Archive Bulanan: Agustus 2010

Kentyucky Fried Chicken??

Before you are amused or irritated with the title above, I would like to let you know that the title is not ridiculing the video nor it acts as a cynicism. On the other hand, I value this video and in connection with the holy month of Ramadan (though this video is not intended to be “Islamic”) I strongly suggest that you must see this  deeply moving documentary video, so you can appreciate each grain of the rice you spoon into the mouth and each bit of your chicken you bite every day and never mistake your food for ever abundant manna from heaven that you think you can waste your food with abandon.

Actually I don’t detest the globalisation insinuated by this video, but our habit which is inclined to waste the food by producing a large amount of scraps on eating our meals that disgusts me as though we have never appreciated the food we live off, though I’m not sure either whether or not they even thank us for leaving the scraps that nourish them, the scraps which are luxurious for them, seems the only way they taste the “luxury”. Whatever it is, on seeing this short flick honestly I could not choke back the tears in my eyes…

Shifting The Zero Meridian to Mecca, Does It Matter??

The Giant Clock of Mecca as perceived by an artist's rendition

Today, I am supposed to write about religion as I did in the previous years during Ramadan. But as I found something interesting like the topic I unintentionally found on the MetroTV’s website, I am sorry to say that I have to interrupt it with the issue like this, the big clock in Mecca, Saudi Arabia and the intention of the Saudis (and the Muslims worldwide??) to shift the zero meridian currently coincides on the meridian passing through Greenwich which is part of the Greater London in the UK to Mecca in Saudi Arabia. As we have already known that the Saudis are constructing the biggest clock in the world in a tower called Mecca Royal Clock Hotel Tower or Abraj Al Bait Towers. The tower itself was planned to stand as tall as about 600 metres (about 1,970 feet). The clock will belittle the world’s former biggest tower clock, the famous picturesque Big Ben in London, The UK. The tower is said to be completed in autumn 2011.

What really attracted my attention was not the construction of the clock itself, it was the plan to move UTC, or the Coordinated Universal Time, the new term to replace the GMT, from Greenwich to Mecca, as it is reported by the MetroTV’s site. I cannot stop wondering is it urgent to move the zero meridian to Mecca just because they build the world’s biggest clock?? Is that a good reason to move the zero Meridian to Mecca? If they want to build a gigantic clock that stands more than half a kilo towering over other skyscrapers I don’t mind. It is even good for their esteem. It does not give rise to troubles for millions or even billions of people outside Saudi Arabia. But to set a new zero meridian is a completely new story. It will involve concerns of billions of people around the globe and it will affect almost every nook and cranny of the aspects of humanity concerning time. Don’t they realise how much money will be spent on altering computer programs and computer systems worldwide just to adjust to the new meridian?? How many billions of dollars must be spent on republishing new printouts or to change hoardings and timetables worldwide to concur with the new standard time?? For me, it is unreasonable, at least for now, to shift the zero meridian from Greenwich to Mecca, I cannot see any urgent reasons to set a new standard international time.

Unless the Saudis can come up with something more reasonable or they can create a totally new timekeeping system which is more accurate than the current timekeeping system that we don’t have to be bothered by the future discrepancy between the rotation of the earth and our present 24-hour timekeeping system, it is not urgent to move UTC 40 degrees curvilinearly away from its current location. I’m sorry to say that I suspect that it is just a matter of the Saudis’ esteem. But in my humble opinion, if it is so, I believe there are many other ways to build the esteem more reasonably. Like, to start with, they can unemploy the Swiss and the German engineers who build the giant clocks and replace them with the home-grown Saudi engineers. So the giant clock will be built on the Saudi technical know-how and they are not dependent much on foreign engineers. I think this kind of self-esteem is more worthy of respect than just building a giant clock and move the zero meridian to their land that will cause troubles for billions worldwide.

What about you guys?? Do you share the same view with me?? ;)

P.S.:

For comparison, Big Ben’s height is only about 96 metres, whilst the “Jam Gadang” of Bukittinggi stands only 26 metres dwarfish. ;)

Ramadhan Mubarak…

Hot Text - http://www.sparklee.com

jiu jitsu gear

Bagi kaum Muslimin dan Muslimat di manapun anda berada, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir batin jika ada kesalahan dan semoga kita memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang bersih.

Seperti biasa, seperti tahun-tahun lalu, di bulan Ramadhan yang suci ini, isi blog ini akan mengalami perubahan warna dari biasanya. Namun begitu, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang pada saat itu masih punya energi banyak untuk ngeblog, tahun ini mungkin agak berkurang frekuensi ngeblognya. Namun begitu, insya Allah, saya akan tetap mengupdate blog ini dan insya Allah pula mudah-mudahan saya sendiri dapat mengambil manfaatnya dari aktivitas ngeblog di bulan Ramadhan ini.

Sekali lagi selamat menunaikan ibadah puasa… :)

Lebih Independen Dalam Mencari Informasi?

Dua puluh tahun yang lalu, ketika zaman Internet belum memasuki kehidupan kita sehari-hari, ketika saya ingin mencari informasi tentang sesuatu, pertama-tama saya biasanya akan mencari informasi tersebut di “enyclopædia Britannica” yang tersedia di rumah saya. Ensiklopedia tersebut, walaupun termasyur dan lumayan dapat mengakomodasi keingintahuan saya tentang segala sesuatu namun ensiklopedia tersebut sudah termasuk uzur, yaitu terbitan awal tahun 1980an. Tentu saja, untuk informasi ataupun penemuan yang terjadi setelah tahun penerbitan ensiklopedia tersebut tidak akan mungkin dicari jawabannya di dalamnya. Lantas bagaimana jika di ensiklopedia tersebut ternyata tidak ditemukan jawaban dari informasi yang saya cari?? Yaa… biasanya kita mencari orang yang kira-kira mengetahui tentang informasi tersebut. Tentu saja orang tersebut tidak serta merta selalu dapat ditemukan pada hari itu juga, terkadang saya harus menunggu hingga berhari-hari, berminggu-minggu bahkan tak jarang hingga berbulan-bulan untuk mendapatkan jawabannya.

Namun, dua puluh tahun kemudian, kini, segalanya berubah. Berbagai informasi yang kita ingin tahu, bisa didapatkan seketika itu juga. Dengan bantuan mesin pencari seperti Google, hampir pasti kita bisa mendapatkan informasi apapun yang kita inginkan. Apalagi jika minimal kita bisa mengerti Bahasa Inggris, ketersediaan informasi di dunia maya Internet akan terasa semakin lengkap saja. Mungkin generasi Google yang kini sangat tergantung dari Internet untuk memenuhi tidak akan pernah merasakan bagaimana “sulitnya” dulu mencari informasi tentang segala sesuatunya sebelum zaman Internet tiba.

Itu berarti bahwa boleh jadi generasi Google menjadi lebih independen dalam mencari informasi, dalam arti di sini, mereka nampaknya tidak membutuhkan orang lain lagi untuk bertanya dalam menunggu informasi yang diinginkannya karena semuanya tinggal klik, klik dan klik saja, jawaban telah tersedia di depan hidung mereka! Namun betulkah begitu? Menurut saya (tanpa penelitian lebih lanjut, hanya sebatas pengamatan yang mungkin kurang valid :P ) bagi sebagian lapisan masyarakat tertentu, mungkin iya. Sedangkan bagi sebagian masyarakat lainnya mungkin tidak. Biasanya, pertama, mereka yang kesulitan membaca dalam Bahasa Inggris biasanya akan cukup kesulitan mencari informasi yang diinginkannya jika informasi yang didapatkannya ternyata hanya ada dalam Bahasa Inggris (atau bahasa asing lainnya). Kedua, jika informasi yang didapatkannya ternyata ditulis dengan bahasa yang terlalu teknis di dalam suatu bidang (nah ini pernah saya alami sendiri beberapa kali) sehingga perlu seseorang yang ahli di bidang tersebut untuk diajak berdiskusi atau bertanya sehingga informasi yang didapatkan menjadi lebih jelas dan menjadi “lebih siap pakai”.

Ketiga, nah ini dia, orang yang malas berfikir! :mrgreen: Maaf, saya akhir-akhir ini agak kesal dengan orang-orang yang bertanya tentang apa hari lahir dan hari pasaran Jawa (weton atau whatever-lah!) di artikel saya di sini. Saya membuat artikel tersebut untuk memberitahu “algoritma” cara mencari hari pasaran Jawa dengan aritmatika sederhana, bukan untuk melayani pertanyaan seperti: “kalau tanggal ulang tahun saya bla… bla… bla… maka weton saya apa ya??” dan sebagainya. Kalau menjawab sekali dua kali saja ya tak mengapalah, jikalau ditanya terus-terusan tentu saya merasa bosan dan jenuh! Sebenarnya andaikan mereka bingung dengan cara atau “algoritma” yang saya tulis tersebut, saya bisa memakluminya. Namun kalau mereka menggunakan otaknya kreatif sedikit perhitungan jadi lebih sederhana, hanya butuh ketelitian dan matematika tingkat SD saja dan tidak perlu pengetahuan matematika tingkat tinggi. Seperti contoh: Di kolom komentar sudah banyak yang bertanya tentang hari dan hari pasaran Jawa untuk tanggal-tanggal tertentu. Ambil contoh, komentar saudara Indra yang bertanya hari dan hari pasaran Jawanya tanggal 19 Maret 1986 sudah terjawab adalah hari Rabu Kliwon, nah bagaimana mencari hari pasaran untuk tanggal 1 Juli 1993 misalnya? Mudah saja! kita cari dulu jumlah hari dari tanggal 19 Maret 1986 hingga 19 Maret 1993, yaitu (365 +366 + 365 + 365 + 365 +366 + 365) hari atau 2557 hari. Lantas berikutnya cari banyaknya hari dari tanggal 19 Maret 1993 hingga 1 Juli 1993, mudah saja menghitungnya (anak SD juga bisa kok!) yaitu 104 hari. Sesudah itu tinggal dijumlahkan saja: 2557 + 104 = 2661 hari. Nah, langkah selanjutnya 2661 dibagi 5 akan menghasilkan sisa 1. Itu berarti hari pasaran Jawa 1 Juli 1993 hanya berbeda satu hari saja dari tanggal 19 Maret 1986, yaitu hari pasarannya adalah: Legi. Mudah bukan?? Masih bingung?? Mangkannya jangan bisanya cuma Facebookan melulu! :mrgreen:   Dicoba lagi, mudah-mudahan lama-kelamaan akan terbiasa! :)