Pengetahuan, Serba Serbi, Uncategorized on Sabtu, 9 Agustus 2008 at 5:00 am

Di postingan saya sebelumnya, saya sudah menceritakan “pengalaman” saya dalam melakukan percakapan dengan AI, yang sekarang sudah semakin baik dari 10 tahun yang lalu walaupun masih banyak ada yang percakapannya nggak nyambung. Namun pernahkah anda “frustasi” dengan komputer anda? Karena ternyata komputer anda tidak bisa melakukan apa yang anda inginkan. Sekarang misalkan ada soal mengenai Aritmatika SMP berikut ini:

Pukul berapakah di antara pukul 7.00 dan pukul 7.30, di mana jarum pendek dan jarum panjang pada jam membentuk sudut 90o? Catatan: Perbedaan antara jarum panjang dan jarum pendek pada saat membentuk sudut 90o adalah persis 15 menit.

Catatan: Soal diinspirasi dari sini.

Bagi mereka yang sudah lulus SMP senang mengutak-ngutik angka tentu tidak sulit mengerjakan soal di atas, namun bagi mereka yang alergi dengan angka tentu masalahnya menjadi lain. Karena  sulit mengerjakan soal di atas mungkin seseorang akan beralih ke PC-nya dan juga Internet. Ketika membuka PC, ternyata tidak ditemukan program yang tepat untuk menyelesaikan soal di atas karena metoda input yang ada pada program tersebut tidak untuk mencari soal seperti format di atas (selain juga orang tersebut kurang mengerti logika/tahapan dalam mengerjakan soal di atas). Karena agak frustasi karena tidak menemukan program yang tepat untuk menyelesaikan soal di atas, maka orang tersebut beralih ke Internet. Lalu ia bingung bagaimana ia dapat menemukan jawaban dari soal tersebut secepat mungkin. Lalu ia mencari Search Engine dan mengetikkan seluruh soal tersebut ke dalam Search Engine terkenal (bisa jadi juga ia sudah menterjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris duluan), hasilnya jikalau ia beruntung maka ia mendapatkan sebuah situs yang minimal membahas soal2 seperti itu sedangkan kalau lagi sial, pencarian lewat Search Engine hanya akan menambah frustasi.

 Contoh lain adalah seseorang ingin mengetahui gambar binatang apa di samping ini. Bagi mereka yang sering nonton saluran Animal Planet tentu mengetahui binatang apa ini. Namun bagi yang belum pernah melihat binatang ini dan ingin tahu binatang apa ini mungkin akan berusaha mencari tahu di Internet lewat Search Engine.

Wait a minute, kalau kita mengetahui nama binatangnya dan ingin mencari gambarnya dengan mudah kita akan mendapatkannya. Namun kalau kebalikannya, jikalau kita menemukan gambarnya saja tanpa informasi namun kita ingin mengetahui nama binatang tersebut tentu kita akan menemui kesulitan untuk mencarinya di Search Engine. Begitu pula kalau kita menemukan sebuah lukisan indah yang terkenal tetapi tidak tahu judul lukisannya atau siapa pelukisnya namun kita ingin mengetahuinya, tentu pencarian melalui Search Engine menjadi sesuatu yang bisa bikin frustasi. Satu-satunya cara adalah lewat cara trial-and-error yang bisa jadi sangat melelahkan. Cara efektif sebenarnya adalah dengan membuka YM anda lalu anda bertanya dengan teman-teman anda di situ, siapa tahu ada yang tahu. Hehehe……

Struktur DNA

Struktur DNA

Dan masih banyak lagi yang lain, kendala-kendala problem solving yang masih belum bisa dicapai oleh komputer saat ini. Namun mungkin ratusan tahun lagi semuanya akan berubah. Tahun 2002 para ilmuwan di Institut Sains Weizmann di Rohort, Israel, berhasil untuk pertama kalinya mengaplikasikan molekul-molekul DNA sebagai komputer atau yang disebut dengan komputer DNA atau komputasi DNA. Komputer berbasis DNA ini tidak seperti komputer-komputer pada umumnya yang menggunakan lempengan silikon (silicon chips) sebagai prosesornya melainkan menggunakan molekul-molekul biokimia DNA yang “hidup”. Bentuk fisik dari komputer ini, percaya atau tidak, masih sangat mentah dan “asal-asalan” yaitu berupa cairan yang berada di dalam tabung reaksi. Belum ada monitor yang menghubungkan prosesor DNA tersebut untuk melihat hasilnya seperti monitor yang kita lihat sekarang ini. Namun begitu, ilmuwan2 di Institut Sains Weiszmann berhasil mengamati bahwa molekul2 DNA tersebut telah berhasil melakukan komputasi seperti yang diharapkan.

