New Coke vs Crystal Pepsi, dua-duanya kesalahan marketing!

Crystal Pepsi

Sebelumnya dalam blog Prof. Tb. Sjafri Mangkuprawira, di salah satu komentar dalam artikelnya saya sudah menyinggung sedikit tentang persaingan sengit antara Pepsi Co. dan Coca Cola Co., khususnya sewaktu Pepsi Cola meluncurkan Crystal Pepsi sementara Coca Cola meluncurkan New Coke. Namun tahukah anda bahwa kedua produk ini di pasaran tidak begitu sukses, dan kegagalan kedua produk tersebut adalah sama-sama kesalahan Marketing Research? Mari kita tengok kegagalan apa yang dilakukan Marketing kedua perusahaan tersebut!

New Coke

Di tahun 1985, Coca Cola mulai kehilangan sedikit demi sedikit pangsa pasarnya kepada saingan terberatnya Pepsi Cola. Coca Cola rupanya sangat terpengaruh oleh sebuah acara televisi yang disponsori Pepsi mengenai uji-coba rasa cola yang paling digemari oleh masyarakat Amerika waktu itu. Di situ hasil uji-coba mengatakan bahwa masyarakat lebih menyukai rasa cola yang lebih manis. Dan memang pada saat itu rasa Pepsi Cola memang sedikit lebih manis dibandingan rasa Coke dari Coca Cola. Dan rupanya hasil dari acara uji-coba yang ditelevisikan itu bukan hanya omong kosong, tapi dari hari ke hari memang penjualan Pepsi Cola terus meningkat!

Untuk mengantisipasi keadaan ini, dan terpengaruh oleh uji-coba yang dilakukan oleh Pepsi Cola, Coca Cola mengadakan uji coba tersendiri (tidak ditelevisikan/dipublikasikan), dalam rangka memperkenalkan produk baru mereka New Coke. Di dalam uji coba tersebut masyarakat suruh memilih mana yang lebih mereka suka, antara New Coke dengan pendahulunya dan juga dengan Pepsi Cola. Dalam uji coba tersebut New Coke menempati urutan pertama disusul Pepsi Cola dan lalu Coke di tempat terakhir. Berdasarkan hasil uji coba itu, Coca Cola dengan yakinnya melemparkan produk barunya ‘New Coke’ ke pasaran Amerika dan mempensiunkan produk lama mereka ‘Coke’! Namun apa yang terjadi??

Penjualan melonjak hanya terjadi di bulan-bulan awal saja. Selanjutnya penjualan mulai seret. Coca Cola mulai menerima banyak telepon dan surat. Sebuah grup bernama ‘Old Cola Drinkers’ mulai melancarkan protes dan menuntut untuk dikembalikannya ‘Coke’ yang lama ke pasaran! Banyak analis bisnis dan media yang memperdebatkan masalah ini waktu itu, dan setelah dipensiunkan selama dua bulan, Coca-Cola kembali memproduksi ‘Coke’ yang lama di pasaran bersama-sama dengan ‘New Coke’. Dan penjualan total Coca-Cola mulai meningkat lagi. Lantas apanya yang salah dengan ‘New Coke’?

Yang salah adalah riset marketingnya termasuk juga interpretasi dari hasil riset tersebut! Riset marketing yang dilakukan Coca Cola sangat terfokus kepada rasa saja, tidak melihat kenyataan bahwa konsumen juga melihat sesuatu yang lain selain daripada rasa! Yang paling luput dari hasil riset itu adalah fanatisme ‘penggila’ Coca Cola yang tidak mau rasa Coca Cola berubah! Para ‘penggila’ Coca Cola ini sangat loyal terhadap Coke karena berbagai alasan, ada yang karena rasanya, ada yg fanatik merknya, ada yang fanatik sejarahnya, ada yang fanatik karena Coca Cola adalah sponsor dari tim olahraga tertentu, dan masih banyak alasan fanatisme lainnya. Hal-hal seperti inilah yang luput dari uji coba yang dilakukan Coca-Cola. Coca-Cola tidak menyadari bahwa konsumen selalu penuh dengan kejutan dalam alasan kenapa mereka menyukai produk ‘Coke’ yang lama. Coca-Colapun dalam menginterpretasikan hasil uji coba juga tidak menyadari bahwa sampel dalam uji coba tersebut tidak sepenuhnya mewakili masyarakat Amerika dalam preferensi pemilihan cola. Untungnya New Coke terus diproduksi dengan berganti nama menjadi Coca Cola II dan kini menjelma menjadi Cherry Coke.

Crystal Pepsi

Pepsi Co., sebagai saingan Coca Cola Co., juga membuat blunder dalam menghasilkan Crystal Pepsi. Jikalau New Coke diluncurkan guna menghasilkan rasa cola yang lebih manis, maka Crystal Pepsi memiliki ide yang lain! Ide Crystal Pepsi adalah menciptakan cola dengan warna bening (tidak dengan warna gelap kehitaman seperti kebanyakan cola!) dengan rasa yang sebenarnya tidak terlalu beda dengan rasa Pepsi lama. Ide menciptakan cola yang berwarna bening didapat dari kenyataan persepsi masyarakat Amerika waktu itu, bahwa sesuatu yang bening lebih bersih dan lebih alami! Hal itu didukung kenyataan waktu itu bahwa sesuatu yang bening mulai dari shampoo, lotion dan juga sabun lebih laku terjual di pasaran!

Namun apa yang terjadi setelah di lempar di pasaran? Ternyata nasibnya sama dengan New Coke! Hanya berhasil di awal-awal bulan penjualan (mungkin disebabkan karena masyarakat penasaran ingin mencobanya), untuk kemudian penjualan menurun secara drastis! (Untung saja,  Pepsi Co., waktu itu tidak menarik produk Pepsi lamanya dari pasaran!) Setelah diadakan riset mengapa Crystal Pepsi tidak laku di pasaran, mereka menemukan alasan bahwa mereka tidak suka dengan rasa Crystal Pepsi ini (padahal rasanya hampir sama!) namun anehnya ada juga yang menyatakan bahwa rasa Crystal Pepsi ini tidak berbeda dengan rasa Pepsi yang lama, sehingga mereka enggan beralih ke Crystal Pepsi dan tetap memilih Pepsi yang lama!

Nasib Crystal Pepsi ini lebih malang dari nasib New Coke, sebab Crystal Pepsi ini akhirnya dihentikan produksinya walaupun sempat dikeluarkan lagi dengan nama ‘Crystal by Pepsi’ dengan timbahkan rasa citrus di dalamnya. Namun Crystal by Pepsi ini juga tidak bertahan lama!

Itulah contoh dua perusahaan besar yang saling bersaing, yang dua-duanya melakukan blunder dalam marketing! Mereka adalah perusahaan-perusahaan yang sarat pengalaman dan sarat dengan SDM yang tentu saja yang berkualitas internasional. Namun seperti pepatah ‘Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga!’. Jikalau tupai yang pandai melompat bisa jatuh juga, bagaimana halnya dengan tupai yang tidak begitu pandai melompat??

3 responses to “New Coke vs Crystal Pepsi, dua-duanya kesalahan marketing!

  1. Kalo lihat kasus new coke, kayaknya enak juga kalo loyalitas pegawe negri setinggi itu, jadi gak pada korupsi…
    =))

  2. Iya juga sih. Tapi kesetiaan sejati biasanya berdasarkan ‘cinta’ atau ‘suka’, kalau kesetiaan yang dipaksakan biasanya semu.🙂

  3. intinya g cuma rasa…

    tapi loyalitas juga bs berasal dari bebearapa segi..

    tak kusangka pikiran aq msh dangkal…

    ______________________________________

    Yari NK replies:

    Memang betul…. loyalitas dan fanatisme memang bisa berasal dari banyak aspek…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s