Archive Bulanan: Mei 2009

Tiga Topik Ringan Yang Nggak Bermutu

Sebetulnya saya masih punya banyak topik-topik yang lebih bermutu daripada 3 topik mini berikut ini, namun karena hari ini saya lagi agak malas menulis maka dengan sangat menyesal saya terpaksa mempresentasikan tiga topik mini yang independen satu sama lain yang kurang nggak bermutu ini. :mrgreen:

MALAYSIA OH MALAYSIA

Nah, ini tentang berita pelanggaran kapal perang Malaysia di perairan Ambalat yang saya dengar di televisi. Entah sudah berapa kali kapal-kapal perang negara jiran kita tersebut bertingkah di perairan Ambalat. Rasanya gemas sekali, kenapa minyak di perairan Ambalat disedot dulu sampai habis. Kalau emas hitamnya sudah habis, kira-kira Malaysia masih mau mengklaim nggak ya??

Tapi yang bikin saya geli bukan itu, tetapi karena berhasilnya kapal Malaysia diusir dari perairan Ambalat. Kenapa geli?? Kalau memang Malaysia merasa benar bahwa perairan Ambalat miliknya kenapa kapal perang Malaysia itu mau aja diusir?? Kalau memang Malaysia merasa benar tentu kapal perang mereka tidak mau diusir begitu saja, walaupun tentu saja tidak perlu berakhir dengan adu tembak. Apakah ini berarti bahwa Malaysia memang merasa bersalah?? Atau Malaysia tidak punya pendirian?? Atau Malaysia tidak mau takut berhadap-hadapan dengan Indonesia?? Ah… nggak usah perang deh…. Menang perang dengan Malaysia saja nggak akan bikin bangga. Percaya deh…. :mrgreen:

NADAL OH NADAL

Saya tahun ini agak manyun kalau menonton siaran channel olahraga Star Sports. Karena tahun ini saluran olahraga tersebut tidak menyiarkan ATP tour yaitu serangkaian turnamen tenis pria ATP selama setahun penuh. Biasanya ATP tour dimulai sekitar bulan Maret di Indian Wells, California, Amerika Serikat dan berakhir sekitar bulan November dengan turnamen piala final ATP Masters yang hanya diikuti 8 petenis terbaik dunia. Tahun lalu  piala final ATP Masters diadakan di Shanghai, China, mulai tahun ini kehormatan tersebut pindah ke London, Inggris.

Entah kenapa tahun ini StarSports tidak menyiarkan secara langsung semua turnamen ATP Masters, mungkin ada hubungannya dengan perubahan sistem penilaian dan formasi pada seluruh turnamen ATP Masters yang pada tahun ini diubah namanya menjadi ATP World Tour Masters 1000.

Sebagai penggemar tennis tentu saja absennya ATP World Tour Masters 1000 membuat saya kecewa. Apalagi tahun ini saya ingin melihat Rafael Nadal (Spanyol) mengukuhkan dominasinya atas Roger Federer (Swiss) dalam pertenisan dunia. Bukan karena saya tidak suka dengan Federer, tetapi saya sudah agak bosan melihat Federer mendominasi pertenisan dunia pada tahun-tahun lalu.

WARTEL OH WARTEL

Kasihan juga sebenarnya melihat nasib wartel yang berada dekat di rumah saya. Wartel pinggir jalan yang hanya punya satu pesawat telepon ini sepertinya tengah sekarat. Lima tahun lalu, terdapat empat wartel yang berada dekat rumah saya, termasuk satu wartel besar yang berada di sebuah hotel di Jalan Supratman Bandung. Tiga di antaranya kini sudah bangkrut, dan satunya lagi tengah sekarat.

