Archive Bulanan: Oktober 2010

Bloggers Galore!

If a pic can depict a thousand words then I don’t have to come up with long-winded post telling you how fun the time I had during the Pesta Blogger 2010. Browse the pictures but beware of the maximum resolution of the pics especially for those who browse over a lame broadband connection, it may load forever. Voila tout!

Remember those in misfortune. Natural disasters occurred across the archipelago. This action is to raise money for those in misfortune.

A theatrical action demanding the abolishment of the statutory law of the information and the electronic transaction (UU-ITE)

A prominent blogger that requires no further explanation: cK_stuff

Two bloggers from the easternmost parts of Indonesia, a blogger from Jayapura, jensen aka 'agenmossad' on my left, while on my right a Moluccan blogger, almascatie. On jensen's left stands alexcobain (if I'm not mistaken) a blogger from Aceh. Please correct me if I'm mistaken!

 

It is an honour to meet a senior blogger in terms of blogging time. Yes, you know her: itikkecil!

An exposure representing the set of binary digits?? Absolutely not! On my right, another fellow blogger: Riri Satria

This is one of the main reasons why I should come to this year's Pesta Blogger, to meet this man! Harry Nizam (multibrand)

Moi and Hery Azwan, a lone ranger on this PB before he met me (so was I, before I met him)

Orang Miskin “Dilarang” Nonton TV?

Bulan Ramadhan yang lalu, di Bandung, Depkominfo mensosialisasikan siaran TV terestrial digital yang dipusatkan di Bandung Indah Plaza. Sosialisasi itu dirasakan penting karena pemerintah berencana untuk mengalihkan siaran TV analog yang seperti kita kenal sekarang menjadi siaran TV digital secara bertahap. Tahun 2014 diharapkan bahwa seluruh kota-kota besar di Indonesia sudah terkover dengan siaran TV digital. Dan di tahun 2017 diharapkan seluruh wilayah di Indonesia sudah dapat menerima siaran transmisi digital.

Siaran televisi digital ini nampaknya menjadi sesuatu yang tidak terelakan lagi di dunia ini. Seluruh negara-negara di dunia nampaknya akan bergerak menuju era siaran televisi digital bahkan di beberapa negara maju, siaran televisi analog telah ditutup. Bagi anda yang menggunakan TV kabel seperti F*rst Media ataupun TV satelit seperti Ind*vision mungkin peralihan siaran ke transmisi digital ini tidak akan banyak mempengaruhi namun bagi mereka yang sehari-hari masih menggunakan antena TV biasa, mungkin perubahan ke transmisi digital ini akan cukup membingungkan.

Seperti halnya siaran televisi berwarna analog yang mempunyai beberapa sistem seperti PAL, NTSC dan SECAM, siaran televisi digital juga mempunyai beberapa sistem seperti: DVB (Eropa), ATSC (Amerika Serikat), ISDB (Jepang) dan DMB (China). Indonesia sendiri memilih sistem Eropa (DVB) di mana DVB ini memang paling banyak dipilih oleh negara-negara di dunia ini. Siaran digital sebenarnya mempunyai banyak sekali keunggulan di antaranya adalah siaran televisi digital lebih hemat “bandwidth” frekuensi sehingga di masa mendatang lebih banyak lagi stasiun-stasiun televisi baru yang dapat mengudara. Frekuensi yang kini ditempati oleh 1 stasiun televisi analog nantinya akan dapat diisi oleh hingga 8 stasiun televisi digital! Keunggulan lainnya dari siaran televisi digital adalah bisa dikembangkan aplikasi-aplikasi canggih seperti misalnya siaran “On Demand”. Bagi mereka yang pernah merasakan siaran televisi kabel Singapura St*rHub, anda mungkin pernah merasakan siaran televisi “HBO On Demand” ataupun “Star Movies on Demand” di mana menonton saluran tersebut hampir mirip dengan menyetel DVD di rumah. Statsiun televisi menawarkan beberapa judul film yang dapat kita pilih untuk kita tonton kapanpun kita mau! Jadi menonton televisi tidak lagi terikat dengan jadwal acara televisi seperti yang kita kenal sekarang ini. Bahkan acara televisi tersebut dapat di-pause, di-rewind ataupun di-fast forward mirip kita menonton DVD, bahkan bisa diunduh ke komputer kita untuk kita tonton kembali di masa mendatang! Keunggulan lain dari siaran televisi digital adalah bebas interferensi atau noise, jadi tidak ada lagi siaran yang banyak semutnya (akibat sinyal lemah), gambar dobel (ghost) akibat siaran terpantul oleh sebuah obyek terutama gedung atau gambar bergaris-garis karena interferensi dari mesin mobil, pesawat dan sebagainya. Hanya saja jika sinyal transmisi digital yang kita terima lemah maka gambar akan muncul kotak-kotak dan bisa jadi gambar akan ‘freeze’.

Namun tentu saja siaran televisi digital juga ada “kelemahannya” yaitu untuk pesawat televisi yang kita gunakan sekarang harus menggunakan “settop box” agar bisa menangkap siaran televisi digital. Settop box ini bermain di jalur AV seperti DVD player kita. Tentu saja harga settop box ini relatif tidak murah. Saat ini harga settop box yang termurah sekitar Rp. 300.000,-. Bagi orang yang mampu tentu tidak menjadi masalah. Namun bagaimana bagi mereka yang kurang mampu? Apakah harga tersebut nantinya tidak memberatkan?? Apalagi nanti jikalau siaran televisi analog sudah dihapuskan sama sekali.  Ya, kita berharap saja mudah-mudahan jikalau nanti siaran analog sudah dihapuskan sama sekali, harga settop box sudah jauh menurun atau mungkin orang yang kurang mampu memang tidak butuh hiburan televisi? Walahualam…. saya hanya bisa berharap siaran televisi sebagai sumber informasi, baik analog maupun digital, bisa dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat di negeri ini. Dan sayapun berharap masyarakat di negeri ini tidak hanya mau nonton sinetron ataupun infotainment yang tidak berbobot saja.

Omong-omong menjelang target tahun 2014 apakah memang pemerintah dan stasiun-stasiun televisi sudah siap? Beberapa bulan yang lalu, saya iseng-iseng membeli TV tuner yang sudah bisa menangkap siaran televisi digital sistem DVB. Ternyata di Bandung ini saya baru bisa menangkap 1 kanal siaran televisi yaitu siaran Televisi Edukasi (TVE). Di Jakarta (di daerah rumah saya) bahkan TV Tuner saya gagal menangkap satu sinyalpun!! Wah…. bagaimana ini?? Katanya kita harus bersiap-siap beralih ke siaran televisi digital?? Kenapa kenyataannya baru satu kanal aja yang bisa diterima? Ah… saya sendiri juga bingung! Entahlah! Ya sudah… contoh siaran TV digital dari TV Edukasi saya rekam langsung dan saya upload ke YouTube di atas. Gambarnya memang bersih namun sayang resolusi rekamannya dibuat rendah agar menghemat bandwidth…

Jangan Cuma Ingin Bermain Untuk Persib Aja…

Liga Super Indonesia tahun ini sudah dimulai beberapa minggu yang lalu. Walaupun banyak orang berkata terutama mereka yang kurang suka sepakbola kalau liga super di Indonesia itu banyak tawurannya namun entah kenapa sejak 2 tahun belakangan ini saya jadi suka nonton liga super Indonesia. Habis kalau bukan kita-kita para pecandu sepakbola tanah air yang menonton dan mengapresiasikannya, siapa lagi coba? Anggap saja nonton liga super Indonesia sama dengan mengapresiasi produk-produk dalam negeri lainnya seperti mengkonsumsi makanan Indonesia ataupun memakai produk-produk dalam negeri mulai dari kerajinan tangan hingga memakai jasa perbankan dalam negeri. Lha kalau bukan kita-kita ini yang mengapresiasi ya siapa lagi?? Betul nggak? :D

Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu seorang ibu-ibu penjual kupat tahu petis di dekat rumah saya di mana dulu saya jadi salah satu pelanggannya, pernah curhat sama saya, kalau anaknya susah belajar di sekolah. Maunya main sepakbola melulu dan cita-citanya ingin bermain bersama Persib maung Bandung. Lantas, saya berusaha untuk membesarkan hati **halaah** sang ibu tersebut. Saya mengatakan bahwa tidak menjadi soal kalau memang bakatnya adalah sepakbola. Mengenai susah belajar?? Ya… asal prestasinya tidak jeblog-jeblog amat ya tidak mengapa, tidak usah harus berprestasi hingga juara kelas walaupun usaha menuju yang terbaik harus tetap dijalankan. Yang harus diperhatikan adalah apakah si anak memang benar-benar menyukai sepakbola dan tidak hanya sekedar panas-panas tokai ayam seperti banyak blogger-blogger yang sudah berguguran juga karena panas-panas tokai ayam dengan alasan-alasan cengeng seperti sibuk atau koneksi lemot dsb?? Maklumlah kebanyakan anak-anak masih sekedar ikut-ikutan saja. Tapi kalau memang sudah pasti ya sebaiknya tentukan langkah sedini mungkin. Kalau mau jadi pemain sepakbola pro nggak perlu sekolah tinggi-tinggi hingga akademi apalagi universitas cukup hingga sekolah menengah dan setelah itu fokus menjadi pesepakbola yang pro! Tidak perlu berlama-lama menimba ilmu lain yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola karena hanya akan membuang-buang sumberdaya saja baik waktu maupun dana.

Dan satu lagi, jika jadi pemain sepakbola pro, jangan pernah berfikir bahwa jika dia orang Sunda atau lebih tepatnya orang Bandung maka ia HANYA bercita-cita bermain untuk PERSIB! Jangan pernah berfikir seperti itu! Sebagai pemain sepakbola pro, lupakanlah kesukuan dan yang sejenis. Seorang pemain sepakbola pro, harus bisa bermain di klub manapun, nggak peduli apakah itu Persib, Semen Padang, Persipura ataupun bahkan di klub-klub luar negeri sekalipun! Jangan pernah berfikir jika ia orang Bandung maka ia harus membela Persib Bandung karena Persib Bandungpun belum tentu mau menerimanya bermain hanya karena ia orang Bandung! Jadi pendek kata, sebagai pesepakbola profesional, cintailah profesi sepakbolanya itu sendiri lebih dari klub manapun!

Si ibu penjual kupat tahu petis itu nampaknya bisa memahami hal-hal yang saya sebutkan pada awal-awal namun nampaknya beliau belum bisa mengerti mengapa anaknya sebagai orang Bandung “tidak boleh/bisa” selalu membela Persib. Namun tentu saja saya tidak bisa menyalahkan si ibu jikalau beliau tidak mengerti karena pasti beliau juga tidak mengerti dinamika dunia persepakbolaan profesional saat ini. Untuk mengerti hal tersebut tentu seseorang harus mengerti dinamika dunia persepakbolaan pro yang terjadi saat ini. Saya hanya bisa berfikir, biarlah sang ibu tidak mengerti hal tersebut namun saya yakin jikalau si anak kelak akan menjadi seorang pesepakbola pro, ia akan mengerti…