

testosteron, hormon seks pria

estradiol, hormon seks wanita


testosteron, hormon seks pria

estradiol, hormon seks wanita

Siklus / Evolusi Matahari. Kata "Now" berwarna biru menunjukkan posisi matahari kita saat ini.
Untuk postingan kali ini saya akan menampilkan tulisan yang “agak sedikit lain”. Bukan karena saya kehabisan topik namun memang sengaja saya pilih tema yang sedikit berbumbu humor garing. Banyak orang beranggapan bahwa humor selalu berkaitan dengan sesuatu yang ‘inferior’ dan tidak bermutu. Tapi jangan salah loh, humour can be a serious business. Banyak perusahaan tempat kita bekerja juga lebih menghargai orang-orang yang mempunyai rasa humor tinggi dibandingkan orang-orang yang flat. Humor tidak identik dengan ‘orang-orang bodoh’ ataupun sesuatu yang berguna untuk menutupi kebodohan seseorang. Justru humor dapat menambah pesona orang-orang yang cerdas dan yang pasti menambah warna-warninya karakter seseorang. Tentu saja humorpun ada batasnya dan harus dilaksakan tepat pada waktunya dan tempatnya agar humor dapat mengenai sasaran. Humorpun dapat menjadi ajang latihan kreativitas otak kita dengan menciptakan humor-humor kita sendiri ataupun memodifikasi humor-humor yang pernah kita dengar. Untuk itu jangan ragu-ragu, mari kita kembangkan rasa humor kita walaupun mungkin rasa humor kita rasanya garing bagi orang lain, yang penting pédé aja lagi…..
Nah, untuk mengembangkan rasa humor saya yang mungkin garing untuk anda, saya sudah memilih suatu tema yaitu tentang setan dan saudara-saudaranya. Ya, karena ini topik yang seharusnya berselera humor maka setanpun tidak menjadi seram bahkan malah akan dijadikan plesedtan! Nah, mudah-mudahan anda terhibur dengan setan plesetan ini! Kalau tidak, emang gue pikirin…..
Pertanyaan (P): Kutil apa yang yatim piatu??
Jawaban (J): Kutilanak karena nggak ada kutilbapak ataupun kutilibu
P: Hantu apa yang sering basah??
J: Handtuk Mandi!!
P: Tuyul apa yang selalu diperingati setiap tahun??
J: “Happy Birthday TUYUL…. Happy Birthday TUYUL…..” ♪ ♫ ♪ ♫
P: Setan apa yang paling wangi??
J: Setangkai Bunga Mawar………
P: Jika anda ingin cantik, bagian manakah dari tubuh anda yang harus disihir??
J: Rambut anda! Jikalau rambut anda disishir tentu anda akan lebih terlihat rapih dan cantik….
P: Why is the skeleton too sad to go to a party??
J: Because he has NOBODY to go with….
P: Why doesn’t Dracula have any friends??
J: Because he is a pain in the neck!!
P: Why were they so scary during full moon??
J: Because they werewolves!!
P: Kenapa setan dan anjing kalau ketemu bisa bikin orang marah??
J: “Setan lu anjing !!”. (Coba bilang kata-kata itu pada orang yang lewat di dekat anda. Pasti dia marah!!)
P: Setan apa yang bisa bikin orang basah??
J: Setttttan!! (Huruf ‘t’-nya harus diucapkan dengan semangat dan mantap sehingga ludah anda akan muncrat dan membasahi lawan bicara anda…..)
P: Setan apa yang bisa bikin orang pingsan??
J: Setaaaaaaaaaahn!! (Huruf ‘a’-nya harus diucapkan panjang dan dekat dengan lawan bicara anda, kalau perlu anda jangan sikat gigi dulu selama tiga bulan dan sebelumnya makanlah petai atau jengkol. Nah, kalau lawan bicara anda belum pingsan juga dapat ditambah dengan tonjokan!!) <—– yang terakhir ini agak kampungan maksa khas Indonesia!!
Nah, anda mau menambah setan-setan plesetan yang lain??

logo FIFA
Suatu hari di pagi hari, di TV One (entah lupa nama acaranya) saya tak sengaja menonton acara talk show mengenai keseriusan PSSI untuk menjadi kandidat tuan rumah piala dunia FIFA tahun 2022. Dan memang PSSI atau Indonesia dalam hal ini memang serius karena menurut orang nomor satu di PSSI Nurdin Halid yang diwawancarai mengatakan bahwa Indonesia akan maju terus untuk menjadi tuan rumah piala dunia FIFA tahun 2022. Tema yang akan diusung PSSI untuk piala dunia 2002 ini sebenarnya sangat indah yaitu “Green World Cup” atau Piala Dunia Hijau. Tentu saja dari tema ini diharapkan bahwa piala dunia tahun 2022 (jikalau Indonesia menjadi tuan rumah) akan merupakan piala dunia yang ramah lingkungan yang dapat memberikan sesuatu bagi planet ini. Namun kenyataannya benarkah peluang Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia seindah tema piala dunia tahun 2022 yang diajukan PSSI??
Tahun 2007, FIFA mengganti peraturan rotasi atau perputaran tuan rumah piala dunia. Sebelumnya, piala dunia selalu digilir selang seling antara negara-negara Eropa dan negara-negara non-Eropa. Agar perputaran lebih merata maka sejak 2007 FIFA merubah peraturan perputaran atau penggiliran tuan rumah piala dunia. Negara-negara yang boleh mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia tidak boleh berasal dari benua yang sama dengan negara-negara yang sudah menjadi tuan rumah piala dunia sebelumnya dan yang sebelumnya lagi. Contoh: Jerman sudah menjadi penyelenggara Piala Dunia 2006 lalu, maka seluruh negara-negara Eropa dilarang mendaftar menjadi calon tuan rumah piala dunia 2010 dan 2014. Afrika Selatan yang menjadi tuan rumah piala dunia 2010, maka seluruh negara-negara Afrika dilarang mendaftar menjadi calon tuan rumah piala dunia 2014 dan 2018. Sedangkan Brasil yang akan menjadi tuan rumah piala dunia 2014, menjadikan seluruh negara-negara Amerika Selatan dilarang untuk mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia 2018 dan 2022. Begitu seterusnya.
Nah, Indonesia sebenarnya boleh mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia tahun 2018 atau 2022. Namun, Indonesia berkonsentrasi pada penyelenggaraan tuan rumah piala dunia 2022. Kenapa? Karena Indonesia merasa bahwa penyelenggaraan piala dunia 2018 akan diambil oleh negara-negara Eropa. Nah, jika salah satu negara Eropa terpilih menjadi tuan rumah piala dunia 2018, maka seluruh negara-negara Eropa dilarang untuk mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia 2022 (dan 2026). Jadi kesempatan Indonesia untuk menang lebih besar dalam piala dunia 2022. Seperti kita ketahui bersama, adalah sulit untuk bersaing dengan negara-negara Eropa yang mempunyai dana yang banyak, infrastruktur yang kelas dunia serta prestasi kesebelasan-kesebelasannya yang kelas dunia pula. Negara-negara Eropa yang bakal bersaing untuk memperbutkan tuan rumah piala dunia 2018 adalah: Inggris, Rusia, Belanda-Belgia ( calon tuan rumah bersama) dan Spanyol-Portugal (calon tuan rumah bersama). Sedangkan negara-negara di luar benua Eropa yang berani bersaing untuk tuan rumah piala dunia 2018 adalah Amerika Serikat dan Australia. Sementara Jepang dan Korea yang pernah menjadi tuan rumah piala dunia 2002 dan ingin menjadi tuan rumah piala dunia lagi ternyata cukup grogi juga melakukan persaingan dengan negara-negara Eropa dan kemungkinan juga akan berkonsentrasi bersaing menjadi tuan rumah piala dunia 2022 menjadi saingan Indonesia. Kita doakan saja mudah-mudahan negara Eropalah yang menang menjadi tuan rumah piala dunia 2018. Sebab jikalau Amerika Serikat yang menang terpilih, maka kemungkinan besar negara-negara Eropa akan mendaftar lagi untuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022. Ini tentu saja akan semakin mengecilkan peluang Indonesia untuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022. Bagaimana kalau Australia yang terpilih?? Lebih parah lagi!! Sebab jikalau Australia yang terpilih menjadi tuan rumah piala dunia 2018, maka Indonesia dan negara-negara Asia lainnya dilarang untuk mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia 2022 dan 2026, karena kini Australia merupakan bagian dari Asia menurut FIFA karena Australia adalah anggota AFC (Asian Football Confederation).