Saya masih ingat ketika jaya-jayanya wartel di pertengahan tahun 1990an hingga awal 2000an. Walaupun saya sudah memiliki telepon selular sejak pertengahan 1990an namun sekali dua kali saya masih menggunakan wartel terutama untuk komunikasi internasional. Saya masih ingat, di jam-jam murah di atas pukul 18.00 terlihat wartel begitu antri oleh para pelanggannya. Namun kini semuanya berbeda. Wartel kini sangat sepi. Mungkin ini karena persaingan antaroperator selular semakin sengit sehingga tarif komunikasi ponsel menjadi sangat murah apalagi kalau sesama operator. Lagipula harga pesawat selularnya sendiri sudah banyak yang murah, bahkan yang di bawah Rp. 500.000,-. Bahkan kini para bediende-pun sudah banyak yang mempunyai telepon selular. Mungkin faktor ini yang banyak mematikan bisnis wartel sekarang….. :(

ETIKA dan GENETIKA

DNA dan Kode Genetika

DNA dan Kode Genetika

Jakarta tahun 2109 atau 100 tahun dari sekarang. Seseorang yang tengah mencari pekerjaan, sebut saja namanya Deni, telah melamar di banyak perusahaan yang entah sudah berapa banyaknya. Namun sebanyak ia melamar, sebanyak itu pula ia ditolak lamarannya. Masalahnya? Karena pada masa itu, ketika seseorang yang ingin melamar pekerjaan, ia harus membawa sebuah microdisk yang berisi catatan genetik dirinya. Microdisk tersebut akan dibaca oleh sebuah program komputer canggih yang dapat mengolah dan menterjemahkan kode-kode genetik tersebut. Kebetulan si Deni mempunyai sebuah kode genetik yang mengatakan bahwa ia mempunyai kecenderungan untuk berbuat korupsi padahal sekalipun si Deni belum pernah melakukannya! Seluruh perusahaan tempat ia melamar pekerjaan mengatakan bahwa mereka berhak untuk menolak Deni sebagai tindakan preventif!

Sementara itu, rekannya si Rudy mengalami nasib serupa, banyak ditolak lamaran pekerjaannya. Sebabnya bukan karena ia mempunyai kode genetik yang mengatakan ia cenderung berbuat korupsi namun di dalam kode genetiknya mengatakan bahwa ia seorang homoseksual! Padahal si Rudy sudah menikah dan mempunyai satu anak! Perusahaan lebih mempercayai kode genetik dibandingkan fakta bahwa si Rudy telah menikah. Banyak perusahaan yang tidak begitu suka dengan karyawan/ti yang homoseksual sehingga Rudy selalu ditolak lamaran kerjanya dengan dibuat berbagai macam alasan secara halus.

Di tempat lain, seorang ibu rumah tangga muda, sebut saja Reni, tengah mengandung anaknya yang pertama. Dokter mengatakan bahwa bayi yang tengah dikandung Reni mempunyai cacad secara genetik yang akan berpotensi membuat si bayi kelak akan menderita sebuah penyakit fatal yang belum bisa disembuhkan. Dengan mengetahui informasi tersebut, Reni menjadi sangat stres dan ia tengah berfikir untuk menggugurkan saja kandungannya karena ia tak tega melihat anaknya menderita kelak.

Ilmu genetika memang terus mengalami kemajuan secara dramatis akhir-akhir ini. Kemajuan ini membuat pandangan manusia juga berubah drastis mengenai sifat-sifat yang ada di dalam diri manusia terutama masalah-masalah psikologis dan kesehatan. Banyak penemuan-penemuan mutakhir mengatakan bahwa hampir semua perilaku kita termasuk perilaku seksual kita ternyata berkaitan erat dengan kode genetik yang ada di tubuh kita. Dengan kemajuan ilmu genetik di masa depan, diperkirakan dokter juga mampu untuk meramalkan penyakit-penyakit apa saja yang bakal di derita seseorang sejak ia masih di dalam rahim ibunya!! Terutama untuk penyakit-penyakit kelainan genetis dan penyakit-penyakit degeneratif. Dokterpun bahkan bisa mengetahui apakah si jabang bayi kelak kemungkinan besar akan mempunyai kelainan orientasi seksual ataupun tidak!! Dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa diramalkan seperti apakah si bayi nanti kelak akan tumbuh menjadi anak yang adidas alias IQ/Aikyu di bawah dasar :mrgreen: atau anak yang jenius, atletis atau tidak, bahkan ganteng/cantik atau tidak, dan sebagainya.

