Malaysia Bangsa Serumpun? Nggak lah yaw!

Judul di atas mungkin sedikit terbaca provokatif namun sebenarnya artikelnya tidak seprovokatif yang diduga karena bukan sifat dari blog ini untuk menyebarkan kebencian tanpa alasan yang jelas. Justru lewat artikel ini saya mengajak banyak fihak untuk berfikir lebih mendalam dan meluas serta juga berfikir lebih kritis dan tidak begitu saja menerima sebuah asumsi tanpa memikirkannya lebih lanjut. Tujuan akhir daripada artikel inipun bukan untuk membenci negeri jiran kita tersebut tetapi, sekali lagi, ini untuk bahan telaah agar kita lebih mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar atau mungkin kurang tepat.

Lantas apa yang akan dikupas kali ini? Sederhana saja…. begini…. Sejak di SD mungkin kita sudah mendapatkan ilmu atau informasi bahwa Malaysia, negara jiran kita, adalah bangsa serumpun dengan bangsa kita, bangsa Indonesia. Ok, sekarang, sebelum kita lanjutkan mari kita telaah dulu grup etnik Melayu menurut wikipedia berikut ini (maaf saya lagi malas menterjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia:mrgreen: ):

Malays (Malay: Melayu) are an ethnic group of Austronesian peoples predominantly inhabiting the Malay Peninsula and parts of Sumatra and Borneo. The Malay ethnic group is distinct from the concept of a Malay race, which encompasses a wider group of people, including most of Indonesia and the Philippines. The Malay language is a member of the Austronesian family of languages.

Nah, dari definisi di atas kita akan membahas apakah Malaysia memang ‘serumpun’ dengan kita? Kita tentu harus mendefinisikan dengan jelas dulu: Bagaimanakah definisi serumpun tersebut?? Apakah karena hanya faktor kesamaan bahasa saja? Ya, dari dulu saya juga sudah ‘curiga’ bahwa kita menganggap Malaysia sebagai bangsa serumpun (begitupula sebaliknya) karena berdasarkan faktor kesamaan bahasa saja. Kalau memang pertimbangan bahwa bangsa Malaysia dan bangsa Indonesia adalah serumpun karena hanya faktor kesamaan bahasanya saja, sungguh itu merupakah sesuatu yang naif dan sedikit konyol serta kurang ilmiah. Nah, sekarang kalau dilihat dari sudut kesukuan dan keetnisan secara etnologis ataupun antropologis, suku Melayu di Indonesia hanya menempati sebagian Sumatra dan Kalimantan saja, jadi secara kesukuan suku2 bangsa di Jawa, Sulawesi, Bali, apalagi Nusa Tenggara, Maluku dan Papua bukanlah termasuk suku bangsa Melayu. Bahkan banyak juga suku di Sumatra dan Kalimantan yang juga tidak termasuk suku bangsa Melayu. Jadi cukupkah itu sebagai tanda bahwa bangsa Malaysia dan bangsa Indonesia adalah serumpun? Mungkin ada yang berasumsi bukankah bangsa Melayu juga ada di Indonesia? Itu berarti bangsa Melayu adalah saudara2 kita juga sebangsa dan setanah air, jadinya cukuplah beralasan untuk mengatakan bahwa bangsa Malaysia dan bangsa Indonesia adalah serumpun! Ok-lah kalau begitu alasannya, tetapi ingat, jangan pilih kasih ya, Orang Papua juga saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Mereka lebih dekat secara etnis dan kesukuan dengan saudara2 mereka di Papua Nugini, dan tentu saja mereka lebih mirip orang Papua Nugini daripada orang Malaysia. Lantas kenapa kita nggak menganggap Papua Nugini juga sebagai bangsa serumpun??? Juga mereka yang tinggal di Timor Barat yang lebih mirip dengan orang Timor Leste, jadi kenapa kita tidak menganggap Timor Leste juga sebagai bangsa serumpun??? Bukankah mereka yang tinggal di Timor Barat juga saudara2 kita sebangsa dan setanah air? Kenapa pilih kasih begitu ya?? Ada yang bisa menerangkan?

Nah, lantas masih dari definisi di atas, secara ras, suku-suku bangsa di Indonesia bagian barat dan tengah memang masih satu ras dengan suku bangsa Melayu baik itu orang Sunda, orang Jawa, orang Bali, orang Bugis, Dayak, dan sebagainya, memang betul semuanya satu ras. Jadi apakah itu yang dijadikan alasan bahwa bangsa Malaysia dan bangsa Indonesia adalah serumpun? Ok, kalau begitu yang dijadikan dasarnya, boleh-boleh saja, tetapi ingat, orang2 Filipina asli (seperti juga yang diterangkan dalam definisi di atas) juga satu ras dengan suku bangsa Melayu. Tapi kenapa kita tidak pernah mengatakan bahwa Filipina adalah juga bangsa serumpun dengan kita?? Kenapa pilih kasih alias tidak konsisten begitu?? Lantas bagaimana dengan saudara2 kita suku2 di Indonesia Timur yang mempunyai ras Melanesia dan bukan ras “Melayu”? Tentu mereka juga ingin saudara2 serumpun mereka di luar negeri seperti di Papua Nugini, Kepulauan Salomon, Republik Vanuatu dan Fiji juga diakui sebagai bangsa serumpun dengan Indonesia juga.

Tentu permasalahan bisa menjadi lebih meluas. Bagaimana dengan saudara2 kita yang keturunan China? Mengapa kita tidak mengakui China sebagai negara serumpun?? Bukankah orang-orang keturunan China ini juga saudara sebangsa dan setanah air juga? Dan mereka tentu secara kesukuan dan ras lebih dekat dengan China daratan atau Taiwan daripada Melayu Malaysia. Bukankah begitu??

Bagi mereka yang bersuku Melayu di Sumatra dan Kalimantan, kalau mereka menganggap Malaysia sebagai negara serumpun karena faktor ke-Melayuannya, ya itu sah2 saja, dan tentu harus kita hormati juga. Namun janganlah hal tersebut menjadi ‘dogma’ ataupun sebuah preposisi yang bahkan sampai di buku2 pelajaran yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah serumpun dengan bangsa Malaysia. Ini bukanlah untuk menghapuskan kenyataan bahwa bangsa Indonesia adalah serumpun dengan bangsa Malaysia namun ini justru untuk menghadapi kenyataan bahwa lebih banyak suku2 di Indonesia yang tidak serumpun dengan Malaysia.

Jadi kesimpulannya, jikalau anda (terutama mungkin anda yang bersuku Melayu) jikalau anda menganggap Malaysia sebagai negeri serumpun, ya silahkan, itu cukup untuk anda sendiri dan tidak usah diterapkan secara nasional, dan juga tentu masing2 suku dan etnis bahkan masing2 individu di Indonesia punya hak untuk menyatakan negara mana yang merupakan bangsa serumpun yang sesuai dengan suku atau etnisnya sesuai dengan preferensi dalam hatinya masing2. Saya sendiri cenderung untuk tidak menganggap satu negarapun yang benar2 serumpun dengan bangsa Indonesia. Kita secara nasional tidak butuh pengakuan Malaysia bahwa kita adalah bangsa serumpun dengan mereka. Dibilang bangsa serumpun dengan mereka juga nggak ada bangga-bangganya sama sekali kok, menurut saya juga.😛 Namun, baik Malaysia bangsa serumpun atau bukan, Malaysia tetaplah jiran kita. Dan sebagai tetangga yang baik tentu kita harus menjalin hubungan yang baik dengan negara tetangga kita tersebut, hanya saja kedudukan Malaysia tentu tidak lebih istimewa daripada negara2 jiran kita yang lain. Mudah-mudahan dengan tidak mengakuinya kita sebagai bangsa serumpun dengan mereka (Malaysia), orang2 (baca: Pemerintah) Malaysia akan menjadi malu dan sungkan kalau ingin ‘mencuri’ produk kebudayaan bangsa kita yang bukan hak Malaysia! Bangsa yang besar dan terhormat tidak pernah mengambil produk kebudayaan dari negeri lain untuk kemudian diaku sebagai produk asli bangsa tersebut. Bukankah begitu?

33 responses to “Malaysia Bangsa Serumpun? Nggak lah yaw!

  1. pertamax euy! wah mungkin menganggap indonesia sbg bangsa serumpun oleh malaysia hanya akal2an pihak malaysia utk ‘mencuri’ kebudayaan kita. hehehe…

    • PENGEN ANDA ANGKA GOIB 2D 3D ATAU 4D SILAHKAN HBG: KI SANTANU DI NOMOR (082 317 877 775). SAYA SUDAH MEMBUKTIKANNYA, KEMARIN SAYA MENANG 100 JUTA BERKAT ANGKA YANG DIBERIKAN KI SANTANU. KALAU TIDAK PERCAYA BUKTIKAN SENDIRI!

  2. Wah kalau yang ini, kira-kira rujukan Wikipedia yang keliru (sori). Konon, begitu arus penyebaran yang diyakini (sampai saat ini) secara akademis, asal-muasal bangsa-bangsa (suku bangsa, etnis) di Nusantara, juga Asia Tenggara, dari Funan (Hunan? atau Kambodia). Mereka datang dalam dua gelombang besar (yang kecil-kecilan banyak, to), yaitu; deutro dan proto Melayu. Ah, malas nulisnya terlalu bau akademis.

    Karena itu, kalau oleh Myamar atau Thailand (hampir saja oleh Cambodia) PSII dihajar, kita ngelus dada … dihajar oleh orang yang secara fisik saja sama. Sama-sama dari akar suku yang sama kog. Semangat dan manajemen aja yang beda (Ini soal manajemen bangsa, euy)

    Ini mengemuka dari rentang historis. Dulu, dari etnis Melayu, kitalah yang paling unggul dari segala hal. Setelah dipimpin oleh pemimpin yang … kita ketinggalan. Era Sriwijaya, Majapahit, dan setersunya adalah buktinya. Bahkan, era Soeharto saja termasuk hebat lho. Merka pada segan, kalaulah tak takut.

    Intinya, bukan persoalan Melayu (asli) atau tidaknya, tetapi kepada pola pikir dan mentalitasnya. Sejarah bertabur perbuatan dari banyak etnis (Melayu) yang saling sikut, saling ‘menguasai’, dan atau apa gitu. Siapa yang paling hebat, mereka terlihat lebih kuat (unggul). Semacam hukum rimba begitu. Melayu Malaysia pernah juga merasa inferior pada ketika, tetapi kini merasa super, ya apa boleh buat. Mereka memang unggul (dalam beberapa hal). Orang unggul biasanya diikuti juga dengan kepongahan. Lihat saja AS, dan megara maju lainnya.

    Jadi, hal paling baik adalah, bagaimana bangsa ini kuat, powerful … tapi (lebih) berbudaya. Dan, itu ditentukan oleh masyarakatnya. Maaf bukan pemimpin saja. Kalau pemimpin, kan gampang … makzulkan saja. Hanya saja, pergantian pemimpin, begitu fakta sejarah, tidak serta-merta membuat suatu bangsa baik. Lalu?

    Ya, mulai dari individu bangsanya, kita-kitalah. Ini agak sulit dan perlu waktu. Lebih tajam, tergantung pola pikir, mentalitas, dan ‘niat baik’ yang dipraktikkan.

    Kalaulah, kita menyewa pesepakbola asing, menghabiskan miliaran di tiap Pemda untuk membayar pesepakbola atau majemennya, ya ngak ada gunanya. Sudah terbuktikan? Tapi, kalau uang itu digunakan untuk membuat lapangan boal standar, hingga kalau bola jatuh pada titik A tidak melayang ke kiri karena kenal lobang atau tidak datar. Bangun landasan utamanya. Itu berpikir yang baik. Tapi, adakah …

    Sekali lagi, soal mental. Dan, Melalu atau rumpun Melayu lebih kepada pengelompokkan yang telah dibatasi ole defini nation state. Ringkasnya, serumpun atau tidak, kalau saling memberi manfaat, kenapa tidak? Serumpun atau tidak, kalau saling mencaci, bak kucing dengan anjing dong.

    Tinggal piliah, siapa jadi anjing, siapa jadi kucing. Kalu menurut saya, kita tetap jadi manusia sajalah.

    Bagaimana menurut Sampeyan?

