Daily Archives: Kamis, 27 Desember 2007

Mitologi: Distorsi Dari Kejadian-Kejadian Aktual

The Illustrated Anthology of World Myth and StorytellingPostingan ini juga didedikasikan sebagai penghargaan tulus saya terhadap seorang rekan blogger yang sama yang juga memberikan buku ” The Complete Encyclopaedia of Warships: Steam, Turbine, Diesel, Nuclear: 1798-2006.” Namun artikel kali ini saya simpulkan dari buku yang satu lagi yang diberikan kepada saya yaitu: “Mythology: The Illustrated Anthology of World Myth and Storytelling“. Namun sebelumnya saya mohon maaf, karena saya bukan ahli mitologi dan juga saya belum 100%  selesai membaca buku ini (Terbitan Duncan Baird Publishers, London, UK), maka sekali lagi saya mohon maaf jikalau kupasan saya di artikel ini kurang menggigit dan kurang dalam. Namun karena saya senang dengan tantangan baru maka saya putuskan untuk menulis juga artikel ini. Nah, ayo mari kita mulai:

Mitologi, definisi dasar menurut buku ini adalah bagai sebuah refleksi dalam sebuah cermin di mana refleksi tersebut bukan hanya mencerminkan harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan kita  tetapi juga mencerminkan orang-orang dari masa di mana mitos tersebut berasal. Terkadang beberapa mitos merupakan cermin satu2nya untuk melihat orang-orang pada zaman itu karena mungkin mitos tersebut berasal dari masa di mana belum ada catatan tertulis sejarah.

Mitos seringkali diceritakan dari generasi ke generasi, dan tak jarang mitos tersebut sudah banyak terjadi distorsi atau perubahan dari aslinya. Bagi orang-orang di generasi pertama di mana mitos tersebut berawal, cerita-cerita mitos bukan hanya sekedar cerita-cerita belaka, tetapi banyak juga berfungsi untuk menjelaskan fenomena-fenomena alam yang terjadi melalui jawaban-jawaban filosofis yang dianggap benar mewakili kejadian fenomena2 tersebut. Tentu jawaban-jawaban filosofis inilah satu-satunya yang dapat disimpulkan oleh manusia2 pada masa itu sebelum ilmu pengetahuan menggantikan jawaban2 filosofis untuk menerangkan fenomena2 alam yang terjadi. Bukan itu saja, cerita-cerita mitos pada zaman itu juga berfungsi sebagai petunjuk bagaimana manusia sebaiknya bertingkahlaku baik tingkah laku pribadi maupun tingkah laku dalam lingkup sosial.

Tidak seperti buku mitologi saya yang cetakan tahun 1970an yang hanya memaparkan mitologi dari dunia barat saja terutama dari Romawi, Yunani, Jermania dan Norwegia (Norse) maka buku pemberian rekan blogger saya ini memberikan gambaran mitologi yang jauh lebih lengkap dari berbagai belahan bumi mulai dari mitologi barat hingga mitologi Afrika, Aborigine Australia hingga mitologi bangsa2 Indian di benua Amerika. Sayang mitologi khusus dari Indonesia tidak ada padahal Indonesia juga punya mitos2 walaupun tidak begitu terkenal ke seluruh dunia seperti: Ratu Pantai Selatan dan Kuntilanak(?). Nah dari buku ini saya mengenal wajah2 mitologi yang berbeda2 di seluruh dunia. Bahkan dalam pendiskripsian suatu obyekpun terkadang berbeda-beda dari satu mitos ke mitos lainnya di belahan bumi ini (mengingat mitologi adalah berangkat dari pencarian jawaban atas fenomena-fenomena aktual atau alamiah di zaman pra-sejarah dan tentu saja pra-sains). Bulan misalnya, di tengah2 suku bangsa Aborigine Australia dianggap sebagai penjelmaan dari kucing mitos bernama Mityan yang bertarung guna memperebutkan cinta calon pasangan hidup dari Unurginit yang direpresentasikan sebagai sebuah bintang di rasi Canis Major.  Dan si kucing Mityan ini kalah bertarung dan sejak itu ia terbuang dan ‘bergentayangan’ menjadi bulan di langit. Bangsa Mesir kuno merepresentasikan bulan sebagai dewa ‘Thoth“. Dewa Toth ini dilukiskan sebagai dewa yang bijak dan terpelajar sekaligus seorang (sedewa lebih cocok barangkali ya? :mrgreen: ) mediator dan seorang pembawa perdamaian. Dewa Thoth ini jugalah yang dipercayai mendamaikan Dewa Re atau dewa cahaya dan Dewa Horus, dewa kegelapan. Sedangkan bagi bangsa Aztec zaman dahulu yang menempati lokasi di negara Meksiko sekarang,  bulan adalah penjelmaan dari dewa Tecuciztecatl. Sebenarnya Tecuciztecatl ini ingin menjadi dewa matahari tetapi karena kalah bersaing dari dewa Nanahuatzin maka dewa Tecuciztecatl ini hanya menjadi dewa bulan sedangkan yang menjadi dewa matahari akhirnya adalah dewa Nanahuatzin. Begitulah umat manusia zaman dahulu di berbagai belahan bumi ‘mengarang’ cerita sendiri-sendiri yang berbeda-beda guna menjelaskan fenomena alamiah. Bukan hanya bulan namun juga matahari, bintang, lautan, bumi dan bahkan binatang2 menuai cerita unik tersendiri di setiap tempat di muka bumi ini.

Kebanyakan mitos memang dipercayai ada pada masyarakat zaman dahulu dan seiring dengan berjalannya waktu dan generasi, cerita2 tersebut mengalami distorsi, penambahan, pengurangan dan sebagainya. Dan biasanya pula mitos-mitos ini tentu saja tidak diketahui siapa ‘pengarang’nya atau bagaimana dan siapa yang memulainya. Memang ada beberapa mitos yang diketahui pengarangnya walaupun riwayat si pengarang hanya diketahui sangat sedikit oleh generasi2 sesudahnya. Contohnya adalah Sun Wokong, yaitu legenda China raja monyet (The Monkey King) yang sangat terkenal bukan hanya di negeri China tetapi juga di seluruh dunia. Di buku ini The Monkey King, sebuah saga komikal tentang monyet yang berakhir menjadi seorang buddha,  juga dimasukkan sebagai sebuah mitos. Dan pengarangnya diketahui bernama Wu Cheng’en, yang hanya diketahui namanya saja sedangkan riwayat hidup sang pengarang yang sebenarnya sangat sedikit diketahui.

Nah, begitulah untuk sementara garis besar-garis besar mitologi yang dapat saya simpulkan. Saya masih terus membaca buku ini yang belum selesai. Sebenarnya saya menemukan banyak sekali topik2 khusus yang menarik yang saya temukan di buku ini. Mungkin di lain waktu saya akan kembali dengan kupasan topik2 khusus di dalam buku ini. 

Mitologi dan mitos memang dapat menjadi sesuatu yang menarik. Karena mitos di zaman serba sains ini tidak lagi menjadi penjelasan dari fenomena2 alam namun hanya menjadi cerita2 di kala senggang dan sebagai salah satu bahan bakar dunia hiburan masa kini, yang terkadang lucu, pandir, dan terkadang dibuat seram dan horor semuanya dapat menjadi hiburan tersendiri di masa kini. Itulah sebabnya mitos2 terus berkembang bahkan di masa kini. Di Amerika Serikat: Jack the Giant Killer, The Legend of Sleepy Hollow, Boogeyman dan bahkan (believe it or not!) Cinderella dimasukkan sebagai mitos modern di tengah masyarakat Amerika yang tentu saja keberadaannya dianggap sebagai sebatas dongeng saja. Dan di Indonesia mungkin kasus Kolor Ijo, yang dulu pernah merebak, jikalau diingat2 dan diceritakan terus oleh masyarakat dari generasi ke generasi mungkin dapat berkembang menjadi mitos pula. Ya nampaknya mau tidak mau, suka tidak suka, naif tidak naif, mitos dan mitologi nampaknya tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat modern………