Hidup Bahasa Inggris!

Pada saat lebaran lalu, pada saat saya sekeluarga ‘mudik’ untuk berlebaran di Jakarta *halah*, rumah saya di Bandung ini, demi keamanan, saya titipkan kepada dua orang satpam kantor tempat saya bekerja. Nah, salah satu dari mereka mengenakan topi/cap khas satpam yang sudah kucel dan lecek. Karena saya merasa risih melihatnya, dan juga nanti dikira pegawai-pegawai tempat saya bekerja terlihat ‘tidak makmur’, yang malu saya juga,  saya berniat membelikan topi/cap satpam baru di Cicadas, sepulang saya dari Jakarta nanti. Pendek kata memang setelah saya pulang dari Jakarta, saya membelikan (sekalian) kedua satpam itu topi/cap baru. Yang saya beli topi/cap yang paling murah **halaah pelitnya!**, eh nggak yg paling murah banget sih, tetapi pokoknya termasuk yang paling murah, namun kualitasnya cukup baik. Saya beli 4 buah topi sekalian untuk mereka berdua. Namun sesampainya di rumah, ketika saya memberikan topi2 tersebut pada salah satu satpam yg menjaga rumah saya tersebut, saya agak terkejut mendengar reaksi mereka: “Wah, pak Yari, kok belinya yang seperti ini?” Begitu katanya. Dalam hatiku, wah mungkin mereka tahu kalau topi satpam yang dibeli itu termasuk topi satpam murahan. Namun ternyata alasannya bukan itu, dan aku lebih terkejut lagi dengan alasannya: “Wah, pak Yari, belinya yang ada tulisan SECURITY-nya dong, moso beli yang cuma lambang satpam sama tulisan satpam. Kurang keren dong, pak! Kalau ada tulisan SECURITY-nya ‘kan lebih keren!” begitu katanya. Mendengar reaksi seperti itu, hati saya bercampur antara lega (karena alasannya bukan topi murahan), geli (kok nggak pernah belajar bahasa Inggris saja dapat ngomong seperti itu), kesal (karena udah capek2 membelikan), dan maklum (ya ini tahu sendirilah!). Namun seketika itu juga saya tersadar yang membuat saya semakin maklum, kalau anak buah saya, yang menjaga rumah saya itu, di negeri ini tidak sendirian. Berjuta-juta atau mungkin berpuluh-puluh juta rakyat penduduk negeri ini juga terbius oleh “kekerenan” Bahasa Inggris (termasuk saya barangkali! :mrgreen: ), bukan hanya mereka yang tidak berpendidikan, namun juga mereka yang berpendidikan (apalagi yang berpendidikan tapi tetap tak bisa Bahasa Inggris!). Ya, memang Bahasa Inggris telah menyusup jauh di tengah-tengah kehidupan bangsa ini, disadari atau tidak serta suka atau tidak! Dalam keseharian kita sehari2, tentu kita sudah akrab dengan istilah2 seperti: department store, on sale, shopping centre, bahkan boutique, school, parking lot, library dan masih banyak yang lainnya tak terhitung jumlahnya. Belum lagi kalau bicara masalah peralatan modern seperti CD-ROM, mouse, printer, scanner, sampai microwave oven, SIM card dan lain sebagainya, semuanya sudah menjadi kata-kata sehari-hari yang susah dicari atau malas dicari padanan kata dalam Bahasa Indonesianya. Bahkan sangking sudah menyusupnya dan sudah mengakar bahkan banyak yang lebih “Inggris” dari asli “Inggris”nya sendiri, seperti contoh: Ada yang menulis “Department Store” menjadi “Departement Store“, biar lebih gaya ditambah huruf ‘e’ sendiri di kata “Department“.  Atau di salah satu kemasan produk kue tradisional di kota bandung ini, saya lihat ada yang menuliskan: ‘roombutter cookies’.  Mula-mulanya saya bingung apa ya ‘roombutter’ itu?? Eh, nggak tahunya baru ‘ngeh’ kalau itu maksudnya ‘roomboter‘ dari bahasa Belanda atau kalau bahasa Inggrisnya adalah ‘creamery butter’. Mungkin karena tidak bisa membedakan mana Bahasa Inggris dan mana Bahasa Belanda maka dicari amannya saja jadi ‘roombutter‘. Yang paling sering salah kaprah adalah istilah ‘handphone‘, entah ‘handphone‘ (yang sering disingkat hp atau hapé) itu bahasa Inggris versi mana, yang saya tahu hapé itu kalau bahasa Inggrisnya adalah ‘cellular phone’ atau ‘cellphone’ atau ‘mobile phone’ atau ‘mobile‘ saja, bahkan banyak sekarang yang cuma ‘cell’ saja, seperti: “Can I have your cell number, please?”, coba saja lihat di kamus Oxford atau Merriam-Webster, istilah atau kata “handphone” tidak pernah ada, jadinya nggak tahu deh “handphone” itu bahasa Inggris versi mana! Kalau saya sih, daripada membuat kesalahan mendasar seperti itu mendingan memaki Bahasa Indonesia saja!

