Annabelle dan fans-nya (cerpen bajakan terjemahan!)

Annabelle Lafourette-Leclerc telah menemukan kesempurnaan dalam hidupnya, paling sedikit seperti itulah pandangan bagi kebanyakan wanita yang ingin merasakan kehidupan seperti Annabelle. Bagaimana tidak! Annabelle adalah seorang foto model yang karirnya tengah menanjak yang hidup dan berkarir di pusat kota mode dunia di Paris, Perancis. Bukan itu saja, iapun bersuamikan seorang pengusaha muda yang tampan dan telah dikaruniai Aida, anak perempuannya yang manis semata wayang. Lengkap sudah kehidupan Annabelle. Sebagai seorang foto model yang sukses Annabelle sangat membanggakan kecantikan wajahnya dan keindahan lekuk tubuhnya (agak narsisis kali yeee!😛 ), dan ia sadar dengan keindahan lahiriyah yang ia miliki, ia banyak mempunyai para penggemar di luar sana, dari penggemar fanatik hingga penggemar misterius. Namun Annabelle tidak menyangka bahwa hari ini, ia akan mendapatkan “pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya”  seumur hidupnya bersama dengan para ‘fans‘nya!

Pagi itu, Annabelle yang baru saja melepaskan putrinya yang berumur 6 tahun yang dijemput naik bis ke sekolahnya, sekaligus melepaskan suaminya yang berangkat kerja juga, tiba-tiba mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Bergegas ia membukakan pintu rumahnya, di depannya berdiri seorang kurir ekspedisi pengantar kiriman.

“Apakah ini kediaman Tuan Leclerc?” begitu tanya sang kurir.

“Ya benar! Anda ingin mengantarkan barang atau paket untuk suami saya?” tanya Annabelle.

“Benar, nyonya! Anda nyonya Leclerc? Silahkan tandatangani surat terima ini.” kata sang kurir.

“Ya, saya nyonya Leclerc” jawab Annabelle sambil menandatangani surat terima tersebut. “Terima kasih ya” kata Annabelle pula sambil berjalan menuju pintu rumahnya kembali. Namun ketika ia hendak masuk dan menutup pintu, tiba-tiba sang kurir menahan pintu dengan tangan kanannya sehingga pintu tidak bisa ditutup, sementara tangan kiri sang kurir menangkap lengan Annabelle dengan kasarnya.

“Ayo ikut! Ayo ikut! Ayo ikut saya!” kata sang kurir pengantar barang. Annabelle yang terkejut langsung dengan refleks meronta-ronta berusaha melepaskan diri sambil berupaya berteriak minta tolong. Namun ia berhasil meraih daun pintu dan dengan sekuat tenaga ia membenturkan pintu tersebut ke wajah sang kurir. Berhasil! Pintu tertutup dan secepat kilat ia menguncinya dari dalam.  Setelah itu ia cepat-cepat mengambil pemukul golf suaminya yang ia jadikan untuk alat pemukul jikalau si kurir mendobrak pintu rumahnya. Namun aneh, ia tak mendengar suara apapun di luar dan Annabellepun mengintip ke luar jendela, tak ada tanda-tanda sang kurir berada di luar sana. Meskipun merasa agak lega namun ia tetap sedikit cemas, sebenarnya ia ingin melaporkan kejadian ini kepada polisi, namun ini bukan peristiwa yang terburuk yang pernah ia alami. Ya, Annabelle sebelumnya memang telah beberapa kali dibuat pusing oleh para penggemarnya yang tak jarang bertingkah laku aneh-aneh. Itulah alasannya mengapa akhirnya ia urung untuk melaporkannya ke polisi.

Dua jam kemudian, walaupun masih merasa sedikit cemas, Annabelle bersiap berangkat ke sebuah salon ternama langganannya, sebagai seseorang yang sangat memanjakan tubuhnya, ia selalu mempercayakan perawatan tubuhnya mulai dari perawatan dan model rambut, pedicure, manicure, facial hingga yang lainnya kepada para profesionalnya. Di perjalanan menuju salonnya, ia mampir ke sebuah toko kelontong untuk membeli beberapa keperluan pribadinya yang sebenarnya tidak mendesak, namun karena masih ada waktu luang baginya sebelum menuju ke salon sesuai jadwalnya, ia memutuskan untuk mampir sebentar ke toko tersebut. Dengan mengendarai mobilnya sendiri ia menuju sebuah toko kelontong dalam perjalanannya menuju ke salon langganannya.  Dibelinya barang-barang yang tidak terlalu penting seperti sebungkus rokok, majalah dan beberapa kaleng minuman ringan. Tak lama ia menghabiskan waktu di toko tersebut, setelah mendapatkan barang-barang yang ia inginkan, ia segera menuju ke kasir dan membayar barang yang ia beli. Namun setelah ia membayarnya, tiba-tiba sang kasir, pria berusia 20 tahunan, menangkap tangan Annabelle dengan kasarnya, persis seperti yang dilakukan sang kurir beberapa jam sebelumnya:

“Ayo ikut! Ayo ikut! Ayo ikut saya!” begitu kata sang kasir memaksa. Lagi-lagi Annabelle terkejutnya bukan main. Ia meronta sekuat-kuatnya, namun cengkraman kuat sang kasir bukan tandingan wanita seperti Annabelle. Namun beruntung, di tangannya terdapat beberapa kaleng minuman ringan yang dibelinya di dalam kantong plastik. Diayunkannya kantong plastik berisi kaleng2 minuman ringan itu ke wajah sang kasir sekuat-kuatnya, dan berhasil! Annabele terlepas dari cengkraman sang kasir. Sekuat tenaga Annabelle lari ke mobilnya dan secepat kilat pula ia meninggalkan toko kelontong tersebut. Dengan nafas terengah-engah sambil memacu mobilnya ia merasa sangat heran, kenapa dalam sehari ini ia mengalami dua hal yang hampir sama. “Banyak sekali orang-orang gila berkeliaran di luar sana” fikir Annabelle. Namun bagaimanapun juga, Annabelle berusaha untuk menenangkan dirinya dan meluncur ke arah salon langganannya.

Tak lama kemudian ia sampai di salon kenamaan langganannya, ia langsung menuju resepsionis salon tersebut dan mengatakan ingin menata ulang model rambutnya oleh salah seorang professional yang sudah menjadi kepercayaannya. Namun dikatakannya bahwa penata rambut professional yang biasa menangani model rambutnya mendadak sakit pagi ini, namun sebagai gantinya, ada penata model rambut baru lain yang tak kalah pengalamannya, itupun kalau Annabelle setuju. Karena memang Annabelle sudah mempercayai kualitas salon tersebut ditambah hatinya yang masih agak shock dan cemas oleh dua peristiwa yang tidak enak sebelumnya, maka Annabellepun langsung menyetujuinya. Tak lama kemudian Annabellepun duduk di kursi yang telah disediakan. Sambil menunggu penata rambut yang dijanjikan, ia memejamkan matanya, berusaha untuk menenangkan fikiran dan hatinya setelah peristiwa tadi pagi di rumahnya dan di toko kelontong tadi. Setelah beberapa lama ia memejamkan mata, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah cengkraman kuat di tangannya. Sembari mencengkram tangan Annabelle, terdengar suara perempuan setengah baya yang berkata:

“Saya penata rambutmu sekarang! Ayo ikut! Ayo ikut! Ayo ikut saya!” begitu perintahnya dengan kasar. Annabelle yang belum hilang rasa cemasnya akibat dua peristiwa yang hampir sama sebelumnya tentu saja sangat terkejut dan ketakutan, namun dengan refleksnya juga, ia berhasil menghantamkan tas kecilnya ke arah mata sang penata rambut, yang akhirnya berhasil melepaskan Annabelle dari cengkraman sang penata rambut. Annabelle lari dan berteriak minta tolong, namun aneh, dari sekian banyak pengunjung dan pegawai salon tersebut tak ada yang bereaksi dengan teriakan minta tolong Annabelle, seolah-olah tidak terjadi apa-apa! Annabelle yang ketakutan sekaligus keheranan langsung lari menuju ke luar salon, ketika hendak masuk ke dalam mobilnya, ia melihat seorang polisi berada di dalam mobil patroli yang parkir di seberang jalan. Dengan tergesa-gesa ia menuju mobil polisi tersebut dan mendapatkan polisi tersebut tengah menikmati kopi dari gelas kertas dari sebuah restoran fastfood. Dengan kata-kata yang terpatah-patah akibat kehabisan nafas dan kecemasan, Annabelle berusaha melaporkan semua kejadian-kejadian yang dialaminya kepada pak polisi tersebut. Namun anehnya setelah Annabelle selesai menceritakan kejadian yang dialaminya, bukan respons yang baik yang didapatnya, namun malah pak polisi tersebut ikut menambah traumanya! Persis seperti peristiwa-peristiwa sebelumnya, pak polisi tersebut malah mencengkramnya dengan kuat sambil berkata: “Ayo ikut! Ayo ikut! Ayo ikut saya!” katanya. Annabelle yang sudah tidak bisa terkejut lagi, dan hanya rasa takut yang ada di hatinya, berusaha menarik lengannya untuk melepaskan diri dari cengkraman pak polisi tersebut. Meskipun ia juga berhasil melepaskan diri, namun kali ini meninggalkan lecet pada lengannya karena tergores kukunya pak polisi yang kuat itu. Kali ini tak ada pilihan lain, Annabelle langsung menuju mobilnya dan tancap gas menuju rumahnya.

Di dalam mobil menuju ke rumahnya, Annabelle menelpon suaminya di tempat kerjanya:

“André! (nama suaminya), aku baru saja bertemu dengan orang2 jahat, entah apa mereka maunya, tapi mereka memaksaku dengan menarik tanganku!” begitu kata Annabelle sambil terengah-engah.

“Apa? Apakah engkau sudah melaporkannya ke polisi?” sahut André suaminya di ujung telepon sana.

“Aku sudah bertemu dengan seorang polisi di jalan, tapi aneh iapun ternyata bertingkah laku sama pula mencengkram tanganku!” lanjut Annabelle masih dengan nafas terengah-engah.

“Apakah mereka fans-mu?” tanya André lagi.

“Tak tahulah, rasanya sih bukan ya, sepertinya mereka itu orang-orang yang ingin jahat kepadaku! Namun kenapa ya orang2 tersebut ingin jahat kepadaku? Aku tak pernah jahat kepada mereka! Sampai2 seorang polisipun ingin jahat kepadaku!” kata Annabelle pula.

“Ya, sudah! Kamu sekarang pulang ke rumah saja! Sayapun akan pulang ke rumah segera. Dan saya akan menjemput Aida anak kita di sekolah. Kamu langsung pulang saja ke rumah, Ok?” begitu perintah André, suaminya.

“Baiklah!” jawab Annabelle singkat sambil mematikan ponselnya. Iapun segera meluncur secepat kilat ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia langsung masuk kamar dan dengan perasaan cemas ia duduk di tempat tidurnya menunggu kepulangan suami dan anaknya tercinta. Tak lama kemudian ia mendengar suara bel di pintunya. Ia berharap itu suami dan anaknya. Namun sebelum sempat ia mengintip ke luar untuk mengetahui siapa yang membunyikan bel di pintu, tiba-tiba pintu didobrak roboh! Annabelle-pun berteriak ketakutan karena didapatinya yang berada di pintu adalah sang kurir, sang kasir di toko kelontong, sang penata rambut baru di salon dan pak polisi yang kesemuanya tadi mencengkram tangannya dengan kuat dan kasar. Annabelle berusaha lari dari pintu belakang, namun sial, lari Annabelle tidak sekencang lari para pria yang mengejarnya. Dengan mudah Annabelle tertangkap, dan dengan paksa ia diseret ke karpet di ruang tamu. Annabelle meronta sekuat-kuatnya dan berteriak minta tolong sambil sesekali megiba kepada para pelakunya.

“Tolong saya! Mohon jangan sakiti saya! Jangan bunuh saya! Jangan perkosa saya! Apa salah saya kepada kalian?? Kenapa kalian ingin jahat kepadaku???” begitu tanya Annabelle bertubi-tubi dengan suara kesakitan yang lirih kepada para pelaku yang tengah menyeret Annabelle itu.

“Kami tidak bermaksud jahat nyonya! Namun cara kasar inilah satu-satunya yang dapat menyelamatkan nyawa nyonya! Maaf nyonya!” begitu jawab salah satu pelaku.

“Ada apa ini?? Aku tidak mau! Aku tidak mau!! Aku tidak mauuuu!!! Tolong aku!! Toloooooong!!” teriak Annabelle lemas!.

Entah karena sudah pasrah dan lemas, selanjutnya Annabelle tidak mengetahui persis apa yang dialaminya. Namun tiba-tiba ia tersadar, ia berada di sebuah ruangan lain yang bukan rumahnya! Ia memperhatikan sekeliling ruangan tersebut, ternyata ruangan tersebut adalah ruangan di sebuah rumah sakit. Ia juga memperhatikan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Oh, ternyata ada tiga orang dokter yang wajahnya mirip dengan sang kurir, sang kasir dan pak polisi yang mencengkram tangannya tadi, dan ada juga seorang suster yang wajahnya mirip dengan penata rambut yang berada di salon tadi.

“Ia akan membiasakan dirinya setelah kedua kakinya diamputasi” begitu kata salah seorang dokter yang terdengar sayup-sayup.

Tiba-tiba Annabelle tersadar bahwa ia baru bangun dari ‘mimpi panjang’! Dan tiba-tiba Annabelle  menjadi lemas, sedih dan histeris mengingat nasib yang menimpanya beberapa hari yang lalu. Ya, Annabelle baru saja mengalami kecelakaan mobil. Mobilnya terbakar dan meledak.  Suami dan anaknya tewas seketika! Annabelle sendiri selamat dari kecelakaan itu, namun kedua kakinya harus diamputasi, iapun sepertinya juga tidak bisa menggerakan lagi tangan kanannya. Dan lebih parahnya lagi seluruh wajah dan badannya terbakar pada tingkat tiga (third-degree burn), yang menyebabkan sulit untuk merestorasi wajahnya kembali sempurna seperti sedia kala, walaupun dengan operasi plastik sekalipun. Kini ia tidak bisa bangga sama sekali dengan kemolekan wajahnya ataupun lekuk-lekuk tubuhnya lagi. Karirnya sebagai foto model sepertinya sudah habis sama sekali. Sepertinya bumi sudah berhenti berputar untuk seorang seperti Annabelle.

“Tidak dok! Aku tidak mau! Aku tidak mau dibangunkan! Biarkanlah aku terus bermimpi dok!” begitu teriak Annabelle histeris. Ketiga dokter dan seorang suster tersebut berusaha menenangkan Annabelle dengan kuat-kuat memegang tangan Annabelle, dan seorang dokter berusaha untuk menyuntikkan obat penenang ke tubuh Annabelle.

“Tidak dok!!!!!!!! Aku tidak mauuuuuuu! Ini bukan hidupku! Aku ingin terus bermimpi!!!!!! Aku tak mau kehidupan seperti ini!! Aku ingin kembali kepada keluargaku di dalam mimpiku yang indah!!” begitu teriak Annabelle histeris.

“Aku tidak mau hidup seperti ini!! Aku tidak mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!” jerit Annabelle.

_______________________________________________________

Catatan:

  1. Cerpen dibajak diterjemahkan dari surat kabar Perancis France-Soir tanggal 12 Maret 2001 dengan judul: “Annabelle Virtuelle” Pengarangnya cuma diketahui inisialnya saja: FN.
  2. Yang diketik biru, adalah tambahan saya sendiri.😀
  3. Mohon maaf jikalau ada kata-kata yang kurang enak dibaca, maklum yang menterjemahkan kurang profesional!:mrgreen:

12 responses to “Annabelle dan fans-nya (cerpen bajakan terjemahan!)

  1. Pertamaxxx lagi😈

    Wah mas, ini cerita yang menarik, dan ini sebuah pembuktian kalau semua kesenanangan di dunia itu cuma sementara, gak ada yang kekal, yang suatu saat bisa diambil lagi pada saat-nya. Benar-benar bikin aku pribadi tersadar akan ke-fana-an-ku di dunia ini…

    *merenung di pojokan*

  2. Cerpennya okey. Ceritanya menarik sekali, agak menegangkan, enak di baca. Terlalu cantik adalah masalah. Seperti sekumtum bunga. Saat ia bermekaran banyak kumbang yang datang. Tak jarang dari kita yang ingin memisahkannya dari pohonnya. lalu memajangnya di pot rumah.
    Begitu ia layu, ia dicampakkan dan dibiarkan membusuk di tanah.

