Gara-gara melihat talk show pagi hari di TV-One mengenai penentangan film “Hantu Puncak Datang Bulan” oleh FPI, saya jadi ingin memostingkan postingan ini. Postingan ini, hanya “pelampiasan” keheranan saya pada dua buah peristiwa yang terjadi seabad lalu yang mungkin paling “aneh” yang pernah saya temui, (yang sampai hari ini belum bisa saya jawab secara logika). Ya, iyalah, peristiwanya seabad yang lalu yaitu di tahun 1990an yang masih berada di abad ke-20, ya kan?? Jadi dua buah peristiwa tersebut sudah seabad yang lalu!
Bagi mereka yang doyan film horor, mungkin siap-siap kecewa, karena di dalam postingan ini tidak ada kuntilanak (kata orang Malaysia: pontianak! Bener nggak??), suster ngesot, dokter ngesot, satpam ngesot, tukang parkir ngesot, dosen ngesot, blogger ngesot atau ngesot-ngesot yang dilakukan profesi lainnya!
Jadi maaf kalau kurang seram (bagi penggemar film horor), tetapi memang begitulah adanya.
Oke, kejadian pertama terjadi sekitar tahun 1997 atau 1998. Waktu itu saya masih di Jakarta. Suatu pagi saya menelpon ponsel teman saya. Teman saya itu tinggal di apartemen sewa (bahasa kerennya) atau kos-kosan (bahasa merakyatnya). Teman saya itu, sebut aja namanya Arif dan tentu saja laki-laki. Namun ketika saya meneleponnya pagi itu ternyata yang menerima adalah seorang wanita (minimal kedengarannya seperti suara seorang wanita di telepon). Karena yang menerima seorang wanita tentu saja saya sedikit heran, karena setahu saya ia waktu itu belum menikah.
“Halo…” kata suara di sana, suara seorang wanita.
“Halo… Eh….. ini hp-nya Arif kan?” tanyaku heran.
“Iya mas…. hp-nya mas Arif, ketinggalan. Mas Arifnya udah berangkat kerja tuh…” jawabnya.
“Ooo… ya udah… bilang aja ada telepon dari temannya, nomer hp dan nama saya tersimpan di situ kan?” balasku.
“Oo… iya…. nanti saya sampaikan” Katanya.
Kira-kira begitulah percakapannya. Aku hanya berfikir mungkin itu adiknya atau saudaranya atau mungkin ceweknya kali. Yang jelas (sayangnya) aku malas bertanya “siapa ini ya??” karena bukan urusannya. Sore harinya…. hp-ku berdering, dan ternyata dari si Arif.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam….” jawabku.
“Sorry, yar, tadi hp gue ketinggalan, habis buru2, baru lihat ada missed call dari lu….” katanya.
“Missed call? Lha… tadi pagi yang nerima cewek lu kok! Gilee lu ya…. nakal ya…. udah melihara cewek di kamar!” kataku setengah menggoda.
“Eh… sembarangan lu…. kurang asem…. di kamar gue tadi pagi nggak ada siapa-siapa lagi” protesnya.
“Ah… masa?? Sama temen sendiri kok malu2 ngakuin sih!” kataku masih berusaha menggoda.
“Eh… beneran…. ya udah deh kalo lu nggak percaya… egepe!” katanya dia cuwek.
Begitulah kira2 percakapannya. Pembicaraan lantas beralih ke masalah inti.
Tapi, cerita belum selesai. Lusanya, hari Sabtu, saya main ke kos-kosan teman saya tersebut. Di situ teman saya memperlihatkan log di hp-nya. Ternyata ada panggilan dari nomor hp saya di hari dan jam di mana saya melakukan panggilan. Tetapi panggilan saya memang masuk dalam folder “MISSED CALLS” dan bukan pada folder “RECEIVED CALLS”. Jadi menurut hp teman saya tersebut, memang panggilan saya tersebut tidak pernah ada yang ngangkat!
Kejadian kedua. Lebih kuno lagi. Tahun 1991. Ketika masa-masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) di UNPAD. Ketika masa-masa KKN, tiap beberapa hari saya menelepon teman saya di Bandung untuk menanyakan perkembangan nilai yang keluar (maklumlah KKN waktu itu dilaksanakan di kala liburan, selama dua bulan, sesaat setelah ujian akhir semester). Waktu itu, maklumlah belum ada henpon, jadi untuk mengetahui kabar di kota harus lewat wartel yang jaraknya lumayan jauh dari desa tempat saya KKN. Waktu itu, saya mendapatkan info kalau ada nilai saya yang keluar “T”, kayaknya ada satu tugas yang belum saya kumpulkan. Untuk itu bagi yang mendapatkan ‘T’ harap bertemu dosen yang bersangkutan setelah maghrib minggu depan di kampus FE Jalan Dipati Ukur. Kebetulan dosen yang bersangkutan juga mengajar program ekstension malam hari.
Nah, di hari yang dijanjikan tersebut, saya berangkat ke Bandung pukul 1.30 siang. Maklumlah dari desa (nama desanya lupa lagi tetapi letaknya diperbatasan Kab. Cianjur dan Kab. Bogor). Maklumlah perjalanan dari desa menuju kota Cianjurnya sendiri, yang jalannya aduhai itu, memakan waktu sekitar 2 jam sendiri. Itupun dari desanya kalau mau cepat menuju tempat yang ada angkotnya harus menggunakan ojek, lalu dengan angkot menuju ke kota Cianjur, dari Cianjur ke Bandung naik bis. Mana hari itu hujan pula. Tapi hujan panas tak dihiraukan. Biarin deh pokoknya sebelum jam 7 malam, harus udah ada di kampus di Jl. Dipati Ukur.
Untung saja saya bisa sampai di Dipati Ukur sekitar setengah 7 malam. Sebelum menghadap dosen, rencananya saya mau ganti baju dulu (baju salinan untung dibawa dari tempat KKN), soalnya itu baju udah dua hari nggak ganti, maklum waktu KKN malas mandi dan malas ganti baju, soalnya mandinya di kali dan malas cuci baju, walhasil kalau baju nggak kotor-kotor sekali, biasanya dipakai sampai dua atau tiga hari tanpa diganti!
Karena mau menghadap dosen, tentu saja harus ganti baju dulu dong, karena selain harus mengkamuflase bau badan dengan eau de toilette pour homme, saya juga cuma pakai polo shirt dan celana pendek. Lalu saya masuk ke dalam toilet pria yang ada di lantai bawah FE. Karena waktu itu sudah menjelang isya, keadaan agak sepi. Di toilet pria tersebut ada beberapa urinoir, sebuah wastafel untuk cuci tangan dan sebuah bilik tempat buang air besar. Nah, di toilet pria tersebut pintunya bunyinya selalu berderit kalau ada yang membuka pintu, sepelan apapun pintu itu dibuka. Mungkin harus diminyakin kali. Nah, saya masuk ke bilik tempat buang air besar tersebut untuk ganti baju dan menyemperot badan dengan eau de toilette. Beberapa saat kemudian, saya mendengar dari dalam bilik, pintu toilet pria berderit berarti ada yang masuk. Dan tak lama kemudian saya mendengar keran di wastafel dibuka dan terdengar suara air mengalir. Sepertinya ia sedang cuci tangan. Lantas sesudah itu, sepi! Namun kok, suara pintu toilet tidak berderit lagi berarti dia belum keluar. Ah, mungkin satpam, dia mungkin mau memakai bilik untuk buang air besar ini. Lantas cepat-cepat saya mengganti baju dan celana. Ketika aku mau keluar dari bilik tempat buang air besar itu, tadinya aku mengharapkan bertemu seseorang yang tengah menunggu aku keluar, tidak tahunya: kosong! Alias nggak ada orang!!! Lah, ke mana itu orang??? Padahal satu-satunya akses masuk dan keluar hanya lewat pintu yang berderit itu!!
Dari dua kejadian di atas tersebut, saya tidak menyimpulkan bahwa itu adalah hantu. Sebagai orang yang terbiasa berfikir logis tentu saja saya berpendapat bahwa pasti ada penjelasan yang logis di balik kejadian tersebut hanya saja sampai hari ini saya belum bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Dalam kejadian pertama, saya hanya berkesimpulan mungkin saja teman saya berbohong lantas hp teman saya itu lagi error sehingga call saya dimasukkan ke dalam “missed calls”. Namun begitu tetap saja kok kesimpulannya agak maksa begitu. Sedangkan kejadian kedua, mungkin saja ada orang mau masuk toilet pria tapi tidak jadi. Sedangkan suara air dari keran yang mengalir tersebut kebetulan airnya lagi mengalir dan keran tidak ditutup dengan benar. Maklumlah keran di wastafel air tersebut terkadang besar dan terkadang kecil airnya, bahkan lebih sering airnya kecil mengalirnya. Pada saat itu kerannya tidak ditutup dengan benar sehingga pada waktu airnya kecil, tidak ada air yang mengalir keluar sementara pas alirannya besar untuk beberapa saat, air tersebut mengalir keluar. Namun kok kesimpulannya agak maksa juga ya??