Yari NK

Arsip untuk Juni, 2009

Debat Matematikapun Bisa Sekocak Debat Politik…

In Iseng, Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi on Selasa, 30 Juni 2009 at 9:50 am

Walaupun saya akui, sampai debat sesi ketiga lalu, debat capres dan cawapres masih kurang menggigit (walaupun yang terakhir sudah lumayan), namun debat tim suksesnya yang kebanyakan terdiri dari para politisi masih sangat menghibur, minimal buat saya. Argumen-argumen para politisi tersebut yang seringkali bias dan tidak obyektif (tergantung pada fihak mana ia berada) merupakan bahan hiburan tersendiri untuk “ditertawakan” ramai-ramai.

Namun tahukah anda, tarnyata debat politik bukan satu-satunya topik yang dapat membuat sebuah perdebatan menjadi kocak. Ternyata debat matematikapun bisa membuat perdebatan menjadi kocak setidaknya seperti yang anda dapat lihat di sini. Topiknyapun sebenarnya cukup sederhana yaitu apakah benar \frac{0}{0}=1? Saya tidak akan membahas apakah \frac{0}{0}=1 atau tak terdefinisi karena anda bisa mendapatkan jawabannya yang bertebaran di jagad maya ini, lagipula saya juga bukan ahli matematika dan juga saya tidak bisa matematika. Tetapi saya akan mengomentari sedikit jalannya perdebatan tersebut.

Jikalau anda melihat sendiri perdebatan pada artikel tersebut jangan anda cari mana yang benar dan mana yang salah, karena jika anda pernah belajar matematika dasar anda dengan mudah dapat menentukan mana yang benar dan mana yang salah bahkan sebelum anda membaca perdebatan tersebut atau membaca komentar-komentar di artikel tersebut. Namun perhatikanlah bagaimana salah satu fihak pendebat yang terdesak menjawab pertanyaan dengan jawaban lain yang berbeda atau dengan fakta dan data-data lain yang tidak relevan dengan topik yang diperdebatkan. Nah, anda jangan terpengaruh dengan topik yang saya tulis ini, berusahalah netral namun tetaplah obyektif, nilailah sendiri mana menurut anda pendebat yang baik maupun mana pendebat yang ‘asal jawab’. Fihak yang ‘asal jawab’ sepertinya beranggapan bahwa dengan menjawab ia akan merasa tidak kalah walaupun jawabannya tidak relevan dan tetap akan mengangkat gengsinya walaupun mungkin justru orang lain menganggap sebaliknya……..

Saya jadi ingat ada anak kecil ditanya:

“Nak, tahu nggak ibukota negara Malaysia itu apa??”

Lalu si anak dengan pede-nya berkata:

“Ibukota Indonesia itu Jakarta pak!!!”

Benar sih, tapi katanya si Jaka Sembung itu nggak nyambung!! :lol:

Yang Cowok Jantan Lebih Indah Dari Yang Cewek Betina

In Iseng, Pengetahuan, Serba Serbi on Sabtu, 27 Juni 2009 at 10:07 am
Burung Merak. Yang jantan (di belakang) mempunyai bulu yang lebih indah dari yang betina (di depan).

Burung Merak. Yang jantan (di belakang) mempunyai bulu yang lebih indah dari yang betina (di depan).

Tahukah anda di dalam biologi dikenal yang dinamakan dimorfisme (dimorphism) atau lebih spesifiknya lagi adalah dimorfisme seksual (sexual dimorphism)? Dimorfimse ini adalah perbedaan sistematis yang ada di antara kedua jenis kelamin dalam spesies yang sama. Dimorfisme ini mencakup segala perbedaan baik perbedaan secara fisik yang jelas terlihat ataupun perbedaan-perbedaan yang agak sulit atau bahkan sulit dilihat mata. Bahkan bisa jadi dimorfisme ini mnecakup perbedaan tingkat molekular antara kedua jenis kelamin pada spesies yang sama.

Common Pheasant (Phasianus colchicus). Spesies burung, di mana yang jantan (kanan) bulunya berwarna-warni indah, sementara yang betina bulunya monoton.

Common Pheasant (Phasianus colchicus). Spesies burung, di mana yang jantan (kanan) bulunya berwarna-warni indah, sementara yang betina bulunya monoton.

Dimorfisme yang paling kita kenal adalah dimorfisme pada burung merak (peafowl). Di mana kita semua sudah mengetahui bahwa burung merak jantan (peacock) mempunyai bulu ekor yang sangat indah sementara burung merak yang betina (peahen) bulu ekornya sama sekali tidak menarik. Entah kenapa, dalam dimorfisme fisik kebanyakan yang jantan lebih indah daripada yang betina. Hal tersebut bukan hanya terjadi pada burung merak saja. Pada spesies burung lainnya, Phasianus colchius, yang jantan jauh lebih indah berwarna dibandingkan yang betina seperti yang dapat anda lihat pada gambar di atas. Begitu juga dalam banyak spesies lain yang contohnya dapat dilihat pada gambar-gambar di artikel ini.

Bebek mallard. Yang jantan (depan) mempunyai bulu kepala dan paruh yang berwarna indah dibandingkan dengan yang betina (belakang).

Bebek mallard. Yang jantan (depan) mempunyai bulu kepala dan paruh yang berwarna indah dibandingkan dengan yang betina (belakang).

Namun begitu, dalam beberapa spesies terjadi dimorfisme yang “menungguli” si betina dari yang jantan terutama dari sisi ukurannya, di mana yang betina ukurannya jauh lebih besar dibandingkan yang jantan. Sebuah spesies laba-laba, Argiope appensa, misalnya, yang perempuan berukuran tiga setengah kali lebih besar dari yang jantan. Sementara sebuah spesies ikan yang aneh, Triplewart seadevil (Cryptopsaras couseii), ukuran yang jantan hanya sepersepuluh dari ukuran yang betina panjang badannya.

