Suara Konsumen, Persaingan dan Layanan TV Berbayar…..

Pernahkah anda merasa kesal dengan layanan suatu jasa? Jasa apapun juga! Apakah anda pernah memberi saran lewat media apapun kepada perusahaan jasa tersebut? Baik itu lewat koran, lewat e-mail atau lewat kotak saran yang ditulis pada secarik kertas (untuk kemudian diabaikan begitu saja atau sebagai basa-basi)? Saya pernah punya pengalaman unik dan mengesankan dengan sebuah operator TV kabel di Bandung. Kenapa unik dan mengesankan? Ya, karena inilah pertama kali saya benar-benar merasakan saya, sebagai konsumen, diperlakkukan sebagai raja karena suara saya benar-benar diperhatikan. Bagaimana ceritanya?

Sebenarnya sejak kira2 tahun 1996/1997 di Jakarta saya sudah berlangganan TV berbayar Indovision (yang memakai parabola digital), namun sejak tahun 2001 saya mulai beralih ke layanan TV kabel kabelvision karena saya ingin memanfaatkan internet kabelnya (sampai sekarang di Jakarta saya masih berlangganan kabelvision walaupun internetnya sudah tidak lagi). Tahun 2002 saya pindah ke Bandung, dan karena sudah terbiasa dengan layanan TV berbayar, dan karena sudah tidak terbiasa hanya dengan TV-TV lokal, bukannya nggak nasionalisme atau sok2an, tapinya memang saya sudah muak dengan acara2 sinetron dan acara2 lainnya yang onnozel di TV-TV lokal, oleh karena itu saya mencoba mencari tahu layanan TV berbayar di Bandung terutama TV kabel. O ya, tentu saja saya juga masih menyaksikan TV-TV lokal (baca: nasional) namun hanya terbatas pada berita2 dan talk show-talk show yang berbobot. TV-TV nasional yang masih saya tonton adalah: Metro TV, RCTI dan SCTV. Stasiun-stasiun TV nasional lainnya boleh dikata sudah tidak pernah ditonton lagi. Dulu, sempat sih nonton TransTV karena ada Bajaj Bajurinya huehehehe…., setelah Bajaj Bajurinya lenyap, TransTV-nya juga lenyap dari perhatianku. Nah, waktu aku pertama kali mencari tahu tentang layanan TV berlangganan (berbayar) ini saya memang menitikberatkan pada TV kabel bukan pada TV parabola digital Indovision karena saya memang ingin sekalian menikmati broadband Internetnya sekalian. Sayang waktu itu baru ada Fasindo saja sebagai satu2nya operator TV kabel di Bandung dan pada waktu itu belum bisa Internet pula.

Lantas bagaimana saran saya diperhatikan oleh mereka (operator TV kabel)? Begini…. sejak akhir 2006 lalu, Fasindo tidak lagi sendirian dalam menyediakan layanan TV kabel di daerah saya. Ada lagi saingannya yaitu Megavision. Megavision ini sebenarnya mulai berdiri sekitar 1-2 tahun sebelumnya tetapi baru mengcover daerah saya akhir 2006 lalu. Nah, pada saat itu fihak marketing Megavision gencar melakukan promosi, menelepon dari rumah ke rumah termasuk ke rumah saya. Sebenarnya sewaktu mereka menelepon saya sebenarnya agak malas untuk mendengar penjelasan sang salesgirl di telepon. Namun karena saya tahu dia sedang menjalankan tugasnya sebagai salesgirl (asal jangan ngaco seperti kebanyakan sales2 yg berkeliaran di jalan!), saya mencoba untuk menghormati pekerjaannya sebagai sales. Saya tahu sebagai operator TV berbayar pasti channel2 unggulannya adalah movie channels seperti: HBO, Cinemax, StarMovies dsb. Nah, waktu itu aku iseng2 saja nanya: Channel movies-nya apa saja yang ada di Megavision? Mereka menjawab ada HBO dan StarMovies. Nah, kebetulan waktu itu di Fasindo juga sudah ada HBO, Cinemax dan Hollywood Movies. Jadi saya bilang buat apa saya pindah? Kecuali kalau memang Megavision bisa menawarkan lebih maka saya akan berpindah. Begitu kata saya. Si salesgirl bilang ooo ya Pak, kalau begitu saran bapak saya catat akan saya laporkan sebagai input ke fihak manajemen, begitu kata si salesgirl.

Nah, sampai di sini saya sangka masalah sudah selesai. Si salesgirl tidak akan menelepon lagi. Eh, nggak tahunya dua minggu kemudian si salesgirl yang sama menelepon kembali sambil berkata: “Pak, kami sudah menambahkan tiga channel movies yaitu HBO Signature, Cinemax dan Hollywood Movies”. “Waduh, nggak disangka2 ternyata  saranku diperhatikan juga!”. Karena iuran perbulannya sama dengan movies channel yang lebih banyak maka aku tertarik juga untuk pindah operator TV kabel. Lantas aku bilang begini sama salesgirl-nya: “Ya udah, kalau begitu beri saya kesempatan satu bulan lagi saya akan ultimatum Fasindo kalau mereka tidak bisa menambah movie channels-nya baru saya akan pindah. Saya nggak mau buru2 pindah karena nggak mau repot2 ngurusin orang2 TV kabel yang narik kabel baru dari tiang” begitu kataku. Nah, lusanya aku gantian menelepon Fasindo dan ‘mengultimatum’ operator TV kabel Fasindo, jikalau mereka tidak bisa menambah movie channels-nya dalam sebulan maka saya akan pindah ke operator pesaing”. Begitu kata saya. Nah, ini dia ‘unik’nya pas dua hari sebelum ‘ultimatum’ saya habis, saya mendapat e-mail dari Fasindo bahwa mereka sudah menambah movie channels-nya yaitu StarMovies. Sebenarnya jumlah movie channels-nya masih kalah satu dari Megavision karena di Fasindo belum ada HBO Signature. Namun saya terharu juga **halaah** karena suara saya sebagai komsumen diperhatikan dan baru kali ini saya merasakan saya sebagai konsumen diperlakukan seperti raja. Lagian saya juga tidak terlalu butuh HBO Signature karena acaranya kebanyakan hampir sama dengan HBO hanya dibolak-balik saja. Dan juga ada beberapa non-movie channels yang saya suka di Fasindo tetapi tidak ada di Megavision. Ya sudah lah, akhirnya saya putuskan untuk tidak pindah operator TV kabel. Namun ‘kebahagiaan’ itu tidak bertahan lama karena setelah saya perhatikan ternyata StarMovies-nya menggantikan satu channel yang sangat saya suka juga: Australia Network! Ya, saya suka dengan Australia Network karena channel tersebut sangat informatif, bukan hanya informasi mengenai Australia yang disampaikan tetapi juga masalah2 global dengan fokus di Asia Pasifik. Jadi menurut saya channel informatif seperti itu sayang kalau dihapus! Akhirnya kali ini saya protes lewat e-mail, dan dengan argumentasi yang panjang lebar dan berbobot saya berharap Fasindo mau mengembalikan kembali Australia Channel karena saya beranggapan banyak channel2 lain yang jauh tidak bermutu yang lebih patut diganti! Dan ‘ajaib’ pula, ternyata kira2 dua minggu kemudian Australia Channel ada kembali dengan menggantikan salah satu channel Mandarin dari Taiwan yang kurang bermutu.

Yah, itulah pengalaman saya yang paling ‘mengesankan’ selama saya menjadi konsumen perusahaan2 jasa. Saya benar2 merasakan bahwa adanya semboyan ‘konsumen adalah raja’ benar adanya. Rupanya persaingan sehat telah berhasil memanjakan konsumen. Ini bertolak belakang 180o dengan pengalaman saya dengan Telkom Speedy. Secara performansi Telkom Speedy sebenarnya ok, namun pengalaman saya dengan Telkom Speedy sungguh menyedihkan sewaktu terdapat gangguan pada jaringan dan pelayanannya buruk! Pernah selama 10 hari saya tidak bisa mengakses Internet sama sekali, dan setelah aku telepon tiap hari mereka malah mengatakan modemku yang nggak beres! Eh, ternyata setelah teknisinya datang dan membawa modemnya dia sendiri, ternyata nggak jalan juga! Berarti memang customer service dan teknisi Telkom Speedy-nya jelas2 asbun bin geblekz! Udah nggak bisa akses 10 hari, bayarannya tetep sama!

