Monthly Archives: September 2007

Embryo manusia dan seorang wartawan bego

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ

 ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ 

(QS 23:12-14)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).  Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.  (QS 23:12-14)

embryo manusiaAhli embryo (embryologist) terkenal asal Canada yang pernah menjadi ketua persatuan ahli embryo se-Canada, Prof. Keith L. Moore (yang infonya dapat anda cari dengan mudah lewat Google) pernah menulis tentang embriologi klinis, dan ketika ia merepresentasikan bukunya di Toronto, Canada, ia cukup membuat banyak berita di halaman depan koran-koran di Canada di tahun 1990an. Ia mengatakan bahwa beberapa tahap perkembangan embryonik yang dinarasikan di dalam Al-Qurân baru diketahui dan difahami sekitar 30 tahun yang lalu! Dan hal ini diberitakan di beberapa koran terkemuka di Canada. Bahkan seorang wartawan yang bego, eh salah, maksud saya yang lumayan pinter (podho wae!), sempat bertanya kepada profesor Moore “Apakah mungkin orang-orang Arab ini, walaupun mereka bukan ilmuwan, sudah mengetahui hal ini karena mereka melakukan ‘hal yang biadab’ dengan membelah perut wanita-wanita hamil sehinga mereka mengetahui perkembangan embryo di dalamnya??” Sang profesor menjawab bahwa si wartawan lupa bahwa tahap-tahap perkembangan embryonik yang digambarkan dalam Al-Qurân dan juga gambar-gambar sang profesor yang dipresentasikannya,  semuanya hanya bisa diamati lewat mikroskop, alias tahap-tahap perkembangan embryonik yang masih mikroskopis! “Jadi….” begitu kata sang profesor melanjutkan, “Tidak penting apakah seseorang telah mengetahui hal ini 30 tahun yang lalu atau 1400 tahun yang lalu (pada saat Al-Qurân turun), namun yang jelas mereka tidak bisa melihatnya tanpa mikroskop!”

Seluruh deskripsi di dalam Al-Qurân mengenai perkembangan embryo di dalam tubuh manusia masih terlalu kecil untuk diamati lewat mata telanjang, dan memerlukan mikroskop untuk melihatnya. Karena alat tersebut baru diketemukan beberapa ratus tahun yang lalu, seterusnya Prof. Moore sempat bercanda: “Mungkin seseorang 1400 tahun yang lalu, diam-diam telah mempunyai mikroskop dan melakukan riset ini dengan seksama dan teliti sekali. Lalu ia memberitahukannya kepada (Nabi) Muhammad yang kemudian dituliskannya ke dalam Al-Qurân. Lalu ia menghancurkan peralatan mikroskopnya itu dan menjaga kerahasiannya!, Nah anda percaya dengan penjelasan itu?” katanya setengah bercanda. “Lalu, bagaimana informasi ini dapat ada di dalam Al-Qurân”? Begitu tanya sang wartawan masih penasaran. “Mungkin informasi di dalam Qurân tersebut memang diturunkan secara ilahi (divinely revealed)” jawab Prof. Moore, kalem tapi mantab!

________________________________________________ 

Tulisan ini diambil dari fotokopian stensilan berbahasa Inggris yang merupakan artikel Muhammad Anisur Rahman, seorang ahli Fisika asal Bangladesh, seorang Ph.D. bidang fisika terapan lulusan Universitas Nasional Singapura. Anda mungkin dapat menemukan informasi ini lebih lengkap lewat Google dengan mengetikkan: Keith L. Moore, atau Keith L. Moore Koran, dan lain-lain, melalui Google ini banyak pro dan kontra mengenai ayat-ayat Qurân di atas. Bagi mereka yang kontra, pendek kata mereka mengatakan bahwa ayat-ayat dalam Al-Qurân tersebut, meniru atau ‘mengkopi’ tulisan dokter Yunani kuno yang bernama Galen di tahun 150 Masehi. Dan masih menurut mereka yang kontra, ternyata menurut ilmu embryologi modern,  Galen dan juga ayat-ayat Al-Qurân di atas ternyata dinyatakan kurang tepat! (Untuk lebih jelasnya anda bisa mengklik situs mereka yang kontra yang linknya saya berikan di atas) Nah, bagaimana menurut anda? Apakah ayat-ayat Al-Qurân tersebut memang kurang tepat menurut sains modern? Ataukah penafsiran kita tentang Al-Qurân yang kurang tepat?  Atau bisa jadi pengetahuan kita mengenai embryologi walaupun dikatakan sekarang telah maju tetapi belum dapat dengan sempurna memahami proses perkembangan embryo secara 100% sehingga kemungkinan ilmu embryologi di awal abad ke-21 sekarang yang masih belum tepat? Atau anda punya pendapat yang lain? Hmmmm… bagaimana ya?

Iklan

جهاد, seperti apa ya?

جهاد Jihad

Bagi kebanyakan orang-orang yang tidak mengerti jihad terutama orang-orang barat, jihad selalu diidentikan dengan kekerasan, peperangan, pembalasan dendam, pertumpahan darah, dan lain-lain. Itu bisa dimaklumi karena banyak media massa baik di Indonesia maupun (apalagi) di dunia barat, jihad memang diinformasikan sebagai perang suci (holy war) secara tidak berimbang. Walaupun penggambaran tersebut tidak sepenuhnya salah, namun sebenarnya terdapat banyak bermacam-macam jihad, dan jihad dengan cara berperang hanyalah salah satu di antaranya. Bahkan dalam jihad berperangpun terdapat beberapa peraturan yang wajib diperhatikan dan tidak boleh asal membunuh membabi-buta.

Jihad secara harfiah sebenarnya berarti adalah “berusaha keras” (to strive). Atau arti secara meluasnya adalah seseorang harus berusaha keras dengan ikhlas untuk membimbing orang ke jalan yang benar di jalan Allah swt melalui cara yang digariskan dan diridhai oleh Allah swt dan tidak boleh sembarangan. Dahulu tugas mulia ini dibebankan oleh nabi-nabi dan rasul-rasul yang diturunkan oleh Allah swt. Para nabi tersebut dahulu benar-benar diuji dalam menyebarkan siar Allah swt dan tak jarang keselamatan jiwa para nabi tersebut terancam yang benar-benar membuat para nabi dan rasul harus berjihad (berusaha keras) untuk menyiarkan kebenaran. Namun setelah rasul terakhir (Nabi Muhammad saw), tugas mulia jihad ini kini dibebankan kepada orang-orang beriman atau kaum Muslimin yang wajib menegakkan ajaran Allah di muka bumi ini.

