Tadinya mau 12 Oktober tetapi……

Tadinya sejak awal Ramadhan (bahkan jauh sebelumnya!) saya sudah mengetahui bakal ada dualisme lagi dalam penentuan tanggal 1 Syawal 1428H. Dan sejak pertama kali saya mengetahui adanya dualisme saya sudah menetapkan bahwa saya akan memilih lebaran tanggal 12 Oktober. Hmmmm apa saya ‘pengikut’ Muhammadiyah? Hmmm… nggak juga deh! Malah saya tidak perduli dengan ormas-ormas Islam seperti itu. Kalau ditanya saya Islamnya ‘ngikut’ mana?? Muhammadiyah, NU, atau lainnya? Jawab saya: saya sih hanya Islam, bukan Muhammadiyah, bukan NU, dan juga segala bukan yang lainnya sebagai embel-embel Islam. Lalu kenapa pada awalnya saya pilih tanggal 12 Oktober?? Oooo… itu karena:

  1. Saya maunya pilih lebaran yang cepet!!   😛
  2. Saya cenderung untuk memakai  metode hisab (perhitungan) daripada rukyat (penampakan hilal).  Yah,  saya menyadari bahwa selama ada dua metode hisab dan rukyat, selama itu pula pasti ada kemungkinan untuk berbeda awal Ramadhan dan Idul Fitrinya.  Yang menggunakan metode hisab tentu cenderung untuk  lebih cepat dalam penentuan awal bulannya (termasuk penentuan Ramadhan dan Syawal), mana ada yang menggunakan metode hisab cenderung lebih lambat daripada yang menggunakan metode rukyat!
  3. Mengapa saya menggunakan metode hisab? Pertama, ya tentu saja dalam Al-Qurân tidak ada pelarangan dalam menggunakan metode hisab. Kedua, penggunaan metode hisab hasilnya cenderung lebih bisa diprediksi, untuk itu hasilnya cenderung lebih seragam sehingga lebih bisa menyatukan ummat Islam di seluruh dunia.
  4. Pemerintah sebenarnya juga menggunakan metode hisab secara tidak langsung. Hanya saja standard penentuan awal bulannya berbeda, pemerintah (Depag) menentukan awal bulan dimulai pada saat bulan sudah setinggi berapa derajad (lupa lagi berapanya!) dari matahari, pada saat matahari terbenam. Sisanya ya menggunakan metode hisab juga! Wong kalendernya aja udah dicetak setahun sebelumnya, ya pasti itu menggunakan metode hisab juga! Mana bisa hilal awal bulan Syawal 1428H dilihat setahun sebelumnya!!

Namun, setelah saya cek dan cek lagi, walaupun sebenarnya keputusan berlebaran tanggal 12 Oktober tidak salah juga, namun akhirnya saya memutuskan untuk berlebaran tanggal 13 Oktober! Hal ini disebabkan karena:

  1. Pemerintah pasti resmi menetapkan 1 Syawal 1428 H jatuh pada tanggal 13 Oktober 2007. (Emang gue pikirin! 😛 )
  2. Nah, ini dia pertimbangan seriusnya! Saudi Arabia dan Mesir, dua negara yang selalu kompakan dalam penentuan awal bulan, dari dulu sudah meninggalkan metode Rukyat. Sebelum tahun 1420H atau tahun 1999, Saudi Arabia menetapkan metode yang sedikit ekstrim dalam menentukan setiap awal bulan, yaitu jikalau pada saat matahari terbenam umur bulan sudah 12 jam atau lebih, maka hari yang berakhir pada hari itu (pada saat matahari terbenam) sudah memasuki tanggal 1 bulan baru, walaupun pada matahari terbenam sebelumnya, yaitu awal hari itu, belum terjadi Ijtima atau konjungsi bulan! (Ingat: dalam penanggalan Islam, hari dimulai pada saat matahari terbenam bukan pada jam 12 tengah malam). Jadi dahulu perbedaan Hari Raya di Saudi Arabia dan Indonesia bisa mencapai 2 – 3 hari! Namun setelah tahun 1420H, Saudi Arabia (dan Mesir) mengubah ketentuan awal bulan baru, yaitu awal bulan harus dimulai pada hari pertama saat bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam. Nah dengan demikian perbedaan hari Raya antara Saudi Arabia dan negara-negara lain termasuk Indonesia bisa diminimasi menjadi maksimal satu hari saja. Untuk itu saya berikan tabel terbenamnya matahari dan bulan untuk Bandung dan Mekkah tanggal 11 dan 12 Oktober 2007.
Kota/Tanggal Matahari Terbenam Bulan Terbenam
Bandung, 11 Okt 2007 17:43:59 17:46:46
Bandung, 12 Okt 2007 17:43:54 18:30:56
Mekkah, 11 Okt 2007 18:01:31 18:00:54
Mekkah, 12 Okt 2007 18:00:40 18:34:13