Ok, ya begitu saja bagi2 ‘pengalaman’nya kali ini. Berhubung karena masih agak sibuk, untuk sementara saya hanya bisa posting postingan yang seperti ini dulu ya. Huehehehe….

Iklan

31 responses to “Suara Konsumen, Persaingan dan Layanan TV Berbayar…..

  1. Wah salut sama kedua perusahaan jasa TV kabel tsb.
    Ya selalu saja ada pertanyaan kenapa BUMN kita selalu kalah dalam hal pelayanan konsumen. Selain produk mereka yang sepertinya kalah mutu, layanan after sale-nya juga sepertinya kurang mantap. Apakah hal tsb disebabkan tidak adanya kekhawatiran akan bangkrut hanya karena ditinggalkan konsumen?
    Mungkin BUMN selalu nyantai karena bisa mengemis kepada pemerintah (yang ujung2nya pakai uang rakyat juga sebenarnya), sedangkan di lain pihak perusahaan swasta benar2 menggantungkan hidup mereka dari pelanggan.
    Lha kalau begini terus bagaimana BUMN tidak merugi?

  2. Wah mas… jarang-jarang tuh konsumen diperhatikan seperti itu, saya kira ini salah satu kesadaran bahwa jaman sekarang persaingan semakin ketat.. sadar bahwa pasar di Bandung yang tidak sebanyak pasar di Jakarta akan mempertajam persaingan diantara dua provider tersebut.. *halah pagi-pagi begini kok susah banget mau bicara 🙂 *

    Pokoknya tetap semangat..

  3. Ya sering, bahkan banyak nyebalinnya (kecuali di kota dan provinsi saya, karena kenal kali ya). Bersyukurlah Sampeyan punya pengalaman yang begitu mewah. Terkadang saya berpikir, mau membayar tu kalau ada CS yang sadar … hidupnya, dia digaji, atas bayaran konsumen.

    Ya sering, kalau ketemu ‘bos’nya. Misal PLN, saya bilang Anda ini bagaimana. Lalu, diberi keterangan, bla bla … kadang saya kasihan juga, mereka terjepit sistem yang rada-rada rusak.

    Yang paling nyebalin berurusan dengan bank. Dasar. Mereka, hidupnya dari konsumen, kog sombong. Kadang untuk nabung aja susah atau disusah-susahin. Seorang teman sampai bilang: Dasar tu orang, makan uang riba. Ih, ngeri.

    Kita nampaknya harus meninstal kembali midnset itu ‘pekerja’, kalian bukan ‘pemilik’, kamilah ‘konsumen’ yang memberi makan kalian (Maaf, pertanda kesal he he).

    Atas semu itu, kita jangan pesimis. Mari, kta sadarkan mereka, bekerja di wilayah publik, apalagi service, ya tau dirilah. Kalau bersua yang tidak menyenangkan, layangkan kritik konstruktif. jangan pula mengumbar marah, kita yang kalah. Sudah dilayani dengan jelek, marah pula, ya rugi sendiri. Salam.

    yang ..

  4. kalo dulu mau komplen telp ke telkom wkt msh monopoli aduh susahnya dan responnya lama.. skrg komplen ke telkom sjk ada pesaing sdh jauh lbh baik. 🙂

  5. Wah, enak diperhatiin..
    Saya pernah juga sih, tapi tidak sampai ganti channel begitu.

    Sempat suara bhs inggris kartun Kim Possible di Disney channel oleh Kabelvision diganti dengan dubbing indonesia dan malaysia. Jelek banget jadinya.. banyak logat dan pun yng hilang.. Saya protes lewat email, minta bhs inggris dikembalikan. Email saya tidak dibalas, tapi di tayangan selanjutnya permintaan saya dikabulkan.. 🙂

  6. wah, hebat-hebat kang, cuma mau tanya sedikit kang, apakah kang yari bersedia membayari langganan tv kabel saya, karena kalau tidak saya akan mengultimatum kang yari :mrgreen: wakakakakakakakakakakak

  7. Jadi gak pindah ke Megavision nih? Wah kasian si mbak salesgirlnya Mas. 😛

    @anggara : bos sekuriti kok mau diultimatum. 🙂 gak takut apa. hehehe…

  8. Wah, persaingan bisnis zaman sekarang memang sangat ketat.
    Sebisa mungkin masing-masing pihak memberikan pelayanan yang baik.
    Pengalaman yang menarik, nih, Kang.

