Daily Archives: Rabu, 27 Juni 2007

Paris van Java atau Parijs van Java?

Sebenarnya judul di atas ini sangat sedikit bersinggungan dengan topik yang akan saya tulis berikut ini, namun judul di atas adalah titik awal dari topik yang akan saya angkat dalam posting kali ini.

Seperti yang kita semua ketahui bahwa kota Bandung, kota di mana saya tinggal saat ini mempunyai julukan Parijs van Java dari Bahasa Belanda yang berarti kota Paris dari (pulau) Jawa. Julukan ini masih sangat didengung-dengungkan oleh orang Bandung sendiri terbukti ada mal di kota ini yang mengadopsi nama ‘Paris van Java’ juga ada stasiun TV lokal PJTV, dan juga salah satu stasiun radio yang terkemuka di kota ini dahulu gencar memperdengarkan jingle mereka “101,6 FM, di Paris van Java, radio Dahlia FM”, dst. Saya heran sekali, kenapa sebutan dari zaman kolonial ini masih saja dipakai sampai sekarang? Apakah sebutan Parijs van Java ini kelihatan sangat keren? Apakah karena ada kata-kata ‘Parijs’/’Paris’-nya yang membuatnya keren? (Kalau ‘Baghdad van Java’ pasti kurang keren ya?) Lagian misalnya kalau memang bangga dengan kota Paris, eh maksud saya kalau bangga dengan istilah ‘Parijs van Java’, kenapa tidak diterjemahkan menjadi ‘Paris dari (pulau) Jawa’ atau ‘Paris tina Jawa’? Jadi sesuai dengan zaman, istilah tersebut sudah dilokalkan! Ah, kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia apalagi ke Bahasa Sunda kurang keren!! Apalagi mengganti istilah ‘Parijs van Java’ dengan istilah lain yang berbau-bau Sunda! Nggak funky banget! Mungkin seperti itulah kira-kira pemikiran kita yang sangat silau dengan istilah asing!

Saya ingat dengan perkatan Prof. DR. Arif Rahman, seorang pakar pendidikan, yang saya ingat di tahun 1970an menjadi pembawa acara Pelajaran Bahasa Inggris di TVRI. Beliau mengatakan bahwa banyak bahasa daerah di tanah air ini terancam karena dominasi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan juga bahasa asing lainnya. Serbuan bahasa asing terutama bahasa Inggris memang tidak bisa terbendung lagi, apalagi di era keterbukaan dan globalisasi didukung dengan sarana telekomunikasi modern macam Internet ini semakin menyudutkan bahasa daerah! Tapi menurut saya, serbuan bahasa asing bukanlah hal yang paling menentukan dalam punahnya bahasa daerah kita ini (mungkin bahasa nasional kitapun bisa terancam juga!), namun saya rasa karena mental/perilaku kita sendiri yang terlalu ‘silau’ dengan bahasa asing yang paling mempercepat punahnya bahasa daerah. Contoh ‘Paris van Java’ di atas adalah contoh yang representatif dalam kasus ini saya rasa.

Jadi apakah kita tidak boleh mempelajari atau memakai bahasa asing?? Wah itu juga sama sekali salah!! Yang penting kita harus mengetahui dengan baik kapan memakai bahasa asing dan kapan harus memakai bahasa sendiri. Dan satu lagi, jikalau mempelajari bahasa asing, pelajarilah dengan baik, jangan setengah-setengah! Jadi jangan sampai ada kasus seperti ‘Paris van Java’, padahal seharusnya “Parijs van Java”. Sudah sok ke-Belanda-Belandaan, salah ejaan pula! Memalukannya berkali-kali lipat!