Dari tabel di atas kita bisa melihat bahwa tanggal 11 Oktober 2007 (Kalkulasi menggunakan freeware RiseSet for Palm OS) baik di Bandung (tempat saya tinggal) maupun di Makkah perbedaan antara terbenamnya matahari dan terbenamnya bulan belum mencapai 5 menit, baru pada keesokan harinya tanggal 12 Oktober 2007, syarat tersebut baru terpenuhi baik di Bandung maupun di Mekkah (kota-kota lain di Indonesia terutama di Jawa dan Sumatra, perbedaannya juga tidak terlalu banyak dengan kota Bandung, dapat dengan mudah dihitung dengan freeware MoonCalc 6). Nah, untuk itu saya memutuskan untuk diri saya sendiri bahwa saya akan berlebaran tanggal 13 Oktober 2007 pada hari Sabtu! 😛

Iklan

19 responses to “Tadinya mau 12 Oktober tetapi……

  1. Selamat Pagi Pak! Terima Kasih atas pengajaran Bapak. Tanggal 12 atau 13 Oktober hari Idul Fitri umat Islam kita semua harus menghargainya.Tinggal 4 atau 5 hari hari kemenangan itu akan tiba.Mudah2an dalam selang beberapa hari yang masih tersisa rekan2 muslim dan muslimah tetap setia dengan perintah Allah ini.Semoga hari kemenangan menjadi kemenangan semua umat Islam.Syadu3.

  2. Saya mah ngikut aja deh….. pusing soalnya kalo harus milih, yang mana yang bener juga kita ngga tau, asal 30 hari berarti dah bener kan ?

  3. @ Mubarrok

    Ya, berkonsentrasi agar ibadah saum kita lebih khusyuk di akhir2 bulan Ramadhan ini lebih penting dibandingkan meributkan kapan permulaan bulan Syawal jatuh! 🙂

    @ raffaell

    Iya, patokan gampangnya sih 1 bulan qomariyah harus antara 29 dan 30. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. 🙂

  4. Kok sering ga sama, ya? Bingung juga nih? he3…

  5. @ Hanna

    Iya, mbak Hanna, itu karena kriteria penetapan bulan barunya berbeda2 antar ormas atau antar negara2 Islam, jadinya yah begitulah kadang sama, kadang berbeda Huehehe… Kalau kalender masehi kan batasnya udah seragam, kalau sudah tanggal 30 atau 31, jam 12 malemnya langsung tanggal 1. 😀

  6. masing-masing ingin unjuk gigi, ya wajar ada yang a ada yang b. kalo aku pilih yang benar. yang mana? ada deh!

  7. ya klo aku sih nurut pemerintah aja, asal gak bertentangan dengan agama. kyk taon lalu,aku awalnya mo ikut pemerintah pas bil lebaran lebih belakangan dari pada Muhammadiyah.tapi rupanya abis tu aku liat berita di metro tv klo hilal dah nampak di Cilincing. nah klo hilal dah nampak berarti lebaran langsung esok harinya.
    Nah yg skg ni aku gt jg, ikut pemerintah aja.tp tetap liat berita.klo rupanya hilal nampak lagi, berarti lebaran duluan daripada pemerintah. hehe… gitu aja kok repot:D

  8. @ eko

    Hehehe… iya eko…. perbedaan itu adalah sebuah rahmat! 🙂

    @ marshaf

    Iyalah…. seharusnya sih nggak perlu repot2 milih tanggal kapan lebaran! Yang masih mau melihat hilal, ya sip deh kalau bisa melihat hilal sendiri, kalau nggak, atau kalau percaya ada orang yang udah melihat hilal, ya silahkan juga mana yang anda mau ikuti! Tapi yang jelas bilangannya harus 29 atau 30 kan? 🙂

  9. Wah, kalau usrusan penentuan hari raya, saya mah bingung pak Yari. Biasanya saya ikut pemerintah saja.

  10. Kenapa ya di Indonesia ini seneng banget dengan yang namanya BERBEDA. Apa karena semboyan Bhinneka Tunggal Ika? sampe menentukan tgl lebaran aja masih beda2 gitu.

