Kemiskinan dan Kebodohan

Sebenarnya artikel ini dibuat untuk “Blog Action Day 2008″ tanggal 15 lalu. Namun karena waktu itu belum kepikiran apa topiknya maka baru dibuat sekarang. Yah, biarin deh, better late than never kata orang malas.

Topik yang saya sodorkan untuk “Blog Action Day 2008″ yang sudah terlambat ini adalah mengenai kemiskinan dan kebodohan, dua keadaan yang sangat akrab satu sama lain. Sebenarnya pertanyaan klasik selalu menggema dari dua orang sahabat kemiskinan dan kebodohan ini. Pertanyaannya adalah: Miskin karena bodoh? Atau bodoh karena miskin? Mirip pertanyaan: Telur atau Ayam dulu?? Yang jelas jawabannya adalah kode genetiknya dulu. Begitu juga dengan kemiskinan dan kebodohan…. Mana dulu yang perlu diberantas?? Kemiskinannya dulu atau kebodohannya dulu??

Karena ini topiknya mengenai “Poverty” maka dengan sedikit paksaan lebih enaknya adalah arah pemberantasannya dari kebodohan menuju pemberantasan kemiskinan. Tentu arah begini juga tidak selamanya keliru karena dengan pemberantasan kebodohan kita dapat memberantas juga kemiskinan. Kebodohan adalah lawan daripada kecerdasan. Kecerdasan di sini tentu dalam arti yang luas. Kecerdasan di sini bukan hanya direpresentasikan dengan koleksi ijazah dari S1, S2 dan S3 dan es-es lainnya ataupun kecerdasan juga bukan hanya direpresentasikan dengan banyaknya buku yang dibaca ataupun rajinnya ia mengakses Internet sehingga ia menjadi kutu buku dan kutu LCD sehingga banyak informasi yang masuk ke kepalanya tetapi juga skill-skill lainnya dari pengalaman, skill dalam membentuk interpersonal skill dan juga membangun jaringan sosial yang dapat menguntungkan secara ekonomis ataupun skill-skill lainnya yang tidak ia dapatkan dari sekolah, buku ataupun internet. Di sini kecerdasan adalah mencerminkan semua kemampuan seorang individu dalam mengembangkan dirinya.

Ya…. saya tidak akan membahas banyak mengenai hal ini. Karena saya bukan seseorang yang ahli dalam mengembangkan kemampuan orang lain, jangankan kemampuan orang lain terkadang juga saya gagal untuk mengembangkan diri saya sendiri. Yang jelas saya percaya bahwa jikalau kebodohan bisa diminimalisasi maka Insya Allah kemiskinanpun bisa diminimalisasi. Menulis dan menuangkan ide memberantas kemiskinan lewat blog saja mungkin juga tidak banyak membantu dalam meminimalisasi kebodohan apalagi kemiskinan. Untuk itu kita perlu sedikit aksi dalam memberantas kebodohan. Aksi tersebut tidak perlu idealis dan kolosal dan juga tidak perlu diumumkan di dalam blog. Menyumbang buku-buku bekas yang masih layak pakai ke sekolah-sekolah yang masih kekurangan adalah langkah awal yang baik untuk memberantas kebodohan. Syukur-syukur anda yang kebanyakan PC di rumah, tidak ada salahnya menyumbang ke sekolah-sekolah yang membutuhkan (boleh juga ke keluarga pra-sejahtera, tetapi kemungkinan besar pasti di jual untuk menghasilkan uang, karena keluarga pra-sejahtera tidak terlalu membutuhkan PC…). Atau mungkin anda berminat menjadi orang tua asuh?? Wah…. sepertinya lebih baik lagi. Karena lebih baik kita memberikan pancingnya daripada ikannya kata orang bijak.

Anda mungkin dapat menemukan 1001 cara sederhana lainnya untuk memberantas kebodohan. Memberi sumbangan uangpun merupakan hal yang tidak buruk selama tidak salah sasaran dan juga tidak membuat orang menjadi malas. Yang jelas mari kita berbuat sesuatu, sekecil apapun, untuk mengusir kebodohan dari lingkungan kita.  Insya Allah sesuatu yang kecil dan tidak berarti jika kita lakukan serentak akan berarti besar bagi lingkungan kita.