Teknologi komputer berbasis DNA ini memang masih dalam tahap kelahirannya. Namun para ahli di Institut Weiszmann telah bisa mengamati bahwa komputer DNA ini mempunyai kecepatan 300 triliun operasi per detik atau kira2 100.000 kali lebih cepat dari PC termodern zaman sekarang dan kemungkinan dapat lebih cepat lagi jika berhasil direkayasa. Sekarang apa yang menyebabkan para ahli yakin akan kemampuan komputer DNA ini?

Semua ini berawal dari motto “back to the nature“. Komputer DNA ini sebenarnya sudah lama terdapat di alam. Kita tidak menyadari bahwa tubuh kita adalah sebuah komputer digital yang luar biasa. Bukan hanya tubuh kita yang mengandung “komputer digital” ini, tapi juga seluruh makhluk hidup. Namun, sayangnya hingga kini manusia masih belum sanggup “memprogram” makhluk hidup untuk melakukan komputasi. Misalnya, manusia masih belum mampu untuk memprogram sebuah pohon atau tanaman untuk melakukan kalkulasi matematika.

Komputer DNA yang diciptakan di Institut Sains Weiszmann ini memang masih banyak kelemahannya dan tentu saja masih terhitung primitif jika dibandingkan dengan “komputer alami” yaitu manusia dan makhluk2 lainnya (jangan salah, binatang2 walaupun tidak “berotak” namun dalam dunia binatang banyak terdapat sensor-sensor yang sangat canggih yang memerlukan “komputasi” yang luar biasa yang belum bisa ditiru oleh teknologi manusia), namun aplikasi komputer DNA ini sebuah langkah maju menuju penciptaan komputer yang “mirip” makhluk hidup atau biokomputer.

Apakah penciptaan biokomputer ini dapat memecahkan persoalan-persoalan yang masih kita temui dengan komputer masa kini seperti contoh-contoh di awal postingan ini?? Mungkin aplikasinya bisa lebih dahsyat lagi !! Bayangkan….. bila biokomputer ini diaplikasikan pada mobil kita di masa mendatang, mungkin kita tidak perlu sopir lagi atau kita tidak perlu menyopir lagi. Kita tinggal memerintahkan mobil kita persis seperti kita memerintahkan sopir kita, lantas mobil bisa berangkat sendiri tanpa perlu kita repot lagi menyetir, dan mungkin tanpa perlu tersesat lagi. More fiction than science?? Perhaps! But a fiction of today may be a science of tomorrow! :)

Artificial Intelligence atau Artificial Ignorance?

In Pengetahuan, Serba Serbi, Uncategorized on Rabu, 6 Agustus 2008 at 5:00 am

Saya: Hi. My name is Yari. It is nice to see you.
AI : Hello :) . I am always glad to make new friends, Yari. Yes it is good.
Saya: Ok. would you please select a topic for the chat?
AI : Ahem. You are very polite. What do you really want to ask me?
Saya: I would like you to select a topic. Please! :)
AI:Your polite style is very nice. Ok, Yari. I’m afraid I can’t give you an accurate answer right now. I am so glad you find this amusing :-) .
Saya: I would like to ask you a simple math question, can I?
AI: Why would you want to do it? Ask me. Go on.
Saya: Do you know what two times two is?
AI: Oh that’s a tough one, isn’t it. Two times two is four.
Saya: What a smart you! I am surprised! :)
AI : it is a smart me. Why are you so surprised? I am so glad you find this amusing :-)
Saya : If 8 is divided by 3, do you know what the remainder is?
AI : That is a hypothetical question.
Saya: Oh you don’t know the answer. :(
AI : Pardon me? Yes I have an answer for everything.
Saya: Now I would like to ask about Geography, May I?
AI : Why now? Why would you want to do it? Ask it. Ask it.? Can you?
Saya: What is the capital city of Japan?
AI : Tokyo.
Saya : Great! It seems that you are equipped with a complete database. :)
AI : I’m glad you liked it Yari. You think I am equipped with a complete database. I am so glad you find this amusing :-) .
Saya : Now, it is your turn to ask me about something, anything! :)
AI : Why now? Really. it is? I am so glad you find this amusing :-) .
Saya : Please, ask me something! :)
AI : Wow you are very polite. Are you single or married? I am so glad you find this amusing :-) .
Saya : Hahaha…. you are funny. Not that kind of question.
AI : What kind of food do you like? Thanks you make me laugh too. I am sorry to hear that you are not kind of question.
Saya : I like gado-gado.
AI : I’m not sure if I like it. I love TV shows about robots. I like Big Mac.
Saya: Big Mac is not good for your health. Gado-gado is a health food.
AI : Compare that to small Mac is not good for my health. I think Gado gado is more than that.
Saya : I don’t think you know gado-gado.
AI : I’ll come back to that later.
Saya : Do you speak Bahasa Indonesia?
AI : I speak only English right now, but I’d like to learn some other languages. Can you teach me a few phrases in Bahasa Indonesia.
Saya : ‘Selamat Pagi’ means ‘Good Morning’.
AI : My brain contains size/size categories, but not one that matches your last input.
Saya: I said Selamat Pagi means Good Morning in Bahasa Indonesia.
AI : What did you mean by it? Do you have any conditions I should know about?
Saya : Forget it. I think you are not ready to learn something new.
AI : OK Thanks for trying to explain that to me. That’s only your opinion.
Saya : Well, I have to hit the sack now. Thanks for the nice chat.
AI : Oh. Why do you have to do it? Oh don’t mention it.
Saya: Ciao!
AI : Does CIAO mean hello or goodbye?

