LSI vs. LPI : Pilih Mana?

Liga Primer Indonesia

Liga Super Indonesia

Sudah dua tahun terakhir ini, saya mulai bergairah mengikuti liga lokal, Liga Super Indonesia, yang banyak ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia walaupun tidak bisa saya ikuti terus setiap pertandingan yang ditayangkan di televisi.  Kegairahan saya menonton liga lokal di Indonesia mungkin disebabkan karena mutu permainan yang mengalami peningkatan walaupun tentu saja masih jauh di bawah kualitas liga-liga profesional di Eropa (bahkan di kawasan Asia lainnya) dan juga salah satu bentuk apresiasi saya pada produk dalam negeri. Nah, akhir-akhir ini muncul satu lagi yang mengklaim dirinya sebagai liga profesional di luar koridor PSSI yang secara implisit (bahkan mungkin eksplisit) berani menyatakan bahwa liga tersebut lebih profesional dalam pengelolaannya dan tentu saja dengan kata lain menyatakan bahwa kualitas permainannya juga lebih baik. Pertanyaannya, benarkah LPI ini lebih baik dari ‘saingannya’ LSI?

Bagi saya yang bukan pakar sepakbola tapi sangat menikmati pertandingan-pertandingan sepakbola, tidak penting liga mana yang lebih bagus, apalagi memikirkan intrik-intrik politik di balik kedua belah fihak yang bertentangan. Bagi saya, selama keduanya terpacu untuk menyelenggarakan liga yang profesional dan enak ditonton, kenapa saya harus antipati terhadap salah satunya?? Biarlah mereka yang lebih suka intrik-intrik politik di balik keduanya daripada pertandingan sepakbolanya sendiri ikut beradu siasat bagaimana mendiskreditkan liga lawannya sementara kita yang hanya menikmati pertandingan sepakbolanya patut bersyukur karena kini kita tidak hanya disuguhkan satu liga saja melainkan dua liga! Yang suka sepakbola sekaligus intrik politiknya bagaimana? Ha! Mungkin lebih asyik lagi, karena selain bisa menikmati pertandingan sepakbolanya mereka juga bisa menikmati ‘gontok-gontokan’ di antara keduanya.  Namun begitu kalau bisa, yang netral dan obyektif ya, jangan membabibuta berfihak pada salah satu fihak. Ingat, selalu ada kebenaran dan kesalahan dari kedua belah fihak. ;)

Sebagai penikmat sepakbola yang bukan pakar sepakbola, saya hanya berharap bahwa PSSI tidak terlalu mudah kebakaran jenggot, takut liganya nanti kalah pamor dengan saingannya sehingga ‘menyalahgunakan’ wewenangnya yang berakibat pada dilanggarnya hak-hak azasi banyak orang untuk berolahraga sepakbola dan menikmati pertandingan sepakbola. Sebaliknya LPI mudah-mudahan juga benar-benar tulus untuk mengembangkan profesionalitas Indonesia di tanah air dan bukan untuk kepentingan politik atau popularitas individu dan kelompok tertentu semata. Saya percaya, waktu akan menentukan siapa diantara keduanya yang lebih profesional kelak dan juga ‘seleksi alam’ cepat atau lambat akan menenggelamkan salah satu (atau bahkan mungkin keduanya) jika mereka tidak dapat beradaptasi dengan waktu dan lingkungannya. Yang jelas, mudah-mudahan persaingan di antara keduanya berlangsung secara sehat dan sportif. Prinsip ‘Fair Play’ bukan hanya terjadi di dalam lapangan saja, mari kita bawa ke luar lapangan hijau, dengan begitu kompetisi semakin enak ditonton dan semakin banyak orang yang menonton keduanya…. semoga… Insya Allah… :)

About these ads

18 responses to “LSI vs. LPI : Pilih Mana?

  1. Halo Yari,

    Senang sekali membaca update anda di blog ini.
    Tentang LPI vs LSI? terus terang saja saya tidak bisa bersikap karena saya sangat sedih dengan apa yang terjadi pada management sepakbola dinegeri kita.

    Everybody wants to be chiefs!!
    Kenapa kita tidak bisa bersatu mengurus dan membangun sepakbola demi mengejar ketertinggalan kita dari prestasi negara-negara lain disekitar kita yang jauh lebih kecil penduduk maupun wilayahnya.
    Bayangkan, dengan penduduk 240 juta orang kita tidak bisa jadi juara di tingkat ASEAN saja?

    Yang lebih parah adalah adanya kekuatan2 politik yang bermain di PSSI (Golkar) dan LPI (PD +++).

    Mudah-2an keadaan agak segara membaik (berdoa) .

  2. semua aspek di indonesia ini dipolitisasi, amat susah memang untuk membicarakannya. kalo saya pribadi emoh menjadi korban dari rancangan sebagian orang2 ini. kalo menghibur ya tonton, kalo nggak ya ganti channel.

  3. Halo Pak Yari. Sudah lama gak ngeblog ya, Pak? :D

    Btw, kalau saya sih senang2 saja dengan adanya LPI. Karena itu berarti pilihan tontonan sepak bola semakin banyak. Tapi ya sayangnya semuanya dipolitisasi. Jadi gak nikmat lagi nontonnya. Huh.

  4. indonesia itu para pemimpinnya tidak pernah belajar persatuan dan kesatuan; hanya mengedepankan ego golongannya saja…masih ingat kemarin saya baca: PSSI mendapat surat dari FIFA untuk menindak LPI karena ilegal…Capedeh…olahraga ilegal :oops:

  5. klaim bahwa ada begitu banyak politisasi di kancah ISL memang menjadi isu yang mendorong mereka yang kecewa dengan ‘prestasi’ PSSI berselingkuh ke IPL. sayangnya, IPL masih minim klab-klab besar. meski begitu, ada beberapa kenalan yang menganggap bahwa kualitas kompetisi di IPL sedikit lebih baik ketimbang ISL, meski saya masih kurang paham dimana letak baiknya

  6. setubuh pak, permasalahannya sebenarnya simple kok kalau om saya Nurdin halid mau lengeser aja pasti semuanya menjadi baik, masalahnya dia terlalu betah karena disana uang mudah didapat

    Salam

  7. ia sih nurdin halid ga mau lengser karena di otaknya bukan mau mengembangkan persepakbolaan indonesia tapi gimana caranya untuk korupsi lebih besar seperta dulu karena dulu juga selamat dari hukum karena hasilnya di bagi2 dengan hukum bukan begitu makanya sekarang nurun ke semua wasit yang di bawah naungan si nurdin makanya saya sebagai waraga indonesia mendukung penuh lpi karena LPI d\tida punya harga diri tapi kalau PSSI HARAGADIRINYA MAHAL MAKANYA DIOTAKNY HANYA KORUPSI

  8. Yang jelas saya tidak suka dengan manajemen PSSI saat ini. Saya pikir yang penting bukan pilih liga yang mana, tetapi perbaikan internal — dan eksternal — dari PSSI.

  9. Saya tidak pernah bisa menikmati nonton sepak bola dari dulu. Kalau main baru mungkin menarik. Beberapa permainan yang intinya ga tipe berantem juga males dilihat.

    Kecuali sepak bola indonesia. Detik-detik terakhir nonton di stadion selalu saya nantikan…~

    *keluarin rante*

  10. Ya, semoga LPI atau LSI bisa lebih profesional dalam mengelola Liga masing2. Justru dgn adanya saingan, mudah2an makin meningkatkan kualitas masing2.

    Wah udah lama ga komen di sini… apa kabar Pak Yari?

  11. Sudah saatnya PSSI sadar bahwa puluhan tahun belum bisa memajukan kompetisi.

    Buat LPI dan ISL… jadikanlah pemain sepakbola Indonesia BANGGA ketika mencantumkan pekerjaannya sebagai “pemain sepak bola” di KTP.

    Buat KONI … jadikanlah olahragawan Indonesia BANGGA menyebutkan profesinya saat ditanya calon mertua.

  12. LPI cuma akan semusim saja. Saya yakin begitu bang. :twisted:

  13. aku pilih indonesia…..

  14. itu cara penulisan’a
    mana yang benar’a sich..
    di judul LSI
    sedangkan di gambar’a ISL..???

  15. Prinsip ‘Fair Play’ bukan hanya terjadi di dalam lapangan saja, mari kita bawa ke luar lapangan hijau, dengan begitu kompetisi semakin enak ditonton dan semakin banyak orang yang menonton keduanya…. semoga… Insya Allah… :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s