Archive Bulanan: September 2010

Organic or Inorganic? Which Goes To Which?

If you happen to visit Bandung Institute of Technology (ITB) as I did a few months ago, you would probably come across dual waste containers more or less similar to the illustration presented in this post. You may also find these waste containers in other academic institutions but I suppose they are rather rarely seen outside the academic institutions. The purpose of the separation is obvious, it is to separate the “ecofriendly” wastes from the ones which are not. Of course, for some individuals especially the ones who are less educated it is not always easy to decide on the container into which they should throw away their scraps.  that’s why it is understood why these dual containers are mostly found in academic institutions. For those who do not know the “ecofriendly” wastes, they are wastes which are readily broken down by microorganisms mostly by bacteria. The ecofriendly wastes must go to the “sampah organik” or organic waste container and the ones which are not must go to “sampah anorganik” or inorganic waste container.

Of course, this separation is made with good intention, no doubt about it. But let’s see if terms adopted here “organik” and “anorganik” are appropriate for this case. If you look for the word “organic” in the dictionary, the definition should read more or less like “Of, relating to, or derived from living organisms”. This definition should make the rule of thumb look easier when you meet these dual containers and you happen to throw away a scrap. Things like mandarin or banana peels go to the organic container while all plastics go to the inorganic container. Wait a sec! Plastics go to the inorganic container?? Are you not mistaken? If you look for the information of plastic in Wikipedia, the first information obtained will be “A plastic material is any of the wide range of synthetic and semi-synthetic organic amorphous solid…..etc.” Now how can you come to a conclusion that plastics must go to the  inorganic container? Okay…. if you still think that it is still not good enough for you to acknowledge plastics as organic wastes let me tell you this that most plastics are derived from crude oil! And crude oil as you learned it at the primary school decades back is formed from prehistoric living microorganisms. The accumulated fossilised microorganisms underwent the überslow evolution that take millions of years to become crude oil that we know today. So it is beyond doubt that plastics are organic!!

On reading this post now you realise why the adoption of the terms “organik” and “anorganik” are incorrect for this case. In my humble opinion they should be replaced by the terms “biodegradable” and “non-biodegradable” or maybe in Bahasa Indonesia the terms “ramah lingkugan” and “tak ramah lingkungan” will do.

A Goal or A Save?

As I wandered off across YouTube on nibbling a prawn cracker I stumbled across this  video, it is one of the most hilarious penalty shots.  I have no clue in which land did this stupid penalty come about but in the background we would see a side commercial hoarding saying “Maroc Telec*m”, it would have told us the place of the event. The referee assigned to the match did not seem to have to walk a thin line between a goal and a save. It only took seconds for him to come up with a firm decision that would make the outright celebrating goalie burst into protest but it obviously went nowhere.

I’m not sure why is it called a goal, but in my opinion, this is in the shootout session because I can’t see other players rushing in to score nor to save. The ball had not left the playing field and no interventions from the other players to score a goal, so a goal is! The celebrating goalie is no doubt disappointed for not successfully saving a goal….. and his face! :D

Makan Residu Kimia?

Dos yang ada tulisan 'dot' berisi jeruk mandarin H. Murcott

Bagaimana liburan lebaran anda? Mudah-mudahan menyenangkan dan dapat melepaskan kerinduan terhadap keluarga kita yang telah berceceran di seluruh negeri bahkan di seluruh dunia. Dan mudah-mudahan pula lebaran tidak digunakan sebagai ajang balas dendam makan minum sepuasnya karena sebulan penuh menahan rasa lapar dan haus. Tentu makan minum yang berlebihan selain tidak baik bagi kesehatan juga tidak menghayati nilai-nilai Ramadhan yang baru saja kita lalui. Namun begitu, bagi sebagian orang, makan minum yang sedikit berlebihan pada saat lebaran sudah menjadi kebiasaan dan terkadang tidak terhindarkan (asal jangan keterusan saja ya!). Hal tersebut mungkin karena ketika kita bertamu ke tempat saudara atau kenalan kita, kita selalu disuguhi makanan yang rata-rata berkadar gula tinggi, berkadar garam tinggi, berlemak tinggi dan seterusnya. Belum lagi, di rumah biasanya kita juga memasak masakan lebaran dan membeli kue-kue lebaran untuk menyambut tamu yang datang ke tempat kita, walhasil? jangan tanya deh…. kalori yang masuk ke dalam tubuh kita!

Nah, ini belum termasuk bingkisan lebaran yang sering kita dapatkan! Biasanya kita mendapatkan parsel yang berisi makanan-makanan olahan pabrik yang kaya kalori, kaya sodium (natrium) namun rata-rata minim gizi. Satu-satunya macam parsel yang boleh dikata berisi makanan bergizi mungkin adalah parsel yang berisi buah-buahan! Tahun ini, alhamdulillah, cukup banyak juga saya mendapatkan parsel yang berisi buah-buahan (walau parsel yang tidak berisi buah-buahan juga patut disyukuri dong). Salah satu parsel yang cukup menarik perhatian saya adalah (bukan berupa parsel) sebuah dos yang bertuliskan “dot” seberat 10 kg berisi jeruk mandarin Honey Murcott. Jeruk-jeruk tersebut ternyata diimpor dari Argentina. Rasanya?? Manis tentu saja, dan kualitasnya memang prima. Jeruk-jeruk tersebut diproduksi, dikemas dan diekspor oleh perusahaan agribisnis Argentina bernama CITRIC*LA AYUí S.A.A.I.C. Kemarin, ketika saya sedang asyik-asyiknya menyantap jeruk tersebut, saya iseng-iseng membaca informasi yang ada pada kardus tersebut. Semua informasi ditulis dalam Bahasa Spanyol. Namun begitu untuk informasi-informasi yang singkat seperti yang tertera pada dos tersebut saya masih bisa mengerti. Ada dua buah informasi yang menarik bagi saya yang ada pada dos tersebut. Pertama, informasi yang berbunyi: “Tratado con: TBZ, orthophenylphenol, imazalil, synthetic wax. Kedua, informasi yang berbunyi: “FRUTA DESINFECTADA SEGÚN DIRECTIVA 2000/29/CE CON HIPOCLORITO DE SODIO 200 PPM DOS MINUTOS”.

Kalau sudah ada informasi seperti itu, ya jangan berharaplah buah-buahan yang kita makan  bebas dari residu kimia, walaupun secara resmi memang penggunaan bahan-bahan kimia seperti yang tertera di dos jeruk mandarin tersebut memang secara resmi diperbolehkan. Jadi jangan berharap deh, buah-buahan yang kita makan adalah buah-buahan organik yang bebas bahan pengawet, bebas disinfektan dan bebas penyinaran. Orthophenylphenol misalnya digunakan agar si buah bisa bertahan lebih lama di pasaran (sebagai pengawet) sementara natrium hipoklorit (hipoclorito de sodio) digunakan sebagai disinfektan agar si buah tidak diserbu oleh organisme-organisme yang tidak diinginkan (natrium hipoklorit ini sebenarnya juga kita pakai pada pemutih pakaian! :mrgreen: ). Tentu saja saya bisa mengerti, dari tempat pemetikannya di Argentina sana hingga mencapai rumah saya di Jakarta, tentu si jeruk akan mengalami perjalanan yang sangat panjang. Tanpa pengawet tentu jeruk yang tiba di rumah saya tidak akan segar lagi, dan perjalanan panjang ribuan kilometer menyeberangi beberapa benua dan lautan menyebabkan si jeruk mungkin rentan terkena organisme-organisme mikro yang tidak diinginkan untuk itu bisa dimengerti kenapa bahan-bahan kimia tersebut dibutuhkan pada saat buah-buahan tersebut akan dikirimkan ke seluruh dunia. Toh, kita juga hampir tidak mungkin, misalnya, mengkonsumsi apel organik dari California, lantas kita makan itu apel di Jakarta masih dalam keadaan segar 100%. Saya juga pernah membaca di majalah TIME bahwa produk organik yang terbaik adalah produk organik yang ditanam di tempat lokal agar masih terjaga sempurna kesegarannya. Nah… kalau sudah begini, jikalau kita ingin memakan buah, apalagi buah impor, hampir dipastikan kita juga memakan residu kimia (sintetis) dari bahan pengawet dan disinfektan. Yah… apa boleh buat! :mrgreen:

Id Mubarak…

Selamat hari raya Idul fitri mohon maaf lahir batin. Semoga ibadah Ramadhan kita diterima di sisi Allah swt. Dan bagi anda yang ingin pulang ke kampung halaman atau ke luar kota, hati-hati di jalan dan jangan lupa menitipkan rumah kepada tetangga sebelah atau pasang kamera CCTV, juga sebelum meninggalkan rumah periksa dengan teliti kompor, gas dan peralatan elektronik anda jangan ditinggalkan menyala jika tidak ada yang menjaga. Dan satu lagi yang penting, jangan terlalu lama liburnya… ;)