Seperti yang telah disebutkan jihad bukan saja dalam bentuk peperangan, perbuatan apapun di jalan Allah yang dapat menegakkan ajaran Allah atau membawa agama Islam menuju kejayaan, dapat pula disebut jihad. Jihad dapat berupa:

  • Jihad dengan hati (jihad bin qalb). Jihad di dalam hati yaitu menentang segala bentuk kebathilan (di dalam hati) melalui konsep tauhid.
  • Jihad dengan kata-kata (jihad bil lisan). Jihad menentang kebathilan lewat khutbah dan da’wah.
  • Jihad dengan pena dan ilmu (jihad bil qalam/lim). Yaitu jihad menentang kebathilan dengan mempelajari agama Islam, melalui ijtihad, dan juga mempelajari ilmu-ilmu sains yang membawa kejayaan Islam.
  • Jihad dengan tangan (jihad bil yad). Jihad ini banyak macamnya, termasuk dalam jihad ini adalah berjihad dengan harta, memelihara orang-orang tua, cacad, dll. Atau dapat juga melakukan aktivitas politik YANG BERSIH guna menegakkan ajaran Islam.
  • Jihad dengan pedang/senjata (jihad bis saif), yang ini jihad melalui perang suci untuk membela saudara-saudara seiman (yang satu ini tentu ada persyaratan-persyaratannya yang akan diuraikan belakangan).

Namun ada juga yang mengklasifikasikan jihad dengan melihat ‘lawan’ yang dihadapi. Lawan-lawan tersebut adalah: hawa nafsu, Shaitan, dan juga kaum munafiqin dan musyrikin yang ‘memerangi’ kaum muslimin. Namun apapun jihad yang dilakukan ada dua persyaratan utama yang harus diperhatikan dalam berjihad:

Pertama. Perbuatan jihad yang akan dilakukan TIDAK BOLEH termotivasi oleh masalah-masalah pribadi, kebangsaan, politik, keserakahan, kekuasaan ataupun permusuhan turun-temurun. Perbuatan jihad harus dilaksanakan untuk menjayakan nama dan ajaran Allah swt semata-mata.

Kedua. Peraturan-peraturan jihad harus diperhatikan secara hati-hati dan terus menerus, juga pelaksanaannya di lapangan. Karena jikalau kekuatan jihad telah melenceng dari niat menegakkan ajaran Allah, maka tentu saja nilai jihad yang dilakukan akan gugur.

Khusus untuk jihad yang berkenaan dengan perang senjata, ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh kaum Muslimin yang berperang karena ada lumayan banyak saya ambil beberapa saja:

– Jihad dengan senjata hanya diperuntukkan untuk membela keimanan kaum muslimin yang diserang oleh kekerasan senjata, namun senjata tidak boleh digunakkan untuk memaksakan agama kita (Islam) kepada orang lain, karena paksaan dalam beragama tidak dibenarkan. Juga di tengah peperangan andaikan musuh menginginkan gencatan senjata maka perang harus dihentikan. Ada beberapa ayat Al-Qurân yang mendukung point ini:

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: Rabb kami hanyalah Allah. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS 22:39-40)

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mumim. (QS 8:61-62)

Juga dalam perang jihad umat Muslim juga dilarang untuk memerangi pihak-pihak yang lemah atau tidak agresif dan juga mereka yang membayar jizya atau semacam pajak sebagai tanda  penyerahan diri kepada kaum Muslimin atau pemerintahan Muslim. Orang-orang non-Muslim yang membayar jizya tidak boleh diperangi atau dibunuh. Ada beberapa kelompok orang dari kaum non-Muslimin yang dibebaskan membayar jizya tetapi tetap tidak boleh diperangi atau dibunuh. Mereka itu adalah: para wanita, pria yang belum dewasa, orang-orang tua yang lemah, orang-orang sakit yang tak berdaya, Kaum non-Muslim yang tengah berada di dinas kemiliteran kaum Muslim, para pendeta dan rohaniawan, para budak yang tengah mencari kebebasan, dan juga orang-orang buta dan lumpuh.

 Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah Dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS 9:29)

Juga dalam hadits Bukhâri disebutkan bahwa penggunaan pedang (senjata) untuk kekerasan menjadi terlarang ketika pertikaian berhenti. Dan semua orang bebas untuk memeluk agamanya yang ia inginkan. Kita kaum Muslimin harus menunjukkan respek dan keramahan terhadap mereka yang tidak ingin berperang dengan kita. Adalah sama sekali tidak dibenarkan bagi kaum Muslimin untuk membunuh mereka yang non-Muslim tanpa alasan yang benar dan adil.

Sebenarnya masih lumayan banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalam berjihad dengan senjata ini yang tidak akan cukup ditulis dalam satu artikel ini. Di sini saya hanya menunjukkan bahwa Islam pada dasarnya adalah agama perdamaian yang bahkan kalau berjihad dengan senjatapun banyak hal-hal yang harus dipatuhi dan dihormati, dan jihad Islampun tidak sekejam apa yang banyak digambarkan oleh media barat, walaupun harus diakui juga banyak kaum Muslimin yang tidak mentaati aturan-aturan berjihad yang sudah digariskan sehingga sedikit banyak mencoreng kemurnian jihad.

