Piala Dunia kali ini bagi saya terasa sedikit “aneh”. Kenapa begitu? Entah kenapa sedikit aneh, bukan aneh karena jika pada pertandingan final besok Belanda memenangkan pertandingan tersebut, saya ( pertama kalinya dalam sejarah taruhan saya) akan kalah taruhan tetapi juga karena terlalu banyak kejutan-kejutan yang ada di piala dunia kali ini. Banyak ramalan pakar-pakar sepakbola yang meleset. Bahkan kini boleh dikata, ehm, bahwa ramalan-ramalan pakar-pakar sepakbola sudah “kalah akurat” dibandingkan dengan ramalan si gurita Paul (der Tintenfisch Paul Oktopus) dari Oberhausen, Jerman itu. Ya, kekalahan saya dalam taruhan (jika Belanda besok menang) bukanlah satu-satunya hal yang “pertama kali” terjadi, tapi juga banyak hal-hal lain di piala dunia ini yang juga baru pertama kali terjadi yang menjadikannya piala dunia yang “teraneh” menurut saya.
Hal-hal lain yang baru pertama kalinya terjadi dalam piala dunia kali ini adalah: Pertama, untuk pertama kalinya negara Eropa akan menjadi juara di Piala Dunia yang digelar di luar benuanya! Kedua, untuk pertama kalinya kesebelasan-kesebelasan Asia, di luar piala dunia 2002 di Jepang-Korea, berhasil maju ke babak knockout (babak kedua). Ketiga, untuk pertama kalinya kesebelasan tuan rumah gagal maju ke babak knockout atau babak kedua. Bahkan ketika AS menjadi underdog dan menjadi tuan rumah piala dunia 1994, AS berhasil melaju ke babak kedua. Keempat, Ini juga untuk pertama kalinya juara bertahan dan runner-up kejuaraan Piala Dunia tahun lalu yaitu diwakili kesebelasan Italia dan Perancis sama-sama tersisih di babak awal piala dunia, dan menempati juru kunci pula di masing-masing grup! Sungguh menyedihkan sekaligus sungguh “aneh”.
Namun keanehan bukan hanya terjadi di pertandingan-pertandingan piala dunia saja. Kejadian-kejadian di seputar piala dunia tak kalah banyak yang “aneh” atau malah menggelikan. Di suatu pagi, ketika saya tengah menonton acara “Lensa Olahraga” di ANTV, saya tersenyum-senyum geli (bukan karena dikelitik loh…
) ketika ibu Rita Subowo, ketua KONI Pusat, ditanya soal siapa yang bakal menang antara kesebelasan Jerman melawan Australia. Si ibu ketua KONI Pusat ini menjawab dengan sedikit ragu-ragu “Jerman”. Lantas ditanya kembali: kenapa ibu memegang Jerman?? Dijawab juga dengan sedikit ragu-ragu “Soalnya teman saya banyak yang bermukim di Jerman”!! O alaaah… bu… bu…. mbok ya, kalau ditanya mengenai sepakbola, ya jawabnya juga sepakbola juga, paling tidak nyerempet-nyerempet deh! Apalagi beliau adalah ketum KONI pusat, mbok ya belajar sedikit-sedikit mengenai sepakbola begitu. Moso ditanya kenapa memegang kesebelasan Jerman (waktu melawan Australia), jawabannya “Soalnya teman saya banyak yang bermukim di Jerman”!! Untung aja yang ditanya masalah sepakbola, masalah yang belum dianggap serius terutama di negara kita ini. Coba kalau ahli ekonomi ditanya begini: “Bu…. bu… atau pak… pak…. kira-kira dalam jangka waktu 10 tahun, negara mana yang mempunyai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi: negara A atau negara B??” Dijawab: “Negara A”. Alasannya: “Sebab teman-teman saya banyak yang bermukim di negara A”. Lah, kan lucu!!
Untung saja banyak orang yang masih banyak menganggap pertanyaan sepakbola sebagai pertanyaan yang nggak begitu penting.
Namun “keanehan” atau “kelucuan” nggak berhenti sampai di situ. Kambing hitam, seperti biasa, laris manis dicari-cari terutama oleh kesebelasan-kesebelasan unggulan yang bertumbangan di babak-babak awal. Kesebelasan Perancis (yang sebenarnya termasuk salah satu kesebelasan favorit saya) adalah termasuk salah satu kesebelasan yang paling sibuk mencari kambing hitam sampai-sampai terjadi keretakan dalam tubuh kesebelasan “Les Bleus” tersebut. Sedangkan kesebelasan Inggris (England), kesebelasan nasional yang paling saya benci sedunia ternyata nggak kalah noraknya! Kesebelasan nasional yang selalu mendapatkan publikasi dan sorotan serta sambutan publik internasional secara meriah namun tidak pernah berprestasi di tingkat dunia bahkan Eropa ini juga sempat sibuk mencari kambing hitam apalagi setelah digebuk “der Panzer” 1-4. Gol kedua Inggris yang dianulir (yang harus saya akui sebenarnya itu seharusnya menjadi gol yang sah) sempat dijadikan alasan menurunnya performansi Inggris di babak kedua sehingga Inggris gagal mengejar ketertinggalannya dari Jerman bahkan harus kebobolan 2 gol lagi! Menurut saya alasan tersebut merupakan alasan yang sangat menyedihkan. Kenapa? Kesebelasan sekaliber Inggris, yang katanya kaliber dunia itu, tidak seharusnya mempunyai mental yang cepat anjlog hanya karena sebuah gol yang dianulir. Kok, seperti mental PSSI aja sih! Sungguh, bukan mencerminkan mental sebuah kesebelasan berkelas dunia. Padahal, sebuah kesebelasan berkelas dunia bukan hanya harus mempunyai skill dan disiplin yang sangat bagus tetapi juga tentu saja harus mempunyai mental yang setangguh baja pula. Pantesan, kesebelasan Inggris nggak pernah juara di piala dunia (kecuali tahun 1966 yang diselenggarakan di tanah Inggris) dan piala Eropa (Euro). Jangankan juara, masuk finalpun kesebelasan Inggris nggak pernah (kecuali di piala dunia 1966 itu yang menjadi juara) baik di piala dunia maupun di piala Eropa. Prestasi Inggris terbaik hanya sebagai juara ketiga di Euro tahun 1968 dan 1996, sedangkan di piala dunia, Inggris tidak pernah menjadi juara ketiga sekalipun! Heran aku, masih banyak aja yang mau menjagokan kesebelasan Inggris!
“Kenorakan” kesebelasan Inggris bukan hanya sampai di situ, menurut berita yang sempat saya tonton juga di “Lensa Olahraga” ANTV, kegagalan kesebelasan Inggris adalah karena persaingan individu-individunya di lapangan yang masing-masing pemain masih membawa persaingan antar klub-klub besar mereka! Ck..ck..ck… lagi-lagi menurut saya, itu adalah sebuah mental yang kurang profesional. Seharusnya jikalau kita sudah bermain di bawah bendera nasional, sebaiknya kita lupakan persaingan-persaingan di tingkat klub. Jangan persaingan di klub dibawa-bawa di tingkat kesebelasan nasional! Sungguh merupakan sikap yang kurang profesional! Cukup “aneh” dan “menggelikan” juga ya, karena ternyata sebuah kesebelasan bertingkat dunia (mungkin bukan kesebelasan Inggris saja) ternyata masih juga menyisakan mental dan sikap profesional setingkat PSSI yang menyedihkan…..
Ya udah… deh…. pendek kata Piala Dunia kali ini merupakan piala dunia “yang aneh”, minimal buat saya pribadi! Spanyol dan Belanda bertemu di final. Inilah, sejak piala dunia 1978 di Argentina, di pertandingan final akan bertemu dua kesebelasan calon juara dunia baru. Anda menjagokan siapa?? Aku pegang Spanyol deh! Mudah-mudahan ramalan si Paul oktopus yang menjagokan Spanyol menjadi kenyataan!