Sebenarnya apa sih keistimewaan Indonesia sehingga berani menawarkan diri sebagai calon tuan rumah piala dunia 2022?? Prestasi tidak begitu bagus, prasarana juga menyedihkan. Stadion yang punya video layar lebar saja baru stadion Gelora Bung Karno di Jakarta dan Stadion Palaran di Samarinda. Stadion Jaka Baring di Palembang sepertinya papan skor elektroniknya tidak bisa dibuat menampilkan gambar video layar lebar. Sedangkan Stadion Si Jalak Harupat di Bandung, papan skor elektroniknya masih primitif seperti papan skor elektronik tahun 1970an!! Padahal video layar lebar hanya sebagian saja dari persyaratan atau standard FIFA agar dapat menjadi stadion penyelenggara piala dunia. Hal-hal lain seperti tempat duduk, ruang ganti dan tempat penjualan tiket juga harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar dapat memenuhi standard FIFA. Lantas apa dong keistimewaan Indonesia?? Walaupun Indonesia berencana membangun stadion- stadion baru bertaraf FIFA dan juga memugar stadion-stadion lama menjadi stadion bertaraf FIFA di kota-kota Medan, (pulau) Batam, Palembang, Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Samarinda, Makassar dan Bali namun ‘daya tarik’ Indonesia agar dilirik FIFA menjadi tuan rumah piala dunia 2022 adalah karena atmosfir sepakbola Indonesia yang menurut FIFA adalah salah satu yang tertinggi/tarbaik di dunia, dan juga saat ini sebenarnya Indonesia sudah punya satu stadion yang sudah jadi yang sudah memenuhi syarat FIFA untuk menjadi stadion penyelenggara acara pembukaan dan final piala dunia yaitu stadion Gelora Bung Karno. Walau begitu, tentu saja hanya dengan “daya tarik” seperti itu saja tidak akan menjamin Indonesia terpilih menjadi tuan rumah piala dunia 2022. Walaupun kemungkinan besar negara-negara Eropa dilarang untuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022, namun saingan-saingan kita lainnya tetap berat seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang dan Korea. Bagaimana menurut anda peluang Indonesia? Apakah anda bangga atau pesimis??
She’s a real look…
She’s my heart my inspiration…
Lucky is the man who find the child of love….
Bagi sebagian anda yang sudah lahir dan sudah remaja pada awal tahun 1980an tentu masih ingat lagu manis “Lady Valentine” yang dibawakan oleh David Gates ini. Lagu yang temanya sangat nyerempet dengan hari Valentine ini memang mempunyai irama lagu yang cukup romantis dan saya senang mendengarkannya sampai sekarang. Walaupun saya senang dengan lagu ini, namun bukan berarti saya setiap tahun ikut-ikutan merayakan hari Valentine. Hal tersebut bukan karena dengan alasan basi “kasih sayang itu harus setiap hari bukannya pada hari Valentine saja!” ataupun bukan juga dengan alasan simpang siurnya fatwa haram tidaknya bagi kaum Muslimin yang merayakan Valentine, karena apakah haram atau tidak, tidak berpengaruh bagi saya karena saya juga tidak akan merayakan Valentine!
Tidak perlu lagi saya menjelaskan asal-usul hari Valentine, karena anda bisa mendapatkannya dengan mudah di dunia maya ini. Hanya saja perlu diketahui bahwasannya sebelum abad ke-14 tidak ada unsur cinta (romance) di dalam Hari Valentine ini. Walaupun pada awalnya hari raya ini erat hubungannya dengan gereja Katolik Roma, tetapi menurut informasi yang saya dapat dari Wikipedia, tahun 1969 gereja Katolik Roma sendiri sudah mencoret hari Valentine ini sebagai hari libur/besar keagamaan dan sejak itu hari libur ini tidak lebih dari sekedar hari libur atau hari besar nasional. Alasan dari pencoretan itu adalah sebenarnya kisah si Valentine itu sendiri sangat sedikit diketahui. Ketika pada abad ke-14 unsur cinta diperkenalkan pada Hari Valentine ini, sebenarnya unsur cinta tersebut adalah cinta antara sepasang kekasih (antara laki-laki dan perempuan). Namun lucunya entah kenapa di Indonesia ini banyak yang membengkokan hari kasih sayang ini sebagai hari kasih sayang terhadap sesama manusia bukan hanya antara sepasang kekasih! Ini menurut saya jadinya cukup menggelikan. Sudah kita bisanya hanya ikut-ikutan tetapi dalam ikut-ikutanpun kita tidak becus mengetahui makna aslinya!! Mungkin agar hari Valentine di negeri ini dapat terlihat sedikit tidak vulgar ataupun lebih bersifat “ketimuran”.
Lantas kenapa saya tidak perlu merayakan Valentine?? Karena lebih banyak pekerjaan lebih penting dibandingkan sekedar merayakan Valentine memang Valentine bukan berasal dari kebudayaan ataupun kepercayaan saya. Dan sayapun bukan tipe orang yang hanya sekedar ikut-ikutan tradisi bulé yang kurang bermanfaat bagi saya. Perayaan hari Valentine di negeri ini sebenarnya mencerminkan kekerdilan mental kita yang selalu menganggap apa yang berasal dari bulé barat selalu hebat walaupun hal tersebut kurang bermanfaat bagi dirinya. Eits! Jangan dibalik! Bukan berarti semuanya yang datang dari barat itu tidak berguna! Tentu saja tidak. Ilmu pengetahuan yang berasal dari barat tentu saja sangat berguna dan hal-hal berguna seperti itulah yang patut saya kopi. Apakah berarti hari Valentine tidak patut dirayakan di Indonesia?? Bagi mereka yang merasa punya bertradisi dengan hari Valentine ya silahkan saja merayakan, saya hanya bisa berdoa dan berharap mudah-mudahan bangsa ini bukan hanya menjadi bangsa pengekor hanya untuk hal-hal yang tidak perlu dan kurang bermanfaat…….
Namun tentu bukan berarti hari Valentine ini sama sekali “kurang bermanfaat”. Ya, lihat saja, Valentine bisa menjadi ajang bisnis yang sangat menguntungkan. Lihat saja pabrik-pabrik permen dan coklat mengeluarkan coklat-coklat dan permen-permen khusus Valentine. Kartu-kartu Valentine juga mungkin dapat menghasilkan keuntungan jikalau tidak tersaingi oleh MMS dan e-mail. Juga Department Store mencoba mengambil keuntungan dengan berbagai program Valentine sale-nya. Acara-acara televisi juga menampilkan acara-acara Valentine. Sayapun jika menonton film-film Valentine yang bagus sih oke-oke saja, tetapi kalau acara Valentine-nya tentang curhat problematika cinta para artis sinetron murahan ya ogah lah yaw. Radiopun tak ketinggalan “memanjakan” pendengarnya dengan program-program Valentine, walau banyak juga karena pengetahuan yang rendah dari pihak manajemen dan penyiar, acara Valentine yang seharusnya tentang cinta sepasang kekasih jadi salah kaprah tentang cinta antar sesama manusia biar terlihat lebih sopan dan santun. Dari contoh-contoh di atas tentu momen Valentine ini menjadi momen yang bagus untuk menggenjot pendapatan bagi berbagai macam bisnis.
Lantas bagaimana dong jikalau ada sisi ‘bagus’ dan ‘jelek’-nya bagi mereka yang tidak merayakan Valentine?? Ya mudah saja……. jikalau anda punya bisnis yang dapat memanfaatkan momen Valentine untuk memompa penghasilan anda ya silahkan manfaatkan momen tersebut sebaik-baiknya dan lupakan saja makna hari Valentine yang kurang bermanfaat bagi anda itu. Sama juga ketika anda mendapatkan coklat Valentine dari kekasih anda yang tidak tahu kalau anda tidak merayakan Valentine (apa iya nggak tahu kalau sang pacar tidak merayakan Valentine walau sudah lama berpacaran?? Ah… namanya juga andaikan. Huehehe…
), ya ambil saja coklatnya dan buang (makna) Valentine-nya! Tentu coklatnya bisa anda buang juga kalau sudah busuk! Gitu aja kok repot!!
Masih ingat krisis ekonomi/moneter yang melanda Asia Pasifik satu dekade lalu?? Pada bulan Juli 1997, pemerintah Thailand mencabut kebijakan sistem tukar tetap (fixed exchange rate) mata uangnya terhadap mata uang asing menjadi sistem tukar mengambang (floating exchange rate) yaitu sistem pertukaran mata uang yang murni didasarkan atas mekanisme pasar. Hal tersebut untuk meringankan defisit anggaran (current account) pemerintah Thailand yang sudah mencapai 8% dari PDB waktu itu. Yang terjadi adalah justru (karena memang itu yang diharapkan) mata uang baht Thailand yang terdepresiasi. Sialnya depresiasi mata uang baht ini diperparah dengan banyaknya modal asing yang keluar dari Thailand yang justru menjadikannya ‘cikal bakal’ krisis di Asia Pasifik waktu itu. Semula orang menyangka bahwa efek dari krisis di Thailand ini akan terisolasi dan tidak akan ‘menular’ ke negara-negara tetangganya. Namun ternyata dugaan itu salah, dalam beberapa bulan saja, modal-modal asing sudah pada berhamburan keluar dari Malaysia dan Indonesia. Dan selanjutnya krisis terus ‘menular’ ke Filipina, Hongkong, Republik Korea dan Taiwan. Krisis yang semula diperkirakan akan terisolasi pada mata uang Baht Thailand yang mengalami ’shock‘ karena perubahan sistem tukar mata uangnya ternyata berimbas pada nilai tukar mata uang-mata uang lainnya di Asia Tenggara dan Timur. Banyak ahli ekonomi berspekulasi bahwa krisis di Asia ini kemungkinan akan mengglobal, namun syukurlah hal tersebut tidak terjadi.
Walaupun krisis di Asia waktu itu akhirnya tidak mengglobal namun krisis tersebut menimbulkan fokus baru dalam bidang ekonomi yaitu yang disebut dengan Penularan Finansial (Financial Contagion). Yah, pada intinya penularan finansial ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan krisis finansial atau ekonomi di sebuah negara yang berimbas negatif kepada negara-negara lainnya. Penularan finansial ini menjadi studi dan fokus yang menarik dan intens setelah krisis Asia satu dekade yang lalu, walaupun krisis di Asia ini bukanlah satu-satunya contoh penularan finansial dalam sejarah.
Menurut banyak pakar ekonomi, penularan finansial ini menjadi studi yang menarik karena berbagai macam faktor. Di antaranya adalah karena krisis seperti ini dapat diamati dari kacamata yang lain misalnya lewat pasar modal atau surat-surat berharga. Bisa juga karena penularan finansial ini tidak selalu terjadi. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan krisis di suatu negara berkembang menjadi sebuah penularan finansial? Hal inilah yang masih banyak harus dipelajari. Krisis ekonomi yang terjadi di Zimbabwe saat ini misalnya, tidak begitu berimbas kepada negara-negara tetangganya. Dan yang paling menarik adalah krisis finansial yang terjadi akibat penularan finansial ini efeknya berbeda-beda untuk setiap negara. Hal tersebut bisa terjadi karena mungkin krisis ekonomi di tiap negara mempunyai ‘karakter yang berbeda’ karena memang krisis ekonomi yang lebih parah di suatu negara bisa jadi lebih diperburuk oleh karakteristik ekonomi di negara tersebut sendiri. Pendek kata efek daripada penularan finansial ini di setiap negara yang terkena imbasnya tergantung dari banyak faktor baik internal maupun eksternal baik ekonomi maupun non-ekonomi. Kita dulu sempat mendengar bahwa mantan PM Malaysia Dr. Mahathir Mohamad pernah menuduh George Soros sebagai penyebab ‘tumbangnya’ perekonomian Asia akibat aksi spekulasinya. Apakah hal tersebut benar?? Mungkin saja aksi spekulasi Soros ini juga memperburuk krisis ekonomi di Asia Pasifik waktu itu. Namun, seberapa besarkah tingkat sumbangan spekulasi Soros dalam memperparah ‘hancurnya’ ekonomi Asia Pasifik waktu itu, nampaknya harus ada studi lebih lanjut lagi dan mungkin hal-hal seperti ini dapat menjadi sebuah topik yang menarik bagi para peneliti di bidang penularan finansial ini. Yang jelas, seperti misalnya seseorang yang terkena flu, tidak selalu dapat teridentifikasi kapan mulainya ia terkena flu dan bagaimana ia terkena flu. Efek yang diderita seseorang akibat penularan flupun berbeda-beda dari orang ke orang tergantung juga dari faktor internal orang tersebut. Begitu pula halnya dengan penularan finansial ini.
Mudah-mudahan dengan banyaknya studi mengenai penularan finansial ini, para ahli ekonomi dapat lebih memahami mekanisme terjadinya penularan finansial untuk di masa depan mereka diharapkan dapat mengurangi efek atau akibat dari krisis seperti ini jika penularan finansial terjadi…….
_____________________
Catatan:
Penularan Finansial adalah istilah yang saya terjemahkan sendiri dari Financial Contagion karena saya belum bisa menemukan istilah resminya dalam Bahasa Indonesia. Ada yang tahu??

Singapore Skyline
Tahun 1972, Perdana Menteri Singapura (sekarang mantan) pernah berkata yang isinya kira-kira sama seperti slogan Keluarga Berencana kita di regim orde baru dulu: “Dua anak saja cukup!”.
Ya, pada awal 1970an, mantan PM Singapura waktu itu dan juga mungkin banyak pejabat-pejabat Singapura kala itu membayangkan di masa depan negeri pulau itu akan menjadi negara khas dunia ketiga yang miskin: padat dan kumuh. Bayangan PM Lee waktu itu memang bukannya tidak beralasan. Pada akhir Perang Dunia II, penduduk negeri itu baru satu juta orang. Dan di pertengahan tahun 1960an negeri pulau itu telah membengkak dua kalinya menjadi dua juta orang. Bayangan masa depan yang kumuh di negeri itu bisa ditiadakan dengan digalakkannya keluarga berencana di negeri itu dengan semboyan “Dua saja cukup!”.
