Arsip Bulanan: Desember 2008

Es Kering dan Vostok

Es kering atau biang es yang merupakan CO<sub>2</sub> padat.

Es kering atau biang es yang merupakan CO2 padat.

Stasiun Vostok di Antartika milik Rusia
Stasiun Vostok di Antartika milik Rusia

Suatu ketika (lupa persisnya kapan karena sudah lama terjadinya) di dalam kereta api ekspres Parahyangan dari Bandung ke Jakarta, seorang petugas KA menawarkan es krim kepada penumpangnya. Es krim tersebut dijajakan di atas sebuah nampan yang banyak terdapat es keringnya. Salah satu dari dua orang wanita remaja yang agak centil yang duduk dua bangku di depan kursiku sambil cekakak cekikik meminta beberapa es kering (atau ada juga yang menyebutnya biang es atau dry ice) dari petugas KA tersebut dan lalu memasukannya ke dalam minumannya. Mungkin karena tidak tahu apa sebenarnya dry ice itu, si perempuan tersebut terheran-heran melihat minumannya berbuih seperti soda. Sambil tetap cekakak cekikik ia bertanya kepada temannya di sebelah: “Ini minuman, masih bisa diminum nggak ya??”.  Temannya di sebelahnya nampaknya juga kurang faham dan hanya cekakak cekikik juga.

Sebenarnya tentu saja minuman tersebut masih dapat diminum dan tidak beracun. Karena es kering sebenarnya adalah CO2 atau karbon dioksida yang terkondensasi menjadi bentuk padat. Pada pembuatan es kering di pabriknya, CO2 yang normalnya pada suhu ruangan dan pada tekanan 1 atmosfir berbentuk gas, didinginkan dan diberi tekanan yang besar agar dapat menjadi benda padat (menjadi dry ice). Es kering ini tentu saja aman jikalau dimasukkan ke dalam minuman, asal es keringnya sendiri jangan ikut tertelan dan usahakan es kering tersebut jangan menyentuh bibir. Kenapa? Jikalau anda pernah memegang es kering ini tentu tangan anda akan merasakan sakit (cold burn), itu karena panas di tangan kita diserap dengan cepatnya oleh es kering tersebut. Jadi kemungkinannya jikalau es kering tersebut terkena bibir, apalagi tertelan,  maka bibir dan bagian dalam badan  anda juga dapat merasakan cold burn tersebut. Nah, es kering yang berada di minuman anda sebenarnya dapat memberikan buih dan kesegaran mirip Coca-Cola minuman berkarbonasi. CO2 yang terdapat dalam air akan berubah menjadi asam karbonat (H2CO3) yang lemah dan tidak stabil yang kemudian berubah lagi menjadi air dan CO2 yang menghasilkan efek buih dan sensasi kesegaran yang mirip minuman Coca-Cola berkarbonasi.

Untuk memadatkan CO2 dari bentuk gas, memerlukan suhu yang luar biasa dingin. Pada tekanan normal 1 atmosfir, suhu rendah untuk memadatkan CO2 adalah -78,5°C (-109,3°F). Freezer pada lemari es kita di rumah tidak cukup dingin untuk memadatkan CO2. Pada tekanan normal 1 atmosfir, CO2 tidak mengalami fase cair. Jadi jikalau es kering (CO2 padat) tersebut dihangatkan pada suhu kamar atau normal maka ia akan langsung berubah dari bentuk padat ke bentuk gas. Oleh sebab itulah CO2 padat ini disebut es kering, karena jikalau pada es biasa es mencair pada suhu kamar, maka es kering langsung menguap menjadi gas tanpa harus mencair sehingga tempat di sekitarnya menjadi tetap kering. Itulah sebabnya petugas KA tersebut menjajakan es krim di atas nampan dengan menggunakan es kering agar karton cup es krim tetap kering dan juga kertas pembungkus es loli juga tetap kering sehingga tidak akan merusak es krim di dalamnya.

Omong-omong tentang suhu rendah -78,5 °C untuk membuat es kering ini, ada nggak ya, tempat alamiah di bumi ini yang dinginnya mencapai suhu tersebut? Jawabannya: Ada! Tepatnya di daerah Stasiun Vostok di Antartika (dekat Kutub Selatan). Konon suhu terendah resmi yang pernah dicatat di daerah ini adalah sedingin -89,2 °C (-128,6°F) yang dicatat pada tanggal 21 Juli 1983.  Stasiun Vostok ini adalah milik Rusia (dulu: Uni Soviet) yang ironisnya justru didirikan di daerah bagian Antartika yang diklaim oleh Australia. Dengan suhu yang dingin ekstrimnya, stasiun ini memang sangat ideal untuk berbagai percobaan dan pengamatan ilmiah. Dan sejak perang dingin usai, banyak ilmuwan-ilmuwan dari negara-negara lain, terutama dari negara-negara barat yang ikut nimbrung melakukan penelitian dan pengamatan di stasiun ini. Suhu di kawasan ini memang sangat ekstrim dinginnya, bahkan suhu terpanas yang pernah tercatat di daerah ini adalah ‘hanya’ -12,2 °C (10,4 °F) yang tercatat pada bulan Januari 2002. Suhu tersebut kira-kira sama dinginnya dengan freezer pada lemari es anda di rumah.

