Compendium of Three

In this article, I would like to present three subarticles which are independent amongst them. Why must it be articles within a compendium? No praticular reasons, that’s because I would like to write these articles but they are too brief that I think I’d better join them in a single post. That’s why I call it ‘Compendium of Three’. Two of them will be presented in Bahasa Indonesia while the other one will be delivered in English. This prelude is created for you, the readers, so you will not get lost within. Ok?😀

Dalam artikel ini, saya akan menyajikan tiga artikel pendek yang tidak ada hubungannya satu sama lain. Kenapa mesti tiga artikel dalam satu postingan? Bukan apa-apa, hanya saja saya lagi ingin menulis tentang topik2 di bawah ini namun mereka sangat pendek sehingga saya fikir ada baiknya untuk menyatukan mereka di dalam satu postingan. Itulah kenapa saya namakan artikel ini ‘Compendium of Three’ atau kira2 artinya ‘Koleksi Tiga Artikel’. Dua di antara artikel tersebut ditulis dalam Bahasa Indonesia dan yang satu lagi dalam Bahasa Inggris. Begitulah, pendahuluan ini dibuat agar para pembaca tidak menjadi bingung.😀

SEA Games Oh… SEA Games
Wah… ada apa ya dengan Indonesia di SEA Games?? Padahal setahu saya dulu sebelum krismon Indonesia selalu memimpin dalam perolehan medali SEA Games. Yang paling menyebalkan Indonesia berada di bawah Malaysia dalam pengumpulan medali di SEA Games. Wakakakakak….. Sewaktu postingan ini dibuat Malaysia berada di posisi ketiga dengan 56 medali emas, sedangkan Indonesia berada di tempat keempat dengan 44 medali emas. Lebih perkasakah Malaysia dari Indonesia dalam olahraga?? Hmmmm…. untuk SEA Games kali ini biarlah si Malaysia menang…. tetapi ada tetapinya…. apa itu??Ha…. ini dia… bolehlah dia lebih unggul dari Indonesia di SEA Games kali ini, tetapi bagaimanapun juga Malaysia belum pernah merasakan nikmatnya mendapatkan emas olimpiade! Padahal gengsi emas olimpiade mungkin 100 kali lebih daripada medali emas SEA Games. Nah itulah keunggulan Indonesia dari Malaysia di bidang olahraga sampai sekarang! Huehehehe…:mrgreen:
Blog dan Internet Masuk Desa
Masih ingatkah anda dengan iklan TELKOM yang menceritakan tentang anak2 SD di desa yang riang gembira menyambut kedatangan Internet di desa atau sekolah mereka? Mereka ada yang antusias ingin menemui David Beckham di Internet dan ada juga yang menanyakan kepada guru agama/mengaji mereka apakah Internet itu halal atau haram, yah pokoknya dalam iklan tersebut digambarkan anak2 desa yang sangat bersemangat dan antusias menyambut kedatangan Internet.
Namun sadarkah kita, andaikan si anak di desa tersebut misalnya ingin mengetahui David Beckham terus dia mencari di Search Engine…. dan menemukan hampir semua informasi tentang David Beckham di dunia maya dalam Bahasa Inggris?? Tentu ia akan sangat kesulitan untuk mencernanya. Mungkin jangankan muridnya, guru-gurunyapun banyak yang juga kesulitan untuk mencerna informasi dalam bahasa asing tersebut. Ini adalah kenyataan yang sangat memprihatinkan bahwa masih dibilang sedikit informasi2 tentang segala sesuatu di Internet ini dalam Bahasa Indonesia. Sebagai contoh misalnya, artikel saya yang judulnya “Angka Romawi” termasuk yang banyak diakses di antara artikel2 saya yang lain, rupa2nya lumayan banyak juga mereka2 atau mungkin murid2 sekolah yang ingin belajar atau mengetahui angka Romawi.  Memang setelah saya cari di search engine sangat sedikit sekali informasi dalam Bahasa Indonesia mengenai bagaimana membaca angka Romawi di internet ini. Mungkin jikalau mereka mengetikkan kata “Roman Numerals” di search engine mereka akan mendapatkan segudang informasi yang mereka butuhkan dengan mudah termasuk bagaimana membaca dan menulis angka Romawi. Namun tentu saja kita tidak bisa mengharapkan mereka yang dari desa terpencil akan mengetikkan kata ‘Roman Numerals’ di search engine yang mereka temui. 
Pada saat saya memulai menulis sebuah blog, blog pertama saya adalah blog berbahasa Inggris di Blogger. Namun saya sadar jikalau saya menyajikan dalam bahasa Inggris mungkin blog saya menjadi kurang bermakna karena mungkin banyak informasi lain sejenis dalam bahasa Inggris yang jauh lebih bagus daripada blog yang saya bikin tersebut karena memang informasi apapun di internet ini dalam Bahasa Inggris sudah sangat kaya dan bermutu. Untuk itu saya membuka blog berbahasa Indonesia ini di WP agar mudah2an blog saya menjadi lebih berharga bagi mereka2 yang mampir di blog saya, karena saya tahu informasi2 dalam bahasa Indonesia masih terbilang ‘miskin’ di dunia maya ini (apalagi dibandingkan Bahasa Inggris tentu saja!). Untuk itu saya mengajak para rekan blogger untuk menyumbangkan sesuatu melalui blog mereka agar proses Internet masuk desa menjadi lebih berarti. Percuma saja andaikan sarana fisik sudah sampai di desa namun mereka tidak mendapatkan informasi yang sesuai bagi mereka karena keterbatasan informasi dalam bahasa kita. Bukan begitu?😀
English Quiz: An Inhabitant of a Country
Ok now I’m gonna take you to a simple quiz. It is about “Countries and their inhabitants”. It is absolutely easy. If you are asked by somebody overseas:
“Where do you come from?”
Of course you will say: “I am from Indonesia and I am an Indonesian“.
Now let’s take a closer look at the boldfaced word: Indonesian. The word “Indonesian” represents an inhabitant of Indonesia. Right? Ok! Now what if you come from Australia? What is an inhabitant of Australia called? Of course, it is Australian!  And what is an inhabitant of Germany? It is called a German. Piece of cake, isn’t it? Well, don’t get over the moon too fast! Let’s see how well you can go with these following countries:
Switzerland, Sweden, Thailand, Peru, Panama, Saudi Arabia, Turkey, Poland, Oman and Argentina.
Ok what do you say? Pardon me? Is it still a child’s play for you? It still fails to turn you on to this quiz? Ok, well in that case I’m gonna give you more arduous things for you. Let’s see do you know what an inhabitant of these countries is? In English of course!
Mauritius, Burkina Faso, St. Vincent and the Grenadines, Vanuatu, Lesotho, Mayotte (a French dependency in the Indian Ocean), Niger, Monaco, Luxembourg, Liechtenstein, Solomon Islands, Seychelles, and Namibia.
Can you figure out??:mrgreen:The answer of this quiz will be given later in a couple of days!😀

13 responses to “Compendium of Three

  1. pertamax…
    sedang buru-buru out of the town tebakannya ntar aja…
    btw, masih ada tentang Malaysia lagi nih Mas…😉

  2. Wah… pertamaxnya telat. Idenya blh juga tu menggabungkan 3 artikel pendk jadi satu biar panjang dan biar ga capek bikin lagi nantinya, gitu ya?😀

  3. Saya mau komentar tentang Blog dan internet masuk desa…..

    Di satu sisi, anak-anak desa akan menjadi bingung terhadap bahasa Inggris. Ya, sependapat, untuk awalnya. Karena menarik, bukan tak mungkin mereka akan menjadi ingin belajar bahasa Inggris.

    Saya bayangkan zaman dulu, saya sekolah di Sekolah Rakyat (SD) dipinggiran kota kecil. Apa bahasa pengantarnya? Bahasa Jawa. Dan buku-bukunya juga bahasa Jawa (bukan tulisan Jawa), pada saat kelas 4 baru mulai diajar bahasa Indonesia. Karena buku2nya bahasa Indonesia, maka kamipun cepat sekali belajar bahasa Indonesia (jangan lupa saat itu belum ada TV, dan radio pun hanya segelintir orang yang punya di kotaku), apalagi gurunya langsung memakai pengantar bahasa Indonesia, diselang seling bahasa Jawa.

    Sekarang, setelah puluhan tahun kemudian, semua memahami bahasa Indonesia, bahkan di dusun terpencil pun, bahkan di perbatasan Papua, orang PNG pun berbahasa Indonesia agar bisa berbelanja dan menawar barang di pasar perbatasan Indonesia.

    Hmm, saya setuju, marilah kita menulis blog yang dapat memberikan sharing bagi anak-anak pedesaan tsb, tentunya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik.

  4. Ya ya, language is habit. Prinsipnya, menggunakan bahasa Indonesia sangat baik, dan memang begitu seharusnya. Bermasyarakat dengan masyarakat global, berbahasa internasional, tentu juga tidak zeleq. Masalahnya, untuk keduanya, apakah kita (masyarakat, dhi, siswa SD, termasuk gurunya), mampu.

    Saya punya pengalaman menarik. Ketika walikota kami memberi hadiah kepada guru-guru PBS dan berprestasi puluhan laptop (dibeli sendiri karena yang dihadiahkan uang), dan sebagian besar mereka telah ikut bimbingan Karya Tulis Ilmiah (KTI) selama setahun, lewat bimbingan internet, apa yang didapat? Ada yang baru paham apa itu email ketika saya latih ngeblog. Nah, lho.

    Sampeyan bayangkan saja. Saya teringat ‘kebodohan’ pegajaran matematika. Banyak guru (SD) yang belum paham, di sekolah anak kebingungan, di rumah mengerjakan tugas ketika bertanya pada ortu, ortu tidak paham (termasuk saya). Banyak yang ngak mau belajar (ortu), dan akibatnya, matematika yang menarik itu, menjadi ‘hantu’, ditakuti. Bahasa Indonesia dan Inggris, sami mawon kali ya. Sampai-sampai untuk menhadapi UN, dilatihlah siswa-siwa keterampilan menjawab soal secara instant. Duh, … pendidikan Indonesia.

    Kayaknya, soal internet masuk desa bisa lebih parah deh. Selama, orang-orang Jakarta, berpikir ala Jakarta doang, dan tidak paham ada diskrapensi menganga antara ‘pemilik’ lebih 60% peredaran uang republik dengan peslosok (desa) Indonesia.

    Ya ya, kalau berujar …I am from Indonesia and I am an Indonesian … mungkin tidak susah. Masalahnya ‘menjadi’ Indonesian itu yang ngalih (susah). Bagaimana ya? Apa ada jalan lebih cepat untuk ‘menjadi’ yang benar-benar ‘menjadi’?

  5. Wah, ada 3 artikel! mana yang perlu dikomentari, yak! Coba aja dah!
    Yang pertama, mengenai meorosottnya peringkat Indonesia dalam SEA Games. Waduh, dari sudut mana pun kayaknya negeri kita itu ibarat toda benar2 sedang berada di bawah, Bung, hehehehe😀 Tapi sautu ketika saya yakin negeri kita akan bangkit. Biarkan Malingsia berkoar:mrgreen:

    Kedua, mengenai internet masuk desa. Ya, agaknya bener nih, Bung, jangankan kok muridnya, gurunya pun belum tentu paham informasi dari SE. *Walah, jadi ikutan malu, nih. Abis, bhs saya juga masih hancur: mrgreen:

    Ketiga, kuisnya agak berat nih. Walah nama penduduk Mauritius, Burkina Faso, St. Vincent dan Grenadines, Vanuatu, Lesotho, Mayotte, dll.

    Apakah tidak cukup dengan menambahkan fonem /n/ di belakangnya, Bung, hehehehe😆 sehingga menjadi Mau Mauritiusan, Burkina Fasoan, St. Vincentan dan Grenadinesan, Vanuatuan, Lesothoan, Mayottean, dlll.
    *Wah, jawabannya ngacau nih*

  6. @agoyyoga

    Ok…ok… silahkan…silahkan…..🙂

    @abintoro

    Hmmm… ya maksudnya nggak gitu seh…. emang tema2 ini mau aku tulis tapi terlalu pendek, begitu!🙂

    @edratna

    Wah…. terima kasih bu atas bagi2 pengalamannya di ‘zaman dulu’. Memang kalau ‘terpaksa’ orang menjadi belajar dengan sungguh-sungguh dan serius serta hasilnya akan baik pula. Tapi mungkin dalam Internet ini kasusnya agak berbeda sedikit, karena mungkin internet ini tidak ‘wajib’ dan tujuan murid2 ‘hanya’ ingin mengetahui sebuah informasi dengan instan. Mungkin yang akan terjadi adalah 2 kemungkinan: menjadi tertarik belajar bahasa Inggris atau (yang ini mudah2an tidak) menjadi kurang berminat terhadap internet kecuali utk hal2 yg bersifat menghibur seperti game, dsb.
    Yah, namun bagaimanapun juga memang saya juga rasakan, informasi dlm Bahasa Indonesia di internet ini memang sangat kurang.🙂

    @Ersis WA

    Ya, mungkin kita terjebak dalam ‘dogma’2 atau ‘doktrin’2 yang justru merugikan diri sendiri seperti misalnya: “Matematika itu sulit” atau “Internet hanya untuk anak muda yang nggak ada kerjaan” dll., dll. Yah itulah seringkali yg membuat kita terjebak dalam lingkaran keterbelakangan. Bahkan orang mau latihan bahasa Inggris dengan menerapkan percakapan Bahasa Inggris sehari2 dibilang sok ke-Inggris-Inggrisan dan lain-lain. Padahal mengecat rambut jadi kebulé2an dibilang oke-oke aja padahal lebih bermanfaat latihan bahasa Inggris daripada mengecat rambut jadi seperti bulé, betul nggak?:mrgreen:

    Yah, mengenai Internet masuk desa, yah mudah2an bisa bertahap deh, kita harapkan saja. Apalagi di pulau2 yang agak kecil dan terpencil, maklum deh negara kita negara kepulauan yg berserakan luas. Sudah begitu termasuk ‘negara miskin’ pula, justru kebalikannya dengan Singapura atau Brunei, negaranya sebesar upil tapi negaranya makmur dan rakyatnya makmur, tentu investasi internet di negara itu menjadi lebih murah dan pemasarannya juga lebih ‘gampang’ karena negara2 tersebut sudah makmur. Yah, kita tunggu saja pak Ersis, semuanya tentu ada prosesnya.

    @Sawali Tuhusetya

    Huahahaha… iya memang roda terus berputar…. tetapi walaupun berputar si Malingsia Malaysia sampai kini tetap belum bisa menikmati ’emas olimpiade’ yang rasanya lebih nikmat itu! Hehehehe….:mrgreen:

    Huehehehe… biarin saja pak bahasanya hancur juga, yang penting niat kita ‘kan baik dan ingin sharing, sekecil apapun ilmu yang kita dapat/punya sepatutnya kita bagi kepada orang lain, bukankah begitu?😀

    Hehehehe… usaha yang bagus pak Sawali, ada yang cukup dekat jawabannya, tapi semuanya masih kurang tepat, nanti akan saya kasih tahu jawabannya hehehehe…..:mrgreen:

  7. Ke satu, sepertinya memang iya, prestasi olahraga kita menurun banyak. Tapi, masih ada yang bisa dibanggakan, kan, he he he. Ya, mendali Olympiade itu. Mudah-mudahan Olympiade yang diselenggarakan tahun depan negeri kita ini bisa meraih lebih banyak mendali lagi.

    Kedua, jangankan di desa, yang lagi ngetik koment ini tinggal di Jakarta saja baru bisa ngenet, he he he(malu sendiri). Setuju dengan Kang Yari sekecil apapun ilmu kita yang penting kita bisa sharing dan berbagi.

    Ketiga, alamak! mati kutu karena cuma ngerti 50% saja. Tapi, saya juga akan berusaha belajar lebih baik lagi tahun depan. Saya juga setuju bahwa sebagaian besar informasi menarik masih dalam bahasa Inggris.

    _____________________________________________________

    Yari NK replies:

    – Ya itulah, bagi Malaysia emas olimpiade masih cuma angan2:mrgreen:
    – Huehehehe…. wah kalau itu sih bukan masalah “ketersediaan fasilitas internet” tapi karena kurang dibiasakan saja mungkin. Tapi nggak usah khawatir kok, “Gatek/gaptek” seperti itu nggak terjadi di negara kita saja, di negara2 majupun masih banyak juga orang2 yg gaptek, tetapi sekarang mbak Hanna udah ngga gaptek lagi kan?😀
    – Huehehehe….. ya nanti akan saya kasih tahu jawabannya😀

  8. Kang, saya ada email ke email akang, Tolong dibalas yach, tengkyu.

    ____________________________________________

    Yari NK replies:

    Ok, sudah dibalas tuh. Ok? thanks kembali ya.🙂

  9. 1. Masih sebel ama malaysia ya ?:mrgreen:

    2. Ada plus minusnya juga dengan versi bahasa. Kalau bahasa inggris, orang akan mencoba belajar bahasa inggris supaya bisa ngerti. Nah klo pake bahasa indonesia, orang cenderung manja untuk belajar bhs inggris. Tapi tetep buat saya pribadi, blog saya akan selalu berbahasa indonesia demi Nasionalisme dan membantu mereka2 yg kesulitan dalam pengusaan bahasa inggris.

    3. No comment ama yg ini. Istilah inggris terkadang membingungkan.

    _________________________________________________________________

    Yari NK replies:

    1. Huehehehe…. habisan Malaysia banyak tingkah, kalau AS, Uni Eropa atau Jepang banyak tingkah atau sombong sih masih mendingan wong negaranya juga hebat kok, kalau Malaysia?? Apanya yg hebat?? Apanya yg mau disombongin?? Wong bikin Petronas Towers aja yang bikin bulé kok. Weleeeh jadi OOT ya?:mrgreen:
    2. Iya sih, tapi bagaimanapun juga tentu sulit bagi anak2 di desa untuk belajar bahasa Inggris hanya untuk mencari informasi di internet sesaat jangkan di desa wong di kota aja masih banyak kok yang “gaping” alias gagap Bahasa Inggris, ya untuk itu perlu ditingkatkan keberadaan informasi dalam bahasa Indonesia.😀
    3. Huehehehe…. ok nanti dikasih tahu jawabannya.:mrgreen:

  10. Nyoba nebak nih… moga-moga bener…

    Switzerland : Swiss
    Sweden : Swedish
    Thailand : Thai
    Peru : Peruvian
    Panama : Panamanian
    Saudi Arabia : Arabian
    Turkey : Turk
    Poland : Pole
    Oman : Omani
    Argentina : Argentine
    Mauritius : Mauritian
    Burkina Faso : Burkinabé
    St. Vincent and the Grenadines: Vincentian? *agak-agak gak yakin*
    Vanuatu : ni-Vanuatu
    Lesotho : Basotho
    Mayotte : Comorian kali ya?
    Niger : Nigerien
    Monaco : Swiss – kah?
    Luxembourg : Luxembourger
    Liechtenstein : Liechtensteiner
    Solomon Islands : the Solomon.. yang ini asal aja…
    Seychelles : Seychellois
    Namibia : Namibian

    Gimana mas, saya dapat nilai berapa?😉

    _______________________________________-

    Yari NK replies:

    Wah bagus sekali, tetapi ada beberapa yang salah dan perlu catatan sedikit, jawabannya sudah saya buat di sini. 🙂

  11. blog masuk desa. waktunya pak tani ngeblog!

    ___________________________________________

    Yari NK replies:

    Hehehehe… wah asal jangan keasyikan ngeblog sehingga lupa bertani ya? Bisa gawat tuh! Hehehehe…. 😀

  12. Iya sih, tapi bagaimanapun juga tentu sulit bagi anak2 di desa untuk belajar bahasa Inggris hanya untuk mencari informasi di internet sesaat jangkan di desa wong di kota aja masih banyak kok yang “gaping” alias gagap Bahasa Inggris, ya untuk itu perlu ditingkatkan keberadaan informasi dalam bahasa Indonesia.

    ———————————————————————————–
    Ini saya setuju sekali!
    Pengalaman pribadi, untuk mencari literatur berbahasa Indonesia, source-nya sangat terbatas, sehingga terpaksa mencari yang berbahasa Inggris, jadi terpaksa belajar bahasa ini….

    Wikipedia dalam bahasa Indonesia pun koleksi artikelnya masih terbatas, jangankan untuk topik yang serius dan spesifik untuk ilmu tertentu, yang umum-umum saja masih belum banyak…

    Jadi jangankan untuk anak-anak desa atau pak tani , untuk orang dewasa yang diperkotaan pun informasi dalam bahasa Indonesia masih terbatas, padahal Indonesia tidak seperti Korut yang memang membatasi akses internet warganya.

    Tapi kalau ada yang tanya kenapa blog saya pakai bahasa Inggris? mudah-mudahan setelah melihat blog itu, yang tanya tahu kalau yang punya blog sedang belajar bahasa Inggris… lalu kapan saya bisa berbuat sesuatu sebagai solusi uneg-uneg saya? InsyaAllah kelak kalau ada kesempatan yang baik, karena membuat blog yang sangat informatif seperti milik mas Yari ini, harus punya dedikasi yang tinggi, dan pengetahuan yang sangat baik…

    *karena sebenarnya… paling enak jadi komentator daripada berbuat*😀

    ehem… Kalau tidak dunia akan tahu bagaimana kualitas yang nulis… Dunia makin datar seperti kata Thomas L. Friedman.. dan kalau tulisan salah malah berabe karena menyesatkan orang…

    *makin OOT dasar!🙂 *

    Tulisan mas Yari di atas intinya (cmiiw) adalah informasi dan media bahasa yang digunakan agar mengena pada audience-nya, ini esensi komunikasi *internet hanya salah satu cara* tulisan yang bagus mas…

    Kalau memungkinkan, perlu juga nih mas membahas tentang bagaimana caranya saudara-saudara di desa bisa mendapatkan perangkat untuk internet itu, misalnya dapat PC-nya bagaimana? karena ini kan barang mewah buat mereka… terus bagaimana sebaiknya mengajari mereka menggunakan media ini? Karena saya yakin kalau sudah pada melek internet semua, pak tani bisa menambah pengetahuan buat bercocok tanam dan meningkatkan daya saing mereka. Ini mengingatkan saya pada artikel disini;-

    http://www.microsoft.com/indonesia/ca/up/
    http://www.balisoft.co.id/modules.php?name=News&file=article&sid=20
    http://www.mail-archive.com/warnet2000@yahoogroups.com/msg00268.html

    ya sudahlah cukup sekian uneg-uneg saya, mudah-mudahan Indonesia bangkit!

    ___________________________________________

    Yari NK replies:

    First of all, I would like to apologise that your comment was contained by Akismet since it has more than two links within. But as you see, I have set free your comment and it appears as a normal comment herein.:mrgreen:

    Memang perangkat kerasnya juga perlu diperhatikan bagaimana caranya pak Tani mendapatkannya, tetapi informasinya juga harus ada, tentu juga yang sepadan dengan kemampuan dan kebutuhan pak Tani. Jangan sampai puluhan juta rupiah perangkat keras sudah dikeluarkan untuk membeli perangkat keras ternyata tidak bisa digunakan secara maksimal gara2 minim informasi. Bukankah begitu?🙂

    Menurut saya, blog anda yang berbahasa Inggris, tidak ada masalah kok, bagus2 dan ok2 saja🙂 , ya saya mengerti setiap orang punya misi yang berbeda dalam menulis blog, tentu itu adalah masalah kebebasan individu dalam berekspresi. Jangan sampai ingin mencapai suatu misi tetapi mengabaikan kebebasan berekspresi itu juga tidak betul. So I think you must go on with your English blog. It is very much okay!🙂

  13. 🙂 thank you for releasing my comment and for encouraging my self…

    Saya pikir blog saya sering terjebak pada “kenarsisan” diri saya..
    padahal tidak bermaksud begitu, jadi masih jauh dari harapan..

    ______________________________________________________

    Yari NK replies:

    It’s okay, you have to keep trying, that’s what matters!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s