Ok deh, biar artikel ini terlihat menjadi sedikit lebih “berbobot” (walaupun agak maksa 😛 ) saya akan paparkan ringkas sejarah bahasa Inggris **halah** (Bagi yang tidak suka sejarah silahkan tutup telinga, eh maksud saya, tutup mata, atau matikan saja monitor anda, :mrgreen: ) Bahasa Inggris adalah termasuk bahasa Germanic, yang berarti bahasa tersebut berasal dari daerah barat laut Jerman, dari daerah Anglia dan Saxony. Bahasa-bahasa modern lain yang satu keluarga dengan bahasa Inggris, yang termasuk bahasa Germanic adalah, Bahasa Jerman sendiri, Bahasa Belanda, Bahasa Denmark, Bahasa Swedia dan Bahasa Norwegia. Sedangkan bahasa-bahasa Eropa lain seperti Bahasa Perancis, Bahasa Spanyol, Bahasa Portugis dan Bahasa Italia termasuk dalam bahasa Romanic. Walaupun Bahasa Inggris satu keluarga dengan Bahasa Jerman, namun ironisnya kata-kata bahasa Inggris modern sekarang lebih mirip Bahasa Perancis dibandingkan dengan Bahasa Jerman! Ini karena pada tahun 1066, bangsa Normandia Perancis menginvasi daratan Inggris yang mengakibatkan membanjirkan kosa kata Perancis ke dalam Bahasa Inggris. Sebagai “bahasa penjajah” tentu bahasa Perancis kala itu dipandang lebih tinggi dibandingkan bahasa Inggris asli sendiri, sehingga banyak orang Inggris waktu itu berbicara kePerancis2an, sehingga pada akhirnya kosa kata Bahasa Perancis tak terbendung lagi dan menyingkirkan banyak sekali kata-kata bahasa Inggris asli yang berasal dari Jerman. Akibatnya kini hampir 75% kata2 bahasa Inggris modern saat ini merupakan serapan dari Bahasa Perancis. Itu termasuk kata-kata yang diserap dari Bahasa Latin lewat Bahasa Perancis. Istilah-istilah keuangan banyak yang berasal dari Perancis: Finance, Bank, Check/Cheque, Balance, dsb. Belum lagi istilah-istilah gastronomi atau makanan seperti: sauce, quiche, courgette, mayonnaise, beef, dsb. Istilah army, police dan semua pangkat-pangkat dalam kemiliteran dan kepolisian, semuanya fotokopian dari Bahasa Perancis, walaupun beberapa fotokopiannya sudah tidak 100% sama lagi dari aslinya. Belum lagi istilah2 etimologi dan kebahasan, serta di banyak bidang2 lainnya, pendek kata, banyak orang Perancis menganggap bahasa Inggris sebagai fotokopi Bahasa Perancis yang ‘sudah rusak’! *halaah* (Padahal Bahasa Perancis sendiri sebenarnya adalah bahasa Latin yang sudah ‘rusak’ atau menyimpang!) . Jadi kesimpulannya Bahasa Inggris itu adalah Bahasa Latin yang sudah dua kali rusak! Namun masih banyak juga ciri2 Bahasa Inggris modern yang menunjukkan ia mempunyai kekerabatan dengan Bahasa Jerman. Jikalau anda belajar Bahasa Inggris, tentu anda mengetahui bahwa kata sifat (adjective) selalu mendahului kata benda (noun), itu merupakan ciri bahasa Germanic termasuk Bahasa Jerman dan Inggris. Sementara Bahasa Perancis (meskipun ada beberapa kata sifat bahasa Perancis yang juga diletakan sebelum kata benda), Spanyol, Portugis dan Italia kebanyakan kata sifatnya diletakkan sesudah kata benda seperti dalam bahasa Indonesia. Dan juga jikalau kita melihat pola comparative dan superlative dari Bahasa Inggris yang berakhiran dengan -er dan -est, seperti darker, darkest, nearer, nearest, itu semua adalah ciri-ciri dari Bahasa Jerman sedangkan comparative dan superlative yang memakai more dan most, seperti more dependable, most dependable, more respectible, most respectible itu semua sudah ‘diracuni’ oleh Bahasa Perancis. Nah, begitulah sejarah singkat Bahasa Inggris (biar artikelnya agak berbobot sedikit! :mrgreen: ). Terlepas dari sejarah perkembangan Bahasa Inggris, nampaknya bahasa yang berasal dari sebuah negara kecil di Eropa ini akan terus mendunia termasuk efeknya tentu saja juga sangat terasa di negara kita. Jadinya memang benar: Hidup Bahasa Inggris!! Bukan karena hidupnya bahasa Inggris di negara kita karena semata2 ‘ulah’ orang2 berbahasa Inggris, tetapi terlebih karena ulah kita sendiri yang secara tidak langsung juga turut menghidupi dan menyuburkan penggunaan Bahasa Inggris, mau tidak mau, suka ataupun tidak suka! 😀

Fakta Menarik:

  • Bahasa Inggris tidak pernah diakui sebagai bahasa resmi secara konstitusional di AS. Bahasa Inggris hanya diakui sebagai bahasa resmi secara de facto saja. Yang paling mengejutkan adalah di Inggris sendiri, asal dari bahasa Inggris itu sendiri, tidak pernah mengakui Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi di kerajaan Inggris secara de jure, atau Bahasa Inggris tidak pernah diakui di dalam konstitusi monarki kerajaan Inggris sebagai bahasa resmi kerajaan/negara. Ini nampaknya untuk melindungi dan menghormati bahasa-bahasa minoritas lainnya yang ada di kerajaan Inggris yang mulai terdesak oleh Bahasa Inggris seperti Bahasa Irlandia, Bahasa Skot, Bahasa Skot Ulster, Bahasa Cornwall (Cornish), Bahasa Wales dan Bahasa Manx. Bahasa Inggris hanya diakui sebagai bahasa resmi secara de facto saja.
  • Jumlah pemakai bahasa Inggris di dunia adalah sekitar 1 milyar orang. Terdiri dari penutur bahasa ibu dan juga sebagai penutur bahasa asing. Bahasa Inggris merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di dunia setelah Bahasa Mandarin. Penutur terbanyak bahasa Inggris adalah: Amerika Serikat: 215 juta orang, Inggris: 58 juta orang, Canada: 18 juta orang, dan Australia: 15 juta orang.
Iklan

27 responses to “Hidup Bahasa Inggris!

  1. Pertamax nih… ntar komennya…

  2. Sebetulnya Pak Yari itu seorang bos ya…? Bos yang memperhatikan anak buahnya. Huehehe…

    Sejarah tentang bahasanya nambah wawasan dan pengetahuan saya Pak Yari…. Saya baru tahu kalau bahasa Inggris itu adalah bentuk rusak dari bahasa Perancis. Dan bahasa Perancis adalah bentuk rusak dari bahasa Latin… (Berbobot deh sejarahnya…).

    Hmmh, saya pernah mendengar, kalau bahasa Inggris itu adalah bahasa orang yang tidak bisa baca tulis, makanya antara pengucapan dan penulisan berbeda banget (bener ga Pak?). Katanya, bentuk penulisan bahasa Inggris itu, benar banyak menyerap dari bahasa Perancis…, sedangkan pengucapan ngikutin orang yang ga bisa nulis tadi… Betul ga sih?

    Thanks atas infonya. Thanks atas info selanjutnya.. 😀 (ini bentuk campur-campur Inggris Indonesia).

  3. Mas Yari, artikel yang menarik.. memang tanpa disadari, terpaksa atau dipaksa saat ini kita banyak bersentuhan dengan bahasa Inggris… btw, language is like muscle, right?….jadi makin semangat belajar bahasa Inggris … dengan baik dan benar tentunya..