  11. sama pak Yari, saya juga lebaran hari Sabtu, nggak tahu ya ? saya juga terkadang sedih dengan pembedaan-pembedaan itu. Mau jadi orang Islam aja mesti ada pertimbangan NU atau Muhammadiyah, toh kita tetap orang Islam juga ?

    Sama dengan seperti penetapan Ied memakai metode Rukyatul Hilal atau Hisab (perhitungan). Yang penting Idul Fitri, daripada nggak sama sekali, bisa-bisa puasa se taonan.. 🙂 h3w

  12. Saya juga tanggal 13 Oktober. Cari gampang, ikut pemerintah. Ini juga sebenarnya ada dalilnya, untuk mengikuti pemerintahan dalam konflik yang ‘nggak terlalu penting’ seperti ini.

    Btw, adanya dualisme lebaran ini apa juga mesti dilihat sebagai keajaiban Al-Qur’an bahwa segalanya diciptakan berpasangan? 😆 Kalau begitu, dualisme ini mesti dilestarikan…

  13. @ doeytea

    Ya nggak apa2 kang doey, sah2 aja kok ngikutin pemerintah juga! 🙂

    @ pr4s

    Kita lihat saja perbedaan sebagai sebuah anugerah 😉

    @ sq

    Nah… justru itu, ambil saja hikmahnya, hitung2 kita dilatih untuk menjadi bingung! Huehehehe…. 😀 Mudah2an kalau ada peristiwa yang membingungkan seperti ini, kita sudah terlatih menghadapinya! 😀
    Btw, bener tuh…. yang penting lebaran, daripada puasa setaon! 😀

    @ Kopral Geddoe

    Yang namanya perbedaan pasti ada! 😉 Kita berusaha untuk menyatukannya tetapi perbedaan itu pasti tetap akan ada, seperti dalam Al-Qurân!
    Contoh lainnya juga kejahatan yang kita perangi, kita berusaha memeranginya sebagai penyeimbang kejahatan, karena kalau tidak kejahatan akan merajalela, namun bagaimanapun kejahatan pasti akan ada! Begitupula dengan kebaikan pasti juga akan ada! Juga kesedihan dan kegembiraan, dsb. So, jangan bingung! 😉

  14. gue juga tgl. 13 ah, ikut pemerintah. Daripada ada dualisme terus, gantian aja tiap tahun. Tahun ini setuju NU, tahun besuk Setuju Muhammadiyah. Nah terus begitu, kan gak ada dualisme…gitu aja refot…hehehe

  15. Berarti kang Tari NK “murtad” dikit ya dari metoda hisab yg lama… 🙂
    Wah kalo di polling antar blogger, kayaknya menang yg 13 nih… 😀

    @ Kopral Geddoe

    Btw, adanya dualisme lebaran ini apa juga mesti dilihat sebagai keajaiban Al-Qur’an bahwa segalanya diciptakan berpasangan? Kalau begitu, dualisme ini mesti dilestarikan…

    #Ngikutan kebiasaanmu : ngakak sampe guling-guling#

  16. saya cuma ikut-ikutan tanggal 13

  17. @ wedulgembez

    Huehehehe…. ya seperti itu juga sah2 aja sih, meskipun kesannya terdengar plin-plan. 😀

    @ Herianto

    Hehehe… saya kan cuma ngikutin kriteria yang dipakai di Mesir dan Saudi Arabia kan? 😀

    @ Bachtiar

    Ya nggak papa, ngikutin yang manapun juga 😀

  18. Apakah Muhammadiyah tidak mengakui bahwa “dalam penanggalan Islam, hari dimulai pada saat matahari terbenam bukan pada jam 12 tengah malam”?

    Lihat http://tarjihbms.wordpress.com/2007/09/19/penyatuan-kalender-hijriyah/

  19. @ Shodiq Mustika

    Terima kasih atas info artikelnya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s