Yari NK

Arsip untuk Oktober, 2008

Jangan Menonton Televisi Nak…. Banyaklah Membaca…. Loh??

In Kehidupan, Manusia, Serba Serbi, Uncategorized on Jumat, 31 Oktober 2008 at 5:00 am

Ingatkah anda pada bulan Juli lalu ada yang namanya hari tanpa TV? Hari itu dianjurkan masyarakat untuk mematikan TV-nya sama sekali. Seolah-olah televisi adalah candu yang merugikan mirip seperti rokok yang merusak kesehatan yang ada harinya ‘hari tanpa rokok’. Lepas dari fakta bahwa layar televisi memancarkan radiasi yang bisa merusak mata terutama apabila dilihat terlalu dekat dan terlalu lama, saya agak kurang setuju televisi seolah-olah disamakan dengan sesuatu yang merugikan seperti rokok dan tembakau. Di sebuah acara talk show di televisi, saya sudah lupa nama acaranya apa karena sudah berlangsung lama sekali, yang dihadiri oleh seorang psikolog terkenal, mengindikasikan bahwa menonton televisi, bukannya tidak baik, tetapi kurang baik masih kalah bermanfaat dibandingkan dengan membaca. Di kesempatan lain, di salah satu blog yang cukup ternama, di situ dikatakan bahwa menonton televisi tidak mempekerjakan otak atau mempasifkan otak. Dan masih banyak dan sering lagi dikatakan tentang hal-hal negatif tentang televisi di banyak kesempatan.

Dalam 30 tahun terakhir, televisi telah menjadi bagian yang penting sebagai sumber informasi dan sumber hiburan bagi keluarga Indonesia. Hal ini bukan hanya terjadi di negeri kita saja, tetapi di seluruh dunia. Tapi benarkah televisi membawa pengaruh negatif dan tidak begitu bermanfaat dibandingkan membaca? Menurut saya televisi hanyalah media, seperti halnya radio, internet, surat kabar, buku dan lain sebagainya. Jadinya sebenarnya lebih tepat jikalau yang disalahkan adalah content-nya dan juga intensitas menonton televisi. Content yang buruk tentu saja bukan hanya monopoli televisi tetapi juga dapat difasilitasi oleh oleh radio, Internet, surat kabar, majalah bahkan buku. Jadi janganlah disalahkan medianya. Sementara itu, intensitasnya juga perlu diperhatikan, jikalau menonton televisi terlalu intens tentu juga tidak baik. Namun tentu saja itu lagi-lagi berlaku bagi media lain. Terlalu banyak berselancar di Internet, itu juga tidak baik. Bahkan terlalu banyak membaca, sehingga kurang bersosialisasi tentu sama juga tidak baiknya.

Menurut saya, masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan kelebihan dari masing-masing media seyogianya saling melengkapi satu sama lain agar kita (termasuk anak-anak) dapat memperoleh manfaat secara simultan dari keseluruhan media tersebut. Menonton televisi seolah-olah memang ‘pasif’ karena kita lebih terlena dengan gambar-gambar dinamis yang disajikan oleh televisi, sementara membaca terlihat lebih ‘aktif’ karena kita lebih berimajinasi mencoba membentuk visual di dalam otak kita dari kata-kata yang kita baca di dalam sebuah buku. Namun televisi dapat menuntun kita ke dalam visualisasi, suara, dan lain sebagainya yang tidak mungkin bisa ditunjukkan oleh sebuah buku, dan dari situ kita dapat ‘mengkhayal’ ke tempat lainnya yang ada hubungannya dengan topik tersebut, seperti yang sering saya alami ketika menonton National Geographic, Discovery, Animal Planet bahkan acara-acara olahraga di StarSports ataupun ESPN. Tidak sedikit postingan saya yang lahir dari pencerahan di acara-acara televisi. Mungkin andapun tidak jarang membuat tulisan yang diilhami oleh acara-acara televisi yang anda tonton sebelumnya, baik dari stasiun televisi luar negeri maupun stasiun televisi dalam negeri. Itu menandakan bahwa televisi juga dapat mempekerjakan atau mengaktifkan otak kita. Contoh lainnya adalah jikalau kita menyaksikan acara debat di televisi (yang tidak mungkin direpresentasikan di dalam sebuah buku atau majalah), tentu otak kita juga terlibat aktif dalam mencerna setiap kata-kata yang keluar dari para pendebat. Kita seringkali mengiyakan ataupun menolak setiap argumen yang keluar dari mulut para pendebat sesuai dengan argumen yang kita bangun sendiri. Tentu ini juga merupakan bukti bahwa media televisi juga dapat membuat otak kita aktif.

Masalahnya adalah, content atau isi atau acara dari kebanyakan televisi di tanah air yang kualitasnya masih taraf ‘yah…begitulah!’. Hal ini masih diperparah dengan selera menonton masyarakat kita yang juga masih ‘yah…..begitulah!’. Bahkan tidak jarang saya melihat orang-orang yang terpelajar dan sanggup berlangganan TV berbayar tetapi ujung-ujungnya yang dilihat dangdut TPI juga atau paling banter Extravaganza-nya TransTV. Memang sangat agak menyedihkan.

Suka tidak suka, mau tidak mau, televisi akan tetap menjadi bagian dari pendidikan (anak-anak kita). Ini terjadi bukan hanya di negara kita tentu saja, tetapi juga di negara-negara maju. Hanya saja tentu kini bagaimana kita akan memanfaatkan media yang bernama televisi ini. Namun, juga bukan berarti kita tidak perlu membaca lagi loh. Tentu bukan begitu maksudnya. Kita tentu juga harus mendorong anak-anak kita untuk rajin membaca. Namun begitu, kita tidak perlu mempertentangkan lagi antara menonton dan membaca karena seperti yang telah saya tuliskan di paragraf sebelumnya, masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri dan seyogianya kelebihan masing-masing media dapat kita ambil agar saling melengkapi agar memperoleh hasil yang maksimal… :)

Indonesia Hebat Juga…….

In Serba Serbi on Selasa, 28 Oktober 2008 at 9:14 am

Jikalau anda melihat widget seperti gambar di bawah ini di sidebar blog ini:

Maka widget (yang berwarna kuning) yang bertugas mengidentifikasi dari mana saja tamu di blog ini berasal adalah berasal dari globetrackr. Kemarin iseng-iseng saya mengunjungi situs globetrackr tersebut. Apa yang saya temui? Lihat screen capture berikut ini:

Ternyata dari situs-situs yang memakai globetrackr di seluruh dunia, traffic dari Indonesia mencapai lebih dari 26% ! Dan menduduki peringkat teratas. Jauh meninggalkan tuan rumah Amerika Serikat. Sesuatu yang menurut saya cukup mengejutkan. Gejala apakah ini gerangan?? Apakah ini berarti jumlah pengguna Internet di tanah air yang tumbuh dengan pesat? Ataukah mungkin saya salah baca ataukah statistik di atas hanya muncul di layar komputer saya saja?? Atau…. mungkin memang globetrackr ini milik orang Indonesia?? Ada yang bisa menjelaskan?