  9. Saya sudah mengirimkan permohonan untuk bts 3g telkomsel 2 tahun gak ditanggap-tanggapi…

  10. @dhan
    baru bos security, kenapa harus takut wakakakakakakakak

  11. Wah, sebuah pengalaman yang menarik, nih, Bung Yari. Sayangnya saya nggak pernah ikut2an berurusan semacam itu, hehehehe 😆 karena di dusun kayaknya terpaksa harus puas dg tayangan TV lokal.
    Memang ada kepuasan tersendiri kalau suara kita sebagai konsumen didengarkan juga oleh pihak penyelenggara layanan jasa.
    * Selamat3x, Bung Yari. Ikut senang kalau mendengarkan cerita2 pengalaman menarik dari Bung Yari, hehehehe 😀 *

  12. @anggara
    loo jangan gitu mas. kalo ga ada security, lawyer entar gak ada kerjaan. 😛

  13. @deking yang katanya sudah tidak hiatus lagi

    Memang benar ya…. sepertinya banyak para karyawan BUMN dan jajaran manajernya yg masih dibuai anggapan bahwa pemerintah adalah “malaikat penyelamat” bagi perusahaan mereka jikalau perusahaan mereka mengalami kesulitan finansial, jadinya sifat mereka banyak yg kurang profesional. Sungguh memalukan. Yah, mudah2an infamy spt ini dapat segera hilang dan citra BUMN kita bisa membaik. 🙂

    @agoyyoga

    Ya betul…. persaingan semakin ketat dan pasar lebih sempit, sepatutnya pelanggan menjadi lebih dimanjakan. Sip deh. 🙂

    @Ersis WA

    Iya betul….. mereka seharusnya sadar kalau ‘periuk nasi’ mereka bergantung daripada pelanggan. Ya, memang PLN (dan Pos Giro) salah satu BUMN yang belum mendapat saingan mangkannya coba lihat kalau masuk ke kantor mereka, persis seperti masuk di kantor2 birokrat tahun 1950an. Tata ruangannya saja kaku dan pegawai2nya juga terlihat kurang pro belum lagi birokrasinya. Coba masuk ke kantor BUMN yg udah ada saingannya seperti Telkom (walau Telkom sekarang ngga murni BUMN lagi) begitu masuk ruangannya ber-AC dan disambut oleh mbak2 yg cantik2, tata ruangnya apik dan profesional, pokoknya persis seperti entitas bisnis modern abad ke-21 dalam persaingan global.
    Wah, kenapa kasihan oleh ‘bos’ PLN yg dijepit sama sistem yg ada? Bukankah dia juga bagian dari sistem tersebut? Mungkin dia ngomong begitu sama Pak Ersis sebagai usaha bela diri atau lip service melempar kesalahan kepada sistem yang ada tanpa mau berbagi menanggung kesalahan. Ya sistem itu kan yg menciptakan juga manusianya. Semua orang yg berada di dalam sistem itu yg menciptakan atau memelihara sistem yg ‘bobrok’ tersebut dan kesalahan harus dibagi rata atau dibagi sesuai dengan kapasitas jabatannya di dalam perusahaan tersebut. Jangan lempar batu sembunyi tangan, betul nggak pak? 😀

    Mengenai perbankan ya alhamdulillah sampai sekarang saya belum mengalami gangguan pelayanan yg berarti, paling2 pernah sekali mau nyetor duit, ngerjainnya lama sekali sambil ngobrol, mana ngobrolnya ngga bermutu lagi. Huehehehe….. mau saya omelin waktu itu saya lagi sariawan jadi males ngomong ditambah lagi kalau aku ngomong belum tentu dia ngerti, lha wong ngertinya cuma fashion sama kosmetik huehehehe…. **haalaah** :mrgreen: Tapi mengenai riba/bunga di bank saya memang tengah mempelajari lebih hati2 apa definisi riba tersebut hingga persepsi saya terhadap perbankan di Indonesia tidak salah. Banyak sih teman saya juga yg bilang nabung di bank atau nyimpan duit di bank konvensional itu sama aja dengan memelihara riba, tapi saya perlu hati2 untuk menanggapinya dan tidak gegabah.

    Ya setuju pak, kita sepatutnya memang lebih menyadarkan customer service agar bertindak lebih profesional (sebaiknya juga bukan customer service-nya saja tapi seluruh personnel di seluruh entitas perusahaan) dan kita juga harus memberikan feedback yang konstruktif dan tidak hanya mengumbar marah. Kalau saya 1-2 kali biasanya saya masih sabar dan pasti memberikan feedback berbobot kepada mereka, nah kalau ketiga kali masih belum mengerti percuma dikasih penjelasan berbobot, langsung marah aja!! Minimal puas deh perasaan udah marah2! Wakakakak…. 😆 Ok Pak Ersis terims ya!

    @Darth Spitod

    Kasus seperti itu saya juga pernah mengalami juga dengan Fasindo, waktu itu BBC World-nya di-dubbing bahasa Jepang! Wah aku langsung protes berat soalnya aku nggak bisa bahasa Jepang! Huehehehe…. Dan protes saya tersebut juga akhirnya didengarkan, seminggu kemudian BBC World-nya kembali memakai Bahasa Inggris! 😀

    @anggara

    Wah kang ada lho layanan TV kabel gratis buat kaum elit (ekonomi sulit) :mrgreen: Nama operatornya Clotheslinevision, gampang kok kang, ngga usah berlangganan langsung tarik kawat jemuran dan diikat ke televisi, lumayan deh meskipun gambar dan suaranya ngga ada minimal bisa dibuat ngejemur pakaian! Wakakakakak…. 😆

    @Dhan

    Iya sih…. sebenarnya kasihan juga…. habis bagaimana, kalau saya pindah ke Megavision nanti mbak2 di Fasindonya yg kasihan, ya kan? huehehehe…. 😀

    @abintoro

    Ya bin…. sekarang memang Telkom sudah banyak berubah setelah diberi pesaing. 🙂

    @Hanna

    Betul dan setuju sekali mbak, pelanggan itu raja, bukan begitu mbak Hanna? 🙂

    @Black_Claw

    Walah… BTS 3G untuk daerah mana nih? Bukannya di Yogya udah 3G Telkomselnya??

    @Sawali Tuhusetya

    Wah perusahaan jasa kan bukan hanya TV kabel saja pak, ya barangkali nanti pak Sawali sebagai pelanggan Internet broadband juga mengalami hal yang serupa seperti saya, dimanjakan seperti raja, yah hanya saja perusahaan dan jenis usahanya berbeda. Apapun, pelanggan harus tetap dimanjakan. Begitu kan pak? 🙂

  14. @dhan
    koq, urusannya lawyer jadi nggak ada kerjaan sih? wakakakakakakakak, maaf kang

  15. @anggara
    ya gitu deee…. hehehe…

  16. Ya begitulah akibat monopoli yang tidak sehat (telkom). Tapi syukur sekarang sudah banyak pesaing jadi si monopoler tdk akan bisa seenaknya saja.
    Beruntung sekali konsumen yang merasakan persaingan usaha yang sehat.

    ______________________________________________________

    Yari NK replies:

    Ya memang, terkadang sebuah perusahaan (baca: BUMN) di Indonesia baru menjadi baik ketika mendapat pesaing di pasaran. Memang TELKOM telah dan tengah belajar banyak mengenai arti kompetisi pasar sesungguhnya. Btw selamat datang kembali di blogsphere. Udah aktif lagi nih? 🙂

  17. moga-moga ga ada keluhan lagi.. kepercayaan konsumen adalah harta tak ternilai bagi perusahaan tetapi satu kekecawaan maka mungkin perusahaan akan kehilangan 1000 orang
    😆

    _____________________________________________

    Yari NK replies:

    Ya, karena sebenarnya konsumen adalah ‘periuk nasi’ perusahaan, sudah sewajarnyalah sumber ‘periuk nasi’ harus dijaga dengan baik, bukankah begitu? 😀

  18. Wah jarang-jarang tuh pelanggan diperlakukan “istimewa” seperti Pak Yari…

    😀

    __________________________________________________________

    Yari NK replies:

    Ya, saya sendiri juga heran dan tidak menyangka kalau saran saya itu bakalan benar2 didengarkan dan dilaksanakan! Surprise sekali! 😀