——————————————————

Ini adalah sekelumit percakapan saya dengan chatbot (robot chatting) yang berada di sini. Robot chatting tersebut adalah gambaran dari perkembangan AI masa kini. Sebenarnya robot chatting ini sudah jauh lebih baik daripada robot chatting hampir 10 tahun yang lalu. Setidaknya AI yang satu ini sudah dilengkapi dengan database yang lumayan dan juga dengan kemampuan kalkulasi yang lumayan sederhana juga. Ini terbukti ketika saya bertanya di atas, “Apakah ibukota Jepang”, si robot menjawab dengan tepat: “Tokyo”. Begitu juga ketika saya bertanya berapakah dua kali dua, si robot menjawab dengan tepat: “4″, walaupun ketika saya bertanya “berapakah sisa dari 8 dibagi 3″, si robot ternyata tidak tahu. Di sini kita melihat bahwa jikalau kita bertanya yang simpel dan jawaban tersebut dapat diakses di database si robot dan data tersebut dapat langsung dipergunakan untuk menjawab pertanyaan kita, maka si robot akan menjawab dengan tepat. Begitu pula dengan kalkulasi aritmatika sederhana, walaupun jikalau pertanyaan aritmatika tersebut diajukan dengan pola tata bahasa yang agak rumit si robot tetap tidak tahu jawabannya. Atau mungkin juga si robot tidak diprogram untuk mengekstraksi sisa pembagian dari sebuah kalkulasi pembagian sederhana.

Yang jelas, ada persamaan antara robot chatting yang dibuat dengan teknologi AI sepuluh tahun yang lalu dengan robot chatting yang dibuat dengan teknologi AI masa kini, yaitu sama-sama masih belum bisa belajar hal yang baru. Yang namanya AI, pada saat ini “proses belajarnya” masih dengan cara mengubah atau menambah algoritma program yang ada atau menambah database yang sudah ada oleh si pemrogram atau oleh si administrator database. AI masa kini nampaknya juga masih belum dapat untuk memilih keputusan yang bertingkat atau yang abstrak. Di akhir percakapan saya sengaja mengucapkan “Ciao” dan bukan “Good-bye” untuk melihat reaksi si robot. Ciao adalah Bahasa Inggris yang diserap dari Bahasa Italia yang dapat berarti selamat datang atau selamat tinggal. Seperti yang terlihat di atas, si robot gagal mengidentifikasi apakah ucapan “Ciao” saya itu selamat datang atau selamat tinggal. Kalau pembaca semua tentu dapat dengan mudah mengidentifikasi apakah “Ciao” di atas merupakan selamat datang atau selamat tinggal. Juga frasa “hit the sack” yang berupa sebuah idiom yang berarti “tidur”, si robot ternyata juga gagal mengartikannya. Yang diartikan si robot adalah “memukul kasur” hehehe…… Mangkannya dia bertanya “Why do you have to do it?” :)

Tanpa mengecilkan hasil karya AI seperti ini, karena bagaimanapun juga sebuah hasil karya harus dihargai apalagi membuat AI seperti ini tentu bukan perkara yang mudah, kita akan segera menyadari bahwa di zaman sekarang Artificial Intelligence belum dapat banyak mengimbangi Natural Intelligence. Atau dengan kata lain yang mengandung sinisme, Artificial Intelligence jikalau dibandingkan dengan Natural Intelligence sepertinya harus berubah kepanjangan menjadi Aritificial Ignorance! Huehehehe…. :mrgreen:

 

Leo

In Kehidupan, Perilaku, Serba Serbi, Uncategorized on Minggu, 3 Agustus 2008 at 5:00 am

Bagi mereka yang belum tahu gambar apa yang ada di artikel ini, itulah gambar konstelasi bintang Leo di langit. Walaupun agak susah membayangkannya (sayapun bingung) konstelasi Leo yang terdiri dari beberapa bintang tersebut yang disambung-sambung oleh beberapa garis membentuk gambar singa dengan bulu tengkuknya yang berdiri. (Masa iya sih??) Lalu kenapa saya kali ini mengangkat topik Leo untuk artikel saya??

Sebenarnya hari ini saya tidak mau mengangkat topik yang berat-berat seperti topik astronomi seperti ini. Saya justru ingin mengangkat topik yang ringan-ringan saja yang dapat dinikmati semua orang. Topik ini bermula ketika saya bangun di pagi hari. Ketika itu seperti biasa saya rutin mencukur jenggot saya, karena saya tidak pernah membiarkan jenggot saya tumbuh lebih dari beberapa milimeter, sebisa mungkin jenggot harus kelimis total, kalau tidak ya boleh lah tumbuh beberapa milimeter saja. Selain itu kumis juga merupakan sesuatu yang harus dirapihkan pula. Kumis yang dulu menjadi kebanggaanku ini boleh tumbuh beberapa sentimeter asal rapih dan tidak ‘balapan’ tumbuhnya. Nah, ketika aku ingin merapihkan kumisku, aku baru sadar ternyata ada beberapa lembar (satuan kumis apaan sih?? :mrgreen: ) kumis yang sudah menjadi putih alias menjadi uban. Dan nampaknya banyaknya uban dalam kumisku bertambah banyak sedikit dibandingkan tahun lalu. Kuputuskan untuk kubiarkan uban yang berada di kumisku, mungkin uban di kumisku ini sebagai tanda bahwa aku kini menjadi lebih bijaksana tua.

Bertambah tua?? Tentu semua orang bertambah tua. Bertambah bijaksana dan dewasa?? Coba aku fikir-fikir lagi. Benarkah dalam selang waktu setahun ini aku bertambah bijak dan dewasa?? Betulkah prestasiku bertambah?? Betulkah amalku bertambah?? Pertanyaan berikutnya adalah: Sudahkah aku menjadi orang yang baik?? Teman yang baik?? Bapak yang baik?? Dan seterusnya…. dan seterusnya…… Atau minimal sudah lebih baikkah aku dari tahun kemarin?? Aku tidak perlu menjawabnya karena kalau aku menjawabnya sendiri mungkin tidak terlalu obyektif. Biarkanlah orang lain, yang berinteraksi denganku, baik yang berada di dunia nyata ataupun yang berada di “dunia maya” yang menilaiku. Karena kurasa penilaiannya lebih obyektif walaupun mungkin penilaiannya masih bersifat parsial.

Menurut astrologi yang saya baca di sini, seorang dengan bintang Leo, mempunyai sifat-sifat positif seperti (Bahasa Inggris aja ya!) creative, fun-loving, broad-minded, noble, protective, powerful, warm-hearted, dan sebagainya. Namun ada juga sifat-sifat negatifnya seperti: bossy, patronising, jealous, arrogant, possessive, dan sebagainya. **halaah** Masa sih ya, di zaman ini orang masih ada yang percaya astrologi. Walaupun dulu astrologi di abad pertengahan pernah menjadi ilmu yang sangat diperhitungkan dengan serius, namun kini pamor ilmu tersebut telah pudar. Mungkin akan senasib ilmu psikologi ratusan tahun mendatang manakala ilmu biologi molekular telah sangat maju dan dapat menjelaskan sepenuhnya hubungan tingkah laku kita dengan senyawa biokimia kita di dalam tubuh kita yang sangat sangat sangat sangat sangat kompleks tersebut.

Ya udah deh, yang jelas saya tidak percaya dengan astrologi. Bagaimana dengan anda?? Ya… terserah! Yang penting….. dulu sewaktu ultah apalagi waktu masih kecil sepertinya senang sekali dirayakan dengan pesta. Kalau sekarang sepertinya ogah banget….. mendingan duitnya buat keperluan lain deh, menghemat, nggak usah pesta2an, maklum kéré, paling2 makan2 kecil bersama keluarga dan beberapa sohib di tempat kerja….. huehehehe…. :mrgreen: