Kira-kira minggu lalu saya sudah mempostingkan tentang Earth Hour di blog ini. Artikel tersebut sekaligus membantu penyebaran informasi tentang Earth Hour. Nah, sekarang Earth Hour sudah berlalu. Sekarang saya sedikit ingin tahu, bagaimana dengan anda? Apakah anda juga menjalani Earth Hour ini dengan mematikan lampu minimal satu lampu saja yang sering anda nyalakan pada malam hari?
Jikalau anda ternyata tidak sempat melaksanakannya karena memang terhalang oleh sesuatu ya tidak apa-apa terutama jika anda sebelumnya memang sudah berniat. Dalam Earth Hour ini yang paling penting adalah kesadaran kita untuk ikut menyelamatkan bumi kita dari pemanasan global bukan hanya sekedar ikut-ikutan untuk mematikan lampu saja seolah-olah Earth Hour ini adalah sebuah “pesta” ataupun “peringatan” ataupun ritual semacam Valentine’s Day. Jikalau anda memang berniat ikut menyelamatkan bumi, anda dapat sewaktu-waktu mematikan lampu anda kapanpun anda mau dan tidak perlu menunggu Earth Hour tahun depan. Saya sendiri juga berencana untuk mematikan lampu di rumah saya yang sering saya nyalakan pada malam hari selama satu jam setiap bulan sebagai upaya serius saya untuk menyelamatkan bumi kita dari pemanasan global. Insya Allah, jika kita memang berniat ingin menyelamatkan bumi kita dari pemanasan global mematikan lampu selama sejam sebulan sekali tidak akan terasa berat bahkan seharusnya kita bisa melakukan lebih dari itu.
Tapi begini nih….. apakah waktu anda gelap-gelapan selama sejam itu anda juga menyalakan lilin?? Ya… kalau satu atau dua lilin yang dinyalakan mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau yang dinyalakan ratusan puluhan lilin ya sama aja bohong dong! Huehehe….. Kenapa?? Karena lilin terbuat dari parafin dan ia juga merupakan bahan bakar hidrokarbon. Ingat sebagaimana bensin, parafin juga merupakan hasil distilasi dari minyak mentah. Jikalau ia dibakar ia juga akan menghasilkan karbon dioksida (CO2) yang merupakan gas rumah kaca dan juga uap air (yang sebenarnya juga merupakan gas rumah kaca). Nah, jikalau anda membakar sebuah lilin perhatikan apinya (atau lihat gambar di atas). Warna biru pada api yang biasanya terletak dekat pada sumbu lilin itulah bagian hidrogen dari parafin yang tengah dioksidasi dalam pembakaran menjadi uap air (H2O) sementara yang berwarna kuning, nah itulah bagian karbonnya dari parafin yang tengah dioksidasi dalam pembakaran menjadi gas karbon dioksida (CO2). Nah, padahal dalam pemadaman listrik Earth Hour ini salah satu tujuannya adalah pengurangan emisi gas karbon dioksida. Jadi kalau banyak lilin yang dibakar sebagai pengganti terangnya lampu ya sama aja bohong jadinya huehehe….
Bukan itu saja, dalam hal efisiensi energi, lilin bahkan lebih parah daripada bohlam lampu pijar yang kini sudah mulai jarang kita gunakan di rumah. Seperti yang telah saya paparkan di artikel Earth Hour sebelumnya bahwa lampu hemat energi yang kini umum kita gunakan di rumah-rumah atau bahasa kerennya adalah CFL (Compact Fluorescent Lamp) mempunyai efisiensi energi kira-kira 10%. Itu berarti bahwa dari energi yang digunakan oleh lampu tersebut hanya 10% yang dijadikan cahaya untuk penerangan yang kita butuhkan sementara yang 90% akan diubah menjadi panas. Sementara bohlam lampu pijar tentu lebih buruk lagi efisiensi energinya. Ia hanya mampu menggunakan kira-kira 2% dari energinya untuk menjadi cahaya yang kita butuhkan sementara yang 98% akan berubah menjadi panas. Lilin?? Jauh lebih parah dari bohlam pijar tentu saja. Lilin hanya mampu menggunakan… ehm… 0,04% energi yang didapatkan untuk menjadi cahaya sementara yang 99,96% akan berubah menjadi panas!!
Ok deh….. itu sekedar sedikit informasi tentang alternatif penggunaan lilin sebagai penerangan dalam kaitannya dengan pemadaman lampu Earth Hour baru-baru ini. O iya, sebagai penutup saya punya satu pertanyaan atau semacam kuis (yang tidak berhadiah
) berkenaan dengan Earth Hour ini. Pertanyaannya adalah: Pemilihan Earth Hour (tahun ini) yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 28 Maret 2009 bukanlah tanpa alasan yang kuat. Nah, anda tahu kenapa hari Sabtu tanggal 28 Maret 2009 adalah salah satu hari terbaik untuk dijadikan hari Earth Hour?? Kalau anda sudah tahu jawabannya, dapatkah anda menunjukkan kira-kira waktu-waktu lainnya yang terbaik untuk dijadikan hari Earth Hour??
Catatan:
Rumus molekul parafin adalah CnHn+2. Dengan nilai n antara 20 hingga 35. Jikalau dibakar ia akan menjadi uap air (H2O) dan karbon dioksida (CO2):
2 CnH2n+2 + (3n+1) O2 —-> 2n CO2 + (2n+2) H2O



Maukah anda mematikan lampu anda, minimal satu saja, yang biasa anda biarkan menyala pada malam hari selama 60 menit pada tanggal 28 Maret 2009 pukul 20.30 nanti?? Ya….. tanggal 28 Maret 2009 pukul 20.30 waktu setempat, di manapun anda berada, adalah merupakan jam bumi (earth hour), di mana 81 negara di dunia pada jam tersebut “bersatu-padu” untuk sejenak “mendinginkan” bumi dari serangan pemanasan global. Pendinginan bumi tersebut adalah dengan cara mematikan lampu dan peralatan elektronik lainnya yang tidak perlu selama satu jam saja pada 28 Maret 2009 pukul 20.30 nanti.
Gambar di sebelah kiri adalah alat pencukur jenggot menggunakan batu baterai yang saya beli seharga Rp. 5000,- lebih dari sepuluh tahun yang lalu (tahun 1998). Pencukur jenggot ini saya beli dari seorang penjual ibu-ibu pinggir jalan di dekat masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan ketika usai sholat Jumat. Karena melihat ibu-ibu yang berjualan di panas terik, saya merasa agak iba juga (sebenarnya lebih kasihan mereka yang nggak punya pekerjaan karena krismon waktu itu..) dan lalu saya tergerak melihat barang-barang dagangan si ibu tersebut. Barang-barang yang dijual ibu-ibu itupun barang-barang kecil keperluan rumah tangga atau pribadi sehari-hari seperti gunting, pencukur jenggot stik manual, silet, cutter dan lain sebagainya. Barang-barang yang dijual semuanya terlihat murahan dan tampaknya semua barang yang dijual adalah barang selundupan dari China. Lalu saya melihat alat pencukur jenggot elektrik yang menggunakan batu baterai tersebut. Setelah mengetahui harganya segera kubeli pencukur jenggot elektrik yang bungkus kartonnya saja sudah tidak terekat ujungnya. Walau begitu dengan adanya krismon waktu itu, harga pencukur jenggot Rp. 5000,- cukup menarik bagikku. Setelah membayar harga pencukur jenggot dan beberapa barang lainnya yang juga aku beli, yang semuanya murahan itu, aku segera bergegas pulang.