Sebagai penutup, saya akan mencoba mengadakan survey dan sekaligus mencoba fasilitas Polldaddy yang baru diadakan oleh WP:

About these ads

33 responses to “Kemiskinan dan Kebodohan

  1. kenapa orang selalu mengakitkan kebodohan dengan kemiskinan yakz? padahal menurut sy secara implisit tidak terlalu berhubungan.
    Indonesia negara miskin, tetapi di dalamnya banyak yg pintar koq…
    misalnya saja ada yg miskin trus nyopet, wah diakan pinter, pinter nyopet sampe ngak diketahui orang. :D
    orang2 selalu melandaskan kesalahan kemiskinan karena kebodohan, padahal sebenarnya karena malas aja berusaha.
    trus orang2 juga selalu melandaskan kebodohan karena kemiskinan, yah lagi2 sebenarnya karena malas aja :D
    pintar tidak mesti kaya.
    kaya tidak mesti pintar :D

    *btw posting ini beneran posting apa cuman tes polling pak? hahahaha*

  2. negri yg sdm-nya rendah cenderung utk miskin, jarang negara yg sdm-nya bagus negaranya miskin….

  3. Sikap sudah merasa puas atau cukup juga bisa dipertimbangkan.
    saya pernah mendengar bahwa petani-petani di jawa tengah mengatakan cukuplah kalau bisa makan harian… seakan tidak ada pikiran untuk berusaha “lebih” dari orang lain. Atau dengan bahasa lainnya, rendah daya saingnya.
    Saya sendiri sering menemukan teman-teman wanita yang sudah merasa cukup dan tidak berusaha untuk lebih dari yang lainnya (lebih dalam arti positif ya)
    EM

  4. Menurut saya yang paling berperan adalah bakatnya Pak. Seperti kita tahu penghuni pertama negara kita adalah suku-suku yang terpinggirkan dari China sana. Jadi emang sudah bakat dari sananya miskin hehehe.
    Tapi bisa jadi kaya koq Pak, kaya di hati. Yang penting kita bisa menerima keadaan apapun sehingga ngga pernah merasa miskin. Meskipun saya PNS tapi alhamdulillah ngga pernah merasa kekurangan dengan gaji PNSnya, padahal kalo menurut standar dunia, gaji PNS itu masuk kategori miskin lho.

  5. MIskin tidak identik dengan bodoh, bodoh pun tidak identik dengan miskin.

    Banyak orang pintar, tapi miskin (harta, jiwa, dll). Banyak juga orang bodoh, tapi kaya (harta, jiwa, dll).

    Tapi emang sih, cenderungnya kemiskinan identik dengan kebodohan: orang miskin dianggap bodoh…

  6. hngg… susah juga yah? soalnya jaman sekarang ini kalo udah miskin susah jadi pinter, soalnya biar bisa pinter biayanya mahal. dan biar pada nggak miskin, kudu punya pekerjaan yang mapan dengan penghasilan yang memadai. tapi dengan banyaknya orang dan minimnya lapangan pekerjaan, susah banget segitu banyaknya pengangguran terserap. trus solusinya gimana yah? udah ndak bisa mikir nih, tapi udah ndak bisa ngarepin pemerintah juga…

  7. yups…
    persoalan yang seakan tak pernah ada habisnya.
    postingan yang “padat”, dan begitu perduli…
    semoga suatu saat para Blogger bisa berbuat sesuatu…

    Hmm,
    salam kenal yach :)

  8. Kebodohan faktor yang paling utama pak, maka dari itu langkah awal yang harus dilakukan pemerintah seharusnya adalah memberantas kebodohan, meningkatkan subsidi pendidikan sehingga masyarakat dari semua kalangan bisa merasakan pendidikan yang layak… dengan semakin pintarnya masyarakat Indonesia, insya allah Negeri ini akan maju dengan sendirinya… Majulah Terus Pendidikan Indonesia! :)

  9. Pada level individu atau kasus-per-kasus dapat ditemukan orang bodoh tapi tidak miskin dan orang yang tidak bodoh tapi miskin. Sebagai contoh warisan, menang loteri, tertinpa bencana dsb. Namun ini kasus-per-kasus dengan persentase sangat kecil.

