Daily Archives: Senin, 18 Juni 2007

Mengambil Keuntungan atau Menipu?

Baterai Kancing CR2032

Suatu hari Minggu, sepulang dari melihat pameran di masjid Salman ITB di Jalan Ganesha, saya berencana untuk mengganti baterai jam tangan Timex Sports 1440 saya. Display LCD di jam tangan saya tersebut sudah terlihat kabur, bertanda jam tangan tersebut membutuhkan energi baru dari baterai baru. Baterai yang dipakai oleh jam tangan saya tersebut adalah baterai kancing litium CR2032 seperti gambar di atas.

Kebetulan karena saya sedang berada di Salman, maka saya memutuskan untuk mengganti baterai jam saya di pasar Balubur karena selain dekat juga yang menjual baterai jam tangan di sana cukup banyak, jadi kita bisa memilih. Setelah sampai di sana saya memutuskan untuk mengganti baterai jam saya di salah satu kios yang kecil yang berada di pasar Balubur tersebut. Setelah bertanya dengan pemilik kios tersebut apakah saya bisa mengganti baterai jam saya di sini dan dijawab bisa, saya segera menyerahkan jam tangan saya untuk diganti baterainya. Namun entah kenapa di dalam hati saya rasanya tidak enak. Iseng-iseng saya bertanya kepada pemilik toko/kios tersebut: “Kang, harganya berapa baterainya?” “Rp. 15.000,-, pak”. Aku terkejut bukan main. Disangkanya saya nggak pernah beli baterai kancing CR-2032 kali. Di toko langganan saya di pasar Cihapit  harga baterai tersebut cuma Rp. 6.000,-. Saya merasa tertipu dan ‘ditodong’ ingin deh rasanya waktu itu saya marah dan mukul itu orang tapi syukur saya masih bisa mengendalikan diri. Lagipula baterai baru sudah dibuka dari kemasan dan akan dimasukkan ke dalam arloji. Tapi sebagai pelampiasan saya berkata dengan ketus ke si penjaga kios, “Asal tahu aja ya kang, di toko langganan saya di Cihapit baterai kayak gitu cuma Rp. 6.000,-“. Si penjaga kios tidak menjawab, rupanya dia merasa bahwa saya tidak mudah ‘dikibulin’. Setelah selesai memasukkan baterai, ia menyerahkan jam tersebut kepada saya, namun saya lihat pekerjaannya kurang rapih, terlihat benar pergelangan jamnya tidak masuk benar ke tempatnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk sedikit mendamprat dan menyindir dia, “Kang, gimana nih moso pergelangannya belum masuk bener nih, udah mahal nggak rapih lagi kerjaannya” kataku. Si penjaga kios lalu membetulkan pergelangan jamnya dan mengembalikannya ke saya sambil berkata “Udah pak, Rp. 10.000,- aja, tapi jangan marah ya pak!”. Saya yang masih agak dongkol langsung membayar dan pergi meninggalkan kios tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun!

Sekarang saya mau tanya, bagaimana sih etika berbisnis dalam masyarakat kita? Atau etika bisnis dalam agama Islam (agama yang saya anut)? Apakah ‘dibenarkan’ dalam Islam untuk mengambil keuntungan setinggi-tingginya? Memang seperti yang pernah saya baca di salah satu kolom tanya jawab di eramuslim.com di sana pernah dikatakan bahwa dalam Islam dalam mengambil keuntungan itu tidak ada batasannya artinya boleh mengambil keuntungan sebesar-besarnya, apakah itu 2x, 3x atau bahkan lebih. Tapi pertanyaannya sekarang adalah apakah dengan pedagang itu mengambil keuntungan yang besar itu dapat disamakan dengan menipu? Ok lah….mungkin jawaban yang lumayan baik adalah, itu tergantung dari niat! Kalau niatnya mengambil keuntungan itu namanya bukan menipu, tapi kalau niatnya menipu itu baru namanya menipu. Ok lah…. tapi bagaimana dari sudut pandang pembeli?? Seperti kasus saya di atas?? Saya benar-benar merasa tertipu terlepas dari niat si penjaga kios! Mudah-mudahan Insha Allah lewat blog ini saya bisa mendapatkan jawaban yang baik dan tepat. Amiin!

Cinta yang Tak Terbalaskan

“Ya, cinta. Saya mempunyai rasa itu, tetapi saya tidak berharap kemudian saya dicintai untuk dimiliki. Karena cinta yang ingin terus saya rasakan, adalah cinta seperti ini. Merasakan cinta, itu saja.”

“Cinta memang untuk dikendalikan dan dirasakan, bukan dibiarkan tumbuh tidak terkendali dan ingin memiliki”

Etalase – Budi Gunawan

Kutipan-kutipan tersebut saya ambil dari novel berjudul “Etalase” karya Budi Gunawan. Novel tersebut sebenarnya mempunyai plot utama yang cukup bagus, tentang seorang yang mempunyai ‘kelainan’ jender yang ingin mencintai dan dicintai. Sayang, alur ceritanya sangat biasa-biasa saja bahkan cenderung membosankan. Saya hanya membacanya serius hingga bab 3 sebelum saya kehilangan selera untuk terus membacanya. Tapi saya menulis posting ini bukan untuk membahas novel itu, tetapi untuk sesuatu makna yang lebih dalam yang berasal dari sepenggal kutipan di atas. Ya, walaupun novelnya termasuk yang biasa-biasa saja, tetapi dua buah kutipan di atas dari Pak Budi Gunawan tersebut berhasil membuat saya tertegun lama untuk memikirkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya fikirkan.

Mungkin tidak semua orang sangat beruntung dalam masalah ‘percintaan’ mereka. Mungkin karena satu dan lain hal sering kali orang hanya dapat berfantasi menjadi teman dekat atau kekasih orang yang ia cintai, baik ia mengenalnya secara langsung orang tersebut ataupun tidak. Yah, itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan! Cinta sesama jenis, cinta yang terhadang jurang sosial dan ekonomi yang terlalu dalam, cinta yang terhadang oleh letak geografis yang sangat jauh, cinta terhadap seseorang yang sudah berkeluarga, dan khusus di negara ini cinta yang terhadang perbedaan agama merupakan contoh-contoh yang baik dari cinta yang bertepuk sebelah tangan!

Saya sendiri pernah mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan dan juga pernah dicintai sebelah tangan pula! Dahulu saya pernah menaksir wanita yang berlainan kepercayaan dengan saya, dan saya sadar saya tidak akan pernah bisa memilikinya karena dia adalah orang yang berpegangan teguh pada agamanya (walaupun saya dengar bahwa Islam memperbolehkan seorang pria Muslim menikahi wanita non-muslim namun orang tuanya tidak akan pernah mengizinkannya!!). Sayapun juga pernah mempunyai teman ‘gay’ yang sempat naksir saya. Usianya jauh lebih tua dari saya, waktu itu dia umurnya sekitar 40 dan saya waktu itu masih 27. Tapi syukurlah ia sangat bijaksana dan mungkin juga menerapkan prinsip seperti sepenggal paragraf di atas yang menyatakan bahwa cinta harus dikendalikan dan tidak dibiarkan tumbuh liar dan cinta bukan berarti harus memiliki. Sayapun mengerti bagaimana sulitnya menerapkan prinsip seperti itu pada awalnya karena memang cinta pada hakikatnya adalah keinginan untuk memiliki! Dan itu sebenarnya adalah sesuatu yang wajar pada koridor-koridor tertentu.

Memang sangat menyakitkan kalau kita merasakan cinta terhadap orang lain namun tidak dapat memilikinya. Karena memang kepemilikan cinta sangat berbeda dengan kepemilikan barang-barang material. Kalau kepemilikan barang-barang material hanya satu arah saja, seperti kalau kita mempunyai sebuah mobil, maka hanya kitalah yang memiliki mobil tersebut, tetapi mobil tersebut tidak memiliki kita. Namun tidaklah demikian dalam kepemilikan cinta terhadap seseorang, kepemilikan harus dua arah, kita harus dapat memiliki orang yang kita cintai dan orang yang kita cintai tersebut juga harus memiliki kita. Dengan begitu maka cinta dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang lebih seperti perkawinan, kebersamaan dan lain-lain! Saya sendiri sebenarnya sangat berempati terhadap orang-orang yang tidak bisa ‘mendapatkan cinta orang lain’ oleh karena sesuatu hal. Kita baru dapat merasakannya jikalau kita mengalaminya! Atau kita baru dapat merasakannya jikalau ada orang-orang yang dekat dengan kita yang juga mengalaminya. Mungkin dengan saya menulis artikel seperti ini anda beranggapan bahwa saya kurang ‘religius’, yah itu terserah anda, karena anda bebas mengkritik apapun dan siapapun juga. Walaupun isi hati atau keimanan seseorang hanyalah Allah yang mengetahui. Di sini saya hanya mau menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang beragam dan yang tak sempurna dengan perasaan-perasaan cinta mereka yang beragam pula.

Namun apapun cinta anda, terutama cinta yang bertepuk sebelah tangan, memang ada baiknya kutipan dari novel di atas bahwa cinta sebaiknya dikendalikan dan tidak dibiarkan tumbuh liar! Salut buat pak Budi Gunawan untuk kutipan-kutipannya di novelnya.