Archive Bulanan: Mei 2010

Salah Jalan…

Banner-nya AM menjelang kongres Partai Demokrat

Dua puluh tiga tahun yang lalu, ketika saya berada di semester I Unpad, mengambil (mau nggak mau) mata kuliah Bahasa Inggris I yang memang wajib diambil itu. Saya masih ingat benar, sang dosen bernama ibu RR. Seorang dosen Bahasa Inggris yang baru pulang studi dari London, Inggris. Sang ibu dosen ini, terus terang saja, cara mengajarnya kurang enak (cocok) buat hampir semua mahasiswa yang diajarkannya, setidak-tidaknya begitulah menurut teman-teman saya yang juga mengambil kuliah serupa. Saya tidak akan menceritakan secara detail kenapa ibu dosen ini mengajarnya nggak enak, tapi saya ingin menceritakan bagaimana situasi ini dapat membuat saya melakukan sebuah blunder yang mungkin paling buruk dan paling sia-sia dan konyol dalam sejarah masa lalu saya.

Ceritanya begini, ternyata si ibu dosen ini selain mengajar Bahasa Inggris, ternyata dia juga membuka salon uniseks di rumahnya. Dalam banyak kesempatan, ia (entah sadar atau tidak) lumayan sering mempromosikan salonnya di depan kelas. Nah, yang saya bingung sampai sekarang, di London waktu itu, si ibu sebenarnya belajar Bahasa Inggris atau belajar nyalon?  Entah, desas-desus dari mana awalnya, yang jelas sudah beredar luas rumor jikalau kita memotong atau menata rambut di salonnya si ibu, maka sudah pasti kita akan dapat nilai ‘A’ di akhir semester, walaupun nggak ikut ujian juga! Saya sendiri sebenarnya pada awalnya kurang peduli pada rumor ini, toh, bukannya pongah, tapi saya tidak punya kesulitan dengan mata kuliah ini lagipula pelajaran Bahasa Inggrisnya juga nggak maju-maju, seperti pelajaran Bahasa Inggris tingkat SD aja dengan grammar/tata bahasa yang dasar sekali, jadinya sangat membosankan. Namun lama-kelamaan saya termakan juga karena teman-teman sekelas banyak juga yang pergi ke salon si ibu untuk memotong rambut. Lagipula daripada capek-capek saya ujian Bahasa Inggris mendingan waktu dan energinya dibuat oleh belajar mata pelajaran yang lain atau mengerjakan sesuatu yang lebih berguna. Walhasil, saya akhirnya pergi ke salonnya si ibu.

Waktu sampai di salonnya si ibu, saya agak kecewa juga karena semua pemotongnya perempuan. Karena dari dulu saya senang dengan potongan rambut gaya crewcut, dan menurut pengalaman saya pemotong rambut perempuan biasanya nggak becus jikalau disuruh nemotong rambut model crewcut. Tetapi demi nilai ‘A’ gratis akhirnya saya mengalah, dan memang hasil potongannya memang cukup mengecewakan. Namun, saya curiga, kok setelah rambut dipotong, nama kita kenapa tidak dicatat? Lantas nanti bagaimana si ibu tahu siapa-siapa mahasiswanya yang sudah menjadi “langganan” salonnya untuk memberi nilai ‘A’? Namun saya berusaha untuk menahan keheranan saya itu hingga akhir semester. Ketika akhir semester tiba, saya dan banyak teman sekelas saya lainnya, sudah yakin saja dapat nilai ‘A’ walaupun tanpa mengikuti ujian. Nah, mungkin karena cukup banyak mahasiswanya yang tidak datang pada waktu ujian akhir, akhirnya peristiwa ini menjadi “kasus” dan akhirnya kita semua yang tidak ikut ujian ini semua mendapatkan nilai ‘E’ !! Sungguh merupakan blunder buat saya, yang seharusnya saya bisa mendapatkan nilai ‘A’ dengan mudah, karena termakan isu walhasil mendapatkan hasil yang ‘mengecewakan’.

Namun dalam urusan ‘blunder’ ternyata saya tidak sendiri. Menjelang kongres partai Demokrat di Bandung lalu, dari tiga kandidat yang bersaing, satu kandidat sangat menonjol dalam mempromosikan dirinya dalam memakai media luar ruangan, yaitu kandidat AM. Saingan mudanya yaitu AU, relatif jauh lebih sedikit dibandingkan AM dalam memanfaatkan media luar ruangan, setidak-tidaknya menurut pengamatan saya secara sekilas. Banner-banner, baliho-baliho milik AM sangat bertebaran di berbagai pelosok kota Bandung. Isi atau materinya bermacam-macam, ada yang lumayan serius, ada yang norak, ada yang gaul, bahkan ada juga yang nggak jelas seperti gambar di atas yang bertulisan “Yes, I AM”. Kenapa nggak jelas?? Karena tanpa obyek kalimat kata “Yes, I am” merupakan kalimat terbuka yang bisa saja berarti “Yes, I am the winner” atau malah bisa juga menjadi “Yes, I am the loser”!! Ternyata, setelah kongres Partai Demokrat selesai kita mengetahui kalimat mana dari kedua kalimat tersebut yang lebih cocok buat AM :mrgreen: . Tetapi ya nggak apa-apa, orang ternyata bisa salah juga walaupun sudah yakin dengan jalan yang ditempuhnya walaupun hasilnya mungkin malah bertolakbelakang dari hasil yang diinginkan. Yang penting daripada kita terus-menerus  kita menyesali, mendingan kita belajar dari pengalaman dan kesalahan yang telah kita buat, sebuah kata-kata bijak yang klise namun toh tetap benar adanya. Toh, di suatu saat kita memang dituntut yakin dengan jalan yang kita tempuh walaupun akhirnya mungkin hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. O iya, ada satu hal lagi yang membedakan antara kasus saya di atas dengan usaha AM memenangi kursi puncak PD walaupun sama-sama “salah jalan”. Pada kasus AM, bagaimanapun juga, setidak-tidaknya sudah dilakukan dengan usaha dan pertimbangan pribadi yang cukup matang. Sementara dalam kasus saya, ehm, adalah bukan karena pertimbangan yang matang, namun lebih pada mencari “jalan pintas” yang kurang layak ditambah dengan kecerobohan karena termakan isu, tentu saja merupakan hal yang sangat tidak patut untuk dicontoh…. :lol:

Do We Hear The Same Sound Differently?

If you hear a cock crowing, which sound would you hear: "cockadoodledoo" or "kukuruyuk"?

It’s 5 o’clock in the morning. You forgot to set your clock-radio to blare at the specified time. But outside you can hear a cock somewhere in the neighbourhood crowing. What kind of sound do you hear? Is it “cock-a-doodle-doo” or “ku-ku-ru-yuk”?? For us, in Indonesia, or if you grow up with Bahasa Indonesia, you are more likely to hear “ku-ku-ru-yuk” instead of “cock-a-doodle-doo”. But if you are a native English speaker, you are more likely to perceive the sound of a cock as “cock-a-doodle-doo”. So, which one do you think is closer or more similar to the natural sound of a cock? Let’s summon a third party to judge whose description is more natural to the sound of cock, the Indonesian or the English? Of course the judge must be neutral, it can’t be influenced by either party. Let’s say, a Frenchman who only speaks French, comes up to conclude the disagreement. After thinking for a while the Frenchman comes up with a conclusion that neither party represents the correct natural crowing sound of a cock! The Frenchman decides on his own perception that the natural crowing sound of a cock must be “coco-rico” !!

Being sour on the decision made by the Frenchman, the Indonesian and the English speakers agree to get rid of him and intend to look for another judge from a neutral language to settle the dispute. This time, a Spaniard is invited to arbitrate the dispute. Of course the Spaniard can only speak in Castillan language so he can bring forth the decision fair and square. But again, the Spaniard can only bring forward a disappointing decision by favouring neither side! The Spaniard is sure that the best representation of the cock’s natural crowing sound is “kee-kee-ree-kee” like he and his fellow countrymen (and women) used to perceive! Being disappointed again, the Indonesian and the English speakers again bid  good riddance to the neutral judge. But the disputing parties do not give up. They keep calling in neutral judges. But it seems  the same results repeat: The neutral judges always decide on their own onomatopoeias. The Chinese came up with “wo-wo-wo”, the Dane was confident that it was “kee-kly-ky” while The Swahili believed that the sound should be “koo-koo-ree-koo”. Having had no satisfaction over all the judges on searching for the neutral ones ad infinitum, the disputing parties finally agree on an open conclusion…

But it seems that the crowing sound of a cock is not the only one that gives rise to onomatopoeial cases. The cat may sound like “meong” for the Indonesians while those who live in the English speaking countries a cat may sound like “meow”. The dog may sound like “guk-guk” as it is perceived by Indonesian ears but it may be something like “woof-woof” by those of English ears. But certain onomatopoeias quite resemble one another. The sound of a clock, especially that of a mechanical one, whichever you are, English or Indonesian, may hear the same sound  of “tic-toc-tic-toc” (English) or “tik-tok-tik-tok” (Indonesian) from a clock. But there is a sound that I find it difficult to write out in English. It is the sound of intestinal gas which is being trumpeted through the anal sphincter! :lol: Indonesians write out such gas “duuuuut” if the gas is nearly pure gas. Or it can be something like “preeeet” if the gas is coupled with droplets of juicy faeces that is likely to leave skidmarks on your underwear! :lol: But frankly I have no idea how Americans or Britishers write out their farts! Does anyone care to enlighten me about it? :D A few years ago I came across a Singaporean Malay writing out his own anally trumpeted intestinal gas as “siooooooot”, it is not even close to the sound of fart perceived by most Indonesians! :lol: But seriously, do we hear the same sound or noise differently?

Blind Spot

I was not pulling anybody’s leg if I said that in our field of vision we have a section we fail to see at all, though it is right before our noses.  Indeed nobody ever notices in his or her lifetime such a signal defect. Okay, if you don’t believe me, the pic above is a simple experiment to show that there really is such a thing!

See the picture above? Position your face very close to your computer screen, meanwhile cupping or covering your right eye, and look at the black circle on the right. Gradually and gently move your face away from the screen (with your left eye still focusing on the larger black circle on the right). At one moment the smaller black circle will vanish without trace . You won’t see it, though it is still within the limits of your field of vision. But if you distract the focus from the black circle on the right to meet the smaller black circle on the left, it will return to your sight. As soon as you focus back on the right black circle, the one on the left will again ‘disappear’!

Now, let’s switch the object. Position your face again close to your computer screen, this time you cup your left eye and focus on the cross (with the smaller black circle) at the left. Again, gradually move your face away from the screen. This time, at one moment the large black circle at the conjunction of the two white circles will vanish “into thin air”. It is still in the range of your field of vision but you fail to see it! Even you will see that the two white circles at the right will be quite distinct!

This phenomenon was first observed by a Frenchman, Edme Mariotte in the 17th century. The area where you fail to see an object even it is in the range of your field of vision is called the “blind spot” or scotoma. This is the area where the optic nerve enters and has no sensitive visual cells. We never notice the presence of this blind spot because we have been living with it since birth thus we have grown accustomed to it. Do you wear glasses? Good! Then you might like to try the following experiment. Glue a scrap of paper to one of the lenses, only not quite dead centre. For a few days (a week at longest) it will be a nuisance, but after approximately a week you will even cease to notice it at all! Believe me! ;) Or if you are rich enough or you care to bother yourself by cracking your own glasses  (don’t break them just crack them)  you will notice that the crack will annoy you at the beginning. After a few days you will even forget to buy new glasses until someone tells you to do so.  Yes, it is a matter of habit that is responsible for our being “blind” to our blind spot. Then one must note that the blind spots of either eyes correspond to different places in the two fields of vision. Consequently, with two-eyed vision, there is no deficiency in the range they both cover. It even makes more sense to why we are always “blind” to our own blind spot because mostly we see everything around us without an eye patch! ;)

P.S.

If you want to see another experiment on the blind spot you can beam yourself (StarTrek mode: ON) onto the Wiki’s page about blind spot.

Jika Diskon 50% + 50% Tidak Berarti Gratis…

Diskon dual produk dasi di M*tahari Department StoreKira-kira seminggu yang lalu (tanggal 1 Mei) saya sekeluarga berkesempatan untuk mengunjungi BIP di Jalan Merdeka untuk berbelanja sedikit barang-barang keperluan sehari2 dan juga untuk melihat aksi demo memperingati tanggal 1 Mei sebagai hari pekerja internasional. Kami juga mengunjungi M*tahari Department Store yang berada di plaza tersebut karena kebetulan sayapun ingin membeli dasi yang berwarna putih. Maklum, saya adalah orang yang nggak suka memakai kemeja putih. Kemeja saya kebanyakan berwarna-warni, dan beberapa di antaranya berwarna gelap (bahkan hitam). Untuk itu di department store tersebut saya membeli beberapa buah dasi yang berwarna terang agar terlihat kontras dengan kemeja warna gelap saya.

Ketika saya sampai pada rak display dasi (gambar sebelah) kebetulan sekali ada program dual discount yaitu 50% + 20%.  Dual discount tidak sama dengan double discount loh… Kalau double discount kedua komponen diskon haruslah sama (identik), contoh: 20% + 20% atau 30% + 30% dst. Sedangkan dual discount, kedua komponen tidak perlu sama, contohnya adalah seperti gambar disebelah: 50% + 20%. Jadi setiap double discount adalah dual discount namun dual discount belum tentu double discount.

Tetapi nanti dulu nih, baik yang double discount maupun yang dual discount sebenarnya perhitungannya tidak sama dengan perhitungan aritmatika. Jikalau menurut aritmatika diskon dual 50% + 20% = 70%, maka tarif efektif gabungan kedua komponen diskon tersebut ternyata kurang dari 70%! Untuk membuktikannya mari kita hitung. Jikalau misalnya kita membeli celana seharga Rp. 100.000,- jikalau mendapat diskon 70% kita hanya perlu membayar Rp. 30.000,- sedangkan kalau dengan tarif dual discount seperti di atas, mari kita hitung berapa yang musti kita bayar:

Harga Awal: Rp. 100.000,-
Potongan ke-1: 50% ( 50% x Rp. 100.000,-) Rp.  50.000,-
Harga Tersisa Setelah Diskon Awal: Rp.  50.000,-
Potongan Ke-2: 20% ( 20% x Rp. 50.000,- ) Rp.  10.000,-
Harga Tersisa Setelah Diskon Dual: Rp.  40.000,-

Jadi jelas terlihat, bahwa harga yang harus dibayar adalah sebesar Rp. 40.000,- atau kita hanya mendapatkan diskon 60%! Hal itu disebabkan karena secara aritmatika, langsung mendiskon 70% tidak sama dengan mendiskon satu-satu 50% dan 20% dari sisanya. Begitu juga jikalau ada dual discount 40% + 30%, diskon gabungan efektifnya tidak akan sama dengan diskon tunggal 70% dan juga bahkan tidak akan sama dengan diskon dual 50% + 20%! Pada diskon dual 40% + 30%, diskon gabungan efektifnya hanya sebesar 58%!

Sebenarnya dari hitungan di atas dapat dengan cukup mudah diketahui “rumus” untuk mencari diskon gabungan efektif untuk setiap diskon dual (tidak perlu saya paparkan di sini selain itu saya juga sebenarnya sedang agak malas mengetik :mrgreen: ) yaitu jika terdapat diskon dual X% + Y% maka “rumus” diskon gabungan efektifnya adalah: 1 – (1-X%) (1-Y%). Anda juga dapat dengan mudah mengganti X dan Y dengan sembarang angka diskon tidak perlu saya contohkan lagi di sini, atau anda bisa memasukkan dari contoh di atas, X = 50% = 0,5 sedangkan Y = 20% = 0,2.

Nah, akhirulkata, saya mengusulkan kepada seluruh department store di Indonesia dan juga yang lainnya agar membedakan penulisan diskon dual dengan tidak menggunakan tanda “+”.  Misalnya gunakanlah tanda “&” (contoh: 50% & 20%) sebagai pengganti tanda “+”. Hal ini penting untuk membedakannya dengan “50% + 20%” yang secara aritmatika memang seharusnya adalah 70%. Jadi jangan sampai mempunyai kesan bahwa para department store tersebut ingin mengelabuhi pelanggannya dengan diskon yang sebenarnya diskon gabungan efektifnya relatif jauh lebih rendah dibandingkan diskon yang tertulis…

Twitter…. Lumayan Juga!

Saya dulu pernah membaca di salah satu majalah komputer (kalau nggak salah: Info Komputer) bahwasannya walaupun jejaring sosial Facebook sangat populer di negeri kita ini, namun ternyata jejaring sosial tersebut relatif kurang diminati di Jepang. Menurut artikel yang ada di majalah tersebut, itu karena orang Jepang tidak suka narsisis dan tidak gegabah mengumbar data dan profil pribadi di jejaring yang begitu terbuka tersebut. Bangsa yang sarat dengan prestasi ini nampaknya tidak butuh bernarsis-narsis ria di jejaring sosial karena di dunia nyata eksistensi mereka toh sudah diakui dunia. Untuk itulah mereka sangat low-profile di jejaring-jejaring sosial (walaupun tentu saja mungkin ada satu dua orang yang narsis juga). Ini tentu tidak seperti banyak pengguna FB di negeri ini (nggak semua loh!!) di mana jejaring sosial digunakan untuk ekspresi diri yang berbau narsisis, seolah-olah jejaring sosial adalah kesempatan untuk memamerkan dirinya secara semu mungkin karena di dunia nyatanya mereka kurang dianggap eksis oleh lingkungannya, entahlah.

Saya juga entah kenapa sampai detik ini tidak pernah kecanduan yang namanya FB, bahkan akhir-akhir ini saya sudah tidak begitu aktif lagi di FB. Memang betul, FB saya cukup berjasa dalam mencari teman-teman lama saya (yang bahkan sampai kini belum semuanya bisa saya temukan di FB) dan memang tujuan saya di FB sangat jelas, hanya untuk mencari teman-teman lama saya saja sedangkan teman-teman yang masih sering bertemu, seperti teman kerja, saudara, tetangga, keluarga, teman blogger dan yang tidak saya kenal sama sekali (yang terakhir ini yang paling banyak minta di-add ) sengaja tidak saya masukkan ke dalam akun FB saya, walaupun ada kemungkinan preferensi di masa mendatang akan berubah. Nah, setelah saya bertemu dengan mereka dan sudah terpuaskan rasa kangen atas teman-teman lama saya maka seketika itu juga hasrat untuk menggunakan FB hilang sudah. Entah kenapa, saya tidak begitu leluasa membuat tulisan-tulisan di FB, mungkin menurut saya (menurut saya loh!)  FB serba nanggung. Kalau saya ingin menulis, apalagi yang sedikit berbobot, mendingan saya tulis di blog sekalian, rasanya “fasilitas”nya lebih lengkap… space-nya lebih luas, dan mudah dibaca oleh siapa saja. Salah satunya mungkin itu, kenapa saya sampai sekarang tidak begitu menyukai FB.  Selain itu juga, cukup banyak juga FB digunakan untuk narsis-narsisan yang tidak bermutu, tidak jelas dan sangat semu!  (walau tentu saja blog juga bisa dijadikan ajang narsis), semuanya membuat  saya berfikir bahwa mungkin FB tidak cocok untuk saya! (minimal sampai hari ini).

Sampai akhirnya, kira-kira sebulan yang lalu, saya mencoba jejaring sosial yang lain: Twitter! Mula-mula, hanya sekedar iseng! Apa yang saya rasakan pada awalnya?? Ini jejaring sosial kok norak banget sih… cuma bisa tulisan doang… nggak ada gambarnya lagi (walau pada akhirnya saya menemukan TweetPhoto yang cukup terintegrasi sistemnya dengan Twitter) dan setiap tweet hanya dibatasi 140 karakter! Bagaimana saya mau bebas berekspresi kalau semuanya serba dibatasi??? Kok mau-maunya orang bergabung dalam jejaring sosial seperti ini??  Tetapi tidak adil dong, kalau saya langsung memvonis tanpa  mencoba secara ‘fair’ jejaring sosial ini untuk mengetahui esensi dari twitter ini. Ternyata setelah beberapa lama, saya mulai menemukan ‘esensi’ dari twitter ini dan setelah beberapa kali menggunakan twitter, pertama kali saya merasakan  bahwa ngetweet berguna untuk mengekspresikan perasaan dan keadaan kita secara cepat dan singkat tanpa bertele-tele. Lantas setelah saya menemukan TweetPhoto, kegunaan Twitter bagi saya bertambah, yaitu mentweet atau memposting foto yang tidak perlu memerlukan kata-kata yang banyak karena gambarnya sendiri telah menceritakan semuanya! Lantas terakhir, saya menemukan bahwa saya ternyata bisa juga mentweet sesuatu yang berbobot (setidak-tidaknya berbobot menurut saya.. :P ), yang saya perlukan adalah seni atau ketrampilan cara memangkas ‘informasi yang berbobot’ tersebut hingga pas untuk di-tweet! Lantas yang tak kalah pentingnya adalah, di twitter saya lebih sedikit menemukan tulisan-tulisan yang narsis atau foto2 yang narsis (walaupun tentu saja ada kemungkinan juga twitter dibuat ajang narsis!). Entah, apa keuntungan-keuntungan Twitter yang lain di masa mendatang yang akan saya rasakan. Jadi menurut saya apakah Twitter lebih berguna dari FB? Hmmm… nggak juga! Sebagai orang yang sebisa mungkin melihat dari sudut pandang yang netral, saya yakin masing-masing jejaring sosial punya kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan tentu saja semuanya berbalik pada tujuan masing-masing individu dalam menggunakan jejaring sosial dan juga mungkin pada sifat-sifat kita. Jikalau anda seseorang yang narsis dan hanya ingin menggunakan jejaring sosial sebagai ajang ‘ngeceng’ mungkin FB lebih cocok untuk anda, sedangkan jikalau anda seseorang yang praktis namun padat berisi, twitter mungkin lebih cocok bagi anda….. Kalau untuk ajang bisnis bagaimana?? Gunakanlah dua-duanya atau sebanyak mungkin jejaring sosial!! :mrgreen: