Malang benar nasib Om Tifatul Sembiring. Gara-gara lupa dengan sumpahnya sendiri yang tidak akan berjabattangan dengan wanita yang bukan muhrimnya, ia menjadi bulan-bulanan para penghuni dunia maya se-Indonesia bahkan yang di luar negeri ketika (secara tidak sengaja?) ia menjabat tangan The First Lady Amerika Serikat, Michelle Obama. Banyak blog dan twit yang membahas salaman antarkeduanya. Kebanyakan mengolok-oloknya walaupun ada juga yang “membelanya”. Mereka yang mengolok-olok biasanya adalah orang yang “alergi” dengan way of life Islam, baik dari mereka yang kurang suka agama, ataupun dari kalangan agama lain, ataupun ada juga dari kalangan Islam sendiri yang mengaku “liberal”. Mereka itu biasanya melihat orang yang melaksanakan way of life secara Islami hanya melihat orang tersebut dari segi agamanya saja, sehingga ketika orang tersebut melakukan kekhilafan maka yang keluar adalah olok-olok dari para pemerhati tersebut. Sedangkan saya, orang yang ehm.. berusaha melihat orang dari sudut yang netral (walau terkadang gagal juga), menganggap bahwa kesalahan tersebut adalah manusiawi dan tidak perlu dibesar-besarkan. Kesalahan-kesalahan manusiawi tersebut sebenarnya dapat saja terjadi pada siapapun termasuk pada kita. Namun jangan salah, saya bukan pembela Om Tifatul Sembiring, sebagai manusia biasa sayapun dalam hati merasa geli melihat Om Tifatul ‘termakan’ sumpahnya sendiri sambil berkata dalam hati: “Mangkannya kalau sumpah nggak usah demonstratif sampai orang sedunia tahu seolah-olah menantang dunia. Cukup sumpah tersebut determinasi buat diri sendiri. Nggak usah berlebihan!”
Saya jadi ingat, kasus beberapa tahun yang lalu ketika AA Gym masih populer, begitu banyak terutama mereka yang mengidolakan si AA menunggu-nunggu kehadiran AA baik di televisi maupun di tempat-tempat ceramah lainnya, walhasil laris manislah si AA. Namun begitu si AA melakukan “kesalahan” dengan melakukan poligami, popularitasnya merosot tajam karena ditinggal “penggemar”nya terutama ibu-ibu dan remaja putri. Menurut saya hal tersebut juga sedikit berlebihan karena para “penggemar”nya nampaknya lebih mengidolakan sosok si AA pribadi (atau minimal lebih melihat kepada sosok si AA) daripada menghargai isi ceramahnya! Walhasil ketika si idola melakukan “kesalahan” maka penggemarnya ramai-ramai meningglkannya. Mangkannya kalau kita menyenangi isi khutbah seorang ustadz (atau isi ceramah seseorang) misalnya, yang perlu diapresiasi ya isi khutbahnya jangan berlebihan mengidolakan si ustadz! Bagaimanapun juga kualitas ceramah si AA tidak berpengaruh apakah ia melakukan poligami atau nggak. Mengerti logikanya? Kalau belum, contoh sederhananya begini: Jika ada orang berkata “berzinah itu tidak baik” lantas di kemudian hari ia kedapatan melakukan perzinahan. Lantas apakah perkataannya dulu “berzinah itu tidak baik” menjadi salah atau keliru?? Tidak, bukan? Begitu contoh sederhananya.
O iya, ini juga bukan pembelaan buat AA Gym loh. Karena saya sendiri sebenarnya tidak bisa menikmati ceramah-ceramah AA Gym. Bahkan entah kenapa saya cenderung mengantuk kalau mendengar ceramah-ceramah agama! Hehehe…. Saya lebih suka menonton acara-acara Animal Planet, National Geographic ataupun Discovery Channel. Namun bagi anda yang sangat menikmati ceramah-ceramah agama dan menurut anda ceramah-ceramah tersebut berguna, ya silahkan anda menyimaknya, jangan ragu-ragu. Tapi sekali lagi ingat, cukup mengapresiasi isi ceramahnya saja, jangan berlebihan sampai mengidolakan si ustadz (atau si da’i).