    Pada level masyarakat atau bangsa, kebodohan memiliki peran yang besar dalam kemiskinan, negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin telah membuktikan sulitnya membangun SDM ini berakibat pada kemiskinan dan sebaliknya. Jika demikian maka terkait dengan sistem, kultur budaya, iklim, tradisi, ataupun mental. Ini terkait dengan kemamuran suatu masyarakat.

    Jadi pada level individu banyak ditemui orang bodoh tapi kaya. Namun pada level populasi atau bangsa, adakah yg tetap menyangkal bahwa Negara-negara yg lebih maju memiliki SDM lebih tinggi maka lebih makmur dibanding pada negara-negara yang miskin?

    Kesimpulan bahwa, saling pengaruh, kebodohan dapat mengakibatkan kemiskinan dan kemiskinan dapat mengakibatkan kebodohan.

  10. kemiskinan itu ada karena kebodohan :d

  11. Saya berpendapat bahwa pemerintahan yang buruk yang menimbulkan kemiskiranan. Karena tidak bisa menyelenggarkan pendidikan dengan baik dan benar dan tidak bisa menyelenggarakan sarana dan prasarana yang memadai untuk menggerakkan roda perekonomian. Ditambah korupsi dan kolusi serta nepotisme memperburuk keadaan. thanks

  12. Menurut saya sih blog bisa menjadi salah satu media untuk meminimalkan kebodohan dan kemiskinan. Setidaknya bagi para blogger yang memonetisasi blognya, misalnya lewat paid-review.
    Ia terus meng-upgrade kemampuan bahasa Inggris dan kemampuan menulisnya sambil mereview situs, produk atau jasa tertentu. (Tentunya, ia juga semakin bertambah ilmu karena sering blogwalking) Dan ia juga dibayar untuk itu. Bayarannya? Lumayan sekali… Makanya tidak aneh, apabila ada orang yang resign dari pekerjaan mapannya, demi menjadi seorang full time blogger :)

  13. Saya rasa sih, kebodohan dan kemiskinan itu paralel, tidak ada titik temunya…
    Sederhanyanya tidak berhubungan, banyak kok yang miskin tapi pintar, yang kaya tapi goblok juga tidak sedikit…

    Jadi ya, dua-duanya harus diperbaiki, baik dengan menggratiskan sekolah sekaligus dengan membuka lapangan kerja. Tampaknya masih pekerjaan sulit buat negeri ini…

  14. @aRuL

    Hmmm…. analisanya bukan begitu…. Indonesia memang banyak yang pintar tetapi yang bodoh juga jauh lebih banyak jumlahnya, itulah kenapa secara rata-rata Indonesia masih termasuk negara ‘miskin’. Jadi walaupun mungkin kasus per individu, pintar belum tentu kaya, juga kaya belum tentu pintar memang ada benarnya, namun secara umum kita perhatikan bahwa mereka yang pintar kebanyakan hidupnya tidak susah, walaupun mungkin tidak semewah hidupnya konglomerat. Di sini kaya didefinisikan sebagai “tidak hidup susah” namun bukan berarti “hidup bermewah-mewah”. Nah jadi kebodohan dan kemiskinan memang ada relevansinya….. O iya catatan: di sini pintar tentu adalah konotasi yang positif, bukan konotasi yang negatif seperti “mencuri” dan sebagainya……

    @AgusBin

    Yap… betul sekali bin… menandakan bahwa secara nasional “kebodohan” ada hubungannya dengan kemiskinan.

    @Ikkyu_san

    Betul sekali….. di sini sebagai bagian dari masyarakat dunia yang dinamis dan terus maju, memang sebenarnya kita harus terpacu untuk selalu berprestasi lebih minimal dari prestasi kemarin. Terims ya atas komennya. :)

    @Iwan Awaludin

    Memang…. di sini…. definisi “kaya” ada bermacam-macam. Dan betul “kaya” yang saya maksudkan dalam artikel di sini (lawan dari miskin) adalah terpenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang mana?? Itu juga relatif. Namun jikalau pak Iwan sudah punya koneksi ke Internet ini tentu (apalagi dalam standard Indonesia) pak Iwan diasumsikan sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya dan tidak bisa dikatakan miskin lagi.

    @mathematicse

    Miskin yang dimaksudkan dalam “Blog Action Day” ini tentu adalah miskin harta. bukan miskin jiwa. Lagian miskin jiwa itu seperti apa sih?? Ada yang bisa ngukur? :mrgreen:

    Kalau orang pintar…. walaupun hidupnya tidak mewah seperti konglomerat.. namun rata-rata hidupnya sudah jauh dari sebutan miskin. Kalau kang Jupri misalnya sudah menikmati pendidikan tinggi dan banyak menikmati fasilitas2 lain dari tempat kang Jupri kerja seperti Internet, kesehatan dan lain sebagainya… tentu kang Jupri dan teman2 kang Jupri tidak bisa disebut miskin lagi. Kecuali kalau standard kang Jupri akan kaya adalah punya mobil sepuluh atau punya kapal pesiar pribadi, ya itu adalah standard individu. Huehehe…… Tetapi mungkin dalam satu dua kasus memang ada orang pintar yang sangat melarat, itu juga harus dilihat apakah ia memang benar2 pintar atau hanya pintar karena punya ijazah aja….. ya gitu deh…. :mrgreen:

    @khofia

    Mungkin minimal kita harus menciptakan suasana yang kondusif agar banyak investor asing masuk…. dengan begitu lebih banyak terbuka lapangan kerja. Tetapi terkadang kita sendiri tidak berusaha, jangankan menjadi lebih pintar (dengan modal seadanya juga bisa jadi pintar walaupun mungkin lebih baik jika modalnya besar), terkadang kita juga tidak mau menjadi lebih kondusif…. :(

    @rahmadisrijanto

    Salam kenal juga…. terims ya telah mampir di blogku…. :)

    @parvian

    Betul sekali…. memajukan pendidikan adalah kunci bukan saja untuk meningkatkan kesejahteraan tetapi juga untuk modal pembangunan bangsa yang paling berharga….. :)

    @laporan

    Ya… ini adalah komentar yang jitu….. memang kita harus melihatnya dari skala nasional, dan jangan terperangkap oleh kasus-kasus atau fenomena-fenomena individu bahwasannya ada orang bodoh yang kaya atau sebaliknya yang justru akan menyesatkan pandangan seseorang bahwasannya kebodohan tidak ada hubungannya dengan kemiskinan. Padahal memberantas kebodohan adalah hal yang paling ampuh untuk memberantas kemiskinan. Masalahnya adalah bagaimana kita memulainya?? Dan bagaimana cara terampuh memberantas kebodohan dalam kultur masyarakat kita?? Apakah kita telah melakukannya dengan benar?? Dsb….

    @zoel

    Yup… betul sekali…. :)

    @yulism

    Betul mbak Yuli…. pemerintahan yang buruk dan tidak efektif juga dapat memperparah masalah kebodohan dan kemiskinan ini, namun kayaknya masyarakat kita sendiri harus sadar dan peduli bahwa dengan meningkatkan kemampuannya sendiri juga dapat ikut mengeradikasi kemiskinan. Masalahnya tidak semua rakyat kita sadar akan hal itu…… :)

    @Ratna

    Memang betul…… tetapi itu teknis individual untuk mengurangi kemiskinan. Namun tentu paid-review bukan jalan umum yang bisa dipakai rakyat miskin untuk mengurangi kemiskinan atau kebodohan secara instan. Tetapi memang kalau mau ada 1001 cara lain sebagai jalan untuk mengurangi kebodohan dan kemiskinan. Mudah2an masing2 orang dapat melihat jalannya sendiri-sendiri…… :)

    @ardianto

    Memang kalau dilihat kasus individu ada juga orang kaya tapi bloon juga orang miskin tapi pintar. Namun tentu harus dilihat pula definisi kaya dan pintar pada masing-masing kasus. Selain itu secara nasional, kebodohan dan kemiskinan tetap ada hubungannya. Jadi kita jangan terkecoh oleh kasus-kasus individual……..

  15. Yap betul pak, intinya PENDIDIKAN, harusnya PENDIDIKAN itu bagian yang paling penting untuk KEMAJUAN bangsa, PENDIDIKAN DASAR di Indonesia ini masih tergolong PARAH! tapi Universitasnya keren2…. nah lo kok bisa coba….

  16. Perlu kita ketahui bahwa SDM (manusia) yang ada di negeri kita ini kemampuannya sama dengan SDM yang ada di negara manapun. Buktinya, SDM kita mampu bersaing dalam berbagai Olimpiade Sains seperti Matematika, Fisika, dll.
    Perlu kita ketahui bahwa SDM yang ada di negeri kita ini sama tekunnya dengan SDM yang ada di negara manapun. Buktinya, banyak SDM kita mulai bekerja giat (menambang, bertani, berdagang, melaut, dll) sebelum matahari terbit, dll.
    Tetapi, mengapa masyarakat di negeri kita masih tetap miskin dan bodoh?
    Jawabannya adalah karena penerapan sistem yang rusak dan pemerintah yang cenderung mengutamakan kepentingan mereka sendiri.

    Beberapa langkah yang bisa diambil untuk menanggulanginya antara lain:

    1. Pemerintah dan masyarakat yang mampu bisa memberikan training atau penyuluhan untuk mengembangkan tingkat ketakwaan dan pola berfikir masyarakat. Selain menjaga moral mayarakat, hal ini juga mampu menjadikan masyarakat membedakan yang benar, yang salah, serta mengambil solusi terbaik yang akan mereka pilih.
    2. Pemerintah dan rakyat yang mampu bisa bekerja sama untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat yang tidak mampu secara cuma-cuma. Jika perlu, bisa diberikan umpan -seperti konsumsi gratis kepada peserta yang hadir- untuk menarik minat masyarakat.
    3. Pemerintah dan rakyat yang mampu bisa bekerja sama untuk pengobatan gratis kepada masyarakat miskin yang tidak mampu berobat. Dengan demikian, kualitas kesehatan masyarakat bisa terjamin.
    4. Pemerintah dan rakyat yang mampu bisa memberikan modal usaha secara cuma-cuma kepada rakyat yang ingin memulai usaha sendiri. Dengan demikian, masyarakat akan terbantu dan tidak terbebani hutang, sehingga bisa bekerja dengan lebih semangat.
    5. Pemerintah bisa membuat lembaga-lembaga khusus untuk mengakomodasi dan memberikan bantuan kepada para pengusaha (masyarakat yang telah diberi pendidikan dan pelatihan tadi) mulai dari tahap penyediaan peralatan, proses produksi, hingga tahap pemasaran. Misal: paguyuban nelayan, peternak, pengrajin, dll, sehingga masyarakat bisa bekerja lebih semangat dan terhindar dari tipuan tengkulak.
    6. Pemerintah bisa mempekerjakan para pengusaha (rakyat yang telah diberi pendidikan dan pelatihan tadi) pada sektor-sektor usaha industri yang ada. Selain bisa menyerap tenaga kerja yang berasal dari negeri kita sendiri, kita bisa mengurangi ketergantungan kepada pihak (pekerja) asing.
    7. Pemerintah bisa menasionalisasikan (membeli) semua perusahaan swasta yang ada di negeri ini dan menggunakannya untuk kepentingan rakyat. Selain bisa membuat negeri kita menjadi lebih mandiri, hal ini juga bisa mengurangi kerugian akibat eksploitasi pihak asing yang tidak sepadan dengan manfaat yang diterima masyarakat.
    8. Pemerintah harus menutup praktik-praktik usaha yang bisa merusak moral dan produktivitas seperti bisnis pelacuran, pornografi, minuman keras, perjudian, dll. Hal ini tentu membuat masyarakat menjadi lebih tentram dan bekerja lebih giat.

    Semoga dengan demikian, kebodohan dan kemiskinan yang ada di kurangi dan dihilangkan. Terima kasih.

    Aku hanyalah setitik debu dalam gugusan bintang yang mencoba untuk memberi sinar di dalam kegelapan.
    Aku hanyalah setetes air dalam telaga luas yang mencoba untuk memberi kesejukan di kala kekeringan.
    Aku hanyalah seorang musyafir dalam keramaian yang mencoba memberi pertolongan di saat kesulitan.

    Akidah, for the best way…
    Akhlak, for the best step…
    Syariah, for the best life…

  17. Titik tolak dari kaya dan miskin adalah kemakmuran, dan kemakmuran diukur dari pendapatan per kapita. Pendapatan perkapita ada dua, yaitu pendapatan bersih dan pendapatan kotor (sebelum dikonversi dengan tingkat inflasi dsb). Jadi betul tidak ada hubungannya dengan kaya-miskin hati :mrgreen:

    Soal bagaimana memberantas kebodohan, itu saya sendiri juga pusing. Apakah para camat, bupati, gubernur, kabinet SBY-Kalla, politikus, cendekiawan, dan rohaniawan sudah memikirkannya? :mrgreen:

  18. kemiskinan tdk selalu diakibatkan kebodohan
    sebab orng miskin pun kl diajak diskusi
    ternyata punya wawasan luas soal
    politik dan tntng tetek bengek kehidupan
    kemiskinan lbh disebabkan minimnya peluang kerja

  19. wah, senyawa dengan tulisan saya untuk partisipasi yang sama, mas yari.
    bedanya saya membuat dalam bentuk fiksi berjudul ananda, mas yari menuliskannya dalam bentuk artikel.

    miskin dan bodoh memiliki hubungan sebab akibat yang membentuk mata rantai tak terputus, vicious cycle. adapun faktor-faktor yang berkontribusi dalam lingkaran setan itu termasuk opsi-opsi yang disebutkan dalam polling di atas.

  20. Sepertinya hubungan antara miskin->bodoh dengan bodoh->miskin, lebih rumit dari pertanyaan: Telur atau Ayam dulu??
    menurut saya (yang bodoh dan miskin ini), Miskin karena bodoh itu lebih disebabkan karena faktor internal (Kecuali kita sepakat ada orang yg ditakdirkan untuk menjadi miskin dan ada yg ditakdirkan kaya raya). Dalam kenyataan, kita sering temui banyak orang yang tidak cerdas dalam hal akademis (karena mereka tidak pernah mengenyam pendidikan formal) justru kaya, dan bahkan punya anak buah orang-orang cerdas. Ini berarti bodohnya orang bukanlah menjadi sebab dari miskinnya orang.
    Kemudian bodoh karena miskin itu adalah dikarenakan sebab eksternal. Misalnya orang-orang miskin yang tidak mampu bersekolah karena biaya pendidikan (Spp, uang buku, uang fasilitas dll) sedemikian tinggi. Bila biaya yang tinggi menjadi penghalang mendapatkan pendidikan yg bermutu (dan itu terjadi dengan kesadaran bahkan kesengajaan dari penguasa). Sesungguhnya di sinilah permasalahan itu terjadi. Di sinilah pemiskinan itu terjadi. Pemiskinan itu bersifat artificial. Orang sengaja dimiskinkan dengan dibuat menjadibodoh (dengan cara dihalangi mendapatkan pendidikan bermutu). Dan Pembodohan dan pemiskinan semacam inilah yang harus menjadi konsen kita. Lawan!
    ————-
    P.s: konteks kecerdasan dalam komen saya terbatas pada orang-orang mengikuti pendidikan formal.
    Ya, saya sepakat dengan anda bahwa kecerdasan itu harus dipahami dalam konteks yang lebih luas.
    Btw, Kecerdasan (sebagai anonim kebodohan) tidak bisa menjadi sebab orang menjadi kaya. Kecerdasan itu hanya memberikan KESEMPATAN orang untuk menuju pada kekayaan. Entah mereka sampai atau tidak pada kekayaan itu, ada faktor-faktor lain yg harus diperhatikan. Ya, mungkin sesungguhnya faktor malas itulah yang membuat negeri yang maha kaya ini menjadi miskin.
    –salam saya untuk Mas.
    Minal aidin wal faidzin :D

  21. Blogwalking Sambil Nyari Kenalan
    Salam Dari duitptc.info
    Btw, I Vote Kebodohan

  22. kalau untuk polling saya milih pemerintahan yang kurang bagus…

  23. Setuju, kemiskinan dan kebodohan tak ubahnya saling melengkapi, saling terkait. Membaca komentar-komentar yang telah ada menunjukkan bahwa banyak yang telah memahami persoalan ini. Dari wacana mesti diterjemahkan dengan aksi. Satu aksi yang paling mungkin dilaksanakan adalah pemberdayaan zakat secara maksimal untuk memberantas kebodohan, dan mulailah dari kaum perempuan dan anak-anak. Mengapa? Karena lewat perempuanlah pendidikan pertama kali dikenalkan pada anak-anak.