Orgyia recens. Sejenis spesies kupu-kupu. Di mana yang jantan (atas) mempunyai sayap, sementara yang betina (bawah) tidak mempunyai sayap!

Orgyia recens. Sejenis spesies kupu-kupu. Di mana yang jantan (atas) mempunyai sayap, sementara yang betina (bawah) tidak mempunyai sayap!

Walau dalam dimorfisme seksual di dunia biologi biasanya yang jantan jauh lebih indah dibandingkan yang betina namun bukan berarti keindahan tersebut merupakan keuntungan mutlak bagi si jantan. Keindahan warna-warni si jantan yang menyolok terkadang justru merugikan si jantan manakala ia dikejar-kejar binatang atau spesies pemangsa (predator). Warna-warni yang mencolok dari bulu si jantan justru menyusahkannya untuk berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya. Sementara yang betina dengan (relatif) lebih mudah dapat berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya sehingga kemungkinan untuk tidak terdeteksi oleh spesies pemangsa jauh lebih besar.

Nah, bagaimana sekarang dengan manusia (Homo sapiens)? Tentu saja dalam manusia juga terjadi dimorfisme. Namun secara alami dimorfisme itu tidak terlalu kentara secara fisik. Salah satunya yang agak kentara adalah biasanya perempuan atau wanita lebih lebar pada panggul sementara laki-laki atau pria biasanya mempunyai dada yang lebih lapang. Atau bulu rambut pada sekujur tubuh pria (termasuk kumis dan jenggot) juga biasanya lebih lebat dibandingkan wanita. Untung saja dimorfisme pada manusia tidak ada yang membuat tubuh pria menjadi jauh lebih indah dibandingkan tubuh wanita seperti pada burung merak  misalnya. Kalau ada, wah, bisa-bisa kaum wanita lebih cemburu lagi pada keunggulan-keunggulan yang dipunyai kaum pria! Wakakakakak…. **ditimpukin kaum hawa sedunia** :lol:

Debat Capres (Cawapres) Lawan Wimbledon…

In Iseng, Kehidupan, Manusia, Olahraga, Pemilu, Serba Serbi on Selasa, 23 Juni 2009 at 5:00 am

debateLah…. apa hubungannya Debat Capres dan Wimbledon? Hubungannya….. memang tidak ada! Namun bagi saya, keduanya sedikit “bersinggungan” karena dalam seminggu dua minggu ke depan ini jadwal debat capres (dan cawapres) akan bertubrukan dengan jadwal siaran langsung kejuaraan tennis yang bisa dikatakan terakbar di dunia yaitu Wimbledon yang mulai disiarkan langsung kemarin sore, Senin 22 Juni 2009. Walau kedua event ini termasuk event yang saya tunggu-tunggu penayangannya lewat televisi tapi kedua-duanya sudah menuai kekecewaan buat saya. Kenapa??

Debat capres pertama yang saya ikuti minggu lalu di televisi ternyata telah mengecewakan saya. Kenapa?? Anda tentu sudah tahu kenapa sebabnya. Ya… karena acara yang judulnya “Debat Capres” menjadi lebih mirip jika judulnya diganti menjadi “Sinergi (antar) Capres”. Para peserta debat lebih banyak ho’oh dan seiya-sekata dengan lawan debatnya dibandingkan mendebat pernyataan, opini, visi dan misi lawan-lawan debatnya. Jadi dalam debat capres yang pertama, esensi debat yang seharusnya ditampilkan dalam acara itu gagal ditampilkan sehingga masyarakat jadi susah membedakan perbedaan visi dan misi para capres. Lah, kalau sudah seiya sekata ngapain juga diadakan acara debat?? Lantas, kalau semua capres (dan cawapres) sudah seiya sekata dan cuma saling mengekor ya buat apa masyarakat harus memilih dengan cerdas, lah wong para capresnya juga bisanya cuma “ho’oh” saja dalam berdebat……

Menurut pendapat saya pribadi (tentu bisa saja salah walaupun bisa juga benar sekali :P ) memang para peserta debat punya “beban mental” tersendiri. Selain sepertinya para capres ingin tampil santun, sepertinya para capres ini juga takut “salah berargumentasi” dalam perdebatan tersebut. Dan juga sepertinya, masih menurut saya, ehm, sepertinya capres yang nomor satu dan yang nomor tiga sedikit ogah untuk berkonfrontasi satu sama lain. Karena….. mereka saling membutuhkan suara pendukung yang rontok pada pilpres putaran pertama untuk menghadapi pilpres putaran kedua. Ya, nggak lucu dong, nanti saling mendukung sekarang mengkritik dan berdebat sengit. Untuk itu sepertinya capres yang nomor satu dan nomor tiga hanya “bernafsu” untuk berkonfrontasi dengan capres yang nomor dua. Namun sepertinya juga kurang elok jika dalam perdebatan yang seharusnya segitiga itu menjadi perdebatan “garis lurus” karena titik yang ketiga dalam segitiga tersebut sudah bergabung (berhimpitan) dengan titik pertama untuk sama-sama menghantam titik yang kedua.