Sekarang anda bayangkan betapa dinginnya -89,2 °C itu. Jika ada freezer yang sedingin itu, maka jika anda ingin membuat es, es anda akan langsung jadi dan tidak usah menunggu lama. Bahkan jikalau anda membawa secangkir kopi hangat di udara Vostok yang superdingin tersebut, dan anda melempar air kopi tersebut ke udara, maka sebelum air kopi tersebut jatuh ke tanah, air kopi tersebut telah membeku jadi es duluan! Dan jikalau anda berada di udara superdingin seperti di Vostok tersebut, usahakan jangan ada bagian kulit anda secuilpun yang terbuka. Karena kontak antara kulit dan udara yang sangat dingin tersebut beresiko bagi anda untuk terserang cold burn ataupun frostbite.

Nah, sekian dulu artikel saya mengenai sedikit tentang suhu-suhu yang ekstrim dingin. Ingat -78,5 °C  (titik sublimasi CO2) dan -89,2 °C itu masih jauh di atas titik nol absolut yang disebut dengan 0 K (nol kelvin). 0 K ini setara dengan -273,15 °C.  Pada suhu ini, molekul-molekul suatu benda bergerak sangat lambat sehingga energi molekularnya tidak cukup untuk dapat memindahkan panas atau energinya kepada sistem atau benda lain.

Catatan:

Untuk skala Kelvin yang benar penulisannya adalah 0 K bukan 0 °K. Jadi yang benar sebutannya adalah nol kelvin dan bukan nol derajad Kelvin. (Hati-hati: yang benar nol kelvin dan bukan nol Kelvin, pakai huruf besar). Suhu kamar 25 °C setara dengan 298,15 K (dua ratus sembilan puluh delapan koma lima belas kelvin).

Negeri Kita Terlalu Banyak Hari Libur?

calendar-pieceJumat, 26 Desember 2008. Pukul 04.17 pagi. Azan Shubuh berkumandang dari jam dinding digitalku yang sudah setahun ini selalu otomatis mengumandangkan azan 5 kali sehari di kamarku. Kemarin itu entah kenapa, kok rasanya sedikit malas beranjak dari tempat tidur. Apalagi temperatur di kamarku setiap pagi sangat sejuk sekitar 25oC. Pagi ini (27/12) malah sedikit lebih sejuk lagi, 24,80C. Ditambah lagi, seperti biasa, setiap mau lebaran dan akhir-akhir tahun seperti ini adalah hari-hari yang penuh “kemalasan”. Dalam akhir tahun ini saja (ditambah awal tahun) ada 3 hari libur resmi yaitu: tanggal 25 Desember (Natal), Tahun Baru Hijriyah 29 Desember ditambah tahun baru 1 Januari. Belum lagi ditambah “Hari Kecepit Nasional” tanggal 2 Januari yang akhirnya dinobatkan sebagai Hari Cuti Bersama! (Ada-ada aja!)

Mengenai “Hari Kecepit Nasional” ini, orang Indonesia paling “jago” deh. Apalagi jikalau kecepit dengan akhir pekan. Udah deh, sudah bisa dipastikan akan ada “Hari Kecepit Nasional”. Tetapi kalau ada hari libur yang diapit oleh dua hari kerja, nggak pernah akan terjadi “Hari Kecepit Nasional”. Ya iyalah, kalau hari libur yang dijepit hari kerja lantas batal menjadi hari libur, maka hampir keseluruhan hari libur batal jadi hari libur dong! Huehehe…… :D

Pertanyaannya adalah: Apakah waktu sehari (yang terjepit hari libur dan akhir pekan tersebut) tidak signifikan untuk dijadikan hari yang produktif? Paling parah pada saat akan Lebaran, udah selama Ramadhan waktu kerja dikurangi, cuti bersamanya juga wow lumayan lamanya! Ya, kalau yang puasa! Kalau yang nggak puasa?? Udah puasa batal melulu, libur lebarannya paling lama! Jadi sepertinya jikalau hari libur nasional ditambah hari cuti bersama digabungkan sepertinya negara kita ini mungkin adalah negara terbanyak hari liburnya!

Jadi bagaimana bagusnya ya? Apa hari libur di negeri kita ini harus dikurangi? Menurut saya, hari-hari besar agama Islam yang patut dijadikan hari libur paling2 Idul Fitri dan Idul Adha. Kalau yang agama Kristiani barangkali ‘Christ’s Ascension Day’ nggak begitu perlu kali ya? Atau….. mungkin kita mengurangi hari-hari libur keagamaan tersebut dan menggantikannya dengan hari libur-hari libur nasional seperti Hari Pahlawan dan sebagainya? Agar semangat ke-Indonesiaan kita semakin mantap!! Ya… sama aja bohong dong! Itu sih sama aja gali lubang tutup lubang alias tetap aja hari liburnya banyak!

Ya udah deh….. mungkin jalan terbaiknya untuk saat ini adalah kita manfaatkan hari-hari non-libur kita dengan produktivitas semaksimal mungkin baik kuantitas ataupun kualitasnya. Jangan sampai, sudah hari libur nasional dan hari cuti bersamanya banyak, eh pas hari kerjanya juga banyak yang produktivitasnya tidak maksimal. Kalau rakyatnya malas, ya jangan heran deh kalau kita melihat wakil rakyat kita di DPR sono malas juga. Bukankah DPR itu adalah wakil rakyat juga? Jadinya…. kemalasan DPR adalah cermin kemalasan rakyatnya juga! Huehehehe……… :D

“Keanehan” Seorang Wong Cilik……

Postingan ini berdasarkan kisah nyata, tetapi nama-nama pelaku disamarkan untuk menghormati privacy yang bersangkutan. Artikel ini bercerita mengenai seorang tukang bubur ayam dan keluarganya yang sebenarnya bubur ayamnya lumayan enak, karena itu jikalau ada kesempatan di hari Minggu pagi, jikalau saya dan keluarga berjalan-jalan ke Gasibu (yang di hari Minggu sangat ramai), saya sering menyempatkan diri mampir di tukang bubur ayam tersebut sekaligus sarapan, walaupun tidak setiap minggu. Tetapi postingan ini bukan untuk menceritakan bubur ayam dagangannya tetapi untuk menceritakan cara si tukang bubur tersebut “mendidik” anaknya yang menurut saya sangat “lucu” dan “aneh” sekaligus menyebalkan. Begini ceritanya…….

Si mang bubur ayam ini sebenarnya setiap hari berjualan di dekat sebuah bank pemerintah dekat ITB. Namun setiap hari minggu, bersama istrinya, si mang bubur ini berjualan di Gasibu karena lebih ramai di sana. Untuk itu setiap hari Minggu si mang bubur dan istrinya dengan susah payah mendorong gerobak bubur yang cukup berat itu dari rumahnya ke lapangan Gasibu yang jaraknya lumayan jauh itu sejak dini hari pukul 3.30. Mungkin karena kerja kerasnya ini, si mang bubur boleh dikatakan cukup berhasil setidaknya diukur dari barometer seorang tukang bubur. Ia berhasil menyekolahkan anak2nya dengan baik. Bahkan anak tertuanya, laki-laki, sudah kuliah di STBA di Jalan Cihampelas jurusan Bahasa Inggris. Namun sayang sepertinya keberhasilannya secara ekonomi, tidak diikuti dengan keberhasilan si mang bubur ‘mendidik’ anak-anaknya. Kenapa?

Nah, hal tersebut berkaitan dengan anak laki-lakinya yang kuliah di STBA tersebut. Suatu hari saya bertanya: “Kenapa anak laki-lakinya yang kuliah di STBA tidak pernah membantu orang tuanya berjualan? Minimal kenapa sang anak lelaki tidak pernah membantu orang tuanya mendorong gerobak bubur?”. Dengan polos jujur si mang bubur menjawab bahwa anaknya malu ikut berjualan bubur apalagi jikalau hal tersebut diketahui oleh teman-teman kampusnya. Saya sampai bengong saja mendengar jawaban tersebut. Dan saya lebih bengong lagi ketika orang tuanya setuju dengan alasan si anak dan membiarkan anaknya berleha-leha dan tidak perlu membantu orang tuanya berjualan bubur.

Bukan itu saja. Si anak juga dibelikan Nokia N81 yang cukup mahal walaupun barang seken. Padahal orangtuanya cukup ber-HP Esia yang harganya ‘hanya’ ratusan ribu. Mula-mula aku nggak mau berburuk sangka dulu. Aku hanya berfikir pasti si anak sangat istimewa, minimal mungkin prestasinya di kampus luar biasa. Ya, jikalau si anak benar ‘istimewa’, tidak heran jikalau orang tua memanjakan anaknya seperti itu walau dengan alasan yang kurang masuk akal.

Namun bagaimana kenyataannya? Di hari Minggu, dua minggu yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengan sang anak di Gasibu yang sangat terpaksa menemani sang ayah berjualan di Gasibu karena istri mang bubur tengah ada keperluan keluarga. Itupun si anak duduknya berjauhan dengan ayahnya yang berjualan bubur sambil memainkan HP-nya yang canggih tersebut.

“Oh ini anaknya toh……” fikirku dalam hati. Lalu aku dekati sang anak. Karena ia sekolah di STBA jurusan Bahasa Inggris, lalu aku mengajaknya berbicara dalam Bahasa Inggris. Ternyata dia cuma bengong saja tidak mengerti dan dijawab dengan satu dua kata dalam Bahasa Inggris dasar. Aku terkejut dan ‘kecewa’ karena ternyata sang anak sama sekali tidak istimewa dalam studinya. Setelah ‘diselidiki’ lebih lanjut ternyata diapun masih sangat kesulitan dalam mengerti tata bahasa dasar Bahasa Inggris.

Aku semakin tidak habis berfikir. Ini anak sudah “bego”, gengsinya tinggi, materé (materialistis) pula! Andaikan “bego” ya nggak apa-apa, tetapi ya jangan gengsinya tinggi ataupun materé. Atau gengsi tinggi dan materé boleh-boleh aja, tapi prestasinya minimal di kampus bisa dibanggakan. Jangan kebobrokan diborong semua! Saya sadar, bahwa mang bubur dan istrinya tidak berpendidikan tinggi, mungkin karena itulah mereka tidak bisa “mendidik” anaknya dengan baik. Tapi apa iya sih, mendidik anak supaya minimal berbakti kepada orang tua membutuhkan orang tua yang berpendidikan tinggi? Nggak tahu deh…….!

Bagaimana Membiasakan Diri dengan Satuan Pengukuran “Asing”?

Thermometer digital

Thermometer digital

Di dunia ini ada dua macam sistem pengukuran yang dipakai luas yaitu: sistem pengkuruan metrik yang berasal dari Perancis serta sistem pengukuran imperial yang berasal dari Inggris. Sistem pengukuran metrik kini hampir merajai seluruh dunia termasuk penggunaannya di negeri kita ini. Sedangkan sistem pengukuran imperial sudah ‘terdesak’ penggunaannya. Satu-satunya negara besar yang masih menggunakan sistem imperial ini secara luas adalah Amerika Serikat. Negara-negara lain yang masih menggunakan sistem imperial ini secara luas adalah: Belize (di Amerika Tengah), beberapa negara di laut Karibia bekas jajahan Inggris, Myanmar di Asia serta Liberia di Afrika. Sistem metrik seperti yang kita kenal menggunakan satuan kilometer, meter, sentimeter dan milimeter (ukuran panjang dan tinggi). Kilogram, gram, miligram (ukuran berat), liter, mililiter (ukuran isi) serta oC (ukuran temperatur). Sedangkan sistem imperial menggunakan mil, yard, kaki, inci (ukuran panjang dan tinggi), pon dan ounce (ukuran berat). Galon, fl. oz., quart, pint (ukuran isi dan kapasitas) serta oF (ukuran temperatur).

Walaupun penggunaan sistem imperial masih sangat meluas di Amerika Serikat, namun sejak 2008 ini AS telah resmi mengadopsi satuan metrik sebagai satuan resmi yang dipakai. Sedangkan di negara asalnya Inggris, sistem imperial sendiri sudah lama ‘terdesak’ oleh sistem metrik sebagai konsekuensi bergabungnya Inggris ke dalam Uni Eropa walaupun ada sekelompok masyarakat fanatik di Inggris yang masih mencoba mempertahankan tradisi penggunaan sistem imperial ini. Saya banyak menemui orang Amerika (baik secara offline maupun secara online) yang masih merasa sulit untuk beradaptasi dengan sistem pengukuran metrik yang dianggapnya masih “asing” ini. Sebenarnya mengkonversi antara sistem metrik dan sistem imperial ini sangat mudah, apalagi dengan adanya program-program konversi  untuk PC ataupun untuk ponsel lewat aplikasi J2ME-nya. Namun karena justru terasa mudahnya, orang malah “terjebak”. Mereka hanya pintar mengkonversikan saja tetapi tetap tidak terbiasa dengan sistem pengukuran ‘asing’ tersebut. Nah, yang disebut ‘terbiasa’ di sini adalah bukan dengan jalan mengkonversikannya namun dengan membayangkan berapa panasnya suatu suhu tanpa mengkonversikannya. Contohnya adalah mereka dapat mengetahui secara langsung tanpa menghitungnya/mengkonversikannya seberapa panasnya sih 26oC itu, ataupun seberapa panasnya sih 85oC itu. Sama halnya dengan kita yang terbiasa dengan skala Celsius, kalau kita bisa membayangkan berapa panasnya 76oF atau 160oF tanpa harus mengkonversikannya ke skala Celsius, maka itu berarti kita sudah terbiasa dengan skala Fahrenheit yang merupakan satuan ukuran imperial.

Lantas bagaimana caranya agar kita ‘terbiasa’ dengan satuan ukuran yang ‘asing’ bagi kita? Pepatah “alah bisa karena biasa” adalah quote yang ampuh untuk diikuti dalam kasus ini. Nah, bagaimana untuk menjadi biasa? Mari kita ambil dua contoh berikut ini:

Contoh dalam pengukuran tinggi badan atau jarak:

Misalkan kita ingin pergi dan menetap lama di Amerika Serikat, lantas kita ingin membiasakan diri kita dengan sistem imperial ini. Apa yang harus kita lakukan? Misalnya anda mendapatkan informasi bahwa teman anda orang Amerika mempunyai tinggi badan six-foot-four (enam kaki dan empat inci). Untuk mengetahui berapa tingginya tentu kita tinggal mengkonversikannya saja ke dalam sentimeter, beres! Namun untuk membuat anda terbiasa dengan satuan kaki dan inci, sebaiknya anda tidak melakukan hal tersebut. Yang anda lakukan tentu saja membandingkannya dengan obyek lain! Pertama-tama ukurlah badan anda sendiri dengan menggunakan satuan kaki dan inci. Misalkan ternyata tinggi anda adalah five-foot-ten (lima kaki dan sepuluh inci), maka kini anda mulai dapat membayangkan seberapa tingginya teman anda yang six-foot-four itu. Setelah anda mengukur diri anda sendiri, anda kini dapat mengukur tinggi adik, kakak dan teman-teman anda dengan satuan kaki dan inci. Dan jangan pernah sekali-sekali mengkonversikannya ke dalam sentimeter. Semakin banyak anda melakukan sampling, akan semakin terbiasa anda. Nah, sekarang anda dapat membayangkan berapa tinggi badan six-foot-four tersebut dengan mengukur tinggi badan anda sendiri dan juga tinggi badan teman-teman anda. Jikalau perlu, ukurlah tinggi badan teman-teman anda secara variasi. Ukurlah tinggi teman anda yang sangat jangkung dan yang sangat pendek. Semakin bervariasi semakin akan mudah anda untuk terbiasa dengan sistem pengukuran ‘asing’ ini.

Contoh dalam pengukuran temperatur:

Misalkan anda mendapatkan informasi lain bahwa temperatur udara di tempat tinggal teman anda di Amerika Serikat saat ini adalah 45oF. Untuk mengetahui berapa panas atau dinginnya temperatur atau suhu tempat tinggal teman anda tersebut anda tinggal mengkonversikannya ke dalam oC, beres! Namun untuk membiasakan diri anda sebaiknya tidak melakukan konversi tersebut. Untuk membiasakan diri, anda sebaiknya membandingkannya dengan temperatur di tempat-tempat lain atau temperatur obyek-obyek lain. Anda dapat memulai dengan mengukur suhu di tempat anda tinggal. Misalkan suhu di tempat anda adalah 79oF. Nah, kini anda dapat mulai membayangkan seberapa dingin suhu tempat tinggal teman anda. Untuk lebih bisa membayangkannya lagi, ukurlah suhu di dalam lemari es anda dan juga suhu di dalam freezer lemari es anda. Bacalah suhunya dalam oF dan jangan sekali-sekali anda membaca skala oC-nya. Sehingga anda akan terbiasa. Lalu ukurlah suhu air mendidih yang baru dimasak dan bacalah suhunya dalam oF. Ukur juga suhu air tersebut setelah 15 menit dan baca suhunya juga dalam derajad Fahrenheit. Lalu anda dapat mengukur juga suhu badan anda sendiri dan sebagainya. Untuk membantu anda membiasakan diri dengan derajad Fahrenheit ini ukurlah suhu-suhu yang ekstrim baik yang sangat panas ataupun yang sangat dingin. Dengan mengukur suhu-suhu yang ekstrim akan sangat membantu anda untuk membiasakan diri dengan satuan suhu yang masih terasa ‘asing’ bagi anda.

Nah, sekarang apa kesimpulan yang dapat ditarik?
Mudah saja: Untuk memudahkan anda membiasakan diri dengan satuan-satuan pengukuran yang masih ‘asing’ ukurlah sebanyak-banyaknya benda (baik dimensinya, beratnya, suhunya, dan sebagainya) dengan satuan pengukuran yang ‘asing’ tersebut dan jikalau bisa ukurlah benda-benda yang dimensinya ekstrim seperti: yang tinggi sekali, yang pendek sekali, yang panas sekali, yang dingin sekali, yang berat sekali, yang ringan sekali dan sebagainya. Dan kalau bisa, jangan anda sekali-sekali mengkonversikannya ke dalam satuan yang biasa anda pakai. Dengan begitu, saya yakin lama-kelamaan anda akan terbiasa…..

Antara Keanu Reeves dan Komodo

Keanu Reeves sebagai Klaatu dalam "The Day The Earth Stood Still"

Keanu Reeves sebagai Klaatu dalam "The Day The Earth Stood Still"

Beberapa malam yang lalu, saya menyempatkan diri untuk menonton film “The Day The Earth Stood Still” bersama keluarga. Film yang merupakan remake dari film dengan judul serupa yang dibuat tahun 1951 ini, memang sudah lama saya tunggu-tunggu sejak terdengar kabar akan beredarnya film tersebut. Walaupun terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan dengan film aslinya di tahun 1951 ini, film remake tahun 2008 ini tentu saja lebih menawan dari segi grafis dan efeknya dari film aslinya yang dibuat lebih dari 50 tahun yang lalu. Dan yang penting buat saya, film science-fiction ini mempunyai cerita yang cukup menawan dan tidak hanya melulu menampilkan adegan-adegan pertempuran dogfight antara pesawat-pesawat ruang angkasa canggih seperti film science-fiction murahan.

Film yang dibintangi oleh Keanu Reeves ini bercerita tentang kedatangan makhluk asing (alien) di dalam sebuah bola (sphere) angkasa. Dari bola tersebut muncul seorang alien yang bernama Klaatu (Keanu Reeves) dan robot raksasa yang dinamakan GORT. Misi yang dilakukan oleh Klaatu ini adalah untuk menyelamatkan planet Bumi dari kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia. Untuk itu semua sampel spesies binatang-binatang dikumpulkan oleh bola-bola angkasa yang bertebaran di seluruh dunia sementara umat manusia yang membuat kerusakan akan dimusnahkan. Mirip seperti cerita nabi Nuh modern………..
Komodo

Komodo

Malam kemarin, saya juga menonton The Killer Dragon di National Geotraphic Channel, sebuah program dokumenter ilmiah. Film ini menceritakan tentang keberadaan komodo di Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur. Yang paling menyedihkan dari Komodo ini adalah bahwa habitat binatang reptil ini mulai terancam. Hal ini disebabkan karena populasi manusia yang meningkat yang bakalan mendesak habitat reptil ini, serta manusia yang ikut berburu rusa yang menjadi makanan utama komodo ini. Sehingga banyak komodo yang tidak kebagian rusa. Akhirnya komodo tersebut memangsa binatang-binatang yang lebih kecil dan juga serangga-serangga. Hal ini ternyata cukup berpengaruh kepada kesuburan komodo yang pada akhirnya tentu akan mengancam populasi reptil ini.

Komodo adalah binatang pemakan daging yang tidak jarang memangsa bangsanya sendiri dan juga anak-anaknya sendiri alias kanibal. Air liur komodo yang selalu keluar menjuntai dari mulut reptil ini mengandung ribuan bakteria yang sangat beracun. Mangsa yang digigit reptil ini biasanya akhirnya akan mati walaupun dapat lepas dari cengkraman si komodo. Begitu pula dengan manusia yang digigit komodo akan dapat berakibat fatal jika tidak ditangani cepat secara medis.
Namun yang mengagumkan adalah, ketika ada dua komodo saling berkelahi, sampai berdarah-darah, namun anehnya komodo yang luka-luka akibat gigitan komodo lain tidak akan terpengaruh oleh racun yang ada di air liur komodo tersebut! Para ahli memperhatikan benar hal tersebut. Para ahli tersebut kemudian mengambil sampel darah komodo tersebut. Mereka mempunyai dugaan bahwa di dalam darah komodo terdapat zat antibiotik yang sangat kuat sehingga dapat menangkal dan membunuh bakteri-bakteri beracun tersebut. Di laboratorium para ahli kemudian mengisolasi semua protein yang berada di sampel darah komodo tersebut. Mereka mencoba terus untuk mengidentifikasi protein-protein yang dapat berfungsi sebagai antibiotik tersebut. Mungkin dari darah komodo tersebut dapat dihasilkan antibiotik yang sangat berguna bagi keselamatan umat manusia kelak……. Itulah gunanya kenapa kita harus menyelamatkan komodo (dan tentunya juga binatang-binatang lain) karena dari sini kita dapat mengambil manfaatnya.
Dari tulisan di atas dapat diambil dua kesimpulan:
  1. Setiap spesies di muka bumi ini memang seharusnya dilindungi dan tidak dirusak habitatnya. Karena jika habitat sebuah spesies dirusak oleh kita maka yang rugi pada akhirnya adalah manusia juga. Setiap kerusakan di muka bumi ini yang merasakan ruginya akhirnya manusia juga.
  2. Naluri seorang ilmuwan yang bertanya dari kejadian-kejadian alam yang sederhana dapat menghasilkan sesuatu yang berharga bagi umat manusia. Mungkin jikalau kita melihat komodo berantem yang pertama kali ada di benak kita adalah: “Wah… serunya!” atau “Wah… sadisnya!” atau “Wah… kasihan komodo yang kalah!” dan sebagainya. Namun jikalau naluri seorang  ilmuwan akan memperhatikan sesuatu yang berbeda yang mungkin ‘tidak terlihat’ oleh orang awam. Seperti contoh di atas ketika melihat komodo berantem, seorang ilmuwan akan berfikir dan bertanya: “Kenapa si Komodo tidak mati teracuni oleh bakteria dari air liur lawannya?” Sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin dari pertanyaan tersebut kelak akan dapat dihasilkan sesuatu yang dapat mensejahterakan umat manusia…..

Paradoks Pendidikan?

Sebenarnya topik ini sudah lama melekat dalam benak saya, namun entah kenapa topik ini selalu ‘kalah’ dengan topik-topik lain yang ada di kepala saya sehingga baru kali ini topik ini saya tampilkan. Sebenarnya di luar dunia maya, hal ini sudah beberapa kali saya tanyakan namun jawaban-jawaban yang ada belum cukup memuaskan saya, untuk itu kali ini saya akan menampilkan topik ini untuk postingan hari ini…….

Paradoks pendidikan apa yang ada di dalam benak saya sehingga saya tampilkan pada sebuah artikel? Begini: Dari beberapa media massa yang saya baca dan juga dari beberapa blog yang saya baca di blogsfer ini, pendidikan di negeri kita ini masih ‘menitikberatkan’ pada penggunaan otak kiri dibandingkan otak kanan. Otak kiri berfungsi dalam hal analisa, matematika, tulisan, bahasa, dan logika. Sedangkan otak kanan berfungsi dalam hal khayalan, kreativitas, seni bentuk, grafis dan musik. Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi di negeri ini yang katanya pendidikan kita masih berorientasi pada ‘otak kiri’.

Terlepas dari sudahnya kita mencetak juara-juara olimpiade fisika, tetapi kita lihat dunia sains dan teknologi kita masih jauh dibandingkan negara-negara maju. Sudah berapa orangkah dari ilmuwan-ilmuwan kita yang mendapatkan hadiah Nobel di bidang Fisika, Kimia ataupun Kedokteran? Sudah mampukah kita memproduksi produk-produk canggih? Hmm…. nyatanya termometer batang alkoholpun kita masih impor dari China! Sebaliknya, coba lihat kesenian-kesenian kita. Seniman-seniman kita minimal lebih ‘berprestasi’ dibandingkan dengan ilmuwan-ilmuwan kita. Lihat seniman-seniman kita seperti Afandi, Raden Saleh dan juga pematung-pematung dari Bali (yang saya lupa namanya siapa hehehe….) mereka lebih terkenal di tingkat dunia daripada ilmuwan-ilmuwan kita. Di bidang seni musik? Saya rasa juga cukup berjaya. Dengar saja, lagu-lagu kita saat ini sebenarnya nggak kalah bagusnya dengan lagu-lagu luar negeri, bahkan lagu-lagu kita sangat digemari di negeri jiran……..

Lantas fenomena apa ini? Kenapa bidang-bidang otak kanan yang tidak mendapatkan tempat di pendidikan kita justru lebih berjaya? Apakah bangsa kita sebenarnya pintar dalam menggunakan otak kanannya? Tetapi kenapa tidak maju-maju juga? Apakah itu berarti bukti bahwa bangsa yang hanya menggunakan otak kanannya tidak bisa maju? Alias untuk maju sebuah bangsa harus bisa menggunakan kedua belah otaknya??

Saya ingat, dulu tahun 1980an ketika IPTN (dulu namanya Nurtanio deh kalau nggak salah, benar nggak?) memproduksi pesawat CN-235 yang bekerjasama dengan pabrik pesawat Casa di Spanyol, orang banyak yang mencibir: “Ah, paling-paling Indonesia cuma mengerjakan desain interiornya saja. Kalau mesinnya paling-paling masih dari luar (Spanyol) dan kita paling cuma merakitnya aja!”. Ya, kalau desain interior (termasuk juga desain grafis) yang menggunakan kreativitas seni, kita semua yakin bahwa kita sudah mampu. Tapi, kalau sudah yang mencakup teknologi tinggi yang menggunakan logika dan perhitungan yang super rumit?? Nanti dulu deh….. untuk saat ini hanya bisa dilakukan di luar negeri !! Begitu pula dengan arsitektur. Kita yakin, kita sudah bisa mendesain gedung-gedung yang indah, dan juga gedung-gedung yang mungkin lebih tinggi dari Burj Dubai. Tetapi nanti pelaksanaannya di lapangan?? Apalagi kalau bikin gedung yang tingginya lebih dari Burj Dubai yang butuh perhitungan khusus dan pemilihan material2 yang tepat, perhitungan aerodinamika dan tetek bengek lainnya yang rumit….. eh jatuhnya ke kontraktor asing juga!!

Nah, ada apa gerangan?? Kenapa katanya pendidikan kita yang lebih berorientasi kepada otak kiri namun ternyata bangsa kita tetap lebih sulit berkompetisi dengan otak kirinya?? Kenapa justru kita bisa bersaing dengan otak kanan kita walaupun otak kanan kita agak dianaktirikan dalam pendidikan kita?? :)

Simpanse Lebih Pintar Dari Manusia Dalam Menghafal !!

Simpanse bernama Ayumu sedang ditest...

Simpanse bernama Ayumu sedang ditest...

Sejak dahulu dipercaya bahwa spesies yang bernama Homo sapiens selalu unggul segala-galanya dari spesies-spesies lainnya di muka bumi ini dalam hal kognitif dan fungsi-fungsi otak.  Namun satu gelar kognitif kini telah terbukti  berpindah tangan dari manusia ke sebuah spesies yang sangat dekat dengan manusa yaitu: simpanse!, lewat serangkaian percobaan atau test yang dilakukan oleh profesor Tetsuro Matsuzawa dari Institut Riset Primata Universitas Kyoto, Jepang. Profesor Matsuzawa adalah seorang primatolog terkenal yang banyak mengeksplorasi kemampuan-kemampuan simpanse yang hingga kini masih misteri.

Seperti yang pernah dikisahkan pada acara Human Ape yang disiarkan oleh National Geographic Channel, profesor Matsuzawa berhasil membuktikan bahwa simpanse lebih unggul dari manusia dalam menghafal! Percobaan apa yang dilakukan profesor Matsuzawa terdapat simpanse-simpanse tersebut?

Profesor Tetsuro Matsuzawa

Profesor Tetsuro Matsuzawa

Profesor Matsuzawa mempersiapkan tiga pasang induk simpanse dan anak-anaknya yang akan diadu melawan sembilan mahasiswa universitas untuk diadu dalam hal menghafal! ! Caranya adalah di layar komputer akan muncul angka-angka yang letaknya acak seperti gambar di atas selama beberapa detik saja. Simpanse-simpanse dan mahasiswa-mahasiswa tersebut hanya diberi kesempatan beberapa detik untuk menghafalkan letak angka-angka tersebut. Lantas angka-angka tersebut segera berganti menjadi kotak-kotak hitam yang menyembunyikan angka-angka tersebut. Lalu lewat layar sentuh komputer, simpanse-simpanse dan mahasiswa-mahasiswa tersebut disuruh menemukan angka-angka yang berurutan satu hingga sembilan seakurat mungkin dan secepat mungkin. Tentu saja sebelumnya simpanse-simpanse tersebut telah diajarkan angka 1 sampai 9 secara berurutan.

Hasilnya?? Sungguh fantastis!! Simpanse-simpanse tersebut ternyata berhasil menemukan angka-angka di balik kotak-kotak hitam tersebut secara tepat dan hanya butuh waktu sekitar dua detik saja untuk membuka seluruh kotak-kotak tersebut. Sedangkan mahasiswa-mahasiswa tersebut butuh waktu jauh lebih lama dibandingkan simpanse-simpanse tersebut dan itupun banyak salahnya pula. Lebih mengagumkan lagi ketika susunan angka-angka tersebut diacak kembali dan kali ini simpanse-simpanse tersebut hanya diberi waktu 210 milidetik  atau  kira-kira sama dengan \frac{1}{5} detik untuk menghafal letak angka-angka tersebut di layar!! Bayangkan! Hanya seperlima detik! Hasilnya?? Tidak berpengaruh!! Simpanse-simpanse tersebut tetap bisa menemukan urutan-urutan angka yang tersembunyi di layar tersebut dengan tepat dan dengan kecepatan yang mengagumkan dan tidak akan pernah bisa disaingi oleh mahasiswa-mahasiswa saingannya dalam test tersebut !!

Apa yang disimpulkan Profesor Matsuzawa dari percobaannya tersebut? Profesor Matsuzawa mengatakan bahwa kemampuan luar biasa simpanse dalam menghafal tersebut erat hubungannya dengan kehidupan liarnya di alam bebas. Kemampuan menghafal ini berguna bagi simpanse untuk menghafal jumlah musuh atau rival mereka dan di tempat-tempat mana saja mereka berada dan suka bersembunyi di semak-semak. Kemampuan menghafal yang luar biasa ini juga berguna ketika simpanse harus menghafal di mana-mana saja terdapat buah-buahan yang matang. Juga simpanse-simpanse harus dapat menghafal mana tempat-tempat makanan yang sering didatangi simpanse jantan yang dominan (biasanya simpanse terkuat pemimpin grup) karena simpanse-simpanse lain tidak boleh makan buah-buahan yang berada di dekat simpanse jantan yang dominan tersebut.

Profesor Matsuzawa juga mengatakan bahwa kemampuan menghafal cepat manusia ini sudah lama sekali menghilang karena tempatnya sudah digantikan oleh sebuah fungsi yang jauh lebih berguna dibandingkan hanya sekedar menghafal yaitu fungsi linguistik atau bahasa. Bagi manusia, fungsi ini jauh lebih penting bagi manusia dibandingkan hanya sekedar kemampuan menghafal, karena dengan bahasa yang kompleks, manusia bisa berkomunikasi secara lebih efektif dibandingkan bahasa simpanse yang relatif sederhana. Bukan itu saja, fungsi bahasa ini juga penting untuk mewariskan ilmu pengetahuan yang sudah kita pelajari untuk generasi penerus kita secara efektif dan efisien. Karena  komunikasi dan pewarisan ilmu pengetahuan kepada anak cucu kita secara efektif dan efisien adalah sebuah faktor penting kenapa spesies Homo sapiens ini dapat mendominasi planet ini hingga kini……..

Nah sekarang, adakah keunggulan-keunggulan ‘kerabat kita terdekat’ ini lainnya daripada manusia yang belum kita ketahui? Walahualam….. yang jelas adalah tugas manusia untuk menyelidiki dan mempelajari hal-hal seperti ini. Karena kalau kita ogah belajar, maka kita jadi lebih mirip dengan simpanse….!! Siapa tahu kalau simpanse diajari ngeblog dia bisa bikin blog yang lebih canggih daripada rata-rata blogger manusia…!! :mrgreen: