Paris van Java atau Parijs van Java?

Sebenarnya judul di atas ini sangat sedikit bersinggungan dengan topik yang akan saya tulis berikut ini, namun judul di atas adalah titik awal dari topik yang akan saya angkat dalam posting kali ini.

Seperti yang kita semua ketahui bahwa kota Bandung, kota di mana saya tinggal saat ini mempunyai julukan Parijs van Java dari Bahasa Belanda yang berarti kota Paris dari (pulau) Jawa. Julukan ini masih sangat didengung-dengungkan oleh orang Bandung sendiri terbukti ada mal di kota ini yang mengadopsi nama ‘Paris van Java’ juga ada stasiun TV lokal PJTV, dan juga salah satu stasiun radio yang terkemuka di kota ini dahulu gencar memperdengarkan jingle mereka “101,6 FM, di Paris van Java, radio Dahlia FM”, dst. Saya heran sekali, kenapa sebutan dari zaman kolonial ini masih saja dipakai sampai sekarang? Apakah sebutan Parijs van Java ini kelihatan sangat keren? Apakah karena ada kata-kata ‘Parijs’/’Paris’-nya yang membuatnya keren? (Kalau ‘Baghdad van Java’ pasti kurang keren ya?) Lagian misalnya kalau memang bangga dengan kota Paris, eh maksud saya kalau bangga dengan istilah ‘Parijs van Java’, kenapa tidak diterjemahkan menjadi ‘Paris dari (pulau) Jawa’ atau ‘Paris tina Jawa’? Jadi sesuai dengan zaman, istilah tersebut sudah dilokalkan! Ah, kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia apalagi ke Bahasa Sunda kurang keren!! Apalagi mengganti istilah ‘Parijs van Java’ dengan istilah lain yang berbau-bau Sunda! Nggak funky banget! Mungkin seperti itulah kira-kira pemikiran kita yang sangat silau dengan istilah asing!

Saya ingat dengan perkatan Prof. DR. Arif Rahman, seorang pakar pendidikan, yang saya ingat di tahun 1970an menjadi pembawa acara Pelajaran Bahasa Inggris di TVRI. Beliau mengatakan bahwa banyak bahasa daerah di tanah air ini terancam karena dominasi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan juga bahasa asing lainnya. Serbuan bahasa asing terutama bahasa Inggris memang tidak bisa terbendung lagi, apalagi di era keterbukaan dan globalisasi didukung dengan sarana telekomunikasi modern macam Internet ini semakin menyudutkan bahasa daerah! Tapi menurut saya, serbuan bahasa asing bukanlah hal yang paling menentukan dalam punahnya bahasa daerah kita ini (mungkin bahasa nasional kitapun bisa terancam juga!), namun saya rasa karena mental/perilaku kita sendiri yang terlalu ‘silau’ dengan bahasa asing yang paling mempercepat punahnya bahasa daerah. Contoh ‘Paris van Java’ di atas adalah contoh yang representatif dalam kasus ini saya rasa.

Jadi apakah kita tidak boleh mempelajari atau memakai bahasa asing?? Wah itu juga sama sekali salah!! Yang penting kita harus mengetahui dengan baik kapan memakai bahasa asing dan kapan harus memakai bahasa sendiri. Dan satu lagi, jikalau mempelajari bahasa asing, pelajarilah dengan baik, jangan setengah-setengah! Jadi jangan sampai ada kasus seperti ‘Paris van Java’, padahal seharusnya “Parijs van Java”. Sudah sok ke-Belanda-Belandaan, salah ejaan pula! Memalukannya berkali-kali lipat!

Iklan

15 responses to “Paris van Java atau Parijs van Java?

  1. Udah jadi ya “mal Parijs van Java” yang di jalan (mau ke pasar Sukajadi) itu?

  2. Udah! Tapi namanya masih ‘Paris van Java’ hehehe! 😀

  3. ya emang suka gitu…
    semakin rumit nama di eja semakin terdengar keren wkwkwk….padahal nyebutinnya ajah aku susah soalnya bibir wong ndeso heuheu

  4. @duhJungjunan

    mangkannya daripada nanti salah ucap atau kalau lagi ngucapin tiba2 ludah muncrat terus memalukan, ‘kan mendingan diganti sama semboyan yg asli Indonesia hehehehe…. 😀

  5. hooo…saya belom pernah ke mall di bandung entu. sempet mampir doank. keknya rame banget tuh…

    *lho kok jadi OOT ya?*

  6. @cK
    Aku aja yg tinggal di Bandung aja baru sekali ke sana! Aku lebih suka BIP atau BSM 😀

  7. di sebelah mana ya mall-nya? saya jarang ke mal sih, seringannya ke kawah putih or situ2 yang ada di selatan bandung, maklum laah orang kampung ya mainnya juga ke kampung.. heheh

  8. @pepi
    laah… sama saya juga sebenarnya orang kampung kok! Hehehe…. 😀

  9. Yup tul! Saya setuju dengan saudara…
    saya juga heran kok nama mall itu paris padahal setau saya juga parijs. Saya pikir saya yang salah, tapi sekarang saya bisa dengan tegas bilang ke orang-orang bahwa saya yang benar berkat blog saudara. Thanks ya!

  10. Sama2. Memang kalau dalam bahasa Belanda itu seharusnya Parijs van Java, kalau mau pakai kata ‘Paris’ harus dalam bahasa Inggris: Paris of Java atau dalam bahasa Perancis: Paris de Java.

  11. Saya sangat terganggu dengan cara penulisan dan pengucapan Paris Van Java yang ditulis oleh pengelola sebagai Paris Van Java dan diucapkan oleh khalayak, termasuk host acara2 di station tv & broadcast sebagai Paris Van Java.
    Cara penulisan yang benar adalah Parijs van (huruf v kecil) Java dan diucapkan sebagai Paris van Yava. Pulau Jawa disebut oleh orang Belanda sebagai Java (baca Yava) sehingga ditulisnya Java dan bukan Djava.
    Penggunaan huruf V (besar) tidak semesti bila dalam rangkaian kalimat dengan awal kata dengan huruf besar. Van adalah kata sambung dan tidak biasa ditulis dengan huruf besar. Akhir-akhir ini memang banyak penulisan kata van dengan huruf awal besar (Van), tetapi hanya dipergunakan untuk nama orang Van Hellen, tidak untuk nama lain.

    Saya harap pengelola, broadcasters dan masyarakat umum mengerti bahwa nama Parijs van Java adalah bahasa Belanda sehingga cara penulisan dan pengucapannya harus sesuai dengan aslinya. Kalau tidak tahu cara penulisan dan pengucapan bahasa asing, lebih baik tidak menggunakan kalimat asing.

    _____________________________________________________________________________________

    Yari NK replies:

    Ya….. setuju…. jikalau tidak tahu lebih baik memakai Bahasa Indonesia daripada memakai bahasa asing tapi salah! Memang yang benar adalah Parijs van Java, dengan ‘v’-nya huruf kecil, seperti yang saya tulis juga di atas, dengan pengucapan: “Parèis van Yava”. Jadi memang jikalau tidak tahu, mendingan memakai Bahasa Indonesia saja, kalau salah justru memalukan…. lagian istilah zaman kolonial saja dibangga2in. Lagipula dengan memakai kata ‘Parijs’ seolah2 kita sangat kagum dengan ‘Parijs’ (padahal belum tentu juga sekarang Paris mirip dengan Bandung!)

  12. Ngg..PVJ???
    asikk..bersih ma rame aja tempatnya..cuma gak sebersih ip..
    hehehe..^^

    __________________________________________

    Yari NK replies:

    IP? Maksudnya BIP? :mrgreen:

  13. Maaf saya numpang ngasih informasi, mau over kredit rumah.

    http://www.rumahbekas.com/index.php?go=detail&id=3581

    terima kasih

    _________________________________

    Yari NK replies:

    Ada yang berminat, saudara2? silahkan mengklik link di atas. 🙂

  14. Walaupun hanya sekilas saya pernah belajar Bahasa Belanda, mudah mudahan saya masih ingat. Tulisan Parijs van Java kayaknya ini yang paling betul. Perlu diketahui bahwa “ij” dibaca seperti “ei” dalam Bahasa Indonesia. Jadi bacanya Pareis van yafwa. Kebanyakan pengucapan orang Eropa ” V” dibaca depa f dan belakang w, sama seperti “X” dibaca antara k dan s. Julukan itu diberikan oleh orang orang Belanda jadi cara penulisannya pun gaya Belanda.

    Kita tidak perlu kuatir menggunakan julukan itu karena memang itu sangat memberi makna yang indah. Yang jelas fakta sejarah bahwa kita pernah dijajah Belanda dan itupun tidak bisa hilang. Justru seharusnya menjadi tantangan buat Walikota Bandung untuk membuktikan nama itu sesuai dengan faktanya.

    Sepemahaman saya, dengan cara memperhatikan banyak contoh nama tidak bisa dirubah. Nama itu bisanya ditambah dengan nama atau alias lain. Buktinya Pariis van Java itu tadi, tidak ada yang mampu menghilangkan. Di Paua alias Irian Jaya sana ada sebuah kabupaten Boven Digul, tapi tidak di Indonesiakan menjadi Digul Atas atau Di Atas Digul.

    Jadi biarkan begitu saja apa adanya, karena ada sejarahnya. Justru yang harus di jaga adalah bagaimana kehidupan sehari hari sekarang tidak hanyut latah pakai bahasa asing. Banyak kita temui begini ” Oh iya hari ini saya ada “meeting” sekaligus “lunch”, soalnya akan membicarakan “progress” yang “content”nya tidak jauh dari “budget”. Memang perlu “sounding” supaya “fee” nya gede. Mau ikut boleh saja “please” makannya “buffet” tidak “a la cart”. Alamak kayaknya sudah tdak ada lagi bahasa Indonesianya.

    ________________________________

    Yari NK replies:

    Sebenarnya bukan masalah “bahasa asing”-nya yang jadi persoalan, memang julukan “Parijs van Java” adalah julukan yang indah, namun hal itu seolah2 menandakan bahwa yang indah2 selalu diasosiasikan dengan Eropa, nah kalau Bandung diasosiasikan dengan Paris, kenapa Paris tidak bisa disebut sebagai “Bandoeng van Europa”?? Apakah orang Paris sudi kotanya disebut “Bandoeng van Europa” atau “Bandoung de l’Europe”?? Kalau orang Paris tidak sudi, kenapa kita sudi menyebut kota kita “Parijs van Java”?? Padahal kita punya sebutan2 lainnya yang indah seperti “Bandung kota kembang” dan lain-lainnya yang tak kalah indahnya……

    Kalau masalah campur bahasa, apalagi bukan resmi, seperti please, meeting, à la carte, dan sebagainya, ya itu tidak apa2. Hal itu tidak terjadi pada Bahasa Indonesia saja kok. Bahasa2 lain seperti Bahasa Jepang, dan juga bahasa2 lainnya dari Eropa seperti Bahasa Perancis dan lain-lain juga sudah banyak pengaruh bahasa asing (Inggris)-nya, seperti le weekend (Perancis), le barman (Perancis), le scanner (Perancis), le CD-ROM (Perancis), der Half-pipe (Jerman), die Sauce (Jerman), dan lain-lain. Bahasa Inggrispun juga sudah terpengaruh bahasa2 asing, seperti à la carte, champignon, tableau dan lain-lain…. 🙂

  15. wahh suka sekali dengan tulisan Bapak, hehe meskipun tulisan ini udah dibuat 4 tahun lalu tapi bahasanya asyik..

    saya mau ijin nge-share ulang tulisan Bapak di Blog saya, tentunya dengan bahasa yang dikit beda tapi inti dan sumber tetap dari Bapak..tulisan yang saya muat hanya sekedar cuplikan saja jadi tidak semua yang ada di artikel ini saya tulis ulang. Dalam tulisan tersebut nama Bapak tetap saya cantumkan dan ada link yang menghubungkan ke blog bapak. Jika bapak berkenan silahkan di cek di blog saya dan silahkan untuk memberikan kritik, saran atau lainnya. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s