  24. Saya ambil kalimat kuncinya Pak … Untuk itu kita perlu sedikit aksi dalam memberantas kebodohan

  25. @qzplx

    Universitasnya keren2 memang….. tapinya nggak terakses merata ke seluruh rakyat Indonesia….. :(

    @dir88gun

    Terima kasih atas poin2 sarannya. Namun menurut saya nasionalisasi juga belum tentu dapat mensejahterakan rakyat kita. Kenapa?? Jikalau pada akhirnya perusahaan2 asing yang dinasionalisasikan itu menjadi ladang empuk para koruptor di pemerintahan, hasilnya malah lebih parah lagi…. :(

    @laporan

    Huehehe…. mungkin maksudnya kaya hati di sini adalah kerelaan kita untuk membantu sesamanya yang kurang mampu dan tepat sasaran. Di mana2pun juga begitu termasuk di negara maju. Tetapi memang kaya miskin hati tidak bisa dibuat mengukur tingkat kemakmuran suatu masyarakat :mrgreen:

    @mikekono

    Untuk membuat orang menjadi “pintar” tentu harus punya kekhususan tersendiri. Jikalau sudah ramai atau banyak orang pandai berbicara soal politik, maka berarti pandai berbicara politik saja bukan lagi ukuran seseorang pandai atau tidak. Sama seperti ketrampilan berbahasa Inggris misalnya, di Indonesia, orang yang pandai berbahasa Inggris dianggap mempunyai “kehususan” karena orang yang pandai berbahasa Inggris yang baik di tanah air ini masih RELATIF sedikit. Namun tentu pandai berbahasa Inggris di Amerika Serikat bukan sesuatu hal yang ‘istimewa’ lagi.

    Jadi secara nasional kepandaian tetap berhubungan dengan kemakmuran.

    @marshmallow

    Memang ya mbak…. kadang2 paling frustasi jikalau harus memutuskan sebuah vicious circle…. :(

    @Mas2saja

    Justru itu…. yang kita raih adalah kesempatan itu…. bukan langsung kekayaannya sendiri…. dengan kesempatan yang semakin besar tentu secara statistik juga akan memperbesar tingkat kemakmuran. Dan memang sudah terbukti bahwa negara2 dengan mutu SDM yang tinggi tingkat kemakmurannya jauh lebih tinggi dibandingkan negara2 yang hanya mengandalkan kekayaan sumberdaya alamnya saja.

    Lagipula apakah kecerdasan berhubungan dengan kekayaan atau tidak, bangsa kita haruslah cerdas agar terangkat harga dirinya. Jangan seperti banyak negara2 Timur Tengah yang hanya mengandalkan kekayaan minyaknya saja sedangkan mereka mau menggali minyaknya sendiri saja perlu kepakaran dan teknologi dari negara2 barat, kalau nggak mana bisa mereka menggali minyaknya sendiri…..

    @f474r

    Terima kasih atas vote-nya ya….. Dan salam kenal juga. :)

    @ardianto

    Oke deh….. terims ya atas votingnya…. :)

    @Yoga

    Hmmm… betul sekali mbak Yoga….. tetapi tidak sedapnya, mudah2an saya salah ya, dengar2 dana yang terkumpul dari zakat diputar dulu, tidak langsung dipakai. Apakah ada manfaatnya seperti itu ya?? Ah… nggak tahu deh…. mudah2an tidak seperti itu ya.

    Dan memang perempuan sebagai palang utama dalam memberikan pendidikan di rumah, walaupun beberapa rumah tangga modern juga menempatkan bapak2nya sebagai palang utama dalam memberikan pendidikan di rumah…. :mrgreen:

    @Ersis Warmansyah Abbas

    Siip deh pak…. :)

  26. Menurut saya kemiskinan itu tidak ada hubungannya dengan kebodohan. Orang yang miskin belum tentu karena dia bodoh, dan orang yang bodoh belum tentu akan miskin.
    Btw, saya sudah ikutan vote, Pak.

  27. kemiskinan dan kebodohan adalah lebih mendekatkan kepada kekafiran.
    sementara kaya dan cerdas lebih mendekatkan kepada keimanan…..

  28. gapapalah.. meskipun miskin yang penting sombong
    **gubrrakk**

  29. … miskin, bodoh, jahat, sombong… lhah, ini kan lahan-lahannya orang yang pengen masuk surga. Kalau diberantas, nanti masuk surga perlu kredit poin yang susah dicari…he…he. Biar kita bisa masuk surga, bantu yg tadi diubah menjadi kaya, pintar, baik, rendah hati. Caranya? Biarlah perbuatan kita yang menjawabnya. Kalau semua orang bekerja menurut tugasnya masing2, sebagian besar musuh itu akan berkurang. Insya Allah. Wassalam. Titik.

  30. @Edi Psw

    Kalau dilihat kasus individu, memang sih banyak kasus2 di mana orang kaya tetapi tidak pintar begitu pula sebaliknya. Tetapi kita harus melihatnya secara umum bahwasannya kecerdasan ada hubungannya dengan kemakmuran. Namun jangan diartikan sebagai semakin cerdas pasti semakin kaya, ya bukan begitu. Melihatnya mungkin harus seperti ini: kulit putih pada wanita secara umum membuat si wanita menjadi lebih cantik tetapi bukan berarti kalau dia putih berarti dia cantik kan? apalagi kalau putihnya panuan dan juga bukan berarti kalau hitam dia tidak cantik kan??

    Nah… kita harus melihatnya dengan cara seperti itu…..

    @Alex

    Wah… setuju sekali bang Alex…… :)

    @gunawanwe

    Ooo….untung bukan kebalik…… biarin sombong yang penting miskin! :mrgreen:

    @kajiankomunikasi

    Sayangnya tidak semua orang bisa bekerja menurut tugasnya masing2 dan juga tidak selamanya tugas yang dijalaninya lancar2 saja. Terkadang dalam suatu masyarakat harus ada timbal balik saling menolong, interreaksi dan hal-hal lainnya yang kompleks dan tidak sederhana….. :)

  31. artikel yang sangat menarik…
    kunjungi blog saya, baca dan analisa secara seksama dengan pikiran yang positif..
    jangan ambil keputusan sebelum menganalisanya.
    saya berharap kita dapat meraih kemapanan finansial bersama.
    amin

    ________________

    Yari NK replies:

    Amin. Terima kasih atas infonya. Segera akan meluncur ke blog anda. :)

  32. Saya melihatnya dari budaya malas…karena saya dari kota kecil, dan banyak dari temanku yang sangat miskin (sayapun termasuk kategori miskin dibanding teman kuliahku yang lain)…tapi dengan kerja keras dan berusaha terus, maka akan terkikislah kebodohan dan bisa mencari jalan keluar. Temanku ada yang sekolah dan sorenya kerja di toko, atau jualan rokok dan permen dikala temannya yng cukup kaya bisa nonton bioskop…tahu nggak, setelah sekian puluh tahun kemudian, teman-teman yang miskin dan kerja sambil sekolah itu malah yang jadi orang dan berhasil. Jadi yang perlu dikikis adalah perasaan bodoh, dan menyerah….jadi harus berusaha keras.

    _________________________

    Yari NK replies:

    Betul bu, working harder dan juga working smarter yang terkadang juga berarti bekerja lebih kreatif, akan selalu memberantas kebodohan yang pada akhirnya akan memberantas kemiskinan. Terims bu, atas komennya. :)

  33. Mentalitet, Pak Yari. Budaya produktif tidak terbangun secara koletif. Padahal produktivitas membentuk karakter individu. Karaker manusia. Karakter koletif sebuah bangsa.

    _____________________________

    Yari NK replies:

    Atau memang mentalitas bangsa kita yang perlu dipacu?? Saya jadi ingat mentalitas bangsa kita…. buat apa belajar, toh negara kita negara yang kaya sumberdaya alam….. kita jual aja tuh sumberdaya alam…. mengalir tuh duit….. nyatanya??? Ah…. memang kita perlu merubah mentalitas bangsa kita (mulai dari diri sendiri dan orang2 terdekat) mulai dari hal2 yang mendasar secara radikal…. :(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s