Archive Bulanan: Juni 2010

A Surge In International Readers??

Indonesian Flag Icons nowhere to be seen

On the third anniversary of my blog “Spektrum Pemikiranku” my blog got a wonderful gift. It is a surge, a really surprising sudden surge in international readers. I actually have no idea why and how they suddenly came, but I believe it is a good start for this blog to ‘go international’. As you see on the pic above, I grabbed it at one morning a few days ago. Inadvertently I checked the globetrackr widget on the right bar of the homepage blog and I was surprised to see there are no Indonesian flags displayed on the widget, and there is also no “United States Mountain View, CA” indicating that the user is using Opera Mini Browser on a mobile phone. Of course if you see this “United States Mountain View, CA” on the widget, shouldn’t you jump up and down immediately because it can be someone next door using his or her mobile phone browsing your blog or web. But on the pic above there are no Indonesian flag icons and no “United States Mountain View, CA”, the state that I have never witnessed before on my blog.

Of course I have never expected that at a moment the international visitors would outnumber the Indonesian visitors since at the beginning this blog was written only in Bahasa Indonesia and it was (and is) intended for the Indonesian readers  (but of course this blog is also open to any readers or visitors at any points in the world map) and moreover, I have never left any comments  in any blogs apart from the Indonesian blogs (perhaps I have left a comment or two in non-Indonesian blogs if I’m not mistaken). It is not because I do not want to interact with them , it is merely due to my limited time to visit around the blogosphere. The Indonesian blogs that I “must” visit has made me spend too much time in the net, let alone if I had to visit beyond Indonesian ones. But if there is an international visitor leaving a comment on a post in my blog, I would likely return a visit and try to leave back a comment.. ;)

The visitors from anglophone nations contribute the most to the surge. The US, UK and Canadian visitors are increasing fast and furious. But visitors from non-anglophone nations also contribute significantly to the surge notably from India, the Philippines (both nations actually adopt English as their daily language though it might not be to the full extent), and countries in the European Union. There is also a slightly notable increase in visitors from Latin America like Mexico, Argentina, Brazil  and what-not. But the surge is mainly contributed to by the anglophone visitors as you will  see in the following captured Geovisite widgets:

The United States are leading the pack at one moment, something that I have never witnessed before. This widget was captured at about 6 o’clock in the morning a few days ago when most of Indonesian cybernauts are still in bed. Though Indonesian visitors eventually top the group at the end of the day, this is still the first time I saw visitors from a certain country apart from Indonesia at a moment are leading the table. More  surprisingly, the next morning even something more unusual had happened! Take a look at the following captured widget:

I know that in any measure the UK visitors are smaller in number than their US peers online so chances for the UK visitors of hitting my blog are also slimmer compared to those of the US visitors. But look, even the UK visitors managed to lead the table on my blog at a moment. It signifies that the anglophone UK visitors also contribute to the surge!

You would see at the Top-10-country widget on the right bar of my blog that the UK visitors have managed to thrust up into the top 10. It was not there a week ago. But it seems that the UK flag icon is not the only one which is being propelled up into the top 10. It is only a matter of time before I witness the Canadian flag icon sit in the top 10. :D

Piala Dunia dan Taruhan Kreatif Alternatif

Piala Dunia FIFA

Tidak terasa…. empat tahun setelah hingar bingar piala dunia di Jerman selesai, kini penggila bola segajad kembali disuguhkan oleh pesta olahraga terbesar kedua di dunia setelah olimpiade tersebut. Sangking banyaknya yang tergila-gila dengan kejuaraan yang diselenggarakan empat tahunan sekali sampai-sampai banyak pelanggan TV berbayar (kabel ataupun satelit) yang teraniaya seperti saya ini, karena provider-nya nggak dapat izin untuk menyiarkan piala dunia, sampai dibela-belain untuk membeli antena TV terestrial yang primitif tersebut hanya untuk menikmati siaran piala dunia walaupun gambarnya cukup banyak “semut”nya seperti kasus yang saya alami :( , namun yah apa boleh buat tahi kambing bulat-bulat, seperti kata pepatah “tak ada rotan akarpun jadi”. Nah, bagi para pecandu sepakbola (atau bisa juga para penikmat judi taruhan atau penikmat sepakbola dan taruhan sekaligus) tidak seru rasanya jika tidak membumbui piala dunia dengan taruhan siapa yang bakal menggondol pulang piala dunia tersebut. Sepertinya piala dunia tanpa taruhan ibarat sayur tanpa garam, bahkan bisa jadi ibarat sayur tanpa sayurannya itu sendiri! Atau minimal jika  tidak terbiasa dengan taruhan setidak-tidaknya para pecandu bola biasanya paling sedikit ikut-ikutan menebak siapa yang bakal juara.

Nah, begitu juga dengan saya, rasanya tidak “sreg” kalau tidak ikut tebak-tebakan dengan sesama “penggila” bola untuk sekedar menebak negara mana yang akan menjuarai piala dunia kali ini. Saya sendiri punya pengalaman yang lumayan unik dari pertaruhan piala dunia ini terutama dari piala dunia 1990 hingga 1998. Ceritanya, waktu sejak jadi mahasiswa saya punya teman kuliah asal Padang, Sumbar yang juga gila bola. So, setiap kali piala dunia (dan juga piala Eropa atau Euro) berlangsung kita berdua selalu taruhan. Namun medium taruhan diubah dan bukan uang karena katanya pak Ustadz taruhan dengan uang diharamkan maka medium taruhan diubah.

Mula-mula di piala dunia 1990, taruhannya adalah siapa yang kalah harus bersihkan kamar kos yang menang selama seminggu! Dan jikalau dari kedua kesebelasan yang masing-masing kita pegang tidak ada yang jadi juara, maka pemenang taruhan ditentukan dengan melihat siapa dari kedua kesebelasan yang kita pegang yang berprestasi lebih baik di piala dunia tersebut. Dengan begitu bisa dipastikan bahwa dari taruhan tersebut pasti ada yang menang dan yang kalah! Waktu itu dia sangat ngotot megang Belanda yang masih diperkuat oleh trio Belanda yang terkenal waktu itu: Ruud Gullit, Marco van Basten dan Frank Rijkaard. Sedangkan saya memegang Jerman Barat yang juara. Di babak 16 besar kedua kesebelasan bertemu! Dan Belanda harus mengakui keunggulan Jerman Barat 2-1. Haha… jadilah dia yang harus membersihkan kamarku selama seminggu padahal selama dua minggu kamarku sengaja tidak saya bersihkan, sementara dia juga selama beberapa minggu tidak membersihkan kamarnya karena yakin bakal menang! Walhasil… dia harus membersihkan dua buah kamar yang sama-sama tidak dibersihkan selama dua minggu! :lol:

Untuk Euro 1992, karena kita sudah sama-sama lulus dan kita tinggal di Jakarta dengan jarak tempat tinggal yang cukup berjauhan, maka taruhan diganti dengan yang agak klasik yaitu: traktir makan. Saya lupa lagi dia megang kesebelasan apa, kalau nggak salah dia tetap memegang kesebelasan Belanda, sedangkan saya masih ingat saya tetap memegang kesebelasan Jerman. Walaupun yang juara adalah kesebelaan Denmark pada Euro 1992, tapi saya tetap menang taruhan karena kesebelaan yang saya pegang sebagai taruhan tetap mencapai babak yang lebih baik yaitu sampai ke babak final.

Piala Dunia 1994 dan Euro 1996 karena kendala jarak antar kita berdua maka eksekusi taruhan ditiadakan. Baru pada Piala Dunia 1998 kita “taruhan” lagi.  Kali ini taruhannya cukup unik yaitu siapa yang kalah harus mau memuji-muji yang menang di depan umum! Terserah pujiannya apa! :lol:  Cara taruhannyapun sedikit diubah. Masing-masing pihak kini memegang tiga kesebelasan (bukan satu kesebelasan) untuk menjadi juara. Jikalau dari keenam kesebelasan (tiga dari masing-masing fihak) tidak ada yang juara maka tidak akan ada pemenang dalam taruhan itu alias seri. Jadi peraturan kesebelasan siapa yang bisa mencapai babak yang lebih baik tidak lagi berlaku di sini. Saya ingat benar, saya memegang Perancis, Jerman dan Argentina sementara dia memegang Brasil, Italia dan salah satu negara Afrika (saya agak lupa negara mana tapi kalau nggak salah Nigeria). Ketika hari final tiba, dan berhadapan kesebelasan Perancis dan Brasil adalah hari yang menegangkan karena salah satu dari kita pasti ada yang menang dan ada yang kalah! Dan sejarah mencatat akhirnya Perancis menang telak 3-0 di final! Huahaha…. lagi-lagi deh aku menang…. dan susah diceritakan bagaimana akhirnya dia memuji-muji saya di depan umum sampai saya sendiri merasa malu…. :lol: :lol:

Pada Euro 2000, kami tidak taruhan lagi, karena selain kami sudah sibuk masing-masing, ia juga telah menikah dulu di tahun 1999. Walau begitu, hingga sekarang, via SMS, setiap kali piala dunia ataupun Euro ” taruhan” tetap dilaksanakan walaupun hanya sekedar menebak-nebak kesebelasan mana yang bakal jadi juara. Namun begitu, untuk piala dunia tahun ini, saya tengah bertaruh dengan teman saya yang lain, teman kantor saya, saya pegang Brasil dan Argentina sementara teman saya pegang Belanda dan Inggris. Saya memilih Brasil dan Argentina karena selama ini negara-negara Eropa selalu gagal dalam meraih juara kalau kejuaraan piala dunia diadakan di luar benua Eropa. Taruhannya?? Yang kalah membayar tagihan listrik (PLN) dan Internet yang menang selama 3 bulan berturut-turut! Bagaimana?? Lumayan kan kalau menang?? :P

Tri

Kemarin siang, hapeku menerima SMS singkat yang berbunyi: “Wah… blognya udah tiga tahun nih!”. Kulihat tanggal di arlojiku, wah benar juga sekarang tanggal 17 Juni, berarti blogku ini sudah tiga tahun usianya atau dengan kata lain, aku sudah ngeblog (di blog ini) selama tiga tahun. Tak terasa, tiga tahun serasa kemarin atau maksimal terasa seperti baru beberapa bulan. Tetapi begitulah, kenyataan memang blog ini ternyata sudah berusia tiga tahun. Seharusnya artikel ini dirilis kemarin, namun karena aku benar-benar lupa kemarin itu tanggal 17 Juni (mungkin karena demam piala dunia…  **halaah lebay** :P khusus untuk saya malah mulai senin depan ditambah demam Wimbledon )  maka dengan agak menyesal saya baru bisa merilis postingan ini pagi ini.. (sebenarnya EGP sih… :P )

Saya mulai mencoba untuk menulis pada sebuah blog ketika saya melihat blognya Prof. Sjafri dan habis mengomentari salah satu artikelnya (saya mendapatkan link Prof. Sjafri dari blognya bang Riri Satria yang dulu…). Seketika itu juga saya berniat dan bertekad untuk menghasilkan tulisan-tulisan di sebuah blog juga, namun dengan kualitas yang “semau gue”, syukur-syukur kalau bagus, kalau nggak ya EGP…. :mrgreen: Semula saya membuka blog di Blogspot dan bertekad untuk hanya menulis dalam Bahasa Inggris saja, blog saya yang Bahasa Inggris masih bisa dikunjungi dan linknya masih ada di kolom widget hingga sekarang! Namun waktu itu entah kenapa saya ingin juga mencoba WordPress, namun saya berfikir saya sudah punya blog di Blogspot kenapa saya mau buka lagi di WP? Akhirnya dapat ide kalau blog yang WP buat saya tulis dalam Bahasa Indonesia. Jadinya punyalah saya dua blog. Namun begitu dengan seiring jalannya waktu, sepertinya kerepotan untuk mengurus dua blog sekaligus secara konsisten, saya berfikir untuk harus mengorbankan salah satu. Setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya saya memutuskan untuk mengorbankan blog saya di Blogspot, lagipula saya berfikir akan lebih bermanfaat bagi saya untuk menulis dalam Bahasa Indonesia, karena artikel berbahasa Inggris yang bermutu sudah banyak sekali bertebaran di Internet. Akhirnya terbengkalailah blog saya yang berbahasa Inggris tersebut sehingga saya lupa akun dan password yang saya pakai buat blog itu! :mrgreen: Namun entah kenapa, setahun yang lalu saya kangen dan ingin sekali menulis dalam Bahasa Inggris, namun apa daya password dan akun blog saya yang di Blogspot itu sudah saya lupa. Setelah dipertimbangkan masak-masak akhirnya muncullah ide kenapa tidak menjadikan blog saya ini dwibahasa saja?? Maka jadilah blog saya ini dwibahasa sampai sekarang…

Selama tiga tahun ini, blog ini sudah diklik lebih dari 350.000 kali dengan komentar sebanyak 9.789 serta 347 artikel yang saya buat. Sebenarnya belum seberapa karena masih banyak blog yang “lebih unggul” secara statistik. Namun begitu, saya sadar bahwa KUALITAS tulisan jauh lebih berharga dibandingkan dengan kuantitas tulisan. Hal tersebut tentu saja berlaku baik untuk postingan maupun komentar, walaupun saya sadar mungkin agak sulit bagi saya untuk menuliskan hal-hal yang bermutu terus karena terkadang menulisnya juga lebih menguras energi otak, belum lagi energi dan mood untuk mengetik yang entah kenapa hampir 6 bulan terakhir ini selalu konstan! Ya… konstan untuk naik turun! :mrgreen: Namun begitu, insya Allah, mudah-mudahan blog ini tetap ter-update walaupun berjalan agak lambat dan tidak bernasib seperti banyak blog-blog yang ber-mood dan bermental “panas-panas tahi ayam” sehingga banyak blog mereka jadi tidak terurus dan tidak ubahnya seperti seonggok…. (terusin sendiri! :P )

Reading A Fresh Daily Twice A Day?

Are you kidding me? That remark might come across your head soon after you read the title above. How come you read a fresh daily twice a day? Is it really a daily or perhaps I mistake it for a semidaily?? No, if I said a daily it is really a daily which means it is published once a day. However there is a way for you to read a fresh daily twice a day! Okay, before you insist on your denial you should heed my explanation below first before you  make your own conclusion whether my explanation makes sense or not. ;)

Suppose, the future longest suspension bridge in the world that spans the Sunda strait connecting the island of Sumatra and the island of Java is already completed. And suppose the bridge also carries the double railway tracks which are parts of Medan-Surabaya railway tracks. Here it is, daily at noon, a train pulls out from Surabaya for Medan. Also daily, again at noon, another train leaves Medan for Surabaya. Suppose the entire journey takes a week (seven days). The simple question is: How many trains will you meet on your way from Surabaya to Medan?  You probably rush to give the answer: seven. That’s wrong though. Besides meeting on the way the seven trains that will leave Medan after you depart from Surabaya, you will also meet the trains in your direction already on the way at the time you left! Consequently, the right answer is not seven, but fourteen instead!

Let’s now proceed further. Each Medan train (a train which leaves Medan for Surabaya) has on board fresh daily Medan newspapers. If you are interested in Medan news, you will naturally buy fresh papers at each stop (suppose each time two trains about to pass each other they make a brief stop).  How many fresh newspapers then will you buy on your a week journey? I guess that by now you will give the correct answer of fourteen. After all, each train you meet brings a fresh paper, and because you meet fourteen trains, it means you read also fourteen fresh papers! But since you will be travelling only a week, you will be reading a fresh Medan daily twice a week! How’s that??

This seems a surprising paradox, doesn’t it? For a short time, you might think “Yeah… you are right. But how come it goes like that?” But actually the logic behind this case is readily understood. The first Medan train you meet will bring a fresh (ehm…. I mean ‘a stale’) Medan newspapers from seven days ago!*) Since you head in their direction while they head in your direction it means your speed is doubled in reference to their perception and vice versa. Thus  it means that you will meet the fourteen Medan trains one after another at the rate of two trains a day instead of one train.  Aha! Now after the brief explanation I hope everything is now crystal clear for you to understand why is it possible for us to read a fresh daily twice a day! :P

The last question is why am I telling you this? This case might help you understand to some extent the properties of Doppler effect in particular or some properties of the sound in general. That is if you are interested in very basic physics in entertaining ways! ;)

P.S.:

*) The first Medan train you meet is the one you meet at the initial point of your journey in the Surabaya station at the Medan train’s arrival meanwhile the last Medan train you meet is the one that you meet at the last midnight (suppose all trains travel at the same and constant speed) before you arrive at the Medan station. The Medan train you meet at the Medan station when you arrive is counted out since the Medan daily is ubiquitous in Medan and you don’t need to buy it aboard.

A Black-and-White Picture of The Black-and-White House…

Somewhere in an Indonesian remote town, a man and his son are watching the evening news on their age-old black and white TV…

The Son : Dad, when will we have a new TV? I want a colour one like everybody else in the class has… This TV is as old as the hills, it belongs to the museum!

The Father: No son, we’re not gonna have any! This TV is still of excellent service, how can I get rid of it?? It’s only a waste of money to buy a new TV

The Son : But dad, the World Cup is drawing near, I want to watch it in colour, I want to see the brilliant orange jersey of the Dutch team, or I want to see how colourful the fans are who cheer on their fave teams in the stadium. Please dad, will you buy one?

The Father: Listen son! It doesn’t matter what kinda TV your friends have, but believe me, people worldwide are turning towards their old black-and-white TVs again!

The Son: You sound like a liar dad! How can you be so sure? You have never even gone abroad before!

The Father: You’ll see son! Believe me that the trend towards the black-and-white TV is on the rise again…

And suddenly…

The Father: Look son! Look what the evening news has, it’s the news from the White House. And look again, the president is tuning in to his TV! Now, do you believe me son? Even the president of the United States still keeps his black-and-white TV… he’s watching it now…..!

(A stupid post from an insipid blogger :P )

Kamus Besar Bahasa Indonesia vs Advanced Learner’s Dictionary

Empat Dari Lima Advanced Learner's Dictionary Koleksi Saya...

Bagi anda yang pernah mengecap pendidikan atau dengan kata lain bagi anda yang terpelajar atau setidak-tidaknya mengaku terpelajar kemungkinan besar di rumah anda mempunyai minimal sebuah kamus, entah itu kamus dwibahasa Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris (atau gabungan keduanya) yang banyak bertaburan di toko-toko buku, atau mungkin kamus ekabahasa atau satu bahasa seperti KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau kamus monolingual Bahasa Inggris mulai dari yang sederhana hingga yang supercanggih seperti Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary ataupun The Chambers Dictionary dan sebagainya. Sayapun juga mempunyai (lebih tepatnya: mengkoleksi :mrgreen: ) banyak kamus di rumah baik yang dwibahasa maupun yang ekabahasa (Indonesia, Inggris, Perancis/Le Petit Larousse, Jerman/Langenscheidt Taschenwörterbuch Deutsch als Fremdsprache). Namun dari koleksi kamus monolingual/ekabahasa yang saya punya yang paling mengesankan adalah seri Advanced Learner’s seperti foto di sebelah ini.

Di dunia ini, mungkin hanya ada 6 pembuat kamus seri Advanced Learner’s ini, lima dari Inggris Raya dan satu dari Amerika Serikat. Mereka adalah: Oxford Advanced Learner’s Dictionary, Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, Collins Cobuild Advanced Learner’s Dictionary, Macmillan English Dictionary for Advanced Learners, Longman Dictionary of Contemporary English (dari Inggris Raya) serta Merriam-Webster’s Advanced Learner’s Dictionary (dari Amerika Serikat). Longman Dictionary of Contemporary English sebenarnya bukan mengklaim dirinya sebagai bagian dari “Advanced Learner’s Dictionary” namun jikalau anda mempunyai kamus ini anda akan merasakan bahwa gaya penyusunan kamus ini sangat mirip dengan rekan-rekannya (atau lebih tepatnya saingan-saingannya) yang Advanced Learner’s Dictionary itu. Saya sendiri mempunyai lima dari enam kamus seri Advanced Learner’s ini, yang tidak saya beli adalah Collins Cobuild Advanced Learner’s Dictionary yang menurut saya pribadi  kualitasnya agak tertinggal dibandingkan saingan-saingannya. Di dalam foto hanya terpotret empat saja dari lima kamus yang saya punya karena yang Macmillan English Dictionary for Advanced Learners berada di rumah saya di Jakarta, jadi untuk sementara tidak dapat dipotret… :mrgreen:

Lantas kenapa seri Advanced Learner’s ini menurut saya sangat bagus? Tentu itu disebabkan karena beberapa hal. Pertama, karena cakupan katanya termasuk yang sangat sangat lengkap walaupun masih kalah jauh dengan Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary ataupun The Chambers Dictionary, namun begitu kamus-kamus Advanced Learner’s ini boleh dikatakan sudah sangat lengkap. Cakupan kata-kata dan entri-entrinya sudah mencakup istilah-istilah teknis, akademis, idiom, kata kerja berpartikel (phrasal verbs), bahkan kata-kata gaul atau slang, kata-kata informal serta kata-kata tabu juga sudah sangat banyak tercakup. Inilah bedanya antara kamus-kamus besar Bahasa Inggris dengan KBBI, jikalau KBBI menganaktirikan kata-kata gaul ataupun prokem ataupun apalah, kamus-kamus besar Bahasa Inggris termasuk seri Advanced Learner’s ini justru menganggap kata-kata tersebut sebagai bagian dari Bahasa Inggris yang perlu juga diketahui. Alasan kedua, setiap kata dalam kamus ini dijelaskan atau didefinisikan dengan serdehana namun tetap jelas dan akurat. Hal tersebut dikarenakan setiap definisi dari kata atau entri hanya dibatasi menggunakan 3000 kata Bahasa Inggris yang sangat basic, sehingga dijamin tidak akan membingungkan pembacanya bahkan bagi yang sedang belajar sekalipun. Alasan ketiga, seri kamus ini sangat kaya dengan ilustrasi. Ilustrasi-ilustrasi ini sangat membantu untuk menjelaskan kata-kata atau entri-entri yang agak sulit jika hanya membaca definisi-definisi yang ada. Hal tersebut tentu saja berbeda dengan KBBI yang tidak ada ilustrasi sama sekali. Alasan keempat, seri kamus ini juga menampilkan contoh-contoh kalimat yang komprehensif yang sangat membantu terutama untuk mengaplikasikan kata-kata yang sulit ataupun idiom-idiom yang sulit ke dalam kalimat ataupun ucapan sehari-hari. Sementara KBBI? Hmmm…. walaupun dalam Bahasa Indonesia juga banyak sekali kata-kata sulit namun jangan harap akan diberikan contoh-contoh kalimatnya. :(

Nah, begitulah alasan-alasan kenapa kamus-kamus seri Advanced Learner’s ini menurut saya sangat bagus penyusunannya. Bagi anda yang berminat mungkin anda cukup memiliki salah satu saja, kecuali jikalau anda maniak mengkoleksi buku seperti saya boleh membeli semuanya..  (maksudnya saya cuma suka mengkoleksi aja.. mbacanya sih nggak… :mrgreen: ). Advanced Learner’s Dictionary ini memang pada awalnya memang dirancang untuk para murid-murid yang bukan penutur asli Bahasa Inggris walaupun kini orang-orang yang penutur asli Bahasa Inggris juga banyak merasakan manfaat dari seri kamus ini. Seri kamus ini bermula ketika A.S. Hornby seorang guru Bahasa Inggris di Jepang sebelum Perang Dunia II berhasil mengidentifikasi kesulitan-kesulitan murid-muridnya yang tentu saja bukan penutur asli Bahasa Inggris dalam mempelajari Bahasa Inggris. Dari sinilah Hornby menyusun kamus ekabahasa Bahasa Inggris yang disusun sesuai dengan kebutuhan murid-murid yang belajar Bahasa Inggris. Hornby pertama kali menerbitkan cikal-bakal kamus Advanced Learner’s Dictionary-nya di Jepang tahun 1942, walaupun masa-masa perang sangat menyulitkannya dan bahkan Hornby harus meninggalkan Jepang. Namun begitu, di tahun 1948, Hornby berhasil menerbitkan kamus edisi pertamanya untuk seluruh dunia dengan nama “Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English” (saya masih punya kamus edisi pertama tersebut di rumah saya di Jakarta yang dulu dipakai oleh kakek saya!) yang merupakan cikal-bakal dari “Oxford Advanced Learner’s Dictionary” yang modern sekarang ini. Kamus ini dalam beberapa dekade menjadi kamus yang paling banyak dibeli di seluruh dunia sehingga mendorong pesaing-pesaingnya untuk menerbitkan jenis kamus serupa.

Jadi, di dalam dunia kamus internasionalpun juga terjadi persaingan yang ketat. Tidak heran jikalau di setiap edisi berikutnya kamus-kamus ini menjadi lebih lengkap, lebih menarik dan lebih dinamis lagi agar tidak kalah dengan pesaing-pesaingnya. Namun, mungkin karena faktor persaingan itulah justru yang ikut membuat kualitas kamus ini menjadi sangat prima sekarang dengan cetakan yang penuh warna (tidak seperti KBBI yang hingga beberapa edisi sekarang ini terlihat sangat statis…. :( )