Kemajuan ilmu genetika memang akan membuat membuka banyak tabir yang selama ini menutupi sifat-sifat yang ada pada diri manusia. Namun kemajuan ilmu genetika juga akan membawa sebuah problem baru yang menantang yang menyangkut masalah etika! Apa yang seharusnya kita perbuat dengan kode genetik tersebut??? Misalkan pada contoh jabang bayi seperti di atas. Apakah test genetika diwajibkan dilakukan pada setiap jabang bayi di dalam rahim ibu untuk mendeteksi penyakit genetika atau bawaan yang akan diderita si bayi?? Jikalau hasil test negatif, apa yang sebaiknya dilakukan sang ibu?? Ambil contoh lain, misalkan seseorang yang mempunyai gen pembunuh yang mengatakan bahwa ia berpotensi untuk membunuh orang lain walaupun sampai saat itu ia belum pernah membunuh satu orangpun. Apakah polisi wajib untuk terus mengawasi gerak geriknya dan membatasi ruang geraknya sebagai tindakan preventif sehingga mengganggu privasinya?? Karena sewaktu-waktu bisa saja ia membunuh orang jikalau ia sangat tersinggung. Belum lagi ia berpotensi untuk dijauhi masyarakat karena masyarakat merasa tidak nyaman bergaul dengan orang yang punya gen seorang pembunuh. Pertanyaannya adalah, siapa saja yang berhak tahu tentang informasi genetik seseorang?? Apakah hanya yang bersangkutan saja? Apakah dokter kita?? Apakah perusahaan tempat kita bekerja?? Ataukah perusahaan asuransi kesehatan?? Maklumlah karena informasi genetik ini tentu saja banyak menyangkut sifat-sifat yang sangat ‘pribadi’.

Banyak orang mungkin setuju bahwa kemajuan ilmu genetika untuk memperbaiki kualitas hidup manusia atau untuk menyembuhkan penyakit adalah sesuatu yang sangat bermanfaat. Jikalau nanti kemajuan ilmu genetika sudah lebih maju lagi sehingga gen kita bisa dimanipulasi untuk menyembuhkan penyakit-penyakit genetis dan juga untuk memperbaiki sifat-sifat lahiriah kita ataupun sifat-sifat tingkah laku dan orientasi seksual kita tentu akan sangat membantu kualitas hidup manusia. Namun di mana batasnya?? Lagi-lagi masalah etika timbul !! Apakah kita juga ingin mengubah warna kulit anak kita ataupun juga ingin merubah hidung anak kita menjadi mancung? Atau kita hanya ingin sekedar anak kita nanti secantik Cleopatra?? Pendek kata, apakah sangat beretika untuk mengubah sesuatu seenak udhel kita sendiri, apalagi sesuatu itu adalah manusia, hanya karena kita dengan mudah dapat melaksanakannya??

EQ dan SQ, Apakah Memang Lebih Penting dari IQ?

Artikel ini saya tulis bukannya karena saya memahami konsep IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) justru karena saya masih agak kabur dengan peran ketiganya dalam kehidupan kita sehari-hari. Khusus untuk SQ, konsepnya malah saya masih bingung total. Sebab konsep SQ yang  banyak beredar di negeri kita ini sangat berbeda total dengan SQ yang saya baca dari artikel-artikel luar negeri yang saya cari lewat Google (Itupun artikel SQ yang dari luar negeri relatif agak susah untuk menemukannya).  Konsep SQ yang beredar di sini, sangat dekat dengan nilai keagamaan sedangkan SQ yang saya baca dari Wikipedia misalnya, tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan agama:

Spiritual Quotient (SQ) is described as a measure that looks at a person’s spiritual intelligence in the same way as intelligence quotient (IQ) looks at cognitive intelligence. It is the study in which there are 6 types of personalities: social, investigative, artistic, realist, contractor and conventional.

Nah, dari penejelasan di Wikipedia ini kita dapat melihat bahwa SQ tidak ada hubungannya dengan keagamaan sama sekali. Lantas bagaimana konsep SQ yang banyak beredar di sini menyangkutpautkannya dengan agama?? Apakah konsep ESQ (yang dikemukakan oleh Ary Ginanjar misalnya) memang lahir dari sebuah proses yang ilmiah? Mana yang benar ya? Maklum saja, saya orangnya tidak cepat puas dengan hanya membaca dari satu sumber saja, untuk itu saya perlu membandingkannya dengan bacaan-bacaan lain yang berasal dari sumber-sumber berbeda. Nah, jikalau terdapat pertentangan perbedaan seperti ini tentu hanya satu yang benar, terutama minimal di tingkat definitif.  Kira-kira menurut anda mana yang benar?

Sayapun juga agak kurang setuju yang mengatakan bahwa EQ (dan juga SQ) lebih penting dari IQ. Saya cenderung mengatakan bahwa semua sama pentingnya. Kadang kala dalam banyak kasus kita harus lebih menonjolkan EQ (dan SQ) kita. Namun di banyak kasus lainnya kita harus lebih menonjolkan IQ kita. Namun apapun kasus yang kita hadapi, apakah kasus yang lebih mengedepankan EQ kita ataukah yang lebih mengedepankan IQ kita, tidak pernah mengurangi pentingnya peran IQ dan EQ secara umum. Bahkan dalam banyak kasus, EQ dan IQ harus bekerjasama dengan harmonis agar membuat seseorang menjadi sukses dalam menghadapi rintangan-rintangan yang berada di depannya sehingga kesuksesan juga ditentukan bagaimana IQ dan EQ ini bisa bekerjasama dengan baik.

EQ berperan sangat penting tentu saja, karena hal ini menyangkut interaksi kita dengan orang lain dan juga pengertian tentang diri sendiri. Kesuksesan kita tentu saja sedikit banyak tergantung dari interaksi dengan orang lain karena kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Sementara itu IQ tentu saja juga penting, karena tanpa IQ mungkin kita hanya setingkat dengan binatang yang tidak akan mampu memecahkan masalah apapun. Dan juga tanpa IQ, kita juga tidak akan mungkin dapat mengidentifikasi EQ. Nah, bagaimana dengan SQ? Ini dia yang belum bisa saya “jawab” sampai saya menemukan definisi yang tepat dari SQ itu sendiri………

Air Laut Mengandung Emas!

bongkahan emas

bongkahan emas

Air laut mengandung hampir semua unsur termasuk emas! Sebuah logam mulia yang seringkali dicari-cari manusia karena nilai ekonominya yang sangat tinggi.  Berapa banyakkah emas yang terkandung di dalam air laut? Menurut para ahli, konsentrasi emas di dalam air laut adalah 0,00005 bpj (bagian per juta). Satu bpj (bagian per juta) dalam kasus ini adalah 1 miligram benda padat yang larut dalam 1 liter air.

Berarti jikalau konsentrasi emas di dalam air laut adalah 0,00005 bpj berarti di dalam setiap 1 liter air laut terdapat 0,00005 mg emas. Sepintas lalu kelihatannya memang sangat sedikit, namun mari sekarang kita hitung berapa emas yang terkandung di dalam 1 km3 (kilometer kubik) air laut:

Satu kilometer kubik sama dengan 1.000.000.000.000 liter atau 1012 liter, jadi di dalam satu kilometer kubik air laut terdapat:

10^{12} \: liter \times \frac{0,00005 \: mg}{1 \: liter} \times \frac{1 \: gram}{1000 \: mg} = 50.000 gram emas atau 50 kilogram emas!

