Hasil Terjemahan Komputer vs Hasil Terjemahan Manusia

Anda tentu pernah mendengar translator software atau perangkat lunak penterjemah bukan? Kalau tidak pernah, anda dapat dengan mudah mendapatkan bajakannya di toko-toko software komputer ataupun mungkin di dekat-dekat kampus anda (bagi mereka yang masih kuliah: di Indonesia, catat: di Indonesia!) ada yang menjual CD bajakan di pinggir-pinggir jalan, nah pasti ada deh satu atau dua perangkat lunak penterjemah yang dijual. Namun kalau anda serius ingin menterjemahkan suatu dokumen dari satu bahasa ke satu bahasa lainnya, jangan keburu senang dulu dengan hasil terjemahan perangkat lunak ini. Coba ambil contoh di bawah ini, sebuah cuplikan paragraf dari salah satu website berbahasa Spanyol (udah lupa nama site-nya):

‘Tenía doce años, y por primera vez comprendí que me quedaría allí para siempre. Mi madre murió cuatro años atrás y Mauricia – la vieja aya que me cuidaba – estaba impedida por una enfermedad. Mí abuela se hacía cargo definitivamente de mí, estaba visto.”

Kenapa saya ambil bahasa Spanyol? Pertama: Karena yang ada di ide saya kebetulan yang terlintas waktu itu adalah bahasa Spanyol. Kedua: Saya nggak punya perangkat lunak penterjemah Inggris-Indonesia atau sebaliknya karena (bukannya sombong) hehehe… memang saya tidak pernah butuh perangkat lunak penterjemah Inggris-Indonesia, jadi saya tidak bisa membandingkan antara hasil terjemahan manusia dan hasil terjemahan komputer. Ketiga: ada satu hal khusus yang akan saya jelaskan kemudian.

Nah, sekarang coba anda lihat hasil terjemahan komputer di bawah ini:

He/she was twelve years old, and for the first time I understood that I would stay there forever. My mother died behind four years and Mauricia – the old governess that I took care – I/you/he/she was impeded by an illness. Me grandmother charge was taken definitively of me, it was seen.

Saya menggunakan L&H Power Translator bajakan dan bagaimana hasil terjemahannya di atas? Lumayan mengerti atau lumayan membingungkan? Nah, kalau belum puas ini ada lagi hasil terjemahan lewat perangkat lunak penterjemah online di sini. Ini juga untuk membuktikan apakah hanya perangkat lunak penterjemah yang aku beli saja yang payah, atau memang secara umum perangkat lunak penterjemahnya yang payah. Nah, ini dia hasil penterjemahan otomatis online-nya:

It was twelve years old, and I included/understood for the first time that I would have left there for always. My mother died four years back and Mauricia – old aya that took care of to me – was prevented by a disease. Me grandmother was definitively made position of me, was seen.

Bagaimana?? lebih parah lagi ya? (Yang nggak mengerti bahasa Inggris sebaiknya tidak usah membaca postingan ini hehehe…) Berarti kecacadan bukan hanya milik perangkat lunak penterjemah saya aja kan? Nah, untung ada teman chatting saya señor Juan Pablo Jiménez, orang Meksiko yang sudah lama tinggal di Irvine, California, AS. Dengan bantuannya saya bisa mendapatkan terjemahannya yang enak seperti ini:

I was twelve years old, and for the first time I realized that I would be staying there forever. My mother had died four years earlier and Mauricia, the old nanny who had looked after me, was now an invalid. My grandmother was going to take charge of me forever, that was clear.

Bagaimana? Jauh bukan hasil terjemahan señor Jiménez ini dengan dua terjemahan hasil komputer di atas? Tentu saja! Itu karena komputer seringkali mengalami kesulitan jika harus menterjemahkan sebuah frasa (phrase), yaitu gabungan dari beberapa kata yang membentuk sebuah arti tersendiri dan tidak bisa diterjemahkan kata per kata. Nah, si komputer ini seringkali gagal dalam menganalisa kasus seperti ini yang pada akhirnya (dengan dicampur logika algoritma tata bahasa yang ia miliki) komputer akan menterjemahkan kata demi kata. Dan dalam kasus di atas kita melihat komputer menterjemahkan sebagai: “He/she was twelve years old, ” karena dalam kasus seperti dalam Bahasa Spanyol ini (juga di dalam bahasa Portugis, Italia dan beberapa bahasa lainnya), subyek dalam sebuah kalimat jarang disebut. Sebagai gantinya pelaku subyek diganti dengan konjugasi kata kerja. Contoh:

hablar = to speak

Yo hablo = I speak

Tú hablas = You speak

él habla = he speaks,

ella habla = she speaks, dsb.

Dalam bahasa Spanyol subyek Yo (I), Tú (You), El (He), Ella (She), dsb jarang dipergunakan sehingga menjadi

hablo = I speak

hablas = You speak

habla = he/she speaks

Kasus seperti ini juga yang menyebabkan komputer menjadi sedikit bingung. Sangking bingungnya hasil terjemahan software yang di atas diterjemahkan sebagai he/she. Sedangkan terjemahan online, mencari amannya dengan menggantinya dengan (impersonal) ‘it‘. Luar biasa! Itulah yang saya maksud sebagai hal khusus dalam point ketiga seperti yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya.

Kelemahan lain dari perangkat lunak penterjemah ini adalah jikalau dihadapkan pada kasus homograph yaitu satu kata yang mempunyai arti banyak. Contoh misalnya kata dalam bahasa Inggris: band. Nah band ini bisa berarti  strip, ikat pinggang ataupun grup musik band. Ini juga cukup menyulitkan bagi sebuah perangkat lunak penterjemah dalam menentukan pilihan kata yang tepat. Nah kini tentu sekarang anda mengetahui kelemahan-kelemahan dari perangkat lunak penterjemah, jadi kalau anda menterjemahkan sebuah dokumen atau apapun dengan menggunakan perangkat lunak penterjemah, jangan keburu pamer dulu! Karena pasti hasilnya jadi ‘lucu bin ajaib’! Rupa-rupanya algoritma penterjemahan suatu bahasa ternyata lebih sulit dari rumus-rumus matematika untuk sebuah komputer, ya?. Namun mudah-mudahan kita berharap dengan AI yang semakin canggih, kita berharap bahwa perangkat lunak penterjemah menjadi semakin baik!

7 responses to “Hasil Terjemahan Komputer vs Hasil Terjemahan Manusia

  1. Terima kasih kode latex-nya

    kalo Latex itu termasuk hasil terjemahan ga ya?

  2. Hahaha…. maksa deh mas Erander nanyanya!😀

  3. Gagal maning bos .. pusing deh. Kaya’nya kudu ambil les private deh sama Kang Yari.

  4. hmm…komputernye perlu kursus grammar, algoritma n pemrograman huahaha…

  5. Bagaimanapun juga obyek buatan (ciptaan?) seharusnya memang kalah dari sang pembuatnya (penciptanya).
    Begitu juga manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan sudah seharusnyalah menyadari ke-makhlukannya dan senantiasa tunduk pada Tuhan

  6. @erander
    Yo wis mas, nanti ta’ ajari hehehe😀

    @eNPe
    Huahahaha… iya bu. Kira-kira ibu tahu nggak ya, di mana kursus grammar khusus buat komputer? hehehe….😀

    @deking
    Wah…. analogi yg bagus tuh mr. deking… sip deh!😀 Setuju banget!

  7. Mas Yari,
    Nyesel ndak baca ini dari dulu dulu … you know🙂

    _____________________________________________

    Yari NK replies:

    Yah, tak ada kata terlambat kok……! Better late than never🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s