Nah, masih menurut saya lagi, seharusnya agar perdebatan lebih hidup format acaranya memang harus diubah. Penyampaian visi dan misi masing-masing para capres (dan cawapres) pada masing-masing topik sebaiknya ditiadakan, atau kalaupun ada paling lama hanya lima menit saja, jangan sepuluh menit, terlalu lama. Toh, kemungkinan besar nanti yang didengar juga cuma lagi-lagi hal-hal yang berbau normatif yang terkesan basi. Untuk itu, waktu yang berharga tersebut bisa langsung digunakan untuk sesi perdebatan. Agar para capres (dan cawapres) lebih terangsang untuk berdebat, maka sesi yang perlu ditambahkan mungkin adalah “sesi pertanyaan antarcapres (dan cawapres)”. Dalam sesi ini seorang capres (dan cawapres) bebas bertanya atau mempertanyakan kepada capres (dan cawapres) lainnya, yang mana saja, tentang visi, misi serta program-program para capres (dan cawapres) yang ditanya tersebut yang sesuai dengan topik yang diperdebatkan tentu saja. Atau boleh jadi ditambahkan juga “sesi mengkritik antar capres (dan cawapres)” di mana para capres (dan cawapres) “wajib” untuk mengkritik visi dan misi serta program-program capres dan cawapres lainnya. Kritikan boleh menyangkut performansi capres dan cawapres masa lalu (ketika menjabat sebagai presiden dan wapres) ASAL sesuai dengan topik yang diperdebatkan. Nah, di sinilah peran moderator sesungguhnya untuk meluruskan kembali perdebatan jika perdebatan telah keluar dari topik atau menjurus kepada hal-hal yang berbau pribadi atau subyektif. Dengan moderator yang cakap diharapkan perdebatan akan berlangsung terarah namun mendalam serta tetap obyektif.

Tennis-02-juneTentu itu hanya usul saja dari saya. Namun kita lihat saja, apakah debat capres (dan cawapres) seri selanjutnya akan semakin seru?? Mudah-mudahan semakin seru (namun tidak ngawur) agar kita bisa melihat capres dan cawapres kita yang bermutu dalam berargumentasi dan perdebatan, serta untuk masyarakat mengetahui mana capres yang paling cocok untuk mereka. Namun kalau acara perdebatan capres (dan cawapres) masih nggak seru juga, tidak apa-apa bagi saya, saya akan beralih channel untuk melihat siaran langsung pertandingan tennis Wimbledon dari Inggris.

Nah, seperti yang saya utarakan sebelumnya, ternyata Wimbledon tahun ini juga cukup mengecewakan bagi saya. Kenapa?? Karena petenis Spanyol Rafael Nadal tidak ikut tahun ini karena kondisinya tidak fit 100% untuk ikut Wimbledon. Sehingga nampaknya petenis Swiss Roger Federer peluangnya sangat besar untuk menjuarai Wimbledon. Bukannya saya tidak suka dengan Federer jika ia menjadi juara namun karena Federer sebelumnya sudah menjuarai Wimbledon 5 kali berturut-turut dari tahun 2003 hingga 2007, sementara Rafael Nadal baru sekali. Satu-satunya yang bisa menggagalkan Roger Federer adalah petenis tuan rumah Andy Murray yang berada di peringkat ketiga dunia. Mudah-mudahan pertemuan Roger Federer dan Andy Murray dapat terjadi di Final dan dapat menjadi pertandingan yang lebih seru dibandingkan partai final tahun lalu antara Roger Federer dan Rafael Nadal (yang dimenangkan oleh Rafael Nadal). Tapi untungnya, di bagian tunggal putri, kekuatan masih cukup merata di mana dua petenis kulit hitam bersaudara asal Amerika Serikat Venus dan Serena Williams akan dicoba “dikeroyok”  oleh petenis-petenis Rusia dan Eropa timur yang kebanyakan cantik-cantik tersebut seperti Maria Sharapova, Svetlana Kuznetsova, Dinara Safina, Ana Ivanovic dan Jelena Jankovic. Ok deh, kita lihat saja siapa yang juara nanti.

Nah, untuk itu nanti jika acara debat capres dan cawapres mengecewakan, saya bisa beralih channel menonton siaran langsung tennis Wimbledon di StarSports. Tinggal pilih mana yang lebih menarik. Kalau kedua-duanya sama-sama menarik ya harus pasang dua buah TV atau saya harus bolak-balik antara ruang tamu dan kamar tidur. Huehehehe…….

Satu Mol Gula dan Satu Mol Sendok Makan Gula

In Pengetahuan, Serba Serbi on Jumat, 19 Juni 2009 at 6:56 am

avogadro_numberSebagian dari anda mungkin pernah membeli sepasang sepatu (2 buah), selusin telur (biasanya yang di dalam wadah kotak plastik transparan) yang isinya 12 buah, satu krat Coca-Cola yang isinya 24 botol atau jika anda membeli 6 krat Coca-Cola yang sama dengan 144 botol berarti anda membeli 1 gros botol Coca-Cola, dan juga 1 rim kertas yang isinya 500 lembar. Ya, kata-kata seperti pasang, lusin, gros ataupun rim merupakan kata bantu bilangan (eh, benar ya istilahnya?? :D ) yang menunjukkan jumlah tertentu. Tetapi tahukah anda ada satu kata bantu bilangan lagi yang jarang sekali kita pakai sehari-hari yaitu: satu mol.

Kenapa satu mol jarang kita pakai pada percakapan sehari-hari?? Karena satu mol adalah sebuah kuantitas yang sangat besar yaitu 6,02 x 1023 atau 602.000.000.000.000.000.000.000. Ya, kata bantu bilangan ini memang hanya dipakai oleh para ahli (kimia dan fisika) untuk menghitung jumlah molekul atau atom yang ada pada suatu substansi. Walaupun kata bantu bilangan mol ini bisa kita terapkan pada kehidupan kita sehari-hari namun karena kita jarang berurusan dengan kuantitas yang sebesar ini maka tentu saja bagi kebanyakan kita kata bantu bilangan ini terasa asing.

Dari mana datangnya angka sebesar itu? Angka ini bermula dari sebuah hipotesis yang dikemukakan oleh seorang ilmuwan Italia bernama Amadeo Avogadro. Dalam hipotesisnya Avogadro mengatakan bahwa volume yang sama dari setiap gas (apapun ’spesies’ gasnya) pada temperatur dan tekanan yang sama maka jumlah molekul gas tersebut akan sama! Untuk itulah angka 6,02 x 1023 ini sering disebut sebagai ‘bilangan Avogadro’ untuk menghormati ilmuwan Italia tersebut. Namun ingat, bahwa 6,02 x 1023 ini adalah satu mol bukan satu Avogadro. Namun, Avogadro sendiri waktu itu tidak tahu berapa jumlah molekul yang ada pada volume tertentu tersebut. Tahun 1860, seorang ilmuwan Italia lainnya Stanislao Cannizzaro menghidupkan kembali hipotesis Avogadro yang mulai terlupakan ini pada sebuah konferensi ilmiah dan baru pada tahun 1865 ilmuwan Austria bernama Johann Josef Loschmidt mengadakan penelitian dan pengukuran serius berdasarkan hipotesis Avogadro ini. Hasil pengukuran Loschmidt waktu itu adalah sebesar 4 x 1022. Memang meleset dari perhitungan modern yang menghasilkan angka 6,02 x 1023. Namun tentu saja hasil tersebut tidak buruk untuk usaha yang pertama kali dan mengingat keterbatasan teknologi saat itu. Untuk itu di negara-negara yang berbahasa Jerman, seperti Jerman dan Austria bilangan Avogadro seringkali disebut sebagai bilangan Loschmidt sebagai penghargaan terhadap ilmuwan Austria tersebut atas usahanya memenghitung dan mencari bilangan Avogadro tersebut secara riil untuk pertama kalinya.

Satu mol ini tentu saja tidak hanya berlaku bagi gas namun juga bagi benda padat dan benda cair. Yang penting pada saat para ahli mengatakan 1 mol dari sebuah substansi atau zat maka dalam zat tersebut terdapat 6,02 x 1023 molekul dari zat tersebut. Jadi jika para ahli mengatakan “satu mol gula” berarti pada gula tersebut terdapat 6,02 x 1023 molekul gula. Jikalau kita konversikan ke dalam gram maka tinggal kita kalikan saja satu mol dengan berat atom satu molekul gula. Gula (sukrosa) mempunyai rumus kimia C12H22O11. Berat atom C = 12, berat atom H = 1, berat atom O = 16. Jadi berat satu mol gula adalah 1 x (12×12 + 22×1 + 11×16) = 342 gram (kurang dari setengah kilo). Jadi jika anda mau beli gula di pasar sebanyak satu mol berarti anda ingin membeli gula sebanyak 6,02 x 1023 molekul gula atau 342 gram gula. Tapi jangan pernah anda mengatakan bahwa anda mau membeli satu mol sendok makan gula!! Karena itu berarti anda mau membeli gula sebanyak 6,02 x 1023 sendok makan. Jika satu sendok gula (pasir) adalah sekitar 13,2 gram (sudah saya timbang semalam sebelumnya :mrgreen: ) maka jika anda ingin membeli satu mol sendok makan gula berarti anda ingin membeli 7,9 x 1021 atau 7.900.000.000.000.000.000.000 kilogram gula!! Sebagai perbandingan massa (bobot) bulan adalah 7,4 x 1022 kg. Berarti dengan satu mol sendok makan gula anda bisa membuat planet mini sendiri di luar angkasa, planet gula! :mrgreen:

Nah, sebagai bagian akhir dari artikel ini, anda bisa ‘merealisasikan’ sendiri dan merasakan sendiri banyaknya satu mol ini. Selamat mencoba: :mrgreen:

  • Jika anda mempunyai kertas sebanyak satu mol lembar berarti anda bisa mempunyai tumpukan kertas dari bumi hingga ke matahari !! Anda bukan hanya akan mempunyai satu tumpukan saja tetapi anda bisa mempunyai lebih dari sejuta tumpukan kertas dari bumi ke matahari !!
  • Jikalau anda mengoleksi bola tennis sebanyak satu mol, maka bola tennis tersebut akan menutupi seluruh permukaan bumi dengan tumpukan bola tennis tersebut mencapai beratus-ratus kilometer !!
  • Jika anda mempunyai butiran pasir sebanyak satu mol, maka butiran2 pasir tersebut dapat menutupi seluruh Jawa Barat dengan setinggi kira-kira BNI Tower yang ada di Jakarta!!
  • Jikalau anda mempunyai uang sebanyak satu mol rupiah dan dibagikan kepada 6 milyar penduduk di muka bumi ini maka uang tersebut cukup untuk kita semua untuk dibelanjakan satu juta rupiah setiap menit selama 24 jam sehari sepanjang kita hidup dan kita masih punya sisa lebih dari setengahnya ketika kita meninggalkan dunia yang fana ini.

Halaaah Tiga Topik Mini Lagi…..

In Iseng, Kehidupan, Manusia, Perilaku, Serba Serbi on Senin, 15 Juni 2009 at 11:02 am

Biasa, karena lagi sedikit malas membuat artikel yang agak-agak berat, terpaksa deh dengan sangat menyesal, kali ini lagi-lagi saya akan membuat artikel dengan tiga topik mini lagi yang tidak bermutu independen satu sama lain. Huehehehe…..

Halaaah MADE IN USA lagi…….

Sprayer yang saya beli, ada bendera USA-nya di bawah!!

Sprayer yang saya beli, ada bendera USA-nya di bawah!!

Ini cerita sewaktu saya hendak membeli digital lightmeter, yaitu alat pengukur kekuatan intensitas cahaya yang sering dipakai para penggemar fotografi profesional untuk mengukur intensitas cahaya agar kualitas fotonya optimal. Tetapi saya membeli lightmeter ini bukan untuk keperluan fotografi tentu saja karena saya orang yang tidak begitu menyenangi fotografi. Nah, untuk itu saya pergi ke Ace Hardware guna membeli lightmeter tersebut. Tadinya memang mau membeli lightmeter-nya saja, tetapi entah kenapa ternyata yang suka belanja itu bukan ibu-ibu aja ya, bapak-bapak seperti saya juga ternyata suka belanja juga. Akhirnya beberapa item saya beli juga termasuk sebuah botol sprayer seperti pada gambar. Kebetulan saya juga sedang membutuhkan sebuah botol sprayer untuk sedikit bersih-bersih di ruangan kantor saya. Tanpa lihat harganya lagi  langsung saya sambar sprayer-nya apalagi modelnya unik karena ada lubang pengisi airnya di samping botol.

Ketika hendak membayar di kasa sedikit kaget juga saya karena harganya lumayan mahal Rp. 66.000,- padahal kalau di pasar-pasar paling-paling harganya sekitar Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,-. Ternyata, setelah diteliti lebih lanjut ternyata botol sprayer tersebut adalah Made in USA. Alamak!! Pantesan agak mahal! Lha…. ternyata Indonesia bukan hanya mengimpor peralatan alutista dari USA, hingga urusan botol sprayerpun ternyata masih juga ada yang impor dari USA! **geleng-geleng kepala**

Halaaah EQ lagi…

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang IQ, EQ dan juga SQ. Saya jadi ingat peristiwa yang saya alami yang sebenarnya kejadiannya sudah cukup lama. Waktu itu saya tengah mengantri di bank BUKOPIN di ITB. Waktu itu bank BUKOPIN-nya masih terletak di perpustakaan pusat ITB. Karena status bank BUKOPIN yang ada di ITB adalah hanya sebagai kantor kas pembantu, maka ruangannya hanya kecil saja dan tidak ada nomor antrian elektronik. Jadi terpaksa harus mengantri. Namun syukur waktu itu antrian depan saya hanya satu orang sehingga saya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengantri dan dapat segera ‘bertransaksi’ dengan si kasir. Nah, di sebelah saya ada bapak-bapak, usianya sekitar 50-60 tahunan. Tampangnya sih tidak terlalu ndeso lah. Rupanya si bapak-bapak tersebut tengah ‘bertransaksi’ juga dengan kasir yang ada di sebelah kasir yang tengah ‘bertransaksi’ dengan saya (kasirnya ada dua).

Namun, entah kenapa ketika disuruh mengisir formulir transaksi, si bapak-bapak tersebut nampak gelisah. Dia berkali-kali bertanya kepada sang kasir, namun tetap saja ia gelisah. Saya mulai menduga bahwa kemungkinan besar si bapak-bapak itu lupa membawa kacamata plusnya atau bisa jadi juga beliau buta huruf  !! Sepertinya setiap kali ia mau menulis pasti tidak jadi! Ternyata ada juga seorang satpam bank dari samping yang memperhatikan si bapak itu. Lantas si satpam mengatakan dengan ramah “Pak, mari saya bantu isi formulirnya.” Si bapak-bapak tersebut nampak senang, sambil dicongak oleh bapak-bapak tersebut si satpam membantu menuliskan informasi yang harus diisi oleh si bapak-bapak tersebut. Dugaan saya, bahwa si bapak tersebut buta huruf (walau saya tidak bisa yakin 100%) semakin besar ketika hendak menuliskan nomor rekening anaknya, si bapak-bapak tersebut menyerahkan secarik kertas kepada si satpam. Oh, rupanya si bapak tersebut hendak melakukan ‘cash transfer‘ ke nomor rekening anaknya.

Nah, menurut saya tindakan si satpam ini adalah tindakan yang ‘cerdas’ karena ia langsung menawarkan bantuan pengisian formulir dan tidak bertanya dahulu “ada apa ya pak?” karena kemungkinan jika si bapak tersebut benar buta huruf mungkin si bapak-bapak itu akan malu mengatakan bahwa dirinya buta huruf. Jadi dengan langsung menawarkan bantuan, semua orang menjadi bahagia. Si bapak-bapak tersebut menjadi bahagia dan tidak malu, dua orang yang sudah mengantri di belakang bapak-bapak tersebut tentu saja juga ikut berbahagia karena urusannya jadi lebih cepat, si satpam  mungkin juga bahagia karena bisa menolong si bapak-bapak tersebut. Sekarang pertanyaannya tindakan si satpam yang menurut saya sangat tepat itu berkaitan dengan IQ-nya atau EQ-nya ya??

Halaaah Kampanye Lagi……..

Kita semua megetahui bahwa pada saat ini tengah musim kampanye pilpres. Kini calon-calon pemimpin negara ini tengah ramai-ramai mencuri hati rakyat dengan turun ke pasar-pasar, sekolah-sekolah ataupun tempat-tempat lain yang identik dengan sentra-sentra rakyat kecil. Pendek kata inilah waktu pada saat pemimpin-pemimpin dekat dengan rakyatnya. Saya berfikir, apa nanti kalau mereka sudah terpilih jadi presiden, apa mereka tetap mau ‘menengok’ rakyatnya langsung seperti itu ya?? Tidak perlu setiap hari atau setiap minggu, cukup sebulan atau dua bulan sekali misalnya. Mungkin nggak ya??