Jikalau harga emas sekarang kira-kira adalah Rp 300.000,- per gram maka 50 kilogram emas adalah 15 milyar rupiah! Sebuah jumlah rupiah yang fantastis! Nah, itu baru nilai rupiah dari emas yang terkandung dalam 1 kilometer kubik air laut padahal di planet kita tercinta ini terdapat kira-kira 1,3 milyar kilometer kubik air laut !!! Bayangkan besarnya nilai ekonomi dari emas yang terkandung di dalam air laut di planet bumi ini!

Lantas kenapa kita tidak ramai-ramai mendulang mengekstrasi emas dari air laut tersebut?? Nah… itu dia masalahnya….. karena ternyata sampai hari ini belum ada teknologi yang ekonomis yang mampu mengekstraksi emas dari air laut ini. Peralatan, usaha dan energi yang dibutuhkan untuk mengekstrasi emas dari air laut ini, dengan teknologi yang ada sekarang, ternyata bisa jauh lebih mahal dibandingkan nilai ekonomi emas yang didapat itu sendiri !! Jadi, ya, tidak ada gunanya secara ekonomi. Sayang ya? :(

Gadeget-nya Canggih Tapi……

Suatu hari teman kantor saya membawa seorang anaknya yang baru kelas 3 SD ke kantor. Si anak ini rupanya iseng sekali. Dengan santainya dan tanpa permisi sedikitpun ia langsung memainkan komputer yang ada di meja kerja saya yang terhubung dengan Internet tersebut. Walau begitu saya biarkan ia melayari internet dari komputer kantor saya walaupun saya heran juga apa ini anak nggak pernah diajari orang tuanya untuk minta izin dulu sebelum memakai benda-benda milik orang lain?. Anak itu rupanya memang sudah mahir sekali menggunakan internet, bukan saja ia mahir dalam memainkan game-game online tetapi ia juga sudah lancar menggunakan e-mail, YM, Friendster dan juga Facebook. Namun entah kenapa, tiba-tiba si anak tersebut dengan sedikit kurang ajarnya meraih tangan saya yang saat itu saya memang sedang duduk berada di dekatnya tengah mengobrol dengan bapaknya, dengan bertanya: “Om, sekarang  jam berapa ya om?” Padahal di komputer juga ada jam. Sambil melihat arlojiku, ia menjawab sendiri: “Oh… baru jam 10″.  Aku lantas melihat arlojiku dan tersentak agak kaget karena jam baru menunjukkan pukul 09.40. Aku berfikir dalam hati, wah ‘percuma’ aja nih anak pintar mengoperasikan komputer tetapi melihat jam saja, sesuatu yang sebenarnya jauh lebih esensial, tidak becus.

Ada lagi, ketika test tertulis masuk untuk sekretaris (bukan sekretaris untuk saya tentu saja :mrgreen: )  beberapa tahun yang lalu, seorang kandidat yang luar biasa cantik dan seksinya membawa kalkulator grafis yang canggih, padahal fungsi grafisnya juga tidak akan terpakai dalam test tersebut. Test “kemampuan numerik”nya juga sederhana hanya persoalan matematika SD-SMP dalam aplikasi kejadian sehari-hari seperti misalnya: “Seorang tukang cat dapat menyelesaikan pengecatan sebidang tembok dalam waktu 1 jam. Sementara seorang tukang cat lainnya dapat menyelesaikan pengecatan sebidang tembok yang sama dalam waktu 45 menit. Berapakah waktu yang diperlukan untuk mengecat sebidang tembok tersebut jika mereka bekerja sama?”.  Saya iseng-iseng melihat kertas jawabannya ketika test telah usai walaupun yang berwenang menilai bukan saya, hasilnya: ternyata jawaban-jawaban si kandidat yang seksi memiliki kalkulator canggih tersebut tidak lebih baik dari jawaban-jawaban kandidat lainnya.

Saya melihat banyak sekali kini mahasiswa-mahasiswa (paling sedikit dari pengamatan mahasiswa-mahasiswa yang banyak kos di sekitar tempat saya tinggal) kini mempunyai laptop. Sebenarnya ya, bangga juga, itu berarti rakyat Indonesia sudah cukup banyak yang menjadi makmur dan banyak juga yang sudah melek teknologi. Namun apakah mereka menjadi lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya di mana laptop waktu itu masih merupakan barang mewah atau malah mungkin belum tercipta? Nah itu yang masih harus dibuktikan…. Karena jikalau laptop atau produk-produk teknologi lainnya memang digunakan oleh konsumennya untuk mengefisienkan pekerjaan mereka dan memacu prestasi mereka, tentu saja itu merupakan hal yang sangat baik. Namun kalau laptop hanya untuk sarana ‘bermain’ atau hanya untuk membuka Friendster ataupun Facebook? Wah… sepertinya jangan terlalu banyak berharap deh. Sama saja seperti KPU yang punya sistem canggih yang mahal namun persoalan database DPS tidak kunjung selesai……

Budi Oh Budi……

Budi Anduk

Budi Anduk

Nama Budi memang ‘kodian’ banget. Mungkin nama Budi adalah salah satu nama yang paling ‘kodian’ untuk nama laki-laki di Indonesia. Saya tidak ingat sudah beberapa banyak teman saya yang bernama ‘Budi’. Hampir bisa dipastikan bahwa setiap orang Indonesia pasti pernah mempunyai seorang teman atau kenalan yang namanya Budi. Mungkin karena banyaknya orang yang bernama Budi, maka seseorang yang bernama Budi atau yang mengandung nama ‘Budi’ bisa dengan mudahnya ‘diasosiasikan’ dengan seorang Budi yang lain.

Dua hari yang lalu (14/5) pada sore hari ketika pulang dari kantor tidak sengaja saya membaca spanduk “Say No to Budiono, Say Yes to Budi Anduk” di dekat masjid Istiqamah Bandung tak jauh dari rumah saya. Entah siapa yang memasang spanduk itu karena tidak tertera sama sekali siapa atau organisasi mana yang memasangnya. Saya yang membacanya dari dalam mobil sedikit tergelitik di dalam hati membacanya. Entahlah siapa yang memasangnya, mungkin bisa jadi mereka yang anti pada kebijakan ekonomi Pak Budiono yang katanya terlalu pro-kapitalisme, atau mungkin bisa jadi dipasang oleh mereka simpatisan partai-partai yang ‘tidak diajak bicara sebelumnya’ oleh Partai Demokrat (capres SBY).

Saya sendiri sebenarnya tidak peduli siapa pendamping SBY sebagai cawapres kelak. Karena saya bukan simpatisan partai Demokrat ataupun partai-partai lainnya di negeri ini. Hanya saja saya geli dengan suara-suara politisi yang mengatakan Budiono karena bukan politisi dan kurang mampu dalam berpolitik. Hmmm… apa iya?? Sebenarnya pak Budiono itu tidak mau berpolitik atau tidak mampu berpolitik?? Karena keduanya tentu adalah dua hal yang berbeda. Siapa tahu pak Budiono selama ini memang tidak mau berpolitik tetapi siapa tahu ia berpotensi besar untuk belajar berpolitik dengan lebih baik?? Hal yang sama tentu saja berlaku buat Budi Anduk. Biar Budi Anduk adalah seorang pelawak yang seringkali diremehkan intelegensianya, belum tentu ia bodoh dalam berpolitik atau belum tentu ia bodoh jikalau ia belajar politik. Kita tidak tahu potensi apa yang dimiliki mas Budi Anduk ini. Barangkali kalau nanti ia sudah bosan melawak, ia akan terjun ke dunia politik (minimal menjadi wakil rakyat) dan siapa tahu ia dapat menjadi seorang politikus yang lebih andal dibandingkan para politisi yang ada pada saat ini. Sama juga seperti para politisi yang ada sekarang ini yang ternyata juga berhasil menjadi pelawak dalam menghibur rakyat dengan dagelan-dagelan politiknya yang membuat rakyat tertawa sinis………. :D

Galaksi Kita Bertabrakan, Akankah Kiamat?

Tabrakan antara dua galaksi menurut impresi seorang artis

Tabrakan antara dua galaksi menurut impresi seorang artis. Walaupun galaksi terlihat terang dan padat dengan bintang namun sebenarnya di dalam galaksi-galaksi tersebut terdapat ruang hampa yang sangat luas.

Ya…. itulah menurut para ahli astronomi. Galaksi kita (bima sakti) akan bertabrakan dengan galaksi terdekat kita, Andromeda, yang berada 2.000.000 tahun cahaya dari galaksi kita. Namun tentu kejadiannya masih lama yaitu sekitar 3 milyar tahun dari sekarang jadi kita tidak perlu khawatir. Ya, walaupun menurut para ahli alam semesta ini terus mengembang (berekspansi), galaksi-galaksi semestinya saling menjauhi satu sama lain namun dalam beberapa kasus gaya gravitasi antargalaksi jauh lebih kuat daripada ekspansi tersebut yang menyebabkan galaksi-galaksi akan bertabrakan, contohnya seperti galaksi kita dan galaksi andromeda ini 3 milyar tahun mendatang.

Nah, apa yang terjadi jika nanti kedua galaksi tersebut  bertabrakan? Kiamatkah? Menurut para ahli walaupun galaksi bertabrakan tetapi kemungkinan besar tidak akan terjadi ‘kiamat’ karena bintang-bintang dan planet-planet di dalamnya tidak ikut bertabrakan. Jadi selamatlah matahari kita. Kenapa? Karena sebenarnya di antara bintang-bintang di dalam galaksi-galaksi tersebut terdapat ruang hampa yang maha luas sehingga kemungkinan bintang-bintang (dan planet-planetnya) untuk bertubrukan sangatlah kecil walaupun di sebuah galaksi terdapat milyaran bintang. Analoginya seperti ini, di sebuah padang rumput yang luas, ada sekelompok yang terdiri dari 5 orang yang ingin menerbangkan pesawat dari kertas lalu kira-kira 100 meter dari mereka ada sekelompok lain yang  juga terdiri dari 5 orang yang juga ingin menerbangkan pesawat dari kertas. Nah, jikalau kesepuluh orang dari kedua kelompok ini sama-sama menerbangkan pesawat kertasnya dalam waktu bersamaan kecil kemungkinan bagi pesawat-pesawat kertas dari kedua kelompok ini akan bertabrakan, karena mereka dipisahkan oleh jarak yang luas. Begitu pula dengan bintang-bintang yang ada di dalam galaksi tersebut kemungkinan bertabrakan sangat kecil karena di antara bintang-bintang tersebut sebenarnya terhampar ruang hampa yang sangat luas. Bahkan ketika kedua galaksi bertabrakan, kemungkinan tabrakan bintang-bintang di dalam galaksi-galaksi tersebut jauh lebih kecil dibandingkan kemungkinan bertabrakannya pesawat-pesawat kertas dari kedua kelompok orang di padang rumput yang luas pada contoh di atas.

Lantas apa yang terjadi jika kedua galaksi yang bertabrakan? Yang terjadi adalah kedua galaksi melebur menjadi satu dan membentuk sebuah galaksi baru…….

Catatan:

Jikalau 1 detik cahaya = 300.000 kilometer, maka 2.000.000 tahun cahaya kira-kira sama dengan 19.000.000.000.000.000.000 kilometer. Tidak sulit untuk menghitungnya.