Daily Archives: Minggu, 30 Desember 2007

Merry Xmas?? Happy Holiday??

Sebagai postingan terakhir di tahun 2007 ini, izinkanlah saya (lagi2) menyampah kembali di blogsfer ini dengan sebuah postingan kurang bermutu seperti ini. Kenapa begitu? Ya, inspirasi dari postingan ini adalah ketika saya berkeliling-keliling mengitari blogsfer ini dan mendapatkan lumayan banyak (yang nggak usah saya buatkan linknya, karena malas dan juga kurang penting) yang memuat topik apakah seorang Muslim boleh mengucapkan Selamat Natal (Merry Xmas, Joyeux Noël, Fröliche Weihnachten, Feliz Navidad, dan semacamnya!) atau tidak. Beberapa blogger sudah ada yang ‘menyatakan sikapnya’ dengan mengucapkan Selamat Natal dan ada juga yang bersikap “cuek” dan tidak mengucapkan Selamat Natal (dan Tahun Baru) di blognya, itupun juga sebagai sebuah sikap saya rasa. Lantas apa tujuan postingan ini? Tujuan postingan ini bukanlah untuk mempertentangkan mana yang boleh dan mana yang tidak dan juga bukan untuk memperkeruh air yang sudah keruh tetapi postingan ini hanya sekedar sikap saya pribadi tentang masalah ini. Boleh juga dong saya menyatakan sikap pribadi saya mengenai masalah ini di blog saya. Karena saya sudah terbiasa dari kecil untuk buka-bukaan terbuka dalam mengekspresikan sesuatu yang menjadi sikap pribadi saya dengan pedenya tanpa keraguan sedikitpun walaupun mungkin terdengar agak menyakitkan bagi orang lain (walaupun pada kenyataannya sebenarnya tidak).

Lantas bagaimana sikap saya terhadap masalah ini? Saya bersikap tegas…. kalau saya TIDAK akan mengucapkan Selamat Natal dan sebagainya kepada rekan2 kristiani saya. Sebagai gantinya kalau mereka ‘kelupaan’ mengucapkan Merry Xmas atau Selamat Natal kepada saya, saya cukup mengatakan kembali “Happy Holiday” atau “Selamat Hari Libur” buat mereka. Sikap saya ini dilandaskan bukan karena saya mengerti agama, (oleh karena itu saya tidak akan mengungkapkan dalil2nya, selain karena saya tidak tahu :mrgreen: , saya rasa banyak yang lebih ahli mengetahui dalil2nya daripada saya sendiri), namun semata-mata karena justru saya tidak mengetahui soal agama! Jadi saya ambil ‘aman’nya saja. Logikanya simpel saja, logikanya orang ‘bodoh’,  jikalau memberi salam “Merry Xmas” itu tidak boleh maka saya ‘kan tidak berdosa karena saya tidak memberi salam “Merry Xmas” sedangkan andaikan mengucapkan “Merry Xmas” itu boleh, maka  saya juga tidak berdosa hanya karena gara2 tidak mengucapkan “Merry Xmas”, ya kan? 😛

Lantas apakah saya termasuk orang yang tidak ‘toleran’ hanya gara2 tidak mengucapkan “Merry Xmas”? Bisa jadi! Eits…. nanti dulu! Toleran apa tidak, tidak cukup diukur dengan memberikan salam “Merry Xmas” atau nggak. Belum tentu saya yang tidak mau mengucapkan “Merry Xmas” ini lebih tidak toleran dari mereka yang dengan gamblang mengucapkan “Merry Xmas”! Saya sendiri tidak masalah bergaul dan berteman dengan mereka yang tidak seagama dan melakukan aktivitas2 duniawi bersama2 dengan mereka.  Saya juga adalah orang yang menentang penutupan warung-warung makan dan restoran2 di bulan puasa karena jikalau kita berpuasa karena Allah kenapa kita musti tergoda hanya dengan warung atau restoran yang buka pada siang hari, lagian kalau makin banyak godaan tetapi puasa tetap khusyuk dan ikhlas bukannya makin banyak pahalanya?? Dan saya juga menyayangkan pemerintah yang hanya mengakui secara resmi lima atau enam agama saja di negeri ini! Bagi saya, seharusnya agama apapun harus bisa hidup di negeri ini termasuk juga ‘ajaran-ajaran sesat’ karena memang masalah agama adalah masalah pribadi dan tidak boleh ada paksaan sedikitpun. Kalau kita tidak suka dengan ajaran-ajaran sesat yang ada di sekitar kita, ya itu menjadi “kewajiban” kita untuk mengajak mereka dengan dakwah, persuasi atau kalau mungkin dengan debat, argumen2 dan pembuktian yang ‘cerdas’, bukan dengan kekerasan! ‘Kan kita punya tuh da’i-da’i selebritis yang katanya jago-jago yang suka tampil di TV dan yang berpoligami, lha kok kenapa da’wah di depan para penganut aliran sesat jadi loyo?? Abis sepertinya da’wah di depan mereka nggak ada duitnya dan nggak jadi terkenal seh! :mrgreen: Tapi dalam masalah mengucapkan “Merry Xmas” saya tetap pada pendirian saya, dan tidak akan berubah hanya karena ingin dibilang toleran dan modern! (Banyak cara kok untuk dibilang toleran dan modern! Lagian juga yang mengucapkan “Merry Xmas” belum tentu lebih modern dan toleran dari saya mereka yang tidak mengucapkan! 😛 ).

Lantas bagaimana kalau umat kristiani atau agama2 lainnya tidak mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada saya? Ya, nggak apa2! Mau mengucapkan saya berterima kasih, mau nggak ya biarin aja! Emang gue pikirin! Lha, saya nggak butuh (eits! hati2 jangan ngomong ‘butuh’ lho di depan orang Malaysia! Bisa gawat! :mrgreen: ) ucapan selamat Idul Fitri dari mereka kok, dan tentu saja mereka juga nggak butuh ucapan ‘Merry Xmas’ dari saya juga, ya kan?? Lha wong mereka sudah dianugerahi ucapan ‘Merry Xmas’ dari rekan2 seiman mereka semua, ya apa artinya sih satu buah ucapan ‘Merry Xmas’ dari saya?? Lagian saya masih mengucapkan ‘Happy Holiday’ kok kepada mereka kalau mereka menyapa saya dengan ‘Merry Xmas’. Jangan dilihat ‘holiday’ atau ‘Xmas’-nya dong, lihat “Merry” dan “Happy”-nya, ‘kan hampir sama persis, ya nggak? :mrgreen: Malah kadang-kadang belakangnya saya kasih ‘s’ biar jadi plural, jadinya adalah “Happy Holidays”. Lebih praktis ‘kan daripada “Merry Xmas and a Happy New Year” Huehehehe… 😀 Lagipula, ucapan selamat “Happy Holiday” atau “Season’s Greetings” di negara2 barat juga sudah menjamur terutama untuk sapaan publik (terutama lagi di media massa). Di saluran2 televisi di TV kabel (atau juga TV satelit seperti Indovision atau Astro), yang saya perhatikan ucapan “Merry Xmas” hanya tinggal ada di “Hallmark Channel”, “RAI” Italia dan tentu saja TNT (Trinity Broadcasting Network). Sedangkan channel2 lain hampir semuanya mengucapkan “Happy Holiday” ataupun “Season’s Greetings” walaupun latar belakangnya bersuasana Natal. Bahkan TV Perancis TV5 Asie benar-benar sepi dengan acara berbau natal, hanya reportase2 tentang kesibukan di hari natal saja…..

Sayapun sebenarnya juga senang dengan beberapa lagu “Natal” yang modern, yang juga sering saya nyanyikan dengan bersenandung kecil, seperti lagunya “Last Christmas“nya dari Wham!

Last Christmas, I gave you my heart, but the very next day you gave it away, this year, to save me from tears, I’ll give it to someone special……

Lagunya menurut saya bagus kok, tetapi menurut saya itu bukan lagu natal, karena di dalam lagu itu tidak ada pujian2 kepada “Yesus Kristus”, yang ada hanyalah lirik tentang seseorang yang dikecewakan dengan cinta dengan latar belakang hari Natal! Itu saja! Persis kebanyakan ‘lagu natal’ modern versi barat yang sangat “duniawi” yang menganggap hari Natal hanyalah hari libur saja untuk bersenang2, tidak lebih tidak kurang. Jadi boleh nggak ya, saya menyanyikan lagu itu?? :mrgreen:

Ok, sebagai penutup, saya akan memberikan kesimpulan dari postingan ini. Jadi menurut saya toleransi dalam beragama tentu sangatlah penting. Tetapi tentu saja toleransi dalam arti luas. Kita harus toleran dalam beragama dan tidaklah benar untuk memaksakan sebuah kepercayaan kepada seseorang apalagi dengan kekerasan! Namun di satu fihak tentu kita juga harus toleran juga terhadap saya mereka yang tidak mau mengucapkan “Merry Xmas” kepada rekan kristiani mereka. Saya sendiri tidak berani mengatakan bahwa ‘yang mengucapkan “Merry Xmas” itu’ berdosa atau mengucapkan “Merry Xmas” itu tidak boleh dalam Islam, karena yang menentukan apakah seseorang berdosa atau tidak hanyalah Allah swt, namun seperti yang saya ungkapkan di atas bahwa saya cari “aman”nya saja, simpel ‘kan? Huehehehe….. 😀 Perbedaan adalah berkah, saya sangat mempercayai itu, baik perbedaan dalam keyakinan ataupun pendapat semuanya adalah berkah dan Allah menciptakan dan membiarkan perbedaan-perbedaan tersebut yang akan terus ada hingga akhir zaman. Dan jembatan untuk perbedaan-perbedaan itu tentu adalah ‘toleransi’ namun tentu toleransi harus dilihat dari banyak sudut dan bukan hanya dilihat dari satu sudut sempit saja……..

Ok, Happy Holidays and see you again in 2008! Insha Allah!