Nasionalisme, Seharusnya Bagaimana ya?

Bendera Indonesiagaruda pancasila

Postingan kali ini sederhana-sederhana dan pendek saja. Ini mengenai rasa nasionalisme yang diinspirasi dari artikel saya sebelumnya: “Malaysia baru mengirim astronotnya aja sudah sombong“, tapi artikel ini bukan untuk ajang mendiskreditkan Malaysia lagi, namun dalam artikel ini saya mau menitikberatkan masalah nasionalisme dilihat dari sudut yang sederhana saja. Atau tepatnya nasionalisme itu bentuknya dapat seperti apa saja ya? Dan bagaimana bentuk nasionalisme yang baik itu?

Nah begini, dari dulu saya selalu mengklasifikasikan diri saya sebagai seseorang yang nasionalismenya tidak terlalu besar sekali. Ya, bagaimana tidak? Lihat saja pada waktu 17 Agustus yang baru lalu, orang-orang banyak membuat artikel tentang 17 Agustus atau hari kemderdekaan atau yang menyerempet-menyerempet seperti itu temanya, sementara saya sepi-sepi saja, tidak membuat artikel tentang 17 Agustus sama sekali, malah saya buat artikel mengenai “Dilatasi Waktu” dari teori relativitasnya Einstein. Apalagi waktu 28 Oktober hari Sumpah Pemuda yang lalu, boro2, ingat saja tidak kalau hari Minggu 28 Oktober lalu adalah hari Sumpah Pemuda. Bukan itu saja yang menunjukkan rasa nasionalisme saya yang ‘tipis’ tetapi juga sehari-hari saya kalau ngomong dalam Bahasa Indonesia rasanya tidak afdol kalau tidak dicampur oleh bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Semakin banyak kata bahasa Inggris yang diucapkan, semakin afdol rasanya, biar kelihatan gaya, intelek dan berpendidikan padahal……, syukur-syukur ketemu orang aring asing yang tidak bisa bahasa Indonesia sama sekali, jadi sekalian tidak usah bicara bahasa Indonesia lagi!😛 Hmmm… apalagi ya? O ya…. dulu waktu masih sering upacara bendera, sewaktu menyanyikan lagu Indonesia Raya, entah kenapa beberapa kali perut saya terasa mules terpaksa deh menyanyikan lagu kebangsaan tersebut sambil buang angin! Huehehehe…..:mrgreen: Lagian lagu kebangsaan aja kok dikeramatkan sekali sih seperti berhala aja!

Nah, tapi sewaktu saya menemukan forum yang menghina Indonesia, yang dilakukan oleh orang2 Malaysia yang kurang terpelajar, sepertinya hati saya mendidih dan tidak bisa menerima perkataan inferior oleh orang-orang Malaysia tersebut. Dengan semangat 45 ditambah semangat sumpah pemuda ditambah semangat trikora plus semangat-semangat bersejarah lainnya mulai zaman Sriwijaya hingga pasca kemerdekaan, saya balik menyerang argumentasi-argumentasi murahan orang2 Malaysia tersebut dengan argumentasi-argumentasi saya yang bermutu untuk menihilkan kebanggaan-kebanggaan semu bangsa Malaysia tersebut. Bukan saja di topik mengenai astronot Malaysia itu, tetapi juga di banyak topik di forum tersebut. Apakah itu termasuk rasa nasionalisme saya yang terpendam ya? Ataukah itu hanya bagian dari rasa egotisme saya saja?  Bahkan mungkin mereka-mereka yang merasa nasionalismenya tinggi belum tentu mau “membela negaranya” di forum yang ngaco seperti itu! Atau memang saya yang termasuk orang yang ngaco?😛 Ada yang bisa menilai?

Nah…. sekarang timbul pertanyaan lanjut! Bagaimana sih seharusnya kita me’wujud’kan rasa nasionalisme kita? Apakah seperti tindakan saya di atas? Apakah banyak menulis di blog artikel mengenai 17 Agustus atau Sumpah Pemuda? Ataukah dalam bentuk orang yang paling rajin mengibarkan bendera pada tanggal 17 Agustus dan hari-hari nasional lainnya? Atau apakah orang yang suka menyanyikan lagu-lagu wajib nasional dan perjuangan sampai-sampai karaokeanpun harus menyanyikan lagu perjuangan/wajib nasional? Kalau jawabannya “yang berjuang untuk nusa dan bangsa” itu sih semua juga sudah tahu! Tapi bentuknya seperti apa?? Bekerja keras dan giat untuk mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa?? Ya iyalah, semua juga begitu! Walaupun ada unsur ‘kemunafikan’ dari frase “bekerja keras dan giat”, karena mungkin kita “bekerja keras dan giat” bukan untuk bangsa dan negara tetapi lebih kepada untuk perut sendiri! Jadi dalam bentuk yang bagaimana ya, hayo???

29 responses to “Nasionalisme, Seharusnya Bagaimana ya?

  1. Sori Pak … sepertinya perlu dipertajam tu. Semua yang diungkap bunga-bunga saja, he he. Saya yakin sampeyan bisa bahas datarannya, nasionalisme, patriotisme, sampai chauvinisme. Soalnya, yang digambarkan pada prilaku itu hanya ‘perasaan’ yang mempribadi, respon yang muncul juga sangat pribadi.

    Saya sedikit ganggu pikiran: Coba bandingkan apa yang ‘diambil’ dari bangsa (negara) dengan apa apa yang ‘diberikan’. Pasti ngambilnya lebih banyak.

    Argumen bandingan: Emang AS punya bahasa nasional? Mesir ngak punya juga, puluhan negara ngak punya bahasa nasiona, tapi maju. Apa hubungannya significane antar ikut upacara dengan nasionalisme? Justru pekoar-pekoar nasionalis itu yang banyak merusak negara bangsa kita.

    Coba, siapa yang koruptor? Yang malas? Saya pernah survey petani dan buruh angkut pelabuhan. Mereka sepanjang hari bekerja, hasilnya dikit. Dikatakan bangsa pemala, korup. Siapa yang malas dan korup, yang mnegeluh, bukan mereka. tapi, mereka yang berdasi itu … yang katanya pemimpin, orang pintar, penulis, dan … gitu-gitual.

    Selamat membangun nasionalisem. Bersama. Monggo, jangan kumaha engke wae.

  2. Ternyata ini pertanyaan yang sulit bagi saya…
    Hmm, Nasionalisme saya apa yah…..saya marah dan merasa memiliki negara ini dan bagian dari negara ini, saya juga mengucapkan sumpah pemuda, tapi hati saya suka meringis kalo ngeliat orang orang pemerintahan.

    Ibu saya seorang peg negri, jika kita pindah daerah, orang tua saya harus menyogok sana sini, agar ibu saya bisa di pindahkan dinas nya, dari situ saja saya sudah sebal…

    Jadi saya merasa, Indonesia ini sedang di pimpin sama setan setan, kalau mau melawan berasa ga punya kekuatan, yah, mending saya perbaiki diri saya sendiri ajah….

    semoga yang lainya juga gitu..

  3. menurut saya, nasionalisme itu bukan hanya cuma memperingati hari besar baru di bilang nasionalisme…….
    tapi nasionalisme lebih kepada kecintaan kita thdp bangsa ini dan berpikir apa yang bisa kita berikan untk bangsa bukan berpikir apa yang kita dapat dari bangsa in 🙂

    salam kenal mas yarik……merdeka…:-)

  4. Saya adalah bagian dari Negara ini.. Itulah makna nasionalisme bagi saya..😛

  5. Bekerja keras dan giat untuk mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa

    Nasionalisme yang dicontohkan itu benar kata bang EWA itu adalah bunga-bunga perindu… kongkirtnya bos???

    kalau menurut saya, nasionalisme yaa nasionalisme saja dalam segala ucap, kata dan tindakan kita cinta Indonesia… mengkritik pemerintah dalam koridor cinta, memuji pejabat yang bagus dalam rangka cinta bla-bla-bla hahah… kok jadi ngajarin sih… **tobat on**

  6. Nasionalisme adalah maniak anime tapi tetap cinta budaya sendiri.
    Mendengarkan Asu E no Yuuki tapi tetep suka dangdut.
    Dan jangan lupa delete dangdut yang jual seksi doang.

    Seperti saya.

  7. nasionalisme… saya ga sempet mikir terminologi yang tepat untuk itu. yang saya tau ialah;

    diri ini haruslah minimal tidak menyusahkan manusia laen, walaupun ortu
    diri ini haruslah membantu orang lain, minimal orang terdekat, keluarga
    diri ini haruslah memastikan anak bangsa terus berjaya, minimal anak sendiri, masa anak kambing

    mulai dengan yang minimal aja payah. yang maksimal jangan dipikirkan dulu… pasti nanti banyak boongnya ama diri sendiri

    hehehe… gitu aja kok repot! *sambil niru gaya gusdur*

  8. @Ersis Warmansyah Abbas

    Nah, itu dia pak Ersis, saya juga tahu itu cuma bunga2nya saja, untuk itu saya ingin tahu daratannya seperti apa! Memang kalau kita telaah, AS tidak punya bahasa resmi (tidak pernah mengatakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi AS di konstitusinya), dll. Dan yang saya tangkap, Pak Ersis menyiratkan bahwa dengan ‘merongrong’ negara, alias kita ‘mengambil’ lebih banyak dari negara daripada memberi, secara tak langsung mungkin itu bagian dari meruntuhkan nasionalisme. Ok. Saya ada cerita juga, sepulang dari stasiun kerta api suatu hari dulu, karena sudah malam dan tak ada yang menjemput, saya terpaksa naik taksi. Tahu aja, taksi resmi dari stasiun bandungpun jarang yang mau pakai argo. Karena sudah capek dan malam, saya terima aja tuh taksi yang tak berargo (padahal taksi resmi). Di tengah jalan kita ngobrol2, ngobrol ngalor ngidul, dia cerita pernah berurusan dengan polisi yang merogoh banyak duit dari kantong dan dia sebut ‘makan duit’. Karena sudah agak capek saya agak malas berdebat dengan dia, padahal saya dalam hati berfikir, dengan tidak mau memakai argo di taksinya dia sama juga ‘makan duit’ orang juga. Wah, jangankan orang2 berdasi, wong cilik aja di negeri ini juga ‘suka makan’ duit kok, jadinya ya memang sulit ya menegakkan nasionalisme kalau seperti yang dijabarkan pak Ersis di atas… hehehehe….😀

    @raffaell

    Iya benar sekali raffaell, sebaiknya kita memang memperbaiki diri sendiri, tapi sayangnya, banyak orang2 di negeri ini yang gagal memperbaiki dirinya sendiri, tidak mengerti bagaimana harus menjadi lebih baik dan tidak pernah mengerti mengapa harus menjadi lebih baik!🙂

    @biptech

    Ya, memang idealnya begitu, seharusnya apa yang diberikan kita kepada negara dan bangsa dapat menjayakan negeri ini dan pada akhirnya akan kembali kepada rakyat juga manfaatnya. Namun sejauh ini kenyataannya mungkin apa yang telah kita ‘berikan’ kepada negara, hanya menguntungkan segelintir orang saja, boro2 kembali kepada kita demi kesejahteraan rakyat. Hehehehe…

    Btw, salam kenal juga ya dan terims telah berkunjung ke blogku.🙂

    @qzink666

    huehehehe…. sederhana tapi boleh juga ya?😀

    @kurtubi

    Pokoknya semuanya dalam koridor cinta ya?? Huehehehe….😀

    @Black_Claw

    Menurut saya pribadi sih, yang suka anime (bahkan yang nggak suka dangdut) belum tentu dia nggak nasionalisme. Saya sendiri nggak begitu suka dangdut (tapi ada satu dua lagu yang saya suka juga, jujur sih, cuma pada umumnya saya nggak begitu suka), nggak suka sinetron, nggak suka nonton pelem Indonesia, dsb. Pertanyaannya ya seperti di artikel saya itu, orang yang seperti itu nasionalismenya tipis ya?😀

    **tumben nggak bawa2 bendera Malaysia!**:mrgreen:

    @Abang Nas

    Tapi yang jelas, jangan terus2an mikir yang minimal dong ya, nanti benar2 jadi bangsa yang minimal! Huehehehe…..

    Btw, terims ya sudah mampir di blogku.🙂

  9. Saya ga bisa bhs inggris hny bisa bhs indonesa dan boso jowo termasuk nasionalisme ga ya?

    terpaksa deh menyanyikan lagu kebangsaan tersebut sambil buang angin!

    Lha, wong di mobil berAC mas yari juga gitu kok, sampai ga tahan saya! Huehehe…

    *lariiiiiiii!*

  10. tau dilatasi waktu juga? orang fisika yah pak?

    Pak bagi anak muda kayak gue, nasionalisme itu berkiblat sama khasanah budaya asli Indonesia pak.

  11. aku gak bisa jawab yang ini, bagaimana aku bisa jawab, kalau toh pada akhir-nya jawaban-ku sendiri akan di-patah-kan oleh kenyataan yang aku lakukan yang ternyata tidak simetris dengan jawaban-ku
    *mengukur rasa nasionalisme sendiri*🙄

    thx buat mengingat-kan mas😉

  12. kalo definisi nasionalisme ada d buku PPKn SMA………..

    Klu contoh yang jalanin nasionalisme ada d bk mana ya?

  13. Nasionalisme dan kepahlawanan. Dua koisakata ini tampaknya selalu layak dikemukakan ketikas kita hendak melakukan refleksi terhadap eksistensi bangsa. Kepahlawanan, agaknya memang telah mengandung penafsiran yang luas. Tidak hanya mereka yang sudah meinggal untuk membela bangsa dan negara. Mereka yang rela berkorban untuk membela sesamanya pun layak disebut sebagai pahlawan. Nasionalisme? Menurut hemat saya, Bung Yari, tidak harus dimanifestasikan dalam kerja-kerja besar. Melakukan pekerjaan dengan benar sesuai dengan profesi kita masing2 saya kira juga sudah bisa disebut sebagai perwujudan nilai2 nasionalisme. Yang nihil nilai nasionalisme yak orang2 yang suka menggerogoti harta negara dan rakyat untuk kepentingan perutnya sendiri itu:mrgreen: Jika perlu menggadaikan negara dan bangsanya untuk menuruti selara dan nafsu rendahnya:mrgreen:

  14. Menurut sy bang Yari nasionalis kok. Gak tll ngaruh tuh, rajin upacara atau wajib ngomong secara “baik & benar”.😆
    Trus nasionalisme tu yg sperti apa? Buat saya, saat2 sekarang ini, bisa menghargai perbedaan sesama (di negara yang super majemuk ini) dan tidak membakar hutan (yang tumbuhnya lama banget) tu sudah nasionalis sekali…
    Kalo bisa kerja dan mencukupkan diri dengan gaji yg ada (gak korupsi, maksudku) itu lebih nasionalis lg, IMO…

  15. Huehehehe…Jujur saja, saya (SUNGGUH !) lupa ketika hendak mengheningkan cipta pada pkl. 8.15 WIB pagi ini.😀

  16. @abintoro

    Yee… itu sih bukannya nasionalisme, itu sih memang tak mampu belajar! Huehehe….:mrgreen:

    @GRaK

    Bukan, saya bukan orang fisika kok. Saya dulu kuliahnya di FK = Fakultas Kesatpaman. Huehehehe….. becanda deh!😀

    Btw, kalau Mahabaratha dan Ramayana itu budaya asli kita ngga ya? Bukannya itu dari India?😀
    Musik dangdut?? Bukannya itu asalnya dari India juga? Hehehehe….😀

    @extremusmilitis

    Ya, nggak apa2 kok. Malah kejujuran adalah aset yang utama dalam membangun bangsa dan membangun nasionalisme. **haalaaah**😀 Nampaknya anda telah jujur terhadap diri anda sendiri, itu yg terpenting.😀

    @conandole

    Di Wikipedia ada ngga ya?:mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya

    Iya, Pak Sawali, dan mudah2an apa yang kita kerjakan walaupun sekecil apapun dpt berguna bagi orang lain, minimal seperti itu. Begitu kan Pak?🙂

    @jensen99

    Wah ini memuji apa ngeledek nih? Soalnya saya justru paling sedih kalau dibilang nasionalis, huahahaha….. nggak deh becanda kok.
    Iya ya, seperti itu bisa jadi merupakan manifestasi dari nasionalisme ya? Menjaga aset kita sendiri dari ‘pencuri2’ yg ingin menggerogoti aset bangsa kita ini. Siiip deh.😀

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth

    Huahahaha….. saya malah lupa kalau hari ini ternyata 10 November alias hari pahlwana!!:mrgreen:

  17. *kasi bendera malaysia sisa bakiak ke pak yar*

  18. Nasionalisme, bukankah bersilahturami dan peduli sesama tanpa membeda-bedakan juga merupakan bagian dari nasionalisme? Waduh, OOT ga ya?

  19. Btw, Selamat hari Pahlawan ya.

  20. caranya adalah dengan mengerjakan tugas kuliah yang membabi buta. uh,

  21. @Black_Claw

    Wah, bendera Malaysianya udah pudar and luntur nih warnanya!

    **siap2 cari bendera Malaysia baru buat bungkus bakiak terus dilemparin lagi ke Black_Claw**:mrgreen:

    @Hanna

    Nggak mbak, nggak OOT kok, itu input yg bagus malahan, peduli terhadap sesama tanpa membeda2kan, ya betul sekali itu mbak, terims ya.🙂

    @nieznaniez

    Huehehehe…. gitu ya salah satu bentuk nasionalisme? Bukannya itu karena ‘takut sama dosen’??:mrgreen:

  22. HalloW! thanx da jawab ptanyaan aku dan dah ngunjingin blog aq ^^
    hmM.. jujur deh, aq gak suka berpanas”an di bawah matahari utk ikutin upacara bendera. butir” pancasila pun sampe skrg aq masih suka lupa. Begini yang baru namanya kurang nasionalisme ya?
    tapi aq juga pasti emosi kalaw ada yg ngejek negara kta. haha…

    tapi mnurutku, ikutin upacara, nyanyiin lagu kebangsaan, pake bahasa nasional, itu cuma sebuah simbol klo kita menghargai negara kita. nasionalisme nggak berarti kita harus suka dengerin lagu dangdut atau nonton sinetron” indonesia.

    Orang korea menunjukkan rasa nasionalismenya dengan menyebarkan unsur” kebudayaannya di berbagai bidang, agar negara” lain juga bisa ikut tahu dan mengenal kebudayaan mereka. Dari pengrajin tradisional, tukang seni, olahragawan, sampai artis” terkenal, mereka suka memasukan unsur budaya negaranya ke dalam karyanya. kayaknya gini lebih efektif deh, mereleasasikan nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

    kalau di buku PPKN sih, rasa nasionalisme misalnya dengan menyukai dan memakai produk hasil dalam negeri. hahaha…

  23. Sorry, salah tulis. maksudku ngunjungin, bukan ngunjingin. sadarnya baru detik” terakhir nih… maaph ya

  24. @M.T.