  3. Eh, ketinggalan. Makanya saya tidak ingin menjadi kembang. Lebih baik menjadi rumput ilalang, he he he. Mang dasar ilalang sih. Yang bisa hidup bebas di mana saja tanpa perawatan.

  4. @extremusmilitis
    Selamat menjadi yang pertamax lagi!:mrgreen:
    Betul extremus, kecantikan lahiriyah hanya sementara saja, cepat atau lambat akan segera pudar.
    Btw, merenungnya jangan keterusan ya!😀

    @Hanna
    Saya cuma menterjemahkannya saja kok, mbak Hanna. Hehehe….
    Memang betul ya, jadi ilalang bebas tumbuh di mana saja, tidak ada perawatan dan juga hampir tidak ada gangguan.🙂

  5. Wah, salut betul sama Bung Yari nih, ternyata piawai juga Bahasa Perancis, ya? Hebat!!! Sebuah cerpen yang tragis sekaligus melankolis. Cerpen ini menggarap konflik batin lengkap dengan liku2 permasalahan sang tokoh yang sedang berada di puncak ketenaran. Sebuah gambaran kehidupan yang perlu dijadikan pelajaran berharga bagi para figur publik. Semakin tinggi pohon menjulang ternyata semakin kencang angin bertiup. Makanya hati2, hehehe:mrgreen: Ketenaran sekaligus bisa menjadi teror, hehehehe😀
    *Selalu menunggu cerpen karya khas Bung Yari*

  6. Wow cerpen yang kereeeen…😀

    Terjemahannya saja keren, apalagi ngerti bahasa aslinya. Beruntung Pak Yari menegerti bahasa aslinya…😀

    Sejak membaca kalimat pertama saya menebak-nebak akhir cerita, tapi ga ketebak. Baru ketebak setelah akhir cerita… seru… (ah saya juga bikin cerpen yang kaya begini deh.. bisa ga ya..?)

  7. lagi jalan-jalan neh, cuma mau mampir sebentar dan say hello

  8. edyan…..gila….salud….
    saia blajar boso francis donk mas?!
    be te we, cerita na keren sangadh, dibawakan dengan pas buad ngingetin kita kalo smua itu fana.. *termenung*

  9. @Sawali Tuhusetya
    iya… antara ketenaran dan ketenangan agak sedikit bertolakbelakang ya Pak Sawali. Yang tenar ingin tenang, yang terlalu tenang ingin sekali-sekali menjadi tenar hehehehe… Terims ya Pak Sawali!🙂

    @mathematicse
    Pasti kang Jupri bisa deh, selama ini kang Jupri sudah bagus menuangkan sebuah ide ke dalam bentuk cerpen dan ditambah bumbu2 matematika pula, sebuah usaha yg hebat. Kang Jupri suka nonton film serial “Numb3rs” nggak? Mungkin dari situ bisa timbul ide banyak tentang cerita2 matematika.🙂

    @ayahshiva
    Silahkan mampir dan say hello juga.🙂

    @hoek
    Ya… benar hoek… semuanya tidak ada yang abadi, cepat atau lambat kecantikan lahiriyah yang kita punya akan segera pudar. Terims atas komentarnya ya hoek.🙂

  10. wah ceprepenya bagus . . .
    walau cuma terjemahan sih .tapi top bgd deh dah berani di pasang di sini

  11. I can’t understand anything😦

  12. @bachtiar

    Hehehe… sekali lagi terims…terims…terims….
    (walaupun saya cuma menterjemahkannya saja)🙂

    @Sakib Al Mahmud

    I am sorry Sakib, this is my page in Bahasa Indonesia, I have one in English, it is at here , but if a Blogger’s blog does not make you feel comfy, you can always write to me at my Graffiti Page in this blog. You can write anything to me in English. So, be my guest, ok?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s