Kehebatan Indonesia tidak berhenti sampai di situ. Kemarin secara tak sengaja juga saya mengunjungi situs Geovisite dari Perancis, sebuah situs yang menyediakan widget gratis yang fungsinya kurang lebih sama dengan globetrackr hanya saja fasilitasnya lebih lengkap dan grafisnya lebih bagus. Ternyata statistik traffic dari Geovisite tersebut adalah sebagai berikut:

Walaupun Indonesia berada di luar 10 besar, tetapi traffic dari ratusan negara yang membanjiri situs Geovisite ini, Indonesia selalu berada di 25 besar. Dan traffic dari Indonesia ini merupakan yang teratas di antara negara-negara di Asia melebihi Jepang, China dan India sedangkan Malaysia selalu tertinggal jauh. Ada apa gerangan? Apakah memang rakyat Indonesia kini telah sangat banyak yang melek Internet? Walahualam…… :D

Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa

In Pengetahuan, Serba Serbi on Sabtu, 25 Oktober 2008 at 7:19 am

Kemarin tanggal 24 Oktober 2008, tidak banyak orang yang sadar, atau mungkin sudah banyak terlupakan bahwa kita memperingati Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Walaupun piagam PBB lahir pada tanggal 26 Juni 1945, namun Dewan Umum (General Assembly) PBB menetapkan bahwa tanggal 24 Oktober sebagai hari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan tanggal 20 hingga 26 ditetapkan sebagai pekan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

PBB dibentuk pada tahun 1945, setelah Perang Dunia II, untuk menggantikan Liga Bangsa-Bangsa yang gagal mencegah meletusnya Perang Dunia II (1939 – 1945) yang menewaskan puluhan juta orang. Dari hanya 50 negara yang menandatangani keanggotaannya pada tahun 1945, kini keanggotaan PBB hampir meliputi seluruh dunia. Hanya Taiwan dan Kosovo yang hingga kini belum bergabung dengan PBB karena tidak diakui ‘kemerdekaannya’. Taiwan dianggap bagian dari Republik Rakyat China sedangkan Kosovo dianggap sebagai bagian dari Serbia. Satu daerah lain yaitu Sahara Barat di Afrika juga belum bisa masuk PBB karena masih diperebutkan antara kerajaan Maroko, front kemerdekaan Polisario dan pemerintahan Republik Demokrasi Arab Sahrawi.  Sedangkan negara kecil Vatikan hingga kini masih dalam status pengamat. Swiss, negara yang selalu netral dalam percaturan politik dunia, dan selalu bersikeras untuk tidak pernah menjadi anggota PBB akhirnya bergabung juga di tahun 2002.

PBB sebagai badan dunia yang menaungi hampir seluruh negara-negara di dunia ini, mempunyai bermacam-macam misi yang berusaha untuk membuat negara-negara di dunia menjalani kerjasama agar dunia kita ini menjadi tempat yang lebih baik dan nyaman. Walaupun PBB seringkali dilihat sebagai misi2nya untuk menyelesaikan berbagai konflik politik antarnegara, namun sebenarnya kegiatan PBB bukan hanya di bidang politik melainkan juga dalam bidang ekonomi,  kebudayaan, sosial, hukum, hak azazi manusia, perdamaian dan lain sebagainya.

Walaupun banyak orang kini yang agak sinis dengan PBB karena menganggap PBB sebagai ajang “pemaksaan” oleh negara-negara besar terutama Amerika Serikat dan sekutunya, ditambah lagi dengan hak veto yang hanya diperoleh 5 anggota istimewa Dewan Keamanan PBB yaitu: Amerika Serikat, Rusia, Uni Kerajaan (Inggris), Perancis dan China banyak membuat beberapa negara yang terkadang kurang nyaman dengan resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB. Namun begitu, peran PBB tetap besar dan tetap berarti guna menyelesaikan konflik di antara negara-negara di dunia ini. Dan keluar dari PBB bagi sebuah negara (apalagi negara dunia ketiga) pada saat ini bukanlah sebuah opsi yang baik secara umum, bukan hanya dalam masalah politiknya namun terutama juga masalah ekonomi dan kebudayaan.

Saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai PBB. Namun di hari PBB kemarin, kita mengharapkan agar planet tempat kita hidup ini dapat menjadi tempat yang lebih nyaman dengan peran PBB, ingat! Tempat lebih nyaman di sini bukan saja berarti bebas dari perang, tetapi juga bebas dari kemiskinan, bebas dari wabah penyakit menular, bebas dari pencemaran lingkungan dan sebagainya. Selamat Hari PBB…….!!

Catatan:

  • Bahasa-bahasa resmi PBB adalah: Inggris, Perancis, Rusia, China, Spanyol dan Arab. Kapan Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi ya?
  • Sepuluh negara terbesar pembayar iuran untuk PBB adalah: Amerika Serikat (22%), Jepang (16,62%), Jerman (8,66%), Uni Kerajaan (6,16%), Perancis (6,03%), Italia (4,89%), Canada (2,81%), China (2,67%), Spanyol (2,52%), Meksiko (1,88%).

Nong Tum si ‘Kathoey’ yang perkasa…..

In Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi, Uncategorized on Rabu, 22 Oktober 2008 at 5:00 am

Jikalau anda sempat menonton acara televisi National Geographic Channel Sabtu malam beberapa minggu yang lalu dalam acara Taboo, di salah satu episodenya mengetengahkan cerita-cerita mengenai orang-orang yang menjalani proses ‘pindah jenis kelamin’ atau ‘operasi kelamin’ yang di masyarakat bahkan beberapa di antaranya di negara majupun masih merupakan hal yang tabu. Dari beberapa orang yang dikisahkan, yang paling menarik perhatian saya adalah cerita tentang Nong Tum si ‘kathoey’ juara Thai Boxing yang gambarnya ada di sebelah kiri ini.

Kathoey adalah istilah di Thailand untuk menggambarkan seorang pria yang menjalani transformasi jender dari pria ke wanita. Boleh dikatakan 100% dari kathoey ini adalah gay (homoseksual) yang merasa dirinya wanita yang terperangkap dalam tubuh pria **halaah**. Kathoey juga dapat disebut sebagai ladyboy istilah bahasa Inggris yang ‘diciptakan’ oleh orang-orang Thailand.

Nong Tum, lahir di tahun 1981 dengan nama asli Parinya Charoenphol
sebagai seorang laki-laki tulen, minimal secara genetis. Sejak kecil ia sudah merasa seperti wanita. Walau begitu sejak kecil, setelah sempat merasakan menjadi pendeta Buddha, ia sudah berlatih Thai boxing untuk menghidupi keluarganya yang miskin. Nong Tum sadar bahwa jiwanya yang ‘kathoey’ ini dapat membuat malu keluarganya. Maklumlah pandangan masyarakat Thailand terhadap kathoey ini masih mendua. Sebagai salah satu negara dengan jumlah transgender terbanyak di dunia, masyarakat Thailand dapat menerima kehadiran kathoey di lingkungan mereka namun begitu masyarakat Thailand umumnya masih tidak bisa menerima jikalau ada salah satu anggota keluarga mereka yang menjadi kathoey. Untuk itu Nong Tum berpendapat bahwa menjadi juara Thai Boxing adalah salah satu cara agar ia bisa diterima oleh keluarga dan masyarakat. Selain itu menjadi juara Thai Boxing juga akan ikut mengangkat citra kaum kathoey. Seorang kathoey yang menjuarai kegiatan-kegiatan kewanitaan tidak akan begitu mendapatkan tempat terhormat atau mengangkat citra kathoey dalam masyarakat karena hal tersebut sudah biasa, namun menjuarai kegiatan-kegiatan yang sangat maskulin seperti olahraga keras Thai Boxing ini tentu ceritanya akan menjadi lain. Hal itu memperkuat tekadnya untuk menjadi seorang atlit Thai Boxing. Dari olahraga Thai Boxing ini ia juga mengumpulkan biaya untuk operasi pergantian kelaminnya yang sudah mantab juga akan ia lakukan.

Begitulah….. Nong Tum semula diledek oleh lawan-lawannya sebelum bertanding. Ada yang melakukan gesture seolah-olah mereka takut dicium atau dipeluk oleh Nong Tum dan ada pula lawan yang melakukan gesture ledekan seolah-olah mereka ingin mencium Nong Tum. Namun hal tersebut tidak membuat Nong Tum berkecil hati, malah justru ia ingin membuktikan bahwa ia adalah lawan yang patut diperhitungkan. Kerja keras Nong Tum tidak sia-sia, sepanjang karir profesionalnya hingga tahun 1998, Nong Tum memenangkan 22 pertandingan dengan 18 di antaranya memang KO melawan atlit-alit Thai Boxing lelaki tulen yang jauh lebih kekar daripadanya. Lucunya setelah ia menang KO atas lawan-lawannya nafsu homonya sering naluri kewanitaannya keluar dengan menciumi lawan-lawan yang di-KO-kannya itu.

Begitulah kisah unik Nong Tum yang akhirnya menjalani operasi pergantian kelamin di tahun 1999 sesaat setelah ia berhenti menjadi atlit Thai Boxing profesional. Ada yang berminat menjadi pasangan hidupnya? :D

Kemiskinan dan Kebodohan

In Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi, Uncategorized on Minggu, 19 Oktober 2008 at 5:00 am

Sebenarnya artikel ini dibuat untuk “Blog Action Day 2008″ tanggal 15 lalu. Namun karena waktu itu belum kepikiran apa topiknya maka baru dibuat sekarang. Yah, biarin deh, better late than never kata orang malas.

Topik yang saya sodorkan untuk “Blog Action Day 2008″ yang sudah terlambat ini adalah mengenai kemiskinan dan kebodohan, dua keadaan yang sangat akrab satu sama lain. Sebenarnya pertanyaan klasik selalu menggema dari dua orang sahabat kemiskinan dan kebodohan ini. Pertanyaannya adalah: Miskin karena bodoh? Atau bodoh karena miskin? Mirip pertanyaan: Telur atau Ayam dulu?? Yang jelas jawabannya adalah kode genetiknya dulu. Begitu juga dengan kemiskinan dan kebodohan…. Mana dulu yang perlu diberantas?? Kemiskinannya dulu atau kebodohannya dulu??

Karena ini topiknya mengenai “Poverty” maka dengan sedikit paksaan lebih enaknya adalah arah pemberantasannya dari kebodohan menuju pemberantasan kemiskinan. Tentu arah begini juga tidak selamanya keliru karena dengan pemberantasan kebodohan kita dapat memberantas juga kemiskinan. Kebodohan adalah lawan daripada kecerdasan. Kecerdasan di sini tentu dalam arti yang luas. Kecerdasan di sini bukan hanya direpresentasikan dengan koleksi ijazah dari S1, S2 dan S3 dan es-es lainnya ataupun kecerdasan juga bukan hanya direpresentasikan dengan banyaknya buku yang dibaca ataupun rajinnya ia mengakses Internet sehingga ia menjadi kutu buku dan kutu LCD sehingga banyak informasi yang masuk ke kepalanya tetapi juga skill-skill lainnya dari pengalaman, skill dalam membentuk interpersonal skill dan juga membangun jaringan sosial yang dapat menguntungkan secara ekonomis ataupun skill-skill lainnya yang tidak ia dapatkan dari sekolah, buku ataupun internet. Di sini kecerdasan adalah mencerminkan semua kemampuan seorang individu dalam mengembangkan dirinya.

Ya…. saya tidak akan membahas banyak mengenai hal ini. Karena saya bukan seseorang yang ahli dalam mengembangkan kemampuan orang lain, jangankan kemampuan orang lain terkadang juga saya gagal untuk mengembangkan diri saya sendiri. Yang jelas saya percaya bahwa jikalau kebodohan bisa diminimalisasi maka Insya Allah kemiskinanpun bisa diminimalisasi. Menulis dan menuangkan ide memberantas kemiskinan lewat blog saja mungkin juga tidak banyak membantu dalam meminimalisasi kebodohan apalagi kemiskinan. Untuk itu kita perlu sedikit aksi dalam memberantas kebodohan. Aksi tersebut tidak perlu idealis dan kolosal dan juga tidak perlu diumumkan di dalam blog. Menyumbang buku-buku bekas yang masih layak pakai ke sekolah-sekolah yang masih kekurangan adalah langkah awal yang baik untuk memberantas kebodohan. Syukur-syukur anda yang kebanyakan PC di rumah, tidak ada salahnya menyumbang ke sekolah-sekolah yang membutuhkan (boleh juga ke keluarga pra-sejahtera, tetapi kemungkinan besar pasti di jual untuk menghasilkan uang, karena keluarga pra-sejahtera tidak terlalu membutuhkan PC…). Atau mungkin anda berminat menjadi orang tua asuh?? Wah…. sepertinya lebih baik lagi. Karena lebih baik kita memberikan pancingnya daripada ikannya kata orang bijak.

Anda mungkin dapat menemukan 1001 cara sederhana lainnya untuk memberantas kebodohan. Memberi sumbangan uangpun merupakan hal yang tidak buruk selama tidak salah sasaran dan juga tidak membuat orang menjadi malas. Yang jelas mari kita berbuat sesuatu, sekecil apapun, untuk mengusir kebodohan dari lingkungan kita.  Insya Allah sesuatu yang kecil dan tidak berarti jika kita lakukan serentak akan berarti besar bagi lingkungan kita.

Sebagai penutup, saya akan mencoba mengadakan survey dan sekaligus mencoba fasilitas Polldaddy yang baru diadakan oleh WP:

Di Bawah Sinar Bumi Purnama……..

In Astronomi, Pengetahuan, Serba Serbi on Kamis, 16 Oktober 2008 at 9:07 am

 Di bawah sinar bulan purnama ♪♫♪……. Saya jadi ingat lagu keroncong yang syahdu tersebut yang judulnya dan penyanyinya saya sudah lupa. (Ada yang bisa mengingatkan saya??) Lagu tersebut adalah satu lagu dari mungkin ribuan lagu yang ada di dunia ini yang menggambarkan indah dan romantisnya sinar bulan purnama bagi mereka yang tengah asyik berduaan atau bertiga sama syetan kata pak ustadz. Namun itu adalah sinar bulan purnama…… Nah…. bagaimana dengan sinar bumi purnama?? Tentu karena kita hidup di planet Bumi kita tidak pernah akan bisa menikmati sinar bumi purnama.

Namun masalahnya lain jika anda tinggal dan hidup di bulan. Anda akan dapat mudah menikmati sinar bumi purnama. Pertanyaannya adalah kapan terjadinya bumi purnama di bulan?? Sebenarnya logikanya mudah dan sederhana. Fase bulan yang dilihat dari bumi tentu terbalik dengan fase bumi yang terlihat dari bulan. Jikalau di Bumi sedang dalam fase bulan purnama, maka di bulan orang bakalan sulit melihat Bumi karena bumi ada dalam fase ‘bumi baru’. Sebaliknya jika di bumi, bulan ada dalam fase bulan baru (seperti pada awal setiap bulan Islam) di mana bulan sulit dilihat dengan mata telanjang, maka di bulan, orang tengah menikmati pemandangan bumi purnama. Jadi salah satu saat yang tepat untuk menikmati bumi purnama dari bulan adalah pada saat Idul Fitri! Jadi nanti di masa depan jika ada paket perjalanan Idul Fitri ke bulan…. itulah saat yang tepat bagi anda untuk menikmati sinar bumi purnama dari bulan! :mrgreen:

Begitu pula jika di Bumi orang tengah menikmati gerhana matahari (pada fase bulan baru tentu saja), maka orang-orang di bulan tengah menikmati gerhana bumi yang cantik… di mana dengan instrumen optik yang cukup sederhana orang-orang di bulan dapat melihat sebuah titik kecil di Bumi. Titik kecil itulah yang merupakan bayangan bulan. Kebalikannya ketika di Bumi orang tengah menikmati gerhana bulan (tentu saja hanya terjadi pada fase bulan purnama), maka di bulan orang-orang tengah menikmati gerhana matahari!

Tetapi ada satu hal yang perlu diingat ketika anda ingin menikmati sinar bumi dari bulan. Karena permukaan bulan ‘terkunci’ oleh bumi (tide-locked) atau dengan kata lain permukaan bulan yang menghadap ke Bumi selalu sama terus menerus selamanya, maka posisi bumi di langit bulan selalu stasioner (sama) untuk pengamat yang stasioner. Jadi jikalau rumah anda di bulan dekat dengan katulistiwa bulan yang selalu menghadap ke bumi, maka bumi akan selalu terlihat di titik zenith sepanjang masa, tidak pernah terbit dan tidak pernah terbenam. Tidak seperti kita melihat bulan dari bumi, di mana bulan terbit dan terbenam setiap hari. Di bulan, anda akan dengan mudah melihat fase bumi mulai dari bumi baru, bumi sabit, bumi purnama, bumi sabit dan kembali ke bumi baru. Apalagi di bulan tidak ada awan sehingga memudahkan kita untuk mengamati fase-fase bumi dari bulan setiap waktu. Sedangkan jika rumah anda berada dekat daerah kutub bulan maka bumi terlihat di dekat horizon bulan, juga stasioner, tidak pernah terbit dan tidak pernah tenggelam. Sebaliknya jika anda tinggal di bulan yang di permukaan yang tidak pernah terlihat dari bumi, maka anda tidak akan pernah bisa menyaksikan Bumi di langit bulan tentu saja. Jadi jangan berharap anda bisa menikmati sinar bumi purnama.

Nah…. pertanyaannya sekarang…. apakah sinar bumi purnama seromantis sinar bulan purnama?? Yang jelas bumi sebagai reflektor sinar matahari jauh lebih baik daripada bulan. Tetapi masalah romantis apa nggak, ya mungkin silahkan bertanya pada Neil Armstrong. Tetapi saya yakin Neil Armstrongpun tidak akan tahu. Kenapa?? Sebab ada dua hal: Pertama, belum tentu Neil Armstrong pernah benar-benar pergi ke bulan karena masih banyak juga orang yang tidak percaya bahwa ia pernah ke bulan karena lebih percaya teori konspirasi. Kedua, andaikan Neil Armstrong pernah benar-benar pergi ke bulan tentu tujuan utamanya adalah menjelajahi bulan dan bukan pacaran. Jadi mana sempat Neil Armstrong merasakan apakah sinar bumi purnama itu romantis apa nggak….. hehehe….. :mrgreen:

Manusianse

In Pengetahuan, Serba Serbi on Senin, 13 Oktober 2008 at 5:00 am

Pernahkah anda membayangkan jika kedua buah spesies seperti gambar di atas dikawinkan disilangkan? Ya, spesies hibrid dari dua buah spesies di atas yaitu manusia dan simpanse memang sudah lama dicoba untuk ‘diciptakan’ oleh para ilmuwan. Spesies hibrid (campuran) yang coba ‘diciptakan’ oleh para ilmuwan tersebut dinamakan ‘manusianse’. Manusianse adalah terjemahan bebas yang saya buat sendiri dari Bahasa Inggris humanzee karena memang belum ada terjemahan resminya dalam Bahasa Indonesia. Humanzee ini berasal dari kata human + chimpanzee atau manusia + simpanse. Menurut penamaan portmanteau untuk spesies hibrid (campuran) biasanya spesies jantan disebutkan dulu baru spesies yang betina. Jadi manusianse (humanzee) ini adalah keturunan dari manusia laki-laki dengan simpanse betina. Sedangkan simpanusia (chuman) yaitu berasal dari kata simpanse + manusia (chimpanzee + human) merupakan spesies keturunan daripada simpanse jantan dan manusia wanita.

