‘Paijo’ di negeri gingseng

Ini adalah cerita sesungguhnya yang saya lihat dari Arirang TV, stasiun televisi dari Republik Korea yang berbahasa Inggris, yang saya lihat dari jaringan TV kabel beberapa bulan silam. Di situ diceritakan seorang pria asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sebut saja ‘Paijo’ (karena saya sudah lupa siapa nama persisnya, lagipula saya melihatnya agak terlambat, tidak dari mula) yang bekerja sebagai pekerja/buruh di satu pabrik otomotif di Republik Korea. Di kampungnya, sebelum Paijo bekerja di Korea, Paijo bekerja sebagai petani dan guru ngaji. Pendapatannya dari bertani dan mengajar mengaji sangat minim, sehingga dirasakannya sangat sulit bagi Paijo untuk menghidupi istri dan seorang anaknya dengan layak. Namun Paijo tidak patah semangat, ia mencari seribu cara untuk memperbaiki nasib keluarganya, untuk menghidupi keluarganya dengan layak, dan yang paling penting adalah untuk sekolah anaknya kelak, agar ia nanti tidak senasib dengan dirinya.

Karena kegigihan dan keinginannya yang kuat untuk memperbaiki nasib dan mungkin juga sedikit keberuntungan, lewat informasi temannya yang sudah lebih dulu bekerja di Korea bahwa perusahaan di tempatnya bekerja memerlukan sejumlah buruh baru, Paijo akhirnya berangkat dan bekerja di Korea. Namun itu semuanya dilakukan bukan tanpa pengorbanan. Paijo harus rela meninggalkan istri dan anaknya dan selama bekerja di Korea, Paijo hanya diizinkan pulang kampung menjenguk keluarganya selama seminggu. Alternatif lain adalah tentu memborong keluarga ke Korea, namun tentu saja itu merupakan sesuatu hal yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang sekelas Paijo karena menyewa apartemenpun di Korea bukan hal yang murah bagi orang-orang sekelas Paijo.

Cerita di Arirang TV bergulir pada saat-saat bahagia Paijo ketika ia mendapatkan cuti seminggu, waktu saat ia bersenang-senang dan bersantai bersama anak dan istrinya. Setelah bekerja beberapa lama di Korea, kini Paijo bisa mendirikan rumah sendiri yang layak untuk keluarga dan anaknya. Perabotan modern mulai dari TV 29″, DVD Player, Kulkas dua pintu, kompor gas, microwave dan juga sepeda motor untuk istri tercinta melengkapi isi rumahnya yang ia bangun dari hasil kerja kerasnya di Korea. Di kampungnya ia banyak bercerita mengenai Korea kepada teman-temannya. Di sana ia menceritakan mengenai keramahan orang-orang Korea, dan juga keramahan orang-orang yang bekerja di pabriknya baik itu yang sesama buruh orang Indonesia, ataupun para supervisor-nya yang berkebangsaan Korea. Mereka semuanya sudah dianggap sebagai ‘keluarga’  besar mereka di Korea. Iapun mengatakan bahwa kendala bahasa sebaiknya jangan membuat kita takut, terutama takut dalam berkomunikasi. Ketika berangkatpun Paijo sangat minim berbahasa Inggris, namun toh keinginannya yang kuat untuk berkomunikasi (supervisor Korea-nya juga sebenarnya tidak pandai berbahasa Inggris juga) berhasil mengalahkan rintangan keterbatasan pengetahuan grammar dan vocabulary words dalam diri Paijo. Paijo juga mengatakan tanpa malu-malu bahwa kini Korea adalah tanah impiannya, tanah impian yang tidak pernah ia dapat di tanah kelahirannya sendiri.

Mendengar kisah Paijo di atas, saya menjadi malu. Tanah air kita yang katanya subur dan kaya akan sumber daya alam, ternyata tidak bisa mensejahterakan banyak rakyatnya. Bahkan ribuan orang seperti Paijo ini, harus memenuhi impiannya di negeri yang sangat miskin sumber daya alamnya, namun penduduknya sangat makmur akibat ‘kaya’-nya sumberdaya manusianya. Bahkan negeri kecil yang miskin sumberdaya alam ini bukan hanya berhasil mensejahterakan rakyatnya ia juga berhasil mensejaterakan ratusan ribu rakyat dari negeri lain yang lebih besar dan kaya dengan sumber daya alam seperti Paijo ini. Sungguh sebuah ironi!

Iklan

12 responses to “‘Paijo’ di negeri gingseng

  1. masih banyak “paijo-paijo yg lain yang bertebaran di belahan bumi lain…

  2. Betul sekali Nurina. Sayangnya, jangankan negara ini memikirkan mensejahterakan ‘paijo-paijo’ di belahan dunia lain, ‘paijo-paijo’ di negeri sendiri saja masih banyak yg ‘terlantar’! 🙂

  3. Sayang ya Indonesia, belum bisa memanfaatkan kekayaannya.

    Btw, Paijo di negeri ginseng jadi buruh (termasuk kaum yang sengsara engga?). Ia bisa menikmati hasil jerih payahnya bukan di negeri ginseng tapi tetap di negeri sendiri… (itu yang perlku diingat). Andaikan ia membawa keluarganya ke negeri ginseng, belum tentu ia akan merasakan hidup seenak di negeri sendiri (karena katanya tadi di negeri sana nyewa apartemen aja mahal).

  4. Ternyata secara realistis (bukan idealis ya)…tidak semuanya merasakan bahwa hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari hujan emas di negeri lain…

  5. @mathematicse
    Memang, mungkin bagi ukuran Korea, si ‘Paijo’ ini relatif kurang makmur, tetapi bagaimanapun juga taraf hidupnya secara absolut tentu meningkat dibandingkan ketika ia harus menjadi tani di kampugnya. Dan yang paling penting bagi dia adalah ia mampu menghidupi keluarganya dengan lebih baik termasuk ia dapat menyekolahkan anaknya dengan layak. 🙂

    @deking
    Hehehehe pepatah kan terkadang suka agak ‘berlebihan’, kan kamu sendiri juga yang bilang seperti itu di postingan kamu yang judulnya Kata-kata bijak yang kurang bijak… Hehehe… 😀

  6. Bener Pak…kata2 bijak seringkali memang tidak bijak…tidak realistis 😀

  7. Hhhmmmm koment apa ya ?
    * Ironis sekali memang jika Indonesia Tanah airku yang makmur dan damai ini ternyata punya saingan yang lebih bisa menghidupi manusia Indonesia. Indonesia yang penuh dengan sumber daya alamnya yang selalu bisa dikuasai oleh pikiran-2 dari luar negeri …..dan so whot gitcu loh !!!!

  8. @deKing

    kata2 bijak memang diciptakan lebih untuk keindahan karya sastra dan juga untuk eufemisme bagi situasi yang buruk, jadi memang kata2 bijak tentu saja tidak 100% realistis walaupun saya juga tidak berani mengatakan bahwa kata2 bijak 100% nonsense 😀

    @aisalwa
    Betul aisalwa, kebanyakan pengambilan dan pengolahan sumber daya alam penuh dengan teknologi dari negara2 maju (barat), tanpa teknologi dari mereka banyak sumber daya alam kita yang tidak akan sanggup kita peroleh dan kita olah. Contoh saja minyak bumi, memangnya minyak bumi bisa diambil hanya menggunakan sekop dan cangkul?? Minyak bumi dideteksi, diambil dan diolah menggunakan teknologi maju seperti komputer, satelit GPS, alat berat pengeboran minyak yg semuanya masih harus diimpor dari luar. Harapan saya mudah2an negara kita di masa mendatang dapat membuat alat2 seperti itu dan tidak hanya puas dengan menyewa atau mengimpor alat-alat tersebut.

  9. Sebenarnya Indonesia sangat mampu dan bener-bener mampu, namun sayangnya yang menangangi dibidangnya adalah orang yang tidak tahu dengan bidang yang ditanganinya, seandainya pemerintah tepat memberikan kepercayaan suatu bidang kepada orang yang benar-benar ahlinya pasti kita bangsa indonesia lebih makmur. sayang sekali……
    kita hanya punya orang-orang yang selalu membesar-besarkan kepentingan pribadinya bukan kepentingan bangsanya, sedikit ada kemajuan untuk bangsa banyak kemajuan pada dirinya(*) (* tahu dechhhhh)

  10. @jomaya

    Benar jomaya secara potensial kita mampu, namun masalahnya kita belum mampu mengembangkan kemampuan potensial kita untuk memaksimalkan hasil yg diperoleh. Itu dia masalahnya! Belum mampu mengembangkan kemampuan potensial kita 🙂 Btw, terima kasih telah mampir ke blogku ya?

  11. Baru membaca postingan yang ini sekarang. Yang jelas saya jadi miris dan terharu, karena banyak saudara kita yang harus pergi jauh-jauh dari tanah air karena di tanah air sendiri tidak ada kesempatan yang baik sementara di negeri orang pun kondisinya sebenarnya secukupnya tapi ajaibnya mampu menyejahterakan keluarga di Indonesia, artinya tingkat kesejahteraan di Indonesia untuk kalangan tertentu tidak bersahabat. 😦
    Teringat akhir tahun kemarin banyak instansi pemerintahan yang berlomba-limba menghabiskan anggaran untuk hal-hal yang kurang tepat dan sebagian untuk pembiayaan gaya hedonis pejabat-pejabat. Alasannya jika tidak habis tahun ini, takutnya tahun depan anggaran instansi tersebut dikurangi, karena dianggap tidak memerlukan sebanyak itu. Kalau saja anggaran-anggaran itu dikumpulkan lagi dan dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat pembayar pajak, subhanallah betapa saya yakin rakyat akan sayang kepada tanah air ini dan Paijo-Paijo dengan mantap akan mengatakan Indonesia adalah tanah impiannya.

    *menyadari hal ini tidak sesederhana pikiran saya yang sederhana*

    _______________________________________________________

    Yari NK replies:

    Benar mbak agoyyoga, kekayaan alam yang melimpah ini hanya menguntungkan sedikit orang, yaitu orang yang berkesempatan untuk mengelolanya (Para pengusaha yang diantarnya berKKN) dan juga para birokrat yang ‘memeras’ para pengusaha atau yang berkolusi dengan para pengusaha tersebut. Sedangkan rakyat biasa hanya bisa gigit jari. Tidak heran, banyak ‘paijo-paijo’ yang lain seperti ‘Paijo’ di atas. 😦

  12. Yang ada di kepala saya kemudian, begitu sulitkah mengajak berubah untuk kebaikan? ehm lebih tepat mungkin, begitu sulitkah bangsa kita berubah? Karena kondisi ini sudah terjadi sejak lama. Inikah yang dinamakan pembodohan itu? Sedih sekali saya… 😦

    ____________________________________

    Yari NK replies:

    Perubahan seperti itu memerlukan otak, hati nurani dan keinginan yang kuat untuk memulainya, sesuatu yang mungkin belum ada di kebanyakan bangsa kita, terutama para pengusaha yang berKKN dan juga para birokrat di negeri ini. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s