Nah, sebagai penutup dalam postingan ini, saya akan sedikit memberikan opini saya mengenai fenomena jihad belakangan ini di negeri ini terutama yang berkaitan dengan konflik di luar negeri terutama di Irak beberapa waktu yang lalu.
Saya pribadi berpendapat bahwa perang di Irak adalah bukan perang agama. Perang tersebut merupakan perang politik yang berbau keserakahan! Di satu fihak AS dengan George Bushnya dengan dalih menemukan Weapons of Mass Destruction (WMD) atau senjata pemusnah massal yang ternyata setelah diubeg-ubeg ternyata tidak ada padahal mungkin ingin menguasai minyak Irak, di pihak lain Saddam Hussein ingin mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara diktatorial dan tidak demokratis, dan terus menerus ingin “melenyapkan” bangsa Kurdi yang notabene adalah saudara seimannya juga walaupun dengan alasan bangsa Kurdi menginginkan negeri sendiri. (Mungkin si Saddam juga lupa bahwa negara Irak juga berdiri berkat mandat dari kerajaan Inggris tahun 1932, sebelumnya negara Irak tidak pernah ada dalam peta dunia, karena negeri ini sebenarnya merupakan bagian dari Persia sebelum dicaplok oleh kerajaan Ottoman tahun 1535 hingga akhir Perang Dunia I tahun 1918, dan setelah itu menjadi mandat Inggris hingga tahun 1932).
Nah, di sini kita bisa melihat bahwa perang di Irak bukanlah perang mempertahankan agama Allah, tetapi perang mempertahankan kursi kekuasaan Saddam Hussein di pihak Irak. Walaupun mungkin ada yang berpendapat bahwa kita harus membela saudara-saudara Muslim kita yang diserang, bagaimanapun juga, ya itu sah-sah saja masalah opini/selera pribadi. Tetapi ya, sebaiknya kalau yakin bahwa itu perang jihad, silahkan langsung aja berangkat! Tidak usah banyak berkoar-koar di dalam negeri yang bikin berisik aja. Kalau mau berkoar-koar “Jihad!!” nanti kalau sudah di medan perang boleh berkoar keras-keras! Mendingan di sininya diam tetapi di sananya beraksi dengan gagah berani, dibandingkan hanya berkoar-koar “Jihad!” saja tapi sampai di sana hatinya ciut atau malah nggak jadi berangkat! Jadi yang ingin berjihad silahkan saja tetapi asal jangan banyak omong saja! Menurut saya lebih bagus berjihad dengan cara lain, yang tidak konyol, dan tidak harus terjun ke medan pertempuran.
Di sini saya hanya berpendapat bahwa segala sesuatu harus difikirkan dengan arif, kepala dingin dan sudut netral. Toh, “kemenangan” AS atas Saddam Hussein kalau difikir-fikir juga kehendak Allah juga! Kenapa? Simpel saja! Karena semua kejadian di muka bumi ini  tidak ada yang terlepas dari kehendakNya! Atau mungkin kekalahan ini juga merupakan “sinyal” dari Allah swt agar ummat Islam lebih ber-iqra’ lagi, ber-iqra’ dalam arti kata seluas-luasnya demi kejayaan ummat Islam sendiri.

Tuhan di mana ya???

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ 

(QS:50-16)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (QS 50:16) 

Saya menyukai film “Contact” yang dibintangi oleh Jodie Foster, yang posternya saya tampilkan di gambar samping teks ini. Film ini bercerita tentang seorang ilmuwan wanita (diperankan oleh Jodie Foster) yang menurut banyak koleganya “menyia-nyiakan” waktunya dengan bekerja sebagai “pencari sinyal” dari makhluk angkasa luar dalam sebuah proyek, yang bahkan banyak para koleganya yang berkata itu adalah proyek yang bodoh dan sia-sia. Dalam film ini diceritakan pula setelah ia berhasil mendapatkan sinyal dari luar angkasa dari spesies makhluk cerdas di luar angkasa berupa kode-kode cara pembangunan pesawat ruang angkasa canggih, akhirnya banyak pihak-pihak yang secara tak etis berusaha untuk mengambil alih proyeknya. Tapi bukan itu yang paling menarik dari kisah ini, yang paling menarik adalah ilmuwan wanita ini dikisahkan tumbuh sebagai seorang atheis dengan alasan sebagai ilmuwan ia sangat terbiasa dengan kata-kata “bukti dan observasi” yang selalu tidak pernah ia dapatkan jika ia ingin mengetahui Tuhan. Namun, setelah ia berangkat dengan pesawat ruang angkasanya (yang ternyata adalah sebuah pesawat transdimensional) dari Hokkaido, Jepang dan ia tidak bisa membawa bukti apapun setelah ia pulang kembali (ia mendokumentasikan seluruh perjalanannya yang singkat ke luar angkasa dengan kamera videonya, namun kamera video itu entah kenapa ternyata tidak dapat digunakan selama di perjalanan antardimensi tersebut sehingga ia tidak membawa dokumentasi apapun! ), ia “diinterogasi” oleh dewan yang mewakili banyak fihak mulai dari masyarakat ilmiah hingga fihak wakil-wakil internasional yang telah mendanai milyaran dollar perjalanan itu. Si ilmuwan wanita ini berusaha meyakinkan bahwa perjalanan angkasa itu benar-benar terjadi walaupun ia tidak dapat menunjukkan buktiknya. Ia meyakinkan dewan bahwa sebagai ilmuwan ia tidak bohong dan mengatakan bahwa perjalanan itu benar-benar terjadi. Maklum, banyak orang yang tidak percaya kepadanya karena perjalanan angkasa itu hanya berlangsung beberapa detik saja menurut waktu Bumi, meskipun menurut waktu si ilmuwan wanita dalam pesawat perjalanan berlangsung selama 18 jam. Namun dewan tetap tidak percaya bahkan ada yang menuduhnya pembohong dan tidak konsisten sebagai ilmuwan, nah ini dia menariknya, salah seorang dewan itu mengatakan bahwa bagaimana mungkin seorang ilmuwan seperti dia yang katanya tidak percaya kepada Tuhan karena tidak ada bukti namun kini ia berusaha meyakinkan dewan atas perjalanannya yang juga tidak ada bukti???

