Postingan ini terinspirasi dari dua buah artikel di sini dan di sini serta sebuah acara infotainment yang tidak sengaja saya tonton seputar kelahiran cucu RI-1 kita. Kenapa infotainment jadi ada hubungannya sama artikel ini? Waktu itu saya tidak sengaja sembari makan siang di kantor melihat acara infotainment seputar kelahiran cucu RI-1 (presiden) kita. Di situ, salah seorang keluarga dari Anissa Pohan (lupa lagi siapa namanya) yang mengatakan bahwa bayi yang lahir berkulit putih dan berhidung mancung! Mendengar itu saya jadi tertawa sendiri. Apa sebab? Ada dua hal yang menyebabkan saya tertawa. Pertama, setelah saya lihat gambar si bayi di Internet dan media2 lainnya ternyata tidak begitu putih dan mancung. Ehm…. putih mungkin benar, karena si bayi mungkin belum terkena efek sinar UV. Tapi mancung?? Kayaknya untuk jadi mancung, itu gen bayi yang berasal dari ayah ibunya harus digerus dulu terus diganti gen yang berasal dari Cindy Crawford dan Brad Pitt! Tentu saya bukan mentertawakan si bayi yang tidak berdosa itu melainkan saya mentertawakan komen-komen dangkal dan onnozel seputar kelahiran si bayi seperti contoh yang dilontarkan di salah satu acara infotainment tersebut. Kedua, yang bikin saya tertawa adalah dangkalnya persepsi orang bahwa putih mancung selalu lebih baik dibandingkan dengan hitam pesek. Namun betulkah putih mancung selalu lebih baik dibandingkan hitam pesek?? (Ini masalah fisik loh, jadi jangan bawa-bawa tingkah laku yang baik atau beramal sholeh dan sebagainya.) Kita lihat iklan-iklan pemutih kulit bertebaran di televisi, menawarkan kulit yang lebih putih terutama untuk wanita. Bukan hanya itu, dalam fotografi digitalpun sering terjadi manipulasi, kulit yang aslinya gelap dibuat putih semulus-mulusnya dengan menggunakan Photoshop! Hal ini bukan saja untuk foto perempuan tetapi juga untuk foto laki-laki.
Di dalam film “Hotel Rwanda” dan juga “Sometimes in April” di mana diceritakan mengenai genosida yang dilakukan oleh suku Hutu terhadap suku Tutsi, di mana kebencian suku Hutu yang mayoritas terhadap suku Tutsi yang minoritas sampai pada titik klimaksnya. Akar kebencian ini bermula pada zaman kolonial Belgia di Rwanda zaman dulu, di mana Belgia berusaha “memecah belah” suku-suku di Rwanda. Suku Tutsi diposisikan sebagai suku yang lebih “beradab”, berkulit lebih terang, berhidung lebih mancung, dan berbadan lebih tinggi dibandingkan dengan suku Hutu. Sehingga suku Tutsi agak dimanjakan pemerintah kolonial Belgia dan diberi lebih banyak jabatan atau kedudukan. Padahal jikalau kita melihat secara fisik, pada kenyataannya kita tidak bisa membedakan mana yang suku Hutu dan mana yang suku Tutsi. Ini hanya akal-akalan penjajah Belgia saja untuk mengadu domba dan menyebarkan kebencian di antara suku Tutsi dan suku Hutu. Di sini sekali lagi digambarkan bahwa yang berkulit putih dan berhidung mancung “lebih bagus” dibandingkan yang berkulit gelap dan berhidung pesek!
Menurut saya, penilaian yang sangat tinggi terhadap orang yang berkulit putih dan berhidung mancung adalah termasuk “cuci otak” massal yang paling berhasil ditanamkan di antara orang-orang kulit berwarna termasuk terhadap bangsa kita ini. Bulé-bulé dianggap mempunyai fisik yang lebih bagus dibandingkan yang negro-negro sehingga tidak jarang banyak pula orang-orang berkulit warna yang ingin berkulit putih (terutama wanita kali…) seperti orang bulé !! Atau minimal menikah dengan orang bulé agar bisa memperbaiki keturunannya, supaya anaknya nggak pesek dan “dakian” lagi seperti dirinya, begitu kata banyak orang, walaupun tentu saja tidak semua orang yang menikah dengan bule mengharapkan untuk “memperbaiki keturunan”.
Tapi….. tunggu dulu !! Mungkin citra “putih dan mancung” lebih unggul daripada citra “hitam dan pesek” karena lebih pada kenyataan bahwa peradaban si kulit putih lebih berkembang dan lebih maju dibandingkan dengan peradaban si kulit hitam. Apa betul begitu? Bagaimana seandaikan terbalik….. peradaban si kulit hitam (misalkan) lebih maju dibandingkan dengan peradaban si kulit putih, apakah kita akan masih menganggap “putih dan mancung” lebih baik dari “hitam dan pesek”?? Ya sudah deh…. dari artikel saya yang kurang bermutu kali ini, silahkan anda berpendapat masing-masing! O iya, sebagai penutup artikel kali ini, saya akan bertanya, manakah sekarang yang lebih bagus “putih dan pesek” atau “hitam dan mancung”? Misalnya… albino … kan dia putih tapi pesek… atau misalnya Orang India “keling” biar hitam tapi kan ada juga hidungnya yang mancung… atau Michael Jackson yang berkulit hitam tapi mancung karena hidungnya dipermak habis-habisan kayak celana jeans Levi’s! Jadi sekarang antara putih dan mancung jadinya mana yang lebih menarik anda?? Huehehehe….
O iya ada juga nih yang harus ditanyakan….. bagaimana antara “gembrot” dan “langsing”?? Apakah gembrot selamanya juga lebih “jelek”??


Olimpiade Beijing hari ini akan berakhir. Kontingen China, seperti yang telah saya ramalkan sebelumnya, menjadi juara umum dalam olimpiade kali ini. Rekor-rekor dunia dan olimpiade banyak dipecahkan. Nah, dari sinilah ide tersebut muncul sebagai bahan dalam artikel saya kali ini. Kita mengetahui bahwa setiap kali olimpiade dilaksanakan, rekor dunia selalu ramai dipecahkan, hal ini sesuai dengan motto olimpiade itu sendiri yaitu: Citius, Altius dan Fortius atau Lebih Cepat, Lebih Tinggi dan Lebih Kuat. Pertanyaannya adalah: Apakah rekor-rekor dunia ini akan terus terpecahkan?? Apakah Memang manusia menjadi semakin cepat, kuat dan tinggi setiap zaman?? Kalau begitu mungkinkah di masa mendatang seorang atlit dapat menyelesaikan lari 100 meter dalam waktu 1 detik?? Sebagai perbandingan rekor dunia lari 100 meter yang baru dipecahkan di Beijing lalu oleh pelari Usain Bolt asal Jamaika mencatat waktu 9,69 detik. Atau…. apakah memang ada limit dalam setiap usaha manusia?? Kalau ada…. kira-kira mengetahuinya bagaimana ya??