    Wah, bagus sekali ya idenya…. menyebarkan budaya mereka di berbagai bidang. Sebenarnya kita juga ada ya, pencak silat, makanan2 kita yang kaya ragam dll sebenarnya punya banyak potensi untuk diperkenalkan dan dikembangkan di luar negeri… iya, ide bagus tuh…

    tapi kalau artis sinetron, hmmmm kayaknya jangan dulu deh, perbaiki dulu kualitas sinetronnya baru ‘diekspor’ ke luar, nanti kalo nggak cuma dapet malu aja…. huehehehe….😆

  25. Wah kalau mau dibilang nasionalisme,saya masih jauh amatlah.Yang tiap hari saya lakukan ya hanya untuk keluarga dan diri sendiri.Bekerja mencari nafkah untuk diri sendiri dan keluarga. Yang harus saya minimize adalah menghindari perbuatan2 yang dapat merugikan orang lain.Itu saja,terima kasih.

  26. @ Yung Mau Lim

    Memang mas Yung Mau, perasaan nasionalisme tidak bisa dipaksakan. Namun saya percaya sekecil apapun, pasti ada rasa nasionalisme dalam diri seseorang. Biarlah rasa nasionalisme tumbuh sendiri, yang penting benar kata mas Yung Mau, kita seyogianya menghindari perbuatan2 yg dapat merugikan orang lain, mudah2an dng begitupun masyarakat kita dpt lebih bersatu dan mudah2an perlahan2 rasa kebersamaan bisa tumbuh yang akhirnya secara perlahan2 pula dpt menumbuhkan rasa nasionalisme. Terima kasih kembali mas Yung Mau.🙂

  27. Bila item dibawah ini masih ada dihati kamu berarti kamu masih memiliki jiwa nasionalisme
    1. Saat ada anak bangsa menjadi juara di event internasional : kita merasa bangga……
    2. Saat ada yang menghina bangsa ini : kita marah….
    3. saat ada tim olahraga kita melawan negara lain : kita dukung….
    4. Saat melihat betapa mengakarnya budaya korupsi di negara ini : kita prihatin…..

    Jadi ga ikut upacara bendera ga berarti ga nasionalis…he…he…..

  28. @ yuls

    1. ya saya merasa bangga
    2. ya saya sewot kalau ada yg menghina bangsa ini
    3. ya saya dukung
    4. ya saya prihatin, tapi sayangnya saya tidak bisa berbuat apa2😀

    Oooo gitu ya? Jadi upacara bendera ngga masuk kategori?? Siiip deh…. huehehehe….😀

  29. Saya mendeskripsikan rasa nasionalisme saya sebagai “Nasionalisme Abangan”. Saya marah waktu mendengar Malaysia mulai mengambil klaim atas beberapa harta budaya kita. Saya kesal juga kalau liat di mass media TKI kita diperlakukan semena-mena, dipukuli dan direndahkan martabatnya. Tapi di sisi lain, saya kesal juga dengan bangsa ini dimana tenaga kerjanya sendiri di dalam negri dipukuli, usahanya digusur, kaum elit hanya mementingkan kekuasaan melalui bendera politik, hakim-hakim bisa disuap, dan orang yang menjadi polisi buat hakim pun korupsi (KY).

    Jadi kalu sekarang sih saya hanya mematuhi segala kewajiban sebagai warga negara saja deh (Nasionalisme abangan-red) yang penting bisa menafkahkan keluarga dengan halal🙂

    ___________________________________________________________

    Yari NK says:

    Nggak apa2 kok mas prasso, saya yakin sih, masih ada rasa nasionalisme dalam diri kita masing2 sekecil apapun. Mas prasso pun jikalau ada petenis Indonesia yang menjuarai Wimbledon, Roland Garros, US Open ataupun Australian Open tentu mas Prasso akan sangat bangga ‘kan? Sayapun juga begitu….. Itu menandakan bahwa masih ada rasa nasionalisme dalam diri kita masing2. Memang nasionalisme tidak bisa dipaksakan kok!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s