Arsip Kategori: Bahasa

Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar. Maunya Bagaimana Sih?

Di dalam aktivitas pertwitteran saya (benar tidak ya Bahasa Indonesianya), yang akhir-akhir ini juga tengah menurun, saya mengikuti sebuah tweep yaitu tweepBahasa Kita‘, tweep yang sering mentwit tentang Bahasa Indonesia.  Isinya banyak yang menghimbau kita terutama secara tidak langsung untuk memakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebenarnya hal tersebut dilandasi oleh niat yang baik yaitu untuk menghargai dan melestarikan Bahasa nasional kita, tidak ada yang salah dengan itu. Namun, saya sering memperhatikan bagaimana para pakar Bahasa Indonesia terlihat sangat ‘alergi’ untuk menggunakan kata-kata serapan bahasa asing (terutama dari Bahasa Inggris) seperti yang dapat terlihat dalam postingan ini. Dalam postingan di Facebook tersebut mengesankan seolah-olah si pakar Bahasa Indonesia terlihat alergi dengan kata-kata serapan asing seperti: magnet, geografi, musikologi, ros, akunting dan sebagainya.

Di satu sisi yang lain saya tidak melihat alasan yang kuat dari si pakar Bahasa Indonesia kenapa ia terlihat alergi dalam menggunakan kata-kata tersebut selain alasan: berasing ria! Tunggu dulu! Berasing ria?? Bukannya dari dulu, bahkan jauh sebelum ada istilah “Bahasa Indonesia” sendiri, bahasa kita telah menyerap istilah asing? Contoh saja misalnya kata-kata: “agama”, “kodi”, “apam/kue apam”, “swadaya”, “puja” dan masih banyak lagi merupakan serapan dari bahasa Sansekerta dan Tamil di India sana! Juga kata-kata “masjid”, “ibadah”, “manfaat”, “makhluk”, “majelis”, “kimia” dan bergudang-gudang kata lainnya berasal dari Bahasa Arab yang notabene (<—- bahasa asing) juga bahasa asing. Atau mungkin mereka beranggapan bahwa tidak mengapa kalau menyerap kata dari bahasa-bahasa di India atau bahasa Arab karena India dan Arab masih terletak agak timur daripada Eropa, jadi masih dekat dengan jati diri bangsa Indonesia!!

Oke.. (<— lagi-lagi bahasa asing) taruhlah alasan yang tidak masuk akal tersebut bisa saya terima. Namun bagaimana seperti kata-kata: “mandor (mandar)”, “pesta (festa)”, “bendera (bandeira)”, “keju (quiejo)”, “mentega (manteiga)”, “terigu (trigo)”, “boneka (boneca)”, “sepatu (sapato)”, gereja (igreja) dan masih berton-ton lagi kata-kata serapan dari Bahasa Portugis (kata asli Portugisnya yang di dalam kurung)?? Kita tidak sadar bahwa kata-kata yang kita pakai sangat umum tersebut merupakan bahasa asing. Kata tersebut tentu saja berasal dari barat, bahkan Portugal secara geografis lebih barat sedikit daripada Inggris. Belum lagi kata-kata serapan dari Bahasa Belanda seperti: wortel, rekening, koran (courant), saldo, abonemen (abonnement), kerah (kraag), beton, es (ijs), pintar (pienter), dan terlalu banyak kata lainnya untuk disebutkan yang kita tidak pernah sadar bahwa kata-kata tersebut sebenarnya adalah bahasa asing juga! Lantas apa bedanya kata-kata serapan tersebut dengan kata-kata seperti: magnet, geografi, akunting dan sebagainya seperti yang disebutkan sang pakar Bahasa Indonesia pada postingannya tersebut???

Bedanya?? Zaman dahulu belum ada pakar-pakar Bahasa Indonesia yang terkadang, maaf, agak résé dengan keantiannya terhadap kata-kata asing, sehingga zaman dulu proses asimilasi kata-kata tersebut ke dalam kosakata Bahasa Indonesia menjadi lancar dan tanpa tentangan. Namun kini, di mana sudah banyak ahli-ahli bahasa Indonesia, keadaan menjadi sedikit berbeda walaupun saya yakin  proses penyerapan bahasa asing tidak akan pernah bisa dihentikan. Mengapa? Karena proses penyerapan bahasa asing adalah proses yang natural (<— kata serapan Bahasa Inggris ;) ) atau alamiah (<— kata serapan Bahasa Arab ;) ) dalam perkembangan sebuah bahasa. Hal tersebut tidak hanya terjadi dengan Bahasa Indonesia tapi juga dengan bahasa-bahasa lain di seluruh dunia termasuk Bahasa Inggris. Dalam sejarahnya, Bahasa Indonesia telah mendapat tambahan kata-kata mulai dari bahasa-bahasa di India, bahasa Arab, bahasa Portugis, dan bahasa Belanda. Kini di zaman kemerdekaan, Bahasa Indonesia tengah dihujani kata-kata baru yang kebanyakan dari Bahasa Inggris. Di masa mendatang, ketika China telah menjadi adidaya dunia mengalahkan Amerika Serikat, tidak tertutup kemungkinan bahasa kita akan banyak dihujani oleh kata-kata dari bahasa Mandarin. Menurut saya biarkanlah hal tersebut terjadi secara alamiah dan wajar. Toh, saya yakin, kata-kata serapan tersebut justru akan memperkaya kosakata Bahasa Indonesia, yang akan membuat bahasa kita justru semakin berwarna-warni yang kaya akan pilihan kata, dengan menghalangi masuknya kata-kata asing apalagi secara berlebihan akan membuat bahasa kita menjadi bahasa yang miskin akan pilihan kata sinonim dan akan membuat bahasa kita menjadi bahasa yang membosankan…

Kamus Besar Bahasa Indonesia vs Advanced Learner’s Dictionary

Empat Dari Lima Advanced Learner's Dictionary Koleksi Saya...

Bagi anda yang pernah mengecap pendidikan atau dengan kata lain bagi anda yang terpelajar atau setidak-tidaknya mengaku terpelajar kemungkinan besar di rumah anda mempunyai minimal sebuah kamus, entah itu kamus dwibahasa Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris (atau gabungan keduanya) yang banyak bertaburan di toko-toko buku, atau mungkin kamus ekabahasa atau satu bahasa seperti KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau kamus monolingual Bahasa Inggris mulai dari yang sederhana hingga yang supercanggih seperti Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary ataupun The Chambers Dictionary dan sebagainya. Sayapun juga mempunyai (lebih tepatnya: mengkoleksi :mrgreen: ) banyak kamus di rumah baik yang dwibahasa maupun yang ekabahasa (Indonesia, Inggris, Perancis/Le Petit Larousse, Jerman/Langenscheidt Taschenwörterbuch Deutsch als Fremdsprache). Namun dari koleksi kamus monolingual/ekabahasa yang saya punya yang paling mengesankan adalah seri Advanced Learner’s seperti foto di sebelah ini.

Di dunia ini, mungkin hanya ada 6 pembuat kamus seri Advanced Learner’s ini, lima dari Inggris Raya dan satu dari Amerika Serikat. Mereka adalah: Oxford Advanced Learner’s Dictionary, Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, Collins Cobuild Advanced Learner’s Dictionary, Macmillan English Dictionary for Advanced Learners, Longman Dictionary of Contemporary English (dari Inggris Raya) serta Merriam-Webster’s Advanced Learner’s Dictionary (dari Amerika Serikat). Longman Dictionary of Contemporary English sebenarnya bukan mengklaim dirinya sebagai bagian dari “Advanced Learner’s Dictionary” namun jikalau anda mempunyai kamus ini anda akan merasakan bahwa gaya penyusunan kamus ini sangat mirip dengan rekan-rekannya (atau lebih tepatnya saingan-saingannya) yang Advanced Learner’s Dictionary itu. Saya sendiri mempunyai lima dari enam kamus seri Advanced Learner’s ini, yang tidak saya beli adalah Collins Cobuild Advanced Learner’s Dictionary yang menurut saya pribadi  kualitasnya agak tertinggal dibandingkan saingan-saingannya. Di dalam foto hanya terpotret empat saja dari lima kamus yang saya punya karena yang Macmillan English Dictionary for Advanced Learners berada di rumah saya di Jakarta, jadi untuk sementara tidak dapat dipotret… :mrgreen:

Lantas kenapa seri Advanced Learner’s ini menurut saya sangat bagus? Tentu itu disebabkan karena beberapa hal. Pertama, karena cakupan katanya termasuk yang sangat sangat lengkap walaupun masih kalah jauh dengan Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary ataupun The Chambers Dictionary, namun begitu kamus-kamus Advanced Learner’s ini boleh dikatakan sudah sangat lengkap. Cakupan kata-kata dan entri-entrinya sudah mencakup istilah-istilah teknis, akademis, idiom, kata kerja berpartikel (phrasal verbs), bahkan kata-kata gaul atau slang, kata-kata informal serta kata-kata tabu juga sudah sangat banyak tercakup. Inilah bedanya antara kamus-kamus besar Bahasa Inggris dengan KBBI, jikalau KBBI menganaktirikan kata-kata gaul ataupun prokem ataupun apalah, kamus-kamus besar Bahasa Inggris termasuk seri Advanced Learner’s ini justru menganggap kata-kata tersebut sebagai bagian dari Bahasa Inggris yang perlu juga diketahui. Alasan kedua, setiap kata dalam kamus ini dijelaskan atau didefinisikan dengan serdehana namun tetap jelas dan akurat. Hal tersebut dikarenakan setiap definisi dari kata atau entri hanya dibatasi menggunakan 3000 kata Bahasa Inggris yang sangat basic, sehingga dijamin tidak akan membingungkan pembacanya bahkan bagi yang sedang belajar sekalipun. Alasan ketiga, seri kamus ini sangat kaya dengan ilustrasi. Ilustrasi-ilustrasi ini sangat membantu untuk menjelaskan kata-kata atau entri-entri yang agak sulit jika hanya membaca definisi-definisi yang ada. Hal tersebut tentu saja berbeda dengan KBBI yang tidak ada ilustrasi sama sekali. Alasan keempat, seri kamus ini juga menampilkan contoh-contoh kalimat yang komprehensif yang sangat membantu terutama untuk mengaplikasikan kata-kata yang sulit ataupun idiom-idiom yang sulit ke dalam kalimat ataupun ucapan sehari-hari. Sementara KBBI? Hmmm…. walaupun dalam Bahasa Indonesia juga banyak sekali kata-kata sulit namun jangan harap akan diberikan contoh-contoh kalimatnya. :(

Nah, begitulah alasan-alasan kenapa kamus-kamus seri Advanced Learner’s ini menurut saya sangat bagus penyusunannya. Bagi anda yang berminat mungkin anda cukup memiliki salah satu saja, kecuali jikalau anda maniak mengkoleksi buku seperti saya boleh membeli semuanya..  (maksudnya saya cuma suka mengkoleksi aja.. mbacanya sih nggak… :mrgreen: ). Advanced Learner’s Dictionary ini memang pada awalnya memang dirancang untuk para murid-murid yang bukan penutur asli Bahasa Inggris walaupun kini orang-orang yang penutur asli Bahasa Inggris juga banyak merasakan manfaat dari seri kamus ini. Seri kamus ini bermula ketika A.S. Hornby seorang guru Bahasa Inggris di Jepang sebelum Perang Dunia II berhasil mengidentifikasi kesulitan-kesulitan murid-muridnya yang tentu saja bukan penutur asli Bahasa Inggris dalam mempelajari Bahasa Inggris. Dari sinilah Hornby menyusun kamus ekabahasa Bahasa Inggris yang disusun sesuai dengan kebutuhan murid-murid yang belajar Bahasa Inggris. Hornby pertama kali menerbitkan cikal-bakal kamus Advanced Learner’s Dictionary-nya di Jepang tahun 1942, walaupun masa-masa perang sangat menyulitkannya dan bahkan Hornby harus meninggalkan Jepang. Namun begitu, di tahun 1948, Hornby berhasil menerbitkan kamus edisi pertamanya untuk seluruh dunia dengan nama “Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English” (saya masih punya kamus edisi pertama tersebut di rumah saya di Jakarta yang dulu dipakai oleh kakek saya!) yang merupakan cikal-bakal dari “Oxford Advanced Learner’s Dictionary” yang modern sekarang ini. Kamus ini dalam beberapa dekade menjadi kamus yang paling banyak dibeli di seluruh dunia sehingga mendorong pesaing-pesaingnya untuk menerbitkan jenis kamus serupa.

Jadi, di dalam dunia kamus internasionalpun juga terjadi persaingan yang ketat. Tidak heran jikalau di setiap edisi berikutnya kamus-kamus ini menjadi lebih lengkap, lebih menarik dan lebih dinamis lagi agar tidak kalah dengan pesaing-pesaingnya. Namun, mungkin karena faktor persaingan itulah justru yang ikut membuat kualitas kamus ini menjadi sangat prima sekarang dengan cetakan yang penuh warna (tidak seperti KBBI yang hingga beberapa edisi sekarang ini terlihat sangat statis…. :( )

Do We Hear The Same Sound Differently?

If you hear a cock crowing, which sound would you hear: "cockadoodledoo" or "kukuruyuk"?

It’s 5 o’clock in the morning. You forgot to set your clock-radio to blare at the specified time. But outside you can hear a cock somewhere in the neighbourhood crowing. What kind of sound do you hear? Is it “cock-a-doodle-doo” or “ku-ku-ru-yuk”?? For us, in Indonesia, or if you grow up with Bahasa Indonesia, you are more likely to hear “ku-ku-ru-yuk” instead of “cock-a-doodle-doo”. But if you are a native English speaker, you are more likely to perceive the sound of a cock as “cock-a-doodle-doo”. So, which one do you think is closer or more similar to the natural sound of a cock? Let’s summon a third party to judge whose description is more natural to the sound of cock, the Indonesian or the English? Of course the judge must be neutral, it can’t be influenced by either party. Let’s say, a Frenchman who only speaks French, comes up to conclude the disagreement. After thinking for a while the Frenchman comes up with a conclusion that neither party represents the correct natural crowing sound of a cock! The Frenchman decides on his own perception that the natural crowing sound of a cock must be “coco-rico” !!

Being sour on the decision made by the Frenchman, the Indonesian and the English speakers agree to get rid of him and intend to look for another judge from a neutral language to settle the dispute. This time, a Spaniard is invited to arbitrate the dispute. Of course the Spaniard can only speak in Castillan language so he can bring forth the decision fair and square. But again, the Spaniard can only bring forward a disappointing decision by favouring neither side! The Spaniard is sure that the best representation of the cock’s natural crowing sound is “kee-kee-ree-kee” like he and his fellow countrymen (and women) used to perceive! Being disappointed again, the Indonesian and the English speakers again bid  good riddance to the neutral judge. But the disputing parties do not give up. They keep calling in neutral judges. But it seems  the same results repeat: The neutral judges always decide on their own onomatopoeias. The Chinese came up with “wo-wo-wo”, the Dane was confident that it was “kee-kly-ky” while The Swahili believed that the sound should be “koo-koo-ree-koo”. Having had no satisfaction over all the judges on searching for the neutral ones ad infinitum, the disputing parties finally agree on an open conclusion…

But it seems that the crowing sound of a cock is not the only one that gives rise to onomatopoeial cases. The cat may sound like “meong” for the Indonesians while those who live in the English speaking countries a cat may sound like “meow”. The dog may sound like “guk-guk” as it is perceived by Indonesian ears but it may be something like “woof-woof” by those of English ears. But certain onomatopoeias quite resemble one another. The sound of a clock, especially that of a mechanical one, whichever you are, English or Indonesian, may hear the same sound  of “tic-toc-tic-toc” (English) or “tik-tok-tik-tok” (Indonesian) from a clock. But there is a sound that I find it difficult to write out in English. It is the sound of intestinal gas which is being trumpeted through the anal sphincter! :lol: Indonesians write out such gas “duuuuut” if the gas is nearly pure gas. Or it can be something like “preeeet” if the gas is coupled with droplets of juicy faeces that is likely to leave skidmarks on your underwear! :lol: But frankly I have no idea how Americans or Britishers write out their farts! Does anyone care to enlighten me about it? :D A few years ago I came across a Singaporean Malay writing out his own anally trumpeted intestinal gas as “siooooooot”, it is not even close to the sound of fart perceived by most Indonesians! :lol: But seriously, do we hear the same sound or noise differently?

Jago Cas-Cis-Cus….

Iseng-iseng hari Minggu yang lalu sekeluarga mengunjungi Toko Buku Gramedia dan juga BIP (Bandung Indah Plaza) dan juga BEC (Bandung Electronic Centre). Pas di Gramedia, iseng-iseng melihat buku baru apa yang ditawarkan tidak sengaja ketemu buku yang judulnya ” Cuma 4 Minggu Jago Cas Cis Cus Bahasa Inggris”. Judulnya sedikit menggelitik dan sangat informal. Namun begitu, setelah saya fikir-fikir ternyata buku ini pasti memang benar menawarkan kebisaan seperti yang tertera dalam judulnya!! Nggak percaya?? Silahkan anda beli buku ini, lalu empat minggu kemudian rasakan perbedaannya!! (seperti iklan shampo aja!!) Jikalau ternyata anda tetap tidak bisa ngomong lancar dalam Bahasa Inggris, jangan buru-buru menyalahkan buku ini. Buku ini tetap bisa memenuhi keinginan anda dalam ber-cas-cis-cus dalam Bahasa Inggris seperti yang dijanjikan dalam judulnya!! Tetap nggak percaya?? Coba saja anda katakan dengan lantang: “Cas Cis Cus Bahasa Inggris”!! Lancar bukan??? Bahkan anda dengan mudah juga mengatakan dengan lantang dan lancar: “Cas Cis Cus Bahasa Perancis” atau “Cas Cis Cus Bahasa Jerman” atau “Cas Cis Cus Bahasa Jawa Kuno” !! Pendek kata anda akan lancar ber-cas-cis-cus dalam segala macam bahasa!!

Jadi kesimpulannya, jikalau anda tetap tidak bisa lancar berbahasa Inggris setelah membaca dan mempelajari buku ini, jangan cepat-cepat menyalahkan buku ini!! Buku ini tetap bisa memenuhi target apa yang ditawarkan sesuai judulnya!! :lol:

Bakeri Holan dan Toko Niuselan

Beberapa hari yang lalu, saya melihat salah satu judul berita olahraga di salah satu media surat kabar, di situ dikatakan”Speedy Tour d’Indonesia sudah dimulai”. Setelah membaca judul berita itu saya sempat bingung sendiri, ini “Tour d’Indonesia” ini bahasa apa ya?? Kalau mau Bahasa Perancis seharusnya “Tour d’Indonésie” seperti halnya “Tour de France“, lomba balap sepeda di Perancis yang paling bergengsi di dunia itu.  Kalau Bahasa Inggris seharusnya adalah “Tour of Indonesia“, kalau Bahasa Indonesia seharusnya adalah “Tur Indonesia”. Hmm… benar-benar nggak jelas, seperti biasa orang Indonesia memang paling jago kalau mencampurbaurkan bahasa, masa bodoh deh kalau tata bahasa dan perbendaharaan katanya salah, yang penting kelihatan gaya dulu!

Tetapi ada lagi yang lebih menggelikan lagi! Sekitar satu setengah dasawarsa lalu, ketika itu pemda DKI Jakarta (kalau nggak salah itu peraturan pemda DKI deh…) mengharuskan segala nama toko ataupun usaha-usaha lainnya terutama usaha-usaha kecil,yang kebanyakan tidak menggunakan merk yang terdaftar, dilarang menggunakan nama asing untuk nama bisnisnya. Jadinya, jadilah nama-nama yang menggelikan dan nanggung abis! Holland Bakery dipaksa berubah menjadi Bakeri Holan sementara toko New Zealand yang dulu berada di dekat rumah saya berubah menjadi toko Niuselan. Kenapa nggak sekalian aja diubah menjadi “Toko Kue atau Toko Roti Belanda” atau toko “Selandia Baru” sekalian! Kan lebih Indonesia lagi kan?? Tapi anehnya, ada juga toko  yang menggunakan nama asing tapi selamat dan tidak perlu mengubah nama tokonya, salah satunya adalah Mon Ami Bakery yang dulu kalau nggak salah tokonya ada di sekitar daerah Melawai deh. Mon Ami Bakery hanya berubah sedikit menjadi Bakeri Mon Ami. Padahal, Mon Ami itu juga bahasa asing, yaitu Bahasa Perancis yang artinya (dalam Bahasa Inggris) adalah “My Friend”. “Mon Ami” ini dibacanya adalah “Mong Nami” (catatan: bunyi sengau Perancis pada kata “mon” sebenarnya berbeda dengan “mong”, tetapi kalau di-Indonesia-kan, ya kurang lebih seperti itulah!). Jadi seharusnya Mon Ami Bakery kalau konsisten harus di-Indonesia-kan, maka seharusnya adalah menjadi “Bakeri Mong Nami”. Sungguh tebang pilih yang menyedihkan. Atau para aparat pemda itu tidak mengetahui bahwa “Mon Ami” itu juga bahasa asing?? Atau ada kriteria tersendiri bahasa asing yang bagaimana yang harus di-Indonesia-kan pada waktu itu??

Apapun alasannya, meng-Indonesia-kan semua nama bisnis yang berbau asing dengan dalih untuk lebih mencintai bahasa Indonesia dan juga agar kita lebih dapat berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah sesuatu yang menggelikan! Ibaratnya agar kita dapat lebih lancar dan mahir dan lebih mencintai sepakbola kita dilarang atau dibatasi untuk bermain tenis! Apa hubungannya??????? Kalau kita ingin lebih mencintai dan lebih mahir dalam bermain sepakbola ya tentu kita harus terus berlatih sepakbola! Begitu juga untuk agar kita lebih mencintai Bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan baik dan benar tentu kita harus lebih melatih menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan bukan dengan membatasi penggunaan bahasa asing!! Nah, jadi kesimpulannya mudah-mudahan aparatur-aparatur pemerintahan kita di masa mendatang, kalau mau membuat aturan pelarangan ini itu, dalam bentuk apapun, sebaiknya buatlah peraturan pelarangan yang benar-benar jitu tapi tetap produktif, jangan seperti MUI sekarang, yang bukannya mengeluarkan fatwa buat para markus pengadilan malah buat fatwa tentang film “2012″ yang halaaah dampaknya pada rakyat kita nggak signifikan itu!! Eh, kalimat terakhir yang dicoret itu nggak ada hubungannya ya?? :mrgreen:

Offbeat Two-Letter English Words…

200px-scrabble_tiles_woodenHave you ever played a word game in your life? Scrabble perhaps. It is one of the most well-known word games and board games as well. And if you are a Scrabble junkie (like I used to be) you will be aware of the handiness of two-letter words especially if you face a distress when you have no vowels or no consonants in your tile rack. In such distressful condition the good thing to do is to skip your turn and to change your tiles up or you can do next to the good thing which is to recall all your two-letter English words in your vocabulary.

Two-letter English words are very common and it is not difficult to find them. Since you were first introduced to the language through your fusty English lesson books decades ago, you had already been conversant with some basic two-letter English words such as: “we“, “us“, “he“, “it“, “on“, “in“, “at“, “if“, and whatnot. Unfortunately having only such basic words in hand usually fails to boost the scoreline and sometimes it is nearly as bad as if you don’t know all of them at all.  To break away from such impasse down the line the best thing you can do is to beef up your vocabulary with those of two-letter words beyond the basics. Of course you cannot mistake two-letter words for two-letter acronyms. The pseudo-words (acronyms) such as “U.K. (United Kingdom)”, “I.Q. (Intelligence Quotient)”, “A.C. (Alternating Current)” and so on are not legit for most word games notably for  Scrabble. That’s because they are acronyms. But the words like “op (operator)”, “bi (bisexual)” “ex (ex-wife, ex-husband, ex-boyfriend, etc.) are legit since they are short forms of a word and they are NOT acronyms. From those two sets of words given above you will readily tell an acronym from a short form of a word apart.

Now, let’s demystify the nonbasic two-letter words  by listing them below. On the list you will see various two-letter English words that might be beyond your ken. Ranging from rather acceptable words in your perception up to the incredibly rummy words. Largely the rummy words are obsolete words and were not in use after the Middle English period (ending in circa 1500). The obsolete words might usually appear in old English literature. This sort of words will appear in red and if you use them in a word game you’d better use them with discretion in that they are subject to rejection.

These are some of the (acceptable for word games) nonbasic two-letter English words:

aa =  rough cindery lava
ac = oak (plural: aec)
ad = advertisement
ae = one (Scottish)
ak = oak (dialect)
au = awe
ba = soul in mythical Egypt
bo = a kind of fig tree
bu = former Japanese coin
ca = calf (Scottish. Plural: caas or cais)
co = jackdaw
cu = cow
cy = cows (plural of cu)
da = Indian fibre plant
de = of, from
du = do (Scottish)
dw = do (Scottish)
dy = gaming die (plural: dyce or dys)
ea = river, stream (dialect)
ec = also, too
ee = eye (Scottish. Plural: een)
ek = eke
eu = yew
ew = ewe (dialect)
ey = water (dialect)
fo = area measure (dialect)
fu = Chinese district
fy = fie (an interjection)
gu = go (dialect)
gy = guide-rope (Scotish)
hu = Chinese liquid measure
hv = how
hw = yew
hy = hie (Scottish)
ia = jay (Scottish)
io = Hawaiian hawk
iv = in, of (dialect)
ja = jaw, talk (dialect)
jo = darling (Scottish. Plural: joes)
ka = spirit in mythical Egypt
ki = liliaceous plant
ko = Chinese liquid measure (Plural: ko)
ku = ulcer in the eye (dialect)
li = Chinese length unit (Plural: li)
lu = listen (Orkney)
mo = moment
na = no (Scottish)
ne = not
ob = wizard
od = hypnotic force
oe = small island
ol = hydroxyl atom group
om = mantra syllable
oo = wool (Scottish)
oy = grandchild (Scottish)
po = chamber pot (plural: pos)
py = pie
qi = life-force in Chinese philosophy
re = note in music scale
ri = Japanese measure of distance
ro = repose (Scottish)
se = Japanese measure of area
sh = command to silence
si = note in music scale
st = attracting attention
ta = thank you
tu = Chinese distance measure equals 250 li
ty = tie
ua = woe
un = one; him.
uo = foe
ut = music note C.
va = woe (Scottish)
vi = Polynesian fruit
vo = size of book
wa = Siamese measure
wo = recalling a hawk
xi = Greek letter ‘x’
xu = Vietnamese coin
yl = isle
yo = expressing effort
yu = Chinese wine-vessel
za = pizza
zo = hybrid yak (plural: zos)

Asal Kata…

Saya dulu waktu penyusunan skripsi sarjana tahun 1992 lalu pada saat pengajuan judul  pernah ditegur karena memakai kata ‘efektivitas’. Menurut pembimbing saya waktu itu, kata “efektivitas” itu salah, karena yang benar adalah “keefektifan”. Saya, yang waktu itu tidak mengerti Bahasa Indonesia yang baik dan benar dan kurang peduli, ya cuma manut aja, tanpa bertanya lebih jauh lagi kenapa yang benar adalah kata “keefektifan” bukan “efektivitas”. Baru setelah beberapa tahun kemudian secara tidak sengaja saya KIRA-KIRA tahu penyebabnya. Itu mungkin karena sekarang, Bahasa Indonesia mengacu pada Bahasa Inggris dalam kata serapan asing. Kata efektif, walaupun mungkin penyerapannya dari Bahasa Belanda, effectief, namun kini dianggap ‘harus’ mengikuti kaidah dalam Bahasa Inggris. Dalam Bahasa Inggris tentu saja tidak akan pernah ada kata effectivity melainkan (yang benar adalah) effectiveness. Jadi dalam Bahasa Indonesia tidak ada yang namanya efektivitas tetapi yang benar adalah keefektifan. Mungkin begitu barangkali alasannya ya?? :mrgreen:

Nah, lain lagi ceritanya, di sebuah blog yang cukup terkenal, si empunya blog tetap keukeuh menggunakan kata nominator untuk menyebut orang-orang yang diberikan nominasi, padahal ia sudah diberitahu berulangkali. Seperti contohnya misalnya: “Nominator untuk penghargaan bla..bla..bla.. adalah Si Fulan, dst”. Padahal setahu saya, nominator itu adalah orang yang memberikan nominasi, sedangkan orang yang menerima nominasi itu disebut nomine. Ini sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia kalau tidak salah dan juga sesuai dengan kaidah tata bahasa Inggris juga di mana sepertinya kata itu diserap. Dalam Bahasa Inggris nominator adalah orang yang memberi nominasi sedangkan nominee adalah orang yang diberi nominasi. Kata bahasa Inggris yang berakhiran -ee berarti adalah “yang di…”. Contoh lainnya adalah: auditee, absentee, presentee, dan sebagainya. Tetapi jangan salah loh, si pemilik blog tersebut bukan satu-satunya orang yang membuat kesalahan “fatal” seperti itu. Di sebuah toko buku terkenal, saya pernah melihat buku yang cukup laris di pasaran yang pada cover-nya juga berbuat kesalahan serupa yaitu memasang kata “nominator” untuk kata yang seharusnya adalah “nomine”!

Cerita lain adalah, secara tidak sengaja dan iseng dulu, saya membaca sebuah surat lamaran dari seseorang berbahasa Inggris. Tata bahasanya sih sudah lumayan baik walau masih ada kesalahan dasar di sana-sini. Namun kesalahan yang cukup menarik perhatian saya adalah penggunaan kata prestation dalam surat tersebut! Tentu saja kata prestation itu oleh si penulis surat lamaran maksudnya adalah prestasi. Dalam bahasa Inggris tentu saja tidak ada kata prestation yang berarti prestasi karena prestasi dalam Bahasa Inggris itu adalah achievement. Kata prestasi dalam Bahasa Indonesia sepertinya diserap dari Bahasa Belanda, prestatie. Yang saya tahu, memang prestatie ini kalau dalam Bahasa Inggris artinya memang achievement walaupun bisa juga artinya adalah performance. Kata prestatie dalam Bahasa Belanda ini sepertinya dari Bahasa Perancis, prestation. Namun dalam Bahasa Perancis arti prestation ini sedikit berbeda dari yang Bahasa Belanda, prestatie. Dalam Bahasa Perancis, prestation ini artinya bisa performance, provision of a service, benefit, loan ataupun allowance. Namun tidak berarti achievement. Yang saya “heran”, walaupun Bahasa Inggris modern, kira-kira 80% vocabulary-nya merupakan ‘fotokopian’ dari Bahasa Perancis, tetapi sialnya kata ‘prestation‘ ini tidak terkopi ke dalam vocabulary Bahasa Inggris. Kenapa ya?? Walahu’alam deh…..

Sebenarnya cukup banyak juga cerita-cerita tentang asal kata ini dari kata-kata serapan lainnya, tapi karena udah capek mengetiknya, ya udah segini aja dulu deh… :P