  3. Pemahaman tentang makna istilah serumpun agaknya memang erat kaitannya dengan masalah bahasa nih, Bung Yari, bukan semata-mata persoalan historis, baik yang berkaitan dengan geografis maupun asal-usul ethnisnya. Bisa jadi, bahasa hanya salah satu unsur yang menjadi indikator serumpun atau tidak. Kayaknya memang butuh kajian lebih jauh agar persoalannya menjadi lebih jelas.

  4. sebetulnya saat pembahasan di BPUPKI, Hatta menjelaskan bahwa secara keetnisan maka Papua masuk kedalam ras melanesia, dan tidak masuk dalam ras *duh saya lupa istilahnya*. nah dalam kategori itu, saya pikir Malaysia (termasuk Siingapura dan Brunei) dan Filipina bisa masuk kategori serumpun dengan Indonesia (minus Papua).
    Nah problemnya suatu bangsa ini didefinisikan sama dengan negara, dalam konteks negara bangsa, maka yang dikategorikan serumpun dengan Indonesia menurut saya sih cukup banyak yaitu negara negara yang berserakan sekitar Indonesia.
    Kalau mau lihat definisi bangsa bisa lihat tulisannya Ernest Renan atau kalau yang marxist bisa lihat tulisannya Lenin

  5. Saya tidak melihat serumpun atau tidak serumpun.. Saya melihat semua sama-sama manusia, memiliki ciri-ciri sebagai manusia.. dan kalau mati sama-sama jadi tanah. Buat saya sendiri *saat ini* tidak penting lagi mengenai suku bangsa dan pengklasifikasian ras untuk masalah nationality kalau untuk masalah kesehatan lain lagi.. sory Mas lagi-lagi OOT…

  6. bingung mau komentar apa? ninggal jejak aja ya… trims🙂

  7. hmmm….

    sebaiknya kita jangan negatif thinking dulu.
    klo masalah serumpun sendiri sih, sebenarnya kalau menurut saya,
    semua manusia itu masih serumpun, Afrika, Amerika, Asia, Australia maupun Eropa.
    Namanya juga masih stu spesies, Homo Sapiens.

    stuju?

  8. arti serumpun dalam bahasa iNdonesia apa pak?

  9. Apa yang dikatakan Pak Ersis itu adalah salah satu teori tentang asal-usul bangsa-bangsa di Asia Tenggara, yang dikatakan berasal China Selatan (Indochina) atau dari Provinsi Yunan, sering disebut juga Hindia Belakang. Rumpun bangsa ini sering dikenal dgn nama Austronesia, dan Melayu (deutero dan proto) adalah salah satunya subrumpun bangsa itu.

    Tapi teori lain ada juga. Stephen Oppenheimer di bukunya Eden in The East : The Drowned Continent of Southeast Asia mengemukakan teori Out of Taiwan. Jadi suku bangsa di Asia Tenggara itu berasal dari Prov. Zhejiang di china daratan yang berekspansi ke Taiwan karena terdesak oleh perang. Dari Taiwan mereka kemudian ke Philipina dan dari situ menyebar ke kawasan lain di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Indonesia.

    Tapi, Prof. Sangkot Marzuki (Direktur Lembaga Molekuler Eijkman) pernah mengatakan kalau ras Austronesia itu sebenarnya berasal dari Dataran Sunda. Karena ada pohon Phitecanthropus Erectus yang putus di tengah jalan dan ditengarai sebagai pohon ras austronesia itu yang menyebar ke asia tenggara.

    Semuanya punya dasar, ada yang berdasarkan kesamaan bentuk tubuh, bahasa, geografi, folklor, dan gen/DNA.

    Kalau ras di timur Indonesia (Papua, Alor, Timor, dll) itu memang berasal dari ras melanesia pasifik berkulit hitam. Ras itu punya kesamaan dengan ras pasifik lain spt Maori, Aborigin, Fiji, Vanuatu, dll…

    Kita memang “serumpun” dengan Malaysia. Juga dengan Filipina, Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam. Tapi kedekatan serumpun dgn Malaysia yg sering diperbincangkan itu lebih kepada kedekatan budaya dan tradisi antara kedua negara itu.

  10. @abintoro

    Ya ngga terlalu sengaja segittu2nya seh, cuma memang kesempatan “mencuri” kebudayaan Indonesia ini sepertinya karena Malaysia dan kita menanggap kedua negara satu rumpun.🙂

    @Ersis WA

    Yang saya kutip dari Wikipedia di atas adalah definisi dari etnik Melayu dan juga “ras” Melayu jadi bukan peta penyebarannya seperti yang pak Ersis jabarkan. Menurut saya jabaran Wikipedia di atas mengenai etnik dan “ras” Melayu sudah tepat.

    Nah, menurut saya bukan masalah untung atau tidaknya kita mendefinisikan apakah bangsa kita dan Malaysia serumpun tapi ini masalah akurasi informasi. Bagi seorang yang ‘berjiwa ilmuwan’ tentu akurasi informasi mempunyai nilai yang lebih dari hanya sekedar untung dan tidaknya. Misalnya begini, ada seorang guru di negeri antah berantah yg mengajarkan pd muridnya: “Ibukota Indonesia adalah Bogor”. Tentu bagi murid dan gurunya, (mengetahui) ibukota Indonesia adalah Bogor atau Jakarta tidak ada pengaruhnya atau tidak ada untung ruginya, tetapi bukankah hal itu menjadi terasa janggal??

    Mengenai pelatih asing sama pembangunan stadion dlm sepakbola apa hubungannya sama topik ini ya?? wakakakakak….😆 tapi okelah, menurut saya membangun stadion sih ya boleh2 saja, namun belum tentu ia dapat mendongkrak prestasi nasional, sama saja dengan menyewa pelatih asing, sudah milyaran rupiah dana dikucurkan untuk membangun stadion baru eeee…. prestasi nggak naik2, memang sudah ada penelitian yg menyebutkan bahwa jikalau stadion dibenahi dan dibangun dng dana milyaran dpt mendongkrak prestasi sepakbola? Atau itu hanya opini pribadi saja?🙂

    Menurut saya, pengakuan serumpun antara bangsa Indonesia dan Malaysia tdk begitu banyak manfaatnya. Toh selama ini keuntungan hubungan bilateral antara keduanya kebanyakan di dasarkan atas persamaan bahasanya saja. Salah satunya adalah maalah TKI. Indonesia diuntungkan karena ratusan ribu warganya mempunyai pekerjaan di negeri rantau dan ‘menyumbang devisa’ kepada negara. Sementara Malaysia juga diuntungkan karena TKI2 yg ilegal dpt dibayar rendah. Mereka sendiri (Malaysia) tidak akan mampu untuk membayar tenaga kerja lebih tinggi lagi, bahkan jikalau TKI-TKI ilegal tersebut diganti dng yg legal, upahnya mungkin dpt lebih tinggi lagi, hal tersebut dpt sedikit banyak dpt memukul pendapatan/revenue dari perusahaan2 Malaysia tersebut. Jadi sebenarnya Malaysia dapat keuntungan juga dari TKI2 ilegal tersebut hanya saja mereka munafik dengan ‘pura2’ mengusir TKI2 kita. Namun, spt yg saya sebutkan sebelumnya tentu keuntungan2 yg dinikmati kedua belah fihak tidak bergantung pd ‘apakah kita serumpun atau tidak’, tanpa pengakuan kita ‘serumpun’, keuntungan2 tersebut tetap dpt dinikmati oleh kedua belah pihak. Nah, apakah pak Ersis mempunyai pendapat lain? Apakah Pak Ersis berpendapat bahwa pengakuan serumpun oleh kita kepada Malaysia membawa keuntungan?🙂

    Ya betul pak Ersis sebaiknya kita jadi manusia saja, tdk mau jadi kucing atau anjing.:mrgreen: Namun kalau hak kita dicuri tentu kita tidak diam begitu saja kan? Jadinya nanti malah seperti kerbau yang dicocok hidungnya kalau kita diam saja. Maunya jadi manusia, dan nggak mau jadi kucing atau anjing, eeee malah jadi kerbau nantinya, bukankah begitu?😀

    @Sawali Tuhusetya

    Ya betul pak Sawali, bahasa memang nampaknya menjadi ‘tulang punggung’ suatu kebudayaan, apalagi ada peribahasa ‘bahasa menunjukkan bangsa’ nah jelas sekali peran bahasa dalam menunjukkan jati diri bangsa baik ke dalam maupun ke luar, dan ini bisa menjadi ‘acuan’ kenapa kita dan Malaysia adalah ‘serumpun’ walaupun tentu saja ‘acuan’ bahasa saja tidak cukup untuk mengatakan suatu bangsa serumpun, perlu definisi lebih jelas lagi dari kata serumpun.🙂

    @Agoyyoga

    Ya betul, yang penting kita ini adalah orang Indonesia, satu2nya jatidiri yg perlu dan penting kita bawa apabila kita ke luar negeri apalagi, bukankah begitu?😀

    @anggara

    Yang lupa itu mungkin maksudnya “Austronesia” kali?? Ok memang betul dan akurat apa yang dikatakan kang Anggara di atas dan terims ya atas referensi2nya.🙂

    @alief

    Ok… silahkan…😀 Terims ya sudah mampir di blogku.🙂

    @Jabz

    Huehehehe…. ya iyalah semuanya juga Homo Sapiens, kalau dengan Homo Habilis atau Homo Erectus masih serumpun nggak ya?😀 Btw, terims telah mampir di blogku ya.🙂

    @aRuL

    Justru itu Rul yang mau saya ketahui, yaitu definisi ‘serumpun’ yang pasti….🙂

    @Pyrrho

    Memang betul apa yg dikatakan mas Pyrrho tentang banyak teori penyebaran ras “Melayu” atau ras Austronesia ini. Yang saya ketahui sebelumnya hanya penyebarannya dari Taiwan ke Filipina dan Indonesia.
    Tapi nampaknya, menurut saya, kedekatan serumpun dng Malaysia adalah persamaan bahasanya, karena kedekatan budaya dan tradisi dng Malaysia hanya terjadi di Sumatra dan Kalimantan, sedangkan di tempat2 lainnya seperti Jawa, Bali apalagi Indonesia Timur nampaknya sangat jauh. Di Malaysia misalnya tentu nggak ada jaipongan, reog (yang berusaha dicuri oleh Malaysia dan berusaha di”melayu”kan) dan juga banyak sekali lainnya.🙂

  11. Ya ya … nah itu dia, kalau tinjauan akademik, bisa berpanjang-panjang, dan ngak pernah selesai. Kita akan terjerembab teori. Ya, kalau sesuatu (etnik) didefinisikan, tanpa meyigi asal dan peta penyebarannya, bagaimana bisa sampai ke definisi yang akurasinya dapat dipertanggungjawabkan (secara akademik). Tapi, sudahlah, cukup dengan pemahaman dasar, juga dah OK.

    Kalau analognya seperti ini, saya setuju. Saya sangat terkesan dengan kalimat … Bagi seorang yang ‘berjiwa ilmuwan’ tentu akurasi informasi mempunyai nilai yang lebih dari hanya sekedar untung dan tidaknya … Wuaw, sangat menarik dan kagum. Saya akan belajar cara beginian dan ke depan, … akan berusaha (sedikit) menulis ‘berjiwa ilmuwan’. Makasih.

    Maksud saya, yang penting kita bangun dasar, tapak-tapak kokohnya. Ya opini pribadi Maz. Sebagai pencinta sepakbola, saya beropini, jangan pelatih dan pemain asing yang disewa (untuk Liga) dengan memakai dana APBD (lagi). Tugas Pemprov Pemko/Pemkab, membangun sarana dan prasarana OR. Katanya profesional, ya cara dan menej sendiri dong dana, kog minta dari APBD, seperti yang di luar negeri itu nah. Sudah begitu, apa prestasi menaik? Ada yang mau meneliti?

    Ya ya, sah-sah saja berpendapat. Namun, mereka ‘kuat’ kita ‘lemah’. Ya ya, mana tahu nanti orang Malaysia yang mencari kerja ke Indonesia (Amin). Bukan membeli bank, perusahaan halo-halo, kelapa sawit, atau … nyuri naskah-naskah lama (Melayu).

    Tetaplah kita jadi manusia. Yang satu ini, kita ngak gugat-gugatlah, itu ‘pemanis’ kalimat aja he … he …

    E … PR-nya, ngak dikerjain nih?

  12. Tidak bisa koment tentang serumpun. Hanya membaca saja yach. Satu hal yang saya tahu, Kang, bahwa kita sama-sama berdarah merah. Sama-sama punya hati nurani dan otak. Kita terlahir sebagai manusia. Manusia yang mempunyai 3 sifat. Sifat Ketuhanan, sifat kemanusiaan, dan sifat binatang. Sifat binatang inilah yang mesti kita buang sejauh-jauhnya.

    Btw, saya senang membaca di sini karena menambah pengetahuan saya. Sayangnya, pengetahuan saya masih dangkal jadi belum bisa diajak diskusi. Harap dimaklumi ya, Kang Yari.

  13. Beleh komen? Dulu orang mengartikan serumpun secara harfiah. Se= satu, rumpun=batang padi. Jadi kalau saya artikan serumpun adalah orang atau manusia yang sama- sama makan nasi. Makanya kita sama Malaysia, Brunei , Singapore, dan Malaysia disebut serumpun. Tapi kalau sekarang penduduk Singapore, Brunei dan Malaysia dah makan Burger. Jadi tak serumpun lagi dah.

  14. Kalau Mas Yari ogah dianggap serumpun oleh saudara-saudaraku yang diplesetkan namanya jadi malingsia itu, yo wis… monggo kerso. Tapi kalau aku tak mungkinlah bilang ogah begitu hehehe….

    Argumentasi antropologisnya menarik, tapi kurasa yang paling penting adalah bagaimana membangun semangat persaudaraan sambil mengurangis kadar rasisme pada diri kita masing-masing

    wong kota-kota aja berlomba untuk basodara, misalnya Jakarta menjadi sister citynya Tokyo…

    Mankind is one, kata Bung Karno

    Horas.

  15. eeh sorry mas, tolong diralat yang kumaksud adalah mengurangi kadar…bukan mengurangis.

    haturnuhun

  16. @Ersis WA

    Huehehehe… begini pak Ersis….. untuk akurasi masalah kesamaan ras seperti yg dijabarkan wikipedia di atas, banyak cara untuk meyakinkannya, bukan hanya dari segi asal dan peta penyebarannya saja. Teknologi modern sudah memungkinkan hal tersebut. Salah satu contohnya yg sangat akurat adalah dengan menggunakan test DNA/genetik. Jikalau pak Ersis sering menonton National Geographic Channel (NGC) tentang genetic mapping di situ salah satunya dijelaskan bagimana menentukan faktor2 kesamaan ras berdasarkan genetika. Jadi bukan hanya ilmu sejarah yang bisa menjelaskan kesamaan suatu ras tetapi banyak ilmu2 lain yang bisa menjelaskannya, bahkan ada yg jauh lebih akurat yaitu ilmu genetika. Jadi ya itu, “berjiwa ilmuwan” juga, kalau kita macet menjelaskan sesuatu lewat suatu jalan (ilmu), kita mencari lewat jalan2 (ilmu2) yang lain, bukankah begitu?🙂

    Mengenai sepakbola (walah lagi2 sepakbola hehehehe….) memang seperti yg dulu pernah saya jawab komennya pak Ersis, ya bagi klub sepakbola untuk mandiri ya itu, perlu cari suntikan dana dari para investor, kalau perlu ya cari investor asing, klub2 Eropa termasuk klub2 Inggris yang terkenal kaya2 saja masih mencari investor2 asing apalagi klub2 kita yg belum apa2nya. Kalau kita nggak ikhlas klub2 kita dibeli oleh orang asing, ya satu2nya cara adalah para fans maniak sepakbolanya yang harus ‘berkorban’ alias patungan membiayai klub sepakbola mereka. Contohnya: PERSIB, jikalau Persib kesulitan dana, dan tidak ada investor yg membeli serta tidak mau dijual ke orang asing, ya bobotohnya dong yang harus rèrèongan atau patungan membiayai Persib, jangan cuma mau enak atau foya-foyanya aja, harus mau berkorban juga, ya nggak?:mrgreen: Itu kalau mau tidak memberatkan APBD.😀

    @Hanna

    Memang betul apa yang dikatakan mbak Hanna, kita manusia juga mempunyai sifat2 kebinatangan, menurut saya sifat2 kebinatangan ini masih ada dalam diri manusia karena secara alamiah manusia memang masih memerlukan sifat2 kebinatangan ini (seperti nafsu seks dsb.), jadi menurut saya tidak perlu dibuang sifat2 kebinatangan ini karena itu adalah hal yang alamiah, hanya saja tentu kita harus pandai2 mengendalikannya.
    Terima kasih mbak atas komennya, saya juga banyak belajar dari mbak lho. Salam.🙂

    @Loung Andi

    Oooo… hehehehe… begitu ya? Berarti nanti kalau orang Indonesia makan burger juga berarti nanti sama orang Malaysia, Brunei dan Singapura jadi satu rumpun burger lagi dong?? Hehehehe….:mrgreen:
    Untung saya lebih suka Italian pasta daripada burger jadinya nggak satu rumpun burger dengan mereka… hehehehe….😀

    @tobadreams

    Justru itu…. saya sangat menghormati preferensi pribadi, jikalau mas eh abang, tetap menganggap Malaysia sebagai bangsa serumpun tentu saya harus menghargai dan menghormatinya seperti abang toba juga harus menghargai pendapat saya. Hanya saja tentu menganggap Malaysia sebagai saudara serumpun seluruh bangsa Indonesia adalah tidak tepat dilihat dari banyak sudut karena memang pada kenyataannya banyak suku2 di Indonesia yang tidak satu suku dengan mereka di Malaysia.
    Yah, bukannya saya ogah dibilang Melayu, tapi memang saya bukan etnik Melayu, moso bukan Melayu dibilang Melayu kan aneh?? Walaupun kita sama2 satu ras, yaitu ras Austronesia.
    Tetapi menurut saya, tidak penting apakah kita serumpun atau tidak dengan Malaysia, tidak penting kita Melayu atau bukan, yang penting kita ini adalah Bangsa Indonesia, bukankah begitu?😀

  17. Saya pernah mengunjungi kota Seremban, beberpa kilometer dari Kuala Lumpur ke arah Malaka….kota tsb asal usulnya dari orang Melayu Riau, dan sebagian besar penduduknya memang dari Melayu Riau. Di Seremban ada semacam kompleks industri (seperti di Rungkut Surabaya, atau Pulo Gadung Jakarta), banyak pengusaha Indinesia yang mempunyai pabrik di daerah ini, yang merupakan marketing arm dari usahanya di Indonesia.

    Saat ikut APRACA di Bangi, KL…beberapa teman Malaysia ternyata memang asal usulnya dari orang Indonesia asli. Dan dikampungnya banyak yang seperti ini.
    (ehh jadi tak menjawab masalah ya…saya kira ada berbagai cerita tentang asal usul, dilihat dari penyebarannya…ada dari ras nya atau unsur genetiknya…yang mungkin para ahlinya lebih bisa membahas)

    _______________________________________

    Yari NK replies:

    Memang bu, saya sendiri juga sebenarnya punya cukup banyak teman Malaysia, baik itu teman benar maupun teman di dunia maya. Mereka ada yang bapak atau ibunya dari Indonesia seperti dari Jawa dan Bugis tapi mereka tetap menganggap diri mereka Melayu. Ada juga yang keturunan Arab, ia juga mengklaim sebagai Melayu, mungkin saja karena persamaan agama barangkali ya. Memang betul bu, kita serahkan saja pada ahlinya untuk menuntaskan definisi dari serumpun ini.🙂

  18. No Koment! \:D/ 😀🙂

    ________________________

    Yari NK replies:

    ….then there will be no replies!:mrgreen:

  19. Itu dulu kaleee….. supaya tetangga kita itu merasa disanjung. Tapi setelah mereka kurang ajar ama kita kayanya ga perlu menganggap begitu lagi deh. Eh kok saya bingung ya baca artikel ini?

    _________________________________________________

    Yari NK replies:

    Hehehehe…. kalau saya sih sudah dari dulu tidak pernah menganggap Malaysia sebagai bangsa serumpun kecuali dari segi persamaan ras saja. Omong2 kenapa binging nih baca artikel ini?:mrgreen:

  20. Pemilihan kata dan kronologis-nya rada acak.

    ___________________________________________

    Yari NK replies:

    Wakakakak… tapi yg bingung cuma sampeyan aja kok mas:mrgreen: Tapi maklumlah kalo agak acak habisan diceknya lagi cuma sekali dan sepintas lalu saja, nggak dibaca secara seksama. Contohnya mana nih pemilihan katanya yg rada acak atau kronologinya yg nggak urut? :mrgreen:

  21. Bingung juga mikirin serumpun gak serumpun…yang penting nih buat negeri kita aman damai, maju sejahtera, dan makmur. Soal Malaysia mau nyolong lagu,pulau, dll…itu biarlah iklaskan aja…habis salah kita sendiri sih gak bisa ngejaga yang udah menjadi milik. Giliran orang mencaplok baru kelabakan kayak cacing kepanasan.

    _________________________________________________________

    Yari NK replies:

    Lha…. nanti kalau semuanya dibiarkan dicolong, yang sisa di negeri kita tinggal apa dong? Hehehehe…. Tapi emang serba salah, kita nggak bisa nyolong balik dari Malaysia, habis apanya yg dicolong?? Wong budaya mereka jelek2 kok, mangkannya mereka nyuri dari kita. Jangankan kita nyolong dari mereka, orang dikasih sama mereka saja kita nggak mau, habis sangking jeleknya sih! Hehehehe….:mrgreen:

  22. Mungkin kata2 nyolong agak kasar kali ya? minta maaf ya orang- orang Malaysia?? Sebab tadinya aku sangka gak serius. Begini kali ya Mas?? Malaysia punya dasar hukum yang kuat untuk mencaplok pulau Simpadan masuk ke dalam wilayah negaranya.
    Kemudian soal lagu tu…kita ini kan punya bahasa yang sama. Apalagi lagu rasa sayange itu udah memasyarakat di sana. Dan mereka sangat suka sekali menyanyikan lagu itu. Bahkan saya pernah menonton di salah stasiun TV Malaysia seorang artis menyanyikan lagu itu. Saya bahkan merasa sangat bangga sekali lagu- lagu Indonesia sangat disenangi oleh masyarakat Malaysia. Karena bukan lagu itu saja yang sering saya dengar artis Malaysia menyanyikan lagu kita, tapi banyak lagu- lagu lain lagi. Di radio- radio Malaysia juga bertaburan lagu- lagu Indonesia mengalun. Saya sangat- sangat bangga sekali lagu – lagu kita diterima di Malaysia.
    Belum lagi artis- artis Indonesia yang sering manggung dan di kontak oleh produser Malaysia.

    Itulah karena kita serumpun……..

    _________________________________________________

    Yari NK replies:

    Ya, kita seharusnya bangga karena Malaysia “menyolong” banyak produk kebudayaan kita karena mereka kagum dengan banyak produk intelektual kita. Ya betul kita sepatutnya bangga, tetapi tentu kalau hanya sekedar menggunakan ya tidak menjadi masalah, namun kalau mereka yang akhirnya mengaku2 itu hasil karya mereka, ya itu tentu yang tidak bisa kita terima. Itu sama saja misalnya seperti kita yang susah payah membuat suatu karya, tetapi yang mendapat nama harum adalah orang lain. Serumpun ya serumpun (meski mungkin hanya dalam faktor bahasa), tetapi tentu etika tetap harus diperhatikan. Bukankah begitu?🙂

  23. @Bung Yari NK

    “…tidak penting kita Melayu atau bukan, yang kita adalah Bangsa Indonesia”

    Setuju. Akur…

    *sambil mengingat artikel Ganyang Malaysia Selamatkan Siti Nurhaliza*

    ________________________________________

    Yari NK replies:

    Huehehehe…. mau ikut ganyang Siti Nurhaliza atau nggak terserah deh, saya nggak nge-fan ini!:mrgreen:

  24. Saya setuju Mas…. Hasil karya orang lain harus dijunjung tinggi dan dihargai. Tidak lepas dari Melayu atau bukan sebagai bangsa yang berbudaya kita tidak perlu melihat ini lebih gimana gitu…..
    Kami di sini setiap hari selalu menonton TV Malaysia dan bahkan berbaur dengan orang Malaysia. Ternyata tidak ada masalah bahkan mereka baik2 belaka sama seperti kita. Terkadang mereka prihatin dengan keadaan Indonesia. Memang ada kasus- kasus trafficking, illegal loging, perkosaan, dan lain. Bahkan baru- baru ini ada kasus pembunuhan tenaga kerja asal Sambas Indonesia. Itu karena ulah orang- orang yang tidak bertanggung jawab. Belum lagi pendatang yang datang secara illegal.
    Rasanya kita patut intropeksi diri.
    Mereka bangsa yang boleh dikatakan maju, berpikiran modern tapi mereka menjunjung tinggi budaya.
    Saya sebagai bangsa Indonesia terkadang malu dengan bangsa sendiri lho mas?? sebab saya pernah berkunjung ke Kuching Serawak Malaysia. Pas di jalan saya ditodong oleh orang bangsa sendiri. Saya tahu dari mana??? dari loghat bahasa, gaya, & cara berpakaiannya. Dan di Singapura. Coba anda berkunjung di salah satu Mall di Paya Lebar dekat Malay Village. Anda akan melihat sendiri apa yang ada di sana? sungguh memalukan.

    _______________________________________________________________

    Yari NK replies:

    Nah, justru itu jikalau banyak bangsa Indonesia yang berbuat ‘memalukan’ di sana (Padahal kalau di Malaysia sendiri menurut statistik resmi, 80% kejahatan dilakukan oleh warga Malaysia sendiri!) adalah tugas kita untuk mengharumkan nama bangsa atau minimal kita membuat image bahwa tidak semua orang Indonesia seperti itu). Kalau bukan kita yang mengembalikan atau memperbaiki nama bangsa dan mengharumkan nama bangsa kita, lantas siapa lagi??
    Malaysiapun sebenarnya banyak juga ‘aib’nya, banyak illegal logging misalnya yang dicukongi oleh cukong-cukong kayu asal Malaysia. Dan sebenarnya Malaysia itu juga belum bisa dikategorikan sebagai negara maju, karena banyak sekali indikator2 non-ekonomi yang belum dapat dicapai oleh Malaysia untuk dikategorikan sebagai bangsa yang maju. Mungkin kalau di bidang ekonomi mereka lebih ‘beruntung’ dari kita karena mereka berpenduduk jauh lebih sedikit. Namun saya yakin jikalau penduduk Malaysia tumbuh hingga lebih dari 100 juta saja misalnya, saya yakin GDP mereka akan tumbuh melambat bahkan akhirnya akan mendekati stagnasi. Saya sendiri juga punya banyak teman Malaysia baik sebenarnya maupun di dunia maya, mereka sangat biasa2 saja dan tidak istimewa, saya sama sekali tidak pernah merasa ‘minder’ dengan mereka malah saya merasa (maaf bukannya sombong) mempunyai ‘kelebihan’ dari banyak rekan2 Malaysia saya. Ini saya bukannya mau menyombongkan diri tetapi saya mau menunjukkan bahwa kita tak perlu ‘minder’ dengan mereka karena memang potensi SDM kita sebenarnya jauh lebih dari mereka.
    🙂

  25. halloha…i respect for those who have comment this corner…
    everybody have thier own opinion but dont forget to care thier words..whatever we are and where ever we from..we still as a human being which have mind and know how to thinking properly…
    this ini just about “SERUMPUN” no need to angry..
    love yourself…love your race…love your religion…love your country…and live in peace!

    _____________________________________________

    Yari NK replies:

    I think everybody who comments on this topic is caring their words….. and the topic of the article is not intended to spark hatred between the two countries, it is just about a matter of fact that we and the malaysians do not necessarily come from the same root. That’s it. However, thanks for partaking in this article!🙂

  26. kami tidak pernah mendendami bangsa seislam kami.
    kami tidak pernah mengkhianati bangsa seislam kami.
    kami tidak pernah menolak kedatangan buruh asing yg seislam kami.
    kami tidak pernah memburukkan bangsa seislam kami di dlm akhbar.
    kami tidak pernah menghina kedaulatan bangsa seislam kami.
    kami tidak pernah membakar BENDERA bangsa seislam kami.
    kami tidak pernah dengki dgn bangsa seislam kami.

    kami tidak pernah mengharap anda menyanjung kami semulianya.
    tp yg kami harap anda tidak menjadi batu api yg boleh membakar hati, perasaan, semangat dan perpaduan umat islam antara MALAYSIA dan INDONESIA.

    JGN JADI SEPERTI UMAT YAHUDI YG SUKA MELIHAT UMAT ISLAM BERGADUH SESAME SENDIRI. JIKA INI BERLAKU, ISRAEL AKAN MENTERTAWAKAN KITA, MALAYSIA DAN INDONESIA amnya dan UMAT ISLAM khususnya…

    _______________________________________________

    Yari NK replies:

    I’m gonna tell you once more that this article is not intended to spark hatred between the two countries. This article is trying to show that Indonesians and Malaysians do not necessarily come from the same root and that’s it. It’s got nothing to do with everything else you mentioned above.

    Yes, I agree on yours, if you are a Moslem, then you are my brother in Islam. It doesn’t matter whether you are a Malaysian or a Russian, if you are a Moslem then you are my brother in faith. But unfortunately, things are not always that simple, political reasons (and other mundane ones) do divide us. That also means political reasons have blurred so many facts that we fail to see them clear. That includes the superficial resemblence (apart from the religious factors) between the Indonesians and the Malaysians. And I’d like to make it clear that we do not necessarily resemble to each other.

    But you don’t need to worry, whether we resemble to each other or not, it does not abolish the fact that you are my brother in Islam. Ok?🙂

  27. masag serumpun?? sodara gitu??
    malu ahh…
    masa sodara saya pencuri yg konyol dan nggak kreatif gitu??
    …no thanks…

  28. Indonesia hidup penuh dengan perasaan cemburu, dengki dan angkuh.
    .
    Malu ah kita sama malaysia ..

    • Ini bukan masalah cemburu, dengki, angkuh, etc… tapi ini mengajak untuk berfikir kritis. Saudara2 kita di Indonesia Timur dan juga warga Indonesia keturunan Cina dsb tentu mereka tidak serumpun dengan Malaysia jadi apakah mereka juga harus mengatakan bahwa Malaysia adalah bangsa serumpun dengan Indonesia? Kalau kita mengatakan bahwa Malaysia bangsa serumpun bagaimana dengan Filipina yang juga sebenarnya serumpun dengan kita tapi berbeda bahasa? Kenapa tidak kita bilang serumpun juga?

      Namun begitu, Indonesia adalah negara bebas, setiap individu tentu mempunyai hak apakah mereka ingin menganggap Malaysia bangsa serumpun atau bukan, namun secara nasional menurut saya tidak perlulah mengatakan bahwa bangsa Indonesia dan Malaysia adalah serumpun.

      Jadi kita tidak perlu malu dengan Malaysia (karena tidak ada alasan untuk itu), yang seharusnya kita malu adalah jikalau kita sebagai bangsa tidak bisa berfikir kritis….

  29. pada fikiran saya, serumpun atau tidak itu bukan satu isu yang paling pokok, kerana kita serahkan kepada yang ahli untuk membicarakannya. maksud dari penggunaan serumpun oleh pemimpin kedua-dua negara, ialah untuk mencari perdamaian dan keharmonian di antara dua negara yang berjiran ini. jika mahu dilihat perbedaan, ya, memang terlalu banyak perbedaan-perbedaan. baik di dalam Malaysia maupun di negara Indonesia sendiri.tetapi, itu adalah pemikiran yang negatif, yang tidak mebawa apa-apa keuntungan sedikitpun. Adalah lebih bermanfaat jika kita mahu berfikiran positif, iaitu dengan mencari persamaan-persamaan. dengan tujuan bila ada persamaan, maka kita akan lebih akrab. jika lebih akrab, maka akan lebih mudah untuk bekerjasama. hanya dengan kerjasama sahaja negara dan umat masing-masing akan menjadi maju..Asia tenggara bukan terlalu besar. justeru kawasan yang ada ini bukankah lebih elok untuk digunakan untuk memajukan negara masing-masing, dan membina jambatan kerjasama dalam ussaha memajukan negara. tidak ada gunanya mencari perbedaan-perbedaan yang menghasilkan perpecahan dihujungnya.. jadi, lebih baik menjuruskan kepada pemikiran yang positif yang lebih membawa kebaikan di antara bangsanagara yang sedia ada..lagi, jika kita sibuk membicarakan, memikirkan, mengambil pusing dengan hal orang lain, maka secara otomatis kita akan tidak memikirkan, membicarakan dan mengambil pusing dengan keadaan diri sendiri..justeru, adalah lebih bermanfaat sekiranya masing-masing menghalakan fokus pikiran dan usaha kepada diri sendiri..hasilnya pasti kita akan lebih maju ke hadapan, tidak kita apa jua bangsa, apa jua negara kita..jika kita tidak memikrkan diri kita sendiri, adakah ada orang lain yang akan membantu untuk memikirkan tentang diri kita?

  30. jika mahu, boleh aja dibuat kajian kritis mengenai perkaitan Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dll dari sudut sejarahnya..seperti, bahasa yang kita gunakan dalam bual ngomongan ini, dari mana asalnya? mengapa bahasa ini yang kita pilih untuk menjadi bahasa pengantar kepada Indonesia, Malaysia, Brunei, sebahagian Singapore, sebahagian Kemboja, sebahagian Thailand, sebahagian filipina..kerana, setiap negara itu ada ratusan malah ribuan dialek daerah masing-masing, tetapi, mengapa dialek ini juga yang menjadi pilihan untuk mengantara komunikasi antara kita-kita..
    Antara kajian yang boleh dibuat, ialah hubungan antara negara-negara ini sebelum merdeka. kerana, sebelum merdeka bangsa-bangsa di negara-negara ini telah ada dan bertamadun sejak sekian lama ratusan tahun dahulu..Apakah hubungan negara dan bangsa-bangsa ini sebelum merdeka, yakni sebelum Indonesia dinamakan Indonesia, Malaysia dinamakan Malaysia, Brunei dinamakan Brunei, Singapura dinamakan Singapura. Kerana, nama-nama ini bukan nama asal negara-negara di Asia Tenggara. nama -nama ini diberikan oleh penjajah negara-negara kita semasa kita semua mahu merdeka. Dari mana asal nama negara2 kita? siapa yang memberikan nama-nama itu? mengapa dinamakan begitu? mengapa tidak nama-nama yang sudah diguna pakai sebelum itu oleh negarabangsa kita? dan juga kajian-kajian mengenai budaya, asimilasi budaya, penetrasi budaya, perkembangan, permulaan, sejarah dan yang seumpamanya.. semoga dengan ada kajian-kajian seperti ini, dapatlah dipublikasi supaya kita dapat pencerahan, kerana saya percaya banyak persoalan-persoalan asas yang masih belum dapat kita jawab, kerana kita tidak kembali mengkaji asal usul dunia nisantara yang kita cintai ini..

  31. Justru itu…. karena hal ini bukan merupakan isu pokok, sepertinya secara nasional tidak perlu Indonesia menganggap Malaysia sebagai negara serumpun. Namun hal tersebut bukan berarti kita harus bermusuhan. Walaupun tanpa kata “serumpun”pun, seharusnya Indonesia dan Malaysia tetap bersahabat dengan baik.

    Isu serumpun tidak tepat karena Indonesia mempunyai daerah2 seperti Papua yang lebih serumpun dengan Papua Nugini (Papua New Guinea) dibandingkan dengan Malaysia. Jadi kenapa kita (Indonesia) tidak menganggap Papua Nugini juga sebagai bangsa serumpun? Apakah karena mereka minoritas?? Menurut saya, Indonesia dan Malaysia dianggap serumpun hanya karena persamaan faktor bahasa saja, sungguh merupakan definisi serumpun yang sangat superfisial!

    Namun begitu saja setuju, Indonesia dan Malaysia harus tetap menjadi tetangga dan sahabat yang baik dengan atau tanpa embel-embel “serumpun”…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s