Ah jangankan pemimpin, lha wong sekarang para wakil rakyat yang sudah terpilih saja mungkin sudah mulai melupakan rakyatnya. Tidak ada lagi sumbangan-sumbangan manis atau bagi-bagi duit dan sembako seperti pada saat kampanye dulu. Semua masa-masa manis untuk rakyat telah berlalu…… berlalu bak ditelan angin lalu…… **saya juga udah maklum sih, namanya juga politik** :mrgreen: Tapi omong2 mereka yang tidak terpilih sebagai wakil rakyat apa masih juga memperhatikan nasib rakyat?? Sami mawon….. :P

Kurangi Makan Akan Awet Muda!

In Pengetahuan, Serba Serbi on Jumat, 12 Juni 2009 at 5:00 am

biological_clockForever Young… I want to be forever young….
Do you really want to live forever, forever and ever…..

Dua baris lagu merdu dari sebuah grup synthpop asal Jerman, Alphaville, di tahun 1984 yang sampai kini lagunya masih saya suka ini, menceritakan tentang bagaimana seseorang ingin awet muda dan kalau bisa dapat hidup selamanya. Ya, terlepas dari fakta bahwa beberapa orang yang putus asa lebih senang mengakhiri hidupnya sendiri, namun secara umum umat manusia sangat mendambakan agar dirinya dapat hidup lebih lama, tentu saja dengan masa muda yang lebih lama bukan hidup lebih lama namun dengan memperpanjang masa tua. Di abad pertengahan ketika orang Eropa (Spanyol) baru pertama kali menginjakkan kakinya di benua Amerika, mereka percaya bahwa di suatu tempat yang sekarang bernama Florida (sebuah negara bagian Amerika Serikat) terdapat mata air “Fountain of Youth” di mana jika seseorang meminum air dari mata air tersebut orang tersebut akan selalu muda.

Kini, tentu saja kita mengetahui bahwa Fountain of Youth adalah isapan jempol belaka, namun di abad ke-21 ini, para ilmuwan terutama para ahli genetika berharap menemukan sesuatu yang mungkin tak kalah ampuhnya dengan Fountain of Youth dalam membuat seseorang menjadi muda lebih lama. Di akhir tahun 2000, para peneliti di Universitas Connecticut di Amerika Serikat mengubah gen dari sebuah spesies lalat tertentu. Hasilnya?? Lalat tersebut dapat hidup rata-rata hingga 110 hari atau tiga kali dari usia normal yang dapat dicapai lalat tersebut. Namun yang terpenting bukan saja masa hidup lalat yang berhasil diperpanjang namun juga lalat-lalat tersebut tetap muda hingga menjelang akhir hayatnya bahkan lalat-lalat betinanya dapat terus bereproduksi hingga menjelang akhir hayatnya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Para peneliti genetika tersebut merubah sebuah gen yang berada di salah satu kromosom lalat tersebut yang mencegah si lalat menggunakan energi atau kalori yang berlebihan! Sebenarnya para ilmuwan sudah mengetahui sejak puluhan tahun yang lalu bahwa konsumsi kalori atau energi yang rendah pada beberapa jenis binatang percobaan telah membuat binatang-binatang tersebut menjadi lebih awet muda dan lebih lama vitalitasnya. Namun begitu pengaturan konsumsi dan penggunaan kalori atau energi lewat rekayasa genetika memang masih dalam tahap yang sangat awal. Energi atau Kalori memang seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Di satu sisi energi sangat diperlukan tubuh agar kita tetap hidup, sementara di sisi lain energi juga membuat sel-sel tubuh kita menjadi cepat aus (tua). O iya, agar tidak terjadi salah pengertian harus dibedakan antara zat-zat gizi (nutrien) dengan energi yang dihasilkan oleh makanan. Yang membuat sel-sel menjadi cepat aus BUKAN nutriennya TETAPI adalah energi yang dihasilkan oleh makanan yang kita konsumsi lewat proses metabolisme di dalam tubuh. Jadi jangan keliru!

Para ahli genetika yakin bahwa gen yang mengatur agar individu tidak menggunakan banyak energinya juga terdapat dalam diri manusia. Jika gen ini bisa ditemukan dan dapat dimanipulasi secara tepat diharapkan kelak manusia bisa mempunyai masa muda yang produktif sekitar 150 tahunan. Namun mungkin kita saat ini tidak bisa memanfaatkan teknologi tersebut karena jalan menuju manipulasi genetik manusia yang menyangkut masalah ‘awet muda’ ini masih sangat panjang jalannya, yang nampaknya masih harus menempuh jalan yang berliku dan sangat rumit dan tentu saja memakan biaya yang tidak sedikit. Namun begitu, sementara jalan menuju manipulasi genetik untuk pengaturan konsumsi energi pada manusia masih jauh, anda mungkin bisa mencoba cara primitif yang sudah ada sejak dulu, yaitu kurangilah makan terutama makanan yang kaya karbohidrat dan lemak (yang merupakan makanan sumber energi). Huehehehe…. Mungkin sabda Rasulullah SAW zaman dulu ada benarnya juga dengan bersabda “Berhentilah Makan Sebelum Kenyang”. :D

Mengendalikan Makan atau Memperbanyak Olahraga?

In Pengetahuan, Perilaku, Serba Serbi on Senin, 8 Juni 2009 at 6:15 am

bathroom_scaleSudah agak lama tidak menimbang badan. Kemarin pada akhirnya berkesempatan menimbang badan lagi, kebetulan lagi iseng-iseng membereskan barang-barang yang ada di bawah tempat tidur jadi ingat menimbang badan karena timbangan badannya saya simpan di bawah tempat tidur. Karena merasa selama beberapa bulan merasa sudah banyak melakukan aktivitas yang cukup melelahkan secara fisik dan juga kini saya minimal seminggu sekali pergi jalan kaki ke Pasar Cihapit yang jauhnya kira-kira setengah mil dari rumah saya, berharap angka timbangan saya turun, ternyata angka timbangan saya tetap 166 pound ( 1 lb = 452 gram ). Ternyata bukannya turun malah naik 1 pound sejak penimbangan terakhir. :(

Kita, manusia, tentu memerlukan energi untuk hidup dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Energi yang didapat tentu saja dari makanan yang kita makan bukan dari colokan listrik atau bensin dari pompa bensin. Energi yang didapat dari makanan yang kita makan diukur dengan satuan Kalori (tepatnya adalah kilokalori atau Kalori dengan huruf K besar). Ketika energi yang kita dapat dari makanan tersebut masuk ke tubuh kita, menurut hukum pertama dari termodinamika, ada dua kemungkinan yang akan terjadi: Pertama, energi tersebut diubah menjadi kerja untuk aktivitas kita sehari-hari dan panas tubuh. Kedua, jika energi yang kita konsumsi melebihi energi yang digunakan untuk aktivitas kerja kita maka energi tersebut akan disimpan dalam bentuk lemak di tubuh kita. Sebaliknya jika energi yang kita konsumsi lebih sedikit dari energi yang diperlukan untuk aktivitas kerja kita maka energi diambil dari lemak untuk menutup defisit sehingga lemak tubuh kita berkurang.

Di bawah ini adalah kira-kira hitung-hitungan energi yang berada pada tubuh kita:

  1. Untuk pemeliharaan tubuh (body maintenance), tubuh kita biasanya menggunakan sekitar 15 Kalori per hari per pound berat badan.
  2. Untuk mendapatkan satu pound lemak tubuh kita harus mengkonsumsi makanan yang mengandung kira-kira 3500 Kalori.

Berat badan saya (seperti yang saya sebutkan di atas) adalah 166 pound. Maka untuk mempertahankan berat badan saya, maka minimal tiap hari saya harus mengkonsumsi makanan yang mengandung energi:

166\: pound \times 15 \frac{Kalori}{pound} = 2490 kalori.

Sementara untuk menurunkan berat badan saya sebanyak satu pound dalam waktu seminggu maka saya harus mengurangi konsumsi energi saya sebanyak:

\frac{3500\: Kalori}{7\: hari} = 500 Kalori per hari.

Jadi dengan kata lain agar pemeliharaan tubuh saya tidak terganggu tetapi saya ingin menurunkan berat badan saya sebesar satu pound selama seminggu, berarti setiap hari saya harus mengkonsumsi (2490 – 500) Kalori = 1990 Kalori.

Atau ada alternatif lain, saya tetap bisa mengkonsumsi makanan dengan energi 2490 Kalori setiap hari namun saya harus melakukan olahraga untuk menghilangkan 500 Kalori setiap harinya. Nah, untuk menghilangkan 500 Kalori setiap hari, maka saya harus berolahraga seperti lari sejauh 5 mil, bersepeda 15 mil atau berenang selama satu jam. Nah, menu-menu olahraga tersebut dengan takarannya itu kira-kira akan menggunakan 500 Kalori dari tubuh kita.

Jadi, lebih enak mana ya?? Mengurangi makanan atau makan tetap tetapi memperbanyak olahraga??? :D

Neo Liberalisme Lawan Ekonomi Kerakyatan: Sama Parahnya!

In Ekonomi, Iseng, Manajemen/Bisnis, Pemilu, Serba Serbi on Kamis, 4 Juni 2009 at 5:00 am

Hari-H pemilihan capres dan cawapres semakin dekat. Kubu-kubu yang berseteru memperebutkan kursi kepresidenan semakin seru saling melontarkan serangan-serangan ke kubu yang berseberangan. Salah satu tema basi yang selalu dilontarkan oleh para politisi adalah isu neo-liberalisme melawan ekonomi kerakyatan. Pembahasannya seperti jalan di tempat, perdebatan yang dilakukan hanya menyangkut masalah yang di permukaan dan itu-itu saja, berputar-putar seperti lingkaran setan yang tidak ketemu ujungnya. Hal tersebut membuat saya semakin terhibur dan ingin nggak mau kalah dengan para politisi tersebut berpendapat sendiri secara amatiran tentang Neo-Liberalisme lawan Ekonomi Kerakyatan tersebut.

Neo-Liberalisme yang ada di bidang ekonomi yang sering diributkan akhir-akhir ini sebenarnya adalah kata lain dari kapitalisme atau sistem ekonomi pasar dalam titik yang sangat ekstrim sehingga pemerintah hampir tidak ikut campur tangan dalam urusan ekonomi dan semuanya tergantung pada mekanisme pasar. Neo-liberalisme ini hampir sama dengan laissez-faire economy yang merupakan titik ekstrim dari sistem ekonomi pasar. Semakin dekat perekonomian suatu negara kepada neo-liberalisme laissez-faire economy dapat dikatakan semakin kapitalis bebas perekonomian negara tersebut. Kebebasan campur tangan pemerintah itu pada suatu perekonomian diwujudkan dengan indikator seperti: Kebebasan dalam memasuki dan berkompetisi di pasar, barang yang diproduksi juga sesuai dengan selera individu bukan selera kolektif yang diatur pemerintah,  perdagangan diatur oleh pasar bukan oleh politik pemerintahan, proteksi terhadap properti pribadi dan sebagainya. Sekarang bagaimana posisi Indonesia di antara negara-negara lain di dunia pada skala neo-liberal kebebasan ekonomi ini?? Menurut data economic freedom of the world, posisi Indonesia berada di posisi ke-86 dunia bersama-sama dengan China dan beberapa negara lainnya di dunia. Jadi saat ini posisi Indonesia sebenarnya cukup sangat jauh dari sebutan negara neo-liberal dalam bidang ekonomi. Sementara itu Hongkong dan Singapura menjadi negara-negara yang perekonomiannya paling liberal di dunia mengalahkan Amerika Serikat dan Inggris yang harus puas di tempat ke-5. Fakta menarik lainnya adalah beberapa negara-negara Timur Tengah (Arab) justru lebih liberal perekonomiannya dibandingkan beberapa negara barat!! Uni Emirat Arab (peringkat 15) dan Oman (18) misalnya, perekonomiannya jauh lebih liberal dibandingkan Jepang (22), Belgia (38), Perancis (52) dan Italia (52)!! Sementara itu negeri jiran kita Malaysia (60) perekonomiannya lebih liberal dibandingkan perekonomian kita sekarang.

Lantas bagaimana dengan “ekonomi kerakyatan”?? Ekonomi kerakyatan yang diasung salah satu pasangan capres-cawapres memang sangat bagus dan indah di atas kertas. Salah satu poin yang paling menghibur indah adalah membangun sistem industri (pertanian) berbasis rakyat dari hulu sampai ke hilir. Saya tidak tahu apakah dengan pembangunan sistem perekonomian yang berbasis rakyat ini maka semua investor-investor asing akan dianaktirikan bahkan ‘diusir’ dari bumi nusantara ini?? Perekonomian kerakyatan ini mungkin sedikit lebih dekat (bukan mirip) kepada perekonomian sosialis pada negara-negara komunis zaman dulu dalam arti kata peran pemerintah sangat besar dalam mengatur perekonomian. Hanya saja ada perbedaan signifikan antara ekonomi sosialis pada negara-negara komunis dengan ekonomi kerakyatan ini. Jika di negara-negara komunis yang sosialis, kepemilikan modal individu atau swasta tidak diperbolehkan, sementara dalam sistem ekonomi kerakyatan ini kepemilikan modal individu atau swasta (terutama yang berasal dari dalam negeri) masih diperbolehkan.

Lantas mana dong yang lebih bagus, neo-liberalisme atau ekonomi kerakyatan?? Liberalisme yang kebablasan tentu saja tidak baik bagi sebuah masyarakat atau perekonomian karena hal tersebut semakin dekat dengan anarki pasar bebas (free-market anarchism) ataupun anarki kapitalisme (Anarcho-capitalism). Namun tentu saya yakin bahwa tidak ada satu negarapun (juga termasuk capres dan cawapresnya) yang akan mengadopsi liberalisme perekonomian yang kebablasan seperti ini. Nah, sekarang bagaimana dengan ekonomi kerakyatan?? Terdengarnya memang sangat indah di telinga rakyat seolah-olah dengan perekonomian kerakyatan ini rakyat akan serta-merta menjadi lebih makmur. Tetapi menurut saya, tentu hal ini tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Misalkan, andaikan investor asing banyak diusir dari negeri ini (mudah-mudahan nggak lah yaw!), apakah investor domestik sanggup menggantikan seluruh modal asing yang keluar dari negeri ini yang juga telah memberikan begitu banyak lapangan kerja bagi masyarakat dan secara tidak langsung juga telah ikut mensejahterakan rakyat? Salah perhitungan nanti malah justru banyak terjadi pengangguran di negeri ini! Belum lagi jika masalah korupsi tidak bisa diberantas. Kerjasama di bawah tangan antara pemerintah dan para kapitalis baru dari dalam negeri yang korup hanya akan menciptakan kesenjangan kemakmuran yang menganga. Keuntungan hanya dinikmati oleh mereka yang duduk di pemerintahan dan para segelintir masyarakat kapitalis bermodal kuat dari dalam negeri, sementara kebanyakan rakyat jelata tetap saja miskin! Tentu hal tersebut juga sesuatu yang tidak kita inginkan bersama.

Jadi daripada kita meributi isu neo-liberalisme lawan ekonomi kerakyatan yang bakalan tidak ada ujungnya itu, lebih baik berdebat dalam adu strategi bagaimana meningkatkan SDM kita, bagaimana memperbagus pendidikan di negara kita, bagaimana agar bangsa kita lebih menguasai ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi serta bagaimana strategi pemberantasan korupsi di masa depan. Karena tanpa SDM yang baik, tanpa pendidikan yang baik, tanpa penguasaan sains dan teknologi yang baik dan tanpa pemberantasan korupsi, apapun sistem perekonomian yang kita pilih akan sama parahnya!! :D

Catatan:

Jika seseorang konsisten dalam mendukung sistem ekonomi kerakyatan SECARA TOTAL tentu ia tidak akan belanja di Carrefour ataupun Makro tetapi akan belanja di pasar-pasar tradisional atau minimal belanja di mini market atau supermarket modal dalam negeri. Juga dalam beli sepatu, ia jangan beli sepatu merk Gucci, Hugo Boss atau Lacoste tetapi belilah sepatu Cibaduyut. Tapi itu belum cukup, sebaiknya juga ia tidak membeli Nokia, Sony-Ericsson, Samsung, Toyota, Honda, BMW, Intel, iMac, dan lain-lain. Sanggup?? Paling-paling alasannya kalau kita belum bisa memproduksi sendiri, ya boleh dong pakai produksi luar negeri. Karena jikalau mereka membeli produk-produk dengan merk-merk terkenal seperti di atas, mereka secara tidak langsung  telah mendukung “ekonomi neo-liberalisme”. Huehehehe…. :D Namun saya yakin seperti halnya tidak akan ada calon capres dan cawapres yang akan mengadopsi sistem neo-liberal yang kebabalasan, saya juga berkeyakinan tidak akan ada capres dan cawapres yang mampu mengadopsi sistem perekonomian kerakyatan secara total! :mrgreen: