Postingan ini terinspirasi dari dua buah artikel di sini dan di sini serta sebuah acara infotainment yang tidak sengaja saya tonton seputar kelahiran cucu RI-1 kita. Kenapa infotainment jadi ada hubungannya sama artikel ini? Waktu itu saya tidak sengaja sembari makan siang di kantor melihat acara infotainment seputar kelahiran cucu RI-1 (presiden) kita. Di situ, salah seorang keluarga dari Anissa Pohan (lupa lagi siapa namanya) yang mengatakan bahwa bayi yang lahir berkulit putih dan berhidung mancung! Mendengar itu saya jadi tertawa sendiri. Apa sebab? Ada dua hal yang menyebabkan saya tertawa. Pertama, setelah saya lihat gambar si bayi di Internet dan media2 lainnya ternyata tidak begitu putih dan mancung. Ehm…. putih mungkin benar, karena si bayi mungkin belum terkena efek sinar UV. Tapi mancung?? Kayaknya untuk jadi mancung, itu gen bayi yang berasal dari ayah ibunya harus digerus dulu terus diganti gen yang berasal dari Cindy Crawford dan Brad Pitt! Tentu saya bukan mentertawakan si bayi yang tidak berdosa itu melainkan saya mentertawakan komen-komen dangkal dan onnozel seputar kelahiran si bayi seperti contoh yang dilontarkan di salah satu acara infotainment tersebut. Kedua, yang bikin saya tertawa adalah dangkalnya persepsi orang bahwa putih mancung selalu lebih baik dibandingkan dengan hitam pesek. Namun betulkah putih mancung selalu lebih baik dibandingkan hitam pesek?? (Ini masalah fisik loh, jadi jangan bawa-bawa tingkah laku yang baik atau beramal sholeh dan sebagainya.) Kita lihat iklan-iklan pemutih kulit bertebaran di televisi, menawarkan kulit yang lebih putih terutama untuk wanita. Bukan hanya itu, dalam fotografi digitalpun sering terjadi manipulasi, kulit yang aslinya gelap dibuat putih semulus-mulusnya dengan menggunakan Photoshop! Hal ini bukan saja untuk foto perempuan tetapi juga untuk foto laki-laki.
Di dalam film “Hotel Rwanda” dan juga “Sometimes in April” di mana diceritakan mengenai genosida yang dilakukan oleh suku Hutu terhadap suku Tutsi, di mana kebencian suku Hutu yang mayoritas terhadap suku Tutsi yang minoritas sampai pada titik klimaksnya. Akar kebencian ini bermula pada zaman kolonial Belgia di Rwanda zaman dulu, di mana Belgia berusaha “memecah belah” suku-suku di Rwanda. Suku Tutsi diposisikan sebagai suku yang lebih “beradab”, berkulit lebih terang, berhidung lebih mancung, dan berbadan lebih tinggi dibandingkan dengan suku Hutu. Sehingga suku Tutsi agak dimanjakan pemerintah kolonial Belgia dan diberi lebih banyak jabatan atau kedudukan. Padahal jikalau kita melihat secara fisik, pada kenyataannya kita tidak bisa membedakan mana yang suku Hutu dan mana yang suku Tutsi. Ini hanya akal-akalan penjajah Belgia saja untuk mengadu domba dan menyebarkan kebencian di antara suku Tutsi dan suku Hutu. Di sini sekali lagi digambarkan bahwa yang berkulit putih dan berhidung mancung “lebih bagus” dibandingkan yang berkulit gelap dan berhidung pesek!
Menurut saya, penilaian yang sangat tinggi terhadap orang yang berkulit putih dan berhidung mancung adalah termasuk “cuci otak” massal yang paling berhasil ditanamkan di antara orang-orang kulit berwarna termasuk terhadap bangsa kita ini. Bulé-bulé dianggap mempunyai fisik yang lebih bagus dibandingkan yang negro-negro sehingga tidak jarang banyak pula orang-orang berkulit warna yang ingin berkulit putih (terutama wanita kali…) seperti orang bulé !! Atau minimal menikah dengan orang bulé agar bisa memperbaiki keturunannya, supaya anaknya nggak pesek dan “dakian” lagi seperti dirinya, begitu kata banyak orang, walaupun tentu saja tidak semua orang yang menikah dengan bule mengharapkan untuk “memperbaiki keturunan”.
Tapi….. tunggu dulu !! Mungkin citra “putih dan mancung” lebih unggul daripada citra “hitam dan pesek” karena lebih pada kenyataan bahwa peradaban si kulit putih lebih berkembang dan lebih maju dibandingkan dengan peradaban si kulit hitam. Apa betul begitu? Bagaimana seandaikan terbalik….. peradaban si kulit hitam (misalkan) lebih maju dibandingkan dengan peradaban si kulit putih, apakah kita akan masih menganggap “putih dan mancung” lebih baik dari “hitam dan pesek”?? Ya sudah deh…. dari artikel saya yang kurang bermutu kali ini, silahkan anda berpendapat masing-masing! O iya, sebagai penutup artikel kali ini, saya akan bertanya, manakah sekarang yang lebih bagus “putih dan pesek” atau “hitam dan mancung”? Misalnya… albino … kan dia putih tapi pesek… atau misalnya Orang India “keling” biar hitam tapi kan ada juga hidungnya yang mancung… atau Michael Jackson yang berkulit hitam tapi mancung karena hidungnya dipermak habis-habisan kayak celana jeans Levi’s! Jadi sekarang antara putih dan mancung jadinya mana yang lebih menarik anda?? Huehehehe….
O iya ada juga nih yang harus ditanyakan….. bagaimana antara “gembrot” dan “langsing”?? Apakah gembrot selamanya juga lebih “jelek”??








saya kok jadi berpikir begini, bung yari, kulit putih atau hitam, hidung mancung atau pesek, bisa jadi juga tumbuh karena sebuah pencitraan publik. andai saja dulu orang mencitrakan bahwa kulit hitam dan hidung pesek itu lebih oke ketimbang kulit putih atau hidung pesek, bisa jadi orang2 masa kini justru akan mengidolakannya. tapi, agaknya, sejarah memang tak bisa diulang, pencitraan publik dunia sudah telanjur menjadi sebuah peradaban.
Komentar oleh Sawali Tuhusetya — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 5:32 am |
yah yang terpenting khan bagaimana dalam menyikapi hidup toh semua manusia adalah mahluk ALLAH
Komentar oleh fahrizalmochrin — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 5:37 am |
Kadang-kadang tanpa siaran TV terasa juga, betapa saya ketinggalan info-info dari inforainment, cuma kalau bayi dibilang mancung? gimana ya… rasanya semua bayi sama saja hidungnya.
Kalau pilih putih, mancung, hitam, gembrot atau langsing? Bisa milih apa sih kita? Yang penting sehat walafiat, damai, aman sentosa, selamat dunia akhirat, tak kurang tak lebih.
Komentar oleh Yoga — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 7:30 am |
Barangkali otak kita sudah dicuci bersih dengan deterjen ya kang yari. Sabun dibuat untuk mereka yang berkulit putih, baju (kebanyakan) dibuat untuk mereka yang langsing, shampo dibuat untuk mereka yang berambut lurus bukan yang kriting apalagi kribo, susu pelangsing buannyak tetapi susu penggemuk tidak ada(jarang), obat peninggi badan buanyak tetapi obat pemendek badan tidak ada, gigi putih jadi idola padahal gigi kuning asal bersih pun ndak papa toh
Komentar oleh adipati kademangan — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 8:05 am |
Begitulah manusia, ciptaan Tuhan saja diberi nilai. Bukankah karena Tuhan suka keindahan maka Tuhan menciptakan yang bermacam2. Coba ga ada yang hitam-pesek, maka putih-mancung juga ga akan ada
.
Komentar oleh mezzalena — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 8:22 am |
kalo berkumis apa ga, kusus yg cowok tentu saja juga ada bedanya ya mas? hehe..
Komentar oleh AgusBin — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 10:44 am |
hmmmm lagi hobi nih nulis begini
‘its not about the packaging, it is what inside it’
oh yah baiklah… defense orang yang packagingnya ga semenarik ituh
tapi… tetep bener ko ah… mending mana?
mending kaya saya…
*dan semoga tiap orang mengucapkan kata yang sama… dengan saya yang merujuk pada diri sendiri… ga harus saya
Komentar oleh natazya — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 10:52 am |
Itu semua tergantung selera
bnyk yang hitam enak dipandang mata
misalnya Halle Berry, Alicia Keys, Oprah Winfrey
gadis2 Melayu jg bnyk yg pesek, tetap menarik
kl komedian Yetty Pesek, betul tak elok dipandang
soal gemuk dan langsing jg bukan jd ukuran
bg saya penyanyi kita Audy yg agak gemuk
lbh menarik dibanding Citra Laura yg langsing
Komentar oleh mikekono — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 12:15 pm |
selamat menunaikan ibadah puasa,, mohon maaf lahir dan batin ya pak
Komentar oleh Zulfikar Chaniago — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 2:48 pm |
Waaaa….. Bicara warna kulit dan bentuk hidung itu sudah takdir dari sono (Gua Selarong) pak Yari. Kalau cucu presiden sudah pasti dibilang putih dan mancung, namanya juga cari muka wakakakak… Sudah menjadi rahasia umum bahwa infoteiment adalah penyebar gosip. Memang dikatakan sebagai media untuk cross cek, namun intinya tetap saja yaitu memperkeruh suasana.
Nah, masalah fisik tidak bisa diganggu gugat seperti warna kulit, memang ada usaha seperti mandi susu, makan bengkoang, operasi plastik, hiks hiks…. ya bisa juga, tapi bukan warna asli.
Komentar oleh laporan — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 3:17 pm |
iye nieh pak senin besok udah puasa lho….
Komentar oleh ma2nn-smile — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 3:58 pm |
yang penting bersyukur…
Komentar oleh Myryani — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 4:40 pm |
stereotype tuh.
bersyukur gak putih, drpd belang-2 kan repot
Komentar oleh rezco — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 7:25 pm |
Saya tinggi, mancung, putih dan manis … hahahhha, terus? gak ada aritnya jika tak solehah… maka saya berjilbab sekarang, Alhamdulillah.
Komentar oleh Rindu — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 8:41 pm |
Setuju dengan Pak Guru Sawali… pencitraan itulah yg jadi sebab….mancung versus pesek, tinggi-pendek, hitam-putih sudah terlanjur tertanam sejak dulu
l
(saya teringat Yati Pesek yang jadi orang top karena berkah peseknya)
BTW lihat tuh artis2 kita yang doyan kawin ama bule katanya untuk memperbaiki keturunan. Wajah2 pribumi asli indonesia lama2 hilang berganti dengan tampang2 aneh hasil campur aduk gen.
Komentar oleh Arsyad Salam — Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 9:34 pm |
persepsi pak, semua itu tumbuh dari persepsi, kalo di negara latin kulit sawo matang (tan-english) itu malah lebih dicari, itulah kenapa banyak orang berjemur di pinggir pantai untuk mencoklatkan kulit mereka, disini orang malah sibuk memutihkan kulit mereka….
dasar rancu…! buatku yang penting putih hatinya, dan mancung dadanya (maksudnya sabar :-p)
Komentar oleh Denny Eko Prasetyo — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 1:14 am |
Mungkin itu cara berpikir kolektif, Pak Yari. Sudah terlanjur salah kaprah, jadinya menarik persepsi yang sama terhadap sesuatu yang dianggap menarik.
Mungkin di Afrika, ukuran cantik atau ganteng punya parameter tersendiri. Kulit putih nan mulus dianggap aneh. Mungkin…
Nyatanya tak ada parameter setepat-tepatnya. Tapi kalau Pak Yari bercermin di rumah, coba tanyakan dalam hati: “Gantengkah saya?”
Kalau jawabannya ganteng, coba tanyakan: kenapa. Kalau jawabannya tak ganteng, tanyakan juga: kenapa. Hehehe!
Semua menjadi relatif kan…
Komentar oleh Daniel Mahendra — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 9:28 am |
Masalahnya memang bukan sekedar di persepsi soal kecantikan, tapi juga di persepsi soal kekuatan sosial-ekonomi. Betul, menyerupakan diri dengan bangsa yang dianggap lebih superior membuat kita kelihatan ‘lebih’ cantik pula. Selain itu, merawat kulit putih di tengah lingkungan tropis yang kurang mendukung juga membutuhkan gaya hidup tersendiri dan sumberdaya finansial tak sedikit. Makanya di budaya barat, bule yang berkulit kecoklatan dipersepsi lebih cantik karena itu menunjukkan mereka mampu meluangkan waktu dan uang untuk berjemur di pantai (terlebih lagi di luar negeri) atau ke salon tanning.
Tapi kalau persepsi soal rambut yang lurus panjang, dada besar, dan pinggul ala gitar, itu memang ada dasar biologisnya. Semuanya pertanda yang kelihatan dari kesuburan seorang wanita
Komentar oleh Catshade — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 10:14 am |
SELAMAT BERPUASA DI BULAN RAMADHAN YANG SUCI INI.
Maaf ya Kang, Saya tidak berani mengomentari hal-hal yang sudah dikaruniai olehNya. Yang saya tahu hanya satu hal : APAPUN YANG DIBERIKAN TUHAN SELALU BAIK ADANYA.Terima kasih and Met Puasa.
Komentar oleh Yung Mau Lin — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 11:23 am |
slmt menunaikan ibadah puasa,mas.
dan mhn maaf lahir dan bathin
Komentar oleh langitjiwa — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 11:23 am |
@Sawali Tuhusetya
Betul juga pak…. Tapi pencitraan itu apa sebabnya ya? Dan bagaimana permulaannya?? Apakah berkaitan dengan sejarah?? Tapi apa benar ya pencitraan tidak bisa diubah?? Kalau pencitraan terhadap komunisme itu beda nggak pak?
@fahrizalmochrin
Betul pak…. soalnya ada juga (bahkan boleh dikata banyak) yang kurang bersyukur atas bentuk fisik yang dianugerahkan olehNya…..
@Yoga
Ya iyalah…. yang penting damai…. sehat… sejahtera dan lain2. Tapi… kan sudah saya bilang di atas, ini hanya masalah fisik:
Ok deh…. andaikan sehat… sejahtera dan lain2nya tercapai tetapi mendingan mana nih (kalau jujur…) mendingan: sehat sejahtera putih mancung atau sehat sejahtera hitam pesek??
@adipati kademangan
Betul sekali….. sebuah produk diproduksi sesuai dengan citra umum atau kebanyakan yang dianggap “positif” oleh masyarakat, seperti krim pemutih, susu pelangsing dan sebagainya….
Tapi…. kalau mau hitam…. bisa juga loh…. jemur aja di matahari seharian penuh… atau kalau mau gemuk ya tinggal makan banyak2… rebes kan?? Huehehe…..
@mezzalena
Tapi mendingan mana mbak?? Mendingan yang nggak ada yang hitam pesek, atau yang nggak ada yang putih mancung?? Huehehe….
@AgusBin
Tapi kalau kumisnya di jidat ya orang pada lari semua dong…..
@natazya
Tapi ‘mendingan kaya saya’nya ikhlas kan mbak?? Bukan ‘terpaksa’ karena udah dikasih packaging yang begitu dari sononya kan?? Huehehe…..
@mikekono
Ya… kalau dilihat kasus per kasus sih memang bener bang. Tentu cewek yang ‘pesek’ dan berkulit gelap tentu ada juga yang manis/cantik. Tetapi yang saya maksudkan ini adalah secara umum atau populasi secara umum….. mana abang yang lebih tertarik?? Kepada yang putih mancung atau yang gelap pesek??
@Zulfikar Chaniago
Itu berarti buat yang Muslim…. tidak penting ia putih mancung atau hitam pesek…. semuanya harus tetap menjalankan ibadah puasa ya?? Huehehe…
Ok deh… selamat memasuki bulan Ramadhan… mohon maaf segala kesalahan….
@laporan
Ya…. namanya juga infotainment mas, kalau kita nggak percaya ya kita tertawakan saja, kadang2 berguna juga lho infotainment, untuk ditertawakan… huehehe…..
Jadi ingat Michael Jackson yang kulit dan hidungnya dipermak habis, bukan kelihatan jadi kulit putih malah lebih mirip kayak alien atau dedemit… huehehe….
@ma2nn-smile
Kalau begitu mari kita memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang suci, tidak peduli warna kulit dan bentuk hidung kita, betul kan?
@Myryani
Bersyukurnya harus dengan ikhlas kan?
@rezco
Itu mah keturunan zebra kaleee….
@Rindu
Tapi putihnya bukan putih panuan kan mbak?? Dan hidungnya bukan mancung karena silikon kan mbak?? Huehehehe…. just kidding!
@Arsyad Salam
Mengenai artis…. memang saya suka ketawa geli….. kok begitu bangganya kawin sama bulé, padahal itu artinya mungkin sama dengan ia merasa minder dengan bentuk fisiknya. Toh banyak juga hasil perkawinannya yang akhirnya berantakan…… tapi ya udah deh…. biarin aja…. namanya juga artis… kalo nggak bikin sensasi rasanya kurang keartisannya, apalagi di Indonesia ini… hehehe…..
@Denny Eko Prasetyo
Walaaah….. dengan begitu secara tidak langsung anda juga mengatakan bahwa putih dan mancung itu adalah sesuatu yang baik atau lebih baik daripada yang hitam dan pesek… Pantas saja deh… pencitraan terhadap hitam dan pesek itu jadi negatif.
@Daniel Mahendra
Huehehe…. tapi pak…. kalau saya yang bertanya sendiri “Gantengkah saya??” berarti nanti jawabannya cenderung nggak obyektif dong…. yang menilaikan harus orang lain, karena kegantengan saya (kalau misalnya saya ganteng loh
) yang menikmatinya kan harus orang lain… huehehe……
@Catshade
Betul, di paragraf pertama saya setuju sekali.
Di paragraf kedua…. hmmm….. tapi kalau dadanya terlalu besar, pinggulnya terlalu besar pula dan cenderung tidak proporsional, kan terlihat aneh juga kan?? Huehehe…..
@Yung Mau Lim
Terima kasih banyak atas ucapannya ya mas Yung Mau….
Tidak apa2 kok tidak berkomentar mengenai hal ini juga…… saya juga mengerti kok….. hanya saja keingintahuan saya begitu besar tentang segala hal yang terjadi di masyarakat kita ini….
@langitjiwa
Selamat menyambut bulan suci Ramadhan juga. Mohon maaf lahir bathin….
Komentar oleh Yari NK — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 11:40 am |
SAY NO TO RACISM……..
Komentar oleh Yoyo — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 1:33 pm |
*Ya…koq main fisik beraninya…jangan gitu donk…inikan mau puasa ooooooooom.*
BTW..saya perhatikan foto saya sendiri…jaman bayi…saya nggak mancung. Proses pembentukan tulang hidung mulai kelihatan usia 4 tahuan. SD mulai kelihatan, SMP, SMA, terus makin kelihatan mancungnya….Karena pertumbuhannya sudah selesai maka standarnya mancung saya…ya begini.
*nggak pede dengan idung pesek?* Pede nya jangan karena Fisik deh….mending adu pemikiran….gimana? berani?
Badan gemuk dan melar…BIG is Beautiful, tapi terlalu gemuk ngeri juga ngeliatnya…
Semoga semua aktifitas ramadhannya bernilai Ibadah….
Selamat menjalankan ibadah Saum Ramadhan 1429 H.
Mohon Maaf lahir bathin ya mas…!! *merasa banyak coment yang bikin kesal*
Komentar oleh Pakde — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 4:22 pm |
bersyukurlah apapun yang Allah ciptakan utk kita. ita sendiri tidak putih, tidak mancung. kata orang, termasuk kulit kuning langsat. dulu waktu kuliah s4 tergoda dgn iklan pemutih wajah, alhasil wajah jadi gatal2 trus ada putih2 seperti panu, ternyata kulit tidak cocok pake make up mahal yang katanya bagus itu. skrg tidak menggunakan yg aneh2 lagi, terima apa adanya. berat badan ita hanya 45 kg, kata orang itu langsing n tidak sedikit ibu2 yg blg “mbak ita gmn caranya bisa langsing seperti ini. badan saya gendut, udah diet tp tetap gak langsing2″. saya hanya tersenyum n jawab yg penitng sehat bu!
Komentar oleh eNPe — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 7:36 pm |
klo saya sih hitam2 mancung mas manis lagi huahhhahahahah
pisssss
Komentar oleh Gelandangan — Minggu, 31 Agustus 2008 @ 8:02 pm |
Mungkin memang manusia selalu menginginkan yang tidak dimiliki, yang putih pingin gelap yang hitam pingin putih, yang keriting pingin lurus yang lurus dikeriting. Tapi kayaknya yang mancung gak pingin pesek ya? “rumput tetangga memang selalu kelihatan lebih hijau” thanks
Komentar oleh yulism — Senin, 1 September 2008 @ 1:00 am |
kondisi tubuh bagi saya sebuah identitas yang membedakan dengan orang lain.
yang menurut sy ndak boleh adalah menggunakan perbedaan fisik dll terutama yang cacat, untuk dihina…
Komentar oleh aRuL — Senin, 1 September 2008 @ 2:00 am |
Saya kurang suka menyebutnya gembrot, lebih baik disebut penimbun energi.
Komentar oleh Black_Claw — Senin, 1 September 2008 @ 3:50 am |
Sangat subjektif dan relatif sifatnya. Jadi tidak selamanya yang cantik itu cantik atau yang jelek itu jelek.
Komentar oleh Rafki RS — Senin, 1 September 2008 @ 7:51 am |
Dikasih bonus pertanyaan lagi nih ama Boss Yari,
…buat saya tetep susah, susah milihnya ….makanya saya bilang bisa milih apa sih kita?
Komentar oleh Yoga — Senin, 1 September 2008 @ 8:21 am |
Everything has its own beauty, but unfortunately, not everyone could see it …
Komentar oleh RIRI SATRIA — Senin, 1 September 2008 @ 9:14 am |
@Yoyo
don’t just say ‘no’, but ALWAYS say ‘no’ to it…..!
@Pakde
Yeeee….. pakde….. ini kan justru membela yang “hitam pesek”, mangkannya saya mau tahu… apakah “hitam pesek” itu selalu jelek atau nggak…. (tentu dalam persepsi yang jujur… bukan yang “seharusnya” ).
Memang mancung ada bermacam2….. ada mancung kayak gagang sapu ada mancung tapi lebar juga kayak buah pir…. ada yang mancung “malu-malu” alias mancung nggak pesek juga **halaah**, nah saya belum memperhatikan pakde ini termasuk “mancung” yang mana… huehehe….
@eNPe
ya iyalah…. tentu kesehatan adalah yang pertama….. tapi kan mbak ita berhenti memakai krim pemutih karena kulit terasa gatal2 dan ada seperti panu. Kalau misalnya berhasil, mbak Ita akan terus memakai nggak?
Dan… misalnya kalau ada “krim penghitam” mbak ita kira2 mau beli nggak ya?? Dan kalau ada “krim penghitam” di pasaran kira2 laku nggak ya di Indonesia?
@Gelandangan
Hitam2 manis mancung?? Emang membedakan hitam manis sama hitam pahit gimana tuh??
@yulism
Tapi mbak, nggak semua rumput tetangga lebih hijau…. kalau tidak… tentu di pasaran (di Indonesia ini) ada “krim pemutih” dan ada “krim penghitam”….. tapi nyatanya yang ada cuma “krim pemutih” saja… huehehe….
@aRuL
Justru itu rul…. artikel ini untuk mengangkat martabat sifat2 yang dianggap “inferior”, karena kebanyakan orang kita masih banyak yang “munafik”. Di mulut berkata begini, kenyataannya dalam pergaulan sehari2 berbeda…..
@Black_Claw
Kalau penimbun kentut, gimana?? **halaah**
@Rafki RS
Betul pak secara individual memang berlaku begitu…. tetapi bagaimana jikalau kita lihat secara umum ???
@Yoga
Kalau disuruh milih…. (cuma disuruh milih)…. yang penting kejujuran lho mbak…. nggak perlu bisa jadi kenyataan atau nggak pada akhirnya! Hehehe……
Kalau saya sih…. memang lebih tertarik pada yang putih mancung. Mungkin saya sendiri sudah ‘tercuci’ otaknya. Tapi, saya tentu tidak berhak mengatakan bahwa yang hitam pesek itu jelek. Karena belum tentu orang menilainya sama. Dan belum tentu pula saya sempurna 100%. Karena sayapun tidak seputih ras aria dan tidak semancung ras aria. Walaupun si ras aria, saya yakin juga tidak akan sempurna 100%. <— Nah ini baru pendapat yang jujur! Huehehehe……
@RIRI SATRIA
I agree on it. Most of us could only see the surface of something but we failed to see beyond it. But that surface is enchanting us most….. though it is not necessarily the most essential
Komentar oleh Yari NK — Senin, 1 September 2008 @ 10:28 am |
Hehehehe….
Teteup sulit Pak, yang putih mancung belum bekerja, belum mapan, yang hitam pesek, udah pinter ber”wibawa” pula hehehe…. Gimana milihnya?
Ngomong-ngomong jadi inget ada satu film barat yang saya tonton, ceritanya sih tentang seseorang yang ditinggal suaminya pindah ke alam baka, yang mau saya ceritakan bukan film dan cerita utamanya, tapi tentang upaya salah satu sahabat si tokoh utama dalam mencari jodoh. Ia punya pertanyaan untuk menyeleksi the right man, begini:
1. Are you gay or no? kalau dijawab no, dia agak lega terus nanya gini,
2. Do you have girl friend? – No kemudian lanjut ke #3
3. Do you work? kalau yes, continue ke #4, kalau no… good bye lah, next question…
4. Actually this is not a question… sebab dia langsung mencium the candidate, kalau good kisser, he might stay!
__________________________________
Yari NK replies:
Yeee…. kok membuat kesalahan yang sama seh…..
Kan saya di artikel dan di jawaban komen pertama sudah saya jelaskan, ini masalah fisik hitam-putih, mancung-pesek saja, jangan bawa2 variabel atau parameter lain seperti pintar, soleh, mapan dan sebagainya. Jadi cuma dilihat hitam-putih, mancung-peseknya aja. Huehehehe…..
**bakal melakukan kesalahan sama hingga 3 kali nggak nih ya??**
Komentar oleh Yoga — Senin, 1 September 2008 @ 12:56 pm |
eit, jgn salah, penyanyi yang suaranya bagus itu kebanyakan hidungnya pesek lho.. coba dengerin kalo Yati Pesek lagi nyanyi, wuih suaranya bo’, nyaingin Mariah Carey ga ya? huehe.. temen fi jg gitu, dan skarang kalo liat penyanyi liat idungnya dulu, kalo pesek brarti bener suaranya emang bagus, tapi..ada pengecualian jg si, idung fi pesek tp ga juga pande nyanyi, keke.. *komen ga jelas ini*
____________________________________
Yari NK replies:
Berarti ‘Il Divo’ suaranya jelek dong….!
Komentar oleh pipiew — Senin, 1 September 2008 @ 1:19 pm |
huehehhe.mgk itu pertanda utk mensyukuri apa yg telah Allah kasi utk ita jadi pake krim pemutih gak berhasil
kalo ada krim penghitam kynya orang2 negro sono bakal laris jadi bintang iklan, wakakakakak
__________________________
Yari NK replies:
Tuh kan….. diketawain…. berarti secara tidak langsung juga menganggap orang2 negro sono sama dengan ‘jelek’ dong.. huehehe….
Komentar oleh eNPe — Senin, 1 September 2008 @ 4:31 pm |
hetrix!
Itulah.. karena benar-benar nggak bisa memilih, berapa kali jawab pasti teteup salah.
Wassalam deh
__________________________________
Yari NK replies:
Ya sudah…. yang penting dijawab aja dalam hati …. soalnya kemungkinannya ada dua: Bingung beneran (moso sih cuma milih dua alternatif yang sudah disederhanakan saja masih bingung!
) atau dibingung2in alias tidak jujur sama diri sendiri (seperti yang sudah saya jawab sebelumnya)……
Jadi…. jawab aja dalam hati deh……. toh orang tak bisa tidak jujur dengan dirinya sendiri, tul nggak?
Komentar oleh Yoga — Selasa, 2 September 2008 @ 1:07 pm |
“Beauty is in the eyes of the beholder”… begitu katanya. Yang lain bilang: How we see things is determined by “the social construction of reality” ..whatever that means
Tapi ngaku aja deeeeh, umumnya yg dianggqap IDEAL (untuk perempuan) itu ya yang kayak lagu daerah Priangan yang di”adaptasi” (gak berani bilang plagiat he3x) dari (komposisi) lagu Rusia:
panon hideung
pipi koneng
irung mancung
geulis Bandung
Jadi kalo ukuran idealnya: “putih, tinggi, langsing, mancung” maka :”putih-pesek” vs. “hitam-mancung” ..lumayan lah udah 25% ideal
*wakakak.. kabur sebelum diuber pedro yang coklat langsing*
______________________________
Yari NK replies:
Ya iya….. selama disimpan dalam hati sih tidak apa2….. Lagian itu juga kan pandangan secara umum. Kalau pandangan per individu, tentu kemungkinan ada juga yang hitam pesek tapi menawan. Betul nggak??
**si pedro kabur duluan takut digigit sis Gaia**
Komentar oleh G.a.i.a — Kamis, 4 September 2008 @ 7:44 am |
Pak Yari, mungkin putih mancung itu memang dambaan sebagian besar orang. Orang kalau hidungnya mancung kan kelihatan cakep, apalagi memiliki kulit yang putih bersih. Tapi itu hanya kebagusan fisik belaka, dan tidak selamanya hitam pesek itu jelek.
Buktinya ada juga orang yang hitam manis seperti Pak Yari. hehehe….
*kabuuuur*
________________________
Yari NK replies:
Kalau pak Edi…. putih
rekayasa photoshoppahit ya?? Huehehe…. kaboooooor….Komentar oleh Edi Psw — Kamis, 4 September 2008 @ 11:16 am |
dalam fotografi digitalpun sering terjadi manipulasi, kulit yang aslinya gelap dibuat putih semulus-mulusnya dengan menggunakan Photoshop! Hal ini bukan saja untuk foto perempuan tetapi juga untuk foto laki-laki.
->
ngok ngok…
gue banget..hehehe
tenang pak..tenang pak..saya hanya mengekspresikan diri, bukan karena tidak puas dengan keadaan sekarang tetapi memang aslinya dulunya memang halus dan putih, cuman karena banyak pikirian munculah jerawat2 yang datangnya g pake dijemput,,jadinya dengan Photoshop saya singkirkan deh tuh jerawat..hehe….
kalo masalah putih item mancung pesek boncel dkk saia tak bisa berkata2, memang kenyataannya image yang timbul itu putih lebih baik dari pada hitam…maw gmn lagi,,,saia menerima sajah,,,^_^
_________________________________________
Yari NK replies:
Ya…. nggak apa2lah…. asal jangan buat “menipu” atau memperdaya untuk membuat terpesona orang yang tengah anda “incer”…. huehehehe……
Komentar oleh marwan — Kamis, 4 September 2008 @ 12:53 pm |
kalo Pohan itu Pinokio yg makin panjang hidungnya bila berbohong, lihat saja nanti kakek bayi ini bila nanti diperiksa
_____________________________
Yari NK replies:
Hahahaha…. hush ah….. ya udah deh…. berbohong apa nggak, kan sudah ketahuan dan susah untuk disembunyikan kelak……
Komentar oleh Kang Nur — Sabtu, 6 September 2008 @ 2:08 pm |
Putih = cantik dan langsing = seksi , itu adalah propaganda produk kosmetika dengan cara membentuk opini dunia. Padahal ada ‘inner beauty’, dimana orang yang nggak sedap-sedap amat dilihat, ternyata tetap menarik setelah kita bicara dan tahu kepribadiannya. Contohnya : saya (*kabuuurrr ….. dan sembunyi dibalik pintu*)
_________________________________
Yari NK replies:
Benar… tapi kan lebih enak ada inner beauty sekaligus sedap dipandang, jadinya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Tapi sialnya kalau udah nggak sedap dipandang dan nggak ada inner beauty pula… wah itu yang gawat… huehehehe….
Komentar oleh tutinonka — Kamis, 11 September 2008 @ 5:24 am |
boleh2 sjlah dlm meng-expresikn diri sndr.
_________________________
Yari NK replies:
Tentu saja. Asal proporsional dan tidak berlebihan dan tidak membuat orang lain tertawa tentu saja.
Komentar oleh baim — Senin, 6 Oktober 2008 @ 11:04 pm |