Proyek perkawinan persilangan antara manusia dan simpanse sebenarnya sudah lama dilakukan yaitu sejak tahun 1920an. Ilmuwan asal (bekas) Uni Soviet bernama Ilya Ivanovich Ivanov melakukan eksperimennya di tahun 1920an. Ia berangkat ke kota Conakry di negara Guinea (yang waktu itu merupakan koloni Perancis) di Afrika. Ivanovich menginseminasi sperma manusia ke dalam beberapa simpanse betina. Namun semuanya tidak membawakan hasil. Sebenarnya Ivanovich juga berniat untuk menginseminasi sperma simpanse ke dalam tubuh manusia wanita, namun niat itu ditentang keras oleh pemerintah kolonial Perancis di Guinea  sehingga proyek tersebut dibatalkan. Adalah lebih terlihat “manusiawi” untuk menyuntikkan (menginseminasi) sperma manusia ke dalam simpanse betina dibandingkan menyuntikkan sperma simpanse ke dalam tubuh manusia wanita. Hingga akhir karir saintifiknya pada saat ia dibuang oleh pemerintahan Soviet karena mengkritik kebijaksanaan pemerintah Soviet di tahun 1930, Ivanovich tidak pernah berhasil untuk ‘membuat’ spesies hibrid yang dinamakan manusianse (humanzee) ini.

Namun penelitian tidak berhenti untuk menghasilkan manusianse ini. Para ilmuwan ingin mendapatkan spesies yang “unggul” dengan menyilangkan manusia dan simpanse. Sifat superior daripada simpanse ini tentu saja adalah kekuatan fisiknya. Seekor simpanse jantan dewasa mempunyai kekuatan fisik 5 hingga 8 kali kekuatan pria manusia dewasa. Sehingga diharapkan dari manusianse akan didapatkan kekuatan seekor simpanse dengan kemampuan otak seorang manusia! (Lha… bagaimana nanti kalau yang lahir ternyata seekor/seorang manusianse yang selemah manusia dan sebego simpanse ya?? Hehehe…..) Untuk itu para ilmuwan tidak mudah menyerah. Tahun 1977, seorang ilmuwan Amerika Serikat, J. Michael Bedford, menemukan fakta bahwa sperma manusia ternyata bisa menembus membran luar yang melindungi sel telur seekor babun. Babun adalah seekor kera yang secara genetik hubungannya paling jauh dengan manusia dibandingkan simpanse, gorila ataupun orangutan. Namun begitu, kehamilan dari buah persilangan yang diharapkan tetap tidak kunjung tiba.

Persilangan antarspesies di dalam dunia binatang sudah banyak terjadi. Meskipun biasanya perkawinan antarspesies ini menghasilkan keturunan yang mandul atau steril. Pada genus kuda-kudaan (Equus) sudah banyak terjadi persilangan. Contohnya adalah : Zedonk (zebra -keledai/donkey ) , zorse (zebra -kuda /horse ), dan lain sebagainya. Pada genus kucing besar (Panthera) sudah terjadi persilangan antara macan dan singa yaitu: liger (lion -tiger ) dan juga tigon (tiger -lion ). Namun persilangan antara manusia dan simpanse yang satu suku ini (Hominini) sampai hari ini belum sama sekali membuahkan hasil meskipun ada yang mencoba mengklaim keberhasilan ini seperti di China di tahun 1960an dan juga di Amerika Serikat sebelum Perang Dunia II, namun tidak pernah ada bukti nyata mengenai keberhasilan ini.

Keingintahuanan para ilmuwan terkadang sangat besar akan sesuatu yang menjadi tantangannya. Terkadang keingintahuan tersebut dapat berubah menjadi manfaat yang luar biasa, namun jikalau tidak hati-hati dapat berubah jadi malapetaka. Jikalau alam sendiri sudah membuat ‘pembatas’ yang sangat sulit ditembus sehingga sperma dan sel telur antarspesies tidak mudah berfusi ditambah kenyataan bahwa banyak spesies hibrid yang ternyata mandul, akankah kita terus berusaha untuk menembus ‘pembatas’ itu??

RUU Pornografi – Perlu Nggak Ya?

In Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi, Uncategorized on Jumat, 10 Oktober 2008 at 5:00 am

Membaca postingan di sini dan juga menyaksikan perdebatan dalam acara “Cover Story” di TV One dalam bulan Ramadhan yang lalu, saya akhirnya tergelitik juga untuk membuat postingan ini. Apalagi di acara debat di TV One tersebut, salah satunya adalah penentang RUU ini, seorang perempuan (kalau nggak salah namanya Tiurlan Hutagaol, kalau salah mohon dikoreksi) yang katanya salah seorang pekerja seni (betul nggak?). Di sini terjadi perdebatan-perdebatan yang menarik di mana ibu Tiurlan Hutagaol ini hampir selalu mengatasnamakan seni dan budaya untuk menentang RUU Pornografi ini. Pertanyaanlah adalah, apakah seni dan budaya yang modern harus bersentuhan dengan pornografi??

Ibu Tiurlan ini kalau tidak salah juga berkata bahwa RUU ini bukan cara yang terbaik untuk memperbaiki moral bangsa. Menurut saya hal itu ada benarnya juga, jikalau RUU ini tidak dibarengi dengan pendidikan moral yang bagus tentu RUU ini tidak dapat secara maksimal menyingkirkan pornografi dari negara ini. Namun, logika “RUU ini bukan cara yang terbaik untuk memperbaiki moral bangsa” tentu identik pula dengan logika “pornografi bukanlah cara yang terbaik untuk memajukan seni di Indonesia”. Apakah kita yakin bahwa dengan memperbolehkan pornografi maka seni kita lebih diakui dunia??? Lantas apakah seniman harus kita batasi ekspresinya dalam berseni? Tentu saja bukan maksudnya seperti itu, tetapi yang jelas kebebasan ekspresipun harus bertanggungjawab. Bukan hanya politisi (atau yang lainnya) yang mempunyai tanggung jawab moral dan etika, tetapi para senimanpun punya tanggung jawab moral. Jangan sampai, mentang-mentang seniman dapat mengekspresikan diri sepuas-puasnya tanpa tanggung jawab.

Lantas di acara lain tentang debat juga di TV One, salah seorang penentang RUU Pornografi berkata ”tidak selamanya mayoritas itu benar”. Pendapat ini juga tentu saja benar, karena hal itu bisa terjadi di mana saja, bukan hanya di Indonesia tapi juga di Eropa atau di Amerika Serikat. Mengerti kan?? Sebenarnya kalau difikir-fikir RUU ini tidak ada hubungannya dengan suatu agama, mungkin karena pendukungnya kebanyakan penganut agama tertentu jadinya RUU ini identik dengan “pemaksaan” oleh agama tertentu.  Namun yang jelas, RUU ini juga harus memperhatikan dan melindungi budaya tradisional dan juga kalau ada seharusnya juga patut melindungi ritual-ritual atau obyek-obyek agama lain yang “bersentuhan” dengan pornografi. Tetapi BUKAN untuk melindungi kesenian-kesenian pop/modern yang menjual pornografi, apalagi jikalau kesenian tersebut hanyalah kesenian impor murahan. Toh, dengan bumbu-bumbu pornografi kesenian pop Indonesia belum tentu lebih maju juga.

Sebagai penutup, saya ingin mengambil contoh. Jikalau anda berlangganan TV kabel atau TV satelit berbayar tentu anda pernah menyaksikan HBO, Cinemax, HBO Signature, StarMovies, Hallmark Channel dan sebagainya. Di channel-channel tersebut tetap diadakan sensor yang sangat ketat walaupun TV-TV tersebut berasal dari luar negeri yang lebih liberal dari Indonesia. Adegan “porno” yang bisa lolos di stasiun-stasiun TV tersebut hanyalah sebatas ciuman. Selebihnya…. tidak akan lulus sensor. Adegan yang mempertontonkan kemaluan pria dan wanita, walaupun sedetik tidak akan lolos dari stasiun televisi tersebut. Bahkan adegan ciuman sesama jenispun disensor oleh stasiun-stasiun televisi tersebut. Mungkin menurut si pembuat film di Hollywood, adegan-adegan ‘hot’ tersebut adalah seni, tetapi itu tidak menyurutkan manajemen di stasiun-stasiun televisi tersebut untuk menganggapnya sebagai pornografi dan menganggap pantas untuk disensor. Nah, jikalau stasiun-stasiun televisi tersebut mensensor adegan-adegan porno tersebut, apakah kita ingin tetap merasa “modern” dengan tetap “memperbolehkan” pornografi?? Wah…. sepertinya modern apa nggak, nggak ada hubungannya dengan pornografi deh! :mrgreen:

Kata Kerja Berpartikel

In Pengetahuan, Serba Serbi on Selasa, 7 Oktober 2008 at 5:00 am

Di beberapa postingan pada bulan Ramadhan yang lalu saya menerbitkan artikel tentang keinginan saya untuk belajar Bahasa Arab yang angin-anginan. Di sana saya menceritakan tentang ‘rumit’nya Bahasa Arab, apalagi menyangkut konjugasi kata kerjanya. Kali ini, saya akan mengetengahkan kembali sebuah artikel tentang bahasa, tetapi bukan menyangkut Bahasa Arab tetapi menyangkut Bahasa Inggris saja. Walaupun konjugasi kata kerja dalam Bahasa Inggris ini sangat sederhana dibandingkan dengan konjugasi kata kerja dalam Bahasa Arab, Perancis, Jerman, Spanyol dan sebagainya. Namun ada satu ‘macam’ kata kerja yang seperti ‘duri dalam daging’ bagi para penutur asli bukan Bahasa Inggris. Kata kerja tersebut disebut ‘Phrasal Verb’ atau kurang lebih artinya adalah ‘kata kerja berpartikel’. Phrasal Verbs ini (dan juga idiomatic phrases) adalah termasuk subyek yang tersulit dalam penguasaan Bahasa Inggris dan hal ini lebih diperparah lagi karena banyak lembaga-lembaga pendidikan Bahasa Inggris di tanah air ini yang mengabaikan pengajaran Phrasal Verbs ini.

Phrasal Verbs ini adalah sebuah kata kerja yang terdiri dari dua kata (atau lebih, namun sangat jarang) yang terdiri dari kata kerja itu sendiri ditambah dengan sebuah kata lain yang dinamakan ‘partikel’. Partikel ini kebanyakan adalah sebuah preposisi (kata sambung) yang tidak berdiri sendiri. Untuk mengartikan kata kerja berpartikel ini tidak dengan cara mengartikannya kata demi kata, tetapi dengan cara melihat kedua kata tersebut sebagai kesatuan yang utuh. Cara terbaik untuk memahami kata kerja berpartikel ini adalah dengan menghafalkan artinya sebagai sebuah kesatuan. Phrasal verbs ini adalah peninggalan atau pengaruh dari Bahasa Jerman yang hingga kini masih bertahan dalam Bahasa Inggris modern. Seperti kita ketahui di abad ke-10 dan 11, Bahasa Inggris ‘diinvasi’ habis-habisan oleh Bahasa Perancis yang menjadi cikal-bakal Bahasa Inggris modern. Pengaruh Bahasa Inggris kuno asli dan juga pengaruh Bahasa Jerman digerus habis oleh pengaruh Bahasa Perancis. Salah satu pengaruh bahasa Jerman yang bertahan sampai kini adalah phrasal verbs ini karena Bahasa Perancis tidak mengenal bentuk Phrasal verbs ini.

Walaupun phrasal verbs ini kebanyakan digunakan untuk suasana informal, namun tidak bisa dipungkiri bahwa phrasal verbs adalah bagian yang tak terpisahkan dari Bahasa Inggris modern. Contoh: kita mengetahui bahwa kata kerja ‘to push‘ berarti adalah mendorong. Tapi jikalau kata kerjanya berubah menjadi ‘to push around‘ bukan berarti artinya ‘mendorong berputar-putar‘ melainkan artinya berubah menjadi ‘mengganggu‘ atau bisa juga ‘menteror‘. ‘To push around‘ ini artinya sama dengan ‘to bully‘ atau ‘to terrorise‘ yang ditelinga kita lebih populer. Contoh lain adalah ‘to pass‘ yang berarti ‘melewati‘. Jikalau kata kerja tersebut berubah menjadi ‘to pass away‘ bukan berarti artinya adalah ‘melewati sambil menjauh (away = menjauh)’ namun artinya menjadi ‘meninggal dunia‘ atau ‘habis masa waktunya‘. Di sini kita melihat bahwasannya sebuah phrasal verb artinya dapat menjadi sangat berbeda dengan arti kata kerja aslinya. Satu-satunya cara terbaik mengartikan sebuah phrasal verb adalah dengan menghafal artinya sebagai sebuah kesatuan.

Sebuah kata kerja dapat mempunyai banyak ‘turunan’ phrasal verb-nya. Dan setiap turunan phrasal verb-nya mempunyai arti yang berbeda-beda. Kata kerja ‘to pull‘ yang artinya adalah ‘menarik‘ mempunyai turunan phrasal verb yang cukup banyak dan masing-masing mempunyai arti tersendiri, seperti:

to pull down = (mendapatkan gaji dari sebuah pekerjaan)
to pull for = (mendukung)
to pull off = (sukses dalam mencapai atau mengerjakan sesuatu)
to pull out = berhenti terlibat atau keluar dalam dalam suatu kegiatan
to pull through = (dapat bertahan)
to pull over = (menghentikan atau memperlambat)
to pull up = (mengatakan seseorang bahwa apa yang telah dikerjakannya salah)

Nah, sekarang sebagai iseng-iseng dan latihan belaka, dapatkan anda memasukkan partikel  dari kata kerja ‘to pull‘ yang tepat pada titik-titik dalam kalimat-kalimat berikut ini. Latihan ini tidak perlu dijawab dalam kolom komen, namun kalau mau dijawab di kolom komen juga tidak apa-apa.

  1. We are all pulling ….. the success of the new product line.
  2. The Japanese agent has pulled ….. of the cooperative advertising programme.
  3. My job as a security manager does not pull ….. a good salary.
  4. The R&D department was going a hundred miles an hour until the auditors pulled them ….. .
  5. Bandung pulled ….. a big funding increase at the budget meeting.
  6. The revamping project is so tough that it may not pull ….. .
  7. Management pulled them ….. short after they failed the design review.

Catatan:

Satu phrasal verb bisa mempunyai banyak arti. Seperti contoh ‘to pull up’ di atas selain mempunyai arti seperti yang telah disebutkan di atas dapat pula berarti ‘menghentikan kendaraan’ dan masih ada beberapa arti lainnya. Untuk arti lengkapnya dapat dilihat dalam kamus yang berkualitas baik atau dapat dilihat dalam kamus khusus idiom dan kata kerja idiomatik yang banyak terdapat di toko-toko buku. :)

Proses vs. Hasil

In Kehidupan, Manusia, Pengetahuan, Perilaku, Serba Serbi on Sabtu, 4 Oktober 2008 at 5:00 am

Setelah tiga hari berlebaran dan perut telah kenyang dengan berbagai macam hidangan mulai dari ketupat, opor ayam, hingga kue-kue lebaran mulai dari kue tart lebaran hingga kue-kue kering seperti kue nastar, kaasstengel dan juga lain-lainnya, kini saatnya kembali ke dunia maya nyata guna menyuguhkan kembali sebuah artikel di blog ini. Artikel yang saya suguhkan dengan judul di atas sebenarnya ada hubungannya walaupun agak maksa dengan kue-kue lebaran. Saya perhatikan jika (keluarga) saya membeli kue-kue lebaran terutama kue-kue keringnya dari berbagai sumber, saya sering merasakan ada kue yang rasanya tidak enak biasa-biasa saja dan ada kue yang rasanya luar biasa. Tentu anda juga merasakannya kan? Jikalau saya membeli kaasstengel (bisa juga disebut cheese sticks atau cheese twists ) misalnya, ada yang rasa kejunya kurang alias rasanya dominan asin karena garam saja, kesannya bikinnya agak asal-asalan  namun ada juga kaasstengel yang rasanya luar biasa yang rasa kejunya dominan padahal harganya nggak jauh berbeda. Saya bertanya dalam hati apakah mereka yang membuat kaasstengel yang rasanya ‘agak asal-asalan’ itu bikinnya sudah maksimal atau ia tidak berusaha untuk membuat kaasstengel yang lebih enak?? Ataukah ia tidak mau tahu jikalau ada kaasstengel yang lebih enak?? Atau…. ia memang berniat membuat zoutstengel daripada kaasstengel?? Walahualam……

Postingan ini sebenarnya sudah ada dalam benak saya sebelum bulan Ramadhan lalu, namun karena terpotong bulan Ramadhan maka topik ini saya tunda pembuatannya dan baru saya buat sekarang. Intinya adalah mana yang lebih penting….. proses atau hasil ?? Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa proses lebih penting daripada hasil, bahkan salah satu teman saya ada yang tidak ragu-ragu lagi mengatakan bahwa perbandingan pentingnya proses dengan hasil adalah 8 berbanding 2 sesuai dengan distribusi Pareto. Tentu sah-sah saja orang berpendapat demikian, namun saya juga mempunyai pandangan yang berbeda mengenai mana yang lebih penting: proses atau hasil, walaupun pandangan ini belum bukan berdasarkan penelitian ilmiah.

Sebenarnya lebih baik jika kita mengemukakan kriteria apa saja yang diperlukan guna menilai mana dari proses atau hasil yang lebih penting. Namun karena saya belum tidak bisa menemukan kriteria yang pas maka saya mengambil kriteria yang paling primitif umum dan mudah saja, yaitu faktor bagaimana sebuah proses yang berakhir dengan sebuah hasil dapat dikatakan gagal atau berhasil. Itu saja. Atau mungkin pembaca punya kriteria yang lebih baik lagi? Silahkan utarakan di kolom komen ini. :)

Kita semua sudah mengetahui bahwa proses adalah sesuatu yang amat penting, dan saya memang sangat setuju dengan hal tersebut. Tanpa adanya proses tidak mungkin akan ada hasil. NAMUN kitapun seharusnya tidak pula hipokrit bahwa proses diadakan karena kita menginginkan sebuah hasil. Tidak mungkin sebuah proses diadakan jikalau tidak bertujuan untuk membuahkan hasil. Jadi mana nih yang lebih penting?? Jikalau kita ingin menihilkan pentingnya hasil, toh selama ini hasil yang sering berperan sebagai barometer keberhasilan sebuah proses. Kita ambil contoh: Di olimpiade tahun 2004, Jepang berhasil menggondol 16 medali emas di olimpiade. Sedangkan di tahun 2008, Jepang hanya menggondol 8 medali emas. Gagalkah proses pembinaan olahraga di Jepang? Walaupun untuk mendapatkan jawabannya harus dilakukan penelitian seksama, kita masih bisa menduga bahwa pembinaan olahraga di Jepang belum tentu gagal. Mungkin saja proses pembinaan olahraga di Jepang berjalan di atas bantalan rel yang benar. NAMUN, jikalau prestasi Jepang di olimpiade merosot terus hingga beberapa kali olimpiade tentu ada yang tidak beres pada proses pembinaan olahraga di Jepang. Begitu pula dengan prestasi olahraga kita di SEA GAMES, jikalau kita kini kalah terus dari Thailand dan Vietnam (padahal kita dulu selalu juara), apakah kita akan terus berkata bahwa proses pembinaan olahraga di negeri kita ini sudah benar?? Jikalau proses di negara kita sudah dirasakan benar (walaupun dengan hasil merosot), apakah berarti proses di Thailand dan Vietnam lebih benar lagi?? Semua ini menunjukkan bahwa sebuah hasil menjadi sangat penting dalam penilaian sebuah proses agar proses tersebut mendapatkan feedback yang positif.

Contoh lain adalah, anak atau saudara atau keponakan kita yang tidak naik kelas atau di-DO dari universitas. Apakah kita akan SELALU berkata: “Biarlah nak, kamu tidak naik kelas atau di-DO, yang penting kamu sudah berusaha…..”. Hmmm…. sepertinya ada yang tidak beres di sini. Jikalau kita gagal dalam satu atau dua mata pelajaran (atau kuliah) mungkin itu wajar dikatakan “kamu sudah berusaha….”, tetapi jikalau harus gagal dalam hampir semua mata pelajaran atau kuliah tentu seseorang harus menyadari dengan besar hati bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres pada proses atau usaha belajarnya, entah itu malas, entah itu tidak bisa membagi waktu dan sebagainya….. Semua ini menunjukkan bahwa hasil adalah barometer yang penting guna menilai keberhasilan sebuah proses. Contoh lain adalah: seorang perampok. Misalkan ada orang yang merampok dan membunuh. Setelah tertangkap si perampok mengatakan: “Saya tidak berniat membunuh tetapi karena korban melawan terpaksa saya bunuh. Saya sudah berusaha untuk tidak membunuh!” Nah, apakah dengan pernyataan ini bahwa HASIL perbuatan si pembunuh menjadi tidak penting lagi dan proses peradilan hanya berfokus pada perampokan??

Namun tentu ada kalanya PROSES juga memerankan hal yang penting. Anda tentu mengenal TEORI DARWIN bukan? Yang hingga kini masih diperdebatkan antar para ilmuwan dan juga antara para ilmuwan dan para agamawan. Menurut saya pribadi, tidak penting apakah TEORI DARWIN itu benar atau salah nantinya. Yang penting adalah para ilmuwan tersebut berusaha keras menemukan teori asal-usul manusia atau kehidupan sedetail-detailnya sesuai dengan fakta-fakta yang ada di lapangan. Bukan  hanya berpangku tangan saja sambil hanya membaca kitab suci !! Bukan membaca kitab sucinya yang salah, tetapi memang manusia diwajibkan untuk membaca ilmu Allah yang bertebaran di alam semesta ini. Manusia ditantang untuk membuktikannya sendiri kebenaran yang berada di dalam kitab suci tanpa harus menghilangkan keimanan kepadaNya. Dan manusia jangan cepat berpuas jikalau belum menemukan ‘kesamaan’ antara ilmu pengetahuan dan kitab suci karena perjalanan berarti masih sangat jauh! Nah, dalam kasus ini tentu kita bisa melihat bahwa PROSES adalah hal yang sangat penting.

Jadi mana menurut anda yang lebih penting? Tentu terserah anda. Saya sendiri tidak berani mengatakan mana yang lebih penting oleh karena saya melihat bahwa kedua-duanya sama pentingnya. Walaupun dalam agama yang saya anut ‘katanya’ proses lebih penting daripada hasil. Di dalam ayat Al-Quran berikut ini dikatakan:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS 22:37)

Ada yang menafsirkan bahwa di dalam ayat ini dikatakan bahwa bukan hasil yang penting tetapi proses. Daging-daging korban melambangkan hasil sementara ketaqwaan melambangkan proses. Tetapi apa iya begitu maksudnya (tafsirannya)? Bagaimana ketika Nabi Ibrahim sudah menempelkan pisaunya ke leher anaknya, Ismail, namun tiba-tiba beliau tidak jadi menyembelih anaknya? Apakah Nabi Ibrahim lantas dikatakan belum bertaqwa kepadaNya? Bukankah Nabi Ibrahim sudah berusaha? Kalau yang dinilai semata-mata adalah proses, tentu tidak masalah apakah Nabi Ibrahim jadi menyembelih atau tidak. Nah, bagi anda yang membeli kaasstengel yang ternyata tidak enak, dan anda adalah orang yang sangat mementingkan proses, ya jangan mengeluh jikalau kaasstengel-nya nggak enak, salahnya sendiri kenapa membeli hasilnya, seharusnya anda menilai dan membeli proses pembuatan kaasstengel-nya, dan jangan menilai atau membeli kaasstengel-nya! :mrgreen:

Nah, sebagai penutup saya akan mengatakan menghimbau bahwasannya kegagalan bukanlah sesuatu kenaifan jikalau prosesnya sudah benar dan baik, namun yang merupakan kenaifan adalah jikalau anda gagal dalam mengidentifikasi kelemahan-kelemahan proses anda sendiri karena berlindung di balik kata-kata yang memabukkan: “yang penting prosesnya bukan hasilnya” sehingga anda gagal melihat hasil buruk yang anda capai selama ini.

__________________________

Artikel ini saya persembahkan untuk sahabat dekat saya dulu yang berinisial DP yang kini mengalami gangguan jiwa akibat kegagalan demi kegagalan dalam perjalanan hidupnya. Hal ini diperparah karena sang ibu terlalu overprotecting dan selalu membelanya dengan berkata: “Si D sudah berusaha dengan keras….”

Eid Mubarak

In Agama, Serba Serbi on Rabu, 1 Oktober 2008 at 5:00 am

Eid Mubarak (عيد مبارك)

Happy Eid

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Joyeuse fête de l’Aïd

Mutlu Bayramlar

Feliz Aid-ul-Fitr

Glückliches Eid

рады Антонимы