Mitologi: Distorsi Dari Kejadian-Kejadian Aktual

The Illustrated Anthology of World Myth and StorytellingPostingan ini juga didedikasikan sebagai penghargaan tulus saya terhadap seorang rekan blogger yang sama yang juga memberikan buku ” The Complete Encyclopaedia of Warships: Steam, Turbine, Diesel, Nuclear: 1798-2006.” Namun artikel kali ini saya simpulkan dari buku yang satu lagi yang diberikan kepada saya yaitu: “Mythology: The Illustrated Anthology of World Myth and Storytelling“. Namun sebelumnya saya mohon maaf, karena saya bukan ahli mitologi dan juga saya belum 100%  selesai membaca buku ini (Terbitan Duncan Baird Publishers, London, UK), maka sekali lagi saya mohon maaf jikalau kupasan saya di artikel ini kurang menggigit dan kurang dalam. Namun karena saya senang dengan tantangan baru maka saya putuskan untuk menulis juga artikel ini. Nah, ayo mari kita mulai:

Mitologi, definisi dasar menurut buku ini adalah bagai sebuah refleksi dalam sebuah cermin di mana refleksi tersebut bukan hanya mencerminkan harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan kita  tetapi juga mencerminkan orang-orang dari masa di mana mitos tersebut berasal. Terkadang beberapa mitos merupakan cermin satu2nya untuk melihat orang-orang pada zaman itu karena mungkin mitos tersebut berasal dari masa di mana belum ada catatan tertulis sejarah.

Mitos seringkali diceritakan dari generasi ke generasi, dan tak jarang mitos tersebut sudah banyak terjadi distorsi atau perubahan dari aslinya. Bagi orang-orang di generasi pertama di mana mitos tersebut berawal, cerita-cerita mitos bukan hanya sekedar cerita-cerita belaka, tetapi banyak juga berfungsi untuk menjelaskan fenomena-fenomena alam yang terjadi melalui jawaban-jawaban filosofis yang dianggap benar mewakili kejadian fenomena2 tersebut. Tentu jawaban-jawaban filosofis inilah satu-satunya yang dapat disimpulkan oleh manusia2 pada masa itu sebelum ilmu pengetahuan menggantikan jawaban2 filosofis untuk menerangkan fenomena2 alam yang terjadi. Bukan itu saja, cerita-cerita mitos pada zaman itu juga berfungsi sebagai petunjuk bagaimana manusia sebaiknya bertingkahlaku baik tingkah laku pribadi maupun tingkah laku dalam lingkup sosial.

Tidak seperti buku mitologi saya yang cetakan tahun 1970an yang hanya memaparkan mitologi dari dunia barat saja terutama dari Romawi, Yunani, Jermania dan Norwegia (Norse) maka buku pemberian rekan blogger saya ini memberikan gambaran mitologi yang jauh lebih lengkap dari berbagai belahan bumi mulai dari mitologi barat hingga mitologi Afrika, Aborigine Australia hingga mitologi bangsa2 Indian di benua Amerika. Sayang mitologi khusus dari Indonesia tidak ada padahal Indonesia juga punya mitos2 walaupun tidak begitu terkenal ke seluruh dunia seperti: Ratu Pantai Selatan dan Kuntilanak(?). Nah dari buku ini saya mengenal wajah2 mitologi yang berbeda2 di seluruh dunia. Bahkan dalam pendiskripsian suatu obyekpun terkadang berbeda-beda dari satu mitos ke mitos lainnya di belahan bumi ini (mengingat mitologi adalah berangkat dari pencarian jawaban atas fenomena-fenomena aktual atau alamiah di zaman pra-sejarah dan tentu saja pra-sains). Bulan misalnya, di tengah2 suku bangsa Aborigine Australia dianggap sebagai penjelmaan dari kucing mitos bernama Mityan yang bertarung guna memperebutkan cinta calon pasangan hidup dari Unurginit yang direpresentasikan sebagai sebuah bintang di rasi Canis Major.  Dan si kucing Mityan ini kalah bertarung dan sejak itu ia terbuang dan ‘bergentayangan’ menjadi bulan di langit. Bangsa Mesir kuno merepresentasikan bulan sebagai dewa ‘Thoth“. Dewa Toth ini dilukiskan sebagai dewa yang bijak dan terpelajar sekaligus seorang (sedewa lebih cocok barangkali ya? :mrgreen: ) mediator dan seorang pembawa perdamaian. Dewa Thoth ini jugalah yang dipercayai mendamaikan Dewa Re atau dewa cahaya dan Dewa Horus, dewa kegelapan. Sedangkan bagi bangsa Aztec zaman dahulu yang menempati lokasi di negara Meksiko sekarang,  bulan adalah penjelmaan dari dewa Tecuciztecatl. Sebenarnya Tecuciztecatl ini ingin menjadi dewa matahari tetapi karena kalah bersaing dari dewa Nanahuatzin maka dewa Tecuciztecatl ini hanya menjadi dewa bulan sedangkan yang menjadi dewa matahari akhirnya adalah dewa Nanahuatzin. Begitulah umat manusia zaman dahulu di berbagai belahan bumi ‘mengarang’ cerita sendiri-sendiri yang berbeda-beda guna menjelaskan fenomena alamiah. Bukan hanya bulan namun juga matahari, bintang, lautan, bumi dan bahkan binatang2 menuai cerita unik tersendiri di setiap tempat di muka bumi ini.

