Daily Archives: Kamis, 5 Juli 2007

Bulan dan kalender Islam

phases.gif

Mei 2004, waktu itu hari masih pukul 3 pagi, tapi saya sudah bangun pagi untuk menyaksikan pertandingan tennis ATP Masters langsung dari Roma, Italia. Saya masih ingat waktu itu yang main adalah Andy Roddick (AS) melawan Tommy Haas (Jerman). Di setiap pertandingan tennis yang disiarkan lewat televisi, setiap 2 games maka pemain melalukan istirahat/break, nah pada saat break inilah biasanya stasiun TV menyiarkan siaran iklan (commercials). Namun di salah satu break pada pertandingan pagi itu bukanlah siaran iklan seperti biasa melainkan bidikan kamera yang di-zoom ke arah bulan yang tengah mengalami gerhana bulan total! Wow alangkah indahnya gerhana bulan total tersebut, tidak seperti halnya gerhana matahari total di mana piringan matahari tampak gelap oleh bayangan bulan (hanya corona-nya saja yang terlihat), pada saat gerhana bulan, bulan berwarna kemerahan akibat pantulan atmosfir bumi (earthshine), pada saat bulatan bumi menutupi bulan dari matahari.

Bulan, atau tepatnya peredaran bulan mengelilingi bumi, sejak lama sudah dikaitkan dengan kalender Islam, terutama untuk menandakan pergantian bulan. Karena seperti halnya kalender Yahudi, kalender Islam adalah qamariyah (lunar) yang berpatokan pada orbit bulan mengelilingi bumi. Hanya saja sedikit beda dalam penetapan awal bulan antara kalender Yahudi dengan kalender Islam. Kalender Yahudi sudah dimodifikasi agar awal bulan jatuh pada fase ‘bulan baru’ (new moon), fase di mana bulan sama sekali tidak terlihat dilangit! Ini dimaksudkan agar awal bulan dapat dikalkulasikan dengan tepat secara matematis. Sedangkan dalam kalender Islam, awal bulan harus ditandai dengan terjadinya hilal (bulan sabit) pertama. Ini yang menjadi sering kontradiksi dalam penentuan awal bulan Islam, sehingga awal bulan Islam di berbagai tempat di bumi ini menjadi tidak seragam.

Kenapa tidak seragam? karena masing-masing mempunyai kriteria tertentu dalam menentukan kapan terjadinya hilal untuk pertama kali. Ada yang menetapkan hilal harus terlihat secara fisik di langit, ada yang menetapkan jikalau bulan sudah terlihat berapa derajad di atas matahari pada saat terbenam, ada yang menentukan kalau piringan bulan sudah terlihat nol koma nol nol sekian persen (tentu saja menentukan kriteria yang satu ini harus menggunakan komputer!) maka dianggap hilal sudah terlihat, dll. Belum lagi kondisi fisik di Bumi jikalau kita ingin melihat hilal di langit! Biasanya hilal pertama terlihat dekat dengan horizon di sebelah barat, kalau di kota biasanya tertutup gedung-gedung tinggi, belum lagi jikalau cuaca mendung berawan menambah sulitnya menemukah hilal di langit. Belum lagi faktor sinar matahari yang terang ikut mempersulit penampakan hilal pertama di langit. Ingat untuk menentukan apakah keesokan harinya sudah bulan baru atau belum, maka hilal yang terjadi harus sebelum matahari terbenam, jikalau hilal terjadi pada sesudah matahari terbenam, maka bulan baru akan dimulai lusanya.

Yah, begitulah sekedar gambaran betapa ‘ribet’-nya menentukan awal bulan dalam kalender Islam. Namun ada satu hal yang tidak boleh dilanggar dalam penentuan lamanya satu bulan qomariyah, yaitu satu bulan qomariyah tidak boleh kurang dari 29 hari dan tidak boleh lebih dari 30 hari! Jadi satu bulan qomariyah harus antara 29 atau 30 hari!