Dua puluh tiga tahun yang lalu, ketika saya berada di semester I Unpad, mengambil (mau nggak mau) mata kuliah Bahasa Inggris I yang memang wajib diambil itu. Saya masih ingat benar, sang dosen bernama ibu RR. Seorang dosen Bahasa Inggris yang baru pulang studi dari London, Inggris. Sang ibu dosen ini, terus terang saja, cara mengajarnya kurang enak (cocok) buat hampir semua mahasiswa yang diajarkannya, setidak-tidaknya begitulah menurut teman-teman saya yang juga mengambil kuliah serupa. Saya tidak akan menceritakan secara detail kenapa ibu dosen ini mengajarnya nggak enak, tapi saya ingin menceritakan bagaimana situasi ini dapat membuat saya melakukan sebuah blunder yang mungkin paling buruk dan paling sia-sia dan konyol dalam sejarah masa lalu saya.
Ceritanya begini, ternyata si ibu dosen ini selain mengajar Bahasa Inggris, ternyata dia juga membuka salon uniseks di rumahnya. Dalam banyak kesempatan, ia (entah sadar atau tidak) lumayan sering mempromosikan salonnya di depan kelas. Nah, yang saya bingung sampai sekarang, di London waktu itu, si ibu sebenarnya belajar Bahasa Inggris atau belajar nyalon? Entah, desas-desus dari mana awalnya, yang jelas sudah beredar luas rumor jikalau kita memotong atau menata rambut di salonnya si ibu, maka sudah pasti kita akan dapat nilai ‘A’ di akhir semester, walaupun nggak ikut ujian juga! Saya sendiri sebenarnya pada awalnya kurang peduli pada rumor ini, toh, bukannya pongah, tapi saya tidak punya kesulitan dengan mata kuliah ini lagipula pelajaran Bahasa Inggrisnya juga nggak maju-maju, seperti pelajaran Bahasa Inggris tingkat SD aja dengan grammar/tata bahasa yang dasar sekali, jadinya sangat membosankan. Namun lama-kelamaan saya termakan juga karena teman-teman sekelas banyak juga yang pergi ke salon si ibu untuk memotong rambut. Lagipula daripada capek-capek saya ujian Bahasa Inggris mendingan waktu dan energinya dibuat oleh belajar mata pelajaran yang lain atau mengerjakan sesuatu yang lebih berguna. Walhasil, saya akhirnya pergi ke salonnya si ibu.
Waktu sampai di salonnya si ibu, saya agak kecewa juga karena semua pemotongnya perempuan. Karena dari dulu saya senang dengan potongan rambut gaya crewcut, dan menurut pengalaman saya pemotong rambut perempuan biasanya nggak becus jikalau disuruh nemotong rambut model crewcut. Tetapi demi nilai ‘A’ gratis akhirnya saya mengalah, dan memang hasil potongannya memang cukup mengecewakan. Namun, saya curiga, kok setelah rambut dipotong, nama kita kenapa tidak dicatat? Lantas nanti bagaimana si ibu tahu siapa-siapa mahasiswanya yang sudah menjadi “langganan” salonnya untuk memberi nilai ‘A’? Namun saya berusaha untuk menahan keheranan saya itu hingga akhir semester. Ketika akhir semester tiba, saya dan banyak teman sekelas saya lainnya, sudah yakin saja dapat nilai ‘A’ walaupun tanpa mengikuti ujian. Nah, mungkin karena cukup banyak mahasiswanya yang tidak datang pada waktu ujian akhir, akhirnya peristiwa ini menjadi “kasus” dan akhirnya kita semua yang tidak ikut ujian ini semua mendapatkan nilai ‘E’ !! Sungguh merupakan blunder buat saya, yang seharusnya saya bisa mendapatkan nilai ‘A’ dengan mudah, karena termakan isu walhasil mendapatkan hasil yang ‘mengecewakan’.
Namun dalam urusan ‘blunder’ ternyata saya tidak sendiri. Menjelang kongres partai Demokrat di Bandung lalu, dari tiga kandidat yang bersaing, satu kandidat sangat menonjol dalam mempromosikan dirinya dalam memakai media luar ruangan, yaitu kandidat AM. Saingan mudanya yaitu AU, relatif jauh lebih sedikit dibandingkan AM dalam memanfaatkan media luar ruangan, setidak-tidaknya menurut pengamatan saya secara sekilas. Banner-banner, baliho-baliho milik AM sangat bertebaran di berbagai pelosok kota Bandung. Isi atau materinya bermacam-macam, ada yang lumayan serius, ada yang norak, ada yang gaul, bahkan ada juga yang nggak jelas seperti gambar di atas yang bertulisan “Yes, I AM”. Kenapa nggak jelas?? Karena tanpa obyek kalimat kata “Yes, I am” merupakan kalimat terbuka yang bisa saja berarti “Yes, I am the winner” atau malah bisa juga menjadi “Yes, I am the loser”!! Ternyata, setelah kongres Partai Demokrat selesai kita mengetahui kalimat mana dari kedua kalimat tersebut yang lebih cocok buat AM
. Tetapi ya nggak apa-apa, orang ternyata bisa salah juga walaupun sudah yakin dengan jalan yang ditempuhnya walaupun hasilnya mungkin malah bertolakbelakang dari hasil yang diinginkan. Yang penting daripada kita terus-menerus kita menyesali, mendingan kita belajar dari pengalaman dan kesalahan yang telah kita buat, sebuah kata-kata bijak yang klise namun toh tetap benar adanya. Toh, di suatu saat kita memang dituntut yakin dengan jalan yang kita tempuh walaupun akhirnya mungkin hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. O iya, ada satu hal lagi yang membedakan antara kasus saya di atas dengan usaha AM memenangi kursi puncak PD walaupun sama-sama “salah jalan”. Pada kasus AM, bagaimanapun juga, setidak-tidaknya sudah dilakukan dengan usaha dan pertimbangan pribadi yang cukup matang. Sementara dalam kasus saya, ehm, adalah bukan karena pertimbangan yang matang, namun lebih pada mencari “jalan pintas” yang kurang layak ditambah dengan kecerobohan karena termakan isu, tentu saja merupakan hal yang sangat tidak patut untuk dicontoh….