Kebanyakan mitos memang dipercayai ada pada masyarakat zaman dahulu dan seiring dengan berjalannya waktu dan generasi, cerita2 tersebut mengalami distorsi, penambahan, pengurangan dan sebagainya. Dan biasanya pula mitos-mitos ini tentu saja tidak diketahui siapa ‘pengarang’nya atau bagaimana dan siapa yang memulainya. Memang ada beberapa mitos yang diketahui pengarangnya walaupun riwayat si pengarang hanya diketahui sangat sedikit oleh generasi2 sesudahnya. Contohnya adalah Sun Wokong, yaitu legenda China raja monyet (The Monkey King) yang sangat terkenal bukan hanya di negeri China tetapi juga di seluruh dunia. Di buku ini The Monkey King, sebuah saga komikal tentang monyet yang berakhir menjadi seorang buddha,  juga dimasukkan sebagai sebuah mitos. Dan pengarangnya diketahui bernama Wu Cheng’en, yang hanya diketahui namanya saja sedangkan riwayat hidup sang pengarang yang sebenarnya sangat sedikit diketahui.

Nah, begitulah untuk sementara garis besar-garis besar mitologi yang dapat saya simpulkan. Saya masih terus membaca buku ini yang belum selesai. Sebenarnya saya menemukan banyak sekali topik2 khusus yang menarik yang saya temukan di buku ini. Mungkin di lain waktu saya akan kembali dengan kupasan topik2 khusus di dalam buku ini. 

Mitologi dan mitos memang dapat menjadi sesuatu yang menarik. Karena mitos di zaman serba sains ini tidak lagi menjadi penjelasan dari fenomena2 alam namun hanya menjadi cerita2 di kala senggang dan sebagai salah satu bahan bakar dunia hiburan masa kini, yang terkadang lucu, pandir, dan terkadang dibuat seram dan horor semuanya dapat menjadi hiburan tersendiri di masa kini. Itulah sebabnya mitos2 terus berkembang bahkan di masa kini. Di Amerika Serikat: Jack the Giant Killer, The Legend of Sleepy Hollow, Boogeyman dan bahkan (believe it or not!) Cinderella dimasukkan sebagai mitos modern di tengah masyarakat Amerika yang tentu saja keberadaannya dianggap sebagai sebatas dongeng saja. Dan di Indonesia mungkin kasus Kolor Ijo, yang dulu pernah merebak, jikalau diingat2 dan diceritakan terus oleh masyarakat dari generasi ke generasi mungkin dapat berkembang menjadi mitos pula. Ya nampaknya mau tidak mau, suka tidak suka, naif tidak naif, mitos dan mitologi nampaknya tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat modern………

Iklan

25 responses to “Mitologi: Distorsi Dari Kejadian-Kejadian Aktual

  1. pertamaxxx… disini ada kompetisi pertamax ndak mas? pengetahuan saya tentang dunia myth ini cuma secuil… jadi saya memilih jadi pembaca saja, mudah-mudahan besok-besok postingannya semakin mendalam 🙂

  2. Menarik banget, Kang. Jadi menunggu deh lanjutannya yang lebih mendalam, he he. Sepertinya mitos2 masih membudaya terutama untuk daerah perdesaan. Antara logis dan tidak ya, kadang saya percaya, percaya aja, he he. Semisalnya fengshui. Ala, kalau di ulas panjang pula nanti. Iya, deh, tunggu dari Kang Yari aja ya.

  3. mitos sering identik dengan pandangan yang dianut oleh masyakakat primitif dan terbelakang. Mitos-mitos *halah sok tahu yak* ini biasanya sangat erat kaitannya dengan fenomena alam seriing dengan perkembangan peradaban masyarakat yang dibilang “primitif” itu yang masih sangat bergantung pada alam. Tapi, agaknya dari persepktif keilmuan, mitos ini justru menjadi menarik sebagai bahan kajian. Misalnya dari sisi folklore, mitos2 ini justru sering menjadi kajian para sarjana, khususnya yang bergerak di bidang humaniora. Mitos-mitos ini agaknya juga menjadi sumber ilham bagi para sastrawan dalam melahirkan teks-teksnya. Bung Yari, saya masih suka tuh yang berbau mitos2 seperti itu.

  4. si manis jembatan ancol termasuk mitologi ‘gak?

    salam,
    adi.n

  5. hngg… jadi inget. dulu saya sampe hampir kolep alias semaput pas denger kalo ‘the real’ alias kolor ijo versi ‘live-action’ namanya mirip nama saya… beda hobi en kelakuan aja.. betewe, bukuna keren, pak! dan di Gramedia kagak ada!

  6. Kolor ijo emang mitos gitu Mas? Sependek yang saya tau ceritanya diawali gara2 pemberitaan di koran tentang sebuah desa yg katanya geger diteror si pemilik kolor. Jadi deh dibikin serial sinetron. CMIIW.

    Btw. saya juga punya kolor berwarna ijo yg udah belel banget. Tapi sumpah saya bukan pelakunya. :mrgreen:

  7. Pada awalnya … mitos adalah ‘pegangan’, bahkan manusia modern tidak gagap mengangungkannya. Lihat saja pada lambang-lambang modern, dari binatang sampai tokoh legenda. Banyak hal yang dapat dipelajari dari mitologi. Manakala hal-hal modern dirasa ‘kering’ orang pada lari pada mitos-mitos. Yang kurang bagus, berpikir mistis, kali aja.

    Oh ya, kehidupan manusia kayaknya susah bebas mitos-mitos. Kemasannya saja yang perlu dimaknai. Misal, tentang Yeti di Himalaya, Bermuda Triangle, atau Vlad Dracula seperti ditulis dalam ‘novel sejarah, Historian oleh Elizabeth Kostova.

    Kalau nonton tayangan (cerita) mitologi di TV nasional, saya ngak doyan. Tapi, kalau Yunani, e … bagus merangsang pemikiran. Pada suatu perenungan, saya sampai berikir: Jangan-jangan mitos-mitos gambaran sesungguhnya dari berpikir (era mitos itu). Nah, kalau kita kembali ke jaman (mitos) Majapahit misalnya, rasanya agak tersesat. Bahwa, muatan positif era Majapahit kita ambil manfaatnya, iyalah.

    Maz Yari, Sampeyan ini ‘dasar tukang ganggu’ pikiran. Saya jadi ingat bacaan-bacaan lama. Makasih ya, kira-kira berikutnya apa lagi nich?

    Ada niat ndak menulis tentang penemuan-pemenuam? Apakah itu Tasmania, Angkor Wat, Timbuktu, Kalimanjoro, Taskent, atau roda, radar, DNA, dst. He he tapi bukan PR tahun 2008, lho.

  8. Hwuii…gini ni senengnya ngunjungin blognya om Yari, selalu penuh sejarah, fakta dunia & cerita-cerita menarik yang jarang terpikir untuk dibahas sebelumnya *khususnya bagi saya pribadi* :p

    humm, kalo bicara tentang mitos, hampir di belahan dunia manapun pasti punya cerita sendiri2, ya sperti yang sudah disebutin para om2 di atas. Tapi, rasanya kok rada males ya kalo ngebahas mitos/sejarah di negeri sendiri?? apa karena bosan? yah memang, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri ;p

  9. mitos kadang bisa menjadi pamali yah?

  10. Saya kok menemukan perbedaan dengan konsep mitos dan logos yang ditulis Karen Armstrong di buku Battle for God ya.. ??

    Mungkin mitos yang dimaksud disini adalah cerita-cerita rakyat, tradisi-tradisi lisan, folklore, folk-song, dll yang dilestarikan dan dipercayai pada suatu komunitas tertentu serta diwariskan dari generasi ke generasi.

    Betul kata Pak Ersis, mitos itu adalah pola berpikir manusia jaman dulu. Tapi penetrasi mitos ke jaman sekarang juga cukup besar. Di kota-kota besar, banyak orang-orang modern yang masih percaya pada cerita-cerita itu dan meyakini kebenarannya [bahkan secara harafiah]

    @ Pak Ersis :

    Mitos dan Mistis itu beda lho pak… 🙂

  11. @agoyyoga

    Kompetisi pertamax?? Hmmm sepertinya di setiap blog ada seh! Hehehe,,,
    Ya nggak apa2 kok…. saya juga lagi belajar mitologi, kebetulan ada teman/rekan blogger yang ngasih itu buku lantas saya baca dan pelajari saja. 😀

    @Hanna

    Ya…ya… memang menarik mbak…. lain waktu saya akan kembali lagi dengan topik2 khusus dari buku ini. 🙂

    @Sawali Tuhusetya

    Ya… memang terkadang mitos merupakan cerminan masyarakat primitif zaman dahulu terutama pola fikir mereka. Itulah kenapa bagi sebagian orang mitos menarik untuk dipelajari di zaman sekarang sehingga lahirlah mitologi. Dan memang cerita2 rakyat atau folklore dapat menjadi bagian dari mitologi. Ya, ya, saya juga masih senang dengan cerita2 mitologi. 🙂

    @sains untuk anak-anak

    Hmmm sepertinya Si Manis Jembatan Ambrol Ancol juga bisa dimasukkan ke dalam mitos deh. 😀

    @andex

    Huehehehe….. kalau ‘kolor-ijo’ yang berkelakuan baik gimana? :mrgreen:
    Oooo… saya belum sempat ngecek di Gramedia neh. Coba nanti saya cek di Gramedia Bandung sini. 🙂

    @Dhan

    Kayaknya bisa jadi masuk mitos. Mungkin orang2 desa tersebut tdk bisa menjelaskan suatu peristiwa tertentu hingga muncullah isu kolor ijo. Mungkin lho ya.
    Wah…. kalo saya sih…. ngga pernah punya kolor ijo….. pake kolorpun jarang :mrgreen:

    @Ersis WA

    Memang di masyarakat modern masih ada saja yang percaya mitos terutama mereka yang tidak mendapatkan pendidikan tinggi. Namun satu dua ada juga yang berpendidikan tinggi tapi masih percaya pada mitos, mungkin waktu masih kecil keluarganya berperan besar dalam menanamkan mitos tersebut ke dalam fikirannya. Dan memang benar, sedikit banyak fikiran2 manusia zaman dulu dapat dicerminkan ke dalam mitos2 yang dihasilkannya.

    Wah… untung bukan PR ya?? Memang di dalam benak saya, banyak yang saya fikirkan ingin saya tulis. Dalam waktu dekat yang akan saya tulis adalah sedikit tentang genetic engineering atau rekayasa genetik. Yang lainnya mungkin ada juga beberapa tulisan mengenai penemuan2, ya pokoknya tunggu saja. :mrgreen:

    @pipiew

    Lha, kalo mitos2 dalam negeri ‘kan udah sering di bioskop2 atau di sinetron2 di TV! Tinggal pilih aja! :mrgreen:
    😛

    @aRuL

    Ya… pamali2 bisa juga masuk ke dalam mitos. 🙂

    @Pyrrho

    Wah…. saya malah belum baca definisi mitos menurut Karen Armstrong… coba nanti saya cari tahu deh. 🙂 Tetapi memang judul buku yang saya baca di atas ada terkandung kata “……Storytelling“, nampaknya memang sang pengarang menganalogikan mitos2 zaman sekarang lebih sebagai cerita2 atau bisa jadi ia juga menganggap (banyak) cerita2 dapat dikategorikan sebagai mitos. Terkadang memang antara mitos dan cerita2 yang dipercayai atau diceritakan turun temurun hanya terdapat benang yang sangat tipis saja. 🙂

  12. lagi-lagi saya gak mudeng tulisan bapak. mitologi itu hubunganya sama dewa-dewa bukan ya

  13. wuaa..ternyata ada juga mitos ttg kucing 😀
    ada gak ya mitos preman takut kucing?? :mrgreen:

  14. Pak Yari, definisi Mitologi-nya bagi saya ada yang mengganjal. (Saya masih bertanya-tanya. Dalam definisi tersebut ada kata yang disebutkan tiba-tiba, yakni kata mitos, yang belum didefinisikan sebelumnya. Jadi bingung nih.. 😀 ).

    Oh, iya. Mitos-mitos yang dari Indonesia juga sebetulnya menggambarkan bagaimana tingkat intelektualitas orang-orang kita untuk menjelaskan “sesuatu” di jamannya. Walaupun terkadang kita anggap sesuatu yang lucu saat ini. Jadi, memiliki nilai yang setara dengan mitos-mitos dari negeri lain. 😀

  15. Aaah, akhirnya sampai sini lg… 😀

    Mitologi ni menarik skali bang. Yg populer sj, mungkin semua orang familiar dg nama ‘dewi fortuna’, tapi mungkin gak banyak yg tau siapa & kayak apa dia itu. Masih mending kalo stidaknya tau bahwa “cewek’ itu berasal dari Mitologi Romawi… 😀

    Bahkan (AFAIK) banyak kisah2 dalam Kitab Suci Alkitab sudah mencapai level “mitos klasik” dalam kebudayaan barat, misalnya: kisah Penciptaan, Adam & Hawa, Air Bah & Bahtera Nuh, Menara Babel, Daud (David) & Goliath, Simson & Delilah, 4 penunggang kuda dari wahyu (the four horseman) dan masih banyak lagi…

    BTW, bang, sy tak tau soal Cinderella sudah naik pangkat dari ‘dongeng sebelum tidur’ ke mitos modern, :mrgreen: tapi kisah2 bernuansa horror sperti Jack the Giant Killer, The Legend of Sleepy Hollow, Boogeyman dsb, jg Kolor Ijo & Si Manis yg lokal (yg dah disebutin diatas), mungkin lebih ngetop disebut urban legend ya? Dimana ceritanya mungkin diawali kejadian2 nyata yg misterius & tak terungkap (jadi inget Jack the Ripper :mrgreen: ). Dan isinya cenderung seram 😆 (dibandingkan kisah dewa2 misalnya).

  16. agak OOT boleh ‘kan?

    “Detektor hantu digital laris manis di Surabaya”
    http://www.kompas.co.id/ver1/Nusantara/0712/25/205019.htm

    qiqiqiqi..
    *suarahantu*

  17. Contohnya adalah Sun Wokong, yaitu legenda China raja monyet (The Monkey King) yang sangat terkenal bukan hanya di negeri China tetapi juga di seluruh dunia. Di buku ini The Monkey King, sebuah saga komikal tentang monyet yang berakhir menjadi seorang buddha, juga dimasukkan sebagai sebuah mitos. Dan pengarangnya diketahui bernama Wu Cheng’en, yang hanya diketahui namanya saja sedangkan riwayat hidup sang pengarang yang sebenarnya sangat sedikit diketahui.

    Dari yang saya tau, pak… Siapa pengarangnya masih simpang siur banget, dan yang kini masih dipercaya/dipakai sebagi pengarangnya emang sastrawan Wu Cheng’en. Bener, riwayatnya diketahui dikit aja. Saya taunya aja dia hidup zaman dinasti Ming.

    Yang saya suka lagi sih Shui hu Zhuan (atau ada dijadikan base story game Suikoden di PS1, PS2) atau Water Margin. :mrgreen:

  18. @bacteria

    Ya… ngga hanya dewa2 atau dewi2 aja, walaupun yang terkenal memang dewa2 atau dewi2. Pokoknya semuanya yang menerangkan fenomena2 alam atau apapun yang terjadi di zaman dahulu dan tdk dpt dibuktikan oleh sains itulah (kayaknya :mrgreen: ) yang disebut mitos. 😀

    @eNPe

    Preman takut kucing?? Kucingnya kena rabies kali! Mangkannya premannya takut. :mrgreen:

    @mathematicse

    Lah…. abis dari bukunya emang begitu, ujug2 langsung ada kata myth atau mitos, mungkin semua dianggap tahu ‘mitos’ itu apa. Kalau nggak tahu ini deh saya kasih definisinya dari kamus Merriam-Webster’s Online: :mrgreen:

    Myth:
    1. A usually traditional story of ostensibly historical events that serves to unfold part of the world view of a people or explain a practice, belief, or natural phenomenon

    2. a person or thing having only an imaginary or unverifiable existence

    Ya…. begitulah…. :mrgreen:

    Ya… iyalah…. pasti dong yang namanya mitos di negeri kita dan di negeri lain (zaman dulu udah ada ‘negeri’ ya? 😀 ) pasti sama, menerangkan suatu fenomena atau “sesuatu” di zamannya, cuma ya itu, masalahnya terkenal apa tidak, bedanya cuma itu (kali!). :mrgreen:

    @jensen99

    Ya saya juga baru tahu kalau si Cinderella sekarang masuk jajaran mitos. Tetapi benar seperti yang saudara katakan, bahwa itu termasuk urban legend atau urban myth 😀

    @sains untuk anak-anak

    Waduh….. saya yang analog saja belum punya! :mrgreen:

    @rozenesia

    Betul dia hidup di zaman dinasti Ming, itu saja mungkin informasi yang lumayan diketahui oleh generasi atau publik masa kini mengenai si pengarang Sun Wokong.

    waduh, doyan main PS ya? Sip deh! :mrgreen:

  19. Secara ga langsung maen PS membuat saya jadi tertarik pada mitologi, pak. Misalnya aja maen Valkyrie Profila yang membuat saya tertarik sama mitologi Norse, atau Lord of the Ring (maen gamenya dulu di PC, baru nonton felemnya terus baca bukunya)… Minat mitologi dimulai dari game. :mrgreen:

    ________________________________________

    Yari NK replies:

    Wah… kalau begitu kadang2 PS berguna juga ya, kalau bisa merangsang orang untuk belajar sesuatu! Huehehehe…. 😀

  20. Oooo begitu ya. Iya mungkin para pembaca dianggap sudah tahu arti kata mitos, makanya ga disebut/didefinisikan sebelumnya mengenai kata itu.

    Ya makasih tambahan informasinya (tambahan definisinya).

    _______________________________________________

    Yari NK replies:

    Terima kasih kembali. 😀

  21. 😀 kettinggalan.

    ___________________

    Yari NK replies:

    :mrgreen:

  22. wah, asyik juga ternyata membaca di sini

    ___________________________________

    Yari NK replies:

    Terima kasih ya telah berkunjung ke blogku. 🙂

  23. kalau the legend of sleepy hollow, boogeyman itu mungkin memang dari kejadian aktual,malahan dari Indonesia ???
    coba2 googling; boogeyman indonesia, saya baca disini http://movies.nytimes.com/movie/6625/Boogeyman-II/overview
    kalimat akhir dari reviewnya :
    …..For the record, the term “boogeymen” comes from the Bugi men of Indonesia, feared pirates of the high seas. ~ Eleanor Mannikka, All Movie Guide
    :-S
    Ini juga, http://www.pantheon.org/articles/b/bogeyman.html
    Bogeymen possibly come from the “bugis,” who were pirates from Indonesia and Malaysia. English and French sailors brought the tales home and anglicized it, telling their children “If you’re bad, the bugisman will come and get you!” Eventually, bugis got changed to bogey. (Ryan Tuccinardi)

    Lah, ini juga, artikel black sweet, Bogeyman, the terror of every American and English child’s night, is a corruption of Bugis..In addition to their romantic tradition of piracy, the bugis are also famous in the archipelago for their tempers. They are, it is said, very quick with a knife :-S

    Lah, kalo gitu hollywood bayar royalty dong ke rakyat Indonesia. hehehe 😀

    ______________________________________

    Yari NK replies:

    Ok thanks ya atas info tambahannya.

    Hollywood bayar roaylti karena bugis man ya?? Wah… mudah2an itu bukan sebuah “penghinaan” buat orang2 Bugis dengan menyamakan mereka dengan Boogeyman ya! Hehehe…. 😀

  24. iya ya.. Om Yari bener. hehe 😀

    ______________________________

    Yari NK replies:

    Hehehehe…… :mrgreen:

  25. this is my favourite blog,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s