Di dalam aktivitas pertwitteran saya (benar tidak ya Bahasa Indonesianya), yang akhir-akhir ini juga tengah menurun, saya mengikuti sebuah tweep yaitu tweep ‘Bahasa Kita‘, tweep yang sering mentwit tentang Bahasa Indonesia. Isinya banyak yang menghimbau kita terutama secara tidak langsung untuk memakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebenarnya hal tersebut dilandasi oleh niat yang baik yaitu untuk menghargai dan melestarikan Bahasa nasional kita, tidak ada yang salah dengan itu. Namun, saya sering memperhatikan bagaimana para pakar Bahasa Indonesia terlihat sangat ‘alergi’ untuk menggunakan kata-kata serapan bahasa asing (terutama dari Bahasa Inggris) seperti yang dapat terlihat dalam postingan ini. Dalam postingan di Facebook tersebut mengesankan seolah-olah si pakar Bahasa Indonesia terlihat alergi dengan kata-kata serapan asing seperti: magnet, geografi, musikologi, ros, akunting dan sebagainya.
Di satu sisi yang lain saya tidak melihat alasan yang kuat dari si pakar Bahasa Indonesia kenapa ia terlihat alergi dalam menggunakan kata-kata tersebut selain alasan: berasing ria! Tunggu dulu! Berasing ria?? Bukannya dari dulu, bahkan jauh sebelum ada istilah “Bahasa Indonesia” sendiri, bahasa kita telah menyerap istilah asing? Contoh saja misalnya kata-kata: “agama”, “kodi”, “apam/kue apam”, “swadaya”, “puja” dan masih banyak lagi merupakan serapan dari bahasa Sansekerta dan Tamil di India sana! Juga kata-kata “masjid”, “ibadah”, “manfaat”, “makhluk”, “majelis”, “kimia” dan bergudang-gudang kata lainnya berasal dari Bahasa Arab yang notabene (<—- bahasa asing) juga bahasa asing. Atau mungkin mereka beranggapan bahwa tidak mengapa kalau menyerap kata dari bahasa-bahasa di India atau bahasa Arab karena India dan Arab masih terletak agak timur daripada Eropa, jadi masih dekat dengan jati diri bangsa Indonesia!!
Oke.. (<— lagi-lagi bahasa asing) taruhlah alasan yang tidak masuk akal tersebut bisa saya terima. Namun bagaimana seperti kata-kata: “mandor (mandar)”, “pesta (festa)”, “bendera (bandeira)”, “keju (quiejo)”, “mentega (manteiga)”, “terigu (trigo)”, “boneka (boneca)”, “sepatu (sapato)”, gereja (igreja) dan masih berton-ton lagi kata-kata serapan dari Bahasa Portugis (kata asli Portugisnya yang di dalam kurung)?? Kita tidak sadar bahwa kata-kata yang kita pakai sangat umum tersebut merupakan bahasa asing. Kata tersebut tentu saja berasal dari barat, bahkan Portugal secara geografis lebih barat sedikit daripada Inggris. Belum lagi kata-kata serapan dari Bahasa Belanda seperti: wortel, rekening, koran (courant), saldo, abonemen (abonnement), kerah (kraag), beton, es (ijs), pintar (pienter), dan terlalu banyak kata lainnya untuk disebutkan yang kita tidak pernah sadar bahwa kata-kata tersebut sebenarnya adalah bahasa asing juga! Lantas apa bedanya kata-kata serapan tersebut dengan kata-kata seperti: magnet, geografi, akunting dan sebagainya seperti yang disebutkan sang pakar Bahasa Indonesia pada postingannya tersebut???
Bedanya?? Zaman dahulu belum ada pakar-pakar Bahasa Indonesia yang terkadang, maaf, agak résé dengan keantiannya terhadap kata-kata asing, sehingga zaman dulu proses asimilasi kata-kata tersebut ke dalam kosakata Bahasa Indonesia menjadi lancar dan tanpa tentangan. Namun kini, di mana sudah banyak ahli-ahli bahasa Indonesia, keadaan menjadi sedikit berbeda walaupun saya yakin proses penyerapan bahasa asing tidak akan pernah bisa dihentikan. Mengapa? Karena proses penyerapan bahasa asing adalah proses yang natural (<— kata serapan Bahasa Inggris
) atau alamiah (<— kata serapan Bahasa Arab
) dalam perkembangan sebuah bahasa. Hal tersebut tidak hanya terjadi dengan Bahasa Indonesia tapi juga dengan bahasa-bahasa lain di seluruh dunia termasuk Bahasa Inggris. Dalam sejarahnya, Bahasa Indonesia telah mendapat tambahan kata-kata mulai dari bahasa-bahasa di India, bahasa Arab, bahasa Portugis, dan bahasa Belanda. Kini di zaman kemerdekaan, Bahasa Indonesia tengah dihujani kata-kata baru yang kebanyakan dari Bahasa Inggris. Di masa mendatang, ketika China telah menjadi adidaya dunia mengalahkan Amerika Serikat, tidak tertutup kemungkinan bahasa kita akan banyak dihujani oleh kata-kata dari bahasa Mandarin. Menurut saya biarkanlah hal tersebut terjadi secara alamiah dan wajar. Toh, saya yakin, kata-kata serapan tersebut justru akan memperkaya kosakata Bahasa Indonesia, yang akan membuat bahasa kita justru semakin berwarna-warni yang kaya akan pilihan kata, dengan menghalangi masuknya kata-kata asing apalagi secara berlebihan akan membuat bahasa kita menjadi bahasa yang miskin akan pilihan kata sinonim dan akan membuat bahasa kita menjadi bahasa yang membosankan…




Have you ever played a word game in your life? Scrabble perhaps. It is one of the most well-known word games and board games as well. And if you are a Scrabble junkie (like I used to be) you will be aware of the handiness of two-letter words especially if you face a distress when you have no vowels or no consonants in your tile rack. In such distressful condition the good thing to do is to skip your turn and to change your tiles up or you can do next to the good thing which is to recall all your two-letter English words in your vocabulary.