  4. Ha ha tulisan macam begini menceerahkan. Banyak ‘pendekar’ berpikir kulit luar aja tu. Emang bahasa Indon apa tidak versi ‘paksaan’ bahasa Melayu?. Lagi pula, apa gunanya melawan bahasa ‘internasional’. Language is habit. Lebih lucu, apa yang dilakukan ahli bahasa kita? Mencari padanan kata saja selalu terlambat. Banyak tidurnya sih.

    Buka Kamus Besar Bahasa Indonesia, versi cetak kapan saja, cermati entri huruf a, kosakata terpajang hampir separoh berasal dari bahasa Inggris. Utu susunan para ahli bahasa Indonesia lho. Bukan dicari padanan, sudah begitu tangung pula. Contoh Malon (Malaysia) lebih taat asas ucap: universiti, fakulti. Indon: universitas, fakultas.

    Nah, kalau bahasa Inggris ‘sampah’ bahasa Perancis, bahasa Indon sampah bahasa melayu? Memungut bahasa asing e… menciptakan kerumitan, membuat yang mempelajari bingung. Anak SD akan susah mencari di peta dunia (versi internasional), France, Holland, England, ect. sebab yang dikenalkan Perancis, Negeri Belanda, Inggris, dsb.

    Jangan-jangan, kita ini hobi merumitkan masalah sederhana. Apa taliannya France dengan Perancis? Tidak heran, ada yang memahami, alat vital adalah alat kelamin, bukan jantung, hati, paru-paruh, dan … yang benar-benar vital. Emang kalau kelamin dipotong sampeyan mati? Kalau jantung, jangankan dipotong, tidak uk uk saja … wassalam. Itu baru vital.

    Mari mencitai bahasa Indon dengan memakainya, tanpa … memusuhi bahasa lainnya.

  5. emang mas Yari pelit,moso saya ultah cuma dikadoin nokia n60 saya kan mintanya yg n90.

    *lari ah, sebelum diamuk mas Yari*

  6. Komentnya malam nanti yo, he he he.
    Saya minta ijin ngeprint postingan ini yach, untuk dibaca di jalanan nanti. Lagi buru2 mo ke kantor, nih. Sampai nanti. Dah…

  7. kata-kata serapan demikian (seperti HP atau fotokopi), itu kalo enggak salah namanya Coinage ya, bang Yari.

    saya punya cerita aneh lagi waktu PPL ngajar anak-anak bahasa Inggris, mereka bilang keset itu welcome? cuma karena tulisan welcome diatasnya.
    saking pengen berbahasa inggrisnya, mereka juga bila tak apa-apa itu “no what-what” 🙂 🙂 bener-bener ya…masyarakat apalagi anak-anak makin terbius dengan adanya bahasa inggris.

    Padahal, apa sih yang mendasari kerennya? 🙂 (heleh…sok segitunya (kata orang banjar, peiyanya) H3w

  8. *Tambahan
    kalau nggak salah, dalam sejarah di abad gereja masih berkuasa di eropa, bahasa Inggris juga sempat dianggap bahasa Pagan sementara matematika dianggap sebagai bahasa universal.

    segitu dulu ya, running out of information to make hattrick …..h3w 🙂

  9. Wah, bahasa Inggris ternyata makin digemari oleh masyarakat dari berbagai lapisan yak Bung Yari, terlepas motif mereka hanya sekadar iseng, gengsi, atau memang benar2 menyukainya. Ini bukti bahwa bahasa kita tak bisa menolak kehadiran bahasa asing. Kalau menurut hemat saya sih, istilah2 yang sudah memasyarakat nggak perlu lagi dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia ketimbang nanti justru akan lebih terasa asing daripada bahasa asingnya itu sendiri.
    Kabarnya sebentar lagi UU Kebahasaan akan diliuncurkan. Di ruang publik, kita wajib menggunakan bahasa Indonesia. Lalu, dalam dunia perdagangan, semua nama toko, merk, dll harus diganti dengan bahasa Indonesia. Waduh2 kayaknya bakalan ramai nih. OK, salam.

  10. Kesed pun dibilang welcome ya, pak, hehe. Tapi ada beberapa istilah (terutama berkaitan dengan IT) yang akan menjadi terdengar aneh saat dialihbahasakan. Mungkin karena tak terbiasa. Waah jangan-jangan saya juga korban ingris2an juga.

  11. Wah, kalau tidak di akui secara de fatco dan secara deyure, berarti keren yah, sebuah pengakuan tampa pengakuan, sepertinya kita harus belajar bagai mana menciptakan situasi ini,

  12. @mathematicse

    Wah, Bahasa Inggris adalah bahasa orang yg ngga bisa baca tulis? Waduh, saya belum tahu tuh! Saya malah berterimakasih dikasihtahu infonya mengenai hal tsb. wakakakak……
    Tapi yang jelas, memang fonetik Bahasa Inggris itu memang termasuk yang paling tertinggal di antara bahasa2 lain di dunia, termasuk bahasa Indonesia. Kenapa disebut tertinggal? Karena itu tadi, setiap satu huruf dapat melambangkan berbagai bunyi, apalagi huruf vokalnya. Mungkin karena dulu, sebelum orang Perancis datang, orang Inggris/bahasa Inggris menggunakan huruf/alfabet yang bernama Rune. Sedangkan waktu orang Perancis datang, karena Bahasa Perancis sudah menggunakan alfabet Latin modern, jadinya mungkin orang2 Inggris pada binun (bingung), jadinya mentransliterasikannya asal2an… wakakakak… nggak tahu deh bener apa nggak ya. O ya ini contoh Bahasa Inggris kuno yang menggunakan alfabet Rune (sebelum dipengaruhi Bahasa Perancis):

    Veit ec at ec hecc vindga meiði a
    netr allar nío,
    geiri vndaþr oc gefinn Oðni,
    sialfr sialfom mer,
    a þeim meiþi, er mangi veit, hvers hann af rótom renn

    Ini terjemahan Bahasa Inggris modernnya:

    I know that I hung on a windy tree
    nights all nine,
    wounded with a spear and given to Odin,
    myself to myself,
    on that tree of which no man knows from where its roots run

    Orang Inggris sekarang aja bacanya juga binun kali yaa… wakakakak… 😆

    @agoyyoga

    Ya benar sekali Yoga, semakin dilatih akan semakin berkembang (kemampuan) kita, it is exactly just like our muscle!

    @Ersis WA

    Ya, betul itu pak Ersis, memang banyak sekali PR yang harus dikerjakan oleh para pakar bahasa kita. Jangan sampai terlalu salah kaprah sehingga nanti malah bahasa kita menjadi semakin lucu.
    Kalau masalah Bahasa Inggris adalah ‘sampah’ dari Bahasa Perancis, ya mungkin itu hanya persepsi bagi sebagian (kecil) orang Perancis yang sedikit chauvinistic, tentu saja sebuah bahasa tidak bisa diidentifikasikan sebagai sampah atau bukan dari sebuah bahasa lain yang mempengeruhinya secara signifikan. Bahasa Indonesia misalnya, tentu saja bukan ‘sampah’ dari Bahasa Melayu, justru menurut saya, Bahasa Indonesia tersebut adalah penyempurnaan dari Bahasa Melayu, karena Bahasa Indonesia lebih ‘bermutu’ dari bahasa aslinya Melayu, apalagi Melayu Malaysia wakakakak…… masih dendam sedikit sama Malaysia nih!, nggak deh becanda kok!
    Ok, saya juga setuju dengan Pak Ersis mari kita budayakan Bahasa Indonesia tanpa harus mengacuhi bahasa asing, terutama bahasa Inggris, karena kita tahu bahasa Inggris tersebut sangat penting. Tapi ya itu, kalau kita mau belajar, kalau bisa jangan setengah2, nanti malah jadi ‘lucu’ dan ‘aneh’ seperti kasus2 yang saya tuliskan di atas. 🙂

    @abintoro

    oooo…. gitu sampeyan sama saya ya?? Air susu dibalas dengan air tuba!! :mrgreen:

    @HANNA

    Ok, santai aja mbak! 🙂

    @SQ

    Wah, saya kurang tahu ya, kalau bahasa matematika itu disebut bahasa universal, yang jelas sampai sekarang juga matematika adalah bahasa universal untuk bahasa yang kuantitatif. Coba deh untuk jelasnya tanya sama kang Jupri. Tapi yang jelas di abad pertengahan bahasa ilmiah dan bahasa ilmu pengetahuan didominasi oleh bahasa Latin, sedangkan Bahasa Perancis sempat naik daun di sekitar abad ke-16 sampai dengan abad ke-19, sedangkan Bahasa Inggris sendiri baru mulai naik daun setelah revolusi industri dan zaman keemasan Kerajaan Inggris di zaman ratu Victoria. Itu yang saya tahu lho ya. 😀
    Wah, coba deh murid2nya kang Syam diajak ke hotel di situ ada juga kesed yang tulisannya “Monday, Tuesday, Wednesday, sampai Sunday”, mungkin nanti nama2 hari disangkanya artinya juga kesed kali yaa… wakakakak… 😆

    @Sawali Tuhusetya

    Benar Pak Sawali, kata2 bahasa asing yang sudah memasyarakat tidak usah dicari padanannya lagi dalam bahasa Indonesia, karena mungkin sudah capek2 dicarikan padanan katanya akhirnya tidak digunakan. Seperti kata ponsel, eh yang dipakai malah terus2an handphone atau hapé, jadinya mubazir kan tuh! :mrgreen:
    Ya, mudah2an UU Kebahasaan justru tidak akan, baik secara sadar ataupun tidak sadar, menghambat perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri ya, pak? Ok pak, salam kembali.

    @indra kh

    Nanti kalau mau beli kesed di pasar bilangnya, “Bang, beli welcome-nya satu dong!”, jadi geli kan ya pak? Huahahaha….
    Nggak apa2 kok pak, ke Inggris2an juga, yang penting pengucapan apalagi penulisannya benar. Jangan setengah2, supaya tidak terdengar lucu di telinga dan di mata. 🙂

    @raffaell

    Wah, nanti kalau tidak diakui secara de facto atau de jure, ya nantinya semua gue dong, pabaliut kata orang Sunda. Wakakakak… 😆

  13. Oia, kirain bapaknya dulu seorang security?
    😀

    oia, terima kasih ilmunya

  14. Kalau saya melihat Artikel Bahasa Inggris ini, saya teringat dengan yang tinggal di Indonesia, tetapi Bahasa Indonesianya sudah dibuang jauh – jauh, oleh mereka yang sok gaya pakai bahasa orang luar.

  15. Waaah asyik juga yaa penuturan sejarah bahasa Inggris oleh kang Yari NK ini. Kemegahan bahasa ini sudah mendarah daging di setiap negara… anehnya, darah daging saya kok susah sekali makan yang berbau english ya pak… 🙂
    Sorry OOT nih bos sudah malam sekali, mataku jadi hitam legam lihat backgroundnya. *aku izin print yaa*

  16. @GRaK

    Bapaknya siapa nih?? Saya?? Yeee… saya memang ‘security’ huehehehe….
    Terims kembali juga ya atas kunjungannya 🙂

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth

    Ya betul….. memang banyak yang gaya2an senang pakai bahasa luar, namun celakanya penguasaannya setengah2, dan digunakan hanya semata2 untuk gaya2an sehingga terjadi kesan menggelikan. Kalau misalnya niatnya belajar Bahasa Inggris atau lainnya yang bermanfaat ya nggak apa2 kali ya? Namun kalau cuma mau gaya2an ngga jelas juntrungannya, wah sebaiknya jangan ya? Betul ngga? 🙂

    @Kurt

    Ya ngga apa2 pak, pakai bahasa Indonesia saja sudah cukup kok, daripada mau gaya2an pakai bahasa Inggris tapi kesalahannya mendasar, malah jadi menggelikan.
    Ok silahkan di-print *ngga kebayang gimana nge-print yang latar belakangnya hitam pasti menghabiskan tinta hitam soalnya belum pernah nge-print blog sih* 😀

  17. Ya, sepertinya tanpa kita sadari sudah sering menggunakan bahasa Inggris. Kita lebih sering mengucap kata “Sorry” ketimbang “Maaf.”

    Wah, saya baru tahu sejarah bahasa Inggris lho. Makanya kemarin saya print. Senang deh dapat ilmu lagi. Makasih ya…

  18. faktanya sangat menarik…
    hebat banget coba indonesia kayak gitu yah

  19. he he he… postingannya manthab! jadi inget pengalaman saya taon lalu, di Malioboro. Saya liat seorang bule berdiri di tepi jalan. “Gak bisa nyeberang jalan”, begitu pikir saya. Serta-merta saya langsung nanya, pake basa inggris tentunya
    “Excuse me, Mam, will you cross the street?”
    tauk nggak, si Madam ngomong apa?
    “Oh.. saya lagi mau foto di sini”, sambil nunjuk temennya, seorang bule yang kayaqe kesel liat saya ‘menginterupsi’ aktivitasnya mencet-mencet tombol kamera.
    “Saya sudah puluhan tahun tinggal di Jawa Timur…”, sambungnya lagi

    malu aku malu… pada semut merah… jadi pengen…

  20. Kang .. saya malah sampai saat ini penasaran dengan bahasa Sunda .. bahasa yang paling saya suka dengarnya tapi sulit buat saya mengerti hehehe .. suer.

    @abintoro

    wah kebangetan deh .. maksudnya, koq saya ga dapat ya???

  21. @erander

    hahaha…lah mas erander kan udah mampu beli sendiri kalo saya dulu masih pake siemens s55 mangkanya mas yari kasian sama saya. 🙂

  22. @Hanna

    Ya mbak, kita memang terkadang tidak sengaja mengucapkan ‘sorry’ dibandingkan ‘maaf’, tetapi itu ya masih bisa dimaafkan (atau dipersorry ya?? hehehe….) Tetapi asalkan kita melakukannya dengan benar ya tidak apa2 sebenarnya, daripada seperti dalam kasus2 saya di atas, sudah mau gaya, tapi salah pula! Hehehehe….. 😀

    @andex

    Huahahahaha….. moso aneh sih….. ada bulé yang ngga bisa nyeberang jalan?? Mungkin jalanan di kotanya lebih ramai moso sih nggak bisa nyeberang jalan? 😀 Tapi aku juga pernah lho punya pengalaman seperti itu, beberapa kali malah, tapi bukan dalam kasus menyeberang jalan sih! Huehehehe…. 😀

    @almascatie

    Maksudnya Indonesia seperti Inggris begitu? 😀

    @erander

    Karena mungkin kurang terbiasa, coba kalau tiap hari mendengar mungkin bisa. Memang setiap orang punya preferensi sendiri2 untuk bahasa yang indah. Kalau saya sih, paling suka mendengar Bahasa Perancis, karena apa? Karena Bahasa Perancis punya bahasa sengau yang khas dan komprehensif serta punya bunyi2 yang jarang ada di bahasa lain. 🙂

    @abintoro

    Hmmmmmm……. :mrgreen:

  23. Wah artikel menarik next bagi2 ya

    ____________________________________

    Yari NK replies:

    Terima kasih telah berkomentar dan berkunjung ke blog ini ya. 🙂

  24. Jadi sebaiknya Indonesia tidak meresmikan Bahasa Indonesia karna itu mendesak bahasa daerah minoritas yang lain. Demikian.

    ____________________________________________

    Yari NK replies:

    Ya…. begitulah…. tapi nanti kalau kita tidak punya bahasa nasional, kalau di negara kita, nanti pasti akhirnya jadi kisruh! 😀
    **tumben nih ngga log-in**

  25. om kayaknya ahli bahasa ya?soalnya banyak tau tentang etimologi bahasa.kalo boleh tau dapet sumber darimana?soalnya kebetulan saya butuh bahan2 yang serupa khususnya ttg bahasa jerman.oy saya kebetulan liat blognya om lewat search engine
    terima kasih sebelumya om

    salam kenal tauficky

    ____________________________________

    Yari NK replies:

    Sebenarnya artikel2 mengenai etimologi dan sejarah Bahasa Jerman banyak terdapat di Internet. Namun sayangnya bukan dalam Bahasa Indonesia, tetapi dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Jerman. Coba di mesin pencari jangan mengetikkan “etimologi bahasa Jerman” tetapi cobalah German ethymology atau Deustche etymologie, pasti akan banyak informasi yang tersedia untuk anda. Nah, selamat mencoba ya. Btw, saya bukan ahli bahasa lho! 🙂 Dan salam kenal juga!

  26. hm…kayakna saya yang paling muda yang ngasik komen. thx infonya…semoga berguna bagi karya tulis saya. thx so much…………..

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    You are very welcome! And thanks for visiting my blog! 🙂

  27. senang bisa mampir di blog ini… saya mau tanya apakah bapak tau sumber2 utk istilah2 kerajaan Inggris abad pertengahan, yang tentunya bahasa Inggrisnya pun yang mula-mula atau ‘kuno’. Saya perlu sekali teori2nya utk tugas. Kalau ada mohon kirimkan ke email sy boleh? Terimakasih banyak sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s