Singapura kala itu memang tidak main-main dalam soal keluarga berencana. Berbagai kampanye dan cara dilakukan pemerintah demi menekan jumlah penduduk. Aborsi dan sterilisasi dilegalkan. Wanita dilarang mengambil cuti hamil ketika mengandung anak ketiga dan seterusnya. Asuransi kesehatan dan sebagainya ditiadakan bagi anak ketiga dan seterusnya. Dan tak kalah ’sadis’nya pula adalah anak ketiga dan seterusnya akan didiskriminasikan ketika akan mendaftar sekolah, dan berbagai kebijakan lainnya guna menekan jumlah penduduk.
Walhasil, jumlah penduduk Singapura memang mengalami stagnasi di tahun 1970an dan di tahun 1980an. Namun “sialnya” ekonomi Singapura tumbuh dengan baik dan pesat. Ekonomi yang pesat tersebut membutuhkan SDM-SDM muda yang tangguh dan berkualitas. Singapura sendiri memang tidak khawatir tentang kualitas SDM-nya, namun yang dikhawatirkan justru jumlah SDM kaum mudanya yang menurun terus akibat kebijakan keluarga berencana yang digalakkan di tahun 1970an. Untuk itu PM yang sama (Lee Kwan Yew) tahun 1986 berbalik 180o dalam memberikan slogan, dari “Dua saja cukup!” menjadi “Tiga bahkan empat jika anda mampu!” guna mendorong populasi Singapura agar Singapura dapat mensuplai cukup jumlah SDM-nya bagi perekonomiannya sendiri.
_____________________
Sedangkan kasus kebalikannya dialami negara tetangga jauh kita, Iran. Pada tahun 1967, di zaman pemerintahan shah Iran, keluarga berencana mulai diperkenalkan kepada rakyat Iran, namun ketika Khomeini berkuasa di tahun 1979, keluarga berencana justru dilarang di Iran. Klinik-klinik keluarga berencana ditutup. Program-program keluarga berencana dilarang karena dianggap sebagagi pengaruh barat. Para mullah di negeri itu juga mendukung rencana pemerintah untuk mendorong banyak pasangan di Iran untuk membuat anak lebih banyak karena anak adalah anugerah dariNya dan tidak sepantasnyalah anak ‘dihalangi’ oleh alat-alat kontrasepsi.
Perang Iran-Irak yang berkepanjangan di tahun 1980an menyebabkan masalah “membuat anak” bukan saja menjadi masalah agama dan ideologi saja, melainkan telah menjadi masalah “patriotik” karena Iran bercita-cita untuk mendirikan sebuah negeri dengan “20 juta tentara”. Perang Iran-Irak tersebut memang banyak menewaskan para pemuda Iran.
Namun ketika perang usai, masalah baru timbul. Dengan perang Iran-Irak yang berkepanjanganpun penduduk Iran tetap tumbuh dengan pesatnya. Di tahun 1968, penduduk Iran baru 27 juta. Sedangkan di tahun 1988 sudah mencapai 55 juta atau naik 100% lebih. Sialnya ekonomi Iran tidak terlalu cerah. Dengan pertumbuhan penduduk yang banyak yang tidak diimbangi dengan perekonomian yang membaik angka pengangguran meningkat dengan drastisnya. Bukan itu saja, tingkat buta huruf di kalangan rakyatnya juga meningkat dengan tajam.
Walhasil, di tahun 1989, keluarga berencana mulai lagi diperkenalkan di Iran. Pemimpin-pemimpin agama yang sebelumnya mentabukan keluarga berencana kini balik mendukung pemerintah dalam mensukseskan program-program keluarga berencana. Tentu saja, kerjasama yang manis antar pemimpin-pemimpin agama dan pemerintah ini dalam keluarga berencana telah mengubah Iran dari negara yang mentabukan keluarga berencana menjadi negara yang sangat sukses dalam menjalankan program-program pengendalian jumlah penduduknya.
Ada-ada saja ya, terlalu sedikit salah, terlalu banyak juga salah. Sedang-sedang saja kali ya……