When I was on the way to my workplace, I came across a big outdoor banner saying “Telkom Peduli”. I thought to myself, do they really that care? Or do they just want to win popularity to boost their sales in return? Or have you ever witnessed a blogger who was trying to raise a charity openly? Does he really want to make a charity or does he only want to boost his personal popularity? Only Allah knows. Since this is Ramadan, I want to temporarily keep down all ’slandering’ accusations and it is all up to you to judge whether it is a false care or not….. So, with regard to this short foreword, I would like to present another summarised piece of A. Rehman Shad’s Al-Halal Wal-Haram. It is on riya or in English it is called ‘pretence and show’. So let’s get it underway…..
_____________________________
Riya signifies how in religious affairs to establish fame and win admiration. It is unlawful to perform religious duties with the intention of show because Allah and His prophet (peace be upon him) have strongly condemned it. It is a disease which gradually consumes virtues like fire and a great effort is needed to eradicate it from the soil of believer’s heart. Every believer must do his duty for the sake of Allah to win His blessing and nothing which is done for others instead of Allah. Therefore, PRETENCE being opposed to sincerity is a silent but dangerous enemy sitting in a man’s heart and mind. It stains all good action. It is said in Quran:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ
So woe to those who pray. [But] who are heedless of their prayer – Those who make show [of their deeds] (QS: 107:4-6)
It is reported on the authority of Jundab (Allah be pleased with him) that the Messenger of Allah (peace be upon him) said: Whoever seeks fame, Allah will make him famous (BUT due to humiliation) and whoever makes a hypocritical show of his deeds, Allah will make a show of him.
Show is a kind of shirk (polytheism) because a man who performs religious duties is desirous of winning the hearts of his fave people instead of winning the favours of Allah. It is reported on the authority of Mahmud bin Labid (Allah be pleased with him) that the Messenger of Allah (peace be upon him) said: The thing I fear most for you is the lesser shirk, They asked: Oh Messenger of Allah, What is the lesser shirk. He said: SHOW.
Allah will render null and void the acts of the fighters for the cause of religion and of the charitable man if acts are done with the intention of SHOW. Islam stresses that all noble deeds must be done with sincerity and absolute secrecy. The man who gives something in charity by his right hand, let not his left hand know about it. It is undesirable to prolong prayers in the presence of the other Muslims to give false impression of PIETY. Abu Sa’id (Allah be pleased with him) reported that the Messenger of Allah (peace be upon him) said: Secret shirk (polytheism) is very fearful. It means that a man will stand up and pray and then prolong his prayers that he may fall in the sight of a man!
______________________
So in the text above, we know that any charity, any generous acts that are not based on winning Allah’s favours are strongly disapproved or even forbidden. That of course includes showy prolonged prayers. I remember one day, AA Gym quoted on a TV show that it is all right to show yourself or to show your name in a charity as long as it is intended to encourage others to do the same. Would you buy it? Of course, it is all up to you. But I think I have come up with my conclusion that even if you want to encourage people to follow you to make a charity, let not others know that you are already ahead of them……..








duh enggak ngerti, maklum orang bumi ndak ngerti bahasa alien
Komentar oleh Anggara — Minggu, 7 September 2008 @ 11:26 am |
Riya’ berasal dari akar kata : ra’aa – yara’u – ra’yan yang artinya melihat, berpendapat dan bisa juga berarti bermimpi. Adapun kata riya’ itu sendiri secara literal bermakna ingin dilihat atau pamer.
Menurut istilah, riya’ merupakan sikap pamrih agar dapat mengangkat gengsi seseorang di mata manusia, misalnya : dengan menampilkan tindak ketaatan kepada Allah Ta’ala. Perbuatan seperti ini tentu saja membuat ibadah menjadi tertolak, karena hakikat dan tujuan ibadah adalah demi memperoleh kasih dan cinta Tuhan semata.
Hehehehe… jadi riya’ itu salah satu perusak ibadah mas.
Komentar oleh inos — Minggu, 7 September 2008 @ 2:57 pm |
memang, mendingan jika ingin menyumbang atau berbuat baik diam2 saja. mendingan sumbangan kita kecil tapi ikhlas dan tanpa pamrih drpd sumbangan besar termasuk dng mengajak org lain tapi ingin dilihat hebat dan dikagumi org. karena jika kita ingin menyumbang sesuatu tapi bilang2 takutnya ada unsur riya-nya.
Komentar oleh AgusBin — Minggu, 7 September 2008 @ 3:49 pm |
Pembahasan tentang riya tentu menarik. Tetapi juga harus hati-hati sebab setiap perbuatan (manusia) bermula dari niat. Riya akan mendenda manakal dimaksudkan untuk bersombong-sombong, itu pasti. Namun, ingat ‘menonjolkan’ sesuatu dalam kerangka syiar malah baik. Misal, memapar pengalaman tauladais Rasulullah, atau kebaikan-kebaiakan untuk pelajaran bagi sesama. Salam.a
Komentar oleh Ersis Warmansyah Abbas — Minggu, 7 September 2008 @ 7:03 pm |
Setuju dengan Pak Ersis. Tergantung niat masing-masing. Dan ini perkara gaib. Tidak kasat mata. Memang sangat baik bila kita memberi dengan tangan kanan, tangan kiri tak usah tau.
Komentar oleh suhadinet — Minggu, 7 September 2008 @ 8:54 pm |
riya’ dalam pandangan awam saya, *duh, mesti buka2 kamu juga nih untuk memahami psotingan Bung Yari* bagian dari sifat manusia yang akan terus ada sepanjang sejarah peradaban umat manusia, tergantung bagaimana kemampuan seseorang untuk me-manage-nya. Ramadhan sejatinya bisa menjadi momentum untuk mengendalikan sifat2 riya itu agar tak terjebak menjadi sosok pribadi yang angkuh dan takabur.
Komentar oleh Sawali Tuhusetya — Minggu, 7 September 2008 @ 11:11 pm |
I had difficulty dissolving postingan this pak Yari. However according to me that amal had the concept about the quality of the abstract. There were efforts to “mengkonkritkan” the good deed, even by counting the percentage or carrying out a good deed very much received the repayment of the reward of one hundred times. Apparently the good deed was measured mathematically. This the good deed that lead astray that is “mengkuantitaskan” the good deed. True not yes I commented
:
Komentar oleh laporan — Senin, 8 September 2008 @ 12:03 am |
Yup! never let other know if you’re already ahead in making charity,
even your left hand… There are so many ways to encourage other and please choose the best way instead of “grey act” such as what was sugested by AA Gym.
Komentar oleh Yoga — Senin, 8 September 2008 @ 8:04 am |
@Anggara
egepe kang……
@inos
Wah… terima kasih mas inos atas tambahan pengetahuan etimologisnya…. so pasti sangat bermanfaat……
@AgusBin
Kalau niatnya memang ingin mengumpulkan uang/sumbangan sepertinya malah baik, namun jika ada niat untuk menjadi lebih populer walau sedikit saja, nah itu yang nggak boleh, itulah yang disebut riya bin.
@Ersis Warmansyah Abbas
Kalau Rasulullah tentu kita percaya bahwa setiap tindakan beliau adalah berdasarkan niat yang ikhlas dan tidak perlu diragukan lagi. Namun tentu masalahnya jadi berbeda jika itu menyangkut kita-kita ini. Masalahnya kita seringkali tidak jujur pada diri kita sendiri apakah kita ini benar-benar ikhlas 100% atau ada unsur ingin ‘dikenal’ atau ingin ‘pamer’ dan sebagainya. Kalau sudah begitu ya tentu ini sudah termasuk dengan riya. Hanya Allah yang maha tahu……
@suhadinet
Ya… memang… paling baik memang begitu…. jikalau tangan kanan kita memberi janganlah tangan kiri kita dan juga tangan orang yang kita beri itu tahu….
@laporan
Yes… I understand what you mean….. sometimes people want to make good deeds hoping that he will get multiple rewards in return. That’s what you mean by ‘mathematical’. Of course sometimes people want to make good deeds in hope that someday he will gain financially (at least) from his good deeds in the past. But remember, sometimes good deeds don’t have to be measured financially/mathematically, there are times when good deeds have to be done based on pure humanity. If every good deed is measured ‘mathematically’, I believe it will give rise to corrupted morals which is now in progress in our country!
@Yoga
So you would not concur with AA Gym’s quote, eh? Hehehehe….. Yes I agree with you, there are numerous ways to encourage people to make a charity without letting them know that you are leading it…….
Komentar oleh Yari NK — Senin, 8 September 2008 @ 9:35 am |
Wahhh ampun mas saya enggak ngerti bahasa asing
Pokoknya Sukses yah mas
Komentar oleh Gelandangan — Senin, 8 September 2008 @ 7:48 pm |
hmmm.. kalo “yari” akar katanya apa yakh
Quoting mas inos “Adapun kata riya’ itu sendiri secara literal bermakna ingin dilihat atau pamer”… mudah2an kalo “Yari” secara literal bermakna GAK suka pamer ..
*ngarang… kabuuuuuuurrr*
Komentar oleh Gaia — Senin, 8 September 2008 @ 8:10 pm |
Pak yari, bagus banget nih membahas tentang riya’ apalagi dalam suasana ramadhan ini. Kalau menurut saya, manusia itu punya sifat riya’ tapi kadarnya yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana usaha kita untuk tidak memupuk sifat riya’ ini.
Komentar oleh Edi Psw — Selasa, 9 September 2008 @ 8:21 am |
Riya no,
ikhlas and imanan wakhtisaban yes
Komentar oleh mikekono — Selasa, 9 September 2008 @ 3:15 pm |
[...] like to share about what we used to do to encourage other and I think this is not a kind of “riya” or pretence and show . We use the training to dig more knowledge. Everyone is active to show their opinions and bring [...]
Ping balik oleh Attend a Training « Agoyyoga’s Weblog — Selasa, 9 September 2008 @ 4:05 pm |
@Gelandangan
Hehehe… ya nggak apa2 kok. Ok, sukses juga buat anda selalu!
@G.a.i.a
Yang jelas kalau Gaia pasti suk ber
gayagaia di depan kamera alias sedikit narsisis, hayo???**kabur bareng si Pedro sebelum digigit sis Gaia**
@Edi Psw
Betul Pak Edi, terkadang malah kita tidak menyadari bahwa kita sudah berbuat riya…. yah mudah2an kita dapat mengusahakan agar riya tidak menjadi bagian dari sifat kita…..
@mikekono
Wah…. ok banget…. setuju abis!
Komentar oleh Yari NK — Rabu, 10 September 2008 @ 9:21 am |
“I remember one day, AA Gym quoted on a TV show that it is all right to show yourself or to show your name in a charity as long as it is intended to encourage others to do the same.” << how about AA Jimmy said???
*no nyambung niih*
_______________________________
Yari NK replies:
Wah… pengggemar AA Jimmy ya??
Bagusan mana ceramah AA Gym atau AA Jimmy??
Komentar oleh pipiew — Rabu, 10 September 2008 @ 2:11 pm |
Setuju Pak Edi Psw (Pesawat? … hehe), manusia ada kecenderungan riya’, hanya bedanya besar atau kecil. Jika menyadari ini, maka semestinya kita berusaha mengendalikan kecenderungan ini dengan sebaik-baiknya, agar tidak menghilangkan pahala dari amal baik yang telah kita lakukan.
Ada pepatah mengatakan : tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Kalau tangan kiri yang memberi? Itu namanya kidal ……
___________________________________
Yari NK replies:
Kalau tangan kiri yang memberi belum tentu kidal…. siapa tahu tangan kanannya lagi patah dan digips hayo?? Huehehe…..
Komentar oleh tutinonka — Kamis, 11 September 2008 @ 5:34 am |
Innamaa ‘amalu binniyaat… Kadang beramal juga perlu show…biar memancing orang lain (yang suka riya) ikut beramal juga
_________________________________
Yari NK replies:
Asal jangan yang lebih terpancing adalah sifat riyanya dari orang lain tersebut ya!
Komentar oleh Ratna — Senin, 15 September 2008 @ 6:38 am |
Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita, ”Di hari kiamat nanti ada orang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke neraka. Lalu orang itu melakukan protes, ‘Wahai Tuhanku, aku ini telah mati syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?’ Allah menjawab, ‘Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai pemberani.Dan, apabila pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari perjuanganmu’.” Orang yang berjuang atau beribadah demi sesuatu yang bukan ikhlas karena Allah SWT, dalam agama disebut riya. Sepintas, sifat riya merupakan perkara yang sepele, namun akibatnya sangat fatal. Sifat riya dapat memberangus seluruh amal kebaikan, bagaikan air hujan yang menimpa debu di atas bebatuan. Allah SWT berfirman, ”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23).
________________________
Yari NK replies:
Wah… terima kasih ya atas tambahannya yang sangat mencerahkan…..
Memang riya sebaiknya kita tinggalkan sama sekali…. tetapi ya itu….. sangat sulit sekali membebaskan sama sekali perbuatan baik dari riya…. Namun insha Allah, kita dapat melakukannya.
Komentar oleh andi — Jumat, 26 September 2008 @ 1:07 am |