  19. tulisan menarik kang yariNK;hemat saya salah satu ciri perusahaan yang mampu mengembangkan daya saingnya adalah ekspansi pasar (konsumen) dan membangun loyalitas konsumennya lewat promosi produk-produk yang tampil beda…..karena itu unsur pelayanan prima menjadi salah satu strategi bisnisnya……salam

    __________________________________________________________________

    Yari NK replies:

    Iya prof, terkadang suatu perusahaan jasa sudah memberikan produk2 yg tampil beda tapi terkadang melupakan unsur pelayanan after-salesnya, atau terkadang seperti layanan TV kabel ini, produk2nya hampir sama dan agak susah didiversifikasi, untuk itu pelayanan yang ultra prima menjadi pengalaman yang sangat berharga dan berkesan bagi pelanggan, dan dari pelanggan lama ini dapat diceritakan pengalaman yang ‘indah’ tersebut seperti dalam artikel ini yang secara tidak langsung merupakan promosi gratis bagi perusahaan jasa tersebut. Terims prof dan salam kembali. 🙂

  20. Di Jakarta saya pake Kabelvision (sekarang First Media), untuk TV sekaligus internet. Sedang di Bandung, untuk internet saya menggunakan Melsa…agak mahal memang, sekitar Rp.800.000 per bulan…tapi bisa digunakan hotspot…jadi anak-anak bisa menggunakan internet lewat laptop dikamarnya masing-masing, selain yang melalui kabel.

    ________________________________________________________________________________

    Yari NK replies:

    Waktu itu ada lho…. program duo dari Fasindo TV kabel dan Melsa jadi untuk TV kabel dan Melsa Internet sekaligus cuma bayar Rp 690.000,- dengan kualitas Internet yang sama. Tapi sekarang sepertinya program itu sudah tidak ada lagi. 🙂
    Di Jakarta saya cuma berlangganan TV kabelnya saja, untuk internet mobile (menggunakan laptop dan PDA Palm LifeDrive) saya berlangganan IM2 dan juga hotspot-hotspot gratisan. Hehehe….
    😀

  21. numpang nampang, kunjungin webku dunks di http://www.telkomvision.com

    _________________________________________________________

    Yari NK replies:

    Terims ya atas informasinya. 🙂

  22. mas, punya data pelanggan masing-masing operator TV berbayar nggak ?

    pengen tahu nih, berapa pelanggan Indovision, Telkomvision, Kabelvisioon, dll.

    tks.

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Wah…. kalau itu sih nggak punya…. rahasia perusahaan masing2…. kalo mau tahu mungkin tanya aja sama perusahaannya aja masing2.

  23. Lihat perbandingan dan penawaran antar TV berbayar (Pay TV) di
    TV Bayar
    atau
    http://tvbayar.blogspot.com

    Semoga konsumen dapat lebih jeli dalam memilih.
    Terima kasih.

    __________________________

    Yari NK replies:

    Terima kasih atas infonya ya… 🙂

  24. Hmmm..Dari beberapa jawaban terdapat jawaban2 yang narsis…show off…

  25. saya udah pasang indovision dikantor, tapi mau nambah channel lagi . saya ada di daerah bandung saya musti kemana utk nambah channel lagi.thanks

  26. Maaf saya mau tanya…. kalo Fasindo ini gimana kualitas gambar and channelnya?? bagus2 gak?? trus kalo ujan suka mati ga??
    kalo dari pelayanan, gmn??
    Soalnya tadinya saya pake megavision.. cuma kayk setengah ditipu gt ya (kayak mau nyari objekan banget*alias madut*)… jd saya mau cari yg lain… nah kalo megavision c emang gambarnya bagus n ga idup mati kalo ujan.. sayang aja pelayanannya kurang bagus.. plin-plan.. n mata duitan..dikit2 duid..
    Oya, skalian mau tanya. Mas msh pakai Fasindo? blh minta kontak-nya? per bulannya brp ya bayarnya??
    Trims banget sblmya…

  27. Apakah anda tinggal di Bandung?
    sssttt….. Ada kabar gembira 🙂 Fisrt Media Sudah ada di Bandung
    Cek >>>>> http://goo.gl/bWZ4x8 <<<<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s