Archive Bulanan: Maret 2010

An IT Book or A History Book?

1986 Edition of "Computer Today"

There is nothing wrong with the title of the book indeed. Unless you soon realise that this book bears the title that has remained unchanged since 1986, the year it was published. I stumbled upon this book on the shelf of the IT (Information Technology) section in the library of so-called the leading institute of technology of the country.  As I leafed through the book, I realised that this book should not be placed in the IT section since there are topics and objects that most of the readers who began to become mouse potatoes in the 1990s I bet are not familiar with. How many of today’s Internet users are familiar with CPM-80 or CPM-86?? Or…. can they imagine that cassettes that they used to play music from the boom-boxes are the storage device of computer data in the past? Or obviously could someone imagine  that the topic of Internet is nowhere to be found on the book of “Computer Today”??

Well…. for those who want to study how data processing evolved from the bulky space-consuming computers to the mid-1980s when data microprocessing began to flourish, this is the right book for them. But if you want to study how computer systems and the processing systems run today, you must be a farce if you read this. Well… I hope this edition of the book will be replaced with the newest edition of the book or the likes. This book must be removed from the IT section or if they have history section in the library they can move the book to the section where it belongs to today. For your information, the book is not the only dinosaur on the shelf, there are more books that provide more antiquated information on IT!!

Index of the book, Internet topic is nowhere to be found... Sorry for the fuzziness of the pic.... I took the pic using the mobile phone's camera, that's why I couldn't do macrophotography.

Lagi, Marketing dan Customer Service yang Payah…

Modem Mobi dari Ivio

Tanggal 25 Februari lalu, saya memutuskan untuk beralih jasa untuk keperluan mobile broadband saya dari jasa layanan HSDPA menjadi EVDO Rev-A. Sebenarnya layanan yang HSDPA belum saya tinggalkan sama sekali, hanya saja sebagai backup saya ingin juga mencoba layanan EVDO Rev-A karena entah kenapa kecepatan HSDPA di tempat saya (dari operator di mana saya langganan tentu saja) yang dulu-dulunya bagus kini makin merosot saja. Untuk itu pada tanggal tersebut saya pergi ke BEC (Bandung Electronic Centre) untuk membeli modem EVDO Rev-A dan juga memilih layanan EVDO Rev-A yang ada. Kebetulan waktu itu di BEC ada stand mini M**i (dari M*****-8) yang menawarkan berbagai macam modem dari berbagai macam merk. Ya sudah, daripada repot-repot akhirnya saya memilih layanan M**i saja dan modemnya saya pilih yang merk I**o karena harganya yang ringan di kantong :P . Waktu itu salesnya seorang mbak-mbak yang cantik dan dua orang mas-mas yang ganteng. Oleh salah satu mas yang ganteng tersebut saya diberitahu bahwa dengan beli Starter-Pack modem tersebut, saya gratis mendapatkan pulsa sebesar Rp. 100.000,- ini berarti saya bisa menikmati layanan Internet yang unlimited dengan kecepatan maksimal 1,3 Mbps selama sebulan (30 hari). Lalu setelah semua selesai disetup, mas yang ganteng tersebut berkata kepada saya: “sudah selesai disetup pak, bapak nanti di rumah tinggal pakai aja” begitu katanya.

Sampai di rumah, tentu saja layanan ini langsung saya coba. Walaupun saya agak kecewa karena kecepatannya yang tidak seperti yang dijanjikan, namun masih lebih cepat dibandingkan layanan HSDPA saya yang semakin lelet itu kian hari. Namun di rumah, saya memperhatikan bahwa pulsa Rp. 100.000,- yang saya dapat cepat berkurang. Tetapi karena saya masih belum familiar dengan sistem yang ada pada M**i saya berusaha menganggapnya wajar. Tunggu saja nanti apa jadinya kalau pulsanya sudah Rp. 0,-. Betul saja, dalam waktu kira-kira satu setengah minggu ketika pulsa tinggal Rp 35,- tiba-tiba koneksi Internet macet! Loh…. kenapa nih?? Bukannya saya seharusnya dapat jatah “unlimited” selama sebulan?? Kenapa belum dua minggu koneksi udah berhenti???

Untuk membuktikan dugaan saya bahwa Internet macet karena kekurangan pulsa maka saya beli pulsa baru Fren sebesar Rp. 100.000,-. Setelah diisi pulsa ternyata Internet berjalan lancar lagi!! Loh… bukannya seharusnya saya mendapatkan koneksi unlimited selama sebulan?? Lantas saya telepon Customer Care M****e-8, ternyata susah sekali menelepon Customer Care M****e-8, dijawab komputer untuk menunggu representatifnya namun selalu berakhir dengan “Maaf…  Customer Representative kami kini tidak dapat dihubungi… silahkan menghubungi kembali beberapa saat lagi…”.  Karena lelah dan bosan menghubungi Customer Care M***e-8 akhirnya saya menelepon teman kantor saya yang sudah lebih dulu berlangganan M**i. Teman saya curiga kalau saya belum didaftarkan sebagai pengguna unlimited karena untuk jadi pengguna unlimited harus mendaftar dulu dengan mengirim SMS ke 777. Jadi selama itu, pulsa saya yang Rp. 100.000,- tersebut terpotong oleh pemakaian reguler dengan tarif Rp. 0,1 per kb.  Setelah mengetahui hal tersebut, saya langsung mendaftarkan diri sebagai pengguna unlimited lewat SMS tersebut. Ternyata benar! Pulsa saya langsung dipotong Rp. 100.000,- namun Internet berjalan lancar kembali bahkan terasa kecepatannya lebih cepat dibandingkan koneksi yang reguler.

Setelah mengalami kejadian ini saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kenapa customer nggak diberitahu soal ini? Dan kenapa juga waktu pertama kali disetup sama mas-mas yang ganteng itu saya nggak sekalian didaftarkan sebagai pengguna unlimited? Asli deh, pelayanan pelanggan yang saya dapatkan nggak sebagus wajah si mas yang ganteng tersebut… :(

Reading An Indonesian Address…

ARIEF KEMALUDIN
PT RAJA MAS
JL. RAJAMANTRI KULON III/15
RT 003/05
KEL. TURANGGA
KEC. BANDUNG SELATAN
BANDUNG 40265

In this posting I’d like to take you to read an Indonesian address. It might be very useful for those who want to visit the country (It happens to be my country!). That imaginary address above is a typical Indonesian address. Like an address in any countries, an Indonesian address also has its uniqueness though it is not hard to understand it. Now let’s examine each line of the address above:

ARIEF KEMALUDIN, is a name of the addressee. In Indonesia the last name is not necessarily a family name or a surname. There are lots of Indonesian names that don’t bear a surname. So in this case, Kemaludin is not necessarily a surname. To identify whether the last name is a given name or a surname in an Indonesian name is very tricky, and there are no specific ways to identify it.

PT RAJA MAS, is signifying a corporation. PT is more or less identical to Co., or Ltd. in English. Some smaller businesses may bear the acronym Fa (Firma) or CV (Commanditaire Vennootschap). But the use of CV has become obsolete since it is derived from Dutch acronym. Alongside with PT, some company’s names also bear an acronym ‘Tbk.” on the tail. It signifies that the company is a public company.

JL. RAJAMANTRI KULON III/15,
JL. is an abbreviation of ‘Jalan’ which in English is translated as ‘street’ or ‘road’
RAJAMANTRI KULON III, is the name of the street. The roman numeral III on the name signifies that there are other streets which are called RAJAMANTRI KULON. There are RAJAMANTRI KULON I and RAJAMANTRI KULON II somewhere in the vicinity. And the number 15 signifies the number of the building. It is very common to separate the numeral III and the number 15 with a slash (/) in Indonesian address. But the using of ‘No.’ in place of the slash has become increasingly popular in Indonesia. So, JL. RAJAMANTRI KULON III No. 15 is identical to JL. RAJAMANTRI KULON III/15.

RT 003/05
KEL. TURANGGA
KEC. BANDUNG SELATAN
Those three lines above are the names of the localities in Indonesia. In personal or business letters, since the introduction of post code in Indonesia, the using of these localities in the letters has become obsolete. But if you come to Indonesia and if you would like to find a building, this information containing these localities’ names are very helpful.

BANDUNG 40265
Bandung is the name of the city while 40265 is the post code. The post code in Indonesia always consists of 5 digits. If you find the number 1, 4, 5 and 6 in the first digit of the post code. It signifies that the address in the island of Java, the most populous island in the archipelago.

P.S.

KEL. stands for Kelurahan whilst KEC. stands for Kecamatan.

CV-CV Yang “Lucu”

Jikalau anda pernah melamar kerja, tentu anda mengetahui apa itu CV atau curriculum vitae itu. Ya, curriculum vitae (atau kalau di Amerika Serikat lebih populer disebut résumé ini) adalah dokumen yang mengisahkan secara ringkas mengenai pendidikan kita, sejarah pekerjaan profesionalitas kita dan juga kualifikasi pekerjaan kita di masa lampau. Dokumen ini tentu sangat penting untuk menginformasikan secara ringkas mengenai apa pengalaman dan kemampuan kita yang dapat ditawarkan untuk calon employer kita.

Nah, karena CV ini secara ringkasnya menceritakan kualifikasi kita tentu saja apa yang terkandung di dalam CV ini merupakan nilai jual dari diri kita sendiri. Jikalau barang dengan brosurnya, maka CV ini boleh dikatakan sebagai “brosur” yang menjelaskan kita. Karena CV ini boleh dikatakan sebagai “brosur”nya diri kita, terkadang banyak justru yang terlihat sangat menggelikan, terutama bagi mereka yang fresh graduate. Kebanyakan adalah hal-hal yang tidak perlu banyak dimasukkan. Tidak jarang daftar sertifikat-sertifikat seminar yang kurang penting juga dimasukkan ke dalam CV sehingga CV tersebut terlihat panjang  yang tidak perlu dan lebih dari satu halaman. Padahal CV yang baik sebenarnya satu halaman saja, pendek namun ringkas dan hanya hal-hal penting saja yang dimasukkan. Ada juga CV yang di-print berwarna-warni secara indah, tentu saja dengan harapan mem-print CV dengan warna-warni yang indah akan membuat CV-nya mempunyai nilai tambah, padahal tentu saja tidak begitu adanya.  Ada juga CV yang diprint dengan pas-foto yang sedikit narsisis dengan harapan tentu saja CV-nya juga akan mendapatkan nilai tambah dari fotonya tersebut padahal CV yang modern (kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu yang memang membutuhkan ketampanan atau kecantikan wajah) tidak perlu dilengkapi dengan pas foto karena dikhawatirkan pas foto akan membiaskan penilaian orang yang menilai CV tersebut yang (secara manusiawi) cenderung lebih memilih kecantikan dan ketampanan lahiriyah.

Namun begitu, ada dua pengalaman yang paling lucu yang dialami kolega saya sekantor. Tugasnya memang merekrut. Yang pertama, CV seorang fresh gaduate dari sebuah akademi di Bandung. Di bagian “Lain-Lain” terdapat satu hal yang aneh yaitu: “Mengetahui Bahasa Inggris”. Mengetahui?? Apa maksudnya?? Pada saat wawancara teman saya bertanya: “Ini maksudnya mengetahui Bahasa Inggris itu apa ya? Apakah maksudnya anda sanggup mengerti percakapan Bahasa Inggris atau dapat membaca Bahasa Inggris begitu?” Jawabannya sungguh di luar dugaan: “Maksudnya saya cuma mengetahui dengan baik bahwa apa yang saya baca dan yang saya dengar itu adalah  Bahasa Inggris!”  ”Hah??????” Tentu saja teman saya bengong mendapatkan jawaban seperti itu. Lha wong, saya aja yang hanya diceritakan teman saya saja juga ikut bengong! Yeeee…. mbak…. itu sih anak SD juga tahu!! :lol:

Peristiwa kedua, seorang fresh graduate juga dari akademi juga namun akademinya lain, dalam CV-nya di kolom pengalaman kerja ada tercantum: – Ikut teman selama 3 bulan sebagai supervisor. Pada saat wawancara teman saya bertanya: “Ini sebagai supervisor apa ya mbak?” Jawabannya dengan polos: “Oh itu yang supervisor teman saya, saya cuma ikut ke kantornya dia dan mengamati pekerjaannya selama kurang lebih 3 bulan!” Gubraaaak!! Untung teman saya nggak pingsan! :lol: Mbok ya… kalau belum punya pengalaman ya jujur saja, nggak usah maksa gitu!! :lol:

Earth Hour 2010: Please Reduce Your Carbon Footprint…

The equinox is already around the corner, it is the time when every place on the earth enjoys equal length of day and night. The times near the equinoxes (both vernal and autumnal equinoxes) are considered the best to hold the Earth Hour. That’s because no places on the earth would still be sunlit-bright (save the extreme latitudes) between 8.30PM and 9.30PM when the Earth Hour is held every year, so everyone on the planet can take part in the Earth Hour. This year (2010), the Earth Hour will be held on Saturday, March 27. This Earth Hour is not a celebration nor a yearly ritual, it reminds us and it asks us to save our planet, our only abode in space. All it asks is to switch off the lights and to turn off any other unnecessary huge power-consuming devices during the Earth Hour that consume a large amount of hydrocarbon fuels in the power plants. That’s all it asks from you.

As we learnt in the school that hydrocarbon fuels when consumed are converted into carbon dioxide and water vapour. Both species are greenhouse gases notably carbon dioxide. These gases prevent the heat from escaping to the outer space and if the heat is trapped within the atmosphere of our planet  it will raise the temperature on the earth’s surface.  The temperature raise of course will bring about seriously various negative effects on the earth. To learn more about how these greenhouse constituents can cause harm to our planets you can surf the Net, the information galore about it is available online.

So, please, for just an hour the earth implores us to save it. It needs us to help it getting rid of the ‘evil’ greenhouse gases. Let’s help the earth, our only home, before it fails to spare us!

1-1

The terms of majority and plurality arise more often in connection with political elections and polls, or with demographic studies. The majority of a group is any subgroup that constitute more than 50% (or half) of the group. In a vote or study in which people divide into two unequal groups, the larger group is the majority. However, if a population is divided into more than two groups, none of which accounts for more than half of the total (meaning that none of the groups constitutes a majority), the largest group is called a plurality. A plurality can also refer to the amount by which the largest group exceeds the next largest group in size.

Brian Burrell: Merriam-Webster’s Pocket Guide to Business & Everyday Math.

Seperti yang dikatakan Brian Burrell di atas, di dalam perpolitikan di Amerika Serikat, jikalau ada pemilihan dan salah satu fihak memenangkan pemilihan tersebut dan fihak tersebut memenangkan lebih dari 50% suara, maka fihak yang menang tersebut dikatakan sebagai menang secara mayoritas (majority), namun andaikan fihak yang menang hanya menguasai kurang dari 50% suara maka fihak yang menang tersebut dikatakan sebagai menang secara pluralitas (plurality).

Nah, tiga hari yang lalu, selama dua hari berturut-turut saya (dan banyak juga orang lain di sekitar saya) dengan antusias menunggu hasil-hasil sidang paripurna DPR mengenai kasus Bank Century ini. Hari pertama, banyak yang kecewa (termasuk saya) karena sidang hanya diisi dengan kericuhan, dan nampaknya beberapa anggota dewan, dari raut wajahnya, justru malah menikmati keadaan ricuh tersebut! Sidang yang tadinya mau dipersingkat sehari, karena kericuhan, akhirnya toh berlangsung selama dua hari juga, dan hari kedua malah justru sampai malam pula! Sidang nampaknya hanya dipenuhi oleh lobi-lobi yang kurang efektif dan juga banyak interupsi-interupsi yang kurang penting sekali dan tidak perlu.

Dalam artikel ini saya tidak mau ikut-ikutan memvonis apakah sang wakil presiden dan juga menteri keuangan bersalah atau tidak  baik secara hukum maupun non-hukum karena saya tidak mempunyai kapasitas yang cukup untuk itu namun saya ingin menyoroti dari sudut yang lain yaitu bahwasannya dalam politik praktis peribahasa (yang diplesetkan) “air tuba dibalas dengan air tuba” sering berlaku.

Kita masih ingat pasca pemilu lalu dan menjelang pilpres lalu di mana partai yang memenangkan pemilu lalu bersikap “arogan”. Arogan menurut saya bukan hanya dengan kata-kata yang dilontarkan namun juga termasuk keputusan yang dibuat. Jadi walaupun kata-kata yang dikeluarkan santun, namun jikalau keputusan yang dibuat terlihat arogan maka bagi saya pribadi (entah bagi yang lain) hal tersebut tetaplah arogan. Kita masih ingat betul bagaimana partai yang memenangkan pemilu tersebut secara “arogan” dua kali mengecewakan partai-partai (calon) koalisinya. Pertama, ketika partai pemenang pemilu (PD) tersebut menolak meneruskan duet presiden dengan wapresnya yang sudah berjalan sebelumnya (dari PG). Kedua, ketika akhirnya capres dari partai pemenang pemilu memilih cawapresnya dari kalangan profesional non-partai yang tentu saja mengecewakan PKS yang waktu itu sudah berharap dapat mengisi kursi cawapres. Tentu saja, dengan alasan yang terlalu umum, dengan pertimbangan politik dan pihak yang menang berhak menentukan pilihannya, bla…bla…bla… dst. Namun tentu saja alasan-alasan yang terlalu umum tersebut sah-sah saja dipakai!

Menurut saya, jikalau kita ingin membentuk koalisi yang solid, mulailah dengan “membagi kemenangan” kepada mitra koalisinya. Apalagi jikalau kemenangan tersebut hanya berupa kemenangan pluralitas dan bukan kemenangan mayoritas. Logikanya, semakin kecil margin kemenangan kita, semakin banyak kita harus “membagikan kemenangan” tersebut kepada mitra koalisi kita. Karena kita sama-sama membutuhkan satu sama lain agar menjadi bagian yang mayoritas di parlemen. Lain misalnya jikalau kita memenangkan pemilihan secara mayoritas (atau paling sedikit mendekati kemenangan mayoritas), maka “bolehlah” kita bersikap sedikit “arogan”. Jadi, dalam menentukan langkah-langkah politik pandai-pandailah membaca tabel statistik.

Ingat pepatah kita: ” nasi sudah menjadi bubur”. Kata orang Inggris: “We reap what we sow”, kita petik apa yang kita tanam. Partai pemenang pemilu secara tidak sadar telah menanamkan benih-benih keretakan pada koalisi pada awalnya. Hasilnya? Ya… seperti sidang paripurna DPR dua hari yang lalu. Sah-sah juga dong, dengan pertimbangan yang juga terlalu umum dan berbau politis, mitra-mitra koalisi tersebut mengecewakan fraksi partai pemenang pemilu. Skor: 1-1!

Ya sudah, yang berlalu biarlah berlalu. Kata orang bijak, kini tataplah masa depan. Mas Anas Urbaningrum dari PD kemarin mengatakan pada wawancara di salah satu stasiun televisi bahwa PD akan mengevaluasi koalisi. Baguslah itu! Namun tentu sebaiknya juga PD jangan hanya mengevaluasi mitra-mitra koalisinya tetapi evaluasi jugalah dirinya sendiri. Karena menurut insting saya, jikalau ada yang sampai mitra koalisi mengundurkan diri maka percayalah, akan menjadi lebih sulit bagi kedua belah fihak, baik bagi mitra yang meninggalkan koalisi dan juga bagi mitra yang ditinggalkannya!

If Only The Connection Is This Fast…

Here the speed test reads:

Download Speed : 7.62 Mbps.
Upload Speed: 6.01 Mbps.

Forget your HSDPA, HSPA+ or EV-DO Rev A connections. This connection makes your home broadband connections look crawling even though they max out at 3.6 Mbps as promised. If only I had this kinda connection at home….. **green with envy**.

Darned! Too good to be true? :P

PS:

Sorry for the blurry picture. It was not my PC nor my laptop. I was looking for the screen capture software but it was nowhere to be found. So I took out my mobile phone and snap! It was captured by the camera of the mobile phone! So, I’m big sorry for the fuzziness of the pic.