Archive Bulanan: Juli 2010

Interstellar Battleship over Kemang??

 This 20-second-clip first caught my attention on Yahoo! Indonesia about a week ago. It is showing an armada of interstellar (or space) battleships above Kemang, a district in Jakarta. Hoax?? Sure! Even for those who believe in the extraterrestrials will sneer at the authenticity of this clip. For me, who is now no longer sure about the existence of the extraterrestrials (but I don’t have any intention to elaborate it since it will take a separate article of its own) I did not need to think twice to reject the plausibility of this clip. Okay, forget about the newsworthiness of this event if it is genuine and we all know that no media carry the headlines of this event. But on the movie itself, if you play that clip, you will easily spot the unmatched atmosphere thereof.

The technique applied on this clip is almost perfect. But perhaps a missing scenario might escape your notice, it is the crowd on the street! We see no crowd on the street! That’s the missing scenario that is supposed to be there to make it more real! The explanation is simple: if you see an armada of spaceships hanging overhead over a city, it will attract everyone’s attention because no one will want to miss the occasion that might not happen even once in a million years. So, people will flock on the streets, cars and cycles will pull up and heads will jut out of the windows! But as you see on the clip, those things don’t happen, people keep driving, no one is looking up into the skies to check what’s going on. It seems that it is just like another busy hours in Kemang, as flat as it! So, the scenario in the skies does not check with the one on the ground! Too bad, despite my personal opinion that the technique used to manipulate the scene is somewhat okay…. ;)

So… what else do you think it looks so deceptive? ;)

Chicken or Egg First? Fruit or Seed First?

It is interesting to read the articles on which comes first, egg or chicken?? Actually the British scientists on the Universities of Sheffield and Warwick have eventually concluded the age-old puzzle with a scientific answer that the chicken must have come first! The key to the answer of this puzzle lies in a protein discovered by the scientists called OC-17 or ovocledidin-17. This protein is only found in the eggshell. The scientists use the sophisticated supercomputer simulation to demonstrate the formation of the eggshell from the protein to the fully dvelopped eggshell. The process is rather complicated and it is not easy for laymen (including me) to understand it unless you get to grips with biochemistry very well.

Of course, for those who do not fully understand might be likely to drag the kind of old catch-22 back in circles, a new but old similar question would emerge: “then how did the first chicken come into being?? Did it just pop up?? Was it created by God?? Did it evolve from something else unknown?? etc…etc…” Well… for you to know that I am not too interested in prolonging the puzzle that will eventually incite dogmatic arguments and debates. I am not interested either in detailing the scientific lowdown on the riddle.

Instead of detailing or prolonging the riddle I’d rather like discussing on what Rob stated on his post in his blog concerning reinventing the saying on the situation of which must come first. Of course it is just a mere fun rather than a necessity ;) . At first I thought it was gonna be easy but after a while I realised that it was not as simple as I initially thought. And after thinking for about half an hour I only came up with three replacements, two of them are not appropriate enough to replace the old saying. Here come those three one after another:

Which one comes first day or night?

At the beginning I thought it’s the perfect substitute for the solved old riddle. But after thinking for a while soon I realised that it wasn’t. The answer to this riddle is not that hard to find. If the earth was created before the sun, the night would come first because there would impossibly be the day without the shining sun. And if the sun was created before the earth, the day and the night came together at the same time, none of both came first since there would always be night and day at the same time (depending on where you stay on the earth, the side facing the sun or the side facing away from the sun) since the birth of the earth! See? So… this replacement is eliminated out of hand! ;)

Which one comes first Sunday, Monday, Tuesday,…, or Saturday?

On which day was the earth created? So I’m rephrasing it. This must be the perfect substitute for the solved puzzle of the saying and it seems that I will never change that view. However, the options are too numerous that it takes forever to express the new saying! So it is not worth a red cent and again I have to get rid of it. :(

Which one comes first seed or fruit?

After failing with two previous substitutes, I eventually breathed freely after stumbling across this rather similar reinvented saying. Unless there was already a scientific research that had come with the answer of this riddle somewhere else I am pretty sure that this is the perfect replacement for the age-old solved saying. Or do you find it the other way round?? If you don’t agree on it, perhaps you can come up with your own sayings that picture the similar situation. So please, help me! ;)

Generasi Google? Apa Hebatnya Ya?

Stereotipe Gambaran Generasi Google?

Anda mempunyai anak, cucu atau keponakan yang sudah pandai mengoperasikan komputer dan Internet? Mungkin anak, cucu dan keponakan anda tersebut boleh jadi sudah merupakan bagian dari generasi Google. Ya, generasi Google (Google generation) adalah mereka yang lahir tahun 1990an dan sesudahnya yang merasakan Internet dan mesin pencari seperti Google sebagai portal pertama dan utama dalam mencari sumber informasi dan hiburan. Walaupun baru-baru ini sebuah riset dari Inggris menyimpulkan bahwa generasi Google adalah sebuah mitos karena belum tentu mereka lebih melek informasi dan teknologi dari orang tua mereka, namun banyak orang tua yang bangga (termasuk saya tentu saja) jikalau mereka mendapatkan anak-anak mereka telah memiliki dan telah pandai mengoperasikan gadget-gadget canggih yang tidak mungkin dimiliki oleh orang tua mereka puluhan tahun yang lalu. Namun, patutlah orang tua mereka (termasuk saya) berbangga hanya karena mereka telah pandai mengoperasikan alat-alat canggih di usia yang sangat dini?

Saya jadi ingat, di paruh akhir tahun 1980an lalu, ketika kalkulator yang sudah terprogram dan yang dapat diprogram  (preprogrammed and programmable calculators) mulai membanjiri pasaran. Banyak teman-teman saya, terutama mereka yang berkantung tebal (kantung orang tuanya tentu saja) ramai-ramai membeli kalkulator yang pada saat itu terhitung sangat canggih. Mereka berharap, dengan membeli kalkulator tersebut mereka menjadi lebih cerdas berprestasi dalam studi. Walhasil? Kalkulator sudah terbeli, namun prestasi tidak terdongkrak! Ya, tentu saja! Jika kalkulator tersebut hanya diisi dan dijejali rumus-rumus tanpa mata pelajarannya sendiri lebih dimengerti dan dipelajari, mana bisa prestasi terdongkrak?? Ada juga kasus lain, teman saya yang kurang pandai berbahasa Inggris, namun ia sok sangat “tech-oriented“, ia membeli kamus elektronik yang harganya mahal hingga jutaan dan sangat anti membeli kamus berbentuk buku yang dikatakannya ketinggalan zaman walaupun harganya lebih murah. Selain itu, ia juga sangat mengandalkan kamus online (Iapun sangat tidak ingin membeli buku-buku dengan dalih sekarang sudah zamannya e-book, padahal e-bookpun tak pernah ia baca karena memang orangnya kurang minat membaca!). Salahkah itu? Tentu saja sama sekali tidak, bahkan sangat bagus jikalau hal tersebut dapat mendongkrak kemampuan belajar Bahasa Inggrisnya. Yang salah adalah, jika kamus elektronik mahal sudah terbeli dan kamus online sudah di depan mata namun ia jarang berlatih bicara dan menulis dalam Bahasa Inggris sehingga kemampuan Bahasa Inggrisnya tidak berkembang, seperti kasus teman saya tersebut!

Nah, dari pemaparan di atas, sudah terlihat kan apa hubungannya dengan generasi Google ini? Belum? Maksudnya begini…. jikalau seseorang anak telah mengenal Internet, Google (atau mungkin gadget-gadget lainnya) itu tentu sudah merupakan awal yang baik buat “kemajuan” sang anak. Namun tentu hal tersebut tidak cukup jikalau Internet dan gadget-gadget canggih tersebut gagal membuat si anak lebih berprestasi. Berprestasi di sini tentu dalam arti luas, tidak melulu hanya di sekolah saja namun tentu saja sekolah masih merupakan indikator utama dalam mengukur prestasi anak. Jikalau si anak tidak terdongkrak prestasinya, mungkin saja si anak “gagal” dalam mensinergikan Google dan gadget-gadget canggih lainnya dengan kebutuhan pelajaran-pelajarannya di sekolah. Ia mungkin hanya berhasil mensinergikan Google dengan kebutuhan “gaya hidupnya” seperti game, Facebook dan sebagainya. Tentu si anak tidak bisa serta merta disalahkan. Mungkin ia tidak terbiasa mensinergikan Google dan Internet untuk kebutuhan sekolahnya secara maksimal yang ia biasa mungkin hanya sebatas bagaimana mendownload game, menggunakan Facebook, dan sebagainya seperti yang sering ia lihat dari teman-temannya. Nah, sebagai orang tua tentu kita harus membimbing si anak bagaimana mendapatkan informasi yang tepat untuk kebutuhan pekerjaan rumahnya dan pelajaran-pelajarannya di sekolah agar si anak terbiasa. Jikalau informasi tersebut dalam Bahasa Inggris, bantulah si anak dalam menterjemahkan informasi tersebut dengan begitu si anak juga diajarkan sedikit demi sedikit untuk terbiasa mengolah informasi dalam bahasa asing (Inggris). Dengan bimbingan orang tua, insya Allah, si anak jadi terbiasa mengolah informasi sesuai dengan kebutuhan sekolahnya dan sekaligus meminimalisasi penyalahgunaan Internet untuk hal-hal yang negatif.

Di berita-berita televisi dan surat kabar, banyak diberitakan mereka yang kurang mampu, yang tentunya akses ke Internet menjadi lebih terbatas, malah mampu menyabet NEM tertinggi (walaupun memang NEM bukan segala-galanya, saya setuju). Lantas, kalau begitu apa istimewanya “generasi Google” jikalau mereka tidak lebih baik dari mereka yang “bukan generasi Google”?? Tentu saja tidak pernah ada konvensi yang mengharuskan mereka yang termasuk generasi Google harus lebih berprestasi dibandingkan mereka yang “tidak termasuk” generasi Google. Namun, kalau pada akhirnya generasi Google tidak mampu mengangkat daya kompetitifnya lebih dari mereka yang “bukan termasuk” generasi Google, lantas apa istimewanya ya generasi Google itu? Apakah memang generasi Google sebenarnya memang tidak istimewa karena Internet dan Google, seperti halnya BlackBerry dan Facebook yang banyak terjadi di Indonesia, hanya sebatas gaya hidup (lifestyle) saja??

Piala Dunia “Yang Aneh…”

Piala Dunia kali ini bagi saya terasa sedikit “aneh”. Kenapa begitu? Entah kenapa sedikit aneh, bukan aneh karena  jika pada pertandingan final besok Belanda memenangkan pertandingan tersebut, saya ( pertama kalinya dalam sejarah taruhan saya) akan kalah taruhan tetapi juga karena terlalu banyak kejutan-kejutan yang ada di piala dunia kali ini. Banyak ramalan pakar-pakar sepakbola yang meleset. Bahkan kini boleh dikata, ehm, bahwa ramalan-ramalan pakar-pakar sepakbola sudah “kalah akurat” dibandingkan dengan ramalan si gurita Paul (der Tintenfisch Paul Oktopus) dari Oberhausen, Jerman itu. Ya, kekalahan saya dalam taruhan (jika Belanda besok menang) bukanlah satu-satunya hal yang “pertama kali” terjadi, tapi juga banyak hal-hal lain di piala dunia ini yang juga baru pertama kali terjadi yang menjadikannya piala dunia yang “teraneh” menurut saya.

Hal-hal lain yang baru pertama kalinya terjadi dalam piala dunia kali ini adalah: Pertama, untuk pertama kalinya negara Eropa akan menjadi juara di Piala Dunia yang digelar di luar benuanya! Kedua, untuk pertama kalinya kesebelasan-kesebelasan Asia, di luar piala dunia 2002 di Jepang-Korea, berhasil maju ke babak knockout (babak kedua). Ketiga, untuk pertama kalinya kesebelasan tuan rumah gagal maju ke babak knockout atau babak kedua. Bahkan ketika AS menjadi underdog dan menjadi tuan rumah piala dunia 1994, AS berhasil melaju ke babak kedua. Keempat, Ini juga untuk pertama kalinya juara bertahan dan runner-up kejuaraan Piala Dunia tahun lalu yaitu diwakili kesebelasan Italia dan Perancis sama-sama tersisih di babak awal piala dunia, dan menempati juru kunci pula di masing-masing grup! Sungguh menyedihkan sekaligus sungguh “aneh”.

Namun keanehan bukan hanya terjadi di pertandingan-pertandingan piala dunia saja. Kejadian-kejadian di seputar piala dunia tak kalah banyak yang “aneh” atau malah menggelikan. Di suatu pagi, ketika saya tengah menonton acara “Lensa Olahraga” di ANTV, saya tersenyum-senyum geli (bukan karena dikelitik loh… :P ) ketika ibu Rita Subowo, ketua KONI Pusat, ditanya soal siapa yang bakal menang antara kesebelasan Jerman melawan Australia. Si ibu ketua KONI Pusat ini menjawab dengan sedikit ragu-ragu “Jerman”. Lantas ditanya kembali: kenapa ibu memegang Jerman?? Dijawab juga dengan sedikit ragu-ragu “Soalnya teman saya banyak yang bermukim di Jerman”!! O alaaah… bu… bu…. mbok ya, kalau ditanya mengenai sepakbola, ya jawabnya juga sepakbola juga, paling tidak nyerempet-nyerempet deh! Apalagi beliau adalah ketum KONI pusat, mbok ya belajar sedikit-sedikit mengenai sepakbola begitu. Moso ditanya kenapa memegang kesebelasan Jerman (waktu melawan Australia), jawabannya “Soalnya teman saya banyak yang bermukim di Jerman”!! Untung aja yang ditanya masalah sepakbola, masalah yang belum dianggap serius terutama di negara kita ini. Coba kalau ahli ekonomi ditanya begini: “Bu…. bu… atau pak… pak…. kira-kira dalam jangka waktu 10 tahun, negara mana yang mempunyai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi: negara A atau negara B??” Dijawab: “Negara A”. Alasannya: “Sebab teman-teman saya banyak yang bermukim di negara A”. Lah, kan lucu!! :mrgreen: Untung saja banyak orang yang masih banyak menganggap pertanyaan sepakbola sebagai pertanyaan yang nggak begitu penting.

Namun “keanehan” atau “kelucuan” nggak berhenti sampai di situ. Kambing hitam, seperti biasa, laris manis dicari-cari terutama oleh kesebelasan-kesebelasan unggulan yang bertumbangan di babak-babak awal. Kesebelasan Perancis (yang sebenarnya termasuk salah satu kesebelasan favorit saya) adalah termasuk salah satu kesebelasan yang paling sibuk mencari kambing hitam sampai-sampai terjadi keretakan dalam tubuh kesebelasan “Les Bleus” tersebut. Sedangkan kesebelasan Inggris (England), kesebelasan nasional yang paling saya benci sedunia ternyata nggak kalah noraknya! Kesebelasan nasional yang selalu mendapatkan publikasi dan sorotan serta sambutan publik internasional secara meriah namun tidak pernah berprestasi di tingkat dunia bahkan Eropa ini juga sempat sibuk mencari kambing hitam apalagi setelah digebuk “der Panzer” 1-4. Gol kedua Inggris yang dianulir (yang harus saya akui sebenarnya itu seharusnya menjadi gol yang sah) sempat dijadikan alasan menurunnya performansi Inggris di babak kedua sehingga Inggris gagal mengejar ketertinggalannya dari Jerman bahkan harus kebobolan 2 gol lagi! Menurut saya alasan tersebut merupakan alasan yang sangat menyedihkan. Kenapa? Kesebelasan sekaliber Inggris, yang katanya kaliber dunia itu, tidak seharusnya mempunyai mental yang cepat anjlog hanya karena sebuah gol yang dianulir. Kok, seperti mental PSSI aja sih! Sungguh, bukan mencerminkan mental sebuah kesebelasan berkelas dunia. Padahal, sebuah kesebelasan berkelas dunia bukan hanya harus mempunyai skill dan disiplin yang sangat bagus tetapi juga tentu saja harus mempunyai mental yang setangguh baja pula. Pantesan, kesebelasan Inggris nggak pernah juara di piala dunia (kecuali tahun 1966 yang diselenggarakan di tanah Inggris) dan piala Eropa (Euro). Jangankan juara, masuk finalpun kesebelasan Inggris nggak pernah (kecuali di piala dunia 1966 itu yang menjadi juara) baik di piala dunia maupun di piala Eropa. Prestasi Inggris terbaik hanya sebagai juara ketiga di Euro tahun 1968 dan 1996, sedangkan di piala dunia, Inggris tidak pernah menjadi juara ketiga sekalipun! Heran aku, masih banyak aja yang mau menjagokan kesebelasan Inggris! :P “Kenorakan” kesebelasan Inggris bukan hanya sampai di situ, menurut berita yang sempat saya tonton juga di “Lensa Olahraga” ANTV, kegagalan kesebelasan Inggris adalah karena persaingan individu-individunya di lapangan yang masing-masing pemain masih membawa persaingan antar klub-klub besar mereka! Ck..ck..ck… lagi-lagi menurut saya, itu adalah sebuah mental yang kurang profesional. Seharusnya jikalau kita sudah bermain di bawah bendera nasional, sebaiknya kita lupakan persaingan-persaingan di tingkat klub. Jangan persaingan di klub dibawa-bawa di tingkat kesebelasan nasional! Sungguh merupakan sikap yang kurang profesional! Cukup “aneh” dan “menggelikan” juga ya, karena ternyata sebuah kesebelasan bertingkat dunia (mungkin bukan kesebelasan Inggris saja) ternyata masih juga menyisakan mental dan sikap profesional setingkat PSSI yang menyedihkan….. :mrgreen:

Ya udah… deh…. pendek kata Piala Dunia kali ini merupakan piala dunia “yang aneh”, minimal buat saya pribadi! Spanyol dan Belanda bertemu di final. Inilah, sejak piala dunia 1978 di Argentina, di pertandingan final akan bertemu dua kesebelasan calon juara dunia baru. Anda menjagokan siapa?? Aku pegang Spanyol deh! Mudah-mudahan ramalan si Paul oktopus yang menjagokan Spanyol menjadi kenyataan! :P

Ladies Fanning Themselves… Is it Harmless?

A lady with her fan

Have you ever seen a lady fanning herself? When she fans herself, she naturally feels refreshed. One might think that this occupation would be absolutely harmless for all others present that they must be only grateful to the lady for “cooling” the air. Well… before you agree on the statement we should really see whether this is really so.

Why do we feel cooler when we fan ourselves? This is the simple explanation: When air is fanned onto our faces the air in direct contact with our faces warms up (Yes it actually warms up instead of cooling off!! Remember that! It is contratry to what you expect, isn’t it?? ;) ). It warms up because the molecules in the air collide with one another (and thus with our face too) more violently due to the fanning. These colliding molecules release energy in the form of heat. It is this warm invisible mask of air that “heats” the face, in other words, prevents it from shedding any more heat. When the air around is still, this “warm” mask is gradually pushed up by the cooler and heavier air from the surrounding space. When this “warm” mask is eventually fanned away, our face comes into contact with more and more new portions of non-warmed air, to which it sheds its warmth. That is how we cool ourselves. It is to some degree analogous to something like if we soak our hands in hot (not boiling though) water for a while then we immediately soak them in lukewarm water, our hands will feel cooler even if the temperature of the lukewarm water is higher than the temperature of the surrounding air. In short, the rotating contacts between our faces and the warmed and cooler air that give the fresh and cool sensation to our faces.

Now consequently when continously fanning herself, the lady whisk the warmed mask of air, replacing it with cooler air over and over. This portion of cooler air  warms up when again is fanned by the lady before it is eventually whisked away and replaced by still another portion of cooler air. It is repeated over and over again. Fanning, thus accelerates air mixing and helps to quickly equalise the temperature throughout the room.  In other words, it refreshes the possessor of the fan at the expense of the cooler air enveloping the other people present.  Like the explanation in the previous paragraph, she feels cooler because she is first exposed to warm air before the cooler air replace the whisked warmed air. The whisked warmed air will proceed to the surrounding space and very very slightly raise the surrounding temperature. Of course this warmed air will not harm anyone let alone kill him or her, the persons next to the fanner will not even feel the temperature rise, but it might not be the case if there are so many ladies fanning themselves in an enclosed room with poor ventilation!! ;)

Post Script:

For your information, I am not a sexist. I know that it is not only a lady that fans herself, a gentleman can do the same on  newspaper or something else in place of a fan.. :P