“Contact” memanglah bukan film agama, dan bukanlah pula menceritakan tetang satu agama tertentu apalagi tentang agama Islam. Film ini hanya mengisahkan tentang seorang ilmuwan yang nalurinya selalu ingin mencari yang baru untuk disumbangkan kepada umat manusia walaupun kerap kali hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Namun toh film ini telah memberikan inspirasi tanpa harus menggurui kepada banyak penontonnya terutama saya dalam meyakini keberadaan Allah. Seperti dikisahkan dalam film ini yang banyak terjadi juga di dunia nyata pada orang-orang atheis yang tidak percaya akan keberadaan Allah (Tuhan), namun bodohnya dan anehnya mereka percaya kepada keberadaan aliens atau makhluk angkasa luar padahal merekapun juga belum pernah melihat aliens! Jadi apa bedanya?? Apakah itu karena kata Tuhan udah ada sejak dari dulu sehingga dirasakan merupakan bagian dari kepercayaan kuno yang kini dibilang ‘usang’ dan ‘ketinggalan zaman’? Sedangkan aliens terlihat lebih ‘keren’ karena mereka digambarkan di film-film datang dengan pesawat angkasa dan senjata laser, anti-materi, ataupun whatever yang canggih, yang ‘cocok’ dengan kondisi modern sekarang ini? Kalau hanya dilandasi opini seperti itu, sungguh sesuatu yang naif. Saya dulu di mIRC pernah setengah berdebat dengan seorang atheis dari Jerman, ia mengatakan bahwa keberadaan Bumi, matahari dan seluruh alam semesta ini bukanlah bukti keberadaan Tuhan, namun karena ia mempercayai keberadaan aliens berdasarkan ‘logika’nya, saya balik bertanya, mana kalau begitu bukti kongkrit keberadaan aliens? Dia bilang bahwa sudah cukup banyak orang/saksi yang menyaksikan penampakan pesawat luar angkasa aliens tersebut! Saya hanya tertawa dalam hati dan malas meneruskan ‘perdebatan’, saya fikir bukti seperti itu jauh lebih buruk dibandingkan bukti alam semesta ini sebagai bukti keberadaan Allah (Tuhan). Apalagi selama ini, saksi-saksi tersebut selalu tidak bisa dikonfirmasikan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kesaksiannya, sungguh sesuatu yang menggelikan! Ternyata orang Jerman ada juga yang bloon ya! Namun orang Indonesia ada juga yang lebih bloon lagi yang lebih percaya kuntilanak,  gendruwo ataupun mbah Jambrong dibandingkan Allah atau Tuhan.

Lima ratus tahun yang lalu, sebelum ilmuwan Belanda Antonie van Leeuwenhoek menemukan mikroskop, manusia tidak dapat melihat jazad-jazad renik ataupun makhluk-makhluk mikroskopik, namun tidak bisa melihat belum berarti tidak ada bukan? Bahkan di zaman modern ini masih banyak benda-benda yang belum bisa dilihat manusia karena kecilnya ataupun jauhnya. Sub-sub partikel yang lebih kecil dari atom seperti quark, muon ataupun gluon secara fisik belum dapat dilihat oleh manusia karena kecilnya, juga planet-planet di luar tata surya kita yang letaknya sangat jauh juga belum dapat dilihat secara fisik dan nyata, keberadaan planet-planet tersebut baru hanya bisa dideteksi keberadaannya lewat observasi sinar bintang di dekatnya. Namun tidak bisa dilihat secara fisik bukan berarti tidak ada bukan? Juga gelombang elektromagnetis yang panjang gelombangnya lebih panjang dari infra-merah ataupun yang lebih pendek daripada ultraviolet, seperti gelombang radio, televisi, komunikasi selular dan sebagainya yang tidak bisa dilihat dengan mata ataupun dirasakan dengan panca indra lainnya, namun toh semuanya itu ada dan nyata! Nah, jikalau teknologi manusia saat ini belum bisa melihat subpartikel ataupun planet yang jauh yang merupakan ciptaan Allah juga, apalagi kita mau melihat Sang Penciptanya yang Maha Agung dengan teknologi kita yang masih ‘primitif’ ini! Tapi yang jelas, kita harus percaya bahwa Allah itu ada seperti ayat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw di atas, bahwasannya Allah dapat berada dimana-mana (omnipresent), bahkan keberadaan Allah swt dapat lebih dekat dari urat nadi kita sendiri!

Jadwal Ramadhan di Kota-Kota Besar Dunia

solar path in the sky

(Chart courtesy of http://www.ummah.net)

Berhubung karena saya masih mencari topik-topik keagamaan yang cocok buat ditampilkan di blog saya selama bulan Ramadhan ini, maka untuk sementara waktu saya akan memposting postingan iseng ini. Postingan iseng ini berupa jadwal Ramadhan di beberapa kota besar di dunia, jadi bagi yang belum pernah/jarang naar het buitenland gaan, bisa mengira-ngira waktu sahur dan waktu buka di negeri-negeri orang. Namun karena Ramadhan tahun ini kebetulan dekat dengan autumnal equinox yaitu dimulainya musim gugur secara astronomis, maka lamanya berpuasa di berbagai tempat di bumi ini hampir seragam. Untuk itu saya juga akan menampilkan jadwal waktu-waktu Ramadhan di beberapa kota besar dunia andaikan terjadi di dekat waktu-waktu summer solstice di bulan Juni ataupun winter solstice di bulan Desember, agar kita mengetahui seberapa besar variasi lamanya berpuasa di berbagai tempat di Bumi, terutama untuk kota-kota di dunia yang berlintang tinggi. Penentuan jadwal Ramadhan ini tentu sangat erat dengan penentuan waktu shalat, untuk itu saya akan mereviu sedikit tentang bagaimana penentuan masuknya waktu-waktu sholat. Untuk itu saya uraikan sedikit cara penentuan waktu-waktu sholat:

Shubuh (Fajr): Seperti gambar di atas, Shubuh dimulai pada saat fajar pertama mulai terlihat di cakrawala, hal ini terjadi pada saat matahari berada di posisi twilight begins pada diagram di atas, biasanya saat fajar dimulai pada saat matahari berada 15o sampai 18o di bawah cakrawala atau horizon, dan Shubuh berakhir pada saat piringan matahari mulai terlihat di cakrawala yaitu di posisi sunrise pada diagram di atas.

Zuhr : Zuhr (Zuhur) dimulai pada tengah hari, yaitu pada saat matahari berada di titik tertinggi atau titik zenith, yaitu di posisi mid-day pada diagram di atas. Ada ulama yang mengatakan bahwa pada saat matahari tepat berada pada titik tertinggi kita haram melakukan sholat, untuk itu kita harus menunggu 3 menit setelah tengah hari agar piringan matahari benar-benar meninggalkan titik zenith.

Catatan: Tengah hari secara astronomis TIDAK HARUS PERSIS dengan pukul 12 siang!

Asr (Asar) : Asar ada 2 metode, yaitu metode Shafi dan metode Hanafi. Pada metode Shafi Asar dimulai pada saat panjang bayangan benda mempunyai panjang 1 kali bayangan benda tersebut ditambah panjang bayangan pada saat waktu tengah hari. Sedangkan menurut metode Hanafi, Asar dimulai pada saat panjang bayangan benda mempunyai panjang 2 kali bayangan benda tersebut ditambah panjang bayangan pada saat waktu tengah hari. Di Indonesia dipakai metode Shafi sedangkan metode Hanafi banyak dipakai di daerah-daerah yang berlintang tinggi.

Maghrib: Dimulai pada saat piringan matahari terbenam di bawah cakrawala, dalam diagram di atas terletak di posisi Sunset, waktu maghrib berakhir pada saat cahaya senja benar-benar telah hilang dari cakrawala atau pada diagram di atas terletak pada posisi Twilight Ends.

Isha: Isha dimulai pada saat cahaya senja telah hilang sama sekali di ufuk cakrawala atau di posisi Twilight Ends, sedangkan waktu shalat Isha berakhir adalah pada saat cahaya Fajar pertama muncul di cakrawala atau di posisi Twilight Begins. Seperti halnya Twilight Begins, posisi matahari pada Twilight Ends juga berada pada saat matahari berada 15o hingga 18o di bawah cakrawala.

Nah, sebagai penutup saya akan sajikan jadwal Ramadhan untuk hari diterbitkannya postingan ini (20 September), serta pada saat winter (22 Desember) dan summer solstice (22 Juni) untuk beberapa kota besar di dunia, nah bandingkan sendiri panjangnya hari dan malam untuk beberapa kota tersebut! Jadwal Ramadhan yang saya berikan hanyalah waktu Shubuh dan Maghrib saja untuk menghemat tempat, dan perlu dicatat bahwa jadwal ini bukanlah resmi, jadwal resmi mungkin bisa berbeda hingga beberapa menit. Kalkulasi menggunakan freeware PrayerMinder yang diinstal di Palm LifeDrive saya.

Kota-kota yang merah adalah kota-kota sub-tropis selatan: Sydney, Australia dan Auckland, Selandia Baru. Yang biru adalah kota-kota sub-tropis utara, sedangkan yang hitam (Singapura dan Mekah) adalah kota-kota yang secara geografis terletak di daerah tropis. Kita melihat di bulan Juni (musim panas), belahan bumi utara mengalami siang hari yang panjang, sebaliknya di belahan bumi selatan, siang hari agak pendek. Sedangkan di bulan Desember kebalikannya, belahan bumi selatan yang mengalami siang hari yang panjang, sedangkan belahan bumi utara mengalami siang hari yang agak pendek. Waktu-waktu di tabel bawah, sudah disesuaikan sesuai Daylight Savings Time (DST) untuk waktu musim panas di masing-masing kota kecuali untuk Tokyo, Mekah dan Singapura yang tidak mengenal DST.

Kota Fajr (22 Jun) Maghrib (22 Jun) Fajr (22 Des) Maghrib (22 Des) Fajr (20 Sep) Maghrib (20 Sep)
Auckland 06.00 17.12 04.05 20.40 04.49 18.15
London 03.39 21.21 05.59 15.53 05.01 19.07
Los Angeles 03.57 20.12 05.24 16.52 05.14 18.59
Makkah 04.13 19.05 05.34 17.43 04.54 18.20
Moscow 03.49 22.18 06.36 15.57 05.29 19.39
New York 03.18 20.30 05.37 16.31 05.07 18.59
Paris 04.39 21.57 06.44 16.55 05.52 19.57
Singapore 05.45 19.12 05.46 19.03 05.46 19.02
Sydney 05.30 16.53 03.56 20.05 04.26 17.48
Tokyo 02.36 18.59 05.15 16.30 04.00 17.43

Hubungan Agama dan Sains yang Saya Ketahui

molekul airmolekul Airsistem tata suryasel eukariotik

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً  (QS:18-109)

Katakanlah:”Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).  (QS 18:109)

(La police arabique c’est grâce à http://islamfrance.free.fr)

Pada waktu saya sekolah dulu, terutama waktu saya SMA, yang namanya pelajaran Agama tuh paling bikin saya mengantuk. Apalagi kalau sudah membicarakan masalah akhlak dan budi pekerti, bukannya berarti akhlak saya sudah baik sehingga membikin saya bosan, bukan, bukan begitu, tetapi kok membicarakan akhlak dan budi pekerti di dalam pelajaran Agama (Islam) yang saya ikuti rasanya begitu-begitu saja, dari zaman kuda gigit besi (rumus kimia: Fe) dulu hingga zaman robot gigit polyethylene (rumus kimia (C2H4)n) sekarang! Namun pandangan saya terhadap agama (Islam) banyak berubah, terutama setelah saya  membaca buku-bukunya Harun Yahya yang sedikit banyak membuka mata saya, bahwa agama bukanlah hal yang itu-itu melulu, seperti yang diajarkan guru-guru agama saya dulu (jangan salah lho! Tidak ada yang salah dengan pelajaran guru-guru agama saya waktu itu, hanya untuk sebagian orang termasuk saya kok rasa-rasanya agak membosankan begitu.). Ternyata sebenarnya agama dan sains sangatlah dekat (bukan dipaksakan didekat-dekatkan!), tetapi inilah kesimpulan seorang amatiran seperti saya mengenai hubungan antara agama dan sains!

Begini….. sebagai ummat Islam tentu kita semua mempercayai bahwa kitab suci Al-Qurân adalah diturunkan oleh Allah swt. Namun sadarkah kita bahwa sainspun diturunkan dan diciptakan oleh Allah swt juga? Contoh sederhana….., tentu semua anda mengetahui bahwa konstanta π (Pi = rasio antara keliling lingkaran dan diameternya) adalah 3,14159. Sekarang kenapa π sebesar 3,14159? Jawabannya, tentu karena Allah telah menentukan dan menciptakannya demikian! Manusia hanya menemukannya dan menciptakan simbolnya berupa π, yaitu simbol untuk rasio keliling lingkaran dengan diameternya! Itu saja! Begitupula dengan rumus relativitas Einstein yang terkenal yaitu e=mc2, andaikan rumus itu valid dan telah teruji kebenarannya secara ilmiah, tentu saja rumus itu yang menetapkan adalah Allah swt, sementara Einstein hanya menemukannya saja, dan manusia hanya menciptakan simbol-simbolnya saja, seperti m untuk massa benda dan c untuk kecepatan cahaya, dan lain-lain. Tentu itu juga berlaku untuk rumus-rumus matematika, fisika, ataupun kimia yang lain, semua itu adalah ciptaan Allah swt (juga ilmu Biologi tentu saja), manusia hanya menemukan dan mempelajarinya saja. Rumus-rumus tersebut tentu dapat digunakan oleh manusia untuk menjawab tantangan-tantangan alam dengan cara memahami fenomena alam dan mekanisme-mekanismenya dan juga untuk membuat peralatan-peralatan mulai dari yang sederhana sampai yang sangat canggih. Hal ini tentu saja berguna bagi manusia untuk mengambil keuntungan-keuntungan yang disediakan oleh alam (seperti misalnya penggalian minyak bumi, pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai) yang tentu saja memerlukan teknologi canggih, dan teknologi canggih itu pasti berdasarkan hukum-hukum alam dan rumus-rumus fisika atau matematika yang diciptakan oleh Allah swt.

Di sini tentu saja sains yang saya maksudkan, yang ciptaan Allah swt adalah ilmu-ilmu alam. Saya tidak tahu apakah ilmu-ilmu sosial seperti ilmu hukum, ekonomi, manajemen, sosiologi, dan lain-lain adalah ilmu ciptaan Allah atau manusia, ketika saya bertanya kepada teman saya yang sarjana sosial, dia menjawab ilmu-ilmu itu juga buatan Allah, karena walaupun ilmu itu dari manusia, tetapi manusia adalah ciptaan Allah juga, maka ilmu-ilmu tersebut, mau nggak mau juga ilmu buatan Allah. Hmmm… nggak tahu deh…. menurut saya sih jawabannya agak sedikit maksa, tetapi yang jelas menurut saya ilmu yang langsung dari Allah (ilmu-ilmu alam) ciri-cirinya adalah sangat sulit dimanipulasi oleh manusia, sedangkan ilmu-ilmu yang buatan atau dari manusia sangat mudah dimanipulasi. Ambil saja contoh ilmu Hukum, lihat aja tuh ilmu sepertinya gampang sekali dimanipulasi atau dibengkokan ke sana ke mari atau diubah-ubah seenak udelé dhewe, apalagi ilmu politik! Sejarahpun dapat dipelintir seenaknya! Coba rumus fisika, tentu akan sulit dimanipulasi jikalau rumus itu sudah terbukti benar secara ilmiah. Moso, rumus e=mc2 diganti seenaknya jadi e=mc3 atau e=m2c, ya tentu saja akan menjadi berantakan! Begitupula dengan π, mana bisa diganti-ganti dari 3,14159 seenaknya menjadi 1,2345 biar gampang ingatnya atau biar gampang ngitungnya ubah aja jadi 1! Ya nggak mungkin lah! 😀 Jadi apakah sekarang ilmu-ilmu sosial derajadnya lebih ‘rendah’ daripada ilmu-ilmu alam? Ya, saya nggak bilang begitu! Bagaimanapun juga semua ilmu sangat berharga untuk dipelajari, juga ilmu-ilmu sosial minimal untuk kepentingan diri sendiri. Tetapi yang jelas, yang saya perhatikan, seseorang yang sarjana ilmu-ilmu alam atau keteknikan lebih mudah menguasai ilmu-ilmu sosial daripada sebaliknya. Yah, sayapun yang bukan sarjana ilmu-ilmu alam ataupun engineering juga berbesar hati mengatakan demikian. Mungkin dari rekan-rekan ada yang mempunyai pendapat yang berbeda, apakah ilmu-ilmu sosial adalah buatan Allah juga atau buatan manusia?

Nah, sekarang kita kembali lagi ke masalah sains di atas! Saya pribadi dengan mempelajari sains (meskipun belajarnya nggak canggih2 amat) atau paling sedikit membaca artikel-artikelnya, sangat membantu untuk mempercayai keberadaanNya. Dahulu di kelas-kelas pelajaran agama, saya sering diberitahu tentang bukti-bukti keberadaan Allah swt seperti penciptaan manusia dan seluruh alam ini dikatakan pasti ada yang mencipta dan tidak mungkin terjadi dengan begitu saja. Meskipun saya berusaha untuk mempercayainya, namun toh dalam hati kecil saya tetap bertanya-tanya “kenapa manusia dan seluruh alam ini harus ada yang menciptakan?” Ya, itu karena dulu saya belum memahami bagaimana canggihnya ciptaan Allah itu. Contoh paling sederhana adalah sebutir telur yang terlihat sangat sederhana! Tidak sadarkah kita bahwa telur itu sebenarnya jauh lebih canggih dibandingkan peralatan teknologi yang pernah dibuat manusia sekarang seperti mobil, komputer, dan lain-lain? Mungkin andaikan tanpa bantuan “pantat ayam” (pinjam istilahnya Gus Dur! 😀 ) manusia pasti akan sangat kesulitan untuk membuat telur! Andaikan telur mungkin bisa dihasilkan di pabrik-pabrik secara artifisial, harganya bisa melambung melebihi sebuah mobil Mercedes, karena memang jelas membuat telur “tanpa bantuan pantat ayam” memerlukan teknologi yang jauh lebih canggih dibandingkan membuat mobil Mercedes. Jadi kita harus berterimakasih kepada Allah yang telah menciptakan ayam sebagai pabrik telur yang ekonomis! 😀 Nah, kalau kita percaya bahwa mobil Mercedes yang “primitif” harus ada yang menciptakan, maka adalah sebuah kebodohan bahwa sesuatu yang lebih canggih seperti telur (yang berasal dari ayam) dikatakan tidak ada yang menciptakan. Apalagi kalau kita bicara tentang tubuh manusia! Tubuh manusia jelas lebih canggih lagi, anda mungkin tidak dapat membayangkan kecanggihan ribuan enzim dan hormon yang bekerja begitu sempurnanya di dalam tubuh manusia, kalau anda tidak mempelajarinya, anda tidak akan tahu sehingga anda akan memandangnya enteng! Jangankan tubuh manusia, darah saja adalah sebuah produk teknologi Allah yang sangat canggih! Saya dulu pernah melihat acara Beyond 2000 di televisi dalam upaya manusia untuk membuat darah tiruan! Namun hasilnya masih sangat jauh dibandingkan darah asli. Darah artifisial tersebut hanya bisa membawa oksigen (O2) keseluruh tubuh, padahal fungsi darah tidak hanya untuk mengangkut oksigen tetapi juga untuk pengatur suhu tubuh, pengangkut zat-zat makanan ke seluruh tubuh, pengatur keasaman tubuh, berfungsi sebagai immunologis, dan lain sebagainya. Apakah anda akan mengatakan bahwa produk yang lebih canggih dibandingkan mobil Mercedes anda, tidak ada yang menciptakan?

Sebagai penutup postingan ini, saya berpendapat bahwa kita (khususnya ummat Islam) haruslah menguasai sains dan teknologi, yang merupakan ayat-ayat Allah yang tersebar sangat luas yang tidak tertulis di jagad raya ini, seperti yang disebutkan di ayat Qurân di atas. Mudah-mudahan dengan mempelajari sains, kita dapat mendekatkan diri kita kepada Allah sehingga selain kita dapat menguasai teknologi, Insha Allah kita juga mendapatkan pahala yang sama kalau kita mempelajari atau membaca Qurân, karena kedua-duanya adalah ciptaan Allah. Usahakanlah dalam usaha kita menguasai sains dan teknologi, kita niatkan sebagai ibadah. Jangankan belajar sains dan teknologi, katanya AA polyGYMy aja, “Senyum itu ibadah!”. Senyum aja ibadah, apalagi belajar sains dan teknologi! Kita lihat saja, semua bangsa yang menguasai sains dan teknologi tidak ada yang miskin dan terbelakang. Coba sebut saja negara mana yang menguasai sains dan teknologi tapi terbelakang??? O ya, tentu kita juga tidak akan meninggalkan ilmu-ilmu sosial, karena bagaimanapun juga ilmu-ilmu sosial (termasuk seni dan sastra) yang dapat menyumbangkan kesejahteraan (kesejahteraan dalam multifaset bukan hanya material tentunya!) bagi umat manusia tentu sangat berguna pula, dan jika kita mempelajarinya juga dengan niat ibadah, insha Allah akan mendapat pahala pula.

Keajaiban angka 19 dalam Qurân

Basmallah

Di bulan Ramadhan ini, aku sempat bingung, mau membahas apa ya untuk blogku ini. Aku ingin sekali menyajikan sesuatu yang lain yang topiknya sedikit banyak cocok untuk bulan Ramadhan ini. Ya, saya ingin sekali menayangkan artikel yang sedikit unik, yang jarang ditemui, yang tidak hanya tips-tips menghadapi puasa atau juga mengenai do’s and don’ts during Ramadhan, karena saya lihat sudah banyak para rekan blogger yang menulis tentang itu dengan baik sekali. Setelah melalui lautan Google yang luas mengenai hal-hal agama Islam, yang sayangnya kebanyakan lautan tersebut berbahasa Inggris dan Perancis (karena lautan yang berbahasa Indonesia mengenai agama Islam masih kalah jauh luasnya dibandingkan lautan dalam kedua bahasa tersebut, aneh tapi nyata!), dan setelah hampir saya kecapekan dalam melayari lautan Google tersebut, namun sesuai dengan sifat saya yang tidak mudah menyerah, akhirnya saya menemukan satu topik bahasan yang agak unik! Apakah itu?

Tadinya judul di atas mau saya beri judul ‘Keajaiban Numeris dalam Al-Qurân’, ya, salah satu hal yang paling saya suka di dalam topik agama adalah jikalau dikaitkan dengan sains. Karena saya sendiri pada dasarnya adalah orang yang suka dengan sains meskipun saya bukan seorang scientist. Mengenai mengapa saya suka sains, mudah-mudahan (Insha Allah) akan saya utarakan kapan-kapan. Ok, mari kita kembali ke topik di atas. Tadinya saya mau menamai topik artikel ini dengan judul seperti di awal paragraf ini (yang dicetak tebal), namun karena banyak sekali artikel mengenai keajaiban-keajaiban numeris dalam Al-Qurân di banyak sekali situs-situs berbahasa Inggris dan Perancis di antaranya yang ini, iniini dan ini, serta masih banyak lagi! Maka saya sempitkan topiknya menjadi ‘Keajaiban 19 dalam Qurân’ saja. (Keajaiban numeris dalam Al-Qurân bukan hanya dalam angka 19 saja). Jikalau anda ingin membaca bahasan keajaiban numeris lainnya, silahkan anda cari sendiri di Google.

Sekarang mari kita mulai dengan menghitung jumlah huruf basmallah di atas: Mudah bukan? bâ-sîn-mîm-alîf-lâm-lâm-hâ-alîf-lâm-râ’-hâ-mîm-nûn-alîf-lâm-râ’-hâ-yâ’-mîm. Ya, semuanya berjumlah 19. Sekarang mari kita bermain-main dengan angka 19 ini, ok? Bagi anda yang bisa bahasa Perancis, silahkan bisa langsung lihat di sini! Yang nggak bisa, saya akan mengutarakannya beberapa untuk anda!

  • Kita mengetahui bahwa Basmallah di atas, barusan kita hitung mempunyai 19 huruf.
  • Sekarang, Al-Qurân mempunyai 114 surah, yang berarti tepat 19 X 6, yang berarti 114 adalah kelipatan 19.
  • Nah, Al-Qurân mempunyai 114 surah, sekarang kita coba jumlahkan angka 1 hingga 114 yaitu (1+2+3+…+114), untuk mempercepat bisa pakai rumus \frac{N^{2} + N}{2} kalau angkanya dimasukkan maka akan menjadi \frac{114^{2} + 114}{2} = 6555. Nah, 6555 ini juga kelipatan 19! Karena jika 6555 dibagi 19 adalah persis 345.
  • Basmallah disebutkan 114 kali dalam Al-Qurân, walaupun basmallah tidak disebutkan dalam surah ke-9 (At-Taubah), namun basmallah disebutkan dua kali dalam surah ke-27 (An-Naml), dan lagi-lagi 114 adalah kelipatan 19!
  • Nah, di antara Basmallah yang hilang atau tidak disebutkan di Surah ke-9, hingga terdapat adanya ekstra Basmallah di surah ke-27, ternyata tepat terdapat…… 19 surah! (Surah kesembilan juga dihitung karena Basmallah yang hilang berada di awal surah).
  • Nah, ini dia!, ajaibnya coba sekarang kita jumlahkan angka 9 hingga 27 (9+10+11+…+27), biar cepat mencarinya dapat menggunakan rumus: S_n = \frac{1}{2} n [ 2a + (n-1) b] , jadinya, \frac{1}{2} 19 [2\times\:9\:+\:(19-1)1] jumlahnya adalah 342!, lagi-lagi kelipatan 19!!!!!
  • Nah, ternyata angka 342 ini adalah jumlah kata yang terdapat antara dua Basmallah di surah ke-27 (Surah An-Naml)! Silahkan hitung sendiri! 😀
  • Bukan itu saja! Kalau kita perhatikan, basmallah ekstra yang muncul di surah ke-27 itu berada di ayat 30. Nah, sekarang kita jumlahkan surah dan ayatnya ternyata berjumlah 57, yang lagi-lagi kelipatan 19!
  • Menurut situs bahasa Perancis yang saya baca itu (saya percaya aja deh! 😀 , yang nggak percaya silahkan cari sendiri ya!) di dalam seluruh Qurân, disebutkan 30 angka-angka yang berbeda yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 19, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 99, 100, 200, 300, 1000, 2000, 3000, 5000, 50.000, dan 100.000. Kalau dijumlahkan semua angka tersebut akan berjumlah 162.146, yang kalau dibagi 19 adalah persis 8534. Ini menunjukkan lagi-lagi 162.146 adalah kelipatan 19!
  • Bukan itu saja di dalam Qurân juga disebutkan 8 buah bilangan pecahan: yaitu \frac{1}{10} , \frac{1}{8} , \frac{1}{6} , \frac{1}{5} , \frac{1}{4} , \frac{1}{3} , \frac{1}{2} , \frac{2}{3} , nah kalau angka 30 dan angka 8 yang berwarna merah di atas dijumlahkan, maka jumlahnya adalah 38, yang lagi-lagi kelipatan 19!

Nah, masih banyak lagi sebenarnya keajaiban-keajaiban numeris lainnya dalam Al-Qurân, bukan hanya yang menyangkut angka 19, tetapi juga keajaiban-keajaiban numeris lainnya. Keajaiban-keajaiban numeris tersebut fungsinya adalah sebagai salah satu  alat pengendali dalam Qurân, agar setiap distorsi yang dilakukan terhadap Al-Qurân oleh fihak-fihak yang tidak bertanggungjawab akan dapat dengan mudah terlihat!

Kenapa harus cuma 5 atau 6 agama saja?

Ini sebenarnya postingan yang mungkin kurang cocok dirilis di bulan Ramadhan ini, tetapi entah kenapa kok malah justru sekarang saya baru teringat akan hal ini, padahal pertanyaan ini sudah lama mengendap di benak saya. Ceritanya sih simpel-simpel saja, begini: Di Negeri kita ini kan katanya negara yang pluralistik, yang mengakui kemajemukan bangsanya termasuk agamanya, dan bukan negara yang berazaskan pada satu agama saja. Tetapi kenapa ya, yang diakui hanya 5 atau 6 agama saja??

Padahal yang saya tahu, di dunia ini banyak sekali agama-agama yang ada, tetapi tidak diakui oleh negara ini, seperti Baha’isme, shinto, zoroaster, taoisme, dll. Belum lagi agama-agama baru yang bermunculan seperti neopaganisme, UFOisme, digitalisme (believe it or not!), dll, cari sendiri di Google atau Wikipedia, anda akan menemukan banyak sekali agama-agama baru! Mungkin juga termasuk agamanya Lia (Aminudin) Eden, dll. Terlepas dari sesat apa nggaknya ajaran mereka, tergantung persepsi masing-masing, tetapi kenapa pemerintah seharusnya hanya mengakui 5 atau 6 agama resmi aja? Apa alasannya ya? Apakah karena takut kebanyakan agama nanti administrasinya rumit? Atau karena agama-agama lain tersebut dianggap sesat??

Terus terang saya sendiri pribadi menganggap agama-agama tersebut memang sesat, tetapi belum tentu di dalam persepsi mereka yang menganut agama tersebut, agama-agama tersebut adalah sesat! Toh menurut kacamata Islam, agama-agama lainpun termasuk Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain juga adalah agama-agama ‘sesat’, begitupula dengan yang Kristen, menganggap Islam dan agama-agama yang lainnya adalah ‘sesat’, semua agama menganggap ajarannyalah yang paling benar. Jadi apa bedanya?? Masalahnya bukan mencari agama mana yang paling benar atau yang salah, tetapi kenapa yang diakui cuma 5 atau 6 agama saja? Atas dasar apa alasannya? Toh, negara kita katanya negara majemuk, dan tidak berlandaskan kepada satu agama saja. Lantas, kenapa pilih kasih ya? Lagipula kenapa kita musti ‘takut’ menerima kedatangan agama-agama lain? Bukankah kalau iman kita sudah kuat, kita tidak perlu takut untuk menerima mereka yang dikhawatirkan akan ‘meruntuh’kan iman kita? Kalau kita takut dengan kedatangan mereka karena alasan itu berarti iman kita yang belum kuat dong?? Lagipula dalam beragama  kan juga tidak boleh ada pemaksaan? Kita hanya boleh menasihati dan memberi ceramah bagi mereka yang ‘sesat’ tetapi kita tetap tidak boleh memaksa! Bukankah begitu?

Ya… okelah… segitu dulu uneg-uneg dari saya. Cukup pendek saja! 😀 Sekarang saya mau kembali kerja lagi, maklum masih jam kantor! 😀 Huehehehe…! Dan saya ucapkan selamat saum atau puasa bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa.